Selasa, 24 November 2015

23. Andai Aku Tahu Bodoh dan Lemah itu Berdosa



Islam mewajibkan kepada pemeluknya untuk menuntut ilmu  tanpa membedakan ilmu agama dan ilmu umum lainnya karena semua ilmu itu berasal dari Allah yang harus dipelajari. Kewajiban ini disabdakan oleh Rasulullah,”Mencari ilmu itu wajib bagi setiap orang islam laki-laki dan perempuan”.Dalam hadits lain Rasulullah menyampaikan sabdanya yang diriwayatkan oleh Ibnu Adi dan Baihaqi,”Carilah ilmu itu walaupun sampai ke negeri Cina”.

Dengan ilmu pengetahuan peradaban manusia akan maju dan ilmu pula yang membedakan antara manusia satu dengan lainnya sebagaimana surat Mujadalah 58;11 menyatakan;"......... Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan".

Rasulullah bersabda bahwa untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akherat haruslah dengan ilmu; "Barangsiapa yang menghendaki kehidupan sukses di dunia maka ia harus berilmu, siapa saja yang menghendaki kehidupan bahagia di akherat maka ia harus berilmu, dan siapa saja yang menghendaki akan kebahagiaan keduanya maka juga ia harus mendapatkannya dengan ilmu" .

            Menuntut ilmu itu wajib hukumnya sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah; "Menuntut ilmu itu adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim baik laki-laki dan perempuan"."Tuntutlah ilmu itu sejak masih dalam ayunan hingga ke liang lahat".

            Untuk ilmu agama, khususnya yang berkaitan dengan prinsip-prinsip Islam seperti iman, ibadah dan akhlak maka setiap muslim wajib untuk mengetahui dan menguasainya, paling tidak untuk kepentingan pribadi. Tapi kenyataan yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, banyak sekali ummat islam yang tidak tahu dengan hal-hal itu sehingga dalam keimanan mereka cendrung untuk bersikap dan berbuat syirik, dalam ibadah cendrung mereka hanya ikut-ikutan ibadah yang penuh dengan bid'ah, demikian pula dengan akhlak, sangat ironi dan menyedihkan, banyak sekali prilaku yang ditampilkan tidak mencerminkan akhlakul karimah. Padahal mereka banyak juga yang berpendidikan hingga sarjana, tapi  enggan untuk belajar islam, selain memang banyak faktor yang menyebabkan mereka untuk tidak tertarik bicara tentang islam sehingga dapat dipastikan jangankan untuk hal-hal yang lebih jauh lagi tentang ilmu keislaman seperti ekonomi, pendidikan, politik dan teknologi sedangkan yang ringan-ringan saja tidak dikuasai.

            Ketentuan untuk mendapatkan karunia dari Allah harus diupayakan dengan kegiatan menuntut ilmu sehingga dengan mudah kefahaman akan diberikan Allah kepadanya, "Nabi saw. bersabda, "Barangsiapa dikehendaki baik oleh Allah, maka ia dikaruniai kepahaman agama." Tidak ada ilmu yang datang sendirinya dengan tiba-tiba, semuanya itu dilakukan dengan belajar, bahkan dengan belajar saja belum tentu akan mendapatkan ilmu dan kefahaman, "Dan beliau saw. bersabda, "Sesungguhnya ilmu itu hanya diperoleh dengan belajar."

          Bagaimana musibah dan bencana tidak sering datang kepada kita di negeri ini karena ummatnya bodoh dengan ajaran islam, mereka hanya sibuk dengan ilmu dunia saja, hingga mengorbankan dana, tenaga dan waktunya untuk itu, tapi untuk  menuntut ilmu agama tidaklah begitu, bencana awal sudah hadir pada pribadi muslim, bila masing-masing dengan kualitas demikian dapat dipastikan bencana di masyarakat datang dengan bertubi-tubi.

              Kebodohan ummat saja mendatangkan bencana apalagi para ulamanya lemah dalam segala hal, lemah ekonomi, lemah semangat da'wahnya dan lemah keinginan untuk merubah ummat ini kearah yang lebih baik. Rasulullah bersabda, ”Sampaikan apa yang engkau peroleh dariku meskipun satu ayat”.

            Ceramah atau tabligh  bukanlah segala-galanya, dia merupakan bagian awal dari da’wah melalui fase-fase yang rapi, tidaklah disebut da’wah bila hanya mengandalkan ceramah atau tabligh saja,  seorang ulama seharusnya menguasai marhalah atau fase-fase dalam da’wah sehingga dalam waktu yang ditargetkan dapat melahirkan syakhsiyah islamiyyah yaitu pribadi islam yang militansinya dapat diandalkan untuk mengusung da’wah ini bersama jajaran ulama  lainnya sehingga julukan ummat terbaik akan diperoleh kelak;”Kamu adalah ummat  terbaik yang dikeluarkan dikalangan manusia, karena memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan mungkar, dan beriman kepada Allah”[Ali Imran 3;110].

            Suatu hari Anas bin Nadhar kacewa karena dia tidak ikut  dalam perang Badar, padahal saat itu kemenangan dipihak ummat islam, yang dia sesalkan bukan kemenangan itu, tapi dalam kemenangan itu tidak ada kontribusinya.

            Dari realitas keberhasilan da’wah islam itu, adakah keterlibatan kita sebagai mubaligh di dalamnya atau hanya kita sibuk dengan ceramah tanpa melakukan pembinaan, da’wah bukanlah ceramah saja tapi adalah pembinaan walaupun didalamnya tidak bisa dilepaskan metode ceramah.

            Da'wah membawa para da'i dan ulama kepada kehidupan Rabbany yaitu kehidupan yang penuh dengan nilai-nilai Ilahi, mereka tercelup pada kehidupan yang islami sehingga kehidupannya jauh dari hal-hal yang negatif dan tercela, mereka adalah orang-orang yang selalu mengajak orang kepada agama Allah dan mereka adalah orang-orang yang selalu mengajar melalui pembinaan terhadap mad'unya namun  tidak lupa belajar untuk kepentingan peningkatan kualitas diri dan keluarganya;" Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia Berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." akan tetapi (Dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, Karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya" [Ali Imran 3;79]

Yang dikatakan dengan Rabbani itu adalah orang yang selalu mengajar dan selalu secara terus menerus belajar Al Qur'an;

            Rasulullah bersabda"Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Al Qur'an dan mengajarinya" [HR. Bukhari dan Muslim]

            Orang yang hidup dalam naungan da'wah islamiyah hidupnya akan tentram, jauh dari gundah gulana apalagi stres sebagaimana yang difirman Allah dalam surat An Nahl 16;97"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan"

            Kebahagiaan hidup orang yang terlibat di da'wah terletak di hati, tidak akan dirasakan melainkan oleh orang-orang yang terliibat di dalamnya. Tapi realita yang kita lihat di masyarakat, banyak ulama yang lemah untuk menegakkan kebenaran, tidak berselera mengajak ummat melakukan kebaikan dan takut dalam memberantas kemungkaran.

Sejak dahulu hingga kini terlalu banyak ulama yang dapat membenahi kehidupan seseorang agar menjadi baik, dia memberi penerangan kepada orang lain sementara dia dalam kegelapan, ibarat lilin, terang orang di sekitarnya  tapi sang lilin terbakar, sibuk mengajak orang, diri dan keluarga terabaikan, ”Mengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebaikan, sedang kamu melupakan kewajiban sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab  [Taurat] ? Maka tidakkah kamu berfikir ?” [Al Baqarah 2;44].

Sekarang sangat sulit mencari orang yang dapat diteladani, baik orangtua, guru, ulama, politisi atau siapa sajalah, nampaknya keteladanan termasuk barang yang langka. Walaupun satu ketika dia menampakkan keteladanan, tapi semu nampaknya, hanya sebatas mencari simpati dari masyarakat. Inilah keteladanan yang menipu. Seorang sahabat menyatakan bahwa dia mengenal seseorang, maka Rasulullah menyatakan bahwa jangan mudah mengatakan kita kenal dengan seseorang sebelum nampak kepribadiannya dalam kehidupan sehari-hari. Pernahkah engkau jalan bersama dengannya, makan bersama dengannya dan tidur bersama dengannya. Sahabat itu menggelengkan kepala, berarti kamu tidaklah mengenalnya.

            Sekarang ulama bukan lagi tempat bertanya tapi dipertanyakan yang menyangkut persoalan pribadi; darimana asalnya, partai apa yang diperjuangkannya, apa golongannya, bagaimaan keadaan rumah tangganya dan persoalan lain yang tidak terlalu penting barangkali tapi ini prinsip bagi masyarakat. Bahkan ada sebuah masjid tidak akan mengundang sang ustdz, mubaligh, ulama dan kiyai untuk menyampaikan fatwanya sebelum mengetahui bagaimana komitmennya dalam da’wah. Apakah berda’wah hanya musiman dan menunggu undangan, berda’wah mengharapkan amplop dan sebagainya.

Pada hadits yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi dikatakan, ”Dari Ali bin Abi Thalib, telah bersabda Rasulullah  Saw, ”Hampir saja datang kepada manusia, suatu masa yang pada waktu itu; islam hanya tinggal namanya saja, Al Qur’an hanya tinggal tulisannya saja, masjid-masjid ramai dan megah, tetapi sunyi dari petunjuk Allah dan Rasul-Nya, ulama-ulama mereka adalah sejahat-jahat manusia yang ada dibawah kolong langit ini,dari mulut mereka keluar fitnah-fitnah, dan fitnah-finah tersebut akan kembali kepada mereka juga” [HR. Al Baihaqi].

            Ulama ini gambaran ulama yang jahat, karena ajaran-ajaran  mereka sudah jauh dari tuntutan Al Qur’an dan Sunnah. Dan ada juga ajaran mereka yang bisa membawa kepada kesesatan, hukum halal dan haram bagi mereka bisa ditetapkan menurut situasi dan kondisi, atau berdasarkan pesanan dan permintaan. Jadi hukum bisa berubah-ubah di tangan mereka, menurut kehendak hawa nafsunya atau menurut pesan sponsor.

Inilah fitnah-fitnah yang keluar dari mulut mereka dan akan kembali kepada mereka yaitu mereka suruh orang berbuat baik, tetapi mereka sendiri tidak melakukannya. Sebaliknya mereka larang orang berbuat mungkar, tapi mereka sendiri yang mengerjakan kemungkaran itu.

Bila sudah menyatu antara keduanya, yaitu bodohnya ummat dan lemahnya ulama maka dengan sendirinya akan mendatangkan fitnah, ujian, musibah dan bencana di negeri ini, wallahu a'lam, [Cubadak Solok, 8 Zulhijjah 1431.H/ 15 Nofember 2010.M]

Referensi;
1.HaditsArbain An Nawawi, SofyanEfendi, HaditsWeb 3.0,
2.
Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
3. Kumpulan Ceramah Praktis, Drs. Mukhlis Denros, 2009
4.1100 HaditsTerpilih, Dr. Muhammad FaizAlmath - GemaInsani Press




Tidak ada komentar:

Posting Komentar