Senin, 30 November 2015

91. Andai Aku Tahu Tawakal Berpahala



Yang dimaksud dengan tawakal adalah pengerahan segala potensi untuk mencapai tujuan dengan kerjakeras sebagai ikhtiar kemudian diiringi dengan do’a, sedangkan hasilnya diserahkan kepada keputusan Allah. Tawakal merupakan bagian penting bagi keimanan seseorang, bahkan ciri khas seorang mukmin itu diantaranya adalah bertawakal kepada Allah sebagai yang diungkapkan dalam firman Allah berikut ini;
Sesungguhnya orang-orang yang beriman  ialah mereka yang bila disebut nama Allah. gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan Hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka.Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia’’[Al Anfal 8;2-4]

Manusia sebagai makhluk yang serba terbatas, hanya mampu berusaha dan berdo’a sedangkan hasilnya diserahkan kepada Allah Swt. Inilah yang dimaksud dengan tawakal artinya menyerahkan segala ikhtiar kepada ketentuan-Nya. Satu ketika datanglah seorang sahabat kepada Rasulullah, lalu beliau menanyakan prihal kedatangan sahabat tersebut.  Dia datang dengan mengendarai ontanya dan onta itu dilepaskan demikian saja diluar tanpa diikat, katanya,”Saya tawakal kepada Allah”,mendengar jawaban demikian lalu Rasulullah menyatakan bahwa sikap demikian itu bukanlah tawakal,”ikat dahulu ontamu, lalu tawakallah”.

Nampak dari dialok Rasulullah diatas menggambarkan bahwa usaha didahulukan kemudian barulah bertawakal, itu adalah teknik di lapangannya, sedangkan ketaqwaan sahabat tadi sudah tertanam sejak lama yang diiringi dengan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya. Masalah berhasil atau tidaknya usaha yang dilakukan seorang mukmin bukan tanggungjawabnya bila dia sudah mengerjakan semaksimal dan seoptimal mungkin dengan kata lain semuanya dilakukan dengan semangat mujahadah. Allah berfirman dalam surat Ali Imran 3;159

”Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu, Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”

            Dari Umar bin Khatthab, ”Saya pernah mendengar Rasulullah saw bersabda,”Andaikata kamu benar-benar bertawakal kepada Allah,niscaya Allah akan memberi rezeki kepadamu, sebagaimana dia memberi rezeki kepada burung yang keluar diwaktu pagi dengan perut kosong dan kembali diwaktu sore dengan perut kenyang’[HR.Turmuzi].

            Selama ini kita menghitungnya secara terbalik, dalam mencari rezeki dan rahmat Allah  kita mendahulukan usaha dahulu kemudian baru tawakal, seharusnya mendahulukan tawakal barulah mendapatkan sesuatu balasan. Keimananlah yang akan menuntun seseorang untuk tawakal dalam seluruh asfek kehidupannya, walaupun sarana dan upaya sudah dilakukan bila tidak ada tawakal yaitu menyerahkan segala hasil usaha kepada Allah maka tidak akan mendatangkan keberhasilan. Termasuk dalam upaya untuk merubah nasib pribadi, masyarakat, ummat  dan bangsa tidak lepas dari tawakal kepada Allah. Dalam surat Ar Ra’du 13;11, Allah berfirman;
”Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Telaah para mufasir klasik tentang penggalan ayat itu mengungkapkan bahwa  sesungguhnya "Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum" dari keadaan baik (positif)-seperti telah ditetapkan-Nya-menjadi buruk (negatif). Perkara keadaan kaum itu kemudian menjadi buruk, tentu itu karena kelancangan kaum itu sendiri.

Dalam at-Tafsir al-Muyassar, Dr 'Aidh al-Qarni, seperti juga M Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah, diuraikan bahwa rahmat, hidayah, dan anugerah dari Tuhan yang semula serba baik (positif), telah diubah menjadi buruk (negatif) oleh suatu kaum. Tuhan konsisten tidak mengubah nikmat yang diberikan kepada suatu kaum, tetapi kaum itu sendiri yang mengubahnya menjadi niqmat (bencana). 

      Untuk kasus bangsa kita, misalnya, siapa berani mengatakan bahwa surga dunia ciptaan Tuhan yang bernama Indonesia, yang subur makmur tiada terkira ini, sekarang berubah menjadi berantakan begini bukan karena ulah tangan bangsa Indonesia sendiri?

Kita mengubah anugerah dan nikmat Tuhan menjadi bencana dan laknat.Tuhan memberi kita kesyukuran dan kita membalasnya dengan kekufuran. Tuhan menanamkan iman ke lubuk hati hamba-Nya, kita malah asyik menyekutukan-Nya dengan berhala-berhala hiburan, politik, dan ekonomi.[EH Kartanegara ,Mengubah Nasib, Repbulika.co.id.Friday, 25 March 2011 08:15 WIB].

Orang yang mau berusaha  mencari rezeki disertai tawakal kepada Allah, maka Allah akan memberikan rezeki kepadanya, sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung-burung yang keluar pagi dengan perut lapar dan sore hari pulang dengan kenyang, intinya mau bekerja dengan niat mencari rezeki untuk kepentingan pribadi dan keluarga dalam bingkai ridha Allah.

           
            Dalam seluruh asfek kehidupan, seorang muslim dituntut untuk bekerja seoptimal dan semaksimal mungkin dengan tidak melupakan do’a kepada Allah agar usahanya dapat menemukan keberhasilan, semua diserahkan kepada Allah, inilah yang dimaksud dengan tawakal.Dari Anas berkata,”Ada dua orang bersaudara pada masa nabi Saw, yang satunya selalu mendatangi majlis nabi   Saw, sedang yang lainnya bekerja terus. Kemudian yang bekerja itu mengadukan saudaranya yang tidak bekerja kepada  nabi Saw, maka   beliau bersabda,”Kemungkinan sekali engkau diberi rezeki lantaran dia”.

            Orang yang telah bekerja dan berusaha disertai tawakal kepada Allah, maka Allah akan menambah rezeki itu menurut banyaknya tanggungan. Yang penting manusia itu berusaha dan berdo’a, jangan cemas dengan rezeki yang telah disediakan Allah. Dapat diiibaratkan, bila kita mengundang orang untuk makan di rumah kita sebanyak 50 orang maka tentu persediaan makanan akan kita sediakan lebih banyak dari jumlah  undangan, demikian pula bila Allah menentukan jumlah manusia di dunia ini sebanyak tiga milyar berarti persediaan makanan di dunia ini lebih banyak dari jumlah manusia untuk sekian masa dengan syarat mau untuk mengeksplorasi, bekerja yang diiringi dengan do’a, Allah menjelaskan dalam firman-Nya surat Jumu’ah   62 ;10

”Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”

            Rasululah bersabda,”Sesungguhnya apabila seseorang diantara kamu semua itu mengambil tambangnya [tali]  kemudian mencari kayu bakar dan diletakkan diatas punggungnya , hal itu adalah  lebih baik daripada ia mendatangi seseorang yang telah dikarunia oleh Allah dari keutamaan-Nya, kemudian meminta kepada kawannya itu, adakalanya diberi dan adakalanya ditolak”[HR.Bukhari dan Muslim].

            Walaupun meminta itu pekerjaan yang dibolehkan tapi posisi seseorang tadi ibarat tangan yang diatas sekaligus akan menurunkan izzah [harga diri] dimata temannya. Orang yang terbiasa menerima pemberian orang lain tidak punya keberanian untuk memberikan tausiyah [nasehat dan kritik] karena dia sudah terlanjur menerima budi baik seseorang, berhutang budilah jadinya, sehingga cendrung membela atau membiarkan temannya tadi dalam kesalahan.

            Pada suatu ketika Rasulullah Saw sedang duduk-duduk dengan para sahabatnya, tiba-tiba nampaklah disana seorang yang masih muda yang amat kuat dan perkasa tubuhnya. Ia pagi-pagi itu telah bekerja dengan penuh semangat. Para sahabat itu berkata,”Kasihan sekali orang itu, andaikata kemudahan dan kekuatannya itu dipergunakan  untuk sabilillah alangkah baiknya dia”, demi mendengar ucapan salah seorang sahabatnya, beliau lalu bersabda,”Jangan kamu semua mengatakan demikian, sebab orang itu kalau keluarnya dari rumah untuk bekerja guna mengusahakan kehidupan anaknya yang masih kecil maka ia telah berusaha sabilillah. Jikalau ia bekerja untuk dirinya sendiri agar tidak sampai meminta-minta pada orang lain, itupun fisabilillah. Tetapi apabila ia bekerja karena untuk pamer atau untuk bermegah-megahan, maka itulah fisabili syaithan atau karena mengikuti jalansyaitan”.

            Dari usaha yang kita lakukan, umpamanya kita memperoleh apa yang dikehedaki berupa terpenuhinya harta dan kekayaan yang menjadi impian, kita mengartikan hal itu suatu keberhasilan, sebenarnya hal itu bukan dan belumlah disebut suatu keberhasilan karena masih ada tahap berikutnya untuk mengukur keberhasilan itu.
Harta bukan simbol keberhasilan, karenanya banyak orang kaya raya justru gagal dalam hidupnya.Ia semakin menderita ketika di tangannya banyak harta. Pikirannya semakin terbebani sehingga seluruh pikiran dan perasaan tertuju ke sana. Dan sehebat apapun manusia mempertahankan hartanya ia pasti akan meninggalkannya. Tidak ada cerita bahwa orang-orang kaya tetap bertahan hidup selama hartanya masih ada.Bahkan sudah tak terhitung para raja dan para konglomerat yang meninggal dunia.Padahal istana mereka masih megah.Dan harta mereka masih banyak.Maka sungguh salah orang-orang yang mempunyai persepsi bahwa semakin banyak harta semakin berhasil.Semakin banyak harta semakin tinggi derajatnya. Perhatikan apa yang mereka alami justru di saat-saat mereka hidup nyaman? Sungguh banyak orang yang hidup di negara maju, dengan fasilitas kemewahan yang lengkap, malah justru mereka stress.  Banyak para artis justru menderita setelah memiliki harta yang banyak.Bukankah ini semua adalah bukti bahwa harta bukanlah simbol keberhasilan.

Harta bukan simbol ketinggian derajat. Banyak orang salah paham, sehingga mengira bahwa dengan banyak harta ia akan semakin terhormat. Lalu dia segera merasa di atas. Dengan banyak pegawai dan pembantu ia semakin merasa tinggi. Lidahnya hanya main perintah.Orang-orang di sekitarnya dianggap budak.Lebih dari itu mereka merasa gengsi duduk dengan pegawai rendahan.Dan yang sangat memalukan mereka merasa tidak pantas datang ke masjid untuk shalat berjamaah bersama orang-orang umum yang tidak se level jabatannya. Akibatnya ia memilih tetap di kantornya, tidak mau turun ke masjid, dan merasa tidak berdosa sekalipun ia sengaja meninggalkan shalat berjamaah, karena rapat dan pertemuan bisnis. Apakah sampai sejauh ini mereka merasa tinggi, karena harta dan jabatan yang dimiliki, sehingga secara bertahap lupa daratan, dan tidak mau turun ke bawah.Lalu sedikit demi sedikit memposisikan dirinya seperti Tuhan yang harus dipatuhi, dan siapapun yang melanggar aturannya diancam dengan PHK. Bahkan ada seorang pegawai yang karena saking takutnya minta izin untuk shalat sehingga ia rela tidak shalat demi pekerjaan kantornya.

Dalam sebuah kesempatan, pernah seorang pegawai bercerita, bahwa ia suatu hari minta izin kepada bosnya untuk shalat. Pada waktu itu rapat sedang berlangsung. Lalu seketika bosnya menjawab: ”akhirkan saja shalatnya. Apa gunanya Allah bikin akhir waktu”. Mendengar jawaban tersebut, sang pegawai segera bertanya kepada saya:  ”bagaimana cara menjawabnya?”. Saya jelaskan: ”coba saja bapak besok datang ke kantor di akhir-akhir waktu. Kira-kira bos itu marah gak?Kalau marah jelaskan, apa gunanya bos bikin akhir waktu”.Perhatikan, betapa manusia baru diberi harta sedikit lalu segera dirinya merasa hebat dan merasa berhak mengatur Allah. Bahkan tidak takut dengan sengaja berlawan dengan Allah.[Rahasia Harta ,Eramuslim.com.12/10/2010 | 04 Zulqaedah 1431 H ].

Beberapa dokter spesialis dan kaum profesional di bidang kesehatan telah mulai memandang penyakit dari sudut pandang yang berbeda (nonmedis). Mereka mempersepsikan penyakit sebagai jeritan tubuh pemiliknya, agar mendapatkan perhatian khusus dalam kehidupan, yang apabila diabaikan dan ditinggalkan akan berefek pada kerusakan yang bersifat fatal dan permanen, ketidakseimbangan pertumbuhan fisik, emosi dan spiritual, bahkan mengakibatkan kematian yang mengenaskan. Mungkin sikap atau gaya hidup kitalah yang mengakibatkan timbulnya berbagai masalah dan kerumitan dalam nilai-nilai, hakikat atau makna kehidupan.

Inilah inti filsafat Victor Frankle, seorang psikiater besar dari Wina yang hidup pada zaman Freud, seabad yang silam.Ia disekap dalam kamp konsentrasi Nazi Jerman bersama seluruh keluarganya. Ia disiksa, dibiarkan kehausan dan kelaparan, disuruh kerja paksa, anak istrinya dibunuh. Tetapi, ia tetap hidup. Justru karena itulah ia menemukan makna kehidupan. Ia mengelola berbagai kesulitannya dengan optimisme. Ia pandai memaknai sesuatu di balik peristiwa.

Nazi Jerman boleh mengerangkeng dia, menyiksa habis (tanpa sisa) seluruh anggota tubuhnya, membunuh semua orang terdekatnya, tetapi mereka tidak bisa mencengkeram jiwa dan pikiran yang melayang bebas bersama Tuhan yang dijadikan tumpuhan akhir harapannya.Inilah makna kehidupan yang ditemukan orang asing Victor Frankle.

Makna hidup bisa bersifat umum dan universal, tapi bisa pula sangat sederhana dan mudah.Unik, spesifik dan sangat privat bagi kita masing-masing.Makna hidup adalah tanpa pura-pura dan pamrih.Makna hidup adalah untuk makna hidup itu sendiri.Dan makna hidup itu ditemukan bukan berbentuk barang (materi) yang diburu di mall, tempat-tempat wisata.Makna hidup diperoleh dari cahaya Allah SWT yang menerangi hati hamba yang dicintai-Nya.

Jika kita masuk dalam kategori barisan orang-orang yang dipandang sukses materi, hidup berkecukupan,  pakaian serba wah, kendaraan mengkilat, ladang yang luas,  tempat tinggal yang layak, bahkan berlebih, tetapi kebingungan mencari makna hidup, cobalah kita melakukan hal yang sederhana dan mudah. Buatlah program kehidupan Anda bermulti guna bagi orang lain. Sebaik-baik manusia adalah yang lebih banyak manfaatnya untuk orang lain (HR. Bukhari dan Muslim). Kehidupan kita berarti jika kita mengedepankan tradisi berkorban, memberi. Bukan berapa yang bisa saya ambil dari orang lain.

Carilah anak-anak yatim piatu, kaum dhu'afa (grass root) dan mustadh'afin (tertindas) untuk diasuh di rumah kita.Carikan orang yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja.Buatlah agar komunitas yang termarginalkan oleh pemodal dan penguasa itu tersenyum bahagia, berkat uluran tangan Anda. Berilah apa yang berlebih pada diri Anda dan jangan dihitung berapakah pemberian yang kita keluarkan. Pemberian kita harus di atas standar minimal.Sekalipun banyak orang tidak mau memberi, biarlah. Kita tetap memberi, karena semua pemberian itu akan kembali kepada kita (QS. Al Isra (17) : 7).

Allah SWT Yang Maha Pemberi, tidak pernah menghitung pemberian-Nya. Dengan suka memberi, kita tertantang untuk kreatif, produktif, dan inovatif.Yang tidak memiliki, tidak memiliki kemampuan untuk memberi (faqidusy syai’i laa yu’thihi).Setelah sukses satu pekerjaan, angkatlah pekerjaan baru yang lebih menantang (QS. Al Insyirah (94) : 7).

Makna hidup tidak harus orang lain tahu. Justru makna hidup yang sejati adalah sepi ing pamrih, rame ing gawe (beramal shalih tanpa hiruk pikuk).Hanya kita sendiri yang merasakan, memaknai, dan menikmatinya.Belajarlah makna hidup dari binatang penyu.Sekali bertelur berjumlah 500-3000 buah.Mencari tempat yang sepi dan gelap.Pemiliknya sendiri, tidak mengetahuinya. Binatang penyu boleh dikata, contoh kongkrit keikhlasan.[Shalih Hasyim, Cara Lain Memandang Penyakit ,hidayatullah.com Thursday, 13 May 2010 10:57].

Orang yang bertawakal kepada Allah hidupnya akan aman dan tentram sebab sandarannya hanya Allah dan Allah telah menetapkan segala sesuatu sejak awalnya tanpa diketahui oleh manusia, kita sebagai ummatnya hanya dituntut untuk menjalani hidup ini dengan baik, peran apapun yang kita lakonkan. Seorang bintang film dengan peran sebagai pembantu rumah tangga dan seorang yang berperan sebagai bos, bisa saja peran sebagai pembantu rumah tangga dapat meraih piala citra bila dia menghayati dan menjalankan perannya dengan baik sebagaimana tuntutan skenario, sementara peran bos gagal meraih penghargaan sebab dia tidak mampu memerankan dirinya selaku seorang bos.wallahu a’lam [Cubadak Solok, 3 Agustus 2011.M/ 3 Ramadhan 1432.H].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar