Selasa, 24 November 2015

16. Andai Aku Tahu Tidak Puasa Berdosa



Puasa hanya ditujukan kepada orang-orang yang beriman dalam rangka untuk memperbaiki pribadinya dengan meningkatkan ketaatan kepada Allah, sedangkan bagi mereka yang tiada beriman maka mendapat keringanan dari Allah untuk tidak berpuasa . Ujud dari keimanan adalah melakukan perintah Allah diantaranya puasa di bulan Ramadhan dengan tuntunan yang telah ditetapkan. Walaupun demikian masih saja banyak orang yang mengaku beriman tapi tidak dibuktikan imannya dengan jalan ibadah puasa, puasa baginya adalah beban, dia tidak mampu mengekang nafsunya dengan jalan berpuasa, ironisnya baru masuk bulan Sya’ban penyakitnya kambuh sehingga dapat melalaikan puasa dengan dalih kesehatan terganggu.

Sebenarnya puasa itu bukanlah ibadah yang memberatkan, siapapun akan mampu melaksanakannya asalkan dalam keadaan sehat, sebab orang yang sakit memang diperkenankan untuk tidak berpuasa, demikian pula bagi orang yang berat melakukannya karena sebab-sebab lain, semua itu dapat diganti dengan qadha atau membayar fidyah yang disyariatkan islam.

Puasa itu memiliki tiga tingkatan yaitu; puasa orang awam, puasa orang khawas [khusus] dan puasa orang khawashil [istimewa]. Adapun puasanya orang awam ialah menahan perut dari makan dan minum serta tidak menggauli isteri disiang hari, puasanya orang khusus yaitu puasanya orang-orang yang shaleh, disamping menahan makan dan minum dan senggama juga menahan semua indra dari perbuatan dosa, puasa itu akan sempurna dengan menjalankan lima perkara;
  1. Memajamkan mata dari segala sesuatu yang mencela menurut syara’ [agama]
  2. Menjaga lisan dari mengghibah/ gunjing, dari berkata dusta, adu domba dan sumpah palsu.
  3. Menahan telinga dari mendengarkan sesuatu yang dibenci.
  4. Menahan semua anggota badan dari semua yang dibenci.
  5. Orang yang puasa hendaknya tidak terlalu banyak makan, sampai penuh perutnya diwaktu berbuka, meskipun makanan itu halal.

Kesadaran untuk meningkatkan nilai ibadah puasa pada setiap tahun semakin berkurang di tengah masyarakat kita karena kurangnya pengetahuan yang diawali tidak mau mendengarkan pengajian apa lagi membaca buku-buku fiqih. Di bulan ini dijadikan sebagai arena pemborosan dengan istilah konsumerisme, bukan melatih diri untuk hidup prihatin tapi berlomba-lomba dalam bentuk masakan yang diikuti lomba pakaian diakhirnya. Ketika saat berbuka tiba semua makanan dilahap tanpa fikir panjang karena sekian jam tidak makan tidak minum yang akhirnya  balas dendam sampai untuk shalat maghribpun tidak sanggup lagi karena kekenyangan. 

Berangkat dari surat Al Baqarah ayat 183, tergambar bahwa kewajiban puasa bukan hanya pada ummat islam saja tapi ummat terdahulu juga melakukan hal yang sama,bahkan agama selain islampun ada kewajiban berpuasa itu, dengan cara dan maksud yang berbeda.

Tujuan puasa berbeda-beda antara agama yang satu dan yang lainnya, termasuk puasanya umat-umat terdahulu. Sebagaimana keterangan Alquran dalam surah Al-Baqarah [2] ayat 183, puasa yang diwajibkan kepada umat Islam, sebenarnya juga pernah dilakukan oleh umat-umat sebelumnya.

Sismono dalam bukunya yang berjudul 'Puasa Pada Umat-umat Dulu dan Sekarang' menyebutkan, puasa sudah dikenal oleh bangsa dan kaum yang hidup sebelum datangnya Islam. Seperti puasa yang dilakukan oleh bangsa Mesir Kuni, Yunani Kuno, Romawi Kuno, Zoroaster, Majusi, Yahudi, Nasrani, Cina Kuno, Jepang Kuno, Buddha, Hindu, Manu, Konghucu, dan lainnya. ''Bahkan, nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad SAW juga sudah melaksanakan puasa,'' tulisnya.

Sejarawan Muslim, Ibnu Katsir, meyakini bahwa ajaran puasa sudah ada sejak zaman Adam dan Hawa. Menurut dia, Adam berpuasa selama tiga hari setiap bulan sepanjang tahun. Ada pula yang mengatakan bahwa Adam berpuasa pada 10 Muharam sebagai rasa syukur karena bertemu dengan istrinya, Hawa, di Arafah. Sementara yang lain berpendapat, Nabi Adam berpuasa sehari semalam pada waktu dia diturunkan dari taman surga oleh Allah.

Ada juga yang mengatakan Adam berpuasa 40 hari 40 malam setiap tahun. Pendapat lainnya mengatakan Adam berpuasa dalam rangka mendoakan putra-putrinya. Selain itu, ada yang menjelaskan, Adam berpuasa pada hari Jumat untuk mengenang peristiwa penting, yakni dijadikannya dia oleh Allah, hari diturunkannya ke bumi, dan diterimanya tobat Adam oleh Allah.

''Sesungguhnya Allah menjadikan Adam pada hari Jumat, diturunkan di bumi pada hari Jumat, dia bertobat kepada Allah atas dosanya memakan buah khuldi pada hari Jumat dan wafat pun pada hari Jumat.'' (HR Bukhari).

Walaupun dalam Alquran maupun hadis tidak dijelaskan bagaimana bentuk puasa Adam dan generasi sesudahnya, tetapi ada petunjuk-petunjuk bahwa agama-agama yang dibawa oleh para rasul terdahulu itu adalah agama monotheisme yang mengajarkan kepercayaan pada keesaan Tuhan (Allah). Contohnya adalah Nabi Nuh yang berpuasa selama tiga hari setiap bulan sepanjang tahun, seperti puasanya Nabi Adam. 

Nabi Nuh juga memerintahkan kaumnya untuk menyembah Allah dan berpuasa ketika mereka berbulan-bulan hidup terkatung-katung di dalam perahu besar di tengah samudera luas akibat bencana banjir besar, seraya bertobat kepada Allah. Nabi Ibrahim AS juga terkenal dengan kegemarannya berpuasa, terutama pada saat hendak menerima wahyu dari Allah, yang kemudian dijadikan suhuf Ibrahim itu. 

Puasa menurut agama Ibrahim dilaksanakan oleh Ismail, putra Ibrahim yang terkenal taat beribadah itu; dan puasa Ibrahim diikuti pula oleh Ishaq (putra Ibrahim dari Sarah). Nabi Ya'qub terkenal sebagai orang tua dan rasul yang gemar berpuasa, terutama untuk keselamatan putra-putranya.

Sementara Nabi Yusuf berpuasa ketika berada dalam penjara bersama para terhukum lainnya. Kebiasaan berpuasa ini juga beliau terapkan ketika menjadi pembesar Mesir dan menjabat sebagai menteri perekonomian negeri tersebut. ''Karena aku khawatir apabila aku kenyang, nanti aku akan melupakan perut fakir miskin.'
' Sedangkan Nabi Yunus berpuasa dari makan dan minum saat berada dalam perut ikan besar selama beberapa hari, kemudian berbuka puasa setelah dimuntahkan kembali dari dalam perut ikan itu. Untuk berbuka, dikisahkan beliau memakan buah semacam labu yang tumbuh di tepi pantai. Nabi Ayub berpuasa pada waktu dia hidup dalam serba kekurangan dan menderita penyakit selama bertahun-tahun, sampai akhirnya lepas dari cobaan itu.

Nabi Syuaib terkenal kesalehannya dan sebagai orang tua yang banyak melakukan puasa dalam rangka bertakwa kepada Allah.[Budi Raharjo, Puasa Para Nabi,Republina.co.id, Ahad, 15 Agustus 2010, 22:02 WIB].

            Puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam yang lima. Ibadah yang satu ini memiliki pahala yang sangat besar di sisi Allah SWT. Menurut Syekh Abdul Azis bin Fathi asSayyid Nada, dalam kitab Mausuu'atul Aadaab al-Islamiyah, keutamaan dan ke agungan ibadah puasa itu bisa diraih ma nakala seorang Muslim menjalankannya dengan cara yang disyariatkan dan memperhatikan adab-adabnya. Berikut ini adab-adab yang perlu diperhatikan seorang Muslim ketika berpuasa:

Pertama, niat yang baik.
Menurut Syekh Sayyid Nada, hendaklah orang yang berpuasa berniat untuk mencari ridha Allah SWT, serta mencari pahala dan balasan yang dijanjikan atas orang yang berpuasa. "Di samping itu, ia pun berniat untuk melaksanakan hak Allah yang diwajibkan atasnya jika itu puasa wajib seperti puasa Ramadhan," tutur Syekh Sayyid Nada. Bisa juga seseorang meniatkan puasanya untuk meraih takwa, sebagaimana yang tercantum dalam Alquran surah Albaqarah ayat 183.

Kedua, bersahur walaupun hanya minum seteguk air.
Nabi SAW menganjurkan bersahur, bahkan Rasulullah SAW memerintahkan
sahur melalui sabdanya, "Bersahurlah karena pada makan sahur terdapat berkah." (HR Bukhari dan Muslim). Dalam hadis lainnya, Rasulullah SAW bersabda, "Perbedaan antara puasa kami dengan puasa Ahlul Kitab adalah makan sahur."(HR Muslim).Pada hadis lainnya, Rasulullah SAW bersabda, "Bersahurlah walaupu hanya meminum seteguk air." (HR Ibnu Hibban). Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Dawud, Rasulullah SAW juga bersabda, "Sebaik-baiknya makanan sahur orang Mukmin adalah kurma."

Ketiga, mengakhirkan makan sahur.
Mengakhirkan makan sahur termasuk sunah Rasulullah SAW. Nabi Muhammad SAW telah menganjurkan umatnya untuk mengakhirkan makan sahur. Rasulullah bersabda, "Bersegeralah berbuka dan akhirkanlah makan sahur." (HR Ibnu 'Adiy). Menurut Syekh Sayyid Nada, sahur bertujuan agar seseorang lebih kuat dalam berpuasa, lebih banyak berkahnya, serta meneladani perbuatan Nabi SAW. Diriwayatkan dari Zaid bi Tsabit RA, ia berkata, "Kami pernah sahur bersama Rasulullah SAW, kemudian kami bangkit untuk mengerjakan shalat. Anas berkata kepadanya: "Berapa jarak waktu antara keduanya?" Ia berkata: "Jaraknya sekitar bacaan lima puluh ayat." (HR Bukhari dan Muslim).

Keempat, tak berlebihan dalam makan sahur.
Menurut Syekh Sayyid Nada, makan sahur yang berlebihan dapat memudha ratkan diri seseorang, yakni dapat menyebabkan sakit perut, berat mengerjakan ibadah, dan mungkin bisa membuatnya tidur hingga waktu Zhuhur. Makan sahur berlebihan juga bertentangan dengan hikmah puasa.

Kelima, menjaga anggota tubuh ketika berpuasa.
Ketika berpuasa, kata Syekh Sayyid Nada, seorang Muslim hendaknya menjaga anggota tubuhnya, terutama mata. Karena mata, tutur ulama terkemuka itu, bisa menimbulkan bahaya yang sangat besar, maka wajib menundukkannya dari apa-apa yang diharamkan Allah SWT."Apabila seseorang menjaga anggota tubuhnya: mata, tangan, lisan, telinga, kemaluan, dan kaki dari apa-apa yang diharamkan Allah selama berpuasa, maka ia akan terbiasa melakukan hal tersebut, sehingga menjadi kebiasaan," paparnya. Menurut Syekh Sayyid Nada, orang yang berpuasa hendaknya menahan pandangan dari apa-apa yang diharamkan Allah SWT, serta menjaga lisannya dari menggunjing dan mengadu domba.

Keenam, sabar dan tak berbuat jahat.
Syekh Sayyid Nada menegaskan, janganlah seseorang membalas perbuatan jahat dengan yang semisalnya. Janganlah membalas orang yang mencacinya, tetapi hendaklah tabah, sabar dan menahan diri ketika marah. Rasulullah SAW bersabda, "Jika salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, janganlah ia berbuat keji dan jahat. Jika ada orang mencaci atau mengganggunya, hendaklah ia berkata; 'Aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa'." (HR Bukhari-Muslim).

Ketujuh, memperbanyak amal kebaikan.
Saat berpuasa, dianjurkan bagi seorang Muslim untuk mengisi waktunya dengan berzikir dan berdoa, memohon ampun, membaca Alquran, memperbanyak sedekah, menyediakan makanan berbuka semata-mata untuk mencari balasan pahala, menyambung tali silaturahim, melakukan kebaikan-kebaikan dan amal-amal yang lainnya.

Kedelapan, menyegerakan berbuka.
Menyegerakan berbuka termasuk sunah Nabi SAW. Rasulullah SAW bersabda, " Segerakanlah berbuka ... ". Dalam hadis lainnya, Nabi SAW bersabda, "Manusia tetap berada di dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka."(HR Bukhari). Selain itu, saat berbuka disunahkan memakan kurma agar lebih meringankan pencernaan dan memberikan lebih banyak manfaat.[Yogi Ardhi, Adab Menjalankan Ibadah Puasa Republika co.id,Jumat, 13 Agustus 2010, 22:30 WIB]

Kewajiban berpuasa bagi ummat islam sudah dilaksanakan sejak zaman Nabi Muhammad dengan panduan dari firman Allah, selain manusia maka hewanpun ada yang menjalankan puasa sesuai dengan instingnya sebagaimana yang dilaksanakan oleh sang kupu-kupu, hewan cantik yang terbang kian kemari indah dipandangan mata, sebelum berujud demikian asalnya adalah kepompong yang tidak menarik.

Kupu-kupu adalah hewan yang sangat indah dan menarik. Sayapnya yang berwarna-warni dengan motif yang sangat rapi serta kelincahannya terbang dari satu bunga ke bunga yang lain, menjadi daya tarik bagi setiap orang untuk mengagumi makhluk ini.

Kupu-kupu tak hadir begitu saja ke muka bumi, tapi melalui proses metaformosis dari binatang yang bernama ulat. Menyebut namanya, mungkin ada sebagian orang yang jijik, geli, takut, penyebab kulit gatal, perusak tanaman, dan sebagainya. Ia begitu identik dengan sifat yang tidak baik. Hampir tak ada orang yang mau menyentuhnya.
Namun, ketika seekor ulat berubah menjadi kupu-kupu yang cantik dan indah, semua orang pun berusaha memilikinya dan bahkan mengaguminya. Mereka tak merasa takut dengan seekor kupu-kupu yang sesungguhnya berasal dari ulat. Itulah kupu-kupu. Hewan yang indah dan menarik. Makanannya pun bahan pilihan, dan selalu membantu proses penyerbukan tanaman.

Untuk menjadi kupu-kupu, ulat terlebih dahulu menjadi kepompong. Itulah sebuah metamorfosis, yang dalam bahasa manusianya sedang menjalani puasa, menjauhkan dari dari makan dan minum, menutup dirinya dari hiruk pikuk kehidupan dunia. Ia begitu mirip dengan cara kita beriktikaf, yaitu merenung diri dan melakukan pertobatan, sehingga keluar menjadi kupu-kupu yang indah, disayang semua orang dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi.

Itulah barangkali gambaran puasa Ramadhan yang diharapkan oleh Allah SWT terhadap orang-orang yang beriman. Kita, umat manusia yang banyak berbuat salah dandosa, hendaknya biasa belajar dari ulat dan mengubah diri menjadi manusia yang bertakwa dan disayang Allah SWT.

Tipe manusia yang disayang Allah itu adalah; pertama, orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati (tidak sombong) dan apabila orang jahil menyapa, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. (QS Al-Furqan [25]: 63).
Demikianlah gambaran orang mukmin yang berpuasa, senantiasa menyebarkan kelembutan dan keindahan, serta tidak suka berbuat keonaran dan kerusakan, di manapun dia berada. Sebagaimana sifat kupu-kupu yang hinggap di sebuah dahan yang tak akan pernah ada yang patah sekecil apa pun dahan yang dihinggapinya.
Kedua, mereka yang senantiasa mendirikan shalat lima waktu dan shalat tahajjud di malam hari sebagai wujud syukur kepada Allah (Al-Furqan [25]: 64, 73). Seperti kupu-kupu, di manapun seorang mukmin berada, dia akan selalu melaksanakan perintah Allah, menebarkan kasih sayang, dan menolong orang lain. Sebab, ia menyadari bahwa sesungguhnya dirinya hanyalah seorang hamba yang juga tidak memiliki kemampuan apa-apa tanpa anugerah dari Allah SWT.

Ketiga, orang yang berhasil dalam pusanya, ia akan memilih  makanannya dari yang halal dan yang baik-baik saja, layaknya kupu-kupu yang hanya memilih sari madu bunga sebagai makanannya. Orang yang berpuasa dan mukmin sejati, akan senantiasa menjauhkan diri dari yang haram, seperti korupsi, mencuri, menipu, dan lainnya. (QS Al-Baqarah [2]: 168).[H Jatiman Karim, Belajar dari Puasanya Kupu-kupu, Republika online, Rabu, 25 Agustus 2010, 10:47 WIB].

Dalam konteks Indonesia, puasa dan kemerdekaan adalah dua hal yang saling berkaitan. Sejarah mencatat bahwa pembacaan naskah Proklamasi dilakukan pada hari Jum’at di bulan Ramadhan.

Tidak ada keterangan resmi, apakah momentum tersebut memang dirancang dengan seksama ataukah kebetulan semata. Tanpa mengabaikan peran tokoh bangsa yang lainnya, Soekarno, Mohammad Hatta dan sebagian besar tokoh yang terlibat dalam deklarasi kemerdekaan adalah muslim yang teguh.

Bagi kaum muslim, Jum’at adalah hari yang agung, sayyidu al-ayyam. Kaum muslim meyakini sepenuhnya bahwa Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Mungkin, para tokoh pendiri bangsa dengan sengaja memilih hari Jum’at di bulan Ramadhan dengan harapan agar kemerdekaan bangsa Indonesia mendapatkan berkah dari Tuhan.”Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan didorongkan oleh keinginan yang luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”
Pernyataan eksplisit di dalam Pembukaan UUD 1945 itu mengandung dua makna. Pertama, kemerdekaan diperoleh dengan tekad yang kuat (azm) dan perjuangan yang tak kenal lelah (sabr).

Kedua, keberhasilan perjuangan juga ditentukan oleh kehendak Tuhan. Dwi tunggal, Bapak Proklamasi, Soekarno dan Mohammad Hatta, adalah figur yang penuh keteladanan. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya sebagai manusia, mereka telah memberikan teladan perjuangan dengan stamina yang tak pernah penat. Bilik penjara yang sempit dan pengap tidak pernah memenjarakan pikiran dan jiwa besarnya. Keterbatasan kehidupan material tidak pernah mampu menaklukkan dan meredupkan cahaya iman dan akhlak utama.[Abdul Mu'ti, Matahati Ramadhan, Puasa dan Kemerdekaan, Republika co.id. Selasa, 17/08/2010 10:24 WIB]

Banyak hikmah yang terkandung dalam ibadah puasa sehingga merugilah orang yang tidak melakukannya selain juga berdosa bagi yang meninggalkannya kecuali dengan udzur sesuai syara’, wajar bila nabi menyatakan “Puasalah niscaya kamu akan sehat”, wallahu a’lam [Baloi Indah Batam, 11 Rajab 1432.H/ 13 Juni 2011.M].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar