Amal ibadah yang dilakukan manusia walaupun nampak
dilihat orang hanya Allah dan dirinya saja yang tahu apakah amal itu ikhlas
atau riya’, dengan tegas Allah hanya memerintahkan hamba-Nya untuk beramal
dengan ikhlas dan membatalkan segala amal yang dilakukan dengan riya’,
sebagaimana firman-Nya dalam surat Al Baiyinah 98;5”Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya
menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama
yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang
demikian Itulah agama yang lurus”.
Apapun jenis ibadah yang dilakukan semuanya harus
ikhlas, tidak boleh mengharapkan sesuatu yang bukan ridha Allah, Imam Al Gazali
mengajarkan ikhlas kepada kita bila kita melakukan pekerjaan itu secara terus
menerus tidak hanya seketika saja, orang bisa ikhlas kata beliau bila dia
beribadah dapat pujian ataupun mendapat cacian, orang akan ikhlas dalam ibadah
bila dilihat orang atau tidak, tapi ibadah yang sifatnya temporal biasanya
sulit untuk ikhlas, semuanya karena pamrih.
Berhati-hatilah bagi
orang-orang yang ibadahnya temporal, karena bisa jadi perbuatan tersebut
merupakan tanda-tanda keikhlasannya belum sempurna. Karena aktivitas ibadah
yang dilakukan secara temporal tiada lain, ukurannya adalah urusan duniawi.
Ia hanya akan dilakukan kalau sedang butuh, sedang dilanda musibah, atau sedang disempitkan oleh ujian dan kesusahan, meningkatlah amal ibadahnya. Tidak demikian halnya ketika pertolongan Allah datang, kemudahan menghampiri, kesenangan berdatangan, justru kemampuannya bersenang-senangnya bersama Allah malah menghilang.
Ia hanya akan dilakukan kalau sedang butuh, sedang dilanda musibah, atau sedang disempitkan oleh ujian dan kesusahan, meningkatlah amal ibadahnya. Tidak demikian halnya ketika pertolongan Allah datang, kemudahan menghampiri, kesenangan berdatangan, justru kemampuannya bersenang-senangnya bersama Allah malah menghilang.
Bagi yang amalnya temporal,
ketika menjelang pernikahan tiba-tiba saja ibadahnya jadi meningkat, shalat
wajib tepat waktu, tahajud nampak khusu, tapi anehnya ketika sudah menikah,
jangankan tahajud, shalat subuh pun terlambat.Ini perbuatan yang
memalukan.Sudah diberi kesenangan, justru malah melalaikan
perintah-Nya.Harusnya sesudah menikah berusaha lebih gigih lagi dalam
ber-taqarrub kepada Allah sebagai bentuk ungkapan rasa syukur.
Ketika berwudhu, misalnya,
ternyata disamping kita ada seorang ulama yang cukup terkenal dan disegani,
wudhu kita pun secara sadar atau tidak tiba-tiba dibagus-baguskan.Lain lagi
ketika tidak ada siapa pun yang melihat, wudhu kitapun kembali dilakukan dengan
seadanya dan lebih dipercepat.
Atau ketika menjadi imam
shalat, bacaan Quran kita kadangkala digetar-getarkan atau disedih-sedihkan
agar orang lain ikut sedih. Tapi sebaliknya ketika shalat sendiri, shalat kita
menjadi kilat, padat, dan cepat. Kalau shalat sendirian dia begitu gesit, tapi
kalau ada orang lain jadi kelihatan lebih bagus. Hati-hatilah bisa jadi ada
sesuatu dibalik ketidakikhlasan ibadah-ibadah kita ini. Karenanya kalau melihat
amal-amal yang kita lakukan jadi melemah kualitas dan kuantitasnya ketika
diberi kesenangan, maka itulah tanda bahwa kita kurang ikhlas dalam beramal.[Harrys Pratama Teguh, Amal
yang Tetap Bermakna,korandigital.com.]
Orang yang tidak ikhlas dalam
amal, amalnya agar dilihat orang disebut dengan riya’, dia lebih mengutamakan
ekspos orang yang melihatnya daripada disembunyikan amal-amal itu, Rasulullah
bersabda;"Yang paling aku takutkan dari apa yang aku takutkan atas kamu
ialah syirik ashghor, ditanya oleh para sahabat, apa maksudnya ya Rasulullah ?
Beliau bersabda: riya' "( al Hadits)
Mengapa sampai Rasulullah demikian
takut riya' atas ummatnya, dan itu merupakah hal yang paling beliau takuti akan
menimpa kaum Muslimin ?Allah dan rasulnya saja yang tahu. Namun kita ma'fhum bahwarasa kasih-sayang
Rasulullah, rasa cinta beliau kepada ummatini demikian besar, sedang riya'
dapat datang dengan lihainyakedalam hati dan dengannya akan terhapus pahala
amaliah seorangMuslimin.
Para ulama mengibartakan riya'
seperti semut hitam yang merayap di atas batu hitam di malam gelap gulita.Tak
terlihat.Dia menyelusup halus, merayap, perlahan, lalu akhirnya menikamhati,
mencairkan ikhlash dan memusnahkan pahala.Dia datangseperti waswaasil khannas,
syaithan yang datang secara rahasia,bersembunyi di dasar hati, menyusup, dan
menunggu kesempatanbaik serta kelengahan untuk membolak-balik niat,
mengelabuinya,menundukkannya, lalu akhirnya mendorong kejurang kesesatan.
Itulah cara kerja riya'. Sangat lihai, licin dan berbahaya.Kalau dia
telah menikam hati dan mengelabuinya, maka ibadah yangsemestinya hanya
diniatkan untuk Allah semata membias, kabur,bahkan hati meletup-letup,
bersemangat, dan berharap-harap agaramaliah ini secara zhohir dilihat oleh
manusia. Maka dari niatyang ikhlash
tersimpangkan menjadi harapan untuk memamerkannyakepada manusia, agar manusia
melihat ibadahnya, demi sebingkaipujian, demi sepenggal kehormatan, atau
sejumput popularitas.
Domain riya' sebatas hati, refleksinya dalam
amal, kecualiAllah orang lain tak dapat tahu. Inilah syirik ashghor,
syirikkecil.
Imam al Ghazali membagi riya'
dalam enam macam; riya' daribadan; dalam tingkah-laku, dalam berpakaian, dalam
ucapan, amaldan dalam menunjukkan banyaknya murid.Riya' dapat muncul
dalambentuk ingin menunjukkan kepada khalayak bahwa dirinya pintardan banyak
tahu tentang urusan agama.Bentuk ini adalah riya'yang jelas dan dekat dengan
sombong. Yang lebih tersamar lagi,dia
tidak ingin menunjukkan kepintarannya, serta ibadahnya namunmanakala orang lain
tidak mengakui eksistensinya, kurang dihormati,dia merasa heran mengapa orang
lain bersikap seperti itu kepadanya.Dia heran kenapa orang lain tidak tahu
kemampuannya. Dia
berupayabersembunyi-sembunyi untuk beramal, namun manakala orang
lainmemergokinya hatinya gembira, lebih gembira ketimbang kepergokbinatang,
bahkan berharap-harap agar ada orang yang memergokinya.
Jadi dari segi bentuk ada riya'
yang jelas, riya' yang samardan riya' yang tersamar.Riya' yang jelas nampak
manakala dalamibadah yang diketahui orang lain seseorang memperbagus
tata-cara,memperlama sujud dan ruku, seperti nampaknya khusyu', padahalmanakala
sendiri dilakukannya ibadah itu secara cepat, enteng danmemudahkan.Tanpa adanya
riya' ini dia tidak dapat beramal sepertiitu, dan merasakan senang dalam
beramal karenanya.
Riya' yang samar tidak mampu mewujudkan amal,
namun dengannyamenambah semangat untuk beramal. Bila dia bertahajut dan kebetulan
ada tamu, bertambah-tambahlah semangatnya.
Yang lebih samardari ini, adanya orang lain tak memberi semangat
amalannya, namunmanakala ketika beramal terlihat oleh orang lain timbul rasa
senangdan puas.
Tingkat yang terakhir adalah
riya' tersamar.Dalam tingkatanini tak ada rasa senang bila dipergoki sedang
melakukan amaliah.Namun dia merasa heran kalau orang lain bersikap berbeda
denganapa yang dia harapkan. Heran kalau
orang lain merendahkannya,dan kurang menghormatinya. Kenapa heran ?
Itulah riya' yang sangat halus
kerjanya, yang tak pernah diketahui orang lain, namun sungguh berbahaya, dia
mampu memberangusikhlash, menggeser pahala sampai zero point, dan menyisakan
kesia-siaan pada kita.[abu Zahra, riya'Dirancang
oleh KTPDI, 1999-2005].
Dalam
pembahasan selanjutnya Abu Zahra menguraikan beberapa perumpamaan amal yang
dilakukan dengan riya’, dalam tulisannya di KTPDI disebutkan sebagai berikut;
Amal yang sarat riya' itu seperti debu melayang, terbang tak membawa kebaikan pada dirinya (Al Furqan:23). Maka Allah mengumpamakan riya' seperti bata licin yang penuh tanah di atasnya,kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersihtidak bertanah (Al Baqarah:264). Dan Rasulullah SAW bersabda,"berlindunglah kamu sekalian dari jurang kedukaan! Apakah itu yaRasulullah ?Beliau menjawab "Sebuah jurang di neraka Jahannamyang disediakan bagi ulama yang riya'". Mengapa demikian ?Karena riya' menghancurkan kualitas amaliah, memutuskan benangpenghubung, jalinan hati antara hamba dan Khalik, dan secara taklangsung menihilkan eksistensi Allah Yang Agung.
Riya' dalam hubungannya dengan sesama manusia adalah suatu bentuk penipuan, pengelabuan, kebohongan. Menampakkan kepada sesame manusia akan kehusyu'an ibadah, tawadlu, menampakkan seolah-olahakhli ibadah yang ikhlash, namun sesungguhnya hanya tingkah-lakupamer, berharap perhatian, pujian, dan penghormatan. Tipu-dayayang muncul dari penyakit hati, rasa minder, ketakmampuan diri,cinta sanjungan, penuh harap akan martabat, dan takut akan celaan.Kalau seorang penipu melakukan kebohongan dengan kata-kata dan pe-
ngelabuan material yang langsung merugikan orang lain, maka ahlulriya' melakukan penipuan dalam bentuk zhohir ibadah. Akhli riya'menampakkan bibir yang kering karena puasa, menampakkan mata yangkuyu agar terlihat giat tahajjud dlsb., cepat-cepat menanggapihadits dengan perkataan shahih, mursal dlsb. agar nampak diketahuiorang akan kemampuannya menghafal hadits dlsb. Tujuannya satu,agar orang lain tahu bahwa dia adalah akhli ibadah, dia pandai ilmuagama, padahal hatinya kering dari ketundukkan kepada Allah.
Dalam hubungannya dengan Allah, maka riya' tidak lain adalahbentuk pengejekkan, semacam penghinaan tersamar kepada Allah.Riya' menampakkan zhohir ibadah kepada Allah, namun hati diserahkankepada manusia, dipamerkan kepada manusia untuk mencari sejumputpenghargaan manusia. Sementara hakekat diin ini adalah untuk ber-ibadah kepada Allah dalam segenap totalitasnya, dalam segala aspekdan dimensi kehidupan, lalu menjadikan berbagai aktifitas kehidupanitu masuk dalam domain sakralitas, sehingga tak ada yang tersisadari detik-detik kehidupan manusia selain dalam rangka ibadah,dalam rangka penyembahan kepada Allah SWT dan mengagungkan namaNya,maka riya' justru menumbuhkan arus balik, gerakkan yang melawantotalitas ibadah, bahkan menihilkan ibadah mahdoh (khusus) sekalipun. Dengan riya' semua ibadah menjadi tersekularisasi, mendunia,menjadi profane.Karena ibadah telah dihambakan untuk tujuan-tujuan dunia, untuk kepentingan material belaka, untuk dipamerkan,untuk popularitas, penghargaan, dan kedudukan di hati manusia.
Maka hakekat diin ini tercabut dari dada ahlul riya', hubungan dengan Allah menjadi terputus.Eksistensi Allah sebagai Rabb, yanghati ini mesti dihadapkan kepadaNya, dinihilkan, tak dihiraukan,lalu hati dihadapkan kepada manusia, agar manusia tahu kesalehannya, keikhlasannya, kekhusyu'annya, agar manusia memujinya.Ibadah yang ihsan, yang dilakukan dengan kualitas prima karenaseolah-olah kita melihat Allah dan kalaupun kita tidak melihatNyamaka Allah melihat kita, disempitkan sebatas zhohirotul ihsan,sebatas jasad belaka, dan bahkan bukan saja tidak diyakini Allahmelihat mereka, tapi akhli riya' berharap-harap manusia melihatmereka dalam ibadah, cukup manusia saja. Maka ibadahpun sebatasjasad, sebatas zhohir, dan hati telah diserahkan untuk manusia.Pengawasan manusia demikian mencekam mereka, demikian mereka patuhi ketimbang pengawasan Allah, padahal azab siapakah yang paling pedih ?Inilah syirik kecil.
Allah menyamakan akhli riya'dengan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir,bahkan hukuman berupa siksa yang menghinakan telah dipersiapkanNya.Mengapa ? Karena akhli riya' telah mengejek Allah, lebih takut akanpengawasan manusia ketimbang pengawasan Allah, lebih suka pujianmanusia ketimbang surga Allah, lebih takut celaan manusia ketimbangneraka Allah, memberikan formalitas untuk Allah sementara hati untukmanusia. Lalu apakah ini ciri orang yang beriman kepada Allah danhari akhir ?[abu Zahra,riya,KTPDI Isnet].
Orang yang riya’ dalam ibadah, menyangka yang dilakukannya itu mendatangkan kebaikan, terkesan bahwa ibadahnya akan dibalas dengan pahala dan kelak diterima syurga, padahal kekagumannya terhadap amal-amalnya sudah melalaikan dia dari dosa yang dia lakukan, dia sudah tidak menganggap lagi kalau riya’ itu dosa karena sudah biasa berbuat karena riya’.
Saat beribadah, kerap kita didatangi
perasaan, “Telah banyak ibadah yang saya kerjakan”, atau pertanyaan, “Berapa
rupiah uang yang sudah saya sedekahkan”.Bahkan sering juga hati bergumam,
“Kiranya semua dosa-dosaku pasti telah diampuni, karena aku shalat sunnah
sekian kali setiap hati”.
Perasaan, angan-angan dan pertanyaan
seperti tersebut di atas bisa merusak amal perbuatan.Bahkan bisa berakibat
meremehkan (tahawun) perbuatan dosa.
Sehingga, ibadahnya bisa menjadi
sia-sia.Sebab, semangat ibadahnya bukan lagi karena takwa kepada Allah SWT,
tapi ingin jadi kaya atau ingin disebut ahli ibadah.Sebagaimana hadis
Rasulullah SAW di atas, orang seperti tersebut di atas disebut rakus.Beribadah
banyak tanpa disertai pengetahuan ancaman-ancaman Allah SWT dalam
al-Qur’an.Ancaman-Nya dianggap lalu saja.
Rasulullah SAW memberi gambaran: “Sesungguhnya
orang mukmin itu memandang dosa-dosanya seperti orang yang berdiri di bawah
gunung, yang mana dia (sentiasa) rasa takut yang gunung itu nanti akan
menghempapnya,dan orang yang keji pula memandang dosa-dosa mereka seperti
seekor lalat yang hinggap di atas hidungnya, yang berkata : dengan hanya begini
sahaja (iaitu dengan hanya ditepis dengan tangan sahaja) maka dengan mudah sahaja
lalat itu terbang. “ (HR. Bukhari Muslim)
Imam al-Ghazali mengingatkan, meremehkan
dosa dan over confident terhadap amal perbuatannya adalah sangat
berbahaya.Sebab katanya, orang yang sibuk menghitung-hitung pahala biasanya
lupa terhadap banyaknya dosa.
Orang seperti ini akan mendapatkan
kekecewaan di akhirat. Ketika di dunia ia lupa mengkalkulasi berapa banyak dosa
yang telah dilakukan, sehingga dosa-dosanya lupa dimintakan ampun kepada Allah
SWT. Ia hanya sibuk mengkalkulasi jumlah shalat, zakat, puasa dan sedekah yang
dilakukan.
Ia tidak mengetahui seberapa besar
kalkulasi pahalanya jika dibanding dosanya. Maka, saat di akhirat ia menyangka
membawa pahala, padahal pahalanya berguguran sementara dosanya menumpuk. Inilah
fenomena yang disinyalir akan banyak terjadi pada akhir zaman.
Maka dalam beribadah kita mesti memiliki
pengetahuan seimbang antara kabar baik dan ancaman Allah SWT.Ancaman-ancaman
Allah yang tersebut dalam al-Qur’an harus menjadi perhatian kita, agar tidak
terjebak di dalamnya.Sementara orang yang hanya berfokus pada jumlah pahala
(kabar baik) disebut sebagai jahil.Tidak mengetahui bahwa setiap harinya
diawasi oleh Malaikat Raqib dan ‘Atid yang mencatat kebaikan dan keburukan.
Kita pun terkadang terlalu ‘asyik’
melafalkan huruf demi huruf al-Qur’an, tapi lupa isi dan pelajaran di baliknya.
‘Keasyikan’ itu menimbulkan kebanggaan hati, bahwa ia telah melakukan amal baik
– yaitu membaca al-Qur’an sebanyak-banyaknya. Pernahkan terbesit di dalam hati
kita kata-kata ini: “Alhamdulillah, sudah sekian kali al-Qur’an telah aku
khatamkan. Pasti aku masuk surga”.Ini kata-kata yang menipu.Memastikan diri ini
cukup berbahaya.Bisa menimbulkan ‘ujub, bahkan melalaikan dosa.
Fenomena ini pernah terjadi pada masa
umat nabi Musa a.s, seperti tertulis dalam al-Qur’an: “...Maka datanglah
sesudah mereka, yaitu generasi yang mewarisi Taurat, yang menghambil harta
benda dunia yang rendah ini, seraya berkata: ‘Kami akan diberi ampunan oleh
Allah.’” (QS. Al-A’raf: 169). Generasi tersebut, berbuat dosa akan tetapi
merasa mereka diampuni oleh Allah.
Imam al-Ghazali menjelaskan : “Jika kita
terlena menghitung pahala tetapi dosa-dosa dilupakan. Maka kita menjadi orang
tertipu terhadap amal kita sendiri. Pada hari penghitungan amal, kita akan
terkejut. Sebab ternyata timbangan amal lebih berat daripada pahala yang kita
sangka-sangka telah menumpuk.”[Sibuk
Hitung Pahala, Malah Lupa Beribadah, Hidayatullah.com Kamis, 17 Februari
2011 Kholili Hasib].
Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan Al Hakim,
Rasulullah bersabda, ”Tiga orang yang
tidak dilihat Allah dihari kiamat ialah; orang yang durhaka kepada orangtuanya,
orang yang kecanduan minuman keras dan orang yang mengungkit-ungkit kebaikannya
kepada orang lain.
Salah satu sebab Allah
tidak mau memandang manusia pada hari kiamat ialah mereka yang beramal, berbuat
kebaikan kemudian kebaikan tersebut dingungkit-ungkit kembali. Kalau dia tulus
berbuat baik kepada manusia maka dia tidak akan mengungkit – ungkit kebaikan
apa yang pernah diberikannya kepada orang lain, walaupun tidak diungkit-ungkit
maka kebaikan itu akan tetap terkenang oleh penerimanya. Kebaikan akan gugur
dan sia-sia karena diungkit kembali baik dengan ucapan maupun tindakan seperti, ”Anda tidak akan sejaya ini kalau tidak
karena bantuan yang saya berikan, kamu tidak akan jadi kaya kalau bukan karena
saya, dia itu sukses karena sumbangan dan bantuan baik kita” dan lain
sebagainya ucapan yang dilontarkan.
Alangkah ruginya
kita dalam hidup ini dengan amal yang banyak sebagai bekal di akherat, negeri
yang sangat dinanti-nantikan oleh orang yang beriman, akan tetapi amal tersebut
tidak akan pernah kita dapati karena dilakukan bukan karena Allah,Wallahu A’lam
[Cubadak Solok, 22 Syawal 1432.H/ 20 September 2011.M].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar