Kita hidup di dunia ini
bukanlah main-main dan tidak sekedar bermain-main tapi menjalani hidup ini
dengan serius dan sungguh-sungguh, ini merupakan konsep hidup yang diajarkan
islam kepada ummatnya bahwa manusia dihadirkan ke dunia ini untuk mengabdi hanya
kepada Allah, pengabdian yang dilakukan pada seluruh ruanglingkup dan semua
lini aktivitas dengan mujahadah yaitu bersungguh-sungguh dengan mengoptimalkan
segala potensi secara maksimal. Allah
berfirman,”Tidak Kami ciptakan jin dan
manusia kecuali beribadah kepada-Ku’’ [Adz Dzariyat;56].
Ujud pengakuan pengabdian itu
kita lanjutkan dalam setiap berdiri ketika menegakkan shalat yang tertuang
dalam surat Al Fatihah,’’hanya Engkaulah
yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan’’[Al
Fatihah 1;5].
Dalam keterangan terjemahan
Departemen Agama RI disebutkan;
Na'budu diambil dari kata
'ibaadat: kepatuhan dan ketundukkan yang ditimbulkan oleh perasaan terhadap
kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang disembah, karena berkeyakinan bahwa Allah
mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya.
Nasta'iin (minta pertolongan),
terambil dari kata isti'aanah: mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan
suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri.
Dalam melakukan penyembahan,
pengabdian harus dilakukan dengan sungguh-sungguh artinya bermujahadah dalam
ibadah, sebagaimana yang diungkapkan oleh Ustadz Mashadi dalam tulisannya di
bawah ini;
Ibnu Qayyim Al-Jauzi
mengatakan, orang-orang yang berhak mencapai maqam ‘Iyyaka Na’budu’ itu, tidak
mudah. Tentu untuk mencapai maqam ‘Iyyaka Na’budu’ itu memerlukan mujahadah dan
tajarrud (totalitas). Mujahadah dengan segala jiwa dan raganya agar mencapai
maqam yang hendak dituju. Tidak mungkin hanya dapat dicapai dengan bentuk
raganya, tanpa jiwa dan bathinnya ikut bermujahadah.
Diantaranya, golongan pertama
yang berpendapat, bahwa ibadah yang paling utama dan paling bermanfaat, ialah
yang paling berat dan paling sulit atas jiwa. “Karena ia paling jauh dari hawa
nafsu, dan merupakan hakikat ta’abud. Pahala diberikan berdasarkan kadar
kesulitannya.” Seperti diriwayatkan dalam sebuah hadist, “Amal yang paling
utama ialah yang paling sulit dan paling melarat.”
Mereka ini adalah ahlul
mujahadah dan orang-orang yang mampu mengendalikan hawa nafsu. Di tengah-tengah
beratnya godaan, yang terus-menerus dialami dengan segala bentuknya, dan mereka
dapat selamat dari semua godaan, tanpa sedikitpun tersentuh oleh godaan dan
hawa nafsu yang datang dari setan. Golongan ini, berkata, “Sesungguhnya jiwa
hanya dapat lurus dengan ibadah yang sulit dan berat, karena jiwa mempunyai
karakter malas, dan menyukai kerendahan dan kehinaan. Ia tidak dapat menjadi
lurus, kecuali dengan melakukan hal-hal yang berat dan memikul kesulitan.”
Meninggalkan segala
kenikmatan, kemewahan, angan-angan akan keindahan dunia, harta yang banyak ,
semuanya harus dipupus. Selain itu, harus meninggalkan orang-orang yang selalu
menawarkan kenikmatan, keindahan, pangkat, serta buaian wanita-wanita yang
cantik, dan dengan segala bujukan keindahan dan kenikmatan yang selalu
ditawarkannya. Semuanya itu hanyalah akan mendera jiwa dan bathinnya,dan tak
akan dapat membuat dirinya mencapai maqam 'Iyyaka Na'budi wa Iyyaka
Nata'in".
Tidak mungkin dapat mencapai
maqam ‘Iyyaka Na’budu’ bagi jiwa dan bathin orang-orang yang terus menerus
hidupnya dipenuhi dengan khayalan dan dikotori oleh kehidupan dunia, yang tidak
pernah henti-henti. Kehidupan dunia hanyalah ambisi orang-orang yang lalai, dan
tidak menyukai maqam ‘Iyyaka Na’budu”, karena hakikatnya mereka tidak lagi
mempercayai janji dari Allah Azza Wa Jalla. Mereka ini hanyalah menjadi budak
dunia, dan kemudian berwala’ (memberikan loyalitasnya) kepada hamba-hamba
setan.
Bagi mereka yang menginginkan
maqam ‘Iyyaka Na’budu’, hanya dapat dicapai dengan melakukan hal-hal yang berat
dan memikul kesulitan. Kesulitan dan beban berat yang harus dipikul, pasti akan
bermunculan dalam kehidupan ini, terutama bagi mereka yang ingin mencapai maqam
‘Iyyaka Na’budu’, karena tantangan dalam kehidupan jahiliyah, yang tak lagi mengenal
batas-batas, yang sudah ditetapkan dalam Qur’an dan Sunnah. Kencintaan pada
hawa nafsunya telah membawa mereka meninggalkan segala kebaikan yang bersifat
fitrah yang diberikan oleh Allah Azza Wa Jalla kepada mereka.
Bagi mereka yang ingin
menggapai maqam 'Iyyaka Na'budu", orientasi hidup mereka hanyalah mencari
ridho Allah. Tidak mencari ridho makhluk termasuk manusia. Ketika, ibadah utama
di masa jihad adalah mengutamakan jihad, dan meninggalkan wirid-wirid, seperti
shalat malam, dan puasa sunah pada siang hari, bahkan sampai meninggalkan
kesempurnaan shalat fardhu seperti dalam kondisi aman. Mereka pergi berjihad di
jalan Allah Rabbul Alamin.
Karena mereka tahu bagi mereka
yang memiliki maqam ‘Iyyaka Na’budu’, nilai berjihad itu lebih utama, dan akan
janji Allah Azza Wa Jalla, di mana akan memasukkan ke dalam surga-Nya, tanpa
melalui hisab, bagi mereka yang mati syahid. Betapa indahnya kehidupan bakal
digapai kelak di akhirat.
Bagi mereka yang ingin
mendapatkan maqam 'Iyyaka Na'budi', lebih menyukai bangun malam, melakukan
shalatul lail, membaca Qur’an, berdo’a, berdzikir, beristighfar, meninggalkan
segala urusan saat datangnya adzan, melaksanakan shalat fardhu dengan penuh
ikhlas, dan pergi ke masjid-masjid shalat berjamaah. Mereka tetap shalat berjamaah
dalam kondisi apapun. Tidak sekali-kali masbukh. Masjid sebagai ‘Baitullah’
lebih utama dari segalanya. Tidak berarti apapun baginya, kecuali hanya masjid
yang berharga bagi kehidupannya, di mana setiap saat sesuai dengan ketentuan
Rabbnya, dan selalu melaksanakannya dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan.[Ustadz
Mashadi, Jadilah Engkau Ahlul Mujahadah Eramuslim.com.Selasa, 06/07/2010 11:13
WIB].
Pekerjaan orang yang berwatak
mujahadah setara dengan jihad yang dilakukannya, bagaimana jihad itu dilakukan
maka demikian pulalah pekerjaan apapun yang dia emban di luar jihad, tidak ada
jihad yang dikerjakan dengan sekedarnya, jihad pasti dikerjakan dengan
sungguh-sungguh agar hasilnya juga diperhitungkan oleh dengan pahala dan
syurga.
Berjihad fisabilillah itu termasuk amal yang
utama,disamping mengerjakan shalat tepat pada waktunya, dan berbakti kepada
kedua orangtua, demikian inti sari hadits dibawah ini;
”Dari Abu Aburrahman Abdullah bin Mas’ud ra, berkata,”Saya bertanya
kepada nabi Saw,”Amal apakah yang lebih disenangi Allah?” beliau
menjawab,”Mengerjakan shalat tepat pada waktunya” kataku ”Kemudian apa lagi?”
sabda nabi,”berbakti kepada kedua orangtua”, aku bertanya lagi,”Kemudian apa?”
sabda nabi,”Berjihad di jalan Allah”[HR.Bukhari dan Muslim]
Adapun hadits-hadits lain tentang berjihad dan
keutamaannya antara lain adalah,”Berpagi-pagi
di dalam berjuang di jalan Allah atau senja hari adalah lebih baik daripada
mendapatkan keuntungan dunia dan seisinya”[HR.Bukhari dan Muslim]
Keuntungan dunia dengan segala isinya yang diraih manusia
tidaklah seberapa dibandingkan balasan yang akan diterima bagi mujahid di
akherat nanti, dunia hanya sementara, kesenangan yang dirasakanpun semua tiada
abadi, bila kita mampu meraih segala kesenangan dan kenikmatan dunia, paling
lama hanya enampuluh tahun demikian pula halnya kesengsaraan di dunia dirasakan
hanya sebatas usia manusia.
”Menjaga
garis depan dalam berjihad di jalan Allah sehari semalam, adalah lebih baik
daripada puasa dan bangun malam sebulan penuh, dan jika mati ketika itu, amal
yang biasa dilakukan itu dilanjutkan dan diberi pahala dan rezeki serta aman
dari fitnah kubur” [HR.Muslim].
Orang yang
bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya bertaqwa maka dia akan berbuat
dengan sungguh-sungguh atau seoptimal mungkin dia kerahkan kemampuannya untuk
melaksanakan tugas-tugas agama, inilah yang disebut dengan mujahadah. Dalam
bidang apapun, pribadi muttaqin dituntut untuk bersungguh-sungguh, baik sebagai
pedagang, petani, pegawai, buruh ataupun pelajar untuk tidak boleh
setengah-setengah dalam bekerja agar hasil yang didapatkan memuaskan. Ada
pendapat yang mengatakan, ”Lebih baik
jadi i petani yang berhasil karena bekerja sungguh-sungguh daripada jadi
pengusaha yang gagal karena bekerja ala kadarnya”.
Sebab keberhasilan petani tadi didukung oleh mujahadah
yang tinggi, dari rupiah ke rupiah dia kumpulkan, sedangkan pengusaha yang
gagal salah satu sebabnya ialah tidak optimal dalam berbuat, Allah berfirman
dalam surat Al Hujurat 49;15 ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman
hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka
tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan
Allah, mereka itulah orang-orang yang benar”.
Salah
satu jati diri orang yang beriman pada ayat di atas ialah mujahadah yang
disebut juga dengan jihad. Jihad artinya suatu usaha yang sungguh-sungguh dalam
urusan dunia baik urusan agama atau urusan dinas yang mengorbankan waktu,
tenaga, fikiran dan hartanya untuk jihad fisabilillah.
Dalam sejarah
orang-orang shaleh banyak kita temukan sikap-sikap mujahadah yang mereka
ujudkan dalam ibadah sebagaimana Umar bin Khattab ketika ketinggalan shalat
berjamaah lalu malamnya dia ganti dengan ibadah semalam suntuk sehingga beliau
tidak tidur. Amir bin Abdi Qais selalu shalat 1000 rakaat setiap harinya, Aswad
bin Yazid berpuasa sampai pucat pasi. Karz bin Wabrah selalu mengkhatamkan Al
Qur’an tiga kali dalam sehari. Kitapun dapat melihat dalam sirah bagaimana
Rasulullah shalat malam dengan bacaan yang panjang hingga kaki beliau bengkak
dan selalu mohon ampun kepada Allah 100 kali dlam sehari semalam padahal beliau
orang yang maksum dan dijamin Allah
masuk syurga.
Umar bin Khattab karena tanggungjawab dia sebagai
Khalifah, dia tidak mau hanya menerima laporan dari bawahannya tentang keadaan
rakyat, setiap malam dia selalu mengadakan infeksi mendadak ke daerah-daerah
untuk meninjau secara langsung bagaimana rakyat yang dipimpinnya. Suatu malam,
dengan mata kepalanya sendiri dia menyaksikan satu keluarga yang tidak makan.
Sementara untuk membujuk isak tangis anaknya, sang ibu merebus batu. Dalam
penantiannya itu anakpun tidur, tapi perut yang lapar menyebabkan tidurnya
tidak nyenyak.
Anak terbangun kembali dan minta makan. Ibu hanya mampu
berkata dengan derai air mata, ”Sabar nak
sebentar lagi makanan kita masak, tidurlah lagi, nanti kalau sudah masak akan
ibu bangunkan”, Umar berfikir, kenapa makanan yang dinanti-nantikan itu
tidak kunjung masak, kenapa ibu ketika membujuk anaknya dengan derai air mata
dan isak tangis yang menyayat hati, maka Umar menerobos ke dalam rumah itu dan
lansung membuka tutup periuk, bukan main terkejutnya bahwa yang direbus sang
ibu itu adalah batu. Detik itu juga Umar pergi ke Baitul Mal mengambil makanan,
lalu menggotong sendiri makanan itu ke tempat kejadian tadi untuk menyelamatkan
rakyatnya yang kelaparan.
Dalam negara manakah seorang pemimpin yang mampu berbuat
begitu, ini merupakan hasil didikan taqwa dari ajaran Islam. Umar
bersungguh-sungguh dalam kepemimpinannya, dia yakin bahwa jabatan bukanlah
kemenangan dan kesenangan tapi amanah yang akan diminta tanggungjawabnya kelak
di hadapan Allah.
Ada beberapa hal
yang perlu diperhatikan dalam mujahadah:
- Amal sunnah yang dilakukan tidak melupakan dengan amal yang wajib, seperti berinfaq di jalan Allah tapi melalaikan nafkah keluarga, ”Sesungguhnya Allah mempunyai hak yang harus kamu penuhi, dirimupun punya hak yang harus kamu penuhi, penuhilah setiap hak mereka”[HR. Bukhari]
- Tidak memaksakan diri dengan amal-amal sunnah yang di luar kemampuan, orang yang bermujahadah dalam ibadah sesuai dengan kemampuannya, mungkin menurut ukuran orang awam hal itu berat tapi bagi orang yang shaleh adalah perbuatan ringan karena dia sering dan terbiasa melakukannya, ”Hendaklah kalian beramal sesuai dengan kemampuan kalian, demi Allah, Allah tidak bosan sehingga kamu merasa bosan” [Bukhari dan Muslim]
Orang yang bertaqwalah yang dapat dan mampu
bersungguh-sungguh dalam segala aktivitasnya. Dia bekerja tidak setengah-setengah.
Dia berdakwah bukan musiman, tapi berkelanjutan karena imannya yang istiqomah,
karena iman harus ada buktinya sebagai ujud dari mujahadah.
Iman itu tidak cukup dengan ucapan lidah saja. Tapi ia
juga merupakan kesatuan dari pengakuan hati, ucapan lidah dan amalan anggota.
Amalan anggota ini adalah merupakan bukti dari benarnya akuan hati dan ucapan
lidah itu, Nabi bersabda, ”Iman itu bukan
dengan angan-angan tapi kemantapan dalam hati dan dibuktikan kebenarannya
dengan amal” [HR. Bukhari].
Sesudah itu
rupanya Allah mengadakan ujian terhadap iman tersebut, ”Apakah manusia menyangka bahwa mereka akan
dibiarkan saja mengatakan, ”Kami telah beriman” sedang mereka tidak diuji lagi?
Dan sesungguhnya Kami telah menguji akan
orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui pula orang-orang yang
dusta” [Al Ankabut 29;2].
Ujian tersebut bermacam-macam bentuknya, antara lain
kesusahan dan kecelakaan. Guna ujian ini ialah untuk mengetahui siapakah yang
benar-benar beriman dan siapa pula yang dusta. Sebenarnya walaup tanpa diuji
Allah telah mengetahui, benar atau dustanya iman seseorang, tetapi hal itu
merupakan kesempatan bagi manusia untuk memperbaiki diri.
Iman yang istiqomah akan keluar sebagai pemenang dari
segala ujian dan bentuk lain dari cobaan yang diberikan Allah sehingga imannya
bermakna dan berkualitas. Bila dalam hidup ini kita tidak bermujahadah terutama
dalam keimanan maka akan taerjadilah fluktuasi iman atau gelombang iman
sebagaimana Ibnu Taimiyah mengatakan, ”Iman
itu ialah keyakinan dan amal karena itu dia dapat bertambah dan berkurang”.
Bukti bahwa iman seseorang naik yaitu ibadahnya meningkat, amaliyahnya banyak.
Sedangkan bukti iman menurun yaitu maksiatnya bertambah. Yang dapat
meningkatkan salah satu diantaranya yaitu zikrullah, ingat kepada Allah,
sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imran 3;190-191, ”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya
malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, yaitu orang-orang
yang zikrullah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan
mereka banyak memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata,”Ya
Tuhan kami tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau,
maka peliharalah kami dari siksa neraka”.
Banyak jalan lain yang dapat memacu iman
yang sedang turun yaitu pesan dan nasehat khatib dari jum’at ke jum’at selalu
mengingatkan kepada kita untuk tetap sadar meningkatkan iman dan taqwa,
demikian pesan mubaligh dari Ramadhan ke Ramadhan tidak lepas dari agar ummat
Islam selalu menjaga imannya. Kalau memang iman sedang turun maka janganlah
turunnya imannya itu terlalu dalam dan terlalu lama. Bila iman sedang naik maka usahakan mampu
mempertahankan tetap pada posisinya yaitu diatas, ingat peringatan Allah agar
umat Islam yang beriman selalu sungguh-sungguh dalam bertaqwa dan tidak mau
melepaskan iman sampai ajal menjemput, difirmankan dalam surat Ali Imran 3;102
”Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada
Allah dengan sungguh-sungguh bertaqwa dan janganlah mati kecuali dalam tetap
beriman”.
" Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, kami akan
memberikan kepadamu Furqaan[607]. dan kami akan jauhkan dirimu dari
kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. dan Allah mempunyai
karunia yang besar" [Al Anfal 8;29]
" Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah
setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok
(akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa
yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada
Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. mereka Itulah
orang-orang yang fasik.[Al Hasyr
59;18-19]
Taqwa tidak bisa
dibiarkan saja karena dia merupakan level iman yang mengalami fluktuasi yaitu
ibarat gelombang, kadangkala naik dan kadangkala turun, taqwa harus dijaga
dengan sebaik-baiknya hingga pada akhir kehidupan kita tetap dalam posisi masih
bertaqwa.
Taqwa tidaklah
berdiri sendiri, setelah diraih melalui proses yang panjang sejak dari pribadi
muslim, mukmin, muhsin dan mukhlis sampai kepada muttaqin, tidak semua orang
mampu meraihnya kecuali orang-orang yang berupaya untuk meraihnya dengan
hidayah Allah, namun taqwa harus dijaga dengan baik melalui
Tarbiyyah Ruhiyyah yaitu pendidikan Rohani diantaranya mujahadah. Wallahu
a’lam [Cubadak Solok, 15 Syawal 1432.H/ 13 September 2011.M].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar