Takut adalah salah
satu sifat negatif manusia bila rasa takut tersebut ditujukan kepada selain
Allah. Khauf atau takut kepada-Nya
adalah sifat positif yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang tinggi derajat
imannya setelah memahami dengan baik kalimat tauhid yaitu “Laa Khauf Illallah”
artinya tidak ada yang ditakuti kecuali Allah.
“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah
orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan
shalat, emnunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah,
Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang
mendapat petunjuk”[At Taubah 9;18]
Hadits Qudsi
yang diriwayatkan oleh Turmuzi yang bersumbe dari Anas, Allah berfirman pada
hari kiamat,”Keluarkanlah dari neraka
orang-orang yang pernah ingat pada suatu saat kepada-Ku atau orang yang pernah merasa takut kepada-Ku dalam kedudukan
apapun”.
Khauf atau takut merupakan sifat manusia
yang wajar, fithrahnya memang demikian sehingga tidak ada alasan kita untuk
mencela orang yang takut kecuali difahami dan diberikan solusinya.
Perang
Mu’tah, adalah perang yang secara rasio tak akan membuat manusia optimis
apalagi yakin dengan kemenangan yang dijanjikan. Bayangkan saja, jumlah pasukan
Romawi yang berkumpul pada hari itu lebih dari 200.000 tentara, lengkap dengan
baju perang yang gagah, panji-panji dari kain sutra, senjata-senjata yang
perkasa, lalu dengan kuda-kuda yang juga siap dipacu. Abu Hurairah bersaksi
atas perang ini.”Aku menyaksikan Perang Mu’tah.Ketika kami berdekatan dengan
orang-orang musyrik.Kami melihat pemandangan yang tiada bandingnya.Jumlah
pasukan dan senjatanya, kuda dan kain sutra, juga emas.Sehingga mataku terasa
silau,” ujar Abu Hurairah.
Sebelum
melihatnya, pasukan para sahabat yang hanya berjumlah 3.000 orang-orang
beriman, sudah mendengar kabar tentang besarnya pasukan lawan.Sampai-sampai
mereka mengajukan berbagai pendapat, untuk memikirkan jalan keluar. Ada yang
berpendapat agar pasukan Islam mengirimkan surat kepada Rasulullah saw,
mengabarkan jumlah musuh yang dihadapi dan berharap kiriman bala bantuan lagi.
Banyak sekali usulan yang mengemuka, sampai kemudian Abdullah ibnu Rawahah yang
diangkap sebagai panglima pertama berkata di depan pasukan.
”Demi
Allah, apa yang kalian takutkan? Sesungguhnya apa yang kalian takutkan adalah
alasan kalian keluar dari pintu rumah, yakni gugur sebagai syahid di jalan
Allah. Kita memerangi mereka bukan karena jumlahnya, bukan karena kekuatannya.Majulah
ke medan perang, karena hanya ada dua kemungkinan yang sama baiknya, menang
atau syahid!”Pidato perang yang singkat, tapi sangat menggetarkan.Seperti yang
kita tahu dalam sejarah, sebelum berangkat Rasulullah berpesan pada pasukan.
Jika Zaid bin Haritsah terkena musibah, maka panglima akan diserahkan kepada
Ja’far bin Abi Thalib. Dan jika Ja’far bin Abi Thalib juga terkena musibah,
maka Abdullah ibnu Rawahah yang menggantikannya.
Dalam
perang, tak ada sikap yang bisa disembunyikan.Pemberani, ketakutan, risau dan
kegalauan, cerdik dan penuh akal, atau orang-orang yang selalu menghindar.Semua
terlihat nyata. Tak ada yang bisa disembunyikan!
Takut,
risau dan galau, sungguh adalah perasaan wajar yang muncul karena fitrah.Dalam
sebuah periode kehidupan, kita seringkali merasakannya.Meski begitu, bukan pula
alasan kita menghindar dari sesuatu yang harus kita taklukkan karena rasa
takut, risau dan galau yang lebih menang.Kemudian kita mencari-cari alasan
dengan menyebutnya dengan dalih strategi dan langkah pintar.Menunduk untuk
menanduk, atau yang lainnya.
Gunung-gunung
harus didaki, laut dan samudera harus diseberangi, lembah dan ngarai harus
dijelajahi.Tantangan hidup harus ditaklukan bukan dihindari. Dan tujuan besar
hidup kita sebagai seorang Muslim adalah menegakkan kebenaran dan menyebarkan
kebaikan.[Takut Itu Wajar,Cybersabili.Rabu,
12 Mei 2010 02:31 Herry nurdi].
Yang
dimaksud dengan khauf [takut] disini ialah menahan nafsu dan semua anggota
badannya dari perbuatan maksiat dengan penuh ketaatan. Takut tanpa menahan dari
perbuatan maksiat tidak termasuk dalam pengertian hadits qudsi diatas, Allah
berfirman dalam surat An Naziat 79;40-41 sebagaimana awal tulisan ini.
Khauf
merupakan cambuk milik Allah untuk melecut hamba-hamba-Nya untuk menuju ilmu
dan amal, agar memperoleh tempat layak disisi Allah swt.
Khauf adalah
manifestasi dari hati yang sakit dan gundah karena adanya prasangka akan
terjadinya sesuatu yang menakutkan pada masa mendatang. Khauf inilah yang mengendalikan diri setiap keinginan berbuat
maksiat dan menambatkannya pada perbuatan taat.
Kecilnya
rasa takut kepada Alah akan membawa pada sikap kurang mawas diri dan bangga
dengan perbuatan dosa. Namun bila
terlalu dalam rasa khaufnya juga berdampak negatif, yaitu menumbuhkan perasaan
rendah diri dan apatis, takut kepada Allah itu terjadinya karena berbagai
faktor. Ada kalanya karena adanya ma’rifatullah
dan ma’rifat akan sifat-siat-Nya, dan keyakinan sekiranya Allah
menghancurkan alam seisinya. Ada juga yang –disebabkan bahwa diri ini telah
banyak berbuat dosa, dan mungkin juga karena karena keduanya, Rasulullah
bersabda,”Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling mengenal Allah
dan takut kepada-Nya dari pada kebanyakan manusia’ [HR.Bukhari dan Muslim]’
Suatu ketika
Imam Sya’bi dipanggil seseorang,”Wahai orang alim”, maka beliau
menjawab,”Sesungguhnya orang yang alim hanyalah orang yang takut kepada Allah”,
Allah berfirman dalam surat Fathir 35; 28;
“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang
melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan
jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya,
hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.
Ada juga
ulama yang mengatakan,”Orang takut
bukanlah orang yang menangis dan menghapus air matanya, tapi orang yang
meninggalka n perkara yang digakuti, supaya tidak mendapat siksa karenanya”
Dzin Nun Al
Mishri ketika ditanya,”Kapankah seorang hamba merasa takut ?”, ia
menjawab,”Jika ia mendudukkan dirinya sebagai mana orang sedang sakit, yang berpantangan terhadap makanan yang
membahayakan kesehatannya karena takut semakin parah sakitnya,”sedangkan Abul
Qasim Al Hukaim berkata,”Orang yang takut terhadap sesuatu, maka ia akanlari
menjauhinya, sedangkan takut kepada Allah, justru akan lari mendekat
kepada-Nya”.
Konsekwensi
dari keimanan kepada kalimat syahadat adalah khauf atau takut kepada Allah
dalam arti kata yang luas, bagaimana dia mempesiapkan dirinya dengan amal-amal
shaleh yang banyak dan menjauhi segala bentuk maksiat. Hati, lisan dan indranya
tidak lepas untuk zikir kepada Allah. Dalam keluargapun dia mempersiapkan
generasi-generasi yang siap mengemban risalah islam ini dengan jalan mendidik,
membimbing dan mengarahkan menjadi generasi yang shaleh dan shalehah,
apakah kita tidak takut kepada Allah bila anak keturunan dan kemenakan serta
kerabat kita terlibat kepada aktivitas negatif seperti narkoba dan kemaksiatan
lainnya.
“ Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang
seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka
khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka
bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar “[An Nisa’ 4;9].
Rasulullah
sebagai junjungan kita yang termulia, penghulu sekalian orang yang dahulu dan
belakangan, adalah orang yang paling takut kepada Allah. Pernah terjadi suatu
peristiwa, ada seorang anak meninggal dunia, lalu ada orang berkata,”Enak sudah
nasibnya, sebab seekor burung kecil dari burung-burung syurga yang merdeka,”
tiba-tiba beliau menunjukkan kemarahannya dan berkata;
“Siapa yang memberitahukan kepadamu bahwa ia akan menjadi
sebagaimana yang kamu kagakan tadi, Demi Allah, saya Rasulullah sendiripun
tidak tahu apa yang akan diperbuat oleh
Allah terhadap diriku. Sungguh Allah membuat syurga dan ditetapkanlah
siapa-siapa yang akan menjadi penghuninya disitu, tidak ditambah dari jumlah
yang ditentukan itu dan tidak pula dikurangi”[HR.Muslim]
Keutamaan Khauf disebutkan dalam hadits Nabi SAW: “Berfirman
ALLAH SWT: Demi Keagungan dan Kekuasaan-KU tidak mungkin berkumpul 2 rasa takut
dalam diri hambaku dan tidak akan berkumpul 2 rasa aman. Jika ia merasa aman
pada-KU di dunia maka akan aku buat takut ia di hari kiamat, dan jika ia takut
pada-KU di dunia maka akan aman ia di akhirat.” (HR Ibnu Hibban 2494)
1.
Takutnya para Malaikat : “Mereka merasa takut kepada Rabb-nya, dan mereka
melakukan apa-apa yang diperintahkan ALLAH.” (QS An-Nahl 16/50).
2.
Takutnya Nabi SAW. “Bahwa Nabi SAW jika melihat mendung ataupun angin maka
segera berubah pucat wajahnya. Berkata A’isyah ra: “Ya Rasulullah, orang-orang
jika melihat mendung dan angin bergembira karena akan datangnya hujan, maka
mengapa anda cemas?” Jawab beliau SAW: “Wahai A’isyah, saya tidak dapat lagi
merasa aman dari azab, bukankah kaum sebelum kita ada yang diazab dengan angin
dan awan mendung, dan ketika mereka melihatnya mereka berkata: Inilah hujan
yang akan menyuburkan kita.” (HR Bukhari 6/167 dan Muslim 3/26) Dan dalam
hadits lain disebutkan bahwa Nabi SAW jika sedang shalat terdengar didadanya
suara desis seperti air mendidih dalam tungku, karena tangisnya [2].
3.
Khauf-nya shahabat ra. Abubakar ra sering berkata: “Seandainya saya hanyalah
buah pohon yang dimakan.” Umar ra sering berkata: “Seandainya aku tidak pernah
diciptakan, seandainya ibuku tidak melahirkanku.” Abu ‘Ubaidah ibnal Jarraah ra
berkata: “Seandainya aku seekor kambing yang disembelih keluargaku lalu mereka
memakan habis dagingku.” Berkata Imraan bin Hushain ra: “Seandainya aku
menjadi debu yang tertiup angin kencang.”
4.
Khauf-nya Tabi’iin. Ali bin Husein jika berwudhu untuk shalat pucat wajahnya,
maka ditanyakan orang mengapa demikian? Jawabnya: “Tahukah kalian kepada siapa
saya akan menghadap?” Berkata Ibrahiim bin ‘Iisa as Syukriy: “Datang padaku
seorang lelaki dari Bahrain ke dalam mesjid saat orang-orang sudah pergi, lalu
kami bercerita tentang akhirat dan dzikrul maut, tiba-tiba orang itu demikian
takutnya sampai menghembuskan nafas terakhir saat itu juga.” Berkata Misma’:
“Saya menyaksikan sendiri mau’izhoh Abdul Waahid bin Zaid disuatu majlis, maka
wafat 40 orang saat itu juga dimajlis itu setelah mendengar ceramahnya.”
Berkata Yaziid bin Mursyid: “Demi ALLAH seandainya Rabb-ku menyatakan akan
memenjarakanku dalam sebuah ruangan selama-lamanya maka sudah pasti aku akan
menangis selamanya, maka bagaimanakah jika ia mengancamku akan memenjarakanku
didalam api?!”
Demikianlah Khauf para Malaikat, Nabi-nabi, ulama dan
auliya’, maka kita lebih pantas untuk takut dibanding mereka.Mereka takut bukan
karena dosa, melainkan karena kesucian hati dan kesempurnaan ma’rifah,
sementara kita telah dikalahkan oleh kekerasan hati dan kebodohan. Hati yang
bersih akan bergetar karena sentuhan kecil, sementara hati yang kotor tak
berguna baginya nasihat dan ancaman.[Abi AbduLLAAH,Al-Khauf,Al-Ikhwan.net | 1 March 2006 | 1 Safar 1427 H].
Orang-orang yang
takut kepada Allah ialah golongan yang selamat dari keinginan untuk melakukan
aksi jahat dan berbuat maksiat. Alquran sudah menegaskan, bahwa orang
yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya tidak lain adalah
orang-orang yang berilmu. (QSFathir:28)
Diriwayatkan
dari Abu Hayyan At-Taimy, bahwa dia berkata, "Orang-orang yang berilmu
terdiri dari tiga golongan: Pertama, orang yang mengetahui Allah namun tidak
mengenal perintah Allah. Kedua, orang yang mengetahui perintah Allah namun
tidak mengenal Allah.Ketiga, orang yang mengetahui Allah dan juga mengetahui
perintah Allah." (Kitabul Iman, Imam Ibn Taimiyah).
Sedangkan Imam
Ibn Taimiyah menegaskan, "Selagi seseorang melakukan sesuatu, sementara
dia juga mengetahui bahwa sesuatu itu mendatangkan mudharat kepadanya, maka
orang seperti ini layaknya orang yang tidak berakal.Sebab, ketakutan kepada
Allah mengharuskan ilmu tentang Allah, maka ilmu tentang Allah juga
mengharuskan ketakutan kepadaNya.Dan takut kepada Allah harus melahirkan
ketaatan kepadaNya.Orang-orang yang takut kepada Allah adalah orang-orang yang
mengerjakan perintah-perintahNya serta menghindari segala bentuk
larangan-Nya."[Imron Baehaqi Lc,Hakikat Takut kepada Allah,republika.co.id
Sabtu, 28 Mei 2011 11:53 WIB].
Khauf yaitu rasa takut juga seiring dengan raja’
yaitu rasa harap yang tinggi, Raja’ secara
bahasa berarti perasaan gembira menanti atau mengharap apa yang disuka. Dalam
istilah syariat, Raja' adalah perasaan gembira akan karunia Allah swt dan
berharap mendapatkan peberian-Nya, disertai dengan sikap percaya akan kebaikan
Allah swt. Dengan sikap raja' ini hati kan terbimbing melangkah sampai negeri
yang diidam-idamkan yaitu syurga Allah swt. Kedua rasa ini adalah obat
bagi jiwa manusia, obat yang bisa membugarkan dirinya dalam melakukan
perjalanan menuju harapannya, harapan yang digantungkan kepada Allah swt,
Penciptanya yang menjanjikan syurga dan memberi ancaman neraka. Orang
yang didominasi oleh rasa putus asa dan kehilangan semangat, sehingga ia
meninggalkan ibadah dan menganggap dirinya tidak berguna, sebagaimana kadang
kita mendengar ungkapan, ”Ah.. sudah kepalang basah, nyebur saja
sekalian”, atau ungkapan lain,”Aku ini terlalu
kotor, tak layak bersama mereka orang-orang shalih
itu”,atau ”Aku sudah terlalu
banyak berdosa, barangkali Tuhan pun takkan berkenan mengampuni dosa-dosaku
yang terlalu banyak ini”, orang seperti ini
memerlukan terapi ’Raja”.
Memang
syetan akan terus berupaya membuat seseorang yang pernah bersalah untuk
terkungkung dalam kesalahannya dan tidak keluar dari kubangan dosa, baik dengan
membuat pelakunya semakin menikmati dosa tersebut atau membuatnya jadi merasa
tidak pantas dan tidak layak menjadi baik. Kepada mereka orang-orang yang
berputus asa dari harapan ini Allah swt berfirman;
“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang
malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari
rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.Sesungguhnya
Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar/39 : 53)
Sedangkan
orang yang didominasi perasaan terlalu percaya diri bahwa dengan sifat Rahman dan
Rahim-Nya Allah swt pasti akan mengampuni dirinya dan dengan amalan yang selama
ini dilakukanya pasti ia meraih syurga. Orang yang berperasaan seperti ini akan
mudah melakukan dosa karena dia merasa pasti diampuni, mudah melakukan dosa
kecil dan mengulangnya karena dia menyepelekannya, pribadiseperti ini terancam
meninggal dalam su’ul khatimah-na`udzaubillahi min dzalik- maka yang seperti
ini membutuhkan terapi ‘Khauf.
Dalam hal ini Ibnu Qudamah berkata,”Ketauhilah ‘Khauf’ itu adalah
cemeti Allah swt yang digunakan untuk membimbing hamba-hamba-Nya agar mereka
senantiasa mencari ilmu dan beramal. Karena dengan ilmu dan amal, setiap hamba
dapat mendekatkan diri kepada Allah Azza wa jalla. Dan rasa ’Khauf’ adalah
pelita yang digunakan untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang
buruk.” [Saat Mubarak, Lc,Mengharmonikan antara Khauf dan Raja’
www.nuansaislam,com].
Bagaimanakah
orang-orang mukmin itu tidak akan takut dan kecut hatinya, jikalah sudah
meneiti bagaimana hal ihwalnya Rasulullah, padahal beliau adalah orang yang
bertaqwa diantara seluruh ummat manusia, sekalipun demikian masih juga
Rasulullah bersabda,”Saya dibuat beruban oleh surat Hud dan saudara-saudaranya
[yakni surat Al Waqiah dan lain-lain].
Para ulama
berkata,”Barangkali yang menyebabkan Rasulullah demikian itu karenadalam surat
Hud itu ayat-ayat yang menunjukkan berbagai kebinasaan atau kejauhan dari
Allah, sehingga terbayang azab petaka yang akan diterima dari-Nya.
Rasa takut ini pulalah yang
menyelamatkan pemuda dari bujukan dan rayuan wanita yang mengajaknya untuk
berzina tapi dia mampu berkata,”Inni Akhafullah” sesungguhnya aku takut kepada
Allah, sehingga Rasul mengabarkan bahwa pemuda ini akandilindungi kelak di
padang masyar sementara tidak ada perlindungan selain perlindungan dari Allah. wallahu a’lam
[Cubadak Solok, 11 Syawal 1432.H/ 09 September 2011.M].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar