Minggu, 29 November 2015

60. Andai Aku Tahu Riya' Berdosa



Amal ibadah yang dilakukan manusia walaupun nampak dilihat orang hanya Allah dan dirinya saja yang tahu apakah amal itu ikhlas atau riya’, dengan tegas Allah hanya memerintahkan hamba-Nya untuk beramal dengan ikhlas dan membatalkan segala amal yang dilakukan dengan riya’, sebagaimana firman-Nya dalam surat Al Baiyinah 98;5”Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus”.

Apapun jenis ibadah yang dilakukan semuanya harus ikhlas, tidak boleh mengharapkan sesuatu yang bukan ridha Allah, Imam Al Gazali mengajarkan ikhlas kepada kita bila kita melakukan pekerjaan itu secara terus menerus tidak hanya seketika saja, orang bisa ikhlas kata beliau bila dia beribadah dapat pujian ataupun mendapat cacian, orang akan ikhlas dalam ibadah bila dilihat orang atau tidak, tapi ibadah yang sifatnya temporal biasanya sulit untuk ikhlas, semuanya karena pamrih. 

Berhati-hatilah bagi orang-orang yang ibadahnya temporal, karena bisa jadi perbuatan tersebut merupakan tanda-tanda keikhlasannya belum sempurna. Karena aktivitas ibadah yang dilakukan secara temporal tiada lain, ukurannya adalah urusan duniawi.

Ia hanya akan dilakukan kalau sedang butuh, sedang dilanda musibah, atau sedang disempitkan oleh ujian dan kesusahan, meningkatlah amal ibadahnya. Tidak demikian halnya ketika pertolongan Allah datang, kemudahan menghampiri, kesenangan berdatangan, justru kemampuannya bersenang-senangnya bersama Allah malah menghilang.

Bagi yang amalnya temporal, ketika menjelang pernikahan tiba-tiba saja ibadahnya jadi meningkat, shalat wajib tepat waktu, tahajud nampak khusu, tapi anehnya ketika sudah menikah, jangankan tahajud, shalat subuh pun terlambat.Ini perbuatan yang memalukan.Sudah diberi kesenangan, justru malah melalaikan perintah-Nya.Harusnya sesudah menikah berusaha lebih gigih lagi dalam ber-taqarrub kepada Allah sebagai bentuk ungkapan rasa syukur.

Ketika berwudhu, misalnya, ternyata disamping kita ada seorang ulama yang cukup terkenal dan disegani, wudhu kita pun secara sadar atau tidak tiba-tiba dibagus-baguskan.Lain lagi ketika tidak ada siapa pun yang melihat, wudhu kitapun kembali dilakukan dengan seadanya dan lebih dipercepat.

Atau ketika menjadi imam shalat, bacaan Quran kita kadangkala digetar-getarkan atau disedih-sedihkan agar orang lain ikut sedih. Tapi sebaliknya ketika shalat sendiri, shalat kita menjadi kilat, padat, dan cepat. Kalau shalat sendirian dia begitu gesit, tapi kalau ada orang lain jadi kelihatan lebih bagus. Hati-hatilah bisa jadi ada sesuatu dibalik ketidakikhlasan ibadah-ibadah kita ini. Karenanya kalau melihat amal-amal yang kita lakukan jadi melemah kualitas dan kuantitasnya ketika diberi kesenangan, maka itulah tanda bahwa kita kurang ikhlas dalam beramal.[Harrys Pratama Teguh, Amal yang Tetap Bermakna,korandigital.com.]

Orang yang tidak ikhlas dalam amal, amalnya agar dilihat orang disebut dengan riya’, dia lebih mengutamakan ekspos orang yang melihatnya daripada disembunyikan amal-amal itu, Rasulullah bersabda;"Yang paling aku takutkan dari apa yang aku takutkan atas kamu ialah syirik ashghor, ditanya oleh para sahabat, apa maksudnya ya Rasulullah ? Beliau bersabda: riya' "( al Hadits)

               Mengapa sampai Rasulullah demikian takut riya' atas ummatnya, dan itu merupakah hal yang paling beliau takuti akan menimpa kaum Muslimin ?Allah dan rasulnya saja yang tahu.  Namun kita ma'fhum bahwarasa kasih-sayang Rasulullah, rasa cinta beliau kepada ummatini demikian besar, sedang riya' dapat datang dengan lihainyakedalam hati dan dengannya akan terhapus pahala amaliah seorangMuslimin.

               Para ulama mengibartakan riya' seperti semut hitam yang merayap di atas batu hitam di malam gelap gulita.Tak terlihat.Dia menyelusup halus, merayap, perlahan, lalu akhirnya menikamhati, mencairkan ikhlash dan memusnahkan pahala.Dia datangseperti waswaasil khannas, syaithan yang datang secara rahasia,bersembunyi di dasar hati, menyusup, dan menunggu kesempatanbaik serta kelengahan untuk membolak-balik niat, mengelabuinya,menundukkannya, lalu akhirnya mendorong kejurang kesesatan.

                Itulah cara kerja riya'.  Sangat lihai, licin dan berbahaya.Kalau dia telah menikam hati dan mengelabuinya, maka ibadah yangsemestinya hanya diniatkan untuk Allah semata membias, kabur,bahkan hati meletup-letup, bersemangat, dan berharap-harap agaramaliah ini secara zhohir dilihat oleh manusia.  Maka dari niatyang ikhlash tersimpangkan menjadi harapan untuk memamerkannyakepada manusia, agar manusia melihat ibadahnya, demi sebingkaipujian, demi sepenggal kehormatan, atau sejumput popularitas.

                Domain riya' sebatas hati, refleksinya dalam amal, kecualiAllah orang lain tak dapat tahu. Inilah syirik ashghor, syirikkecil.

               Imam al Ghazali membagi riya' dalam enam macam; riya' daribadan; dalam tingkah-laku, dalam berpakaian, dalam ucapan, amaldan dalam menunjukkan banyaknya murid.Riya' dapat muncul dalambentuk ingin menunjukkan kepada khalayak bahwa dirinya pintardan banyak tahu tentang urusan agama.Bentuk ini adalah riya'yang jelas dan dekat dengan sombong.  Yang lebih tersamar lagi,dia tidak ingin menunjukkan kepintarannya, serta ibadahnya namunmanakala orang lain tidak mengakui eksistensinya, kurang dihormati,dia merasa heran mengapa orang lain bersikap seperti itu kepadanya.Dia heran kenapa orang lain tidak tahu kemampuannya.  Dia berupayabersembunyi-sembunyi untuk beramal, namun manakala orang lainmemergokinya hatinya gembira, lebih gembira ketimbang kepergokbinatang, bahkan berharap-harap agar ada orang yang memergokinya.

               Jadi dari segi bentuk ada riya' yang jelas, riya' yang samardan riya' yang tersamar.Riya' yang jelas nampak manakala dalamibadah yang diketahui orang lain seseorang memperbagus tata-cara,memperlama sujud dan ruku, seperti nampaknya khusyu', padahalmanakala sendiri dilakukannya ibadah itu secara cepat, enteng danmemudahkan.Tanpa adanya riya' ini dia tidak dapat beramal sepertiitu, dan merasakan senang dalam beramal karenanya.

                Riya' yang samar tidak mampu mewujudkan amal, namun dengannyamenambah semangat untuk beramal. Bila dia bertahajut dan kebetulan ada tamu, bertambah-tambahlah semangatnya.  Yang lebih samardari ini, adanya orang lain tak memberi semangat amalannya, namunmanakala ketika beramal terlihat oleh orang lain timbul rasa senangdan puas.

               Tingkat yang terakhir adalah riya' tersamar.Dalam tingkatanini tak ada rasa senang bila dipergoki sedang melakukan amaliah.Namun dia merasa heran kalau orang lain bersikap berbeda denganapa yang dia harapkan.  Heran kalau orang lain merendahkannya,dan kurang menghormatinya.  Kenapa heran ?

               Itulah riya' yang sangat halus kerjanya, yang tak pernah diketahui orang lain, namun sungguh berbahaya, dia mampu memberangusikhlash, menggeser pahala sampai zero point, dan menyisakan kesia-siaan pada kita.[abu Zahra, riya'Dirancang oleh KTPDI, 1999-2005].

               Dalam pembahasan selanjutnya Abu Zahra menguraikan beberapa perumpamaan amal yang dilakukan dengan riya’, dalam tulisannya di KTPDI disebutkan sebagai berikut;

               Amal yang sarat riya' itu seperti debu melayang, terbang tak membawa kebaikan pada dirinya (Al Furqan:23).  Maka Allah mengumpamakan riya' seperti bata licin yang penuh tanah di atasnya,kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersihtidak bertanah (Al Baqarah:264).  Dan Rasulullah SAW bersabda,"berlindunglah kamu sekalian dari jurang kedukaan!  Apakah itu yaRasulullah ?Beliau menjawab "Sebuah jurang di neraka Jahannamyang disediakan bagi ulama yang riya'".  Mengapa demikian ?Karena riya' menghancurkan kualitas amaliah, memutuskan benangpenghubung, jalinan hati antara hamba dan Khalik, dan secara taklangsung menihilkan eksistensi Allah Yang Agung.
 
               Riya' dalam hubungannya dengan sesama manusia adalah suatu bentuk penipuan, pengelabuan, kebohongan.  Menampakkan kepada sesame manusia akan kehusyu'an ibadah, tawadlu, menampakkan seolah-olahakhli ibadah yang ikhlash, namun sesungguhnya hanya tingkah-lakupamer, berharap perhatian, pujian, dan penghormatan.  Tipu-dayayang muncul dari penyakit hati, rasa minder, ketakmampuan diri,cinta sanjungan, penuh harap akan martabat, dan takut akan celaan.Kalau seorang penipu melakukan kebohongan dengan kata-kata dan pe-
ngelabuan material yang langsung merugikan orang lain, maka ahlulriya' melakukan penipuan dalam bentuk zhohir ibadah.  Akhli riya'menampakkan bibir yang kering karena puasa, menampakkan mata yangkuyu agar terlihat giat tahajjud dlsb., cepat-cepat menanggapihadits dengan perkataan shahih, mursal dlsb. agar nampak diketahuiorang akan kemampuannya menghafal hadits dlsb.  Tujuannya satu,agar orang lain tahu bahwa dia adalah akhli ibadah, dia pandai ilmuagama, padahal hatinya kering dari ketundukkan kepada Allah.
 
                Dalam hubungannya dengan Allah, maka riya' tidak lain adalahbentuk pengejekkan, semacam penghinaan tersamar kepada Allah.Riya' menampakkan zhohir ibadah kepada Allah, namun hati diserahkankepada manusia, dipamerkan kepada manusia untuk mencari sejumputpenghargaan manusia.  Sementara hakekat diin ini adalah untuk ber-ibadah kepada Allah dalam segenap totalitasnya, dalam segala aspekdan dimensi kehidupan, lalu menjadikan berbagai aktifitas kehidupanitu masuk dalam domain sakralitas, sehingga tak ada yang tersisadari detik-detik kehidupan manusia selain dalam rangka ibadah,dalam rangka penyembahan kepada Allah SWT dan mengagungkan namaNya,maka riya' justru menumbuhkan arus balik, gerakkan yang melawantotalitas ibadah, bahkan menihilkan ibadah mahdoh (khusus) sekalipun.  Dengan riya' semua ibadah menjadi tersekularisasi, mendunia,menjadi profane.Karena ibadah telah dihambakan untuk tujuan-tujuan dunia, untuk kepentingan material belaka, untuk dipamerkan,untuk popularitas, penghargaan, dan kedudukan di hati manusia.
 
               Maka hakekat diin ini tercabut dari dada ahlul riya', hubungan dengan Allah menjadi terputus.Eksistensi Allah sebagai Rabb, yanghati ini mesti dihadapkan kepadaNya, dinihilkan, tak dihiraukan,lalu hati dihadapkan kepada manusia, agar manusia tahu kesalehannya, keikhlasannya, kekhusyu'annya, agar manusia memujinya.Ibadah yang ihsan, yang dilakukan dengan kualitas prima karenaseolah-olah kita melihat Allah dan kalaupun kita tidak melihatNyamaka Allah melihat kita, disempitkan sebatas zhohirotul ihsan,sebatas jasad belaka, dan bahkan bukan saja tidak diyakini Allahmelihat mereka, tapi akhli riya' berharap-harap manusia melihatmereka dalam ibadah, cukup manusia saja.  Maka ibadahpun sebatasjasad, sebatas zhohir, dan hati telah diserahkan untuk manusia.Pengawasan manusia demikian mencekam mereka, demikian mereka patuhi ketimbang pengawasan Allah, padahal azab siapakah yang paling pedih ?Inilah syirik kecil.
 
               Allah menyamakan akhli riya'dengan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir,bahkan hukuman berupa siksa yang menghinakan telah dipersiapkanNya.Mengapa ? Karena akhli riya' telah mengejek Allah, lebih takut akanpengawasan manusia ketimbang pengawasan Allah, lebih suka pujianmanusia ketimbang surga Allah, lebih takut celaan manusia ketimbangneraka Allah, memberikan formalitas untuk Allah sementara hati untukmanusia.  Lalu apakah ini ciri orang yang beriman kepada Allah danhari akhir ?[abu Zahra,riya,KTPDI Isnet].
 
               Orang yang riya’ dalam ibadah, menyangka yang dilakukannya itu mendatangkan kebaikan, terkesan bahwa ibadahnya akan dibalas dengan pahala dan kelak diterima syurga, padahal kekagumannya terhadap amal-amalnya sudah melalaikan dia dari dosa yang dia lakukan, dia sudah tidak menganggap lagi kalau riya’ itu dosa karena sudah biasa berbuat karena riya’.
 

Saat beribadah, kerap kita didatangi perasaan, “Telah banyak ibadah yang saya kerjakan”, atau pertanyaan, “Berapa rupiah uang yang sudah saya sedekahkan”.Bahkan sering juga hati bergumam, “Kiranya semua dosa-dosaku pasti telah diampuni, karena aku shalat sunnah sekian kali setiap hati”.

Perasaan, angan-angan dan pertanyaan seperti tersebut di atas bisa merusak amal perbuatan.Bahkan bisa berakibat meremehkan (tahawun) perbuatan dosa.

Sehingga, ibadahnya bisa menjadi sia-sia.Sebab, semangat ibadahnya bukan lagi karena takwa kepada Allah SWT, tapi ingin jadi kaya atau ingin disebut ahli ibadah.Sebagaimana hadis Rasulullah SAW di atas, orang seperti tersebut di atas disebut rakus.Beribadah banyak tanpa disertai pengetahuan ancaman-ancaman Allah SWT dalam al-Qur’an.Ancaman-Nya dianggap lalu saja.

Rasulullah SAW memberi gambaran: “Sesungguhnya orang mukmin itu memandang dosa-dosanya seperti orang yang berdiri di bawah gunung, yang mana dia (sentiasa) rasa takut yang gunung itu nanti akan menghempapnya,dan orang yang keji pula memandang dosa-dosa mereka seperti seekor lalat yang hinggap di atas hidungnya, yang berkata : dengan hanya begini sahaja (iaitu dengan hanya ditepis dengan tangan sahaja) maka dengan mudah sahaja lalat itu terbang. “ (HR. Bukhari Muslim)

Imam al-Ghazali mengingatkan, meremehkan dosa dan over confident terhadap amal perbuatannya adalah sangat berbahaya.Sebab katanya, orang yang sibuk menghitung-hitung pahala biasanya lupa terhadap banyaknya dosa.

Orang seperti ini akan mendapatkan kekecewaan di akhirat. Ketika di dunia ia lupa mengkalkulasi berapa banyak dosa yang telah dilakukan, sehingga dosa-dosanya lupa dimintakan ampun kepada Allah SWT. Ia hanya sibuk mengkalkulasi jumlah shalat, zakat, puasa dan sedekah yang dilakukan.

Ia tidak mengetahui seberapa besar kalkulasi pahalanya jika dibanding dosanya. Maka, saat di akhirat ia menyangka membawa pahala, padahal pahalanya berguguran sementara dosanya menumpuk. Inilah fenomena yang disinyalir akan banyak terjadi pada akhir zaman.

Maka dalam beribadah kita mesti memiliki pengetahuan seimbang antara kabar baik dan ancaman Allah SWT.Ancaman-ancaman Allah yang tersebut dalam al-Qur’an harus menjadi perhatian kita, agar tidak terjebak di dalamnya.Sementara orang yang hanya berfokus pada jumlah pahala (kabar baik) disebut sebagai jahil.Tidak mengetahui bahwa setiap harinya diawasi oleh Malaikat Raqib dan ‘Atid yang mencatat kebaikan dan keburukan.

Kita pun terkadang terlalu ‘asyik’ melafalkan huruf demi huruf al-Qur’an, tapi lupa isi dan pelajaran di baliknya. ‘Keasyikan’ itu menimbulkan kebanggaan hati, bahwa ia telah melakukan amal baik – yaitu membaca al-Qur’an sebanyak-banyaknya. Pernahkan terbesit di dalam hati kita kata-kata ini: “Alhamdulillah, sudah sekian kali al-Qur’an telah aku khatamkan. Pasti aku masuk surga”.Ini kata-kata yang menipu.Memastikan diri ini cukup berbahaya.Bisa menimbulkan ‘ujub, bahkan melalaikan dosa.

Fenomena ini pernah terjadi pada masa umat nabi Musa a.s, seperti tertulis dalam al-Qur’an: “...Maka datanglah sesudah mereka, yaitu generasi yang mewarisi Taurat, yang menghambil harta benda dunia yang rendah ini, seraya berkata: ‘Kami akan diberi ampunan oleh Allah.’” (QS. Al-A’raf: 169). Generasi tersebut, berbuat dosa akan tetapi merasa mereka diampuni oleh Allah.

Imam al-Ghazali menjelaskan : “Jika kita terlena menghitung pahala tetapi dosa-dosa dilupakan. Maka kita menjadi orang tertipu terhadap amal kita sendiri. Pada hari penghitungan amal, kita akan terkejut. Sebab ternyata timbangan amal lebih berat daripada pahala yang kita sangka-sangka telah menumpuk.”[Sibuk Hitung Pahala, Malah Lupa Beribadah, Hidayatullah.com Kamis, 17 Februari 2011 Kholili Hasib].

Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan Al Hakim, Rasulullah bersabda, ”Tiga orang yang tidak dilihat Allah dihari kiamat ialah; orang yang durhaka kepada orangtuanya, orang yang kecanduan minuman keras dan orang yang mengungkit-ungkit kebaikannya kepada orang lain.

            Salah satu sebab Allah tidak mau memandang manusia pada hari kiamat ialah mereka yang beramal, berbuat kebaikan kemudian kebaikan tersebut dingungkit-ungkit kembali. Kalau dia tulus berbuat baik kepada manusia maka dia tidak akan mengungkit – ungkit kebaikan apa yang pernah diberikannya kepada orang lain, walaupun tidak diungkit-ungkit maka kebaikan itu akan tetap terkenang oleh penerimanya. Kebaikan akan gugur dan sia-sia karena diungkit kembali baik dengan ucapan maupun tindakan seperti, ”Anda tidak akan sejaya ini kalau tidak karena bantuan yang saya berikan, kamu tidak akan jadi kaya kalau bukan karena saya, dia itu sukses karena sumbangan dan bantuan baik kita” dan lain sebagainya ucapan yang dilontarkan.

Alangkah ruginya kita dalam hidup ini dengan amal yang banyak sebagai bekal di akherat, negeri yang sangat dinanti-nantikan oleh orang yang beriman, akan tetapi amal tersebut tidak akan pernah kita dapati karena dilakukan bukan karena Allah,Wallahu A’lam [Cubadak Solok, 22 Syawal 1432.H/ 20 September 2011.M].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar