Islam adalah
agama yang memberikan kemerdekaan kepada siapapun, tidak memaksa seseorang
untuk masuk ke dalam islam karena islam merupakan agama fithrah sesuai dengan
hati nurani semua manusia, fikiran dan perasaan manusia juga bebas untuk
menentukan apa pilihannya tentang agama yang dijadikan sebagai pegangan hidup
di dunia hingga akherat, dalam surat Al Baqarah 2;256, Allah menerangkan
tentang jalan yang benar dan jalan yang sesat itu sudah ada, tinggal lagi
menusia untuk menjatuhkan pilihannya;
“Tidak
ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang
benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada
Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada
buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi
Maha mengetahui.”.
Kata Islam punya dua makna. Pertama,
nash (teks) wahyu yang menjelaskan din (agama) Allah. Kedua, Islam merujuk pada
amal manusia, yaitu keimanan dan ketundukan manusia kepada nash (teks) wahyu
yang berisi ajaran din (agama) Allah.
Berdasarkan makna pertama,
Islam yang dibawa satu rasul berbeda dengan yang dibawa rasul lainnya, dalam
hal keluasan dan keuniversalannya. Meskipun demikian dalam permasalah
fundamental dan prinsip tetap sama. Islam yang dibawa Nabi Musa lebih luas
dibandingkan yang dibawa Nabi Nuh. Karena itu, tak heran jika Al-Qur’an pun
menyebut-nyebut tentang Taurat. Misalnya di ayat 145 surat Al-A’raf. Dan
telah Kami tuliskan untuk Musa di Luh-luh (Taurat) tentang segala sesuatu
sebagai peringatan dan penjelasan bagi segala sesuatunya.…
Islam yang dibawa Nabi
Muhammad lebih luas lagi daripada yang dibawa oleh nabi-nabi sebelumnya.
Apalagi nabi-nabi sebelumnya diutus hanya untuk kaumnya sendiri. Nabi Muhammad
diutus untuk seluruh umat manusia. Oleh karena itu, Islam yang dibawanya lebih
luas dan menyeluruh. Tak heran jika Al-Qur’an bisa menjelaskan dan menunjukkan
tentang segala sesuatu kepada manusia. Dan Kami turunkan
kepadamu Al-Kitab sebagai penjelas segala sesuatu. (An-Nahl: 89)
Dengan kesempurnaan risalah
Nabi Muhammad saw., sempurnalah struktur kenabian dan risalah samawiyah
(langit). Kita yang hidup setelah Nabi Muhammad diutus, telah diberi petunjuk
oleh Allah tentang semua tradisi para nabi dan rasul yang sebelumnya. Allah
swt. menyatakan hal ini di Al-Qur’an. Mereka orang-orang yang
telah diberikan petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. (Al-An’am:
90). Dan kamu diberi petunjuk tentang sunah-sunah orang-orang yang
sebelum kamu. (An-Nisa: 20)
Sedangkan tentang telah
sempurnanya risalah agama-Nya, Allah menyatakan dalam surat Al-Maidah ayat 3. Pada
Hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu, dan telah Aku sempurnakan
nikmat-Ku, dan Aku ridha Islam sebagai agama bagimu sekalian….
Rasulullah saw. menjelaskan
bahwa risalah yang dibawanya adalah satu kesatuan dengan risalah yang dibawa
oleh nabi-nabi sebelumnya. “Perumpamaanku dan perumpamaan nabi-nabi sebelumku
ibarat orang yang membangun sebuah rumah. Ia memperindah dan mempercantik rumah
itu, kecuali letak batu bata pada salah satu sisi bangunannya. Kemudian manusia
mengelilingi dan mengagumi rumah itu, lalu mengatakan: ‘Alangkah indah jika
batu ini dipasang!’ Aku adalah batu bata tersebut dan aku adalah penutup para
nabi,” begitu sabda Rasulullah saw. (Bukhari dan Muslim)
Sempurna dan lengkapnya
risalah agama langit yang Allah proklamasikan pada haji wada’ dengan ayat 3
surat Al-Maidah –yang juga sebagai wahyu terakhir turun–, mengharuskan seluruh
manusia tunduk pada Islam. Semua syariat yang terdahulu dengan sendirinya mansukh
(terhapus). Dan, tidak akan ada lagi syariat baru sesudah risalah yang dibawa
Nabi Muhammad. Risalah dan kenabian telah ditutup dengan diutusnya Nabi Muhammad.
….tetapi ia (Nabi Muhammad) sebagai utusan Alah dan penutup
nabi-nabi… (Al-Ahzab: 40). Katakanlah: “Hai
manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua.” (Al-A’raf:
158). Dan Kami tidak mengutus kamu kecuali untuk seluruh manusia
sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan. (Saba: 28). Dan
tidaklah Kami mengutusmu, kecuali untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. (Al-Anbiya’:
107).
Karenanya, Dan
barangsiapa yang mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima (agama
itu) daripadanya. (Ali Imran: 85). Sebab, sesungguhnya
agama yang diridhai Allah adalah Islam. (Ali Imran: 19).
Maka, siapa saja yang tidak
mengikuti ajaran Nabi Muhammad, ia akan celaka dan menjadi orang yang sesat.
Kata Rasulullah saw., “Demi Dzat yang diriku dalam genggaman-Nya, tidak seorang
pun dari umat ini, baik Yahudi atau Nasrani, mendengar (berita kerasulan)-ku,
kemudian ia tidak beriman kepada apa yang aku bawa, kecuali ia sebagai ahli
neraka.” (Muslim).[Mochamad Bugi,Islam
Agama Sempurna,eramuslim.com.2/4/2007 | 15 Rabiul Awwal 1428 H].
Seorang Arab Baduy
datang menemui Rasulullah Saw dengan maksud akan masuk Islam, yaitu agama baru
yang dia ketahui dari masyarakat Quraisy yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Pemuda
itu hidup bergelimang jahiliyah dengan berbagai aktivitas maksit yang ukurannya
hal demikian wajar dilakukan, dia berkata, ”Ya Muhammad saya mau masuk Islam”.
Rasul menyodorkan
persyaratan, ”Ucapkanlah kalimat syahadat”, dia protes, ”Mengucapkan dua
kalimat syahadat bagi saya sangatlah mudah, saya ingin masuk Islam, tapi untuk
saya boleh berjudi, berzina, mabuk-mabukan, mencuri dan kegiatan lainnya yang
sudah jadi kebiasaan kami disini...”.
Mendengar itu para sahabat
geram, ”Ya Rasulullah, izinkan aku memukul pemuda ini” kata Umar bin Khattab,
tapi Rasul bisa meredam kemarahan para sahabatnya. Sambil mendekati pemuda itu,
kembali beliau bertanya, ”Apa yang kamu maksud wahai anak muda?”. Sang pemuda
menjawab, ”Ya itu tadi, aku mau masuk Islam tapi kebiasaan buruk saya tidak
terhalang untuk dilakukan seperti erjudi, mencuri, berzina dan lainnya”.
Dengan ketulusan hati
Rasulullah memeluk pemuda itu sambil
bertanya, ”Apakah kamu punya ibu, anak perempuan, saudara perempuan dan
punyakah engkau seorang isteri?”. dia mengangguk berarti punya, Rasul bertanya,
”Wahai pemuda, Bagaimana kalau ibumu, anak perempuanmu, isterimu, dan saudara
perempuanmu dizinahi oleh orang lain sebagaimana kamu berazina dengan orang
lain”.
Dengan muka merah dan rasa
malu mendalam, dia tersinggung dan tidak menyangka kalau ada pertanyaan
demikian. Geram sekali dia, sambil mengepalkan tinjunya dia berteriak, ”Tidak
ya Muhammad, aku mau masuk Islam tanpa syarat itu”, lalu dia ucapkan kalimat syahadat,
”Asyhadu anla Ilaha Illallah waashadu anna Muhammad Rasulullah”.
Begitu kuatnya keinginan pemuda itu untuk masuk islam secara
total tanpa adanya keinginan lain, dia masuk islam tanpa syarat karena syarat
itu akan merusak keislamannya, masuk kedalam islam secara kaffah itu tidaklah
mudah, dia mengalami proses yang panjang dan pemahaman agama yang menyeluruh.
Allah SWT berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya”
(QS. Al-Baqarah: 208).
Terkait dengan “Islam Kaffah”
terkadang memunculkan isykal (problem pemahaman)
pada sebagian orang, hal ini dikarenakan agama Islam memiliki 5 hukum, yaitu:
wajib, sunnat, mubah, makruh dan haram, lalu bagaimana implementasi dari ke-kaffah-an
ke-lima hukum ini?
Maksud ayat secara global
adalah orang-orang beriman diperintahkan oleh Allah SWT agar masuk ke dalam
Islam secara keseluruhan atau totally, lalu:
1. Jika ajaran Islam berhukum wajib
‘ain, maka maksudnya adalah setiap muslim (‘ain)
berkewajiban untuk melaksanakannya.
2. Jika ajaran Islam berhukum wajib
kifa-i, maka maksudnya adalah setiap muslim berkewajiban untuk
meyakininya sebagai kewajiban dan melaksanakannya jika status wajib
kifa-i itu berkenaan dengan dirinya, atau, melaksanakannya sebagai
bentuk “sukarela”-nya untuk memikul tanggung jawab wajib kifa-i
meskipun – sebenarnya – tidak berkenaan dengan dirinya. Misalnya, seseorang
yang mempunyai takhashshush (spesialisasi)
seorang dokter, maka ia berkewajiban secara ‘aini untuk
menjalankan perannya sebagai dokter, meskipun mempelajari kedokteran sendiri
hukumnya fardhu kifayah, namun bisa saja dengan “sukarela” ia
menambahkan spesialisasinya dengan mempelajari ilmu fiqih, walaupun untuk ilmu
fiqih sudah ada yang mengisinya.
3. Jika ajaran Islam berhukum sunnat, maka maksudnya
adalah setiap muslim meyakini hukum sunnat-nya,
dan berkeinginan serta senang untuk melaksanakannya.
4. Jika ajaran Islam berhukum makruh, maka
maksudnya adalah setiap muslim meyakini ke-makruh-annya
dan berkeinginan serta merasa senang untuk meninggalkannya, juga hatinya tidak
menyukainya.
5. Jika ajaran Islam berhukum haram, maka
maksudnya adalah setiap muslim meyakini ke-haram-annya
dan menghalangi dirinya agar tidak sampai melakukannya. Perlu diketahui bahwa
secara bahasa haram bermakna menghalangi.[Musyafa Ahmad Rahim, Lc Islam
Kaffah,dakwatuna.com,28/7/2011 | 27 Sya'ban 1432 H].
Setelah
kita mengetahui bahwa kita ini muslim, maka perlu untuk meningkatkan kualitas
kemusliman kita menjadi mukmin, kemudian jadi muhsin, setelah mengalami proses
pemahaman dan pendidikan yang kontinyu kualitas muhsin sampai kepada mukhlis, yang akhirnya jadi muttaqin artinya orang
yang bertaqwa. Makna kaffah selain maknanya mono loyalitas hanya kepada Islam
tapi juga artinya totalitas dirinya kedalam islam, selain itu orang menyebutnya
mungkin dengan kalimat fanatic ataupun militant, bahkan tidak jarang pula
orang-orang yang shaleh dijuluki dengan ekstrimis, fundamentalis dan teroris,
bagi kita julukan itu tidak masalah yang penting komitmen kita kepada islam
tidak berubah, sebagaimana yang diungkapkan oleh Ustadz Yusuf Al Qardhawi,
seandainya mereka menyebutku sebagai teroris maka jadikanlah ya Allah aku ini
sebagai teroris.
Kita dapat melihatnya dalam kisah Nabi Musa
as. Kita melihat bagaimana kesabaran, keuletan, ketangguhan dan kedekatan
hubungannya dengan Allah membuat Nabi Musa as berhasil membawa umatnya terbebas
dari belenggu tirani dan kejahatan Fir'aun.
Berkat do'a Nabi Musa as dan
pertolongan Allah melalui cara penyelamatan yang spektakuler, selamatlah Nabi
Musa dan para pengikutnya menyeberangi Laut Merah yang dengan izin Allah
terbelah menyerupai jalan dan tenggelamlah Fir'aun beserta bala tentaranya.
Namun apa yang terjadi?
Sesampainya di seberang dan melihat suatu kaum yang tengah menyembah berhala,
mereka malah meminta dibuatkan berhala yang serupa untuk disembah. Padahal
sewajarnya mereka yang telah lama menderita di bawah kezaliman Fir'aun dan
kemudian diselamatkan Allah, tentunya merasa sangat bersyukur kepada Allah dan
berusaha mengabdi kepada-Nya dengan sebaik-baiknya. Kurangnya iman, pemahaman
dan kesungguh-sungguhan membuat mereka terjerumus kepada kejahiliyahan.
Sekali lagi marilah kita
menengok kekayaan sejarah dan mencoba bercermin pada sejarah. Kembali kita akan
menarik ibrah dari kisah Nabi Musa as dan kaumnya.
Dalam QS. Al-Maidah (5) ayat
20-26 : "Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai
kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu, ketika Dia mengangkat nabi-nabi di
antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka dan diberikan-Nya kepadamu
apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun di antara umat-umat yang
lain".
"Hai, kaumku, masuklah ke
tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu
lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang
yang merugi".
"Mereka berkata:
"Hai Musa, sesungguhnya dalam negri itu ada orang-orang yang gagah
perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka
keluar dari negri itu. Jika mereka keluar dari negri itu, pasti kami akan
memasukinya".
"Berkatalah dua orang di
antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat
atas keduanya: "Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu,
maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah
hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman".
"Mereka berkata:
"Hai Musa kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya selagi
mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu dan
berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini
saja".
"Berkata Musa: "Ya
Rabbku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu
pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasiq itu".
"Allah berfirman:
"(Jika demikian), maka sesungguhnya negri itu diharamkan atas mereka
selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan
di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib)
orang-orang yang fasiq itu".
Rangkaian ayat-ayat tersebut memberikan pelajaran yang mahal dan sangat berharga bagi kita, yakni bahwa manusia adalah anak lingkungannya. Ia juga makhluk kebiasaan yang sangat terpengaruh oleh lingkungannya dan perubahan besar baru akan terjadi jika mereka mau berusaha seperti tertera dalam QS. Ar-Ra'du (13):11, "Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, sampai mereka berusaha merubahnya sendiri".
Nabi Musa as adalah pemimpin
yang dipilihkan Allah untuk mereka, seharusnyalah mereka tsiqqah pada Nabi
Musa. Apalagi telah terbukti ketika mereka berputus asa dari pengejaran dan
pengepungan Fir'aun beserta bala tentaranya yang terkenal ganas, Allah SWT berkenan
mengijabahi do'a dan keyakinan Nabi Musa as sehingga menjawab segala kecemasan,
keraguan dan kegalauan mereka seperti tercantum dalam QS. Asy-Syu'ara
(26):61-62, "Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah
pengikut-pengikut Musa: "Sesungguhnya kita benar-benar akan
tersusul". Musa menjawab: "Sekali-kali tidak akan tersusul;
sesungguhnya Rabbku bersamaku, kelak Dia pasti akan memberi petunjuk
kepadaku".
Semestinya kaum Nabi Musa
melihat dan mau menarik ibrah (pelajaran) bahwa apa-apa yang diridhai Allah
pasti akan dimudahkan oleh Allah dan mendapatkan keberhasilan karena jaminan
kesuksesan yang diberikan Allah pada orang-orang beriman. Allah pasti akan
bersama al-haq dan para pendukung kebenaran. Namun kaum Nabi Musa hanya melihat
laut, musuh dan kesulitan-kesulitan tanpa adanya tekad untuk mengatasi semua
itu sambil di sisi lain bermimpi tentang kesuksesan. Hal itu sungguh merupakan
opium, candu yang berbahaya. Mereka menginginkan hasil tanpa kerja keras dan
kesungguh-sungguhan. Mereka adalah "qaumun jabbarun" yang rendah,
santai dan materialistik. Seharusnya mereka melihat bagaimana kesudahan nasib
Fir'aun yang dikaramkan Allah di laut Merah.
Seandainya mereka yakin akan
pertolongan Allah dan yakin akan dimenangkan Allah, mereka tentu tsiqqah pada
kepemimpinan Nabi Musa dan yakin pula bahwa mereka dijamin Allah akan memasuki
Palestina dengan selamat.
Bukankah Allah SWT telah
berfirman dalam QS. 47:7,"In tanshurullah yanshurkum wayutsabbit
bihil aqdaam"(Jika engkau menolong Allah, Allah akan menolongmu dan
meneguhkan pendirianmu).
Hendaknya jangan sampai kita
seperti Bani Israil yang bukannya tsiqqah dan taat kepada Nabi-Nya, mereka
dengan segala kedegilannya malah menyuruh Nabi Musa as untuk berjuang sendiri.
"Pergilah engkau dengan Tuhanmu". Hal itu sungguh merupakan
kerendahan akhlak dan militansi, sehingga Allah mengharamkan bagi mereka untuk
memasuki negri itu. Maka selama 40 tahun mereka berputar-putar tanpa pernah
bisa memasuki negri itu.[(Alm) Ust. Rahmat Abdullah, Membangun Dan Membina
Militansi Kita,pks.or.id.Sunday, 01 Jun 2008 09:42 WIB].
Begitu sulitnya seorang
pemimpin ketika membawa ummatnya yang tidak taat dalam agama, jauh dari
militansi seorang penganut agama, tidak fanatik terhadap agama yang dipeluknya
sehingga ingin hidup dalam agama hanya sebatas menerima kebaikan-kebaikan saja,
takut dan enggan menerima resiko hidup berupa ujian dan fitnah. Kaffah dapat
pula diartikan sebagai muslim sejati, maksudnya kehadirannya sebagai muslim
bukan sekedar muslim tapi betul-betul muslim dengan kualitas mukmin yang tidak
mungkin diragukan kemuslimannya.
Orang beriman dalam Alquran
disebut mukmin, jamaknya mukminin. Mukmin ialah orang yang benar-benar beriman
kepada Allah SWT. Mematuhi segala perintah dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Itulah
mukmin sejati. Mukmin sejati kelak akan mendapatkan surga dan keridaan Allah
SWT.
Tentu kita ingin menjadi
mukmin sejati yang nantinya mendapat rida Allah SWT dan kekal dalam
kebahagiaan. "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu)
orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri
dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang
menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya." (QS
al-Mu'minun [23]: 1-5).
Ayat tersebut menghendaki kita untuk khusyuk
dalam shalat, menjauhi perkataan dan perbuatan yang sia-sia, menunaikan zakat
dan tidak mendekati zina. Pertanyaannya kemudian, bagaimana caranya kita bisa
khusyuk dalam shalat? Mengapa harus menjauhi hal-hal yang tak berguna, wajib
zakat, dan dilarang zina?
Dari sini jelas bahwa kalau kita ingin bahagia selamanya baik di dunia maupun di akhirat kita mesti menjadi mukmin sejati. Sebagaimana yang terkandung dalam surah al-Mu’minun.Tetapi hari ini, bagi sebagian umat Islam, iman tidak lagi penting. Tidak shalat sudah biasa, demikian juga dusta dan kesiasiaan. Kikir menjadi budaya dan zina jadi gaya hidup.[Dr Abdul Mannan,Ciri Mukmin Sejati,republika.co.id.Senin, 13 Juni 2011 08:11 WIB].
Orang islam dituntut untuk
masuk ke dalam islam secara utuh, total dan keseluruhan sehingga seluruh
potensi hidupnya hanya untuk islam, bila tidak mau masuk islam secara total
maka pasti mengikuti langkah-langkah selain islam sehingga wajar bila Ustadz
Sayid Qutb menyatakan kepada kita,”masuklah islam keseluruhan atau tinggalkan
islam keseluruhan” karena kita tidak boleh setengah-setelah dalam beragama ini,
lebih tegasnya adalah, masuk islam dan tinggalkan yang lain, wallahu a’lam
[Cubadak Solok, 08 Syawal 1432.H/ 06 September 2011.M].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar