Sikap seorang mukmin terhadap Allah adalah rela
menjadikan dirinya sebagai hamba yang wajib mengabdikan seluruh potensi
hidupnya hanya kepada-Nya [Adz Dzariyat 51;56];"Dan
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi
kepada-Ku".
Terhadap manusia sikap seorang mukmin adalah bermuamalah
yaitu menjalin hubungan sosial dengan siapapun tanpa mengorbankan aqidah dan
mencemari tauhid [Ali Imran 3;112];"Mereka diliputi kehinaan di mana
saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan
tali (perjanjian) dengan manusia[218], dan mereka kembali mendapat kemurkaan
dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. yang demikian itu, Karena mereka kafir
kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. yang
demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas"
Sedangkan kepada
alam, mukmin berperan sebagai khalifah yang berkewajiban untuk memakmurkan alam
raya ini sesuai dengan kemampuannya [Al Baqarah 2;30];"Ingatlah ketika
Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa
Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat
kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih
dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman:
"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Pentingnya iman dalam kehidupan, karena dia merupakan
dasar segala amal, bila amaliyah yang dilakukan tanpa dimotivasi oleh iman maka
percumalah amalnya [An Nahl 16;97];"Barangsiapa yang mengerjakan amal
saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya
akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik[839] dan Sesungguhnya akan kami
beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah
mereka kerjakan"
Namun demikian
terlalu banyak yang dapat menggerogoti iman seseorang. Musuh iman yang paling
dekat dengan kita adalah hawa nafsu yang mengajak manusia kepada kesesatan,
menjauhkan manusia dari keimanan. Dia tidak mengenal benar dan salah tapi
mengenal menang dan kalah, tidak menemukan kebenaran halal dan haram tapi asal
tujuan tercapai, cara tidak diperhitungkan;“Dan
Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), Karena Sesungguhnya nafsu itu
selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh
Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang.” [Yusuf
12;53]
Alam dunia, dengan segala
watak dan karakteristiknya, adalah sebuah perjalanan sedangkan alam akhirat
adalah persinggahan terakhir kita, kampung halaman, dan rumah kita yang abadi.
Oleh karena itu meskipun kita
dilahirkan di dunia, dan dunia menjadi tempat tinggal kita sekarang ini, namun
realitas sejatinya, setidak-tidaknya secara spiritual, sedang berjalan jauh
menuju tempat kembali hakiki kita, alam keabadian, alam akhirat. Di sanalah
kita akan dihadapkan kepada berbagai peristiwa eskatologis yang belum pernah
kita jumpai selama hayat kita.
Di tempat kembali itu
masing-masing individu benar-benar akan merasakan sebagai makhluk moral yang
harus mempertanggungjawabkan seluruh sepak terjang kita selama di dunia.
Di sana pula akan terbukti
jati diri kita yang sebenarnya, menjadi individu yang sejatinya terhormat
mencapai kebaikan tertinggi atau bahkan menjadi hina dina terjerembab ke dalam
lumpur keburukan.
Allah Swt telah menunjuki
manusia jalan agar dapat mencapai tempatnya yang layak dalam penciptaan, di
surga-Nya.Sebagai manusia bahkan kita diperintahkan agar menempuh jalan-Nya
meskipun harus berjalan mendaki lagi sukar.
Tidak sepatutnya di dunia yang
fana ini menjadi tumpuan hidup. Tidak sepatutnya pula kita bermegah-megah
karena tunduk kepada pesonanya dan tidak menjadikannya sebagai medan perjuangan
untuk menghimpun aset untuk kembali ke rumah asalnya. ”Maka tidakkah sebaiknya
(dengan hartanya itu) ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar?” (QS, al-Balad
[90]: 11).
Bukan harta yang akan menjadi
aset kehidupan akhirat kita. Bisa jadi harta menjadi simbol kemuliaan
dunia.Akan tetapi di balik simbol itu ada nilai tanggungjawab moral yang harus
ditunaikan.
Dalam satu riwayat dikatakan,
Nabi Muhammad Saw bersabda, “Kemuliaan umur dan waktu lebih bernilai
dibandingkan dengan kemuliaan harta.”Bahkan harta bisa memperbudak orang yang
mencintainya. Orang yang menjadikan kekayaan harta benda sebagai standar
keagungan seseorang akan membenci kematian.
Padahal kematian itu adalah
pintu pertemuan dengan Allah Swt yang pasti akan diketuk oleh setiap manusia.
Bahkan karena cintanya kepada harta ia tidak rela berpisah darinya.
Oleh sebab itu orang-orang
berakal mencela dan merendahkan orang yang serakah dalam mengumpulkan harta.
Sebaliknya mereka sepakat untuk mengagungkan orang yang bersikap zuhud terhadap
harta, tidak mau menumpuk-numpuknya, dan tidak menjadikan dirinya sebagai budak
harta.[Ustadz Abu Ridha,Antara
Nafsu Dunia dan Kemuliaan Akhirat, eramuslim, Rabu, 30/06/2010 13:40 WIB].
Orang-orang yang dapat sabar
dengan segala bentukan kenikmatan dunia, serta harta dan aksesoris dunia
disebut dengan zuhud. Artinya, dia tidak bergeser sedikitpun keimanan kepada
Allah Azza wa Jalla, atas segala bentuk kenikmatan dunia, dan tidak dapat
terpengaruh terhadap segala iming-iming kenikmatan dunia, dan memilih lebih
menjaga dirinya dengan penuh waspada, sehingga dia memilih kehidupan akhirat,
tanpa sedikitpun terpengaruh kehidupan dunia.
Kebanyakan akhlak keimanan
masuk ke dalam sabar. Karena itu, ketika pada suatu hari Rasulullah shallahu
alaihi wa sallam, ditanya tentang iman, beliau menjawab, "Iman adalah
sabar", sebab kesabaran merupapakan pelaksanaan keimanan yang paling
banyak da paling penting. Sebagaimana Rasulullah shallahu alaihi wa sallam
pernah bersabda, "Hajji adalah Arafah".
Allah telah menghimpun semua
bagian dalam bab sabar, yang merupakan pokok dalam keimanan. Dan yang paling
penting lagi lagi bersikap iffah, dan tidak terperosok ke dalam perbuatan yagn
menimbulkan akibat rusaknya iman.
"... Dan orang-orang yang sabar
dalam musibah, penderitaan dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang
benar imannya, dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa."
(QS. al-Baqarah [2] : 177)
Musibah
bukan hanya menghadapi bencana dan penderitaan dalam peperangan, tetapi musibh
bisa terjadi dalam diri manusia, ketika manusia sudah diliputi kenikmatan
dunia, dan kemudian dikendalikan oleh syahwat perut dan kemaluannya, dan
manusia tidak dapat lagi mengendalikan dirinya diantara perut dan kemaluannya,
maka manusia terjerumus ke dalam bentuk kehidupan binatang, dan tanpa akal
serta malu.[Sheik Yusuf Qardawi, Bersikap
Iffahlah Terhadap Perut dan Kemaluan,eramuslim,,Selasa,
12/04/2011 10:04 WIB ]
Shaum adalah upaya
pengendalian diri yang optimal. Jika seseorang mampu melaksanakannya, pasti ia
termasuk orang-orang yang akan meraih kesuksesan dan keselamatan. Betapa tidak,
secara empiris kita melihat orang yang berhasil dalam hidupnya, mereka adalah
orang-orang yang mampu mengendalikan diri dalam menyikapi dan merespons segala
sesuatu dengan baik. Orang yang mampu mengendalikan diri pasti tidak akan
menggunakan dan menghalalkan segala cara untuk meraih sesuatu yang
diinginkannya, seperti jabatan dan harta
.Sebaliknya, orang yang
tidak mampu mengendalikan diri pasti akan berbuat sesukanya. Ia tidak pernah
memikirkan akibat dari perbuatannya. Ada kalanya melakukan pembohongan kepada
publik atau menggunakan uang untuk meraih jabatan dan kedudukan (money
politic).Itulah perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak
bertanggung jawab dan tidak pernah berpuasa dengan menghayati makna dan
hakikatnya.
Berbagai masalah yang
menimpa bangsa kita saat ini, seperti ekonomi, pendidikan, budaya, politik, dan
bahkan akhlak, disebabkan ketidakmampuan kita dalam mengendalikan diri.Jadi,
hal tersebut membiarkan hawa nafsu sebagai panglima kehidupan dan merendahkan
fungsi serta peran hati nurani dan akal yang sehat.KH Didin Hafidhuddin, Cara Optimal Menundukkan Buaian Nafsu, Republika online, Sabtu, 21 Agustus 2010, 20:03 WIB].
Suatu
saat terjadi dialog antara Rasulullah SAW dengan Hudzaifah Ra. Rasulullah Saw
bertanya kepada Hudzaifah. Ya Hudzaifah, bagaimana keadaanmu saat ini? Jawab
Hudzaifah: “Saat ini saya sudah benar-benar beriman, ya Rasulullah”. Rasul
kemudian mengatakan, “Setiap kebenaran itu ada hakikatnya, maka apa hakikat
keimananmu, wahai Hudzaifah?” Jawab Hudzaifah: Ada "dua", ya
Rasulullah. Pertama, saya sudah hilangkan unsur dunia dari kehidupan saya,
sehingga bagi saya debu dan mas itu sama saja. Dalam pengertian, saya akan cari
kenikmatan dunia, lantas andaikata saya dapatkan maka saya akan menikmatinya
dan bersyukur kepada Allah SWT.
Tapi,
kalau suatu saat kenikmatan dunia itu hilang dari tangan saya, maka saya
tinggal bersabar sebab dunia bukanlah tujuan. Bila ia datang maka
Alhamdulillah, dan bila ia pergi maka, Innalillaahi wa inna ilaihi raji'un.
Yang kedua, Hudzaifah mengatakan, “setiap saya ingin melakukan sesuatu, saya bayangkan
seakan-akan surga dan neraka itu ada di depan saya. Lantas saya bayangkan
bagaimana ahli surga itu me-nikmati kenikmatan surga, dan sebaliknya bagaimana
pula ahli neraka itu merasakan azab neraka jahanam. Sehingga terdoronglah saya
untuk melakukan yang diperintahkan dan meninggalkan yang dilarang-Nya”
Mendengar
jawaban Hudzaifah ini, Rasul langsung saja memeluk Hudzaifah dan menepuk
punggungnya sambil berkata, "pegang erat-erat prinsip keimananmu
itu, ya Hudzaifah, kamu pasti akan selamat dunia akhirat". Bila kita
cermati dialog tersebut, paling tidak, ada "dua" hikmah yang bisa
kita petik. Pertama, iman kepada Allah, dengan mencintai Allah itu di atas
cinta kepada selain Allah.Dan yang kedua, selalu membayangkan akibat dari setiap
perbuatan yang dilakukan di dunia bagi kehidupan yang abadi di akhirat nanti.
Di
dalam beberapa ayat, Allah SWT menjelaskan tentang sifat-sifat orang-orang yang
muttaqin, mereka di antaranya adalah yang meyakini akan adanya kehidupan
akhirat. Orang yang beriman akan adanya kehidupan akhirat, akan membuat dia
mampu mengendalikan kecenderungan hawa nafsunya. Sebaliknya, orang-orang yang
tidak meyakini akan adanya kehidupan akhirat, "Mereka tidak pernah takut
dengan hisab Kami, dan mereka telah mendustai ayat-ayat Allah dengan dusta yang
nyata." (An Naba', 78 : 27-28)
Di
dalam Alquran, Allah SWT mengisahkan dialog sesama Muslim di akhirat yakni
antara Muslim yang ahli surga dengan Muslim berdosa yang masuk dalam neraka
jahanam. Muslim yang langsung masuk surga bertanya kepada Muslim berdosa yang
masuk ke dalam neraka. “Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam neraka ?
Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan
shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami
mendustakan hari pembalasan hingga datang kepada kami kematian.” (Al
Muddatstsir, 74 : 42-46)
Menurut
Alquran, kebanyakan orang-orang yang kufur adalah mereka yang akhir hidupnya
penuh dengan kemaksiatan. Ini terjadi karena mereka tidak mengimani bahwa
kehidupan mereka akan berakhir di alam akhirat dan mereka harus
mempertanggungjawabkan seluruh aspek kehidupan mereka selama di dunia. Demikian
pula, Allah SWT mengisahkan kesombongan Fir'aun dan orang-orang yang
menyembahnya, "Sombonglah Fir'aun itu dengan seluruh pengikutnya di muka
bumi tentu dengan alasan yang tidak benar.Dan mereka mengira, bahwa mereka
tidak akan pernah kembali kepada Kami." (Al Qashash, 28 : 39
Kesombongan
Fir'aun berakhir saat sakaratul maut.Saat dia menyadari bahwa dia harus
mempertanggungjawabkan semua perbuatannya.Ketika rombongan malaikat yang
bengis-bengis itu mendatanginya saat dia sedang berada di tengah laut, yang
dikisahkan para malaikat itu langsung memukul wajah dan punggung mereka. Allah
SWT berfirman: “..Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat pada waktu
orang-orang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para
malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu”.
Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu
selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu
selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.” (Al An'aam, 6 :
93)
Pada saat sakaratul maut itu, Fir'aun menyatakan: “Sekarang saya benar-benar beriman dengan Tuhannya Nabi Musa dan Harun”. Namun saat sakaratul maut pintu taubat sudah ditutup.Karena sudah tidak ada lagi ujian keimanan, sebab yang ghaib termasuk alam dan makhluk ghaib sudah terlihat nyata. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.” (Qaaf, 50 : 22)
Pada saat sakaratul maut itu, Fir'aun menyatakan: “Sekarang saya benar-benar beriman dengan Tuhannya Nabi Musa dan Harun”. Namun saat sakaratul maut pintu taubat sudah ditutup.Karena sudah tidak ada lagi ujian keimanan, sebab yang ghaib termasuk alam dan makhluk ghaib sudah terlihat nyata. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.” (Qaaf, 50 : 22)
Orang
yang beriman kepada Allah dan beriman kepada hari pembalasan/akhirat, yang
diharapkan dapat mengendalikan kecenderungan hawa nafsunya untuk hanya
mencintai yang dicintai Allah dan membenci yang dibenci Allah, yang hanya
mencintai sesuatu di dunia jika yang dicintainya itu dicintai Allah SWT.Pengendalian Hawa Nafsu,Republika online, Jumat, 23 Oktober 2009, 10:58 WIB].
Karena memperturutkan hawa nafsu dapat menghilangkan nur
iman seseorang sebagaimana sabda Rasulullah “Barangsiapa yang berzina maka
hilanglah cahaya iman dari dirinya”, Bahkan dikatakan dengan melaksanakan maksiat ketika itu iman
lepas dari diri seseorang sebagaimana lepasnya baju dari badan seseorang. Orang
yang memperturutkan hawa nafsu sehingga mencemari imannya maka amal baiknya
tidak diterima Allah sehingga sia-sialah kehidupannya.
Dari Abu Muhammad Abdullah
bin Amr bin Ash rodhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah bersabda, “Tidak
beriman seseorang di antara kalian sehingga hawa nafsunya mengikuti ajaran yang
aku bawa.”(Hadits
shahih, kami riwayatkan dalam kitab Al-Hujjah dengan sanad yang shahih)
Sempurnanya iman hanya
bisa diraih dengan menundukkan hawa nafsu untuk mengikuti semua petunjuk
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.Yaitu dengan mendahulukan kehendak
Rasulullah atas kehendak dirinya terutama ketika terjadi pertentangan
kehendak.Demikianlah banyak ayat dan hadits yang semakna dengan hadits
ini.Walau secara sanad hadits ini didha’ifkan oleh banyak ulama.Penafian iman
di sini diartikan sebagai penafian kesempurnaan.Penafian iman ada dua macam.
Penafian iman sama sekali dan penafian kesempurnaannya.
Orang yang memperturutkan hawa nafsunya
semata-mata untuk urusan duniawi semata maka mereka akan menikmati semua itu
hanya sebagai kesenangan semu, kenikmatan yang hanya sekejap, yaitu kenikmatan
yang mudah hilang dan berlalu demikian saja, sedangkan orang yang berusaha
mengendalikan nafsunya maka kenikmatan hakiki di sisi Allah akan dia rasakan,
Rasulullah bersabda,
"Akan tiba satu jaman atas manusia dimana perhatian mereka hanya tertuju pada urusan perut dan kehormatan mereka hanya benda semata-mata. Kiblat mereka hanya urusan wanita (seks) dan agama mereka adalah harta mas dan perak. Mereka adalah makhluk Allah yang terburuk dan tidak akan memperoleh bagian yang menyenangkan di sisi Allah."(HR. Ad-Dailami)
"Akan tiba satu jaman atas manusia dimana perhatian mereka hanya tertuju pada urusan perut dan kehormatan mereka hanya benda semata-mata. Kiblat mereka hanya urusan wanita (seks) dan agama mereka adalah harta mas dan perak. Mereka adalah makhluk Allah yang terburuk dan tidak akan memperoleh bagian yang menyenangkan di sisi Allah."(HR. Ad-Dailami)
Kita tidak dilarang untuk mereguk
nikmatnya dunia dengan cara baik lagi halal sebagai sarana dalam hidup ini,
tapi janganlah hal itu menjadi tujuan, sebab akan menjadikan kita orang yang
tidak bersyukur, tentang masalah harta dan keduniaan kita diharapkan untuk
melihat orang yang lebih susah atau yang lebih menderita sehingga tidak merasa
kecil apa yang kita miliki, Rasulullah bersabda,"Pandanglah orang yang
di bawah kamu dan janganlah memandang kepada yang di atasmu, karena itu akan
lebih layak bagimu untuk tidak menghina kenikmatan Allah untukmu" (HR.
Muslim)
Kenikmatan nafsu yang diperturutkan
baik nafsu terhadap harta, nafsu
berkuasa dan nafsu syahwat akan dirasakan
hanya seketika, tapi akibatanya akan berkelanjutan hingga akhir hayat bahkan di
akherat kelak, sebagaimana yang diungkapkan oleh Rasululah, "Mungkin
pelampiasan nafsu syahwat sebentar berakibat kesedihan yang lama"(HR.
Al-Baihaqi)
Banyak
kasus yang terjadi, gara-gara melampiaskan nafsu harta akhirnya korupsi,
mencuri dan melakukan transaksi yang diharamkan agama, mampu diperoleh semua
harta yang diingini tapi kesengsaraannya dirasakan dengan mendekam dalam
penjara sekian tahun, dengan memperturutkan nafsu berkuasa sehingga dapat
diraih kekuasaan itu, tapi tidak berapa
lama dijadikan sebagai buron karena menelan uang negara sekian juta dan
melakukan kemaksiatan lainnya, begitu juga dengan nafsu syahwat melalui berzina lalu hamil, maka hal tersebut
menimbulkan trauma yang dalam dan berkepanjangan bagi sang wanita. Orang tua
dan keluarga menjadi sedih dan malu.Juga akibat-akibat buruk lainnya yang dapat
terjadi diluar perkiraan.wallahua’lam [Geylang
Lorong 12 Singapura, 08 Rajab 1432.H/
10 Juni 2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar