Puasa hanya ditujukan kepada orang-orang
yang beriman dalam rangka untuk memperbaiki pribadinya dengan meningkatkan
ketaatan kepada Allah, sedangkan bagi mereka yang tiada beriman maka mendapat
keringanan dari Allah untuk tidak berpuasa . Ujud dari keimanan adalah melakukan perintah Allah diantaranya puasa di
bulan Ramadhan dengan tuntunan yang telah ditetapkan. Walaupun demikian masih
saja banyak orang yang mengaku beriman tapi tidak dibuktikan imannya dengan
jalan ibadah puasa, puasa baginya adalah beban, dia tidak mampu mengekang
nafsunya dengan jalan berpuasa, ironisnya baru masuk bulan Sya’ban penyakitnya
kambuh sehingga dapat melalaikan puasa dengan dalih kesehatan terganggu.
Sebenarnya puasa itu bukanlah ibadah yang memberatkan,
siapapun akan mampu melaksanakannya asalkan dalam keadaan sehat, sebab orang
yang sakit memang diperkenankan untuk tidak berpuasa, demikian pula bagi orang
yang berat melakukannya karena sebab-sebab lain, semua itu dapat diganti dengan
qadha atau membayar fidyah yang disyariatkan islam.
Puasa itu memiliki tiga tingkatan yaitu; puasa orang
awam, puasa orang khawas [khusus] dan puasa orang khawashil [istimewa]. Adapun
puasanya orang awam ialah menahan perut dari makan dan minum serta tidak
menggauli isteri disiang hari, puasanya orang khusus yaitu puasanya orang-orang
yang shaleh, disamping menahan makan dan minum dan senggama juga menahan semua
indra dari perbuatan dosa, puasa itu akan sempurna dengan menjalankan lima
perkara;
- Memajamkan mata dari segala sesuatu yang mencela menurut syara’ [agama]
- Menjaga lisan dari mengghibah/ gunjing, dari berkata dusta, adu domba dan sumpah palsu.
- Menahan telinga dari mendengarkan sesuatu yang dibenci.
- Menahan semua anggota badan dari semua yang dibenci.
- Orang yang puasa hendaknya tidak terlalu banyak makan, sampai penuh perutnya diwaktu berbuka, meskipun makanan itu halal.
Kesadaran untuk meningkatkan nilai ibadah puasa pada
setiap tahun semakin berkurang di tengah masyarakat kita karena kurangnya
pengetahuan yang diawali tidak mau mendengarkan pengajian apa lagi membaca
buku-buku fiqih. Di bulan ini dijadikan sebagai arena pemborosan dengan istilah
konsumerisme, bukan melatih diri untuk hidup prihatin tapi berlomba-lomba dalam
bentuk masakan yang diikuti lomba pakaian diakhirnya. Ketika saat berbuka tiba
semua makanan dilahap tanpa fikir panjang karena sekian jam tidak makan tidak
minum yang akhirnya balas dendam sampai
untuk shalat maghribpun tidak sanggup lagi karena kekenyangan.
Berangkat dari surat Al Baqarah ayat 183, tergambar bahwa
kewajiban puasa bukan hanya pada ummat islam saja tapi ummat terdahulu juga
melakukan hal yang sama,bahkan agama selain islampun ada kewajiban berpuasa
itu, dengan cara dan maksud yang berbeda.
Tujuan puasa
berbeda-beda antara agama yang satu dan yang lainnya, termasuk puasanya
umat-umat terdahulu. Sebagaimana keterangan Alquran dalam surah Al-Baqarah [2]
ayat 183, puasa yang diwajibkan kepada umat Islam, sebenarnya juga pernah
dilakukan oleh umat-umat sebelumnya.
Sismono dalam
bukunya yang berjudul 'Puasa Pada Umat-umat Dulu dan Sekarang' menyebutkan,
puasa sudah dikenal oleh bangsa dan kaum yang hidup sebelum datangnya Islam.
Seperti puasa yang dilakukan oleh bangsa Mesir Kuni, Yunani Kuno, Romawi Kuno,
Zoroaster, Majusi, Yahudi, Nasrani, Cina Kuno, Jepang Kuno, Buddha, Hindu,
Manu, Konghucu, dan lainnya. ''Bahkan, nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad SAW juga
sudah melaksanakan puasa,'' tulisnya.
Sejarawan
Muslim, Ibnu Katsir, meyakini bahwa ajaran puasa sudah ada sejak zaman Adam dan
Hawa. Menurut dia, Adam berpuasa selama tiga hari setiap bulan sepanjang tahun.
Ada pula yang mengatakan bahwa Adam berpuasa pada 10 Muharam sebagai rasa
syukur karena bertemu dengan istrinya, Hawa, di Arafah. Sementara yang lain
berpendapat, Nabi Adam berpuasa sehari semalam pada waktu dia diturunkan dari
taman surga oleh Allah.
Ada juga yang
mengatakan Adam berpuasa 40 hari 40 malam setiap tahun. Pendapat lainnya
mengatakan Adam berpuasa dalam rangka mendoakan putra-putrinya. Selain itu, ada
yang menjelaskan, Adam berpuasa pada hari Jumat untuk mengenang peristiwa
penting, yakni dijadikannya dia oleh Allah, hari diturunkannya ke bumi, dan
diterimanya tobat Adam oleh Allah.
''Sesungguhnya
Allah menjadikan Adam pada hari Jumat, diturunkan di bumi pada hari Jumat, dia
bertobat kepada Allah atas dosanya memakan buah khuldi pada hari Jumat dan
wafat pun pada hari Jumat.'' (HR Bukhari).
Walaupun dalam
Alquran maupun hadis tidak dijelaskan bagaimana bentuk puasa Adam dan generasi
sesudahnya, tetapi ada petunjuk-petunjuk bahwa agama-agama yang dibawa oleh
para rasul terdahulu itu adalah agama monotheisme yang mengajarkan kepercayaan
pada keesaan Tuhan (Allah). Contohnya adalah Nabi Nuh yang berpuasa selama tiga
hari setiap bulan sepanjang tahun, seperti puasanya Nabi Adam.
Nabi Nuh juga
memerintahkan kaumnya untuk menyembah Allah dan berpuasa ketika mereka
berbulan-bulan hidup terkatung-katung di dalam perahu besar di tengah samudera
luas akibat bencana banjir besar, seraya bertobat kepada Allah. Nabi Ibrahim AS
juga terkenal dengan kegemarannya berpuasa, terutama pada saat hendak menerima
wahyu dari Allah, yang kemudian dijadikan suhuf Ibrahim itu.
Puasa menurut
agama Ibrahim dilaksanakan oleh Ismail, putra Ibrahim yang terkenal taat
beribadah itu; dan puasa Ibrahim diikuti pula oleh Ishaq (putra Ibrahim dari
Sarah). Nabi Ya'qub terkenal sebagai orang tua dan rasul yang gemar berpuasa,
terutama untuk keselamatan putra-putranya.
Sementara Nabi
Yusuf berpuasa ketika berada dalam penjara bersama para terhukum lainnya.
Kebiasaan berpuasa ini juga beliau terapkan ketika menjadi pembesar Mesir dan
menjabat sebagai menteri perekonomian negeri tersebut. ''Karena aku khawatir
apabila aku kenyang, nanti aku akan melupakan perut fakir miskin.'
' Sedangkan Nabi
Yunus berpuasa dari makan dan minum saat berada dalam perut ikan besar selama
beberapa hari, kemudian berbuka puasa setelah dimuntahkan kembali dari dalam
perut ikan itu. Untuk berbuka, dikisahkan beliau memakan buah semacam labu yang
tumbuh di tepi pantai. Nabi Ayub berpuasa pada waktu dia hidup dalam serba
kekurangan dan menderita penyakit selama bertahun-tahun, sampai akhirnya lepas
dari cobaan itu.
Nabi Syuaib
terkenal kesalehannya dan sebagai orang tua yang banyak melakukan puasa dalam
rangka bertakwa kepada Allah.[Budi Raharjo, Puasa Para
Nabi,Republina.co.id,
Ahad, 15 Agustus 2010, 22:02 WIB].
Puasa
Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam yang lima. Ibadah yang satu ini
memiliki pahala yang sangat besar di sisi Allah SWT. Menurut Syekh Abdul Azis
bin Fathi asSayyid Nada, dalam kitab Mausuu'atul Aadaab al-Islamiyah, keutamaan
dan ke agungan ibadah puasa itu bisa diraih ma nakala seorang Muslim
menjalankannya dengan cara yang disyariatkan dan memperhatikan adab-adabnya.
Berikut ini adab-adab yang perlu diperhatikan seorang Muslim ketika berpuasa:
Pertama, niat yang
baik.
Menurut Syekh Sayyid Nada, hendaklah
orang yang berpuasa berniat untuk mencari ridha Allah SWT, serta mencari pahala
dan balasan yang dijanjikan atas orang yang berpuasa. "Di samping itu, ia
pun berniat untuk melaksanakan hak Allah yang diwajibkan atasnya jika itu puasa
wajib seperti puasa Ramadhan," tutur Syekh Sayyid Nada. Bisa juga
seseorang meniatkan puasanya untuk meraih takwa, sebagaimana yang tercantum
dalam Alquran surah Albaqarah ayat 183.
Kedua, bersahur walaupun hanya minum seteguk air.
Nabi SAW menganjurkan bersahur, bahkan
Rasulullah SAW memerintahkan
sahur melalui sabdanya, "Bersahurlah karena pada makan sahur terdapat berkah." (HR Bukhari dan Muslim). Dalam hadis lainnya, Rasulullah SAW bersabda, "Perbedaan antara puasa kami dengan puasa Ahlul Kitab adalah makan sahur."(HR Muslim).Pada hadis lainnya, Rasulullah SAW bersabda, "Bersahurlah walaupu hanya meminum seteguk air." (HR Ibnu Hibban). Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Dawud, Rasulullah SAW juga bersabda, "Sebaik-baiknya makanan sahur orang Mukmin adalah kurma."
sahur melalui sabdanya, "Bersahurlah karena pada makan sahur terdapat berkah." (HR Bukhari dan Muslim). Dalam hadis lainnya, Rasulullah SAW bersabda, "Perbedaan antara puasa kami dengan puasa Ahlul Kitab adalah makan sahur."(HR Muslim).Pada hadis lainnya, Rasulullah SAW bersabda, "Bersahurlah walaupu hanya meminum seteguk air." (HR Ibnu Hibban). Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Dawud, Rasulullah SAW juga bersabda, "Sebaik-baiknya makanan sahur orang Mukmin adalah kurma."
Ketiga, mengakhirkan makan sahur.
Mengakhirkan makan sahur termasuk sunah
Rasulullah SAW. Nabi Muhammad SAW telah menganjurkan umatnya untuk mengakhirkan
makan sahur. Rasulullah bersabda, "Bersegeralah berbuka dan akhirkanlah makan
sahur." (HR Ibnu 'Adiy). Menurut Syekh Sayyid Nada, sahur bertujuan agar
seseorang lebih kuat dalam berpuasa, lebih banyak berkahnya, serta meneladani
perbuatan Nabi SAW. Diriwayatkan dari Zaid bi Tsabit RA, ia berkata, "Kami
pernah sahur bersama Rasulullah SAW, kemudian kami bangkit untuk mengerjakan
shalat. Anas berkata kepadanya: "Berapa jarak waktu antara keduanya?"
Ia berkata: "Jaraknya sekitar bacaan lima puluh ayat." (HR Bukhari
dan Muslim).
Keempat, tak berlebihan dalam makan sahur.
Menurut Syekh Sayyid Nada, makan sahur
yang berlebihan dapat memudha ratkan diri seseorang, yakni dapat menyebabkan
sakit perut, berat mengerjakan ibadah, dan mungkin bisa membuatnya tidur hingga
waktu Zhuhur. Makan sahur berlebihan juga bertentangan dengan hikmah puasa.
Kelima, menjaga anggota tubuh ketika berpuasa.
Ketika berpuasa, kata Syekh Sayyid Nada,
seorang Muslim hendaknya menjaga anggota tubuhnya, terutama mata. Karena mata,
tutur ulama terkemuka itu, bisa menimbulkan bahaya yang sangat besar, maka
wajib menundukkannya dari apa-apa yang diharamkan Allah SWT."Apabila seseorang
menjaga anggota tubuhnya: mata, tangan, lisan, telinga, kemaluan, dan kaki dari
apa-apa yang diharamkan Allah selama berpuasa, maka ia akan terbiasa melakukan
hal tersebut, sehingga menjadi kebiasaan," paparnya. Menurut Syekh Sayyid
Nada, orang yang berpuasa hendaknya menahan pandangan dari apa-apa yang
diharamkan Allah SWT, serta menjaga lisannya dari menggunjing dan mengadu
domba.
Keenam, sabar dan tak berbuat jahat.
Syekh Sayyid Nada menegaskan, janganlah
seseorang membalas perbuatan jahat dengan yang semisalnya. Janganlah membalas
orang yang mencacinya, tetapi hendaklah tabah, sabar dan menahan diri ketika
marah. Rasulullah SAW bersabda, "Jika salah seorang di antara kalian
sedang berpuasa, janganlah ia berbuat keji dan jahat. Jika ada orang mencaci
atau mengganggunya, hendaklah ia berkata; 'Aku sedang berpuasa, aku sedang
berpuasa'." (HR Bukhari-Muslim).
Ketujuh, memperbanyak
amal kebaikan.
Saat berpuasa, dianjurkan bagi seorang
Muslim untuk mengisi waktunya dengan berzikir dan berdoa, memohon ampun,
membaca Alquran, memperbanyak sedekah, menyediakan makanan berbuka semata-mata
untuk mencari balasan pahala, menyambung tali silaturahim, melakukan
kebaikan-kebaikan dan amal-amal yang lainnya.
Kedelapan, menyegerakan berbuka.
Kedelapan, menyegerakan berbuka.
Menyegerakan
berbuka termasuk sunah Nabi SAW. Rasulullah SAW bersabda, " Segerakanlah
berbuka ... ". Dalam hadis lainnya, Nabi SAW bersabda, "Manusia tetap
berada di dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka."(HR Bukhari).
Selain itu, saat berbuka disunahkan memakan kurma agar lebih meringankan
pencernaan dan memberikan lebih banyak manfaat.[Yogi Ardhi, Adab Menjalankan Ibadah Puasa
Republika co.id,Jumat, 13 Agustus 2010, 22:30 WIB]
Kewajiban
berpuasa bagi ummat islam sudah dilaksanakan sejak zaman Nabi Muhammad dengan
panduan dari firman Allah, selain manusia maka hewanpun ada yang menjalankan
puasa sesuai dengan instingnya sebagaimana yang dilaksanakan oleh sang
kupu-kupu, hewan cantik yang terbang kian kemari indah dipandangan mata,
sebelum berujud demikian asalnya adalah kepompong yang tidak menarik.
Kupu-kupu adalah
hewan yang sangat indah dan menarik. Sayapnya yang berwarna-warni dengan motif
yang sangat rapi serta kelincahannya terbang dari satu bunga ke bunga yang
lain, menjadi daya tarik bagi setiap orang untuk mengagumi makhluk ini.
Kupu-kupu tak
hadir begitu saja ke muka bumi, tapi melalui proses metaformosis dari binatang
yang bernama ulat. Menyebut namanya, mungkin ada sebagian orang yang jijik,
geli, takut, penyebab kulit gatal, perusak tanaman, dan sebagainya. Ia begitu
identik dengan sifat yang tidak baik. Hampir tak ada orang yang mau
menyentuhnya.
Namun, ketika
seekor ulat berubah menjadi kupu-kupu yang cantik dan indah, semua orang pun
berusaha memilikinya dan bahkan mengaguminya. Mereka tak merasa takut dengan
seekor kupu-kupu yang sesungguhnya berasal dari ulat. Itulah kupu-kupu. Hewan
yang indah dan menarik. Makanannya pun bahan pilihan, dan selalu membantu
proses penyerbukan tanaman.
Untuk menjadi
kupu-kupu, ulat terlebih dahulu menjadi kepompong. Itulah sebuah metamorfosis,
yang dalam bahasa manusianya sedang menjalani puasa, menjauhkan dari dari makan
dan minum, menutup dirinya dari hiruk pikuk kehidupan dunia. Ia begitu mirip
dengan cara kita beriktikaf, yaitu merenung diri dan melakukan pertobatan,
sehingga keluar menjadi kupu-kupu yang indah, disayang semua orang dan
mempunyai nilai ekonomi yang tinggi.
Itulah
barangkali gambaran puasa Ramadhan yang diharapkan oleh Allah SWT terhadap
orang-orang yang beriman. Kita, umat manusia yang banyak berbuat salah dandosa,
hendaknya biasa belajar dari ulat dan mengubah diri menjadi manusia yang
bertakwa dan disayang Allah SWT.
Tipe manusia
yang disayang Allah itu adalah; pertama, orang-orang yang berjalan di muka bumi
dengan rendah hati (tidak sombong) dan apabila orang jahil menyapa, mereka
mengucapkan kata-kata yang baik. (QS Al-Furqan [25]: 63).
Demikianlah
gambaran orang mukmin yang berpuasa, senantiasa menyebarkan kelembutan dan
keindahan, serta tidak suka berbuat keonaran dan kerusakan, di manapun dia
berada. Sebagaimana sifat kupu-kupu yang hinggap di sebuah dahan yang tak akan
pernah ada yang patah sekecil apa pun dahan yang dihinggapinya.
Kedua, mereka
yang senantiasa mendirikan shalat lima waktu dan shalat tahajjud di malam hari
sebagai wujud syukur kepada Allah (Al-Furqan [25]: 64, 73). Seperti kupu-kupu,
di manapun seorang mukmin berada, dia akan selalu melaksanakan perintah Allah,
menebarkan kasih sayang, dan menolong orang lain. Sebab, ia menyadari bahwa
sesungguhnya dirinya hanyalah seorang hamba yang juga tidak memiliki kemampuan
apa-apa tanpa anugerah dari Allah SWT.
Ketiga, orang
yang berhasil dalam pusanya, ia akan memilih makanannya dari yang halal
dan yang baik-baik saja, layaknya kupu-kupu yang hanya memilih sari madu bunga
sebagai makanannya. Orang yang berpuasa dan mukmin sejati, akan senantiasa
menjauhkan diri dari yang haram, seperti korupsi, mencuri, menipu, dan lainnya.
(QS Al-Baqarah [2]: 168).[H
Jatiman Karim, Belajar dari Puasanya Kupu-kupu, Republika online, Rabu, 25 Agustus 2010, 10:47 WIB].
Dalam konteks
Indonesia, puasa dan kemerdekaan adalah dua hal yang saling berkaitan. Sejarah
mencatat bahwa pembacaan naskah Proklamasi dilakukan pada hari Jum’at di bulan
Ramadhan.
Tidak ada
keterangan resmi, apakah momentum tersebut memang dirancang dengan seksama
ataukah kebetulan semata. Tanpa mengabaikan peran tokoh bangsa yang lainnya,
Soekarno, Mohammad Hatta dan sebagian besar tokoh yang terlibat dalam deklarasi
kemerdekaan adalah muslim yang teguh.
Bagi kaum
muslim, Jum’at adalah hari yang agung, sayyidu al-ayyam. Kaum muslim meyakini
sepenuhnya bahwa Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Mungkin, para tokoh
pendiri bangsa dengan sengaja memilih hari Jum’at di bulan Ramadhan dengan
harapan agar kemerdekaan bangsa Indonesia mendapatkan berkah dari Tuhan.”Atas
berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan didorongkan oleh keinginan yang luhur
supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan
dengan ini kemerdekaannya.”
Pernyataan
eksplisit di dalam Pembukaan UUD 1945 itu mengandung dua makna. Pertama,
kemerdekaan diperoleh dengan tekad yang kuat (azm) dan perjuangan yang tak
kenal lelah (sabr).
Kedua,
keberhasilan perjuangan juga ditentukan oleh kehendak Tuhan. Dwi tunggal, Bapak
Proklamasi, Soekarno dan Mohammad Hatta, adalah figur yang penuh keteladanan.
Dengan segala kelebihan dan kekurangannya sebagai manusia, mereka telah
memberikan teladan perjuangan dengan stamina yang tak pernah penat. Bilik
penjara yang sempit dan pengap tidak pernah memenjarakan pikiran dan jiwa
besarnya. Keterbatasan kehidupan material tidak pernah mampu menaklukkan dan
meredupkan cahaya iman dan akhlak utama.[Abdul
Mu'ti, Matahati Ramadhan, Puasa dan Kemerdekaan, Republika co.id. Selasa,
17/08/2010 10:24 WIB]
Banyak hikmah yang terkandung dalam ibadah puasa
sehingga merugilah orang yang tidak melakukannya selain juga berdosa bagi yang
meninggalkannya kecuali dengan udzur sesuai syara’, wajar bila nabi menyatakan
“Puasalah niscaya kamu akan sehat”, wallahu a’lam [Baloi Indah
Batam, 11
Rajab 1432.H/ 13 Juni 2011.M].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar