Bila syirik telah
menjalar pada diri manusia, fitrahnya tercemar oleh noda-noda yang dapat
merusak iman, bila syirik telah mendarah daging walaupun fithrahnya tidak
menerimanya tapi diapun tidak mampu untuk menolaknya, apalagi lingkungan
kondusif untuk itu maka segala aktivitasnya sarat dengan kesyirikan. Demikian
pula halnya yang berkaitan dengan cinta mencintai hingga tegaknya sebuah rumah
tangga, mereka selalu melibatkan kehebatan sang dukun atau orang pintar.
Kadangkala untuk mengekalkan kesyirikan seseorang maka
digunakan oleh syaitan agar mangsanya percaya dan yakin dengan segala
pesan-pesannya dengan wirid harian yang tidak lepas dari bahasa Arab dan Al
Qur'an, tidak jarang juga melakukan puasa sekian hari, shalat malam ditentukan
hari dan waktunya, yang intinya ibadah yang dilakukan bukan karena Allah tapi
karena sesuatu, maksudnya meruntuhkan hati calon isteri agar dia takluk di
pangkuannya.
Padahal
Allah memerintahkan kita beribadah kepada-Nya saja bukan kepada syaitan dan para dukun, hal ini
jelas-jelas telah melencengkan ibadah yang sebenarnya, Allah berfirman dalam
surat Al Kahfi 18;110“Katakanlah:
Sesungguhnya Aku Ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku:
"Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa".
barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan
amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat
kepada Tuhannya".
Bila pujaan
hati gagal disunting karena kurangnya sajen yang dipersembahkan atau tidak
lengkapnya persyaratan yang diberikan sehingga sang pacar memutuskan hubungan,
dia menikah dengan orang lain, maka hal itu tidak bisa diterima, sakit hati
akan berbalas dengan menyakitkan orang lain, bagaimanapun juga tidak ada
istilah cinta ditolak, bila terjadi juga berarti pelecehan dan menginjak-injak
harga diri, maka tunggulah pembalasannya, cinta ditolak dukun akan bertindak.
Mulailah
sang dukun bekerja keras agar permohonan untuk menggagalkan pernikahan dapat
dilakukan, sajian diperbanyak, kemenyan semakin mengebul, bunga dengan sekian
ramuan disediakan, kehebatan dukun mulai dinampakkan dengan jalan menyakiti,
menjadi gila hingga membunuh dengan
santet dan guna-guna, intinya ini terjadi karena keinginan secara wajar untuk
menyunting anak gadis orang tidak kesampaian.
Bagaimana
negeri ini tidak mendapat bencana dan musibah dari Allah bila syirik dan
kezhaliman merajalela di dalamnya, sejak awal berdirinya rumah tangga sudah
dihiasi dengan syirik, hingga kelakpun syirik akan dilaksanakan dalam rangka
memelihara kelanggelangan rumah tangga itu dengan istilah pekasih dan
istilah-sitilah lainnya, padahal Rasulullah telah menyebutkan bahwa segala yang
berkaitan dengan syirik itu berdosa dan akan mendatangkan malapetaka, Allah
berfirman;"Dan Demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh,
yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian
mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah
untuk menipu (manusia]. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak
mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan'[Al
An'am 6;112].
Muslim
meriwayatkan dalam Shahih-nya, meriwayatkan dari salah seorang isteri
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda:"Barangsiapa
mendatangi tukang ramal lalu menanyakan kepadanya tentang sesuatu perkara dan
dia mempercayainya, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh
hari."
Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa mendatangi seorang dukun dan
mempercayai apa yang dikatakannya, maka sesungguhnya dia telah kafir (ingkar)
dengan wahyu yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam."
Dan diriwayatkan oleh keempat periwayat (Abu Dawud,
At-Tirmidzi, An-Nasa'i dan Ibnu Majah) dan Al-Hakim dengan menyatakan:
"Hadits ini shahih menurut kriteria Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu
Hurairah Radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda:"Barangsiapa mendatangi tukang ramal atau dukun, lalu mempercayai
apa yang diucapkannya, maka sesungguhnya dia telah kafir (ingkar) dengan wahyu
yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam."
Al-Bazzar dengan isnad jayyid meriwayatkan hadits marfu'
dari Imran bin Hushain:"Tidak termasuk golongan kami orang yang melakukan
atau meminta tathayyur, meramal atau meminta diramalkan, menyihir atau
minta disihirkan; dan barangsiapa mendatangi tukang ramal lalu mempercayai apa
yang diucapkannya, maka sesungguhnya dia telah kafir (ingkar) dengan wahyu yang
diturunkan kepada Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam."
Hadits ini diriwayatkan pula oleh At-Thabrani dalam Al-Mu'jam
al-Ausath dengan isnad hasan dari Ibnu 'Abbas tanpa menyebutkan
kalimat: "Dan barangsiapa mendatangi ...;" dan seterusnya.
Al-Baghawi berkata: "Al-'Arraf (orang pintar)
ialah orang yang mengaku tahu dengan menggunakan isyarat-isyarat untuk
menunjukkan barang curian atau tempat barang hilang atau semacamnya. Ada pula
yang mengatakan: Dia adalah kahin (dukun), padahal kahin adalah
orang yang memberitahukan tentang perkara-perkara yang akan terjadi di masa
mendatang. Adapula yang mengatakan: Yaitu orang yang memberitahu apa yang
tersimpan dalam hati seseorang."
Menurut Abu Al-'Abbas Ibnu Taimiyah: "Al-'Arraf
adalah sebutan untuk tukang ramal, tukang nujum, peramal nasib dan yang
sebangsanya, yang menyatakan tahu tentang perkara-perkara (yang tidak diketahui
oleh orang lain) dengan cara-cara tersebut."
Ibnu 'Abbas, terhadap orang-orang
yang menulis huruf-huruf: " untuk mencari pelamat rahasia huruf dan
memperhatikan bintang-bintang (untuk ramalan), mengatakan: "Aku tak tahu
bahwa orang yang mempraktekkan hal itu akan memperoleh suatu bagian keuntungan
di hadapan Allah." Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab,Dukun,
Tukang Ramal Dan Sejenisnya, Assunnah
ML onlineCreated at 08 July 2001].
Dengan
kehebatan ilmu dan kedekatannya dengan Tuhan sehingga sang dukun mengklaim
dirinya tahu dengan segala hal yang ghaib dan itu dia buktikan melalui berbagai
peristiwa yang meyakinkan seperti mengetahui nasib seseorang melalui ramalan,
akan terjadinya sesuatu petaka dan keberuntungan pada waktu-waktu tertentu yang
mereka ramalkan. Pengakuan tentang mengetahui hal yang ghaib termasuk syirik
dan ini memang permainan dukun.
Hukum orang yang mengaku mengetahui
ilmu yang ghaib adalah kafir, karena ia mendustakan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dia berfirman.“Artinya : Katakanlah : “Tidak ada seorangpun di langit dan di
bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah”, dan mereka tidak
mengetahui bila mereka akan dibangkitkan” [An-Naml : 65]
Allah memerintahkan kepada NabiNya
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberitahukan kepada manusia
bahwa tidak ada seorangpun di bumi maupun di langit yang mengetahui ilmu ghaib
kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya orang yang mengaku mengetahui
ilmu yang ghaib, maka ia telah mendustakan Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang
khabar ini. Kita tanyakan kepada mereka : Bagaimana mungkin kalian mengetahui
yang ghaib, sedangkan Nabi saja tidak mengetahui ? Apakah kalian lebih mulia
daripada Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam ? Jika mereka menjawab : “Kami
lebih mulia daripada Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka mereka telah
kafir karena ucapan itu. Jika mereka mengatakan : Bahwa Rasul Shallallahu
‘alaihi wa sallam lebih mulia, maka kami katakan : Kenapa Rasul tidak
mengetahui yang ghaib, sedangkan kalian mengetahui ? Allah berfirman.“Artinya :
(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan
kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang
diridahiNya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di
muka dan belakangnya” [Al-Jin : 26-27]
Ini adalah ayat kedua yang
menunjukkan atas kafirnya orang yang mengetahui ilmu ghaib. Allah Subhanahu wa
Ta’ala telah memerintahkan NabiNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk
mengabarkan kepada manusia dengan firmanNya.“Artinya : Katakanlah : “Aku tidak
mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula)
aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku
seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku”
[Al-An’am : 50][Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Hukum orang yang
mengaku mengetahui yang ghaib, almanhaj.or.id Jumat, 25 Nopember 2005 06:49:04
WIB].
Ada perbedaan pendapat tentang yang
ghaib, H.Muh.Nur Abdurrahman tidak menyatakan sihir sebagai barang yang ghaib
karena beberapa sebab, beliau menyatakan dalam tulisannya;
Sihir ini tidak termasuk yang ghaib,
karena dapat dipelajari dengan memanfaatkan kekuatan-kekuatan yang sumbernya
dapat ditelusuri.Lalu bagaimanakah yang ghaib itu? Dalam shalat kita memohon
kepada Allah: Ihdina shshirata lmustaqiem, tunjukilah kami jalan yang lurus.
Maka Allah menjawab: Alif lam mim. Dzalika lkitabu la rayba fiehi hudan li
lmuttaqien. Alladziena yu'minuwna bi lghaibi wa yuqiemuwna shshalata wa mimma
razaqnahum yunfiquwn. Alif lam mim. Itulah Al Kitab tidak ada keraguan di
dalamnya petunjuk bagi mereka yang taqwa.Yaitu yang beriman kepada Yang Ghaib
(yang ghaib) dan mendirikan shalat dan dari sebagian yang kami rezekikan kepada
meraka diinfakkannya (dikeluarkannya untuk fungsi sosial). (S.Al Baqarah
1,2,3).
Dalam
masyarakat terdapat kerancuan tentang pengertian Ghaib (ghaib) ini.Maka perlu
dicerahkan.Adapun Yang Ghaib (yang ghaib) tidak dapat ditangkap panca indera,
tidak dapat dideteksi instrumen dalam laboratorium.Tidak dapat diketahui oleh
manusia atas usahanya sendiri.Hanya dapat diketahui apabila Allah
memberitahukan melalui wahyu kepada para Nabi dan Rasul.Maka termasuklah dalam
hal ini Allah SWT dengan sifat-sifatNya yang terungkap dalam 99 Asmau lHusna,
99 Nama-Nama Yang Terbaik.Asmau lHusna ini tidak mungkin dapat diketahui tanpa
informasi langsung dari Allah SWT melalui wahyu kepada Nabi Muhammad RasuluLlah
SAW.Bagi para Nabi dan Rasul wahyu itu tidak ghaib, tetapi bagi kita manusia
biasa wahyu itu ghaib.Para malaikat, ini juga ghaib, tidak dapat ditangkap
panca indera dalam wujudnya yang asli, juga tidak dapat dideteksi oleh
instrumen laboratorium.Para malaikat hanya kita tahu keberadaannya melalui
wahyu kepada para Nabi dan Rasul.Termasuk di dalamnya pula alam ghaib, yaitu
alam arwah yang diciptakan Allah sebelum alam syahadah (physical world), alam
barzakh (perantara) dan alam akhirat.Termasuk pula pekabaran ghaib, yaitu hari
kiamat (berbangkit dari kubur) dan hari perhitungan (yawmu lhisab, yawmu
ddien).Itulah pengertian Yang Ghaib (Allah SWT) dan yang ghaib (malaikat, alam
ghaib dan pekabaran ghaib). [Sihir,
Makassar, 19 September 1993].
Banyak
pekerjaan yang dapat dilakukan oleh sang dukun selain mengobati pasiennya juga
melayani berbagai syirik lainnya seperti meramal nasib, menolak bala, sebagai
pawang hujan dan melakukan sihir.
Tentang sihir ini Asy-Syaikh Al-Imam
Abu Utsman Isma'il Ash-Shabuni dalam bukunya Aqidah ahlus sunnah
menyatakan;
Mereka
(Ashabul Hadits) juga berkeyakinan bahwa di dunia ini memang ada sihir dan
tukang sihir, akan tetapi tukang sihir tersebut tidak dapat mencelakakan
seseorang kecuali dengan izin Allah 'azza wa jalla, sebagaimana firman Allah
ta'ala:"Dan mereka (tukang sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya
kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah .."(Al-Baqarah:102)
Siapa
yang menjadi penyihir atau menggunakan jasa sihir, sementara ia berkeyakinan
bahwa sihir bisa memberi manfaat atau memberi mudharat tanpa izin Allah, maka
ia telah kafir kepada Allah ta'ala.
Apabila
seseorang telah melakukan hal-hal yang secara dzahir dapat membuatnya kafir
itu, maka ia harus dipaksa untuk bertaubat, kalau enggan dipenggal lehernya
(oleh penguasa muslim).
Namun
apabila ia hanya melakukan perkara sihir yang tidak sampai mengkufurkan
dirinya, atau misalnya mengucapkan sesuatu yang dia sendiri tidak memahaminya,
maka cukup dicegah saja. Kalau enggan, maka diberikan hukuman cambuk.
Apabila
seseorang berpendapat bahwa sihir itu tidaklah haram, bahkan meyakininya
boleh-boleh saja, maka orang itu harus dibunuh karena ia telah membolehkan apa
yang telah menjadi kesepakatan umat Islam (Ulama) bahwa sihir itu haram. [Asy-Syaikh Al-Imam Abu Utsman Isma'il
Ash-Shabuni, Aqidah ahlus sunnah].
Peran
besar juga dilakukan oleh dukun untuk memajukan usaha seseorang dengan berbagai
ramuan dan mantra yang harus dilakukan, lagi-lagi ini sebuah cara untuk
menjauhkan manusia dari agama tauhidnya.
Kadangkala
izin sebuah usaha atau bisnis bukan dari pemerintah setempat tapi dari orang
pintar tadi, dengan keuntungan yang menggiurkan, dari usaha sederhana hingga
dalam waktu singkat usaha tadi bisa mengalahkan usaha orang lain, bukan karena
pelayanan dan manajemen yang baik tapi karena mendapat restu dari seorang guru
yang memberikan sesuatu untuk dipelihara seperti memelihara babi, memelihara
anjing atau binatang lain, kalau hewan piaraan itu dirawat, diperhatikan,
diberikan sesuatu sebagai sesajennya maka usaha itu akan lancar dengan keuntungan
tidak sedikit tapi bila diabaikan sarat-sarat yang telah disepakati dengan orang pintar tersebut maka usaha itu akan
hancur berantakan.
Tidak ada orang yang mau bangkrut, hidup miskin dan
menderita, semua orang ingin hidup senang, banyak uang dan kekayaan berlimpah,
apalagi usaha yang ditekuni sudah
mengalami puluhan tahun dengan dinamika jatuh bangun, sehingga untuk menjaga
kelanggengan bisnis itu, sang usahawan rela mengorbankan iman dan aqidahnya
dengan sikap, perbuatan dan amal-amal syirik, walaupun dia masih shalat,
membayar zakat bahkan hingga menunaikan ibadah haji. Tapi usaha yang dilakukan
itu jauh dari keberkahan Allah, bahkan mengundang bencana bagi diri, keluarga
dan masyarakat sekitarnya.
Bukan itu
saja, syirik yang tergores dihati ummat berarti telah merusak keimanannya
kepada Allah, kemurnian iman dan ibadahnya tidak dapat dipertanggungjawabkan,
bahkan perbuatan ini tidak berampun, walaupun Allah mengampuni segala perbuatan
dosa manusia dengan izinnya bila bertaubat, dan ini merupakan hak
preogratifnya, selain itu syirik juga merupakan dosa besar;“ Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia
mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang
dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah
berbuat dosa yang besar.”[An Nisa ‘ 4;48].
Demikian besarnya godaan
materi dunia, biarlah aqidah sebagai taruhannya asal hidup dapat berkecukupan,
tidak susah seperti orang lain walaupun dia disusahkan dengan urusan perdukunan
yang harus dilakukan pembaharuan setiap pekan, sekali sebulan bahkan sekali
enam bulan, bila tidak dilakukan maka usaha tadi berangsur-angsur hilang
kemujarabannya. Kita tidak hanya melihat hal ini di desa-desa yang
masyarakatnya awam sekali dari segi ilmu pengetahuan apalagi ajaran islam, tapi
ini juga dilakukan oleh orang-orang yang berpengetahuan dan berpendidikan
tinggi, ironi memang.
Jatuhnya
manusia kelembah dosa sebangsa syirik dan kezhaliman lainnya karena memang
tipudaya yang dilakukan oleh syaitan memakai kaki tangan para dukun. Memoles
kesesatan agar tampak baik dan menarik hati adalah jurus abadi iblis dan
antek-anteknya.Bahkan inilah jurus pertama iblis sebelum menggoda manusia untuk
bergumul dengan dosa. Allah berfirman:“Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh
sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka
memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan
mereka semuanya,” (Al-Hijr 39)
Maka setan menghiasi perbuatan keji terlebih dahulu, baru dilanjutkan dengan menyesatkan manusia. Ibnul Qayyim mengomentari ayat tersebut: “Di antara strategi iblis adalah menyihir akal secara kontinyu hingga terpedaya, tidak ada yang selamat darinya kecuali yang dikehendaki Allah. Dia menghiasi perbuatan yang hakekatnya menimbulkan madharat sehingga tampak sebagai perbuatan yang paling bermanfaat.Begitupun sebaliknya, dia mencitrakan buruk perbuatan yang bermanfaat sehingga nampak mendatangkan madharat…”wallahu a’lam [Cubadak Solok, 11 Agustus 2011.M/ 11 Ramadhan 1432.H].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar