Pada tubuh manusia terdapat beberapa unsur yang perlu
dijaga dengan baik, unsur itu adalah jasad atau fisik, aqal dan rohani.
Ketiganya harus dijaga agar tetap kehidupan itu berjalan serasi dan seimbang
atau tawazun. Diantara pemeliharaan ketawazunan ketiga unsur itu sebagaimana
yang penulis kutip secara ringkas dari tulisan chairil
A. Said pada tarbiyah@isnet.org
Manusia
(An-Naas) dan Dienul Islam (agama Islam) kedua-duanyamerupakan ciptaan Allah
yang sesuai dengan fitrah Allah.Mustahil Allah menciptakan Dienul Islam untuk
manusia yangtidak sesuai dengan fitrah itu. Didalam Al-Quran surah Ar-Ruumayat
30, Allah berfirman yang terjemahannya sbb: Maka
hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Dien yang hanif (Agama Allah); tetaplah
atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia dengan fitrah itu. Tidak ada
perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia
tidak mengetahuinya. Ayat ini menjelaskan pada kita bahwamanusia itu
diciptakan sesuai dengan fitrah Allah yaitumemiliki naluri beragama (agama
tauhid: Al-Islam) dan Allahmenghendaki manusia untuk tetap dalam fitrah itu.
Kalau adamanusia yang tidak beragama tauhid itu hanyalah karenapengaruh
lingkungan.
Sesuai
dengan fitrah Allah itu, manusia memiliki 3 dimensi,yaitu Al-jasad, Al-'Aqal,
dan Ar-Ruh. Islam menghendaki ketiga dimensi tersebut berada dalam keadaan
tawaazun(seimbang). Perintah untuk menegakkan neraca keseimbangan inidapat
dilihat pada Al-Quran Surat Ar-Rahman ayat 7 sampai 9.
Ke tiga
dimensi ini membutuhkan makanan (santapan). Al-jasadmemerlukan Al-ghiza
Al-jasadi.Al-'Aqal memerlukan Al-ghizaAl-'Aqli dan Ar-Ruh membutuhkan Al-ghiza
Ar-Ruhi. Rasa lapardari Al-Jasad lebih mudah terdeteksi daripada rasa lapar
Al-'Aqal. Dan rasa lapar Al-'Aqal lebih mudah terdeteksidibandingkan dengan
rasa lapar Ar-Ruh. Jadi rasa lapar Al-Jasad itu paling mudah terdeteksi,
sedangkan rasa lapar Ar-Ruhitu paling sulit untuk diketahui.
1.Al-GHIZA AL-JASAADI (SANTAPAN FISIK/JASAD).
Adapun
Al-ghiza Al-Jasadi (santapan fisik) itu terdiri dari Al-Tha'am (makanan padat),
As-Syiraab (makanan cair), An-Naum(tidur), Ar-Riyadhah (olah raga), Az-Zawaj
(sexual need) danAl-Libas (pakaian).
Islam
mengajarkan agar manusia memakan makanan yang halalanthayyiba. Hai manusia,
makanlah yang halal lagi baik.....(QSAl-Baqarah ayat 168). Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik
yang kami berikan kepadamu......(QS Al-Baqarah ayat 172). Persyaratan halal
sajabelumlah cukup. Selain halal kita dianjurkan memakan makananyang baik (yang
memiliki nutrisi yang baik yang tidak akanmenimbulkan mudharat terhadap
kesehatan kita).
Sedangkan
tentang An-Naum Allah menjelaskan dalam Al-QuranSurat Al-Qashas mulai dari ayat
71 sampai 73. Dan Karenarahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya
kamuberistirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebagiandari
karunia-Nya (pada siang hari).....QS Al-Qashas ayat 73.
Sehubungan
dengan Ar-Riyadhah Allah berfirman dalam surat Al-Anfaal ayat 60: Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka dengan
kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk
berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh-musuh Allah
......Kekuatan fisik dalambentuk kebugaran jasmani serta endurance yang tinggi
sangatdiperlukan untuk menghadapi musuh-musuh Allah.
Tentang
Az-Zawaj (sexual need) Allah berfirman dalam Surat An-Nuur ayat 24: Dan kawinlah orang-orang yang sendirian
diantara kamu, dan orang orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu
yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan........Adapun hukum
perkawinan ini dapat dilihatpada QS An-Nisaa' ayat 22 sampai 25.
Kebutuhan
akan pakaian (Al-Libas) Allah berfirman: Hai
anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah disetiap memasuki masjid, makan dan
minumlah dan janganlah berlebih-lebihan..... (QS AlA'raaf ayat 31). Hai anak Adam sesungguhnya Kami telah
menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk
perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik......(QS Al-A'raaf
ayat 26).
Kebutuhan
fisik ini secara internal harus dipenuhi secaraseimbang. Jangan sampai banyak
makan kurang olah raga (gerakfisik). Atau kurang makan banyak tidur. Atau
terlalu banyakolah raga sehingga kehilangan sexual desire sehingga
hubungansuami isteri menjadi tidak harmonis. Atau mengurangi makandemi pakaian
yang mahal/mewah dst. Pada dasarnya kebutuhanfisik ini harus dipenuhi dengan
seimbang dan kita dilaranguntuk berlebih-lebihan.[Tawaazun
(1)(Keseimbangan),isnet/128; Att: is-mod, is-lam, Dirancang oleh KTPDI,
1999-2005].
2. AL-GHIZA AL-'AQLI (SANTAPAN AKAL).
Al-'Aqal (akal) memerlukan santapan berupa Al-'Ilm (ilmu). Al-Ghazali membedakan 'ilmu ini kedalam 2 kelompok yaitu: Fardhu'Ain (wajib untuk semua orang) dan Fardhu Kifayah (wajibsampai ada orang yang menguasai ilmu tersebut). Jadi wajibkifayah ini artinya tidak semua orang wajib hukumnya untukmenguasai ilmu kedokteran, atau ilmu teknik, ilmu ekonomi dsb.
Yang termasuk kedalam kelompok fardhu 'ain adalah Al-maabaadiAl-Islamiyah (Prinsip-Prinsip Dasar Ajaran Islam). Prinsip-prinsip dasar ajaran Islam itu adalah: Syahadatain,Ma'rifatullah (merupakan tujuan), Ma'rifatur-rasul (merupakanikutan/teladan), Ma'rifatul Islam (merupakan jalan/path),Ma'rifatul Insan berupa risalatul insan (missi penciptaanmanusia) dan wazifatul insan (fungsi penciptaan manusia).
Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 138: ShibghahAllah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripadaAllah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah. Shibghah Allahartinya celupan Allah (beriman kepada Allah yang tidakdisertai kemusyrikan). Syhadatain ialah persaksian Allah yangtersebut dalam Taurat dan Injil bahwa Ibrahim a.s dan anakcucunya bukan penganut agama Yahudi atau Nasrani dan bahwaAllah akan mengutus Muhammad s.a.w.
Ma'rifatullah, berupa tujuan hidup kita hanyalah untuk Allah.Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku danmatiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam... (QS AlAn'aam ayat 162). Kita wajib memiliki pengetahuan bahwaseluruh perbuatan kita, hidup dan mati kita hanyalah untukAllah semata.
Ma'rifatur-rasul, merupakan ikutan/suri tauladan yang baik.Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladanyang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap rahmatAllah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebutAllah....(QS Al-Ahzaab ayat 21). Setiap muslim/muslimah harusmemiliki pengetahuan bagaimana Muhammad s.a.w, melakukanshalat, puasa, zakat, dan ibadah lainnya serta seluruhperilaku beliau untuk diteladani.
Ma'rifatul Islam, berupa jalan (path) untuk mencapai tujuan(ma'rifatullah). Sesungguhnya agama yang diridhai di sisiAllah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telahdiberi Al Kitab, kecuali sudah datang pengetahuan pada mereka,karena kedengkian yang ada diantara mereka. Barangsiapa yangkafir terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangatcepat hisabnya. (QS Ali 'Imran ayat 19). Dialah yang telahmengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) danagama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama,walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya (QS At-Taubahayat 33). Wajib bagi setiap muslim/muslimah untuk mempelajariAl-Islam, karena hanya Islam-lah agama yang diridhai Allah.
Ma'rifatul Insaan, dibagi kedalam dua bagian, yaitu: risalatulinsan dan wazifatul insan. Risalatul insan artinya missipenciptaan manusia yaitu hanya untuk menyembah Allah. Dan Akutidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya merekamenyembah-Ku/mangabdi kepada Allah....(QS Adz Dzaariyaat ayat56). Sedangkan wazifatul insan (fungsi penciptaan manusia)adalah untuk dijadikan khalifah dimuka bumi.......SesungguhnyaAku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi......(QSAl-Baqarah ayat 30).
Sama halnya dengan santapan jasad, maka santapan akalpunsecara internal harus seimbang. Jangan sampai ma'rifatullahsaja tanpa ma'rifatur-rasul sehingga sembahyang, puasa, zakat,hidup dan mati dengan cara semaunya sendiri. Atau ma'rifatulIslam saja tanpa ma'rifatur-rasul, sehingga menjadi inkarus-sunnah. Atau wazifatul insan saja sehingga kerjanya setiaphari hanya shalat saja di masjid sampai keluarga terlantardst. [Tawaazun (2) (Keseimbangan), isnet/132; Att: is-mod, is-lam Dirancang oleh KTPDI, 1999-2005].
3.AL-GHIZA AR-RUUHI (SANTAPAN ROHANI)
Karena laparnya Ar-ruuh ini susah terdeteksi, maka seringterjadi kelaparan ruh ini sudah sangat parah yaitu disaatterjadinya keguncangan spritual.
Adapun santapan ruh ini adalah zikir. Allah berfirman dalamSurat Thaha ayat 14: Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidakada Tuhan selain Aku, maka sembahlah aku dan dirikanlah shalatuntuk mengingat-Ku. Pada ayat ini dijelaskan bahwa shalatmerupakan salah satu cara untuk zikrullah (mengingat Allah).Selanjutnya pada Surat Al-Anfaal ayat 2, Allah berfirman:Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yangapabila disebut Allah gemetarlah hati mereka, dan apabiladibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah imanmereka dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakkal. Ayat inimenjelaskan tingginya sensitifitas ruh orang yang beriman;hatinya akan gemetar bila mendengar sifat-sifat yangmengagungkan Allah dan imannya bertambah bila mendengar ayat-ayat Allah. Dalam Surat Ar Ra'd ayat 28 Allah berfirman:Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteramdengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingatiAllah-lah hati menjadi tenteram.
Dalam berzikir kita kenal istilah zikrul-lisaani dan zikrul-qalbi, yaitu zikir secara lisan yang diikuti oleh hati(kalbu). Dari ketiga ayat diatas, terlihat dengan jelas bahwamengingat Allah (zikrullah) itu bisa dilakukan dengan shalatyang khusyu', dengan mengingat sifat-sifat keagungan Allah,dengan membaca ayat-ayat Al-Quran, secara lisan dan diikutioleh qalbu (hati). Hasil yang diperoleh dari mengingat Allahini adalah (tathmainul qulubu) hati yang tenteram, yaitu hatiyang bersyukur disaat menerima rahmat Allah dan hati yangbersabar disaat menghadapi musibah.
Ke tiga dimensi (Al-Jasad, Al-Aqal, Ar-Ruhi) harus seimbangdalam pengertian harus diberi santapan secara seimbang. Jikakita hanya memberikan santapan fisik saja, tanpa santapan akaldan ruh, maka kita hanya memuaskan kehendak fisik/jasad, tapiserta spritualitas yang sangat kering, sehingga hatipun tidak
tenteram. Begitu juga halnya jika terlalu berat pada pemberiansantapan akal saja, tanpa memperhatikan fisik dan ruh, makamanusia itu ibarat orang yang memiliki pengetahuan, tapijasadnya sakit-sakitan dan hatipun tidak tenteram. Apalagikalau ilmu yang diperoleh tanpa Al-maabaadi Al-Islamiyah,manusia yang demikian tidak tahu tujuan hidup, tidak tahusiapa yang harus diteladani, tidak tahu apa yang harusdipedomani, serta tidak tahu apa missi dan fungsi manusia inidiciptakan.
Sebaliknya jika hanya dimensi Ruh saja yang diperhatikan,tanpa memberikan makanan fisik, dan akal berupa ilmu, terutamaAl-maabaadi Al-Islamiyah, maka cara berzikirpun kehilanganpedoman sehingga lahirlah aliran Sufi (tanda petik).Rasullullah S.A.W bukan lagi menjadi teladan dalam bersufi,ma'rifatul Islam bukan lagi menjadi petunjuk/jalan dalambersufi, ma'rifatullah bukan lagi menjadi tujuan dalambersufi, dan ma'rifatul insanpun tidak diketahui sebagai missidan fungsi manusia dimuka bumi dalam bersufi. Ini mungkin yang disebut sufi yang nyeleneh[Tawaazun (3)(Keseimbangan) isnet/136; Att: is-mod, is-lam,tarbiyah@isnet.org].
Tawazun akan menyelamatkan manusia dari kerusakan karena segala sesuatu yang dilakukan dengan cara berlebih-lebihan akan merusak pribadi, apakah sesuatu itu yang baik apalagi syubhat dan negative. Satu ketika datanglah seorang isteri kepada Rasulullah menceritakan suaminya yang selalu sibuk dengan ibadah dan melupakan keluarganya, maka Rasul menegur sahabat tersebut agar ibadah yang dilakukan tidak meninggalkan keluarga. Umar bin Khattab ketika berjalan ke Masjid saat hari sudah siang, dia melihat seorang lelaki sedang tenggelam dengan doa dan ibadah dalam masjid, Umar memerintahkan lelaki itu untuk keluar dari masjid untuk mencari rezeki karena waktunya untuk beribadah dalam bentuk mencari nafkah.
Begitulah makna tawazun dalam islam, yaitu menyeimbangkan kepentingan keluarga dengan kepentinga lain, mementingkan kepentingan akherat dengan tidak melupakan dunia. Sheik Yusuf Qardawi menyebutkan kepentingan akherat dengan tidak melupakan dunia bahkan seharusnya karena pentingnya akherat maka terhadap hasrat biologis kita bersifat iffah, tidak memperturutkannya lebih baik bagi kepentingan akherat.
Betapa banyaknya manusia yang
tergelincir ke lembah kehinaan, akibat tidak dapat menjaga nafsu perut dan
kemaluan. Mereka menjadi budak perut dan kemaluannya. Mereka dikatakan sebagai
binatang ternak oleh al-Qur'an, karena hidupnya hanyalah mengikuti hawa nafsu
yang bersumber dari perut dan kemaluannya.
Manusia yang sabar dan dapat
menahan diri dari syahwat perut dan kemaluan disebut dengan iffah. Manusia yang
memiliki iffah, dan sabar atas segala bentuk syahwat, terutama yang berasal
dari syahwat perut dan kemaluan akan menjadi manusia yang memiliki iffah yang
tinggi, sehingga Allah akan selalu menjaganya, dan diselamatkan dari segala
kehinaan di dunia dan akhirat.
Manusia yang sudah menjadi
budak syahwat perut dan kemaluan itu, dia akan kehilangan rasa malunya, dan
tidak lagi sensitif terhadap perbuatannya, serta membiarkan dirinya
bergelimangan dengan dosa. Rasa iffah menjadi sirna dan pupus, tak ada lagi
yang tersisa dalam dirinya. Kebaikan yang tersisa di dalam dirinya punah
seketika, dan selalu bangga dengan dosa dan kedurhakaannya yang dilakukannya
terhadap Allah Azza Wa Jalla. Semuanya itu merupakan buah dari sifatnya yang
sudah dikendalikan oleh syahwat perut dan kemaluan.
Manusia yang sudah
dikendalikan hawa nafsunya akan selalu berkeluh kesah, yaitu dengan
meperturutkan hawa hafsunya, dan terkadang dengan melepaskan amarahnya dengan
suara yang tinggi. Ini repleksi dari amarah dan nafsu yang sudah tidak
terkendeali lagi oleh orang-orang yang sudah dikendalikan hawa nafsunya.
Terkadang berbuat melanggar batas-batas yang sudah ditentukan oleh Allah
Ta'ala, dan berbuat dengan kianat, serta membabi buta, dan kehilangan kontrol
atas dirinya.
Dalam kehidupan yang paling
berat bagi manusia, terutama yang dibutuhkan kesabaran, saat manusia itu dalam
kondisi kecukupan secara materi. Manusia yang tercukupi secara materi sangat
berat mengendalikan hawa nafsunya. Karena yang sering terjadi ialah manusia
yang tercukupi secara materi dengan sangat mudah ditundukan oleh syahwat perut
dan kemaluan. Orang-orang yang secara materi kecukupan akan selalu terdorong
melalukan perbuatan maksiat. Menjadi lupa diri. Banyaknya materi yang dimiliki
itu, sering membuat orang menjadi tidak sabar. Kemudian terjungkal ke dalam
perbuatan yang durhaka kepada Allah.[Sheik
Yusuf Qardawi,Bersikap Iffahlah Terhadap Perut dan Kemaluan,Eramuslim.com.Selasa,
12/04/2011 10:04 WIB].
Pada satu kesempatan sahabat
datang ke rumah Rasulullah, didapati di rumah itu Rasul sedang shalat, maka
diterimalah oleh isteri beliau, Aisyah menceritakan bagaimana luar biasanya
ibadah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad, sehingga muncul dari fikiran sahabat
sekian ide, ada yang mengatakan mereka akan shalat tahajud sepanjang malam,
tidak akan tidur semalam suntuk, ada yang ingin puasa terus menerus, tidak akan
sahur dan tidak akan berbuka, ada yang ingin hidup membujang, tidak akan
menikah selamanya. Mendengar itu, Rasulullah keluar dari kamarnya lalu
bersabda,”Aku adalah orang yang paling bertaqwa diantara kalian, aku shalat
tapi ada juga waktu istirahat, aku puasa tapi ada waktu untuk berbuka dan sahur,
akupun punya sekian isteri”.
Begitu yang disampaikan oleh
Rasulullah untuk meneladani tawazun bagi ummatnya, bahkan puasa juga menanamkan
sikap tawazun dalam hidup.Sungguh jelas, berpuasa akan membawa kesimbangan
jasmani dan rohani dalam tubuh manusia. Selain kedua hal tadi, puasa juga
membawa keseimbangan sosial.
Demikian diungkapkan Menteri
Sosial RI, Salim Assegaf Al-jufri, saat memberi sambutan dalam acara “Berbagi
Bersama Sahabat” Republika, di Masjid At-Tin, Ahad (7/8).
Dikatakan Menteri, dalam surat
Ar-rahman, langit ditinggikan dan diletakan disisi keseimbangan. “Karena itu,
jarak Matahari dan Bumi seimbangan. Kalau dekat kepanasan kita, kalau jauh
kedinginan kita,” kata dia.
Contoh lain kesimbangan,
berada dalam diri kita, seperti darah dan suhu tubuh manusia. Kemudian, cara
kita berjalan pun seimbang. Kalau berdiri terus. Jadi, Allah menciptakan
kehidupan secara seimbang. “Banyak contoh lain, semua sempurna dan seimbang,”
kata dia.
Puasa ini, ungkap menteri,
mengembalikan keseimbangan dalam diri manusia. Keseimbangan yang hilang selama
11 bulan sebelumnya. Begitu luarbiasanya puasa, kata dia, sahabat bahkan
berharap kepada Rasullah SAW agar berpuasa dilakukan sepanjang tahun.
“Maka dari itu, selayaknya
bulan puasa ini dimanfaatkan secara optimal guna mencapai keseimbangan itu,”
pungkas dia. [Mensos: Hidup Diciptakan
Seimbang dan Ramadhan Kembalikan Kesimbangan Itu,dakwatuna.com8/8/2011 | 09 Ramadhan 1432
H].
Hidup yang seimbang, selain menyehatkan fisik, aqal dan rohani juga merupakan sunnah yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw, kehidupan yang baik dan sempurna juga harus dilakukan dengan seimbang, kepentingan dunia dikerjakan secara maksimal dengan tidak mengabaikan akherat, hiduplah secara seimbang niscaya hidup akan baik, Wallahu A’lam [Kampani Pariaman, 26 Syawal 11432.H/ 24 September 2011.M].
oleh Rasulullah Saw, kehidupan yang baik dan sempurna juga harus dilakukan dengan seimbang, kepentingan dunia dikerjakan secara maksimal dengan tidak mengabaikan akherat, hiduplah secara seimbang niscaya hidup akan baik, Wallahu A’lam [Kampani Pariaman, 26 Syawal 11432.H/ 24 September 2011.M].
dunia dikerjakan secara maksimal dengan tidak mengabaikan akherat, hiduplah secara seimbang niscaya hidup akan baik, Wallahu A’lam [Kampani Pariaman, 26 Syawal 11432.H/ 24 September 2011.M].
akan baik, Wallahu A’lam [Kampani Pariaman, 26 Syawal 11432.H/ 24 September 2011.M].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar