Senin, 30 November 2015

79. Andai aku tahu Khauf Berpahala



Takut adalah salah satu sifat negatif manusia bila rasa takut tersebut ditujukan kepada selain Allah. Khauf atau takut  kepada-Nya adalah sifat positif yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang tinggi derajat imannya setelah memahami dengan baik kalimat tauhid yaitu “Laa Khauf Illallah” artinya tidak ada yang ditakuti kecuali Allah.

“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, emnunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”[At Taubah 9;18]

Hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Turmuzi yang bersumbe dari Anas, Allah berfirman pada hari kiamat,”Keluarkanlah dari neraka orang-orang yang pernah ingat pada suatu saat kepada-Ku atau orang yang  pernah merasa takut kepada-Ku dalam kedudukan apapun”.

Khauf atau takut merupakan sifat manusia yang wajar, fithrahnya memang demikian sehingga tidak ada alasan kita untuk mencela orang yang takut kecuali difahami dan diberikan solusinya.

Perang Mu’tah, adalah perang yang secara rasio tak akan membuat manusia optimis apalagi yakin dengan kemenangan yang dijanjikan. Bayangkan saja, jumlah pasukan Romawi yang berkumpul pada hari itu lebih dari 200.000 tentara, lengkap dengan baju perang yang gagah, panji-panji dari kain sutra, senjata-senjata yang perkasa, lalu dengan kuda-kuda yang juga siap dipacu. Abu Hurairah bersaksi atas perang ini.”Aku menyaksikan Perang Mu’tah.Ketika kami berdekatan dengan orang-orang musyrik.Kami melihat pemandangan yang tiada bandingnya.Jumlah pasukan dan senjatanya, kuda dan kain sutra, juga emas.Sehingga mataku terasa silau,” ujar Abu Hurairah.

Sebelum melihatnya, pasukan para sahabat yang hanya berjumlah 3.000 orang-orang beriman, sudah mendengar kabar tentang besarnya pasukan lawan.Sampai-sampai mereka mengajukan berbagai pendapat, untuk memikirkan jalan keluar. Ada yang berpendapat agar pasukan Islam mengirimkan surat kepada Rasulullah saw, mengabarkan jumlah musuh yang dihadapi dan berharap kiriman bala bantuan lagi. Banyak sekali usulan yang mengemuka, sampai kemudian Abdullah ibnu Rawahah yang diangkap sebagai panglima pertama berkata di depan pasukan.

”Demi Allah, apa yang kalian takutkan? Sesungguhnya apa yang kalian takutkan adalah alasan kalian keluar dari pintu rumah, yakni gugur sebagai syahid di jalan Allah. Kita memerangi mereka bukan karena jumlahnya, bukan karena kekuatannya.Majulah ke medan perang, karena hanya ada dua kemungkinan yang sama baiknya, menang atau syahid!”Pidato perang yang singkat, tapi sangat menggetarkan.Seperti yang kita tahu dalam sejarah, sebelum berangkat Rasulullah berpesan pada pasukan. Jika Zaid bin Haritsah terkena musibah, maka panglima akan diserahkan kepada Ja’far bin Abi Thalib. Dan jika Ja’far bin Abi Thalib juga terkena musibah, maka Abdullah ibnu Rawahah yang menggantikannya.

Dalam perang, tak ada sikap yang bisa disembunyikan.Pemberani, ketakutan, risau dan kegalauan, cerdik dan penuh akal, atau orang-orang yang selalu menghindar.Semua terlihat nyata. Tak ada yang bisa disembunyikan!

Takut, risau dan galau, sungguh adalah perasaan wajar yang muncul karena fitrah.Dalam sebuah periode kehidupan, kita seringkali merasakannya.Meski begitu, bukan pula alasan kita menghindar dari sesuatu yang harus kita taklukkan karena rasa takut, risau dan galau yang lebih menang.Kemudian kita mencari-cari alasan dengan menyebutnya dengan dalih strategi dan langkah pintar.Menunduk untuk menanduk, atau yang lainnya.

Gunung-gunung harus didaki, laut dan samudera harus diseberangi, lembah dan ngarai harus dijelajahi.Tantangan hidup harus ditaklukan bukan dihindari. Dan tujuan besar hidup kita sebagai seorang Muslim adalah menegakkan kebenaran dan menyebarkan kebaikan.[Takut Itu Wajar,Cybersabili.Rabu, 12 Mei 2010 02:31 Herry nurdi].

Yang dimaksud dengan khauf [takut] disini ialah menahan nafsu dan semua anggota badannya dari perbuatan maksiat dengan penuh ketaatan. Takut tanpa menahan dari perbuatan maksiat tidak termasuk dalam pengertian hadits qudsi diatas, Allah berfirman dalam surat An Naziat 79;40-41 sebagaimana awal tulisan ini.

Khauf merupakan cambuk milik Allah untuk melecut hamba-hamba-Nya untuk menuju ilmu dan amal, agar memperoleh tempat layak disisi Allah swt.

Khauf adalah manifestasi dari hati yang sakit dan gundah karena adanya prasangka akan terjadinya sesuatu yang menakutkan pada masa mendatang. Khauf inilah yang  mengendalikan diri setiap keinginan berbuat maksiat dan menambatkannya pada perbuatan taat.

Kecilnya rasa takut kepada Alah akan membawa pada sikap kurang mawas diri dan bangga dengan perbuatan dosa. Namun  bila terlalu dalam rasa khaufnya juga berdampak negatif, yaitu menumbuhkan perasaan rendah diri dan apatis, takut kepada Allah itu terjadinya karena berbagai faktor. Ada kalanya karena adanya ma’rifatullah  dan ma’rifat akan sifat-siat-Nya, dan keyakinan sekiranya Allah menghancurkan alam seisinya. Ada juga yang –disebabkan bahwa diri ini telah banyak berbuat dosa, dan mungkin juga karena karena keduanya, Rasulullah bersabda,”Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling mengenal Allah dan takut kepada-Nya dari pada kebanyakan manusia’ [HR.Bukhari dan Muslim]’

Suatu ketika Imam Sya’bi dipanggil seseorang,”Wahai orang alim”, maka beliau menjawab,”Sesungguhnya orang yang alim hanyalah orang yang takut kepada Allah”, Allah berfirman dalam surat Fathir 35; 28;
“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.

Ada juga ulama yang mengatakan,”Orang takut bukanlah orang yang menangis dan menghapus air matanya, tapi orang yang meninggalka n perkara yang digakuti, supaya tidak mendapat siksa karenanya”

Dzin Nun Al Mishri ketika ditanya,”Kapankah seorang hamba merasa takut ?”, ia menjawab,”Jika ia mendudukkan dirinya sebagai mana orang sedang sakit,  yang berpantangan terhadap makanan yang membahayakan kesehatannya karena takut semakin parah sakitnya,”sedangkan Abul Qasim Al Hukaim berkata,”Orang yang takut terhadap sesuatu, maka ia akanlari menjauhinya, sedangkan takut kepada Allah, justru akan lari mendekat kepada-Nya”.

Konsekwensi dari keimanan kepada kalimat syahadat adalah khauf atau takut kepada Allah dalam arti kata yang luas, bagaimana dia mempesiapkan dirinya dengan amal-amal shaleh yang banyak dan menjauhi segala bentuk maksiat. Hati, lisan dan indranya tidak lepas untuk zikir kepada Allah. Dalam keluargapun dia mempersiapkan generasi-generasi yang siap mengemban risalah islam ini dengan jalan mendidik, membimbing dan  mengarahkan  menjadi generasi yang shaleh dan shalehah, apakah kita tidak takut kepada Allah bila anak keturunan dan kemenakan serta kerabat kita terlibat kepada aktivitas negatif seperti narkoba dan kemaksiatan lainnya.
“ Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar “[An Nisa’ 4;9].

Rasulullah sebagai junjungan kita yang termulia, penghulu sekalian orang yang dahulu dan belakangan, adalah orang yang paling takut kepada Allah. Pernah terjadi suatu peristiwa, ada seorang anak meninggal dunia, lalu ada orang berkata,”Enak sudah nasibnya, sebab seekor burung kecil dari burung-burung syurga yang merdeka,” tiba-tiba beliau menunjukkan kemarahannya dan berkata;

“Siapa yang memberitahukan kepadamu bahwa ia akan menjadi sebagaimana yang kamu kagakan tadi, Demi Allah, saya Rasulullah sendiripun tidak  tahu apa yang akan diperbuat oleh Allah terhadap diriku. Sungguh Allah membuat syurga dan ditetapkanlah siapa-siapa yang akan menjadi penghuninya disitu, tidak ditambah dari jumlah yang ditentukan itu dan tidak pula dikurangi”[HR.Muslim]

Keutamaan Khauf disebutkan dalam hadits Nabi SAW: “Berfirman ALLAH SWT: Demi Keagungan dan Kekuasaan-KU tidak mungkin berkumpul 2 rasa takut dalam diri hambaku dan tidak akan berkumpul 2 rasa aman. Jika ia merasa aman pada-KU di dunia maka akan aku buat takut ia di hari kiamat, dan jika ia takut pada-KU di dunia maka akan aman ia di akhirat.” (HR Ibnu Hibban 2494)

1. Takutnya para Malaikat : “Mereka merasa takut kepada Rabb-nya, dan mereka melakukan apa-apa yang diperintahkan ALLAH.” (QS An-Nahl 16/50).

2. Takutnya Nabi SAW. “Bahwa Nabi SAW jika melihat mendung ataupun angin maka segera berubah pucat wajahnya. Berkata A’isyah ra: “Ya Rasulullah, orang-orang jika melihat mendung dan angin bergembira karena akan datangnya hujan, maka mengapa anda cemas?” Jawab beliau SAW: “Wahai A’isyah, saya tidak dapat lagi merasa aman dari azab, bukankah kaum sebelum kita ada yang diazab dengan angin dan awan mendung, dan ketika mereka melihatnya mereka berkata: Inilah hujan yang akan menyuburkan kita.” (HR Bukhari 6/167 dan Muslim 3/26) Dan dalam hadits lain disebutkan bahwa Nabi SAW jika sedang shalat terdengar didadanya suara desis seperti air mendidih dalam tungku, karena tangisnya [2].

3. Khauf-nya shahabat ra. Abubakar ra sering berkata: “Seandainya saya hanyalah buah pohon yang dimakan.” Umar ra sering berkata: “Seandainya aku tidak pernah diciptakan, seandainya ibuku tidak melahirkanku.” Abu ‘Ubaidah ibnal Jarraah ra berkata: “Seandainya aku seekor kambing yang disembelih keluargaku lalu mereka memakan habis dagingku.” Berkata Imraan bin Hushain ra: “Seandainya  aku menjadi debu yang tertiup angin kencang.”

4. Khauf-nya Tabi’iin. Ali bin Husein jika berwudhu untuk shalat pucat wajahnya, maka ditanyakan orang mengapa demikian? Jawabnya: “Tahukah kalian kepada siapa saya akan menghadap?” Berkata Ibrahiim bin ‘Iisa as Syukriy: “Datang padaku seorang lelaki dari Bahrain ke dalam mesjid saat orang-orang sudah pergi, lalu kami bercerita tentang akhirat dan dzikrul maut, tiba-tiba orang itu demikian takutnya sampai menghembuskan nafas terakhir saat itu juga.” Berkata Misma’: “Saya menyaksikan sendiri mau’izhoh Abdul Waahid bin Zaid disuatu majlis, maka wafat 40 orang saat itu juga dimajlis itu setelah mendengar ceramahnya.” Berkata Yaziid bin Mursyid: “Demi ALLAH seandainya Rabb-ku menyatakan akan memenjarakanku dalam sebuah ruangan selama-lamanya maka sudah pasti aku akan menangis selamanya, maka bagaimanakah jika ia mengancamku akan memenjarakanku didalam api?!”

Demikianlah Khauf para Malaikat, Nabi-nabi, ulama dan auliya’, maka kita lebih pantas untuk takut dibanding mereka.Mereka takut bukan karena dosa, melainkan karena kesucian hati dan kesempurnaan ma’rifah, sementara kita telah dikalahkan oleh kekerasan hati dan kebodohan. Hati yang bersih akan bergetar karena sentuhan kecil, sementara hati yang kotor tak berguna baginya nasihat dan ancaman.[Abi AbduLLAAH,Al-Khauf,Al-Ikhwan.net | 1 March 2006 | 1 Safar 1427 H].

Orang-orang yang takut kepada Allah ialah golongan yang selamat dari keinginan untuk melakukan aksi jahat dan berbuat maksiat.  Alquran sudah menegaskan, bahwa orang yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya tidak lain adalah orang-orang yang berilmu. (QSFathir:28)

Diriwayatkan dari Abu Hayyan At-Taimy, bahwa dia berkata, "Orang-orang yang berilmu terdiri dari tiga golongan: Pertama, orang yang mengetahui Allah namun tidak mengenal perintah Allah. Kedua, orang yang mengetahui perintah Allah namun tidak mengenal Allah.Ketiga, orang yang mengetahui Allah dan juga mengetahui perintah Allah."  (Kitabul Iman, Imam Ibn Taimiyah).

Sedangkan Imam Ibn Taimiyah menegaskan, "Selagi seseorang melakukan sesuatu, sementara dia juga mengetahui bahwa sesuatu itu mendatangkan mudharat kepadanya, maka orang seperti ini layaknya orang yang tidak berakal.Sebab, ketakutan kepada Allah mengharuskan ilmu tentang Allah, maka ilmu tentang Allah juga mengharuskan ketakutan kepadaNya.Dan takut kepada Allah harus melahirkan ketaatan kepadaNya.Orang-orang yang takut kepada Allah adalah orang-orang yang mengerjakan perintah-perintahNya serta menghindari segala bentuk larangan-Nya."[Imron Baehaqi Lc,Hakikat Takut kepada Allah,republika.co.id Sabtu, 28 Mei 2011 11:53 WIB].

Khauf yaitu rasa takut juga seiring dengan raja’ yaitu rasa harap yang tinggi, Raja’ secara bahasa berarti perasaan gembira menanti atau mengharap apa yang disuka. Dalam istilah syariat, Raja' adalah perasaan gembira akan karunia Allah swt dan berharap mendapatkan peberian-Nya, disertai dengan sikap percaya akan kebaikan Allah swt. Dengan sikap raja' ini hati kan terbimbing melangkah sampai negeri yang diidam-idamkan yaitu syurga Allah swt. Kedua rasa ini adalah obat bagi jiwa manusia, obat yang bisa membugarkan dirinya dalam melakukan perjalanan menuju harapannya, harapan yang digantungkan kepada Allah swt, Penciptanya yang menjanjikan syurga dan memberi ancaman neraka.  Orang yang didominasi oleh rasa putus asa dan kehilangan semangat, sehingga ia meninggalkan ibadah dan menganggap dirinya tidak berguna, sebagaimana kadang kita mendengar ungkapan, ”Ah.. sudah kepalang basah, nyebur saja sekalian”, atau ungkapan lain,”Aku ini terlalu kotor, tak layak bersama mereka orang-orang shalih itu”,atau ”Aku sudah terlalu banyak berdosa, barangkali Tuhan pun takkan berkenan mengampuni dosa-dosaku yang terlalu banyak ini”, orang seperti ini memerlukan terapi ’Raja”.  

Memang syetan akan terus berupaya membuat seseorang yang pernah bersalah untuk terkungkung dalam kesalahannya dan tidak keluar dari kubangan dosa, baik dengan membuat pelakunya semakin menikmati dosa tersebut atau membuatnya jadi merasa tidak pantas dan tidak layak menjadi baik.  Kepada mereka orang-orang yang berputus asa dari harapan ini Allah swt berfirman;
 “Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”  (QS. Az-Zumar/39 : 53) 
Sedangkan orang yang didominasi perasaan terlalu percaya diri bahwa dengan sifat Rahman dan Rahim-Nya Allah swt pasti akan mengampuni dirinya dan dengan amalan yang selama ini dilakukanya pasti ia meraih syurga. Orang yang berperasaan seperti ini akan mudah melakukan dosa karena dia merasa pasti diampuni, mudah melakukan dosa kecil dan mengulangnya karena dia menyepelekannya, pribadiseperti ini terancam meninggal dalam su’ul khatimah-na`udzaubillahi min dzalik- maka yang seperti ini membutuhkan terapi ‘Khauf.  

Dalam hal ini Ibnu Qudamah berkata,”Ketauhilah ‘Khauf’ itu adalah cemeti Allah swt yang digunakan untuk membimbing hamba-hamba-Nya agar mereka senantiasa mencari ilmu dan beramal. Karena dengan ilmu dan amal, setiap hamba dapat mendekatkan diri kepada Allah Azza wa jalla. Dan rasa ’Khauf’ adalah pelita yang digunakan untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk.” [Saat Mubarak, Lc,Mengharmonikan antara Khauf dan Raja’ www.nuansaislam,com].

Bagaimanakah orang-orang mukmin itu tidak akan takut dan kecut hatinya, jikalah sudah meneiti bagaimana hal ihwalnya Rasulullah, padahal beliau adalah orang yang bertaqwa diantara seluruh ummat manusia, sekalipun demikian masih juga Rasulullah bersabda,”Saya dibuat beruban oleh surat Hud dan saudara-saudaranya [yakni surat Al Waqiah dan lain-lain].

Para ulama berkata,”Barangkali yang menyebabkan Rasulullah demikian itu karenadalam surat Hud itu ayat-ayat yang menunjukkan berbagai kebinasaan atau kejauhan dari Allah, sehingga terbayang azab petaka yang akan diterima dari-Nya.

Rasa takut ini pulalah yang menyelamatkan pemuda dari bujukan dan rayuan wanita yang mengajaknya untuk berzina tapi dia mampu berkata,”Inni Akhafullah” sesungguhnya aku takut kepada Allah, sehingga Rasul mengabarkan bahwa pemuda ini akandilindungi kelak di padang masyar sementara tidak ada perlindungan selain perlindungan dari Allah. wallahu a’lam [Cubadak Solok, 11 Syawal 1432.H/ 09 September 2011.M].




Tidak ada komentar:

Posting Komentar