Keberadaanmanusia
di duniasesungguhnyaadalahdalamrangkamerealisasikansebuahjanji yang
pernahdiikatdengan Allah ketikaberada di
alamruh.Ketikaitumanusiaberjanjisiapuntukmenjadihamba, menyembah Allah
semata.Pengabdianjugamerupakantujuanpenciptaanmakhluk yang
bernamamanusiasebagaimanafirman Allah dalamsurat Adz Dzariat;56, ”TidakAkujadikanjindanmanusiakecualiuntukberibadahkepada-Ku”.
SyaikhulislamIbnuTaimiyahmenyatakanbahwaibadah
[penghambaan] adalahsebuah kata yang menyeluruh, meliputiapasaja yang
dicintaidandiridhai Allah. iamenyangkutseluruhsepertishalat, zakat, puasa,
haji, berkata-kata yang benardanmenunaikanamanah.
Selainituadalahberbuatbaikkepadakeduaorangtua,
bersilaturahim, memenuhijanji, menyuruhberbuatbaik,
danmelarangdariperbuatanmungkar.Jugatermasukibadahyaituberperangmelawankekufurandankemunafikan
,lemahlembutterhadaptetanggadananakyatim, menyantuni orang-orang miskin,
ibnusabil,hambasahayadanbinatang, sertado’a, dzikirdanmembaca al Qur’an.
Mencintai Allah danRasul-Nya,
takutkepada Allah dantaubatkepada-Nya, ikhlasdalamberibadah, menerimahukumnya,
bersyukuratasnikmatNya, relaterhadapkeputusan-Nya, berserahdiri [tawakal]
kepada-Nya, mengharaprahmat-Nyadantakutakansiksa-Nyajugatermasukdalammaknaberibadahkepada
Allah.
Jadiruanglingkupibadahitusangatluas.
Bukan hanya ibadah khasah [khusus], melainkan juga
seluruh aktivitas seorang hamba dalam rangka mencari ridha Allah. Digambarkan
dalam sebuah hadits ada tiga kelompok manusia yang telah melaksanakan amaliyah
ibadah di dunia. Mereka itu adalah orang yang berjihad hingga wafat, orang yang
telah berinfaq,dan orang yang menuntut ilmu serta mengajarkan ilmunya itu
kepada orang lain. Namun sebenarnya mereka telah maksiat kepada Allah. Mengapa
? Motivasi perbuatan mereka bukan mencari ridha Allah, melainkan karena riya,
yaitu beramal agar dipandang manusia.
Kelahiran manusia di
dunia ini mengemban tugas mulia yaitu sebagai hamba Allah sekaligus sebagai
Khalifah Allah yang berkewajiban mengelola, memelihara dan memanfaatkan alam
ini sebagaimana firman-Nya dalam surat Al An’am 6;165, ”Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia
meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian yang lain beberapa derajat”.
Tugas ini hendaklah dilaksanakan dengan kesungguhan hati
sehingga segala apa yang diamanatkan Allah berhasil sesuai dengan tujuan, surat
Al Haj 22;78 Allah berfirman, ”Dan
berjuanglah kamu pada jalan Allah dengan berjuang yang sungguh-sungguh”.
Kekhalifahan yang disandang manusia memiliki sekup dan
tingkat yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Ada yang
mampu sebagai pemimpin suatu negara, mengepalai suatu perusahaan dan jabatan
bos, sebagai kepala sebuah rumah tangga atau minimal memimpin diri sendiri.
Dalam sebuah sabdanya Rasulullah pernah mengatakan, ”Setiap kamu adalah pemimpin, isteri adalah pemimpin rumah tangga dan
harta suaminya, suami adalah pemimpin keluarga, seorang budak memimpin amanat
yang disampaikan oleh majikannya yang harus dipertanggungjawabkan kelak di
hadapan Allah”.
Dalam HR Ibnu Hibban beliau bersabda, ”Sesungguhnya Allah akan menanyai setiap
pemimpin tentang apa –apa yang ia pimpin, apakah ia memeliharanya ataukah
menyia-nyiakan, sehingga seseorang akan ditanyai tentang urusan keluarganya”.
Sebagai khalifah yang menguasai bumi ini, Allah
memberikan perlengkapan kepada manusia berupa jasmani sebagai tenaga untuk
mengolah alam, akal untuk menyibak misteri alam sehingga kepemimpinan berjalan
dengan baik, alam adalah bekal yang harus diolah sesuai dengan kehendak dan
tuntunan Allah. Bekal ini tidak cukup bila tidak diturunkan agama [islam]
sebagai perlengkapan yang amat penting untuk mengarahkan jasmani, akal dan alam
yang harus manusia pimpin sesuai dengan aturan islam agar mendapatkan jalan
keselamatan. Islam bukan sekedar ucapan bibir tapi harus dipelajari, diamalkan
dalam ujud ibadah, disyiarkan serta dipertahankan.
Pengamalan islam yang disebut dengan ibadah bukan sekedar
urusan shalat, zakat, puasa, haji atau kegiatan dogmatis dan ritual lainnya
tapi segala dinamika aktifitas kehidupan manusia untuk mengolah alam sesuai
dengan tata aturan, sesuai dengan nilai yang ditunjukkan-Nya. Bila seorang
khalifah tidak beriman dan tidak suka beribadah kepada Allah kemungkinan besar
penyelewengan jabatan dan kedudukan akan terjadi; seorang kepala keluarga akan
mengabaikan anak dan isterinya, seorang buruh atau karyawan akan menyelewengkan
amanat majikannya, seorang pimpinan perusahaan akan melakukan korupsi dan
manipulasi yang merugikan bangsa dan
negara.
Seorang kepala
bagian pada sebuah kantor dia akan dihadapkan oleh tantangan, godaan dan
ronrongan nafsu sendiri atau gosokan dan gesekan dari pihak lain. Sang isteri
tergoda ketika mengetahui bawahan suaminya dapat membeli fasilitas hidup yang serba mewah, hal
itu memaksa dirinya untuk merusak kepribadian suami, suatu ketika sang isteri
berkata, ”Bapakkan kepala bagian, masa
tidak mampu menyamai bawahan sendiri, dapat saja bapak sepak sana terjang sini
agar kehidupan kita lebih baik dari mereka, apa tidak malu, bapak ke kantor
dengan motor butut sementara bawahanmu dengan mobil mengkilat”.
Bila suami tidak beribadah kepada Allah tentu dia akan
melakukan perbuatan di luar aturan demi memenuhi keinginan isteri tercinta,
bila ini terjadi berarti tugas
kekhalifahan mengalami kehancuran karena dia diperbudak oleh hawa nafsu dan
sebaliknya akan mendatangkan kebahagiaan di dunia dan akherat bila tugas
kekhalifahan didasari pengabdian kepada Allah, tercapainya kebahagiaan berarti
suksesnya tugas khalifah. Dengan demikian berarti ibadah bertujuan untuk
menyukseskan khalifah.
Seorang khalifah harus mempunyai hati yang
baik dan motivasi yang benar dalam mengelola jabatan, dengan kedudukan yang
diberi, gunakan untuk berbuat baik sebagai sarana ibadah dan amal shaleh, tidak
layak seorang khalifah mempunyai bekal kesalahan dan dosa apalagi merugikan
rakyat, walaupun penipuan dan penyelewengan jabatan yang dilakukan dapat
ditutup dari pandangan manusia tapi Malaikat siap mengawasi.
Agar kehidupan dan tugas kekhalifahan
untuk hari esok lebih baik dari hari ini, sebagai peringatan Allah menyampaikan
dalam Al Hasyar 59;18, ”Hai orang-orang
yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah tiap pribadi memperhatikan
apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok
[akherat] dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan”
Rasulullah melalui wahyu dari Allah menuntunkan kepada
ummatnya agar mencari peluang-peluang ibadah seluas mungkin. Selain ibadah mahdhah,
banyak ibadah penting lainnya yang terkait dengan kepentingan sosial. Enam
puluh persen lebih ajaran islam mengarahkan kepada bentuk sosial. Bahkan,
ibadah khususpun mengisyaratkan agar memperhatikan masyarakatnya. Shalat yang
dilakukan dengan berjamaah, membayar zakat, puasa serta haji, semua itu
tampaknya mengandung asfek sosial. Rasulullah Saw bersabda, ”Berjalannya
seorang diantara kamu untuk memenuhi keperluan saudaranyha, maka lebih baik
dari i’tikaf di masjidku ini satu bulan”.
Dari hadits ini tergambar bahwa ibadah yang berkaitan
dengan sosial bernilai lebih tinggi diandingkan ibadah mahdhah seperti shalat
atau i’tikaf, padahal menurut riwayat Baihqi, shalat dimasjid Rasulullah
satu kali saja bernilai 1000 kali shalat di masjid lain.
Seorang mukmin tidak boleh mengabaikan amalan sosialnya
walaupun kecil, Rasulullah pernah menggambarkan kepada ummatnya agar
berhati-hati terhadap kebaikan walaupun sedikit karena siapa tahu amalan yang
sedikit itu akan dicatat Allah sebagai penghuni syurga.
Beliau mengingatkan pula agar berhati-hati terhadap
perbuatan maksiat walaupun hanya kecil karena siapa tahu dengan maksiat yang
kecil Allah menuliskan kita sebagai penghuni neraka selama-lamanya.
Seorang mukmin harus meningkatkan amalan ibadah yang
khusus dengan tidak melupakan amalan sosial. Terutama terhadap saudara-saudara
terdekat mereka yang seiman dan seperjuangan.
Selain kita harus mengisi waktu dengan sebaik dan semanfaat-manfaatnya
untuk kemaslahatan pribadi dan ummat, maka kita juga diberi peluang untuk
mencari waktu yang efektif dan efisian sehingga sedikit waktu tapi hasil yang
diperoleh maksimal, ada beberapa waktu yang bisa kita gunakan untuk meraih
pahala sebanyak-banyaknya dan menjangkau ridha Allah;
a.Akhir malam sebelum terbit fajar
mungkin waktu kita tidak
banyak pada siang hari untuk selalu berzikir, bersujud dan beribadah secara
optimal kepada Allah karena padat dengan kesibukan duniawi atau kesibukan
sosial dan itu bukan terlarang dimata Allah, tentu dengan tidak meninggalkan
ibadah shalat fardlu. Tapi kekurangan itu bisa diisi dengan melaksanakan ibadah
di akhir malam sebelum terbit fajar, sebagaimana firman Allah menyatakannya; "Sesungguhnya orang-orang yang
bertaqwa itu berada dalam taman-taman
(syurga) dan mata air-mata air,
Sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang
berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi
sebelum fajar. [Adz Dzariyat 51;15-18]
Orang yang
mengerjakan shalat sunnah fajar saja digambarkan oleh Rasulullah pahalanya
ibarat seluruh dunia dan isinya, apalagi bila kita mengerjakan shalat subuh
tepat waktu dan dikerjakan di masjid pula tentu pahala tak terhingga, namun
janganlah karena mengerjakan shalat sunnah di tengah malam lalu shalat subuhnya
kesiangan. Kita bangun dipertengahan malam untuk shalat sunnah tahajud dan
fajar lalu diakhiri dengan shalat subuhnya.
b.Kelebihan hari jum’at dari hari yang lain
Hari jum'at adalah hari
istimewa bagi mukmin untuk berkumpul satu kali minimal dalam satu minggu untuk
mendengarkan tausiah dari khutbah jum'at. Walaupun hari itu kita sibuk dengan
keperjaan rutin harian yang mungkin menggiurkan tapi kita harus tinggalkan
semua itu menuju rumah Allah untuk beribadah kepada Allah dan setelah itu silahkan untuk bertaburan lagi mencari rezeki
Allah. "Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat
Jum'at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual
beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui. Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka
bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah
banyak-banyak supaya kamu beruntung"[Al Jumu'ah 62;9-10]
Banyak
kelebihan yang digambarkan oleh Rasulullah tentang shalat jum;at dibandingkan
shalat fardhu dihari yang lain, diantara kelebihan itu adalah; orang yang
datang terlebih dahulu ke masjid tersebut maka pahalanya ibarat sebesar onta,
yang setelah itu datangnya mendapat pahala sebesar kambing, setelah itu
pahalanya sebesar ayam dan akhirnya sebesar telur ayam. Peribaratan ini
memotivasi kita untuk segera datang ke masjid pada hari jum'at.
c.Kelebihan Ramadhan dengan bulan lainnya
dari dua belas bulan
yang disediakan Allah dalam satu tahun,
ada bulan istimewa untuk orang-orang beriman yaitu bulan Ramadhan, beberapa
keistimewaan yang digambarkan oleh Allah dan Rasulnya. “Hai orang-orang yang beriman,
telah diwajibkan puasa atas kamu sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang
sebelum kamu, supaya kamu bertaqwa. Padahari-hari yang
telahditentukan.Kemudianbarangsiapadiantarakamu yang sakitataudalambepergian,
makahitunglahpadahari lain. Sedangbagi orang-orang yang kuatpuasa
[tetapidengancukupsudahdanpayah, bolehtidakpuasa] tetapiharusmembayarfidyah,
yaitumemberimakankepadaseorangmiskin.Dan barangsiapamauberbuatkebaikan yang
lebih, makahalituadalahsangatbaikbaginya.Tetapipuasamuadalahlebihbaikbagimu,
jikakamutahu”.[Al Baqarah 2;183-184]
DalamHaditsBukhari Muslim disebutkan“Dari
AbiAbdirrahman, Abdullah bin Umar bin Khattab Ra, iaberkata,”Islam
ituterdiridari lima perkara; menyaksikanbahwatiadaTuhankecuali Allah,
dansesungguhnya Muhammad adalahutusan Allah, mendirikanshalat, mengeluarkan
zakat, haji keBaitullahdanpuasaRamadhan”.“Dari Shal bin Sa’ad Ra, dariNabi SAW,
iabersabda,”Sesungguhnya di syurgaituadasebuahpintu yang disebut “Rayyan” yang
akandimasukioleh orang-orang yang sedangberpuasa”, laluditanyakan, “Dimana orang-orang
yang sedangberpuasaitu?”, lalumerekaberdiriketikaitutidakseorangpunselainmereka
yang masukpintutersebut. Makaapabilamerekatelahmasuksemua, pintuituditutup,
sehinggatidakadaseorangpun yang masuk”.
c.Ramadhan dengan malam qadarnya
Selain punya kelebihan
dengan bulan lainnya, maka malam-malam Ramadhanpun punya kelebihan pada
malam-malam tertentu, malam itu disebut dengan malam qadar yang satu malam saja
sama nilainya dengan seribu bulan, sebagai mana firman Allah; "Sesungguhnya
kami Telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun
malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam
itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. [Al Qadr 97;1-5]
Rasulullah bersabda; "jagalah masa limam sebelum
datang masa lima; .masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, .masa muda sebelum
datang masa tuamu masa kaya sebelum datang masa miskinmu masa lapang sebelum
datang masa sempitmu masa hidup sebelum datang matimu'. Mumpung masih diberikan
kesempatan dan waktu oleh Allah, maka kita harus mengukir kesempatan itu dengan
prestasi gemilang pada seluruh aktivitas terutama dalam ibadah.
Imam Al Ghazali suatu ketika pernah berkata,”Barangsiapa yang mencari dunia
semata maka ia akan menemukan dunia itu, tapi barangsiapa yang mencari akhirat
maka ia akan mendapatkankan dunia dan akherat”, kegiatan apa saja yang
menyeleweng dari salah satunya atau semuanya bukanlah ibadah walaupun lahirnya
nampak ibadah, seperti menunaikan ibadah haji dalam rangka mencari ridha
tetangga, atau semata-mata karena politik, maka ini bukanlah ibadah tapi malah
dapat dikategorikan dengan maksiat kepada Allah.
Rasa tanggungjawab adalah
kewajiban seorang pemimpin, bahkan Umar bin Khattab menyatakan, ”Seandainya ada
keledai yang terperosok diperjalanan maka itu adalah tanggungjawabku kenapa
tidak memperbaiki jalan untuknya”, Khalifah yang satu ini luar biasa wujud tanggungjawabnya terealisasi kepada
rakyatnya, tapi dia juga menghabiskan waktu di depan Allah dengan munajad,
do’a, shalat malam, tilawah qur’an, shaum sunnah yang intinya menenggelamkan
diri dengan taqarrub kepada Khaliqnya. Demikian pula terujd kepada seorang
Gubernur yang dihujat oleh rakyatnya karena tidak mau mengurus mereka di malam
hari, maka disidangkanlah Gubernur ini di Madinah di hadapan Umar bin Khattab.
Dengan penuh wibawa dia menjawab, ”Waktu saya untuk mengurus rakyat disiang
hari, sedangkan malam hari adalah waktu saya untuk Allah”, sikap Gubernur ini
dibenarkan oleh Umar, biar sibuk mengurus rakyat tapi tidak lupa mengisi rohani
dengan ibadah kepada-Nya.
Dengan hidup ini kita
memang dituntut untuk berprestasi, baik prestasi amaliyah dunia apalagi
aktivitas untuk akherat. Dalam surat 103 Allah menjelaskan ”Demi masa,
sesungguhnya manusia itu dalam keadaan merugi kecuali orang-orang yang beriman
dan beramal shaleh dan yang berwasiat dengan kebenaran dan berwasiat dengan
kesabaran”. Dari sekian tahun yang diberikan Allah untuk hidup dengan segala
aktivitasnya perlu diisi hanya dengan tiga
hal, pertama isilah waktu kita untuk meningkatkan kualitas iman dengan
berbagai kegiatan. Kedua kita berkewajiban mengisi waktu hidup ini dengan
amaliyah ibadah shalih yang idealnya memang banyak dan berkualitas, yaitu
ibadah yang jauh dari syirik, bid’wah, kurafat dan tahyul sebagaimana yang
dipesankan Rasul kita, ”Barangsiapa yang beribadah tidak sesuai dengan sistim
yang kami ajarkan maka dia tertolak, dan mukmin yang baik itu adalah yang
menggunakan waktunya seefisien mungkin”,
Nabi Muhammad adalah orang yang sibuk mengurus rakyatnya, tapi dari segi
ibadah tak ada diantara sahabat yang mampu menandinginya apalagi kita.
Ketiga, kita tidak termasuk orang yang merugi sebagaimana
disinyalir-Nya bila waktu kita gunakan untuk berda’wah dengan metode menanamkan
kebenaran dan kesabaran kepada ummat ini. Da’wah bukanlah sebatas tabligh tapi
pembinaan terhadap ummat, walaupun seorang ulama sudah puluhan tahun
berceramah, jika tidak membina ummat maka rugilah dia....sebagaimana sabda
Rasul, ”Siapa yang karena dia seseorang memperoleh hidayah maka lebih baik dari
pada dunia dengan segala isinya”. Disini tergambar bahwa da’wah mengandalkan
kualitas bukan kuantitas saja. Silahkan kita sibuk dengan segala aktivitas dan
urusan masyarakat, tapi jangan sampai diperbudak oleh kesibukan sehingga lupa
untuk membina anak isteri untuk mengenal Allah, shalat terabaikan, mendalami
agama tidak ada waktu. Sudahkah kita ummat yang
berprestasi dalam hidup ? jawabannya terpulang kepada diri kita masing-masing.
Agar ibadah yang
kita lakukan tidak sia-sia maka perlu diperhatikan beberapa hal, diantara
ibadah tersebut akan diterima oleh Allah selain ikhlas adalah ibadah tersebut
dilaksanakan karena telah mengilmui, dikerjakan dengan kesempurnaan dan tepat;
Ali bin Abi Thalib
menyatakan orang yang berilmu akan rugi kecuali mereka yang beramal, orang yang
beramal akan rugi kecuali orang yang ikhlas. Ibadah akan baik dikerjakan
seorang muslim bila diilmui terlebih dahulu dengan cara membaca, belajar dan
bertanya kepada ahlinya;
"Kami tiada mengutus Rasul
Rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang kami
beri wahyu kepada mereka, Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang
berilmu, jika kamu tiada Mengetahui" [Al Anbiya' 21;7]
" Dan demikian (pula) di
antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang
bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di
antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi
Maha Pengampun" [Fathir 35;28]
" Dan janganlah kamu mengikuti apa yang
kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan
dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya" [Al Isra'
17;36]
Janganlah kita
beramal itu hanya sebatas membayar hutang lalu lepas kewajiban, kerjakanlah
ibadah itu dengan sempurnya sehingga sempurna pula pahala yang akan diterima; "Pada
hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu
nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu' [Al Maidah 5;3]
"Dan ikutilah sebaik-baik
apa yang Telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu
dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya' [Az Zumar 39;55]
Ibadah yang
disunnahkan Rasulullah kepada kita untuk mengerjakannya agar dilaksanakan
dengan tepat artinya sesuai dengan target,
tujuan dan waktunya. Semaraknya orang ke masjid untuk shalat tarawih karena memang waktunya tepat
hal itu terjadi dibulan Ramadhan.
"Apa yang diberikan Rasul
kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah.
dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya" [Al Hasr 59;7]
Kepentingan ibadah itu untuk manusia karena Nabi
menyatakan dalam haditsnya, seandainya seluruh manusia, jin dan malaikat tunduk
taat kepada Allah dengan ibadah yang dilakukan maka tidak akan meninggikan
derajat Allah dan sebaliknya bila seluruh manusia, jin dan malaikat tidak mau
beribadah kepada Allah maka tidak akan merendahkan derajat Allah, wallahu a'lam
[Cubadak Solok, Ramadhan 1431.H/ Agustus 2010.M]
.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar