Minggu, 22 November 2015

5. Andai Aku Tahu Perdukunan Berdosa



Bila syirik telah menjalar pada diri manusia, fitrahnya tercemar oleh noda-noda yang dapat merusak iman, bila syirik telah mendarah daging walaupun fithrahnya tidak menerimanya tapi diapun tidak mampu untuk menolaknya, apalagi lingkungan kondusif untuk itu maka segala aktivitasnya sarat dengan kesyirikan. Demikian pula halnya yang berkaitan dengan cinta mencintai hingga tegaknya sebuah rumah tangga, mereka selalu melibatkan kehebatan sang dukun atau orang pintar.

            Kadangkala untuk mengekalkan kesyirikan seseorang maka digunakan oleh syaitan agar mangsanya percaya dan yakin dengan segala pesan-pesannya dengan wirid harian yang tidak lepas dari bahasa Arab dan Al Qur'an, tidak jarang juga melakukan puasa sekian hari, shalat malam ditentukan hari dan waktunya, yang intinya ibadah yang dilakukan bukan karena Allah tapi karena sesuatu, maksudnya meruntuhkan hati calon isteri agar dia takluk di pangkuannya.

Padahal Allah memerintahkan kita beribadah kepada-Nya saja bukan  kepada syaitan dan para dukun, hal ini jelas-jelas telah melencengkan ibadah yang sebenarnya, Allah berfirman dalam surat Al Kahfi 18;110“Katakanlah: Sesungguhnya Aku Ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".

Bila pujaan hati gagal disunting karena kurangnya sajen yang dipersembahkan atau tidak lengkapnya persyaratan yang diberikan sehingga sang pacar memutuskan hubungan, dia menikah dengan orang lain, maka hal itu tidak bisa diterima, sakit hati akan berbalas dengan menyakitkan orang lain, bagaimanapun juga tidak ada istilah cinta ditolak, bila terjadi juga berarti pelecehan dan menginjak-injak harga diri, maka tunggulah pembalasannya, cinta ditolak  dukun akan bertindak.

Mulailah sang dukun bekerja keras agar permohonan untuk menggagalkan pernikahan dapat dilakukan, sajian diperbanyak, kemenyan semakin mengebul, bunga dengan sekian ramuan disediakan, kehebatan dukun mulai dinampakkan dengan jalan menyakiti, menjadi gila  hingga membunuh dengan santet dan guna-guna, intinya ini terjadi karena keinginan secara wajar untuk menyunting anak gadis orang tidak kesampaian.

Bagaimana negeri ini tidak mendapat bencana dan musibah dari Allah bila syirik dan kezhaliman merajalela di dalamnya, sejak awal berdirinya rumah tangga sudah dihiasi dengan syirik, hingga kelakpun syirik akan dilaksanakan dalam rangka memelihara kelanggelangan rumah tangga itu dengan istilah pekasih dan istilah-sitilah lainnya, padahal Rasulullah telah menyebutkan bahwa segala yang berkaitan dengan syirik itu berdosa dan akan mendatangkan malapetaka, Allah berfirman;"Dan Demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia]. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan'[Al An'am 6;112].

Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya, meriwayatkan dari salah seorang isteri Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda:"Barangsiapa mendatangi tukang ramal lalu menanyakan kepadanya tentang sesuatu perkara dan dia mempercayainya, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari."
Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa mendatangi seorang dukun dan mempercayai apa yang dikatakannya, maka sesungguhnya dia telah kafir (ingkar) dengan wahyu yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam."
Dan diriwayatkan oleh keempat periwayat (Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i dan Ibnu Majah) dan Al-Hakim dengan menyatakan: "Hadits ini shahih menurut kriteria Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:"Barangsiapa mendatangi tukang ramal atau dukun, lalu mempercayai apa yang diucapkannya, maka sesungguhnya dia telah kafir (ingkar) dengan wahyu yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam."
Al-Bazzar dengan isnad jayyid meriwayatkan hadits marfu' dari Imran bin Hushain:"Tidak termasuk golongan kami orang yang melakukan atau meminta tathayyur, meramal atau meminta diramalkan, menyihir atau minta disihirkan; dan barangsiapa mendatangi tukang ramal lalu mempercayai apa yang diucapkannya, maka sesungguhnya dia telah kafir (ingkar) dengan wahyu yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam."
Hadits ini diriwayatkan pula oleh At-Thabrani dalam Al-Mu'jam al-Ausath dengan isnad hasan dari Ibnu 'Abbas tanpa menyebutkan kalimat: "Dan barangsiapa mendatangi ...;" dan seterusnya.
Al-Baghawi berkata: "Al-'Arraf (orang pintar) ialah orang yang mengaku tahu dengan menggunakan isyarat-isyarat untuk menunjukkan barang curian atau tempat barang hilang atau semacamnya. Ada pula yang mengatakan: Dia adalah kahin (dukun), padahal kahin adalah orang yang memberitahukan tentang perkara-perkara yang akan terjadi di masa mendatang. Adapula yang mengatakan: Yaitu orang yang memberitahu apa yang tersimpan dalam hati seseorang."
Menurut Abu Al-'Abbas Ibnu Taimiyah: "Al-'Arraf adalah sebutan untuk tukang ramal, tukang nujum, peramal nasib dan yang sebangsanya, yang menyatakan tahu tentang perkara-perkara (yang tidak diketahui oleh orang lain) dengan cara-cara tersebut."
Ibnu 'Abbas, terhadap orang-orang yang menulis huruf-huruf: " untuk mencari pelamat rahasia huruf dan memperhatikan bintang-bintang (untuk ramalan), mengatakan: "Aku tak tahu bahwa orang yang mempraktekkan hal itu akan memperoleh suatu bagian keuntungan di hadapan Allah." Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab,Dukun, Tukang Ramal Dan Sejenisnya, Assunnah ML onlineCreated at 08 July 2001].
Dengan kehebatan ilmu dan kedekatannya dengan Tuhan sehingga sang dukun mengklaim dirinya tahu dengan segala hal yang ghaib dan itu dia buktikan melalui berbagai peristiwa yang meyakinkan seperti mengetahui nasib seseorang melalui ramalan, akan terjadinya sesuatu petaka dan keberuntungan pada waktu-waktu tertentu yang mereka ramalkan. Pengakuan tentang mengetahui hal yang ghaib termasuk syirik dan ini memang permainan dukun.
Hukum orang yang mengaku mengetahui ilmu yang ghaib adalah kafir, karena ia mendustakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia berfirman.“Artinya : Katakanlah : “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan” [An-Naml : 65]
Allah memerintahkan kepada NabiNya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberitahukan kepada manusia bahwa tidak ada seorangpun di bumi maupun di langit yang mengetahui ilmu ghaib kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya orang yang mengaku mengetahui ilmu yang ghaib, maka ia telah mendustakan Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang khabar ini. Kita tanyakan kepada mereka : Bagaimana mungkin kalian mengetahui yang ghaib, sedangkan Nabi saja tidak mengetahui ? Apakah kalian lebih mulia daripada Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam ? Jika mereka menjawab : “Kami lebih mulia daripada Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka mereka telah kafir karena ucapan itu. Jika mereka mengatakan : Bahwa Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih mulia, maka kami katakan : Kenapa Rasul tidak mengetahui yang ghaib, sedangkan kalian mengetahui ? Allah berfirman.“Artinya : (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridahiNya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan belakangnya” [Al-Jin : 26-27]

Ini adalah ayat kedua yang menunjukkan atas kafirnya orang yang mengetahui ilmu ghaib. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan NabiNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengabarkan kepada manusia dengan firmanNya.“Artinya : Katakanlah : “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku” [Al-An’am : 50][Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Hukum orang yang mengaku mengetahui yang ghaib, almanhaj.or.id Jumat, 25 Nopember 2005 06:49:04 WIB].

Ada perbedaan pendapat tentang yang ghaib, H.Muh.Nur Abdurrahman tidak menyatakan sihir sebagai barang yang ghaib karena beberapa sebab, beliau menyatakan dalam tulisannya;
Sihir ini tidak termasuk yang ghaib, karena dapat dipelajari dengan memanfaatkan kekuatan-kekuatan yang sumbernya dapat ditelusuri.Lalu bagaimanakah yang ghaib itu? Dalam shalat kita memohon kepada Allah: Ihdina shshirata lmustaqiem, tunjukilah kami jalan yang lurus. Maka Allah menjawab: Alif lam mim. Dzalika lkitabu la rayba fiehi hudan li lmuttaqien. Alladziena yu'minuwna bi lghaibi wa yuqiemuwna shshalata wa mimma razaqnahum yunfiquwn. Alif lam mim. Itulah Al Kitab tidak ada keraguan di dalamnya petunjuk bagi mereka yang taqwa.Yaitu yang beriman kepada Yang Ghaib (yang ghaib) dan mendirikan shalat dan dari sebagian yang kami rezekikan kepada meraka diinfakkannya (dikeluarkannya untuk fungsi sosial). (S.Al Baqarah 1,2,3). 

Dalam masyarakat terdapat kerancuan tentang pengertian Ghaib (ghaib) ini.Maka perlu dicerahkan.Adapun Yang Ghaib (yang ghaib) tidak dapat ditangkap panca indera, tidak dapat dideteksi instrumen dalam laboratorium.Tidak dapat diketahui oleh manusia atas usahanya sendiri.Hanya dapat diketahui apabila Allah memberitahukan melalui wahyu kepada para Nabi dan Rasul.Maka termasuklah dalam hal ini Allah SWT dengan sifat-sifatNya yang terungkap dalam 99 Asmau lHusna, 99 Nama-Nama Yang Terbaik.Asmau lHusna ini tidak mungkin dapat diketahui tanpa informasi langsung dari Allah SWT melalui wahyu kepada Nabi Muhammad RasuluLlah SAW.Bagi para Nabi dan Rasul wahyu itu tidak ghaib, tetapi bagi kita manusia biasa wahyu itu ghaib.Para malaikat, ini juga ghaib, tidak dapat ditangkap panca indera dalam wujudnya yang asli, juga tidak dapat dideteksi oleh instrumen laboratorium.Para malaikat hanya kita tahu keberadaannya melalui wahyu kepada para Nabi dan Rasul.Termasuk di dalamnya pula alam ghaib, yaitu alam arwah yang diciptakan Allah sebelum alam syahadah (physical world), alam barzakh (perantara) dan alam akhirat.Termasuk pula pekabaran ghaib, yaitu hari kiamat (berbangkit dari kubur) dan hari perhitungan (yawmu lhisab, yawmu ddien).Itulah pengertian Yang Ghaib (Allah SWT) dan yang ghaib (malaikat, alam ghaib dan pekabaran ghaib). [Sihir,  Makassar, 19 September 1993].

Banyak pekerjaan yang dapat dilakukan oleh sang dukun selain mengobati pasiennya juga melayani berbagai syirik lainnya seperti meramal nasib, menolak bala, sebagai pawang hujan dan melakukan  sihir. Tentang sihir ini Asy-Syaikh Al-Imam Abu Utsman Isma'il Ash-Shabuni dalam bukunya Aqidah ahlus sunnah menyatakan;

Mereka (Ashabul Hadits) juga berkeyakinan bahwa di dunia ini memang ada sihir dan tukang sihir, akan tetapi tukang sihir tersebut tidak dapat mencelakakan seseorang kecuali dengan izin Allah 'azza wa jalla, sebagaimana firman Allah ta'ala:"Dan mereka (tukang sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah .."(Al-Baqarah:102) 

Siapa yang menjadi penyihir atau menggunakan jasa sihir, sementara ia berkeyakinan bahwa sihir bisa memberi manfaat atau memberi mudharat tanpa izin Allah, maka ia telah kafir kepada Allah ta'ala. 

Apabila seseorang telah melakukan hal-hal yang secara dzahir dapat membuatnya kafir itu, maka ia harus dipaksa untuk bertaubat, kalau enggan dipenggal lehernya (oleh penguasa muslim).

Namun apabila ia hanya melakukan perkara sihir yang tidak sampai mengkufurkan dirinya, atau misalnya mengucapkan sesuatu yang dia sendiri tidak memahaminya, maka cukup dicegah saja. Kalau enggan, maka diberikan hukuman cambuk.

Apabila seseorang berpendapat bahwa sihir itu tidaklah haram, bahkan meyakininya boleh-boleh saja, maka orang itu harus dibunuh karena ia telah membolehkan apa yang telah menjadi kesepakatan umat Islam (Ulama) bahwa sihir itu haram. [Asy-Syaikh Al-Imam Abu Utsman Isma'il Ash-Shabuni, Aqidah ahlus sunnah].

Peran besar juga dilakukan oleh dukun untuk memajukan usaha seseorang dengan berbagai ramuan dan mantra yang harus dilakukan, lagi-lagi ini sebuah cara untuk menjauhkan manusia dari agama tauhidnya.

Kadangkala izin sebuah usaha atau bisnis bukan dari pemerintah setempat tapi dari orang pintar tadi, dengan keuntungan yang menggiurkan, dari usaha sederhana hingga dalam waktu singkat usaha tadi bisa mengalahkan usaha orang lain, bukan karena pelayanan dan manajemen yang baik tapi karena mendapat restu dari seorang guru yang memberikan sesuatu untuk dipelihara seperti memelihara babi, memelihara anjing atau binatang lain, kalau hewan piaraan itu dirawat, diperhatikan, diberikan sesuatu sebagai sesajennya maka usaha itu akan lancar dengan keuntungan tidak sedikit tapi bila diabaikan sarat-sarat yang telah disepakati dengan  orang pintar tersebut maka usaha itu akan hancur berantakan.

            Tidak ada orang yang mau bangkrut, hidup miskin dan menderita, semua orang ingin hidup senang, banyak uang dan kekayaan berlimpah, apalagi  usaha yang ditekuni sudah mengalami puluhan tahun dengan dinamika jatuh bangun, sehingga untuk menjaga kelanggengan bisnis itu, sang usahawan rela mengorbankan iman dan aqidahnya dengan sikap, perbuatan dan amal-amal syirik, walaupun dia masih shalat, membayar zakat bahkan hingga menunaikan ibadah haji. Tapi usaha yang dilakukan itu jauh dari keberkahan Allah, bahkan mengundang bencana bagi diri, keluarga dan masyarakat sekitarnya.

Bukan itu saja, syirik yang tergores dihati ummat berarti telah merusak keimanannya kepada Allah, kemurnian iman dan ibadahnya tidak dapat dipertanggungjawabkan, bahkan perbuatan ini tidak berampun, walaupun Allah mengampuni segala perbuatan dosa manusia dengan izinnya bila bertaubat, dan ini merupakan hak preogratifnya, selain itu syirik juga merupakan dosa besar;“ Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.”[An Nisa ‘ 4;48].

Demikian besarnya godaan materi dunia, biarlah aqidah sebagai taruhannya asal hidup dapat berkecukupan, tidak susah seperti orang lain walaupun dia disusahkan dengan urusan perdukunan yang harus dilakukan pembaharuan setiap pekan, sekali sebulan bahkan sekali enam bulan, bila tidak dilakukan maka usaha tadi berangsur-angsur hilang kemujarabannya. Kita tidak hanya melihat hal ini di desa-desa yang masyarakatnya awam sekali dari segi ilmu pengetahuan apalagi ajaran islam, tapi ini juga dilakukan oleh orang-orang yang berpengetahuan dan berpendidikan tinggi, ironi memang.

Jatuhnya manusia kelembah dosa sebangsa syirik dan kezhaliman lainnya karena memang tipudaya yang dilakukan oleh syaitan memakai kaki tangan para dukun. Memoles kesesatan agar tampak baik dan menarik hati adalah jurus abadi iblis dan antek-anteknya.Bahkan inilah jurus pertama iblis sebelum menggoda manusia untuk bergumul dengan dosa. Allah berfirman:“Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,” (Al-Hijr 39)

Maka setan menghiasi perbuatan keji terlebih dahulu, baru dilanjutkan dengan menyesatkan manusia. Ibnul Qayyim mengomentari ayat tersebut: “Di antara strategi iblis adalah menyihir akal secara kontinyu hingga terpedaya, tidak ada yang selamat darinya kecuali yang dikehendaki Allah. Dia menghiasi perbuatan yang hakekatnya menimbulkan madharat sehingga tampak sebagai perbuatan yang paling bermanfaat.Begitupun sebaliknya, dia mencitrakan buruk perbuatan yang bermanfaat sehingga nampak mendatangkan madharat…”wallahu a’lam [Cubadak Solok, 11 Agustus 2011.M/ 11 Ramadhan 1432.H].



Tidak ada komentar:

Posting Komentar