Ketika pintu demokrasi dibuka selebar-lebarnya maka banyak
peluang bagi anak bangsa ini untuk muncul sebagai penguasa melalui partai
politik yang akhirnya akan mengikuti pemilu dan pilkada yang ujung-ujungnya
punya kekuasaan di lembaga terhormat yaitu parlemen dan pemerintahan, baik tingkat kabupaten/ kota hingga sebagai
penguasa di level nasional, hal itu mudah sekali untuk meraihnya bila suara
rakyat mau untuk memenuhi selera calon pemimpin itu, bahkan untuk mencapai itu
karena ambisius yang luar biasa sehingga semua anggaran untuk kebutuhan itu
akan diusahakan dengan pendapat, toh nanti bila sudah duduk juga bisa
mengembalikan dana itu dari hasil yang diperoleh karena sebagai penguasa,
intinya mengumbar dana untuk pemilu dan pilkada walaupun harus menjual sawah
ladang, hutang sana hutang sini tidak jadi masalah dengan target "Biar
tekor asal kesohor".
Sebuah
pengakuan yang dikeluarkan oleh seorang anggota DPRD melalui sidang paripurna
pada pandangan umumnya sungguh membuat terkejut para pendengarnya tapi hal itu
sebuah realita yang ada pada temperamen para penguasa, pengakuan itu
menyatakan;
Kalau tidak ada halangan kita akan melaksanakan Pemilihan
Umum tanggal 9 April 2009 sesuai hasil keputusan Komisi Pemilihan Umum, artinya
sejak awal ini para kandidat sudah mulai mempromosikan dirinya untuk dipilih
oleh rakyat melalui pendekatan kepada ketua partai agar diletakkan pada nomor
yang strategis dilanjutkan dengan sosialisasi diri ke tengah masyarakat hingga berlansungnya kampanye dan pencoblosan
di bilik suara, akhirnya duduk manis di kursi dewan menjadi orang terhormat
sebagaimana yang sedang kita alami sejak dilantik sebagai anggota dewan tanggal
13 Agustus 2004 hingga detik ini.
Waktu lima
tahun bagi kandidat yang tidak duduk sebagai anggota dewan periode yang lalu,
atau orang yang memandang kinerja saya selama ini di dewan yang tidak baik,
atau masyarakat yang menilai saya tidak
aspiratif menyuarakan denyut nadi mereka merasakan betapa lamanya jabatan itu
sehingga caci maki sumpah serapah bermunculan dimana-mana, yang intinya saya
anggota dewan yang tidak layak dipilih lagi.
Sedangkan
saya merasakan waktu lima tahun, sepuluh tahun bahkan lima belas tahun di dewan
adalah waktu yang sangat singkat sekali dan tidak mau meninggalkan kursi dewan
yang terhormat ini selamanya, sehingga bila saya tidak dicalonkan oleh partai
saya yang kemarin maka saya akan berusaha dengan semaksimal mungkin mendekatkan
diri ke partai lain dengan memberikan keyakinan bahwa saya adalah tokoh yang
punya potensi dengan dukungan suara tidak diragukan lagi, intinya bagaimana
saya bisa duduk lagi di dewan periode mendatang.
Dahulu, agar
masyarakat memilih dan percaya penuh kepada saya, maka siang dan malam bahkan
berkali-kali saya menemui tokoh itu agar saya ditempatkan pada posisi penting
pada daftar caleg dengan kasak kusuk kian kemari, kalau tidak ada rotan akarpun
jadi, seluruh perhatian dan konsentrasi saya hanya satu supaya tokoh itu
menempatkan saya pada daftar caleg jadi sampai jadi caleg beneran.
Masapun
berlalu saya sudah berkantor di gedung dewan yang sejuk dan sudah sejak lama saya dambakan dengan banyak
kesibukan melaksanakan agenda kedewanan, sayapun sudah lupa siapa dahulu orang
yang merekrut dan memperkenalkan kepada saya tentang partai yang hari ini saya
menjadi anggota dewan, saya juga tidak mau tahu lagi bagaimana tokoh itu mati-matian memperjuangkan agar nama saya
ditempatkan pada nomor urut yang pasti duduk di dewan, bahkan saya berusaha
untuk menyingkirkan orang itu dari kepengurusan partai karena mereka tokoh-tokoh
tua yang tidak layak lagi sibuk di partai dengan tekad, biar kami yang
muda-muda tampil ke depan....
Saya sudah
terbiasa dengan pakaian safari, jas yang dilengkapi dasi bergaya seorang legislatif muda, dan itu
tidak terlarang karena memang sudah diatur dalam tata tertib dan protokoler
dprd, karena posisi saya penting banget di dewan sehingga kemana-mana saya
harus dengan mobil dinas yang menaikkan
gengsi di tengah masyarakat, dan itu benar karena sudah diatur dalam tata
tertib sesuai dengan program dan anggaran,
saya sudah lupa daerah mana saja yang telah saya kunjungi di Indonesia
ini dan semua itu penting guna
melaksanakan program kedewanan untuk kepentingan dan kemajuan daerah kita , itu
cocok benar dengan keputusan rapat, agenda dewan dan anggaran yang sudah diplot
untuk itu, tapi saya tahu persis
beberapa kabupaten dan provinsi di Indonesia yang belum saya kunjungi, itu
semua saya lakukan karena saya anggota dewan terhormat dan posisi itu tidak dimiliki
oleh orang lain yang bukan anggota dewan.
Dahulu saya
orang yang ramah, santun, penyabar dan baik hati. Selalu mengembangkan senyum
kepada semua orang karena saya tahu itu merupakan sikap terpuji ketika tampil
di tengah masyarakat, namun dikala kekuasaan sudah saya miliki sebagai anggota dewan
terhormat ditambah lagi dengan serenceng
jabatan penting yang melambungkan saya jauh ke angkasa, saya merasakan
tidak berjalan lagi di darat tapi seolah-olah di angkasa, tinggi sekali, yang tidak mungkin dijangkau oleh orang lain.
Kini saya menjadi orang yang mudah tersinggung, emosi, arogan dan sok, saya berfikir tidak memerlukan lagi orang lain karena memang dahulu saya
duduk di dewan berkat usaha saya sendiri
yang optimal tanpa ikut campur tangan dari siapapun.
Saya
beranggapan bahwa kehormatan bisa diperoleh hanya sebagai anggota dewan saja
dan saya yakin saya tidak bisa hidup bila tidak sebagai anggota dewan sehingga
berbagai cara saya harus duduk lagi sebagai anggota dewan dengan menyingkirkan
orang lain walaupun mereka sudah antri bertahun-tahun menunggu daftar pasti
juga sebagai anggota dewan, dengan dalih saya adalah wakil rakyat yang
merakyat, saya adalah wakil rakyat bukan paduan suara, saya adalah wakil rakyat
yang tidak tidur waktu sidang soal rakyat, sehingga layak kalau saya dipilih
lagi oleh rakyat dan duduk kembali di gedung rakyat, demikian sekilas
perjalanan hidup sebagai anggota dewan yang penuh dengan romantikanya, karena ini hanya sebuah sketsa kehidupan manusia
dalam perjalanan panjang yang ditempuhnya, apalagi ambisius kekuasaan telah
menguasai hidupnya, maka jabatan yang dirasakan sekarang belumlah memadai.
Dikala
seseorang sebagai Caleg, yang tergambar adalah enaknya jadi anggota dewan
sehingga diupayakan semua potensi untuk meraihnya, setelah duduk di dewan
menjelang Pilkada yang tergambar adalah enak juga kalau jadi Wakil Bupati
sehingga keperluan untuk itu dimaksimalkan, dua tahun jadi wakil Bupati mulai
berfikir agar Pilkada mendatang enak juga kalau jadi Bupati sehingga semua
kekuatan, jaringan dan kader dikerahkan agar kedudukan itu di raih.
Setelah jadi
Bupati dengan seonggok tugas-tugas dan jauhnya perjalanan dinas yang dilengkapi
pasilitas hidup, berfikir lagi bagaimana kalau Pilkada mendatang jadi Bupati
lagi sehingga kekuatan disusun kembali, jaringan dibenahi dan dana dikumpulkan
untuk itu. Itulah sifat manusia yang manusiawi, tidak puas dengan yang telah
ada, ambisi untuk meraih segala-galanya, hal ini tidak dilarang tapi jangan
sampai sikut kanan dan sepak kiri,
jangan sampai injak bawah dan jilat atas.
Dengan akan
berakhirnya jabatan kepala daerah, baik Gubernur, Bupati/ Wali kota berarti rakyat
siap menyeleksi figur yang tepat untuk itu, bakal calon hingga menjadi calon
bukanlah sembarang orang, jangan sampai kita membeli kucing dalam karung,
artinya harus orang yang mempunyai kapasitas untuk itu serta orang yang layak
jual dalam bursa pencalonan.
Salah satu kriteria bakal calon kepala daerah adalah
sehat jasmani dan rohani, artinya secara fisik dia tidak terganggu kesehatannya
dalam rangka menjalankan tugas amanat yang dibebankan kepundaknya.
Bila kita membicarakan dari kesehatan fisik terlalu
banyak orang yang mampu untuk itu, karena penampilan fisik jasmani adalah
penampilan lahiriah; gagah, sehat, subur, tidak terserang penyakit menahun dan
tidak terganggu akalnya yang disertai keterangan dokter.
Akan
tetapikesehatanrohanisangatsulituntukdideteksinamunnampakdalamaplikasi di
lapangan. Orang yang sehatrohaniinsya Allah akansehatjasmaninya, tapi yang
sehatjasmanibelumtentusehatrohaninya; pencoleng, koruptor,
pencopetsertabentukkejahatanlainnya, umumnyadilakukanolehmereka-mereka yang memilikikesehatanjasmani.
Seorangmukminpundituntutuntukmenjagakesehatanjasmanisebabbilasakitdatangberartibanyaktugas-tugas
agama yang terbengkalai, bahkanlebihjelasRasulullahmengatakan,
”Jagasehatmusebelumdatangmasasakitmu”, orang yang merasakankalausehatitusebuahnikmatbilamanasakitdatangmenimpanya,
jangankansakit yang datang, sedangkandalammasasehatsajaterlalubanyakpekerjaan
yang harusdiselesaikandariwaktu yang tersedia, benar yang
diserukanseorangulamaMesir yang bernamaHasan Al Banna agar setiappribadimuslimapalagida’i,
agar mengecekkesehatannya paling tidaksekalidalamtigabulan.
Pada diri manusia itu ada tiga unsur yang penting untuk diselamatkan;
diberi makanan, dijaga kesehatannya jangan sampai cidera. Unsur pertama adalah
akal; agar diberi konsumsi ilmu pengetahuan sehingga keberadaannya di tengah
masyarakat dapat dimanfaatkan dari segi ilmu, Rasulullah bersabda bahwa orang
yang paling baik adalah mereka yang berdayaguna di tengah masyarakat. Unsur
kedua adalah jasmani, yang harus dijaga jangan sampai terabaikan, itulah
makanya Islam melarang ummatnya untuk minum khamar, narkoba dan barang-barang
yang dapat merusak jasmani manusia.
Rohani adalah unsur yang penting untuk dipelihara
disamping yang dua diatas, salah satu tidak terjaga maka kehidupan manusia
tidak tawazun [seimbang]. Rohani tidak terlepas dari iman dan taqwa yang
diiringi dengan amal shaleh, bila rohani tidak terpelihara dengan baik maka
kehancuran akan menimpa diri pribadi, masyarakat dan bangsa, inilah yang
disebut dengan sikap mental/ moral.
Seorang Profesor di Amsterdam yang bernama Fahrenfest
diketahui melakukan bunuh diri setelah membunuh anakna sendiri, padahal apa
yang kurang dari profesor ini; hartanya banyak, dia guru besar pada sebuah
Universitas, jabatannya tinggi, pergaulannya luas, orang terpandang, kesehatan
fisiknya lumayan. Rupanya sebelum membunuh diri, dia telah menulis surat kepada
temannya Profesor Konstant yang isinya, ”Iman itu perlu, agama penting, ibadah
sangat penting, tapi hati saya tidak bisa menerima iman”.
Salah satu sikap mental bagi seorang calon kepala daerah
yang harus dimiliki menurut versi Islam adalah mereka yang meraih jabatan
tersebut tidak dengan ambisius, artinya dia calonkan dirinya dengan kapasitas
dan kelayakannya, dia ingin jabatan tersebut diperoleh dengan cara benar, tidak
melalui bau kemenyan atau perdukunan, tidak melalui menjegal teman, main sikut
dan sikat, bila kekalahan atau belum saatnya dapat diraih dia tidak akan merasa
kecewa dan sebaliknya bila jabatan itu
diberikan kepadanya dia tidak terlalu gembira dengan pesta ria dan hura-hura,
karena jabatan itu baginya bukanlah prestise atau kebanggaan, dan bukan pula
hadiah, tapi jabatan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan di dunia
dan di akherat.
Kepala daerah yang sehat rohaninya adalah mereka yang
menggunakan fasilitas dan jabatan sebagai sarana untuk memperbaiki ummat,
kesempatan baginya untuk memupuk pahala di sisi Allah melalui kekuasaan
sebagaimana Rasul menyerukan, ”Bila kamu menyaksikan kemungkaran maka ubahlah
dengan kekuasaan, bila tidak mampu ubahlah dengan lisan, tidak mampu juga maka
ubahlah dengan hati, namun itu semua serendah-rendahnya iman”. Rasulullah,
melalui jabatan yang dia emban, baik sebagai Nabi dan Kepala Daerah di Madinah
bahkan sebagai seorang Presiden mampu menata kehidupan rakyatnya sebaik-baiknya
sesuai dengan kehendak Allah, bahkan Abu Bakar Ash Shiddiq memerangi siapa saja
dari kaum muslimin yang mampu tapi tidak mau membayar zakat, sehingga ketika
Umar berkata kepadanya, ”Ya Khalifah Abu Bakar, tidak usahlah mereka diperangi,
nantikan mereka akan sadar juga...” ketika itu Abu Bakar marah mendengar
permintaan sahabatnya, ”Hai Umar, kenapa engkau demikian lemahnya padahal
engkau adalah orang yang kuat, seandainya engkau tidak mau ikut aku, biarlah
aku sendiri yang memerangi mereka...”
Kenapa
krisis multi dimensi negeri ini semakin hari semakin parah. Musibah justru
bermunculan bak jamur dimusim hujan. Membuat daftar kesengsaraan bangsa ini
semakin bertambah panjang. Negeri ini tidak kekurangan pakar. Para ilmuan dari
berbagai bidang ilmu sudah mencoba mengamati dari berbagai sudut. Pakar politik
berfikir bahwa bencana negeri ini berawal dari politik kotor. Para ekonom
menyoroti dari sisi banyaknya utang yang membebani dan manajemen yang payah.
Semua pengamatan di atas adalah pengamatan yang bersifat
fisik. Sesuatu yang tampak pada lahiriah, tetapi hal-hal batiniyah, ukhrawiyah,
ghaib justru mendapat perhatian lebih. Sering kali pandangan manusia hanya
melulu kepada hitungan matematis di atas kertas. Padaha lada unsur ruh dalam
diri manusia yang sebenarnya malah memegang kendali kehidupannya.
Banjir bandang yang menenggelamkan negeri ini misalnya
lebih banyak disebabkan oleh penggundulan hutan dan bermunculannya real estate
di tempat serapan air. Sebenarnya hal ini tidak perlu terjadi, kalau tidak ada
kemaksiatan yang dilakukan. Mulai dari rakusnya para pemegang izin penebangan
hutan atau pencurian kayu. Sampai izin mendirikan bangunan yang terpaksa keluar
karena uang haram, yang sebenarnya tidak boleh didirikan di tanah resapan air.
Ketika bencana air hadir kita hanya berkata, ”Ah, itukan gejala alam, bisa diselesaikan
dengan teknologi yang kita buat, bisa diatasi dengan membuat ini dan itu” tanpa
kita melihatnya dari sudut pandang religius.
Pernah terjadi
gempa di zaman Thabi’in [generasi sesudah masa sahabat Rasulullah], Anas bin
Malik bertanya kepada isteri Nabi, Aisyah, ”Wahai ummul mukminin, mengapa
sampai ada gempa?”. Aisyah menjawab, ”Jika pelacuran sudah dianggap legal,
minuman keras sudah merajalela dan masyarakat kita sudh gila dengan musik, maka
gempa itu sebagai nasehat an rahmat untuk orang-orang berimanh, tetapi juga
sebagai azab dan murka atas orang-orang yang kafir, fasik dan zhalim”.
Maka ketika bencana datang yang harus cepat dilakukan
adalah bertanya kepada diri sendiri yang harus dijawab dengan jujur,
kemaksiatan apa yang telah dilakukan oleh kita yang bernaung di daerah ini,
kejahatan politik apa yang kita lakukan terhadap rakyat, uang haram apa yang
sudah kita nikmati, siapa orang yang sudah kita zhalimi, rakyat mana yang tidak
diperhatikan kebutuhan hidupnya, arogansi apa yang kita munculkan dikala kita
berkuasa.
Hadirnya
seorang penguasa pada level apasaja seharus membawa perubahan ke arah yang
lebih baik pada semua sektor kehidupan karena perubahan adalah sunnatullah
dalam kehidupan. Tidakada
yang
tidakberubahkecualiperubahanitusendiri.Mencintaiperubahansudahmenjadifithrahmanusia.Kaidahumummenyebutkan,
manusiamenyukaiperubahan.Dalambanyakhal.
ManusiamenyukaiMataharikarenaselaluadaperubahan.MungkinsecarasubstansialMatahatitakberubah,
tapisecarakasatmata, raja
siangituselaluberubah. Pagihari di Timur, tengahhari di tengahkepala,
sorenya di ufuk Barat.Malamhatidiamenghilang, bersemanyam di
peraduannya.Dapatdibayangkanjikaposisimataharitidakberubah, sepertiterjadi di
sebahagiankecilbelahanbumi.Manusiatentumerasabosandanbolehjadijustrumembencinya.Begitulahala
mini.Iamelanggengkandiridenganmelakukanperubahan. Diamberartimati.
Kaidahiniharusbenar-benardifahamiolehparapemimpinjikainginkepemimpinanterusberlansung.
Persissepertialam yang
mengajarkanperubahan.Pemimpinsejatitidakpernahtakutmelakukanperubahan.Jsutruiaberharapselaluadaperubahan.
Jikaadapemimpin yang
takmenginginkanperubahan, mestiadasesuatu yang melatarinya.Bisajadi, karenakhawatirkepentingannyaterganggu,
takutkursinyatergeser, kemapanannyaterusik, ataukepentinganlainnya.
Sikappemimpin yang
tidakmauberubahbisajadikarenakeberadaan orang-orang
disekitarnya.Mungkinjikaterjadiperubahan, sang pemimpintakmerasaterancam. Tapilantarankungkungnparapendukungnya
yang justrukhawatirjabatannyahilangdanposisinyaterancam, sang
pemimpinmenafikanperubahan.
Perubahanituharusdilakukanketikasebuahtatanankepemimpinantaklagisehat.Persissepertitukangbengkel
yang harusmenggantionderdilmesin yang
tidakbisalagidigunakan.Begitulahpemimpin.Iaharusberanimenggantidanmerubahsegalahal
yang taksesuaidenganmesinkepemimpinannya. Jikatidak,
mesinakanrusakdanberakibatpadaalat-alatlainnya.
Perubahanitutidakbolehditunda.Menundaperubahanketikatatanankepemimpinansedangsakit,
samahalnyadenganmempercepatkedatanganajalkepemimpinanitusendiri.
Memperlambatperubahanketikarodakepemimpinantaklagiberputar normal,
samahalnyadenganmempercepatlajuhentirodaitusendiri.
Perubahanitutidakbolehditundameskiharusmenelankorban.Persissepertitukangbengkel
yang harusmencongkel, memutardanmembongkarpaksamesin yang
harusdiganti.Perubahanharusdipaksa, kadang.Perubahantakbisaberubahsendiri.
Pemimpinsejatibenar-benarmemahamikaidahini.Jikaiatetaptakmauberubah,
makadirinyaakandiganti. Sebab, perubahantidakbolehdiganggu.Iaharusdigerakkan.
Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah
tidakakanmengubahnasibsuatukaumsebelummerekamengubahkeadaanmerekasendiri”. [Ar
Ra’du;11] [Sabili no.1/27 Juli 2006].
Kita mendambakan penguasa yang shaleh dalam kehidupannya.
Yang dikatakan shaleh bukanlah mereka yang hanya bisa shalat, setiap yang
shaleh pasti shalat, tapi yang shalat belum tentu shaleh. Adapun kriteria
shaleh menurut para ulama adalah;
-Salamatul Fikrah; yaitu fikiran-fikiran yang selamat
dari kontaminasi orientalis, liberal dan sekuler atau idiologi lain yang
memusuhi Islam, ide-ide yang keluar dari otaknya adalah ide cemerlang yang
berguna bagi kehidupan dan kemaslahatan ummat dan rakyat yang mengacu kepada
standard abadi yaitu Al Qur’an dan Sunnah.
-Shahihul Ibadah;
artinya ibadah yang shaheh, bertumpu kepada ibadah yang dilakukan oleh
Rasulullah, terjauh dari bid’ah, khurafat, syirik dan tahayul, penampilannya
sebagai ’abid [ahli ibadah] beranjak
dari ittiba’ [mengikut sistim Rasul] bukan taqlid [ikut pendapat orang dengan
cara membebek].
-Shahibul Ibadah; artinya kepala daerah yang kita
harapkan adalah orang yang selalu mengisi kesibukan dirinya dengan peningkatan
kualitas dan kuantitas ibadah kepada Allah, bahkan keberhasilannya sebagai kepala
daerah didukung oleh kedekatannya beribadah kepada Allah bukan kepala daerah
yang hanyut dengan kesibukan dunia tanpa disadarinya melupakan akherat.
-Salimul Aqidah;
artinya aqidah yang hanya mentauhidkan Allah semata; jabatan, harta, keluarga
baginya kecil dibandingkan kepentingan Allah, sebagaimana ucapan Abu Bakar, ”Ya
Allah, letakkanlah dunia ini di tanganku sehingga aku bisa mendistribusikannya,
jangan engkua letakkan di hatiku sehingga aku diaturnya”.
-Mathinul Khaliq ; artinya seorang kepala negara, kepala
daerah yang kita harapkan adalah mereka yang memiliki akhlak yang solid, dia
terpandang bukan karena jabatannya tapi karena akhlaknya, melalui akhlak dia
mampu memikat orang lain sehingga mendukung segala program yang dicanangkan.
Itulah kriteria shaleh menurut ukuran Al Qur’an dan
Sunnah Rasul sehingga bila kita memiliki pemimpin yang demikian sungguh besar
harapan kita kepadanya untuk menyelamatkan
rakyat dan ummat ini dari kehancuran, jangan sampai nanti rakyat/ ummat
menuntutnya di dunia sementara mereka berlepas diri atas orang yang dipimpinnya
di akherat, sebagaimana penjelasan Allah dalam ayat dibawah ini ” Dan ingatlah
ketika mereka berbantah-bantahan dalam neraka, maka orang-orang yang lemah
berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri,”Sesungguhnya kami adalah
pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan dari kami sebagian azab
neraka ? ”. Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab, ”Sesungguhnya kita
semua sama-sama dalam neraka karena Allah telah menetapkan keputusan antara
hamba-hambamu” [40;47-48].
Jabatan apapun yang diemban oleh seorang hamba Allah,
disana ada peluang untuk berbuat dosa; manipulasi, korupsi, kolusi bahkan
tukang robek karcis di bioskoppun ada peluang untuk itu, apalagi Wali Nagari/
Lurah, Camat, Bupati, Gubernur, Anggota
Dewan, Menteri sampai Presiden, ini berpulang kepada pribadi manusianya. Siapa
yang tidak suka harta, semua orang suka bahkan Islam menyuruh kita mencarinya,
tapi raihlah dengan cara yang halal.
Kami sebagai rakyat kecil, orang awam di negeri ini
mengharapkan kepada semua pihak, siapapun calonnya, dari golongan manapun, bagi
kami tidak jadi soal, tapi satu permintaan kami kepada penguasa yang terpilih
adalah orang yang memiliki citra diri yang baik dengan visi untuk mensejahterakan
rakyatnya, bila tidak maka kekuasaan itu akan direnggutkan kembali oleh Allah
melalui tangan-tangan manusia, wallahu a'lam [Cubadak Solok, Ramadhan 1431.H/
Agustus 2010.M]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar