Rasulullah bersabda,”Seorang anak dilahirkan dalam keadaan suci
[fithrah] maka ayah dan ibunya yang menjadikan beragama Yahudi, Nasrani atau
Majudi” [HR.Bukhari]. berangkat dari hadits ini bahwa kehadiran anak di
dunia ini akan dihiasi oleh coretan dari orangtuanya, baik orangtua dalam
keluarga itu, guru ataupun masyarakat. Bila coretan yang diterima baik maka
baiklah lukisan yang terpampang di kanvas.
Orangtua harus khawatir dengan generasi yang
ditinggalkannya. Anak disamping karunia Allah dia juga sebagai amanah yang
harus dididik dengan nilai-nilai agama agar fithrah yang dibawanya sejak lahir
dapat tumbuh dan berkembang sebagai generasi yang sempurna ketaqwaannya
sebagaimana Nabi Ibrahim berdoa;”Wahai
Tuhanku, jadikanlah aku ummat yang mendirikan shalat dan demikian juga anak
cucuku dan keturunanku. Wahai Tuhanku, perkenankanlah doaku, wahai Tuhanku,
ampunilah aku dan juga kedua ibu bapakku dan bagi orang-orang mukmin pada hari
terjadi perhitungan”[Ibrahim 13;40-41].
Dalam hal mendidik anak, Ibnu Khaldun maupun Ibnu Shina
memberikan satu konsep, yaitu pengajaran Al Qur’an adalah sebagai basis [dasar]
bagi permulaan dari berbagai kurikulum pendidikan yang mesti diajarkan dan
diterapkan kepada anak-anak sesuai dengan sabda Rasulullah Saw, ”Didiklah anak-anakmu dengan tiga perangai;
cinta kepada nabimu, cinta kepada kaum kerabatnya dan cinta dalam membaca Al
Qur’an, bakal berada dalam naungan Allah kelak pada hari yang tidak ada naungan
selain naungan-Nya” [HR. Thabrani].
Dalam hadits lain beliau kembali menegaskan,”Suatu pahala akan diberikan kepada orangtua
yang mengajarkan Al Qur’an kepada puteranya, pada hari kiamat nanti akan
mendapat mahkota di dalam syurga”[Thabrani]. Disabdakan lagi,”Rumah yang sering dibaca Al Qur’an
didalamnya akan terbayang oleh penghuni langit sebagaimana bintang-bintang
terbayang oleh penduduk bumi” [HR. Al Baihaqi dan Aisyah].
Peran orangtua dalam mencetak generasi qur’ani dalam
rumah tangga bukan sekedar tanggungjawab saja tapi mengandung nilai ibadah
disisi Allah, tak heran jika Rasulullah bersabda,” Barangsiapa yang dikarunia anak perempuan lalu ia mengajarkannya
akhlak mulia dan mendidiknya dengan baik, diberi makan bergizi, kelak amalannya
itu akan menjadi penjaganya dari api neraka”.
Islam sangat
mementingkan pendidikan. Dengan pendidikan yang benar dan berkualitas,
individu-individu yang beradab akan terbentuk yang akhirnya memunculkan
kehidupan sosial yang bermoral. Sayangnya, sekalipun institusi-institusi
pendidikan saat ini memiliki kualitas dan fasilitas, namun institusi-institusi
tersebut masih belum memproduksi individu-individu yang beradab.
Sebabnya, visi dan misi pendidikan yang mengarah kepada terbentuknya manusia
yang beradab, terabaikan dalam tujuan institusi pendidikan.Penekanan kepada
pentingnya anak didik supaya hidup dengan nilai-nilai kebaikan, spiritual dan
moralitas seperti terabaikan.Bahkan kondisi sebaliknya yang terjadi.
Saat ini, banyak
institusi pendidikan telah berubah menjadi industri bisnis, yang memiliki visi
dan misi yang pragmatis. Pendidikan diarahkan untuk melahirkan
individu-individu pragmatis yang bekerja untuk meraih kesuksesan materi dan
profesi sosial yang akan memakmuran diri, perusahaan dan Negara. Pendidikan
dipandang secara ekonomis dan dianggap sebagai sebuah investasi. “Gelar”
dianggap sebagai tujuan utama, ingin segera dan secepatnya diraih supaya modal
yang selama ini dikeluarkan akan menuai keuntungan. Sistem pendidikan seperti
ini sekalipun akan memproduksi anak didik yang memiliki status pendidikan yang
tinggi, namun status tersebut tidak akan menjadikan mereka sebagai
individu-individu yang beradab.
Pendidikan yang
bertujuan pragmatis dan ekonomis sebenarnya merupakan pengaruh dari paradigma
pendidikan Barat yang sekular.Dalam budaya Barat sekular, tingginya pendidikan
seseorang tidak berkorespondensi dengan kebaikan dan kebahagiaan individu yang
bersangkutan. Dampak dari hegemoni pendidikan Barat terhadap kaum Muslimin adalah
banyaknya dari kalangan Muslim memiliki pendidikan yang tinggi, namun dalam
kehidupan nyata, mereka belum menjadi Muslim-Muslim yang baik dan berbahagia.
Masih ada kesenjangan antara tingginya gelar pendidikan yang diraih dengan
rendahnya moral serta akhlak kehidupan Muslim.Ini terjadi disebabkan visi dan
misi pendidikan yang pragmatis.
Sebenarnya,
agama Islam memiliki tujuan yang lebih komprehensif dan integratif dibanding
dengan sistem pendidikan sekular yang semata-mata menghasilkan para anak didik
yang memiliki paradigma yang pragmatis [Tujuan Pendidikan dalam Islam ,
Cyber Sabili, Selasa, 06 April
2010 04:30 Herry nurdi ].
KH.
Mohamad Isa Anshory menjelaskan tentang bahaya sekulerisme terhadap dunia islam
yang akan merusak semua tatanan kehidupan, semuanya diawali dari pendidikan,
menjauhkan para siswa dari agama yang dianutnya bahkan menjadikan islam sebagai
musuh dan penghalang dari kemajuan.
Kultur imperialisme Barat telah mewariskan semacam “mazhab
pikiran” yang amat menyesatkan dunia Islam (Alam Islamy), ialah suatu pandangan
hidup yang “serba dunia”, sekulerisme atau La Diniyah!
Faham sekulerisme membawa ajaran, Islam tidak perlu
dibawa-bawa mengatur masyarakat. Agama adalah soal pribadi dan ukhrawi,
persoalan dunia dan negara, persoalan masyarakat an kehidupan manusia
seluruhnya, terserah kepada pikiran, otak dan rasio manusia. Tangan Tuhan tidak
boleh ikut campur mengatur urusan manusia.
Ajaran imperialisme Barat itu tentu saja dalam rangka tujuan
hendak meng-Kristenkan dan meng-Kafirkan umat Islam, hendak melikwidir Islam
dari muka bumi.
Siasat
jahat kaum imperialis ini mendapat ruang dan peluang yang lapang di
negeri-negeri Islam yang dijajahnya. Kelakuan dan tindak-tanduk para penguasa
dan kepala negara yang menyebut dirinya, “wakil Tuhan” di dunia, tetapi sudah
menyimpang dari Qur’an dan Sunnah, telah menyekasikan kezaliman Sultan Abdul
Hamid yang telah membawa malapetaka bangsa Turki dalam masa yang panjang.
Gerakan Turki Muda dengan pimpinan Mustafa Kamal berhasil
menggulingkan kekuasaan Sultan yang zalim itu.Akan tetapi Mustafa Kamal tidak
memberikan alternatif yang benar kepada rakyat yang sudah terlepas dari
belenggu kezaliman itu.Kemalisme telah mengubah wajah Turki menjadi bangsa dan
negara sekuler.
Segala yang berbau “Arab” dimusnahkan. Bahasa ibadah
dilarang, karena ia adalah “Arab” yang harus dibasmi. Nasionalisasi dan
rasionalisasi dilancarkan.Adzan dan iqamat harus diganti dengan bahasa Turki,
tidak boleh lagi dengan bahasa Arab, karena Arab adalah malapetaka dan sumber
bencana. Mustafa Kamal hendak membangun sebuah rumah melalui menghancurkan
sebuah kota. Bangsa Turki yang pernah dalam sejarah mengambil alih dan
meneruskan pimpinan dan kejayaan Islam, dipaksa dengan sekulerisme yang
didatangkan dari Barat.
Mustafa Kamal emoh kepada Timur (Islam) dan dia berkiblat ke
Barat.Kemalisme hendak membangun Turki Baru dengan jalan menindas kehidupan rohani,
kehidupan jiwa bangsa Turki sendiri.Jika hanya menilainya dari satu segi,
Mustafa Kamal memang seorang pahlawan.
Dia sukses dan jaya menjatuhkan rezim lama yang zalim.Dia
telah diangkat menjadi “Bapak” Republik Turki, dan namanya diganti menjadi dengan
Kemal Attaturk, Bapak Bangsa, sebagai tanda penghormatan dan penghargaan kepada
jasanya.Tetapi, apakah dia seorang patriot yang sempurna, masih menjadi
pertanyaan?Bahkan patriot yang sempurna harus mengenal betul jiwa bangsanya,
nurani dan naluri bangsanya, isi dada, darah dan daging bangsanya?
Kalau Kemal kesal, dendam dan benci melihat praktek para
Sulltan sebelum dia mengendalikan negara, orang seperti dia tentunya tahu,
bahwa para Sultan itu telah menyimpang dan menyeleweng dari Qur’an dan Sunnah.
Kenapa justru Islam (hukum dan syariahnya) yang harus
menerima hukuman pengebirian, dan menggantinya dengan sekulerisme
Barat?Sekulerisme atau La Diniyah yang dipaksakan kepada bangsa yang telah
berabad-abad menerima dan mengamalkan Islam yang malah telah membuat bangsa
Turki menjadi besar dan jaya dalam sejarah.Pada hakekatnya Bapak Turki pada
permulaan telah menanamkan bibit antipati dalam hati rakyat.Dia bukan saja
tidak mendengar nurani dan naluri bangsanya, tetapi malah menentang hatinurani
budi dan naluri bangsanya.
Berhasilkah dia menyembuhkan “Orang sakit Eropa” (Turki) itu
dengan resep imperialis, ialah sekulerisme, paham yang memecah duniawi dan ukhrawi,
menceraikan jasmani dengan ruhani?
Sejarah menyaksikan “Orang sakit” itu masih tetap belum mendapatkan
kesembuhannya.Telah puluhan tahun sekulerisme memerintah bangsa Turki, tetapi
bangsa itu tetap “Orang sakit” yang menunggu obat.
Tiga tahun yang lalu seorang sahabat yang pernah tinggal di
Ankara, ibukota Turki, menceritakan kepada saya [KH.M.Isa Ansyari], bagaimana
nasib malapetaka dan sengsara bangsa Turki sampai sekarang ini. Teman itu
berkata, “Seorang penjabat tinggi negara Turki pernah berkata kepda saya dengan
nada haru dan keluh kesah, bahwa suatu waktu di Amerika melihat pembesar-pembesar
pemerintah setiap hari minggu datang ke Gereja dengan anak isterinya. Ingin
menjabat negara itu hal yang seperti itu berjalan di negerinya, dia ingin
mellhat kehidpuan yang subur dinegerinya.
Kehidupan rakyat jauh dibawah taraf yang layak sebagai
manusia yang adab.Ekonomi dan sosial rakyat belum mendapat perubahan. Jiwa dna
nurani rakyat kering. Jika hendak mendirikan masjid atau madrasah harus meminta
izin lebih dahulu kepada pemerintah.Sekulerisme sudah kehilangan akal dan
kehabisan daya untuk mengendalikan rakyat Islam yang terkenal fanatik dan teguh
hati.
Rakyat rindu kebebasan hidup beragama, kebebasan
mengembangkan kodrat dan thaat.Rakyat rindu dan terkenang kepada sejarah lama,
sejarah nenek moyang yang besar, warisan Islam. Teman itu pernah memberi nasehat
kepada teman Turki seraya mengatakan, “.. Kalau Tuan ingin membangun negeri
Tuan, ingin membangun kembali bangsa Turki, Tuan harus kembali memaki cara yang
pernah menjayakan bangsa ini dahulu”, tukasnya.
Suatu bangsa yang agamanya telah menjadi darah daging, tidak
mungkin ditegakkan dengan sistem yang bertentangandengan jiwanya. Sekulerisme
mungkin berhasil dilaksanakan pada bangsa luar Islam. Jika revolusi Perancis
gagal, karena rakyat tidak mendapatkan kebebasan dan dan kebahagiaan dalam soal
ekonomi, maka Revolusi Turki Muda gagal, karena tidak berlandaskan semangat dan
jiwa rakyat.Bukan di Turki saja, kita melihat adanya sekulerisme.Juga banyak
negara-negara Islam yang menyebutkan undang-udang Dasarnya berdasar Islam,
tetapi sistem perundang-undangnya menyimpang dari tuntunan syari’ah.
DR. Abdul Qadir Audah rahimahullah, seorang ulama Mesir,
yang ikut menggulingkan rezim Farouk waktu Revolusi Mesir 1952, dalam bkunya, “Islam
dan Perundan-Undangan” : “Sudah menjadi tabi’at Islam , bahwa ia merupakan
dasar hukum pada tiap negeri yang telah dimasuksinya, dan bila Islam itu
merupakan agama, maka ia menjadi syariat yang sempurna tiap-tiap muslim.
Karenanya, syari’at Islam adalah undang-undang yang
satu-satunya bagi tiap-tiap bagi negeri Islam sejak Islam menjelma ke negeri
itu, dan hal seperti itu berlangsung sampai imperialisme berkuasa menggagahi
negeri-negeri Islam itu.Maka masuklah Perundang-undangan Eropa ke negeri-negeri
Islam, atau karena pemimpin Islam itu telah dapat ditipu oleh imperialis Barat.Itulah
awalnya bencana yang terjadi di dunia Islam yang menghancurkan umat Islam, dan
seluruh struktur kehidupannya.
Hendaklah umat Islam mengerti, bahwa Islamlah yang
menciptakan mereka, menjadikannya sebaik-baik umat yang dibangkitkan untuk
manusia, dan menyebabkan mereka dulu bisa berkuasa diatas kekuasaan-kekuasaan
dunia, dan syariat Isalm itulah yang mengajar dan mendidik mereka, merasakan
artinya mulia dan jaya, memberikan kekuatan dan cita-cita, melahirkan
pahlawan-pahlawan yang membuka negeri-negeri Islam.
Syariah Islamlah yang membawa manusia kepada persamaan yang
sesungguhnya dan keadilan yang mutlak, dan mewajibkan mereka bekerjasama diatas
dasar kebaikan dan taqwa, dan bahwa mereka mengajak yang ma'ruf dan mencegah
yang mungkar. Sekulerisme dan La Diniyah tidak ada hubungannya dengan kehidupan
kaum Muslimin.[ KH. Mohamad Isa Anshory,
Bahayanya Sekulerisme - La Diniyah,
Eramuslim.com, Jumat, 20/05/2011 15:43 WIB].
Generasi
yang berkualitas itu hanya akan lahir dari sistem dan konsep pendidikan Islam,
bukan dari konsep pendidikan sekuler, materialis dan kapitalis. Generasi yang
bermutu ialah generasi muda yang beriman kepada Allah dan selalu menjadikan
petunjuk Allah (Al-Qur’an) sebagai rambu-rambu kehidupan.Generasi muda yang
memiliki hati yang bersih dan kasih sayang terhadap orang tua, keluarga dan
masyarakatnya.Generasi yang berpendirian teguh dan tidak terpengaruh oleh
lingkungan dan pergaulan yang tidak sehat, dan bahkan mereka yang
mempengaruhinya ke arah kebaikan.Generasi yang berani menegakkan kebenaran dan
menolak kebatilan, apapun resiko yang harus mereka alami.Generasi yang berani
mengatakan bahwa Tuhan yang kami sembah dan taati adalah Tuhan yang menciptakan
langit dan bumi ini. Generasi yang tidak akan pernah tunduk kepada tuhan selain
hanya Allah karena mereka mengetahui dan menyadari bahwa ubudiyah (ibadah dan
taat) kepada tuhan selain Tuhan Allah adalah kehancuran dan kebinasaan di dunia
dan akhirat. [Ustadz Fathuddin Ja’far,Generasi
Yang Kehilangan Orientasi Hidup,Eramuslim.com Kamis, 29/04/2010 20:34 WIB].
Hudzaifah ibnu Al-Yamani pernah bertanya
kepada Rasulullah saw.:
"Wahai
Rasulullah, apakah sesudah kebaikan ini akan ada masa keburukan?" Jawab
Rasulullah: "Ya., yaitu munculnya kaum yang mengajak orang lain ke
neraka jahannam. Barangsiapa memenuhi ajakannya berarti telah menyiapkan
dirinya untuk masuk neraka." Aku berkata: "Terangkanlah ciri-ciri
mereka itu, wahai Rasulullah!" Jawab Rasul, "Kulit mereka sama
dengan kulit kita dan mereka bicara dengan bahasa kita."
Beliau mengemukakan
Hadits tersebut, karena menyesalkan sekali adanya orang-orang yang bersikap
kebarat-baratan justru dari kalangan kita sendiri, warna kulitnya sejenis
dengan kita, bahasanya sama dengan kita, bahkan semboyannya pun seperti
semboyan kita. Namun mereka membelakangi sumber-sumber ajaran Islam berupa
Al-Quran, Hadits, dan Sejarah Islam.Sebaliknya mereka hadapkan wajah dan hati
mereka kepada sumber-sumber Barat.Kemudian mereka menuduh dan membohongkan
Islam seperti yang diperbuat orang Barat.
Menurut Syeikh Ahmad Jamal,
pengaruh itu masuk ke orang Islam lantaran salah satu dari 3 hal:
1. Karena mereka belajar di
perguruan tinggi Barat, Eropa atau Amerika.
2. Karena mereka belajar di
bawah asuhan orang-orang Barat di perguruan tinggi di dalam negeri mereka
sendiri, atau
3. Karena mereka hanya
membaca sumber-sumber dari Barat di luar tempat-tempat pendidikan formal dengan
mengenyampingkan sumber-sumber Islami, karena tidak tahu atau karena ingin
menyombongkan diri, yakni menganggap remeh terhadap sumber-sumber Islam.
Kalau sudah demikian,
tanggung jawab siapa?
Kembali Syeikh Ahmad
Jamal mengulasnya, bahwa itu adalah tenggung jawab kita --ummat Islam--
juga.Kenapa?Karena, kitalah yang mengirim mereka ke sekolah-sekolah dan
perguruan tinggi Barat dengan aneka alasan.Pengiriman mahasiswa itu tanpa
membekali antisipasi untuk mencegah keraguan-raguan yang ditanamkan guru-guru
Barat, dan kita tidak menyediakan untuk mahasiswa itu citra dan syiar Islam
serta bentuk rumah tangga dan negara yang benar-benar Islami.Hingga kita tidak
bisa meluruskan mereka ketika bengkok.
"Ya, kita mengirim
mereka ke perguruan-perguruan Barat, namun kita tidak membangun rumah Islam
buat mereka yang dapat melindungi mereka dari panah dan hembusan beracun orang-orang
Barat." tulis Ahmad Muhammad Jamal.
Dengan tandas, Ustadz
itu mengemukakan bahwa di samping bahaya tersebut, masih pula kita mendatangkan
tenaga-tenaga pengajar dari Barat untuk memberikan pelajaran di
perguruan-perguruan dan universitas-universitas kita.Dapat dipastikan,
tenaga-tenaga Barat itu menyampaikan kepentingan-kepentingan mereka sebagaimana
yang dilakukan rekan-rekan mereka di negara Barat, yaitu meracuni dan
menimbulkan rasa antipati terhadap Islam.
Faktor-faktor itu
masih pula ditambah dengan kesalahan kita yaitu membuka pintu lebar-lebar untuk
penyebaran kebudayaan Barat, sehingga orang kita begitu saja membenarkan
apa-apa yang datang dari Barat dan menerimanya bula-bulat.
Akibat dari itu
semua, Ustadz Ahmad Muhammad Jamal (68th) yang wafat di Kairo Mesir pada Hari
Arafah 1413H itu mengemukakan peringatan yang cukup tandas:
"Dengan terjadinya hal-hal semacam itu maka juru da'wah
Islam hanya dapat berteriak di lembah sunyi dan di padang yang lengang, bahkan
mereka hanya dapat membacakan do'a kepada ahli kubur.Hanya sedikit pemuda
Muslim yang diselamatkan oleh Allah.Yang sedikit inipun selalu dihalang-halangi
kelompok jahat yang mayoritas itu dengan berbagai jalan.Setiap orang beriman
ditekan, diintimidasi dan dirintangi dari menjalankan agama Alah."[H Hartono Ahmad Jaiz, Tasawuf, Pluralisme, &Pemurtadan;Membentengi Ummat
dari Sekulerisasi dan Penyimpangan Pemikiran,
navigasi & konversi ke format html: nono 2005].
Kehadiran para sekuler di negara kita walaupun mereka
anak-anak kita yang telah dididik dengan materi kebarat-baratan, mereka itu
merupakan kaki tangan dari para orientalis yang akan merusak islam dan
ummatnya, Kalau kita ingin melahirkan generasi sebaik dan setara generasi yang
ada pada masa Rasulullah maka kita harus mengikuti cara-cara, sistim dan kurikulum yang ada pada masa itu, yang
semuanya harus berangkat dari konsep hijrah dari pendidikan sekuler kepada pendidikan
yang islami, wallahu a'lam [Kubu Dalam Parak Karakah Padang, 13 Rajab
1432.H/ 14 Juni 2011.M].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar