Yang dimaksud dengan tawakal adalah
pengerahan segala potensi untuk mencapai tujuan dengan kerjakeras sebagai
ikhtiar kemudian diiringi dengan do’a, sedangkan hasilnya diserahkan kepada keputusan
Allah. Tawakal merupakan bagian penting bagi keimanan seseorang, bahkan ciri
khas seorang mukmin itu diantaranya adalah bertawakal kepada Allah sebagai yang
diungkapkan dalam firman Allah berikut ini;
Sesungguhnya
orang-orang yang beriman ialah mereka
yang bila disebut nama Allah. gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan
ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan Hanya kepada Tuhanlah
mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang
menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka.Itulah
orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh
beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat)
yang mulia’’[Al Anfal 8;2-4]
Manusia
sebagai makhluk yang serba terbatas, hanya mampu berusaha dan berdo’a sedangkan
hasilnya diserahkan kepada Allah Swt. Inilah yang dimaksud dengan tawakal
artinya menyerahkan segala ikhtiar kepada ketentuan-Nya. Satu ketika datanglah
seorang sahabat kepada Rasulullah, lalu beliau menanyakan prihal kedatangan
sahabat tersebut. Dia datang dengan
mengendarai ontanya dan onta itu dilepaskan demikian saja diluar tanpa diikat,
katanya,”Saya tawakal kepada Allah”,mendengar jawaban demikian lalu Rasulullah
menyatakan bahwa sikap demikian itu bukanlah tawakal,”ikat dahulu ontamu, lalu
tawakallah”.
Nampak dari
dialok Rasulullah diatas menggambarkan bahwa usaha didahulukan kemudian barulah
bertawakal, itu adalah teknik di lapangannya, sedangkan ketaqwaan sahabat tadi
sudah tertanam sejak lama yang diiringi dengan keimanan kepada Allah dan
Rasul-Nya. Masalah berhasil atau tidaknya usaha yang dilakukan seorang mukmin
bukan tanggungjawabnya bila dia sudah mengerjakan semaksimal dan seoptimal
mungkin dengan kata lain semuanya dilakukan dengan semangat mujahadah. Allah
berfirman dalam surat Ali Imran 3;159
”Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah
Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar,
tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah
mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam
urusan itu, Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah
kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”
Dari Umar bin Khatthab, ”Saya pernah mendengar Rasulullah
saw bersabda,”Andaikata kamu benar-benar
bertawakal kepada Allah,niscaya Allah akan memberi rezeki kepadamu, sebagaimana
dia memberi rezeki kepada burung yang keluar diwaktu pagi dengan perut kosong
dan kembali diwaktu sore dengan perut kenyang’[HR.Turmuzi].
Selama ini kita menghitungnya secara terbalik, dalam
mencari rezeki dan rahmat Allah kita
mendahulukan usaha dahulu kemudian baru tawakal, seharusnya mendahulukan
tawakal barulah mendapatkan sesuatu balasan. Keimananlah yang akan menuntun
seseorang untuk tawakal dalam seluruh asfek kehidupannya, walaupun sarana dan
upaya sudah dilakukan bila tidak ada tawakal yaitu menyerahkan segala hasil
usaha kepada Allah maka tidak akan mendatangkan keberhasilan. Termasuk dalam
upaya untuk merubah nasib pribadi, masyarakat, ummat dan bangsa tidak lepas dari tawakal kepada
Allah. Dalam surat Ar Ra’du 13;11, Allah berfirman;
”Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu
mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas
perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga
mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah
menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat
menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
Telaah
para mufasir klasik tentang penggalan ayat itu mengungkapkan bahwa
sesungguhnya "Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum" dari keadaan
baik (positif)-seperti telah ditetapkan-Nya-menjadi buruk (negatif). Perkara
keadaan kaum itu kemudian menjadi buruk, tentu itu karena kelancangan kaum itu
sendiri.
Dalam at-Tafsir al-Muyassar, Dr 'Aidh al-Qarni, seperti juga M Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah, diuraikan bahwa rahmat, hidayah, dan anugerah dari Tuhan yang semula serba baik (positif), telah diubah menjadi buruk (negatif) oleh suatu kaum. Tuhan konsisten tidak mengubah nikmat yang diberikan kepada suatu kaum, tetapi kaum itu sendiri yang mengubahnya menjadi niqmat (bencana).
Untuk kasus bangsa kita, misalnya, siapa berani mengatakan bahwa surga
dunia ciptaan Tuhan yang bernama Indonesia, yang subur makmur tiada terkira
ini, sekarang berubah menjadi berantakan begini bukan karena ulah tangan bangsa
Indonesia sendiri?
Kita
mengubah anugerah dan nikmat Tuhan menjadi bencana dan laknat.Tuhan memberi
kita kesyukuran dan kita membalasnya dengan kekufuran. Tuhan menanamkan iman ke
lubuk hati hamba-Nya, kita malah asyik menyekutukan-Nya dengan berhala-berhala
hiburan, politik, dan ekonomi.[EH
Kartanegara ,Mengubah Nasib, Repbulika.co.id.Friday, 25 March 2011 08:15 WIB].
Orang yang
mau berusaha mencari rezeki disertai
tawakal kepada Allah, maka Allah akan memberikan rezeki kepadanya, sebagaimana
Dia memberi rezeki kepada burung-burung yang keluar pagi dengan perut lapar dan
sore hari pulang dengan kenyang, intinya mau bekerja dengan niat mencari rezeki
untuk kepentingan pribadi dan keluarga dalam bingkai ridha Allah.
Dalam seluruh asfek kehidupan, seorang muslim dituntut
untuk bekerja seoptimal dan semaksimal mungkin dengan tidak melupakan do’a
kepada Allah agar usahanya dapat menemukan keberhasilan, semua diserahkan
kepada Allah, inilah yang dimaksud dengan tawakal.Dari Anas berkata,”Ada dua orang bersaudara pada masa nabi
Saw, yang satunya selalu mendatangi majlis nabi Saw, sedang yang lainnya bekerja terus.
Kemudian yang bekerja itu mengadukan saudaranya yang tidak bekerja kepada nabi Saw, maka beliau bersabda,”Kemungkinan sekali engkau
diberi rezeki lantaran dia”.
Orang yang telah bekerja dan berusaha disertai tawakal
kepada Allah, maka Allah akan menambah rezeki itu menurut banyaknya tanggungan.
Yang penting manusia itu berusaha dan berdo’a, jangan cemas dengan rezeki yang
telah disediakan Allah. Dapat diiibaratkan, bila kita mengundang orang untuk
makan di rumah kita sebanyak 50 orang maka tentu persediaan makanan akan kita
sediakan lebih banyak dari jumlah
undangan, demikian pula bila Allah menentukan jumlah manusia di dunia
ini sebanyak tiga milyar berarti persediaan makanan di dunia ini lebih banyak
dari jumlah manusia untuk sekian masa dengan syarat mau untuk mengeksplorasi,
bekerja yang diiringi dengan do’a, Allah menjelaskan dalam firman-Nya surat
Jumu’ah 62 ;10
”Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu
di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya
kamu beruntung”
Rasululah bersabda,”Sesungguhnya
apabila seseorang diantara kamu semua itu mengambil tambangnya [tali] kemudian mencari kayu bakar dan diletakkan
diatas punggungnya , hal itu adalah
lebih baik daripada ia mendatangi seseorang yang telah dikarunia oleh
Allah dari keutamaan-Nya, kemudian meminta kepada kawannya itu, adakalanya
diberi dan adakalanya ditolak”[HR.Bukhari dan Muslim].
Walaupun meminta itu pekerjaan yang dibolehkan tapi
posisi seseorang tadi ibarat tangan yang diatas sekaligus akan menurunkan izzah
[harga diri] dimata temannya. Orang yang terbiasa menerima pemberian orang lain
tidak punya keberanian untuk memberikan tausiyah [nasehat dan kritik] karena
dia sudah terlanjur menerima budi baik seseorang, berhutang budilah jadinya,
sehingga cendrung membela atau membiarkan temannya tadi dalam kesalahan.
Pada suatu ketika Rasulullah Saw sedang duduk-duduk
dengan para sahabatnya, tiba-tiba nampaklah disana seorang yang masih muda yang
amat kuat dan perkasa tubuhnya. Ia pagi-pagi itu telah bekerja dengan penuh
semangat. Para sahabat itu berkata,”Kasihan sekali orang itu, andaikata
kemudahan dan kekuatannya itu dipergunakan
untuk sabilillah alangkah baiknya dia”, demi mendengar ucapan salah
seorang sahabatnya, beliau lalu bersabda,”Jangan kamu semua mengatakan demikian,
sebab orang itu kalau keluarnya dari rumah untuk bekerja guna mengusahakan
kehidupan anaknya yang masih kecil maka ia telah berusaha sabilillah. Jikalau
ia bekerja untuk dirinya sendiri agar tidak sampai meminta-minta pada orang
lain, itupun fisabilillah. Tetapi apabila ia bekerja karena untuk pamer atau
untuk bermegah-megahan, maka itulah fisabili syaithan atau karena mengikuti
jalansyaitan”.
Dari usaha yang kita lakukan, umpamanya kita memperoleh
apa yang dikehedaki berupa terpenuhinya harta dan kekayaan yang menjadi impian,
kita mengartikan hal itu suatu keberhasilan, sebenarnya hal itu bukan dan
belumlah disebut suatu keberhasilan karena masih ada tahap berikutnya untuk
mengukur keberhasilan itu.
Harta bukan simbol
keberhasilan, karenanya banyak orang kaya raya justru gagal dalam hidupnya.Ia
semakin menderita ketika di tangannya banyak harta. Pikirannya semakin
terbebani sehingga seluruh pikiran dan perasaan tertuju ke sana. Dan sehebat
apapun manusia mempertahankan hartanya ia pasti akan meninggalkannya. Tidak ada
cerita bahwa orang-orang kaya tetap bertahan hidup selama hartanya masih
ada.Bahkan sudah tak terhitung para raja dan para konglomerat yang meninggal
dunia.Padahal istana mereka masih megah.Dan harta mereka masih banyak.Maka
sungguh salah orang-orang yang mempunyai persepsi bahwa semakin banyak harta
semakin berhasil.Semakin banyak harta semakin tinggi derajatnya. Perhatikan apa
yang mereka alami justru di saat-saat mereka hidup nyaman? Sungguh banyak orang
yang hidup di negara maju, dengan fasilitas kemewahan yang lengkap, malah
justru mereka stress. Banyak para artis justru menderita setelah memiliki
harta yang banyak.Bukankah ini semua adalah bukti bahwa harta bukanlah simbol
keberhasilan.
Harta bukan simbol ketinggian
derajat. Banyak orang salah paham, sehingga mengira bahwa dengan banyak harta
ia akan semakin terhormat. Lalu dia segera merasa di atas. Dengan banyak
pegawai dan pembantu ia semakin merasa tinggi. Lidahnya hanya main
perintah.Orang-orang di sekitarnya dianggap budak.Lebih dari itu mereka merasa
gengsi duduk dengan pegawai rendahan.Dan yang sangat memalukan mereka merasa
tidak pantas datang ke masjid untuk shalat berjamaah bersama orang-orang umum
yang tidak se level jabatannya. Akibatnya ia memilih tetap di kantornya, tidak
mau turun ke masjid, dan merasa tidak berdosa sekalipun ia sengaja meninggalkan
shalat berjamaah, karena rapat dan pertemuan bisnis. Apakah sampai sejauh ini
mereka merasa tinggi, karena harta dan jabatan yang dimiliki, sehingga secara
bertahap lupa daratan, dan tidak mau turun ke bawah.Lalu sedikit demi sedikit
memposisikan dirinya seperti Tuhan yang harus dipatuhi, dan siapapun yang
melanggar aturannya diancam dengan PHK. Bahkan ada seorang pegawai yang karena
saking takutnya minta izin untuk shalat sehingga ia rela tidak shalat demi
pekerjaan kantornya.
Dalam sebuah kesempatan,
pernah seorang pegawai bercerita, bahwa ia suatu hari minta izin kepada bosnya
untuk shalat. Pada waktu itu rapat sedang berlangsung. Lalu seketika bosnya
menjawab: ”akhirkan saja shalatnya. Apa gunanya Allah bikin akhir waktu”.
Mendengar jawaban tersebut, sang pegawai segera bertanya kepada saya:
”bagaimana cara menjawabnya?”. Saya jelaskan: ”coba saja bapak besok
datang ke kantor di akhir-akhir waktu. Kira-kira bos itu marah gak?Kalau marah
jelaskan, apa gunanya bos bikin akhir waktu”.Perhatikan, betapa manusia baru
diberi harta sedikit lalu segera dirinya merasa hebat dan merasa berhak
mengatur Allah. Bahkan tidak takut dengan sengaja berlawan dengan Allah.[Rahasia
Harta ,Eramuslim.com.12/10/2010 | 04 Zulqaedah 1431 H ].
Beberapa dokter spesialis dan
kaum profesional di bidang kesehatan telah mulai memandang penyakit dari sudut
pandang yang berbeda (nonmedis). Mereka mempersepsikan penyakit sebagai jeritan
tubuh pemiliknya, agar mendapatkan perhatian khusus dalam kehidupan, yang
apabila diabaikan dan ditinggalkan akan berefek pada kerusakan yang bersifat
fatal dan permanen, ketidakseimbangan pertumbuhan fisik, emosi dan spiritual,
bahkan mengakibatkan kematian yang mengenaskan. Mungkin sikap atau gaya hidup
kitalah yang mengakibatkan timbulnya berbagai masalah dan kerumitan dalam
nilai-nilai, hakikat atau makna kehidupan.
Inilah inti filsafat Victor
Frankle, seorang psikiater besar dari Wina yang hidup pada zaman Freud, seabad yang
silam.Ia disekap dalam kamp konsentrasi Nazi Jerman bersama seluruh
keluarganya. Ia disiksa, dibiarkan kehausan dan kelaparan, disuruh kerja paksa,
anak istrinya dibunuh. Tetapi, ia tetap hidup. Justru karena itulah ia
menemukan makna kehidupan. Ia mengelola berbagai kesulitannya dengan optimisme.
Ia pandai memaknai sesuatu di balik peristiwa.
Nazi Jerman boleh
mengerangkeng dia, menyiksa habis (tanpa sisa) seluruh anggota tubuhnya,
membunuh semua orang terdekatnya, tetapi mereka tidak bisa mencengkeram jiwa
dan pikiran yang melayang bebas bersama Tuhan yang dijadikan tumpuhan akhir
harapannya.Inilah makna kehidupan yang ditemukan orang asing Victor Frankle.
Makna hidup bisa bersifat umum
dan universal, tapi bisa pula sangat sederhana dan mudah.Unik, spesifik dan
sangat privat bagi kita masing-masing.Makna hidup adalah tanpa pura-pura dan
pamrih.Makna hidup adalah untuk makna hidup itu sendiri.Dan makna hidup itu
ditemukan bukan berbentuk barang (materi) yang diburu di mall, tempat-tempat
wisata.Makna hidup diperoleh dari cahaya Allah SWT yang menerangi hati hamba
yang dicintai-Nya.
Jika kita masuk dalam kategori
barisan orang-orang yang dipandang sukses materi, hidup berkecukupan,
pakaian serba wah, kendaraan mengkilat, ladang yang luas, tempat tinggal
yang layak, bahkan berlebih, tetapi kebingungan mencari makna hidup, cobalah
kita melakukan hal yang sederhana dan mudah. Buatlah program kehidupan Anda
bermulti guna bagi orang lain. Sebaik-baik manusia adalah yang lebih banyak
manfaatnya untuk orang lain (HR. Bukhari dan Muslim). Kehidupan kita berarti
jika kita mengedepankan tradisi berkorban, memberi. Bukan berapa yang bisa saya
ambil dari orang lain.
Carilah anak-anak yatim piatu,
kaum dhu'afa (grass root) dan mustadh'afin (tertindas)
untuk diasuh di rumah kita.Carikan orang yang terkena Pemutusan Hubungan
Kerja.Buatlah agar komunitas yang termarginalkan oleh pemodal dan penguasa itu
tersenyum bahagia, berkat uluran tangan Anda. Berilah apa yang berlebih pada
diri Anda dan jangan dihitung berapakah pemberian yang kita keluarkan.
Pemberian kita harus di atas standar minimal.Sekalipun banyak orang tidak mau
memberi, biarlah. Kita tetap memberi, karena semua pemberian itu akan kembali
kepada kita (QS. Al Isra (17) : 7).
Allah SWT Yang Maha Pemberi,
tidak pernah menghitung pemberian-Nya. Dengan suka memberi, kita tertantang
untuk kreatif, produktif, dan inovatif.Yang tidak memiliki, tidak memiliki
kemampuan untuk memberi (faqidusy syai’i laa yu’thihi).Setelah sukses
satu pekerjaan, angkatlah pekerjaan baru yang lebih menantang (QS. Al Insyirah
(94) : 7).
Makna hidup tidak harus orang
lain tahu. Justru makna hidup yang sejati adalah sepi ing pamrih, rame ing
gawe (beramal shalih tanpa hiruk pikuk).Hanya kita sendiri yang merasakan,
memaknai, dan menikmatinya.Belajarlah makna hidup dari binatang penyu.Sekali
bertelur berjumlah 500-3000 buah.Mencari tempat yang sepi dan gelap.Pemiliknya
sendiri, tidak mengetahuinya. Binatang penyu boleh dikata, contoh kongkrit
keikhlasan.[Shalih Hasyim, Cara Lain
Memandang Penyakit ,hidayatullah.com Thursday, 13 May 2010 10:57].
Orang yang bertawakal kepada Allah hidupnya akan aman dan
tentram sebab sandarannya hanya Allah dan Allah telah menetapkan segala sesuatu
sejak awalnya tanpa diketahui oleh manusia, kita sebagai ummatnya hanya
dituntut untuk menjalani hidup ini dengan baik, peran apapun yang kita
lakonkan. Seorang bintang film dengan peran sebagai pembantu rumah tangga dan
seorang yang berperan sebagai bos, bisa saja peran sebagai pembantu rumah
tangga dapat meraih piala citra bila dia menghayati dan menjalankan perannya
dengan baik sebagaimana tuntutan skenario, sementara peran bos gagal meraih
penghargaan sebab dia tidak mampu memerankan dirinya selaku seorang bos.wallahu a’lam
[Cubadak Solok, 3 Agustus 2011.M/ 3 Ramadhan 1432.H].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar