Senin, 30 November 2015

67. Andai akuTahu Beribadah Berpahala



Keberadaanmanusia di duniasesungguhnyaadalahdalamrangkamerealisasikansebuahjanji yang pernahdiikatdengan Allah ketikaberada di alamruh.Ketikaitumanusiaberjanjisiapuntukmenjadihamba, menyembah Allah semata.Pengabdianjugamerupakantujuanpenciptaanmakhluk yang bernamamanusiasebagaimanafirman Allah dalamsurat Adz Dzariat;56, ”TidakAkujadikanjindanmanusiakecualiuntukberibadahkepada-Ku”.

            SyaikhulislamIbnuTaimiyahmenyatakanbahwaibadah [penghambaan] adalahsebuah kata yang menyeluruh, meliputiapasaja yang dicintaidandiridhai Allah. iamenyangkutseluruhsepertishalat, zakat, puasa, haji, berkata-kata yang benardanmenunaikanamanah. 

            Selainituadalahberbuatbaikkepadakeduaorangtua, bersilaturahim, memenuhijanji, menyuruhberbuatbaik, danmelarangdariperbuatanmungkar.Jugatermasukibadahyaituberperangmelawankekufurandankemunafikan ,lemahlembutterhadaptetanggadananakyatim, menyantuni orang-orang miskin, ibnusabil,hambasahayadanbinatang, sertado’a, dzikirdanmembaca al Qur’an.

            Mencintai Allah danRasul-Nya, takutkepada Allah dantaubatkepada-Nya, ikhlasdalamberibadah, menerimahukumnya, bersyukuratasnikmatNya, relaterhadapkeputusan-Nya, berserahdiri [tawakal] kepada-Nya, mengharaprahmat-Nyadantakutakansiksa-Nyajugatermasukdalammaknaberibadahkepada Allah.

            Jadiruanglingkupibadahitusangatluas. Bukan hanya ibadah khasah [khusus], melainkan juga seluruh aktivitas seorang hamba dalam rangka mencari ridha Allah. Digambarkan dalam sebuah hadits ada tiga kelompok manusia yang telah melaksanakan amaliyah ibadah di dunia. Mereka itu adalah orang yang berjihad hingga wafat, orang yang telah berinfaq,dan orang yang menuntut ilmu serta mengajarkan ilmunya itu kepada orang lain. Namun sebenarnya mereka telah maksiat kepada Allah. Mengapa ? Motivasi perbuatan mereka bukan mencari ridha Allah, melainkan karena riya, yaitu beramal agar dipandang manusia.

Kelahiran manusia di dunia ini mengemban tugas mulia yaitu sebagai hamba Allah sekaligus sebagai Khalifah Allah yang berkewajiban mengelola, memelihara dan memanfaatkan alam ini sebagaimana firman-Nya dalam surat Al An’am 6;165, ”Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian yang lain beberapa derajat”.

            Tugas ini hendaklah dilaksanakan dengan kesungguhan hati sehingga segala apa yang diamanatkan Allah berhasil sesuai dengan tujuan, surat Al Haj 22;78 Allah berfirman, ”Dan berjuanglah kamu pada jalan Allah dengan berjuang yang sungguh-sungguh”.

            Kekhalifahan yang disandang manusia memiliki sekup dan tingkat yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Ada yang mampu sebagai pemimpin suatu negara, mengepalai suatu perusahaan dan jabatan bos, sebagai kepala sebuah rumah tangga atau minimal memimpin diri sendiri. Dalam sebuah sabdanya Rasulullah pernah mengatakan, ”Setiap kamu adalah pemimpin, isteri adalah pemimpin rumah tangga dan harta suaminya, suami adalah pemimpin keluarga, seorang budak memimpin amanat yang disampaikan oleh majikannya yang harus dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah”.

            Dalam HR Ibnu Hibban beliau bersabda, ”Sesungguhnya Allah akan menanyai setiap pemimpin tentang apa –apa yang ia pimpin, apakah ia memeliharanya ataukah menyia-nyiakan, sehingga seseorang akan ditanyai tentang urusan keluarganya”.

            Sebagai khalifah yang menguasai bumi ini, Allah memberikan perlengkapan kepada manusia berupa jasmani sebagai tenaga untuk mengolah alam, akal untuk menyibak misteri alam sehingga kepemimpinan berjalan dengan baik, alam adalah bekal yang harus diolah sesuai dengan kehendak dan tuntunan Allah. Bekal ini tidak cukup bila tidak diturunkan agama [islam] sebagai perlengkapan yang amat penting untuk mengarahkan jasmani, akal dan alam yang harus manusia pimpin sesuai dengan aturan islam agar mendapatkan jalan keselamatan. Islam bukan sekedar ucapan bibir tapi harus dipelajari, diamalkan dalam ujud ibadah, disyiarkan serta dipertahankan.

            Pengamalan islam yang disebut dengan ibadah bukan sekedar urusan shalat, zakat, puasa, haji atau kegiatan dogmatis dan ritual lainnya tapi segala dinamika aktifitas kehidupan manusia untuk mengolah alam sesuai dengan tata aturan, sesuai dengan nilai yang ditunjukkan-Nya. Bila seorang khalifah tidak beriman dan tidak suka beribadah kepada Allah kemungkinan besar penyelewengan jabatan dan kedudukan akan terjadi; seorang kepala keluarga akan mengabaikan anak dan isterinya, seorang buruh atau karyawan akan menyelewengkan amanat majikannya, seorang pimpinan perusahaan akan melakukan korupsi dan manipulasi yang  merugikan bangsa dan negara.

                 Seorang kepala bagian pada sebuah kantor dia akan dihadapkan oleh tantangan, godaan dan ronrongan nafsu sendiri atau gosokan dan gesekan dari pihak lain. Sang isteri tergoda ketika mengetahui bawahan suaminya dapat  membeli fasilitas hidup yang serba mewah, hal itu memaksa dirinya untuk merusak kepribadian suami, suatu ketika sang isteri berkata, ”Bapakkan kepala bagian, masa tidak mampu menyamai bawahan sendiri, dapat saja bapak sepak sana terjang sini agar kehidupan kita lebih baik dari mereka, apa tidak malu, bapak ke kantor dengan motor butut sementara bawahanmu dengan mobil mengkilat”.

            Bila suami tidak beribadah kepada Allah tentu dia akan melakukan perbuatan di luar aturan demi memenuhi keinginan isteri tercinta, bila ini terjadi berarti  tugas kekhalifahan mengalami kehancuran karena dia diperbudak oleh hawa nafsu dan sebaliknya akan mendatangkan kebahagiaan di dunia dan akherat bila tugas kekhalifahan didasari pengabdian kepada Allah, tercapainya kebahagiaan berarti suksesnya tugas khalifah. Dengan demikian berarti ibadah bertujuan untuk menyukseskan khalifah.

      Seorang khalifah harus mempunyai hati yang baik dan motivasi yang benar dalam mengelola jabatan, dengan kedudukan yang diberi, gunakan untuk berbuat baik sebagai sarana ibadah dan amal shaleh, tidak layak seorang khalifah mempunyai bekal kesalahan dan dosa apalagi merugikan rakyat, walaupun penipuan dan penyelewengan jabatan yang dilakukan dapat ditutup dari pandangan manusia tapi Malaikat siap mengawasi.   

      Agar kehidupan dan tugas kekhalifahan untuk hari esok lebih baik dari hari ini, sebagai peringatan Allah menyampaikan dalam Al Hasyar 59;18, ”Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah tiap pribadi memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok  [akherat] dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”

            Rasulullah melalui wahyu dari Allah menuntunkan kepada ummatnya agar mencari peluang-peluang ibadah seluas mungkin. Selain ibadah mahdhah, banyak ibadah penting lainnya yang terkait dengan kepentingan sosial. Enam puluh persen lebih ajaran islam mengarahkan kepada bentuk sosial. Bahkan, ibadah khususpun mengisyaratkan agar memperhatikan masyarakatnya. Shalat yang dilakukan dengan berjamaah, membayar zakat, puasa serta haji, semua itu tampaknya mengandung asfek sosial. Rasulullah Saw bersabda, ”Berjalannya seorang diantara kamu untuk memenuhi keperluan saudaranyha, maka lebih baik dari i’tikaf di masjidku ini satu bulan”.

            Dari hadits ini tergambar bahwa ibadah yang berkaitan dengan sosial bernilai lebih tinggi diandingkan ibadah mahdhah seperti shalat atau  i’tikaf, padahal menurut  riwayat Baihqi, shalat dimasjid Rasulullah satu kali saja bernilai 1000 kali shalat di masjid lain.

            Seorang mukmin tidak boleh mengabaikan amalan sosialnya walaupun kecil, Rasulullah pernah menggambarkan kepada ummatnya agar berhati-hati terhadap kebaikan walaupun sedikit karena siapa tahu amalan yang sedikit itu akan dicatat Allah sebagai penghuni syurga.

            Beliau mengingatkan pula agar berhati-hati terhadap perbuatan maksiat walaupun hanya kecil karena siapa tahu dengan maksiat yang kecil Allah menuliskan kita sebagai penghuni neraka selama-lamanya.

            Seorang mukmin harus meningkatkan amalan ibadah yang khusus dengan tidak melupakan amalan sosial. Terutama terhadap saudara-saudara terdekat mereka yang seiman dan seperjuangan.
Selain kita harus mengisi waktu dengan sebaik dan semanfaat-manfaatnya untuk kemaslahatan pribadi dan ummat, maka kita juga diberi peluang untuk mencari waktu yang efektif dan efisian sehingga sedikit waktu tapi hasil yang diperoleh maksimal, ada beberapa waktu yang bisa kita gunakan untuk meraih pahala sebanyak-banyaknya dan menjangkau ridha Allah;

a.Akhir malam sebelum terbit fajar
            mungkin waktu kita tidak banyak pada siang hari untuk selalu berzikir, bersujud dan beribadah secara optimal kepada Allah karena padat dengan kesibukan duniawi atau kesibukan sosial dan itu bukan terlarang dimata Allah, tentu dengan tidak meninggalkan ibadah shalat fardlu. Tapi kekurangan itu bisa diisi dengan melaksanakan ibadah di akhir malam sebelum terbit fajar, sebagaimana firman Allah menyatakannya;      "Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman    (syurga) dan mata air-mata air,  Sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka  sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam.  Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar. [Adz Dzariyat 51;15-18]

Orang yang mengerjakan shalat sunnah fajar saja digambarkan oleh Rasulullah pahalanya ibarat seluruh dunia dan isinya, apalagi bila kita mengerjakan shalat subuh tepat waktu dan dikerjakan di masjid pula tentu pahala tak terhingga, namun janganlah karena mengerjakan shalat sunnah di tengah malam lalu shalat subuhnya kesiangan. Kita bangun dipertengahan malam untuk shalat sunnah tahajud dan fajar lalu diakhiri dengan shalat subuhnya.


b.Kelebihan hari jum’at dari hari yang lain
            Hari jum'at adalah hari istimewa bagi mukmin untuk berkumpul satu kali minimal dalam satu minggu untuk mendengarkan tausiah dari khutbah jum'at. Walaupun hari itu kita sibuk dengan keperjaan rutin harian yang mungkin menggiurkan tapi kita harus tinggalkan semua itu menuju rumah Allah untuk beribadah kepada Allah dan setelah itu  silahkan untuk bertaburan lagi mencari rezeki Allah. "Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui.  Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung"[Al Jumu'ah 62;9-10]

Banyak kelebihan yang digambarkan oleh Rasulullah tentang shalat jum;at dibandingkan shalat fardhu dihari yang lain, diantara kelebihan itu adalah; orang yang datang terlebih dahulu ke masjid tersebut maka pahalanya ibarat sebesar onta, yang setelah itu datangnya mendapat pahala sebesar kambing, setelah itu pahalanya sebesar ayam dan akhirnya sebesar telur ayam. Peribaratan ini memotivasi kita untuk segera datang ke masjid pada hari jum'at.

c.Kelebihan Ramadhan dengan bulan lainnya
            dari dua belas bulan yang  disediakan Allah dalam satu tahun, ada bulan istimewa untuk orang-orang beriman yaitu bulan Ramadhan, beberapa keistimewaan yang digambarkan oleh Allah dan Rasulnya. “Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan puasa atas kamu sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, supaya kamu bertaqwa. Padahari-hari yang telahditentukan.Kemudianbarangsiapadiantarakamu yang sakitataudalambepergian, makahitunglahpadahari lain. Sedangbagi orang-orang yang kuatpuasa [tetapidengancukupsudahdanpayah, bolehtidakpuasa] tetapiharusmembayarfidyah, yaitumemberimakankepadaseorangmiskin.Dan barangsiapamauberbuatkebaikan yang lebih, makahalituadalahsangatbaikbaginya.Tetapipuasamuadalahlebihbaikbagimu, jikakamutahu”.[Al Baqarah 2;183-184]

DalamHaditsBukhari Muslim disebutkan“Dari AbiAbdirrahman, Abdullah bin Umar bin Khattab Ra, iaberkata,”Islam ituterdiridari lima perkara; menyaksikanbahwatiadaTuhankecuali Allah, dansesungguhnya Muhammad adalahutusan Allah, mendirikanshalat, mengeluarkan zakat, haji keBaitullahdanpuasaRamadhan”.“Dari Shal bin Sa’ad Ra, dariNabi SAW, iabersabda,”Sesungguhnya di syurgaituadasebuahpintu yang disebut “Rayyan” yang akandimasukioleh orang-orang yang sedangberpuasa”, laluditanyakan, “Dimana orang-orang yang sedangberpuasaitu?”, lalumerekaberdiriketikaitutidakseorangpunselainmereka yang masukpintutersebut. Makaapabilamerekatelahmasuksemua, pintuituditutup, sehinggatidakadaseorangpun yang masuk”.

c.Ramadhan dengan malam qadarnya
            Selain punya kelebihan dengan bulan lainnya, maka malam-malam Ramadhanpun punya kelebihan pada malam-malam tertentu, malam itu disebut dengan malam qadar yang satu malam saja sama nilainya dengan seribu bulan, sebagai mana firman Allah; "Sesungguhnya kami Telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan  Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin  Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. [Al Qadr 97;1-5]

Rasulullah bersabda; "jagalah masa limam sebelum datang masa lima; .masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, .masa muda sebelum datang masa tuamu masa kaya sebelum datang masa miskinmu masa lapang sebelum datang masa sempitmu masa hidup sebelum datang matimu'. Mumpung masih diberikan kesempatan dan waktu oleh Allah, maka kita harus mengukir kesempatan itu dengan prestasi gemilang pada seluruh aktivitas terutama dalam ibadah.

Imam Al Ghazali suatu ketika pernah berkata,”Barangsiapa yang mencari dunia semata maka ia akan menemukan dunia itu, tapi barangsiapa yang mencari akhirat maka ia akan mendapatkankan dunia dan akherat”, kegiatan apa saja yang menyeleweng dari salah satunya atau semuanya bukanlah ibadah walaupun lahirnya nampak ibadah, seperti menunaikan ibadah haji dalam rangka mencari ridha tetangga, atau semata-mata karena politik, maka ini bukanlah ibadah tapi malah dapat dikategorikan dengan maksiat kepada Allah.

            Rasa tanggungjawab adalah kewajiban seorang pemimpin, bahkan Umar bin Khattab menyatakan, ”Seandainya ada keledai yang terperosok diperjalanan maka itu adalah tanggungjawabku kenapa tidak memperbaiki jalan untuknya”, Khalifah yang satu ini luar biasa wujud  tanggungjawabnya terealisasi kepada rakyatnya, tapi dia juga menghabiskan waktu di depan Allah dengan munajad, do’a, shalat malam, tilawah qur’an, shaum sunnah yang intinya menenggelamkan diri dengan taqarrub kepada Khaliqnya. Demikian pula terujd kepada seorang Gubernur yang dihujat oleh rakyatnya karena tidak mau mengurus mereka di malam hari, maka disidangkanlah Gubernur ini di Madinah di hadapan Umar bin Khattab. Dengan penuh wibawa dia menjawab, ”Waktu saya untuk mengurus rakyat disiang hari, sedangkan malam hari adalah waktu saya untuk Allah”, sikap Gubernur ini dibenarkan oleh Umar, biar sibuk mengurus rakyat tapi tidak lupa mengisi rohani dengan ibadah kepada-Nya.

            Dengan hidup ini kita memang dituntut untuk berprestasi, baik prestasi amaliyah dunia apalagi aktivitas untuk akherat. Dalam surat 103 Allah menjelaskan ”Demi masa, sesungguhnya manusia itu dalam keadaan merugi kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh dan yang berwasiat dengan kebenaran dan berwasiat dengan kesabaran”. Dari sekian tahun yang diberikan Allah untuk hidup dengan segala aktivitasnya perlu diisi hanya dengan tiga  hal, pertama isilah waktu kita untuk meningkatkan kualitas iman dengan berbagai kegiatan. Kedua kita berkewajiban mengisi waktu hidup ini dengan amaliyah ibadah shalih yang idealnya memang banyak dan berkualitas, yaitu ibadah yang jauh dari syirik, bid’wah, kurafat dan tahyul sebagaimana yang dipesankan Rasul kita, ”Barangsiapa yang beribadah tidak sesuai dengan sistim yang kami ajarkan maka dia tertolak, dan mukmin yang baik itu adalah yang menggunakan waktunya seefisien mungkin”,  Nabi Muhammad adalah orang yang sibuk mengurus rakyatnya, tapi dari segi ibadah tak ada diantara sahabat yang mampu menandinginya apalagi kita.

Ketiga, kita tidak termasuk orang yang merugi sebagaimana disinyalir-Nya bila waktu kita gunakan untuk berda’wah dengan metode menanamkan kebenaran dan kesabaran kepada ummat ini. Da’wah bukanlah sebatas tabligh tapi pembinaan terhadap ummat, walaupun seorang ulama sudah puluhan tahun berceramah, jika tidak membina ummat maka rugilah dia....sebagaimana sabda Rasul, ”Siapa yang karena dia seseorang memperoleh hidayah maka lebih baik dari pada dunia dengan segala isinya”. Disini tergambar bahwa da’wah mengandalkan kualitas bukan kuantitas saja. Silahkan kita sibuk dengan segala aktivitas dan urusan masyarakat, tapi jangan sampai diperbudak oleh kesibukan sehingga lupa untuk membina anak isteri untuk mengenal Allah, shalat terabaikan, mendalami agama tidak ada waktu. Sudahkah kita ummat yang berprestasi dalam hidup ? jawabannya terpulang kepada diri kita masing-masing.

Agar ibadah yang kita lakukan tidak sia-sia maka perlu diperhatikan beberapa hal, diantara ibadah tersebut akan diterima oleh Allah selain ikhlas adalah ibadah tersebut dilaksanakan karena telah mengilmui, dikerjakan dengan kesempurnaan dan tepat;

            Ali bin Abi Thalib menyatakan orang yang berilmu akan rugi kecuali mereka yang beramal, orang yang beramal akan rugi kecuali orang yang ikhlas. Ibadah akan baik dikerjakan seorang muslim bila diilmui terlebih dahulu dengan cara membaca, belajar dan bertanya kepada ahlinya;

"Kami tiada mengutus Rasul Rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang kami beri wahyu kepada mereka, Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada Mengetahui" [Al Anbiya' 21;7]

" Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun" [Fathir 35;28]

" Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya" [Al Isra' 17;36]

            Janganlah kita beramal itu hanya sebatas membayar hutang lalu lepas kewajiban, kerjakanlah ibadah itu dengan sempurnya sehingga sempurna pula pahala yang akan diterima; "Pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu' [Al Maidah 5;3]

"Dan ikutilah sebaik-baik apa yang Telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya' [Az Zumar 39;55]

            Ibadah yang disunnahkan Rasulullah kepada kita untuk mengerjakannya agar dilaksanakan dengan tepat artinya sesuai dengan target,  tujuan dan waktunya. Semaraknya orang ke masjid untuk  shalat tarawih karena memang waktunya tepat hal itu terjadi dibulan Ramadhan.

"Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya" [Al Hasr 59;7]

Kepentingan ibadah itu untuk manusia karena Nabi menyatakan dalam haditsnya, seandainya seluruh manusia, jin dan malaikat tunduk taat kepada Allah dengan ibadah yang dilakukan maka tidak akan meninggikan derajat Allah dan sebaliknya bila seluruh manusia, jin dan malaikat tidak mau beribadah kepada Allah maka tidak akan merendahkan derajat Allah, wallahu a'lam [Cubadak Solok, Ramadhan 1431.H/ Agustus 2010.M]








.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar