Secara umum, qalbun salim artinya
hati yang selamat atau hati yang bersih yang dimiliki oleh orang-orang yang
bersih aqidahnya, selamat pemikirannya, shalih ibadahnya dan baik akhlaknya.Qalbun
salim adalah hatinya orang-orang beriman, yang imannya terjaga hingga mencapai
derajat taqwa.
Suatu hari Baginda Rasulullah SAW
melewati seorang sahabat yang sedang membaca Alquran. Sampailah ia pada ayat
yang artinya: Jika langit terbelah dan memerah seperti kulit merah (TQS
ar-Rahman [55]: 37). Seketika tubuhnya gemetar dan ia menangis seraya bergumam,
“Duh, apa yang bakal terjadi dengan diriku sekiranya langit terbelah (terjadi
kiamat)? Sungguh malang nasibku!”Mendengar itu, Nabi SAW bersabda, “Tangisanmu
menyebabkan para malaikat pun turut menangis.”
Dikisahkan pula, Abdullah bin
Rawahah ra suatu ketika tampak sedang menangis dengan sedihnya. Melihat itu,
istrinya pun turut menangis hingga Abdullah bertanya, “Mengapa engkau
menangis?”Istrinya menjawab, “Melihatmu menangis, itulah yang menyebabkan aku
menangis.” Abdullah bin Rawahah ra lalu bertutur, “Saat aku membayangkan bahwa
aku bakal menyeberangi shirâth, aku tidak tahu apakah aku akan selamat atau
tidak. Itulah yang membuatku menangis.” (al-Kandahlawi, Fadhâ'il A'mâl, hlm.
565.) [Menajamkan Mata Hati, Media Ummat; Tuesday, 12 January 2010 15:44].
Syekh Atha' as-Silmi dikenal
sebagai guru mengaji yang tulus. Selain itu, ia juga dikenal sebagai seorang
yang pandai menenun pakaian. Sekali dalam seminggu, ia membawa hasil tenunannya
ke pasar untuk dijual. Syekh Atha' as-Silmi sangat yakin bahwa tenunannya
sangat apik dan tak ada cacat.
Di tengah hiruk-pikuk keramaian
pasar, kalimat tasbih dan tahmid mengiringi hembusan-hembusan
napasnya.Tiba-tiba, ada seseorang yang mendekat dan melihat-lihat pakaian
tenunannya.Orang tersebut adalah seorang penjahit.Kemudian, orang itu berkata,
"Baju ini cukup bagus.Namun sayang, ada cacatnya, ini, ini, dan ini."
Dengan tanpa kata, Syekh Atha'
menyahut pakaiannya dari tangan orang itu.Kemudian, dia duduk dan menangis
terisak-isak.Orang itu bingung melihat Syekh Atha' menangis. Namun, penyesalan
tampak di wajahnya atas apa yang diucapkan. Dia meminta maaf bila ucapan tadi
melukai hati.Dan, dia mau membeli tenunan itu berapa pun harganya.
Kemudian, Syekh Atha' berkata,
"Sebab yang menyebabkan aku menangis bukan seperti yang kamu kira.Aku
telah bersungguh-sungguh menenun baju ini.Tenunan baju ini tidak seperti
baju-baju lain yang telah aku buat.Aku membuatnya lebih halus, lalu kemudian
aku tambahkan keindahan di dalamnya.Setelah itu, aku periksa dengan amat teliti
untuk memastikan tidak ada cacat di dalamnya.
Tapi, ketika hasil tenunanku ini
diperiksa oleh manusia, terlihat ada cacat di bagian yang mana aku tidak
menyadarinya.Lalu, bagaimana nanti dengan amal-amal perbuatan kita tatkala
diperiksa oleh Allah, Zat yang Maha Tahu di Hari Kiamat nanti?Berapa banyak
cacat dan dosa yang akan tampak dari amal ibadah kita, dan itu yang tidak kita
sadari!"
Kisah di atas menggambarkan bahwa
orang yang bertakwa, sangat sensitif dalam keimanan.Apa yang terjadi di
hadapannya langsung mengetuk hatinya untuk ingat terhadap kebesaran dan
kekuasaan Allah. Mereka sangat takut akan segala kekurangan ibadah kepada
Allah. Mereka sangat sedih bila amal ibadah yang dikerjakannya selama ini
terdapat kekurangan dan ketidaksempurnaan.Hal itu, dapat menyebabkan
berkurangnya pahala atau bahkan tertolaknya amalan yang dikerjakan.Jika itu
terjadi, niscaya sia-sialah amal ibadahnya.
Imam Ibnu Jauzi menuturkan,
"Ketakwaan dan keimanan akan mempertajam mata hati pelakunya.Apa pun
peristiwa yang terjadi di sekitar, ia akan dapat mengambil hikmah dan pelajaran
darinya. Panasnya musim kemarau mengingatkan pada api neraka, gelapnya malam
mengingatkan gelap gulitanya alam kubur, hawa sejuk dan indahnya musim semi
mengilhami untuk mencari rezeki yang halal."[Muhtadi
KadiMata
Hati yang Tajam,
Republika.co.id.Rabu, 29 September 2010, 09:20 WIB].
Orang yang hatinya bersih
terhindar dari penyakit yang dapat merusak kepribadiannya, penyakit fisik
seperti kangker, tumor, panu dan kudis hanya dirasakan di dunia saja, sedangkan
penyakit hati seperti iri, dengki, hasad dan hasud akan berakibat hingga di
akherat.
Dengki atau merasa iri hati pada
orang lain merupakan salah satu penyakit hati yang sangat berbahaya,
sampai-sampai dalam sebuah hadis Nabi SAW ditegaskan bahwa penyakit ini dapat
menghapuskan amal-amal baik kita laksana api yang memakan kayu bakar. (HR. Abu
Dawud dan Ibnu Majah).
Dalam hidup ini, kita dituntut
bersyukur atas segala limpahan kurnia yang telah Allah SWT anugerahkan kepada
kita.Perintah itu termaktub dalam firman-Nya, "Dan (ingatlah juga),
tatkala Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan
menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka
sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'." (QS Ibrahim [14] : 7).
Berlandaskan kalam Ilahi tersebut, sudah
sepatutnya kita mensyukuri apa pun yang kita miliki, dengan meminjam istilah
motivator kenamaan Mario Teguh, mensyukuri dan bahagia dengan apa adanya kita.
Bahagia dan kesedihan (kesulitan) dalam hidup ini harus kita terima dan kita
jalani dengan senang hati.Rasulullah mengajarkan dalam masalah dunia kita harus
melihat ke bawah, karena sangat dimungkinkan masih banyak saudara-saudara kita
yang potret kehidupannya masih terpuruk di bawah kita.Sedangkan untuk masalah
akhirat, kita diperintahkan untuk melihat ke atas demi merangsang kita dalam
melakukan amal ibadah kepada Allah SWT. Kita harus mengukur kualitas ibadah
kita dengan orang lain, agar semakin mendekatkan diri pada-Nya.
Penyakit iri adalah penyakit
rohani yang harus dibuang jauh-jauh dalam diri kita.Penyakit rohani ini lebih
berbahaya dari penyakit jasmani.Oleh karena itu, sebelum "virus hati"
ini semakin parah dalam menggerogoti hati kita, maka sedini mungkin kita harus
memiliki "anti virus" yang ampuh untuk menghilangkannya.
Pertama, bersyukur kepada Allah
SWT atas nikmat yang telah diberi-Nya, seperti yang telah dipaparkan di
atas.Kedua, selalu berzikir kepada Sang Khalik. Zikir bisa dilakukan dalam
beberapa keadaan, baik ramai maupun sepi.[Nasrullah Nurdin,Penyakit
Hati,Republika.co.id.Rabu, 13 April 2011 12:48 WIB].
Ada dua dampak yang akan dialami
oleh orang-orang yang memiliki penyakit hati. Pertama, orang yang memiliki
penyakit hati, ketika menguasai ilmu, maka ilmunya tidak bermanfaat dan tidak
menjadikannya lebih dekat kepada Allah SWT.Kedua, tidak bisa fokus atau khusyuk
dalam beraktivitas.Dalam menjalankan ibadah, misalnya, tidak bisa
mengkhusyukkan hatinya sehingga tidak bisa menikmati keajaiban amalan ibadah
yang dilakukannya.
Ketika hati sudah sakit dan
rusak, maka sangat sulit bagi seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah
SWT.Sang Khalik menciptakan hati pada diri manusia sebagai tempat bersemayam
diri-Nya."Langit dan bumi tidak dapat meliputi-Ku, hanya hati yang dapat
meliputi-Ku,'' demikian bunyi salah satu Hadis Qudsi.
Hadis itu menunjukkan betapa hati
memiliki fungsi yang penting untuk mengenal, mencintai, dan menemui Allah
SWT. Hati yang berpenyakit ditandai dengan tertutupnya mata batin dari
penglihatan-penglihatan ruhaniah. Manusia tak akan menemukan kepuasan dan kebahagiaan
puncak, jika hatinya tertutup berbagai penyakit hati.
Hanya dengan selalu bertobat,
berzikir, dan mengerjakan berbagai amalan ibadah dan aktivitas yang sesuai
syariat-Nya, hati ini akan bersih. Sesungguhnya hati ini adalah taman
yang harus senantiasa dibersihkan dan ditata.[Encep
Dulwahab, Menjauhi
Penyakit Hati,Republika.co.id.Selasa, 19 Oktober 2010, 09:32 WIB].
Selayaknya agar hati kita bersih dari segala penyakit, suci dari
dosa dan kesalahan maka perlakukanlah hati itu sesuai dengan karakternya, dia
ibarat kaca atau cermin, bila kaca bersih maka mudah sekali digunakan untuk
bercermin, Nampak wajah kita dengan segala ujudnya yang asli, tapi bila cermin
kotor maka keburukan anak Nampak padanya. Menurut Ustadz Ahmad Yani dalam
khutbah Idul Fithrinya menyatakan bahwa kita harus memperlakukan hati itu
dengan baik.
Paling tidak lima hal yang harus kita perlakukan
terhadap hati kita masing-masing.
Pertama,
hati harus dibuka dan jangan sampai kita tutup. Yang menutup hati biasanya
orang-orang kafir sehingga peringatan dan petunjuk tidak bisa masuk ke dalam
hatinya, Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya
orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu
beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan
pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup.Dan bagi mereka siksa yang
amat berat. (QS Al-Baqarah [2]:6-7)
Itu sebabnya, ketika Umar bin Khaththab
menutup hatinya dari petunjuk ia menjadi kafir bahkan sangat membenci
Rasulullah SAW hingga bermaksud membunuhnya, namun ketika hati sudah dibuka
dengan mudah petunjuk bisa masuk ke dalam hatinya yang membuatnya tidak hanya
beriman tapi amat mencintai Rasulullah SAW. Hal yang amat berbahaya bila hati
tertutup selain petunjuk dan nasihat tidak bisa masuk, keburukan yang ada di
dalam hati juga tidak bisa keluar sehingga meskipun kita tahu bahwa itu buruk
amat sulit bagi kita untuk mengeluarkan atau membuangnya. Ibarat ruangan, bila
kita buka pintu dan jendelanya, maka udara kotor bisa keluar dan udara bersih
bisa masuk sehingga akan kita rasakan kesegaran jiwa. Berbagai bencana yang
kita nilai dahsyat dalam kehidupan kita di dunia ini bisa kita pahami sebagai
bentuk upaya menggedor hati manusia
Memperlakukan hati yang Kedua
adalah dibersihkan.Seperti halnya badan dan benda-benda, hati bisa mengalami
kekotoran, namun kotornya hati bukanlah dengan debu, hati menjadi kotor bila
padanya ada sifat-sifat yang menunjukkan kesukaannya kepada hal-hal yang
bernilai dosa, padahal dosa seharusnya dibenci. Oleh karena itu, bila dosa kita
sukai apalagi sampai kita lakukan, maka jalan terbaik adalah bertaubat sehingga
ia menjadi bersih kembali, Rasulullah SAW bersabda:Orang yang bertaubat dari
dosanya seperti orang yang tidak menyandang dosa (HR. Thabrani).
Ketiga,cara
memperlakukan hati adalah harus dilembutkan. Kelembutan hati merupakan sesuatu
yang amat penting untuk dimiliki, hal ini karena dengan hati yang lembut,
hubungan dengan orang lain akan berlangsung dengan baik dan ia mudah menerima
nilai-nilai kebenaran. Kelembutan hati akan membuat kita memandang dan
menyikapi orang lain dengan sudut pandang kasih sayang sehingga bila ada orang
lain mengalami kesulitan hidup, ingin rasanya kita mengatasi persoalan
hidupnya, ketika kita melihat orang susah, ingin sekali kita mudahkan, tegasnya
kelembutan hati menjauhkan kita dari rasa benci kepada orang lain meskipun ia
orang yang tidak baik, karena kita pun ingin memperbaiki orang yang belum baik.
Keempat,hati
harus disehatkan.Jasmani yang sehat membuat kita memiliki gairah dan semangat
dalam menjalani kehidupan dan makanan yang lezat bisa kita nikmati.Namun bila
jasmani sakit tidak ada gairah hidup dan makanan yang enak tidak antusias bagi
kita untuk memakannya dan bila kita makan pun tidak kita rasakan
kelezatannya.Begitu pula halnya dengan hati, bila hati sakit kita tidak suka
pada kebaikan dan kebenaran.Islam merupakan agama yang nikmat, namun bagi orang
yang hatinya sakit tidak dirasakan kenikmatan menjalankan ajaran Islam kecuali
sekadar menggugurkan kewajiban. Hati yang sakit biasanya dimiliki oleh orang
munafik, mereka nyatakan beriman tapi sekadar di lisan, mereka laksanakan
kebaikan termasuk shalat tapi maksudnya adalah untuk mendapatkan pujian
orang, karena itu tidak mereka rasakan nikmatnya beribadah dan berbuat baik.
Allah SWT berfirman:
Di antara manusia ada yang
mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu
sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan
orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang
mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah
penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih,disebabkan mereka berdusta. (QS
Al-Baqarah [2]:8-10)
Kelima,ditajamkan.Hati
harus kita asah hingga menjadi seperti pisau yang tajam. Pisau yang tajam akan
mudah memotong dan membelah sesuatu. Bila hati kita tajam akan mudah pula
membedakan mana haq dan mana yang bathil, bahkan perintah pun tidak selalu
harus disampaikan dengan kalimat perintah, dengan bahasa isyarat saja sudah
cukup dipahami kalau hal itu merupakan perintah yang harus dilaksanakan. [Drs. Ahmad Yani ,Khutbah Idul Fitri 1432 H,Lima
Cara Memperlakukan Hati,dakwatuna.com
24/8/2011 | 25 Ramadhan 1432 H].
Yang
kita takuti terhadap hati bukan hanya
terserang penyakit saja, ketika hati sudah terserang penyakit banyak keburukan
yang bersarang pada diri kita sehingga hati itu bukan mendatangkan kebaikan
malah membaca bencana dalam hidup di dunia hingga akherat kelak, apalagi hati
yang tidak dipelihara dengan baik, dibiarkan hati itu tanpa perawatan maksimal
sehingga hati itu tidak ada manfaatnya bagi manusia, dia ibarat sesuatu yang
mati walaupun bersarang pada tubuh yang masih hidup.
Alangkah banyak manusia sudah mati, tapi masih
memberikan manfaat bagi yang hidup, yakni masjid atau madrasah yang mereka
bangun, buku yang mereka tulis, anak saleh yang ditinggalkan, dan ilmu
bermanfaat yang telah diajarkan. Meraka mati jasad, tapi pahala terus hidup
(lihat QS al-Baqarah [2]: 154).
Sesungguhnya yang perlu diwaspadai adalah mati
hakiki, yakni matinya hati pada orang yang masih hidup.Tak ada yang bisa
diharapkan dari manusia yang hatinya telah mati.Boleh jadi dia hanya menambah
jumlah bilangan penduduk dalam sensus. Hanya ikut membuat macet jalanan dan
mengurangi jatah hidup manusia lain. Itu pun kalau tak merugikan orang lain. Bagaimana
halnya dengan koruptor, orang yang merusak, dan menebar kejahatan di muka bumi?
Tanda manusia yang hatinya telah mati, antara
lain, kurang berinteraksi dengan kebaikan, kurang kasih sayang kepada orang
lain, mendahulukan dunia daripada akhirat, tak mengingkari kemungkaran,
menuruti syahwat, lalai, dan senang berbuat maksiat.
Ada tiga hal yang bila kita tinggalkan akan
menyebabkan kematian hati. Pertama, bila shalat ditinggalkan, itu akan membuat
jiwa kalut. Kita akan terjerumus ke dalam perbuatan keji, terseret ke lembah
kemungkaran dan kesesatan (QS al-Ankabut [29]: 45 dan QS Maryam [19]: 59), dan
bisa menyusahkan serta merugikan orang lain.
Kedua, meninggalkan sedekah.Itu berarti kita
egois, individualis, dan enggan berbuat baik.Kepedulian sosial seperti sedekah
adalah bukti keimanan.Orang yang suka bersedekah hatinya lapang dan dijauhkan
dari penyakit, khususnya kekikiran, sedangkan para dermawan selalu menebar
kebajikan sehingga dekat dengan manusia, Allah, dan surga.
Ketiga, meninggalkan zikrullah adalah awal
kematian hati. Hatinya akan membatu sehingga tak bisa menerima nasihat dan
ajaran agama. Zikir akan menimbulkan ketenangan hati (QS Ar-Ra'd [13]: 28).
Orang yang tenang hatinya akan berperilaku positif dan tak mau berbuat jahat.
Mukmin yang selalu shalat, senang bersedekah, dan
memperbanyak zikrullah akan menjadi orang yang paling baik, memiliki hati yang
hidup, dan menebar kebaikan kepada sesama. Bila kita merasa rajin shalat,
sedekah, dan zikir, tetapi hatinya mati, kemungkinan besar shalat, sedekah, dan
zikirnya cenderung formalitas tanpa jiwa.[Prof Dr Achmad
Satori Ismail,Manusia yang Hatinya Telah Mati ,Republika.co.id.Senin, 29 November 2010, 09:33 WIB].
Itulah makanya Nabi Muhammad
sangat memperhatikan hati ummatnya bahkan beliau menggambarkan hati itu ibarat
sebongkah daging yang bersarang di dada manusia, bila sebongkah daging itu baik
maka baiklah seluruh tubuh manusia dan bila sebongkah daging itu busuk maka
busuklah semua tubuhnya, daging itu adalah hati, setiap kita harus menjaganya
agar selamat hidup di dunia hinga akherat kelak, Wallahu a’lam [Cubadak
Solok, 21 Syawal 1432.H/ 19 September 2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar