Keharmonisanhidupdalammasyarakatdenganmengamalannilai-nilaiislamsangatdituntutdalam
demi terujudnyamasyarakatMadaniyaitumasyarakat yang berbudaya, beraqidahtauhid,
berbudipekerti yang baikdanberamal yang
shaleh, semuaituhasildaripekerjaanbesar yang
dilakukanolehRasulullahmelaluida'wah yang
kemudianakanberlanjutterushinggaakhirzamanmelaluilisanparaulamadanda'i,
apakemaksiatandankemungkaranterlalubanyakhadir di duniainisehinggasemuaelemensepertiparapemimpin,
orang yang punyakekuasaandanwewenanguntuktampilmemerangikemungkaranitu,
demikian pula halnyalebih optimal
lagidilakukanolehparamubalighdanda'imelaluinasehatdanpetuahnyadarisatumimbarkemimbarlainnya,
sedangmasyarakatluas yang tidakpunyakekuasaan,
tidakbisamenyampaikannasehatkepadaummatini,
makamerekaharusmembencikemungkaranitumelaluihatinyadanberdoa agar
kemungkaranitusirna.
Dari Abu Sa’id
Al-Khudrirodhiallohu ‘anhudiaberkata: AkumendengarRosulullohsholallahu
‘alaihiwasallambersabda: “Barangsiapa di antara kalian
melihatsuatukemungkaranhendaklahiamengubahdengantangannya; jikatidakmampu,
makadenganlisannya; jikaiamasihtidakmampu,
makadenganhatinyadanituadalahselemah-lemahnyaiman.” (HR. Muslim)
Kemungkaranadalahsemua yang dinilaijelekolehsyariat,
yaitu yang hukumnya haram.Kemungkaran yang diubahadalah yang terlihatmataatau
yang sejajardengankedudukanmata,
danmengubahnyaketikamelihatkemungkarantersebut.Kemungkaran yang
tidakterlihatmatatapidiketahuimasukdalampembahasannasihat.Dan yang diubahadalahkemungkarannya.Adapunpelakunyamakamasalahtersendiri.
"Hendaklahkamuberamarma'ruf
(menyuruhberbuatbaik) danbernahimungkar (melarangberbuatjahat).Kalautidak, maka
Allah akanmenguasakanatasmu orang-orang yang paling jahat di antarakamu,
kemudian orang-orang yang baik-baik di
antarakamuberdo'adantidakdikabulkan" (do'amereka). (HR. Abu Zar)
"Wahaisegenapmanusia, menyerulahkepada yang
ma'rufdancegahlahdari yang mungkarsebelumkamuberdo'akepada Allah
dantidakdikabulkansertasebelumkamumemohonampunandantidakdiampuni.Amar
ma'ruftidakmendekatkanajal.SesungguhnyapararobiYahudidanrahibNasraniketikamerekameninggalkanamarma'rufdannahimungkar,
dilaknatoleh Allah
melaluiucapannabi-nabimereka.Merekajugaditimpabencanadanmalapetaka"
(HR. Ath-Thabrani)
"Masihtetapadadarisegolonganumatku yang
menegakkanperintah Allah.Tidakmenghambatdantidakmengecewakanmereka orang-orang
yang menentangnyasampaitibakeputusan Allah.Merekamasihtetapkonsisten (mantap /
teguh) baikdalamsikapmaupunpendiriannya"(HR. Bukharidan Muslim)
"Jihad paling afdholialahmenyampaikanperkataan
yang adil di hadapanpenguasa yang zalimdankejam."(HR.
AththusidanAshhabussunan)
Mengubahkemungkarantidaksamadenganmenghilangkankemungkaran.
Olehkarenaitutelahdikatakanmengubahkemungkaranjikatelahmengingkarinyadenganlisannyaatauhatinya,
walaupuntidakmenghilangkankemungkaranitudengantangannya.
Batasankewajibanmengubahkemungkaranterikatdengankemampuanataudugaankuat.Artinya,
jikaseorangmemilikikemampuanuntukmenghilangkankemungkarandengantanganmakawajibuntukmenghilangkandengantangannya.Demikianjugajikadidugakuatpengingkarandenganlisanakanberfaedahmakawajibmengingkaridenganlisannya.
Adapunpengingkarandenganhatimakawajibbagisemuanya,
karenasetiapmuslimpastimampuuntukmengingkaridenganhatinya.
Mengingkaridenganhatinyayaitu, meyakinikeharamankemungkaran yang
dialihatdanmembencinya.
Namunbilakemungkaransudahmenjadirahasiaumum,
merebakdimana-manasehinggaperbutanmaksiat,
perbuatankejidansebangsanyatidakadatempat
yang kosongselainadadisitumakatunggusajalahhancurnyanegeriitudalamwaktu
yang tidakterlalu lama,
apalagiusahauntukmemperbaikinyamelaluida'wahtidakdikerjakanmakaakanberakhirsemuanyadengankehancuran.
Tugas da’wah itu beruntun terus, secara estafet dari masa
ke masa, dari zaman ke zaman, dimana ada orang islam, dimana seseorang telah
menjadi muslim, ia harus berda’wah dan beramar ma’ruf dan bernahi mungkar,
sejak dari rasulullah hingga para ulama sekarang ini.
Para ulamalah yang menerima amanat, atau memikul amanat
dari Allah dan Rasulullah untuk melanjutkan da’wah dengan mengembangkan islam
melalui ilmunya. Orang lain berda’wah dengan hartanya, dengan tenaganya, dengan
buah fikirannya tetapi para ulama adalah orang yang berda’wah dengan ilmu,
harta, tenaga, fikiran, jiwa dan raganya;”Sesungguhnya
orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan
rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan
jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar imannya”
[Al Hujurat 49;15].
Rasulullah bersabda, ”Ulama-ulama
ummatku adalah sama derajatnya dengan nabi-nabi Bani Israil”. Jika
ditakdirkan hadits ini shahih, maka sesuailah artinya dengan maksud hadits yang
menyatakan, ”Ulama itu adalah pewaris
nabi”, bila dikatakan bahwa ulama itu pewaris para nabi maka yang diwarisinya
adalah ilmunya. Bila ilmunya ulama adalah ilmunya para nabi maka tanggungjawab
para nabi pada umumnya adalah amar ma’ruf nahi mungkar kepada siapapun.
Tugas seorang ulama, kiyai, ustdz, da’i dan juru da’wah
atau mubaligh tidaklah ringan karena dia
sebagai obor dan teladan, tempat bertanya ummat dari segala persoalan dan
tempat bersandar dari kebimbangan, dia ibarat sang dokter. Walaupun demikian,
Allah memberi tugas berat kepada siapa saja yang telah menyandang predikat
muslim dan da’i untuk meluruskan pandangan ummat agar berberak bersama islam
dan berjalan menuju jalan Allah, dalam surat An Nahl 16;125 diterangkan;”Ajaklah manusia itu ke jalan Tuhanmu
dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta beragumentasilah dengan mereka
dengan cara yang baik pula”.
Rasulullah
menegaskan kepada ummatnya, ”Sampaikanlah
apa yang telah anda terima dariku meskipun hanya satu ayat”. Ini
menunjukkan betapa pentingnya da’wah demi keselamatan hidup manusia di dunia
hingga akherat. Bahkan seorang syaikh bernama Dr. Musthafa Mashur menyatakan, ”Nahnu Du’at qabla kulli syai’” artinya kami
adalah da’i sebelum menjadi sesuatu apapun.
Target da’wah secara umum yaitu terciptanya fardhul
muslim, pribadi-pribadi yang komit dengan nilai-nilai islam serta siap untuk
memperjuangkan kebenaran ini. Mereka adalah pribadi yang ”Salamatul fikrah” yaitu
pemikiran yang tidak terkontaminasi oleh isme yang jahiliyyah. ”Shahihul ibadah” yaitu ibadah yang
hanya mengacu kepada sunnah Rasulullah,
”Salimul Aqidah” artinya aqidah yang bersih dari syirik, nifaq dan fasiq,
dan ”Mathinul Khuluq” yaitu akhlak
yang solid yang menjadikan Rasulullah sebagai teladannya.
Apa jadinya kelak bila tidak lagi ada orang yang mengajak
kepada yang ma'ruf dan tidak lagi melarang perbuatan mungkar, otomatis da'wah
telah ditinggalkan maka kecelakaan dan kehancuran akan terjadi seiring dengan
bencana yang datangnya secara tiba-tiba. Banyak hal yang menyebabkan sang da'i
meninggalkan da'wah diantaranya syaitan, penguasa yang zhalim, kekuatan kafir
serta isme-isme lainnya, DR. Daud Rasyid dalam tulisannya Musuh dan Tantangan
Dakwah [Ciber Sabili, Selasa, 13 Juli 2010 05:43 menyatakan tentang peranan besar syaitan
untuk mengajak dai meninggalkan pekerjaan mulia ini. jika konsep sebuah da`wah
seperti yang diukir oleh Rasulullah saw. dipastikan akan menghadapi berbagai
sandungan, mulai dari kerikil kecil, hingga tembok beton. Andaikan da`wah
Rasulullah saw dahulu hanya sekadar mengajarkan pembersihan jiwa kepada kaum
Quraisy, niscaya tak akan ditentang oleh Abu Lahab, Abu Jahal dan
sekutu-sekutunya. Namunkarenada`wah
yang dibawaNabi saw itumengandungmaknaperombakantatanan,
penghancuranideologidanmembangunsistembaru,
sehinggakafirQuraisymati-matianmenghadangda`wahitu. Hal initidakhanyaberlakuuntukseorangNabi
Muhammad saw. saja, tetapitetapberlakubagisetiap orang yang mengikutijejaknya.
Musuhbebuyutanda`wahdanda`i
yang paling
terdepanadalahsyaitan.Syaitanadalahmusuhlegendarisummatmanusiasejakzaman Adam
a.s. Syaitantelahbersumpahkepada Allah swt. akanmenyesatkansemuamanusia,
kecualihamba Allah yang beriman. Namun orang
berimansekalipuntakpernahluputdarisasaransyaitan.Pengecualianituhanyakarenadisebabkanketidakmampuansyaitanmenaklukkankelompoktersebut.Dalamkonteksda`wah,
syaitantampilsebagaipenggodaatasda`iuntukmenggagalkanda`wahnya.Berbagaicara
yang dilakukanolehsyaitan, di antaranya: melemahkandanmementahkansemangat sang
da`I agar iatidakbersungguh-sungguhdalammisinya.
Kadangkalaterlintasdalampikiranda`I, da`wahiniberjalansudahsekian lama, namuntidakadaperubahanberartidalamkehidupanmasyarakat.
Sehingga yang
munculberikutnyaadalahkeputusasaan, pessimisme, danfutur.Bentuk lain
penggagalanda`wahsampaipadamengotorikeikhlasanniatparada`i.
Ketikada`wahdiawalidenganmotivasi yang tidaklillahita`ala, makaujungdarida`wahitusudahdapatdiperhitungkan
(kegagalan).Bahkanketikasebuahda`wahmengalamikesuksesan, syaitantidaktinggal
diam. Iamengatakankepadasida`I, keberhasilaninisemuaadalahkarenakecerdasanmu,
kepiawaianmudansegalakehebatan sang da`Idisebutnyasatupersatu.
Syaitanjugaseringmenggunakansiasatpecahbelah.Sebuahorganisasida`wahseringmengalamiperpecahan,
karenaperbedaanpandanganantarasesamaaktifisnya.
Dalamkasussepertiini,
syaitanmenghasutmereka, danmenanamkankecurigaanantarasatudenganlainnya,
sehingga rasa persaudaraandankeakrabanparapendukungda`wahmulailunturdanpadasaatnyaterputus.Untukmengantisipasihal-halsepertiinilah,
da`i yang berpengalaman, menanamkankepadamad`uw-nya (obyekda`wah)
semangatmahabbah (cintasesama), sikapketerbukaan/transparansi, dan rasa percayapadasesamasaudara.Inisemuamerupakanpilar-pilarpentinguntukmengkandaskanusahasyaitandalammelakukanpecahbelah.
Walaupunbagaimanatantangandakwah yang
dihadapiseorangda'i,
makaseharusnyadiatidakakanmundurdarigelangganginikalaumenghendakiduniaini
paling tidaknegerinyalepasdaribencana, Allah tidakmengukurhasil yang
dilakukanseseorangtapiperjuanganuntukitu yang
menjadikannyaterlepasdaribencanadanmusibah, Wa Allahu a’lam [Cubadak Solok, 4 Zulhijjah
1431.H/ 11 Nofember 2010.M]
Referensi;
1.DrDaudRasyid,
Musuh dan Tantangan Dakwah , Ciber Sabili, Selasa, 13
Juli 2010 05:43
2.Ringkasan Syarah Arba’in An-Nawawi - Syaikh Shalih Alu
Syaikh Hafizhohulloh - http://muslim.or.id Penyusun: Ustadz Abu Isa Abdulloh bin Salam (Staf
Pengajar Ma’had Ihyaus Sunnah, Tasikmalaya)
3. Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
4. Kumpulan Ceramah Praktis, Drs. Mukhlis Denros, 2009
5.1100
HaditsTerpilih, Dr. Muhammad FaizAlmath - GemaInsani Press

Tidak ada komentar:
Posting Komentar