Minggu, 22 November 2015

2. Andai aku tahu meninggalkan shalat berdosa



Shalat merupakan ibadah wajib dalam ajaran Islam yang dilakukan sehari semalam lima waktu dengan tata cara tertentu, shalat merupakan upaya yang mampu menahan seseorang dari berbuat keji dan mungkar. Dengan shalat seseorang mendekatkan diri kepada Allah membina hubungan vertikal juga memupuk hubungan herizontal antara manusia.  Pada satu segi shalat mendatangkan kecelakaan bagi pelaksananya karena tidak melaksanakan dengan baik sesuai dengan aturan yang ditentukan Allah, sebagaimana dijelaskan dalam surat Al Maun ayat 4-5, ”Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya”.

            Shalat seseorang dapat dikatakan celaka karena shalatnya lalai dalam waktu, misalnya shalat zhuhurnya dilakukan ketika waktu ashar akan tiba, atau shalat asharnya dilakukan ketika waktu shalat maghrib akan tiba, begitupun dengan shalat-shalat wajib lainnya yang  dilaksanakan dengan mengundur-undur waktunya.

Dengan shalat seseorang mendekatkan diri kepada Allah membina hubungan vertikal juga memupuk hubungan herizontal antara manusia. Adapun kedudukan shalat dalam islam adalah;

1.Tiang Agama
            Shalat merupakan tiang agama, ibarat tiang pada sebuah bangunan maka bangunan itu tidak akan tegak, tiang sangat penting untuk bersandarnya bangunan lain, dengan tiang jelas posisi sebuah arah, Rasulullah bersabda; "Pokok urusan adalah islam, sedangkan tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah berjuang dijalan Allah".

            Dalam hadits lain Nabi Muhammad menyatakan bahwa shala itu tiang agama, barangsiapa yang menegakkan shalat berarti dia menegakkan agama dan barangsiapa yang meninggalkan shalat maka dia telah merubuhkan agama.

2.Ibadah Yang Pertama Kali diwajibkan
            Dari sekian ibadah yang diwajibkan Allah maka shalat merupakan amalan yang pertama sekali diwajibkan oleh Allah ketika nabi Muhammad melaksanakan  perjalan Isra' dan Mi'raj bahkan menurut sejarah awalnya kewajiban itu sebanyak lima puluh kali shalat sehari semalam.

Menurut sejarah dikabarkan, ketika Nabi Muhammad Saw melakukan Isra' Mi'raj, beliau menerima wahyu  untuk melaksanakan shalat lima puluh kali sehari semalam, disaat bertemu dengan para nabi tidak ada yang menanyakan kecuali nabi Musa saat berada di langit ke enam, terjadilah dialog;
Musa               ; Apa yang diperintahkan Allah kepadamuMuhammad ?
Muhammad     ; Sayadiperintahkanshalatlimapuluh kali seharisemalam.
Musa               ;Ummatengkautidakakansanggupmelakukanshalatsebanyakitu,demi Allah akutelahberpengalaman, kembalilahkeatasmintakeringanankepada Allah.

NabiMuhamamdkembalimenghadap Allah memintakeringanan, tapinabi Musa menyuruhkembalimemintakeringananpadahalhanyatinggallima kali sajalagishalatseharisemalam, akhirnyanabi Muhammad menjawab; "Akutelahmohonkeringanankepada Allah sehinggaakumerasamalu, tetapiakurelamenerimanyadenganbaik".

3.Amalan Yang Mula-mula Dihisab
Shalat sangat istimewa sekali bagi seorang muslim karena ketika di akherat yang pertama kali diperiksa adalah shalat bukan amalan-amalan besar lainnya bahkan shalat menjadi ukuran untuk baiknya amalan lain bila shalatnya sudah baik, Rasulullah bersabda; "Amalan yang mula-mula dihisab dari seseorang hamba pada hari kiamat ialah shalat, jika ia baik maka baiklah seluruh amalannya, jika buruk maka buruklah semua amalannya".[HR. Thabrani].

4.Wasiat Terakhir Nabi Muhammad
Ketika ajal hampir datang, Rasul tidak mampu lagi memimpin shalat sehingga diserahkan kepada Abu Bakar, ini sebagai simbul bahwa kelak Abu Bakar yang akan memimpin ummat ini. Dengan berat hati Abu Bakar memimpin shalat berjamaah saat Rasulullah dalam keadaan sakit. Suatu ajaran kepada kita, bila sebagai pimpinan, pimpinan apa saja, bila sudah tidak mampu lagi melaksanakan tugas, lebih banyak uzurnya dari pada hadirnya maka serahkanlah tugas itu kepada kader yang telah dipersiapkan.

Sebelum wafat, nabi Muhammad berpesan,"Tiga hal yang dapat menyebabkan rusaknya seseorang; memperturutkan hawa nafsu, kikir yang diperturutkan dan kagum pada diri sendiri". Sehari sebelum wafat nabi berpesan,"As shalah, annisa dan ummati". Agar ummat ini menjaga shalat, menjaga wanita dan ummat islam". Begitu pentingnya shalat sehingga dipesankan oleh Rasulullah agar ummat ini tidak meninggalkan shalat dengan alasan apapun kecuali mati.

Wafatnya Nabi Muhammad membuat Umar bin Khattab tidak yakin, hal itu karena ujudnya kepada Rasulullah. Sesampai dia di rumah Nabi, dia melihat orang banyak berkumpul dan membicarakan kematian Rasul, dengan suara lantang sambil menghunuskan pedang dia berkata,"Siapa yang mengatakan Muhammad telah meninggal maka akan berhadapan  denganku, Muhammad tidak meninggal, dia hanya menghadap Allah sebagaimana Musa dahulu pergi ke Tursina untuk bertemu Allah". Semua yang mendengar hanya diam tidak mampu meredakan kemarahan dan kekecewaan Umar.

Datanglah ketika itu Abu Bakar Ash Shidik untuk memberi kebenaran kepada Umar hingga dia menyadari bahwa Nabi Muhammad memang telah wafat, Muhammad adalah makhluk Allah yang juga merasakan maut atau kematian, jangankan kematian sedangkan kena panah dan  tombak saja berlumuran darah muka beliau dalam perang Uhud sehingga lepas gerahamnya.

5.Barang  Terakhir Yang Lenyap Dari Agama
            Sejak diturunkannya ajaran Islam melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad dengan segala aturan yang komplit mencakup seluruh asfek kehidupan, shalat merupakan perintah pertama yang diwajibkan Allah untuk melaksanakannya dalam sehari semalam hanya lima waktu, yang sunnah bisa ditambah dengan shalat sunnah rawatib, tahajud, dhuha dan lainnya.
            Kelak suatu masa  seluruh ajaran islam itu akan hilang dari kehidupan manusia karena kekafiran dan kefasikan ummat ini, ketika itu hidup penuh dengan gelimang dosa dan maksiat,  yang terakhir hilang dari kehidupan manusai itu adalah shalat, masih ada orang mau menegakkan shalat sementara ajaran islam yang lain sudah lenyap, sebagaimana sabda Rasulullah; "Sungguh, ikatan agama islam itu akan terurai satu demi satu, maka setiap terurai satu, orangpun bergantung pada buhul berikutnya, buhul yang pertama lepas adalah menegakkan hukum, sedangkan yang terakhir adalah shalat"[Ibnu Hibban].

6.Alat Untuk Memperbaiki Diri
            Shalat adalah salah satu media untuk memperbaiki diri manusia, dalam hikmah shalat dapat dikatakan bahwa orang yang shalat tidak akan menyia-nyiakan waktu karena dia terikat oleh waktu-waktu shalat yang harus segera ditunaikan, sebelum berangkat dia sudah dapat memperkirakan dimana nanti shalatnya,  orang yang shalat sebelumnya harus membersihkan badan, pakaian dan tempat shalat yang diawali dengan wudhu terlebih dahulu, orang yang melaksanakan shalat akan nampak tanda bekas sujud di wajahnya, begitupun dalam pribadinya ada perubahan ke arah kebaikan dalam tindak dan prilakunya sehari-hari, orang yang shalat akan tercegah dari perbuatan jahat, hatinya tidak akan tergerak untuk melakukan kejahatan, bila shalat dilakukan, sementara diikuti pula dengan kejahatan berarti orang tersebut shalatnya tidak membekas. Dalam surat Al Ankabut  29;45, Allah Swt berfirman,
“Bacalahapa yang telahdiwahyukankepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dandirikanlahshalat.Sesungguhnyashalatitumencegahdari (perbuatan- perbuatan) kejidanmungkar.danSesungguhnyamengingat Allah (shalat) adalahlebihbesar (keutamaannyadariibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahuiapa yang kamukerjakan.

Demikian pentingnya kedudukan shalat bagi seorang muslim sehingga tidak boleh meremehkan kewajiban ini sedikitpun karena disamping mengandung hal-hal positif ketika dikejakan tapi juga mendapatkan hal-hal negatif kalau kita meninggalkan shalat, ada beberapa ibarat yang dapat dikemukakan yaitu;

Pada suatu hari ada seseorang sakit, lalu dia berobat pada seorang tabib, tabib menyarankan agar diberi obat dari "Air Kencing Syaitan". Untuk menemkan kencing syaitan ini orang merasa kesulitan, lalu dia bertanya kepada Rasulullah, maka Rasul memberi jalan keluar yaitu,"Ambillah air hujan yang mengucur dari  atap rumah seseorang yang tidak shalat, maka itu sama artinya air kencing syaitan".

            Suatu hari hujan turun sangat lebat sehingga mendatangkan banjir, dari kejauhan nampak oleh Ali bin Abi Thalib dua bangkai yang hanyut yaitu bangkai anjing dan bangkai manusia. Ali berusaha menyelamatkan bangkai manusia tadi tapi dicegah oleh Rasul dan bersabda,"Kau selamatkanlah bangkai anjing itu dan biarkan bangkai manusia ini", Ali bertanya,"Kenapa ya Rasulullah dibiarkan bangkai  manusia itu?". Nabi menjawab, "Bangkai manusia adalah orang yang tidak shalat". Artinya bangkai anjing lebih berharga daripada bangkai manusia yang tidak shalat.

Dalam satu hadits Rasulullah bersabda, ”Dari Amer bin Syuaib dari bapaknya, dari kakeknya, ia berkata, telah berkata Rasulullah Saw, perintahkanlah anak-anakmu untuk mendirikan shalat ketika mereka telah berusia tujuh tahun dan pukullah mereka bila belum mau shalat dikala berusia sepuluh tahun, dan pisahkanlah tidur diantara mereka sejak berumur sepuluh tahun”[HR.Abu Daud].

            Hadits di atas memerintahkan bahwa anak umur sepuluh tahun yang belum mau  mengamalkan shalat harus dipukul. Pukulan itu adalah sebagai sangsi atau hukuman. Ini bukannya tindakan kejam, karena menurut penjelasan ahli agama, hukuman pukulan bagi anak tersebut tidak boleh lebih dari tiga kali dengan alat pemukul kecil yang tidak menyakitkan sehingga tidak membawa penderitaan fisik bagi si anak. Lagi pula, sebelum hukuman pukul itu dilaksanakan, hendaklah telah dipergunakan segala cara dan taktik bagaimana agar si anak mau shalat. Ia diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya itu, sehingga cara-cara yang keras dari orangtua dihindari dulu.

            Maka orangtua hendaknya menjalankan segala siasat untuk membiasakan anaknya mengamalkan semua adat istiadat baik yang sesuaii dengan ajaran agama. Juga kewajiban-kewajiban dari agama yang telah patut diamalkannya. Segala siasat, artinya dengan nasehat, perangsang, motivasi, dorongan, pujian. Semuanya sebagai upaya agar anak mau berbuat baik dan meninggalkan perbuatan jelek. Sebaliknya, cara menakut-nakuti, ancaman, celaan dan gertakan semuanya itu bisa digunakan bilamana perlu. Tentu saja semuanya itu dilaksanakan oleh orangtua setelah memahami segala sifat-sifat dan watak sianak, sehingga tindakan orangtua bisa disesuaikan dengan kondisi pribadi dan perkembangan jiwa anak.

            Dalam memukul anak, janganlah dipukul pada tempat yang berbahaya dari tubuhnya sehingga berakibat fatal bagi anak. Namun jarang kita mendengar ada orangtua memukul anaknya karena anak tersebut tidak melaksanakan shalat. Bahkan sebaliknya banyak orangtua muslim yang tenang-tenang saja melihat keadaan anaknya tidak pernah melaksanakan shalat lima waktu dan tidak bisa membaca Al Qur’an. Tetapi ia merasa gelisah kalau anaknya tidak bisa berbahasa asing, tidak bisa menggunakan komputer atau  tidak menguasai salah satu alat musik.

            Sering kita mendengar orangtua yang memukul anaknya tanpa didasari jiwa agama tapi didorong oleh ambisi pribadi seperti anak gagal dalam kompetisi olahraga di sekolah,  raport anak nilainya rendah atau anak tidak sanggup meraih sesuatu yang diidam-idamkannya. Melaksanakan shalat sebagaimana firman Allah dalam surat An Nisa’  4;103 disebutkan bahwa waktu-waktu shalat tersebut sudah ditentukan sedemikian rupa, walaupun ummat islam terutama orangtua tahu waktu shalat berdasar kebiasaan yang ada hanya dijadikan sebagai waktu saja bukan untuk mendirikan shalat apalagi mengajak anaknya.

            Ketika adzan subuh bergema anak harus bangun, pertanda hari sudah siang, lalu mandi, sarapan pagi dan berangkat ke sekolah. Zhuhurpun datang waktunya anak untuk pulang sekolah, makan siang lalu tidur atau disibukkan dengan kegiatan lain. Saat ashar datang orangtua sibuk memanggil anaknya agar cepat mandi dan ganti pakaian. Maghribpun terdengar saat anak harus masuk rumah dan tidak boleh berkeliaran di luar. Bila isya datang anak-anak diperintahkan untuk mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah lalu cuci kaki dan tidur.

            Kecelakaan bagi yang mengerjakan shalat  diakibatkan kurangnya konsentrasi, artinya hatinya senantiasa dihantui dan dikacaukan dengan berbagai urusan dunia yang fana ini. Shahun asal kata dari lupa sesuai dengan surat Al Ma’un, ada tiga kelupaan yang dilakukan orang yang shalat sehubungan dengan arti shahun yaitu;

  1. Shahun Qablaha, yaitu lupa sebelum melakukan shalat, artinya ia sudah lupa dengan shalatnya sebelum takbir dimulai, fisiknya siap untuk shalat tapi hatinya masih berada di seberang.

  1. Shahun Fiha, yaitu ketika shalat dimulai dia lupa dengan shalatnya yang teringat adalah segala pekerjaan yang ditinggalkan, sehingga tidak tahu lagi apa yang harus dibaca dan jumlah rakaatnya.

  1. Shahun Ba’daha, suatu pengertian orang lupa setelah shalat dilaksanakan, begitu salam diucapkan lansung saja bangkit tanpa zikir dan berdo’a walaupun sejenak, seolah-olah dia tidak mengerjakan shalat.

            Dari ketiga kriteria di atas rasanya lebih baik shahun qablaha, bila dia lansung sadar untuk membenahi niatnya kembali atau shahun ba’daha, dikatakan masih lebih baik karena shalat telah selesai, konsentrasinya pada shalat telah usai bersamaan usainya shalat, dari pada lalai dalam shalat. Walaupun demikian kesempurnaan shalat harus djaga demi kebaikan shalat agar tidak termasuk dalam golongan shahun yaitu lupa.

            Melakukan shalat dalam keadaan shahun atau lalai mengurangi bahkan menghilangkan nilai ibadah tersebut, apalagi tidak mengerjakannya sama sekali, sedangkan anak-anak saja yang tidak shalat mendapat sangsi  yang sepadan yaitu pukulan dari orangtuanya, apalagi Muslim yang sudah dewasa tentu tersedia pula sangsi untuk mereka sesuai dengan syariat yang diturunkan Allah.
Seluruh ulama umat Islam sepakat bahwa orang yang meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya adalah kafir. Namun kemudian mereka berbeda pendapat tentang orang yang meninggalkan shalat tanpa mengingkari kewajibannya. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa ia telah kafir dan keluar dari Islam. Sementara yang lain menyatakan bahwa hukumnya masih berada di bawah kesyirikan dan kekafiran.
Para ulama juga berbeda pendapat tentang hukuman yang layak bagi orang yang meninggalkan shalat. Sebagian mereka berpendapat bahwa hukumannya adalah didera dan dipenjara, sedang-kan yang lain mengatakan bahwa ia harus dibunuh sebagai hukum had baginya, bukan karena murtad.
Akan tetapi, terlepas dari perbedaan pendapat para ulama tentang hukum dan hukuman bagi orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja, hendaknya seorang Muslim merasa takut apabila keislamannya diperdebatkan oleh para ulama dengan sebab meninggalkan shalat. Meski seharusnya sudah cukup bagi kita untuk merasa takut untuk meninggalkan shalat dikaRenakan ancaman yang begitu keras dari Allah Ta’ala maupun dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga Ibnul Qayyim  berkata, "Orang yang meninggalkan shalat telah berbuat dosa besar yang paling besar, lebih besar dosanya di sisi Allah daripada membunuh jiwa dan mengambil harta orang lain. Lebih besar dosanya daripada berzina, mencuri dan minum khamar. orang yang meninggalkan shalat akan mendapatkan hukuman dan kemurkaan Allah di dunia dan di Akhirat."
Janganlahsekali-kali kitameremehkanshalatapalagimeninggal-kannya.Jadilah kita termasuk hamba-hamba Allah yang selalu menjaga shalat, karena kita tidak tahu berapa umur kita yang tersisa. Berapa pun panjangnya usia kita, namun kita meyakini bahwa kita pasti akan meninggalkan dunia yang fana ini. Dan setiap orang yang mengadakan perjalanan pasti membutuhkan bekal. Sementara peRjalanan yang satu ini adalah perjalanan yang sangat panjang dan tidak akan kembali lagi. Barangsiapa yang dalam perjalanan tersebut tidak memiliki bekal, maka ia berarti telah menderita kerugian yang tak akan tergantikan dan tidak ada bandingannya. Bagaimana seseorang selalu lalai, sementara usianya berlalu bagaikan awan yang berarak di angkasa. Tiba-tiba saat ia dipanggil untuk memenuhi janji yang tidak dapat ditunda-tunda (kematian), maka ia pun kemudian mencari bekal, hanya saja yang ia dapati hanya-lah tanah, sementara ia tidak mendapatkan orang yang dapat menyelamatkannya atau menolongnya. [Zuhdi Amin, Lc.Jangan Pernah Tinggalkan Shalatmu,Kumpulan KhutbahJum’atPilihanSetahunEdisi ke-2, DarulHaq Jakarta].
Faktor banyaknya ummat islam meninggalkan shalat apakah dengan sengaja ataupun tidak salah satunya karena memang mereka tidak tahu kalau meninggalkan shalat itu berdosa, kalaulah mereka tahu tentu tidak akan meninggalkan shalat apalagi dengan shalat banyak hal fositif yang akan diperolehnya.Orang yang shalat dengan baik akan membekas pada prilakunya sehari-hari dengan pengaruh positif sebagai  berikut;

  1. Menanamkan Sifat Disiplin
      Orang yang shalat tidak akan menyia-nyiakan waktu karena dia terikat oleh waktu-waktu shalat yang harus segera ditunaikan, sebelum berangkat dia sudah dapat memperkirakan dimana nanti shalatnya, andaikata tdak ada waktu karena perjalanan yang jauh dia siap dengan shalat jamak/ qasharnya, demikian pula dalam bertamu dia akan memilih waktu yang tidak mengganggu ketenangan tuan rumah dalam shalat karena kedatangannya.

  1. Cinta Kebersihan
      Orang yang shalat sebelumnya harus membersihkan badan, pakaian dan tempat shalat yang diawali dengan wudhu terlebih dahulu, orang islam harus mandi paling sedikit sekali dalam sehari. Melalui wudhu dapat menghilangkan dosa dan noda sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits Muslim, bahwa muka yang dicuci ketika wudhu akan keluar dari padanya dosa dari memandang, kedua tangan yang dicuci akan mengeluarkan dosa yang dilakukan tangan, kedua kaki yang disiram dengan bersh akan keluar dosa yang dilakukan oleh kaki.

  1. Air Muka Jernih
      Dua orang yang sama-sama putih kulitnya, yang satu shalat sedangkan yang satunya tidak, maka akan nampak berbeda kejernihan mukanya masing-masing. Bahkan orang yang berkulit hitampun nampak jernih dibandingkan orang berkulit putih yang tidak shalat, di akherat nanti bekas whudu akan memancar sebagaimana difirmankan Allah dalam surat Al Hadid ayat 12, ”Yaitu pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar dihadapan dan di sebelah kanan mereka, dikatakan kepada mereka, ”Pada hari ini ada berita gembira untukmu, yaitu syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar”.

  1. Ada Bekas Sujud di Mukanya
      Orang yang melaksanakan shalat akan nampak tanda bekas sujud di wajahnya, begitupun dalam pribadinya ada perubahan ke arah kebaikan dalam tindak dan prilakunya sehari-hari, seperti kesabarannya kian bertambah, demikan pula ketabahan dan kerendahan hatinya. Allah berfrman dalam surat Ma’arij; 19-23 ,”Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya”.

  1. Mencetak Kedermawanan
      Akhir shalat dengan ucapan salam ke kiri dan salam ke kanan, secara hakekatnya salam ke kanan memperhatikan nasib ummat islam di sebelah kanan dengan do’a selamat, salam ke kiri dengan simbul memperhatkan nasib ummat di sebelah kiri.
      Tidaklah layak orang yang shalat dengan segala kemegahan dan kekayaan yang ada, sementara ummat islam kiri kanannya dalam keadaan kelaparan dan kepapaan. Ucapan salam saja tidak akan mampu merubah nasib mereka tanpa ada uluran tangan untuk membantu meringankan beban mereka.

  1. Takut Berbuat Dosa
      Orang yang shalat akan tercegah dari perbuatan jahat, hatinya tidak akan tergerak untuk melakukan kejahatan, bila shalat dilakukan, sementara diikuti pula dengan kejahatan berarti orang tersebut shalatnya tidak membekas. Dalam surat Al Ankabut ayat 45, Allah Swt berfirman, ”Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar”.

  1. Membela Islam
      Ibadah shalat membentuk jiwa cinta kepada islam dengan konsekwensinya rela membela islam dengan lisan, kekuasaan, harta benda maupun fisik dengan kemampuan masing-masing. Rasulullah Saw pernah meramalkan bahwa nanti ajaran islam yang pertama kali di dunia yaitu shalat, bila orang tidak shalat mustahil dia akan menegakkan hukum islam yang lain, karena shalat merupakan tiang dari agama, begtu tiang hancur maka bangunan yang lain ikut roboh.

  1. Selalu Ingat Kepada Allah
      Dengan shalat berart mengadakan hubungan vertikal kepada Khaliq [Allah Maha Pencipta] dengan segala kerendahan hati bermunajat dengan permohonan dan ampunan. Banyak orang yang meninggalkan shalat lalu hdupnya diliputi  oleh kehancuran karena Allah telah menjanjikan, ”Ingatlah Aku, maka Aku akan ingat kepadamu, berdo’alah kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan”, Allah Swt berfirman dalam surat Thaha ayat 14, ”Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan drikanlah shalat untuk mengingat-Ku”.

      Dan dalam surat Ar Ra’du ayat 28 Allah Swt berfirman, ”Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram”.

            Shalat disamping sebagai sarana ibadah bagi orang islam dia juga ciri dan pembeda dengan orang lain. Rasululllah Saw pernah bersabda bahwa yang membedakan orang islam dengan orang kafir adalah shalat. [Cubadak Solok, 15 Ramadhan 1431.H/ 25 Agustus 2010.M]




Tidak ada komentar:

Posting Komentar