Senin, 30 November 2015

78. Andai akuTahu Mujahadah Berpahala



Kita hidup di dunia ini bukanlah main-main dan tidak sekedar bermain-main tapi menjalani hidup ini dengan serius dan sungguh-sungguh, ini merupakan konsep hidup yang diajarkan islam kepada ummatnya bahwa manusia dihadirkan ke dunia ini untuk mengabdi hanya kepada Allah, pengabdian yang dilakukan pada seluruh ruanglingkup dan semua lini aktivitas dengan mujahadah yaitu bersungguh-sungguh dengan mengoptimalkan segala potensi secara maksimal. Allah berfirman,”Tidak Kami ciptakan jin dan manusia kecuali beribadah kepada-Ku’’ [Adz Dzariyat;56].

Ujud pengakuan pengabdian itu kita lanjutkan dalam setiap berdiri ketika menegakkan shalat yang tertuang dalam surat Al Fatihah,’’hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan’’[Al Fatihah 1;5].

Dalam keterangan terjemahan Departemen Agama RI disebutkan;

Na'budu diambil dari kata 'ibaadat: kepatuhan dan ketundukkan yang ditimbulkan oleh perasaan terhadap kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang disembah, karena berkeyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya.

Nasta'iin (minta pertolongan), terambil dari kata isti'aanah: mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri.

Dalam melakukan penyembahan, pengabdian harus dilakukan dengan sungguh-sungguh artinya bermujahadah dalam ibadah, sebagaimana yang diungkapkan oleh Ustadz Mashadi dalam tulisannya di bawah ini;

Ibnu Qayyim Al-Jauzi mengatakan, orang-orang yang berhak mencapai maqam ‘Iyyaka Na’budu’ itu, tidak mudah. Tentu untuk mencapai maqam ‘Iyyaka Na’budu’ itu memerlukan mujahadah dan tajarrud (totalitas). Mujahadah dengan segala jiwa dan raganya agar mencapai maqam yang hendak dituju. Tidak mungkin hanya dapat dicapai dengan bentuk raganya, tanpa jiwa dan bathinnya ikut bermujahadah.

Diantaranya, golongan pertama yang berpendapat, bahwa ibadah yang paling utama dan paling bermanfaat, ialah yang paling berat dan paling sulit atas jiwa. “Karena ia paling jauh dari hawa nafsu, dan merupakan hakikat ta’abud. Pahala diberikan berdasarkan kadar kesulitannya.” Seperti diriwayatkan dalam sebuah hadist, “Amal yang paling utama ialah yang paling sulit dan paling melarat.”

Mereka ini adalah ahlul mujahadah dan orang-orang yang mampu mengendalikan hawa nafsu. Di tengah-tengah beratnya godaan, yang terus-menerus dialami dengan segala bentuknya, dan mereka dapat selamat dari semua godaan, tanpa sedikitpun tersentuh oleh godaan dan hawa nafsu yang datang dari setan. Golongan ini, berkata, “Sesungguhnya jiwa hanya dapat lurus dengan ibadah yang sulit dan berat, karena jiwa mempunyai karakter malas, dan menyukai kerendahan dan kehinaan. Ia tidak dapat menjadi lurus, kecuali dengan melakukan hal-hal yang berat dan memikul kesulitan.”

Meninggalkan segala kenikmatan, kemewahan, angan-angan akan keindahan dunia, harta yang banyak , semuanya harus dipupus. Selain itu, harus meninggalkan orang-orang yang selalu menawarkan kenikmatan, keindahan, pangkat, serta buaian wanita-wanita yang cantik, dan dengan segala bujukan keindahan dan kenikmatan yang selalu ditawarkannya. Semuanya itu hanyalah akan mendera jiwa dan bathinnya,dan tak akan dapat membuat dirinya mencapai maqam 'Iyyaka Na'budi wa Iyyaka Nata'in".

Tidak mungkin dapat mencapai maqam ‘Iyyaka Na’budu’ bagi jiwa dan bathin orang-orang yang terus menerus hidupnya dipenuhi dengan khayalan dan dikotori oleh kehidupan dunia, yang tidak pernah henti-henti. Kehidupan dunia hanyalah ambisi orang-orang yang lalai, dan tidak menyukai maqam ‘Iyyaka Na’budu”, karena hakikatnya mereka tidak lagi mempercayai janji dari Allah Azza Wa Jalla. Mereka ini hanyalah menjadi budak dunia, dan kemudian berwala’ (memberikan loyalitasnya) kepada hamba-hamba setan.
Bagi mereka yang menginginkan maqam ‘Iyyaka Na’budu’, hanya dapat dicapai dengan melakukan hal-hal yang berat dan memikul kesulitan. Kesulitan dan beban berat yang harus dipikul, pasti akan bermunculan dalam kehidupan ini, terutama bagi mereka yang ingin mencapai maqam ‘Iyyaka Na’budu’, karena tantangan dalam kehidupan jahiliyah, yang tak lagi mengenal batas-batas, yang sudah ditetapkan dalam Qur’an dan Sunnah. Kencintaan pada hawa nafsunya telah membawa mereka meninggalkan segala kebaikan yang bersifat fitrah yang diberikan oleh Allah Azza Wa Jalla kepada mereka.

Bagi mereka yang ingin menggapai maqam 'Iyyaka Na'budu", orientasi hidup mereka hanyalah mencari ridho Allah. Tidak mencari ridho makhluk termasuk manusia. Ketika, ibadah utama di masa jihad adalah mengutamakan jihad, dan meninggalkan wirid-wirid, seperti shalat malam, dan puasa sunah pada siang hari, bahkan sampai meninggalkan kesempurnaan shalat fardhu seperti dalam kondisi aman. Mereka pergi berjihad di jalan Allah Rabbul Alamin.

Karena mereka tahu bagi mereka yang memiliki maqam ‘Iyyaka Na’budu’, nilai berjihad itu lebih utama, dan akan janji Allah Azza Wa Jalla, di mana akan memasukkan ke dalam surga-Nya, tanpa melalui hisab, bagi mereka yang mati syahid. Betapa indahnya kehidupan bakal digapai kelak di akhirat.

Bagi mereka yang ingin mendapatkan maqam 'Iyyaka Na'budi', lebih menyukai bangun malam, melakukan shalatul lail, membaca Qur’an, berdo’a, berdzikir, beristighfar, meninggalkan segala urusan saat datangnya adzan, melaksanakan shalat fardhu dengan penuh ikhlas, dan pergi ke masjid-masjid shalat berjamaah. Mereka tetap shalat berjamaah dalam kondisi apapun. Tidak sekali-kali masbukh. Masjid sebagai ‘Baitullah’ lebih utama dari segalanya. Tidak berarti apapun baginya, kecuali hanya masjid yang berharga bagi kehidupannya, di mana setiap saat sesuai dengan ketentuan Rabbnya, dan selalu melaksanakannya dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan.[Ustadz Mashadi, Jadilah Engkau Ahlul Mujahadah Eramuslim.com.Selasa, 06/07/2010 11:13 WIB].
Pekerjaan orang yang berwatak mujahadah setara dengan jihad yang dilakukannya, bagaimana jihad itu dilakukan maka demikian pulalah pekerjaan apapun yang dia emban di luar jihad, tidak ada jihad yang dikerjakan dengan sekedarnya, jihad pasti dikerjakan dengan sungguh-sungguh agar hasilnya juga diperhitungkan oleh dengan pahala dan syurga.
Berjihad fisabilillah itu termasuk amal yang utama,disamping mengerjakan shalat tepat pada waktunya, dan berbakti kepada kedua orangtua, demikian inti sari hadits dibawah ini;
            ”Dari Abu Aburrahman Abdullah bin Mas’ud ra, berkata,”Saya bertanya kepada nabi Saw,”Amal apakah yang lebih disenangi Allah?” beliau menjawab,”Mengerjakan shalat tepat pada waktunya” kataku ”Kemudian apa lagi?” sabda nabi,”berbakti kepada kedua orangtua”, aku bertanya lagi,”Kemudian apa?” sabda nabi,”Berjihad di jalan Allah”[HR.Bukhari dan Muslim]

Adapun hadits-hadits lain tentang berjihad dan keutamaannya antara lain adalah,”Berpagi-pagi di dalam berjuang di jalan Allah atau senja hari adalah lebih baik daripada mendapatkan keuntungan dunia dan seisinya”[HR.Bukhari dan Muslim]  

Keuntungan dunia dengan segala isinya yang diraih manusia tidaklah seberapa dibandingkan balasan yang akan diterima bagi mujahid di akherat nanti, dunia hanya sementara, kesenangan yang dirasakanpun semua tiada abadi, bila kita mampu meraih segala kesenangan dan kenikmatan dunia, paling lama hanya enampuluh tahun demikian pula halnya kesengsaraan di dunia dirasakan hanya sebatas usia manusia.
”Menjaga garis depan dalam berjihad di jalan Allah sehari semalam, adalah lebih baik daripada puasa dan bangun malam sebulan penuh, dan jika mati ketika itu, amal yang biasa dilakukan itu dilanjutkan dan diberi pahala dan rezeki serta aman dari fitnah kubur” [HR.Muslim]. 

Orang yang bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya bertaqwa maka dia akan berbuat dengan sungguh-sungguh atau seoptimal mungkin dia kerahkan kemampuannya untuk melaksanakan tugas-tugas agama, inilah yang disebut dengan mujahadah. Dalam bidang apapun, pribadi muttaqin dituntut untuk bersungguh-sungguh, baik sebagai pedagang, petani, pegawai, buruh ataupun pelajar untuk tidak boleh setengah-setengah dalam bekerja agar hasil yang didapatkan memuaskan. Ada pendapat yang mengatakan, ”Lebih baik jadi i petani yang berhasil karena bekerja sungguh-sungguh daripada jadi pengusaha yang gagal karena bekerja ala kadarnya”.

            Sebab keberhasilan petani tadi didukung oleh mujahadah yang tinggi, dari rupiah ke rupiah dia kumpulkan, sedangkan pengusaha yang gagal salah satu sebabnya ialah tidak optimal dalam berbuat, Allah berfirman dalam surat Al Hujurat 49;15  ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar”.

            Salah satu jati diri orang yang beriman pada ayat di atas ialah mujahadah yang disebut juga dengan jihad. Jihad artinya suatu usaha yang sungguh-sungguh dalam urusan dunia baik urusan agama atau urusan dinas yang mengorbankan waktu, tenaga, fikiran dan hartanya untuk jihad fisabilillah.

Dalam sejarah orang-orang shaleh banyak kita temukan sikap-sikap mujahadah yang mereka ujudkan dalam ibadah sebagaimana Umar bin Khattab ketika ketinggalan shalat berjamaah lalu malamnya dia ganti dengan ibadah semalam suntuk sehingga beliau tidak tidur. Amir bin Abdi Qais selalu shalat 1000 rakaat setiap harinya, Aswad bin Yazid berpuasa sampai pucat pasi. Karz bin Wabrah selalu mengkhatamkan Al Qur’an tiga kali dalam sehari. Kitapun dapat melihat dalam sirah bagaimana Rasulullah shalat malam dengan bacaan yang panjang hingga kaki beliau bengkak dan selalu mohon ampun kepada Allah 100 kali dlam sehari semalam padahal beliau orang yang maksum dan  dijamin Allah masuk syurga.

            Umar bin Khattab karena tanggungjawab dia sebagai Khalifah, dia tidak mau hanya menerima laporan dari bawahannya tentang keadaan rakyat, setiap malam dia selalu mengadakan infeksi mendadak ke daerah-daerah untuk meninjau secara langsung bagaimana rakyat yang dipimpinnya. Suatu malam, dengan mata kepalanya sendiri dia menyaksikan satu keluarga yang tidak makan. Sementara untuk membujuk isak tangis anaknya, sang ibu merebus batu. Dalam penantiannya itu anakpun tidur, tapi perut yang lapar menyebabkan tidurnya tidak nyenyak.

            Anak terbangun kembali dan minta makan. Ibu hanya mampu berkata dengan derai air mata, ”Sabar nak sebentar lagi makanan kita masak, tidurlah lagi, nanti kalau sudah masak akan ibu bangunkan”, Umar berfikir, kenapa makanan yang dinanti-nantikan itu tidak kunjung masak, kenapa ibu ketika membujuk anaknya dengan derai air mata dan isak tangis yang menyayat hati, maka Umar menerobos ke dalam rumah itu dan lansung membuka tutup periuk, bukan main terkejutnya bahwa yang direbus sang ibu itu adalah batu. Detik itu juga Umar pergi ke Baitul Mal mengambil makanan, lalu menggotong sendiri makanan itu ke tempat kejadian tadi untuk menyelamatkan rakyatnya yang kelaparan.

            Dalam negara manakah seorang pemimpin yang mampu berbuat begitu, ini merupakan hasil didikan taqwa dari ajaran Islam. Umar bersungguh-sungguh dalam kepemimpinannya, dia yakin bahwa jabatan bukanlah kemenangan dan kesenangan tapi amanah yang akan diminta tanggungjawabnya kelak di hadapan Allah.

            Ada  beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mujahadah:
  1. Amal sunnah yang dilakukan tidak melupakan dengan amal yang wajib, seperti berinfaq di jalan Allah tapi melalaikan nafkah keluarga, ”Sesungguhnya Allah mempunyai hak yang harus kamu penuhi, dirimupun punya hak yang harus kamu penuhi, penuhilah setiap hak mereka”[HR. Bukhari]

  1. Tidak memaksakan diri dengan amal-amal sunnah yang di luar kemampuan, orang yang bermujahadah dalam ibadah sesuai dengan kemampuannya, mungkin menurut ukuran orang awam hal itu berat tapi bagi orang yang shaleh adalah perbuatan ringan karena dia sering dan terbiasa melakukannya, ”Hendaklah kalian beramal sesuai dengan kemampuan kalian, demi Allah, Allah tidak bosan sehingga kamu merasa bosan” [Bukhari dan Muslim]

            Orang yang bertaqwalah yang dapat dan mampu bersungguh-sungguh dalam segala aktivitasnya. Dia bekerja tidak setengah-setengah. Dia berdakwah bukan musiman, tapi berkelanjutan karena imannya yang istiqomah, karena iman harus ada buktinya sebagai ujud dari mujahadah.

            Iman itu tidak cukup dengan ucapan lidah saja. Tapi ia juga merupakan kesatuan dari pengakuan hati, ucapan lidah dan amalan anggota. Amalan anggota ini adalah merupakan bukti dari benarnya akuan hati dan ucapan lidah itu, Nabi bersabda, ”Iman itu bukan dengan angan-angan tapi kemantapan dalam hati dan dibuktikan kebenarannya dengan amal” [HR. Bukhari].

            Sesudah itu  rupanya Allah mengadakan ujian terhadap iman tersebut, ”Apakah manusia menyangka bahwa mereka akan dibiarkan saja mengatakan, ”Kami telah beriman” sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami  telah menguji akan orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui pula orang-orang yang dusta” [Al Ankabut 29;2].

            Ujian tersebut bermacam-macam bentuknya, antara lain kesusahan dan kecelakaan. Guna ujian ini ialah untuk mengetahui siapakah yang benar-benar beriman dan siapa pula yang dusta. Sebenarnya walaup tanpa diuji Allah telah mengetahui, benar atau dustanya iman seseorang, tetapi hal itu merupakan kesempatan bagi manusia untuk memperbaiki diri.

            Iman yang istiqomah akan keluar sebagai pemenang dari segala ujian dan bentuk lain dari cobaan yang diberikan Allah sehingga imannya bermakna dan berkualitas. Bila dalam hidup ini kita tidak bermujahadah terutama dalam keimanan maka akan taerjadilah fluktuasi iman atau gelombang iman sebagaimana Ibnu Taimiyah mengatakan, ”Iman itu ialah keyakinan dan amal karena itu dia dapat bertambah dan berkurang”. Bukti bahwa iman seseorang naik yaitu ibadahnya meningkat, amaliyahnya banyak. Sedangkan bukti iman menurun yaitu maksiatnya bertambah. Yang dapat meningkatkan salah satu diantaranya yaitu zikrullah, ingat kepada Allah, sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imran 3;190-191, ”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, yaitu orang-orang yang zikrullah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka banyak memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata,”Ya Tuhan kami tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.

      Banyak jalan lain yang dapat memacu iman yang sedang turun yaitu pesan dan nasehat khatib dari jum’at ke jum’at selalu mengingatkan kepada kita untuk tetap sadar meningkatkan iman dan taqwa, demikian pesan mubaligh dari Ramadhan ke Ramadhan tidak lepas dari agar ummat Islam selalu menjaga imannya. Kalau memang iman sedang turun maka janganlah turunnya imannya itu terlalu dalam dan terlalu lama.  Bila iman sedang naik maka usahakan mampu mempertahankan tetap pada posisinya yaitu diatas, ingat peringatan Allah agar umat Islam yang beriman selalu sungguh-sungguh dalam bertaqwa dan tidak mau melepaskan iman sampai ajal menjemput, difirmankan dalam surat Ali Imran 3;102
”Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sungguh-sungguh bertaqwa dan janganlah mati kecuali dalam tetap beriman”.

" Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, kami akan memberikan kepadamu Furqaan[607]. dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. dan Allah mempunyai karunia yang besar" [Al Anfal 8;29]

" Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. mereka Itulah orang-orang yang fasik.[Al Hasyr 59;18-19]

Taqwa tidak bisa dibiarkan saja karena dia merupakan level iman yang mengalami fluktuasi yaitu ibarat gelombang, kadangkala naik dan kadangkala turun, taqwa harus dijaga dengan sebaik-baiknya hingga pada akhir kehidupan kita tetap dalam posisi masih bertaqwa.

Taqwa tidaklah berdiri sendiri, setelah diraih melalui proses yang panjang sejak dari pribadi muslim, mukmin, muhsin dan mukhlis sampai kepada muttaqin, tidak semua orang mampu meraihnya kecuali orang-orang yang berupaya untuk meraihnya dengan hidayah Allah, namun taqwa harus dijaga dengan baik melalui Tarbiyyah Ruhiyyah yaitu pendidikan Rohani diantaranya mujahadah. Wallahu a’lam [Cubadak Solok, 15 Syawal 1432.H/ 13 September 2011.M].



Tidak ada komentar:

Posting Komentar