Rabu, 30 Oktober 2013

1. Andai Aku Tahu Syirik Itu Berdosa




Drs. St. MUKHLIS DENROS


Syirik artinya sifat menyekutukan Allah swt dalam peribadatan dengan salah satu makhluk-Nya dengan selain Allah, orang yang melakukannya disebut muysrik. Syirik yang paling tinggi adalah menyekuutukan Allah dengan tuhan-tuhan yang lain, menganggap Allah memiliki tandingan, sedangkan syirik yang paling rendah sesuai dengan sabda Rasulullah adalah riya’ dalam beribadah.

            Inilah satu watak yang menggelincirkan tauhid mukmin sehingga keimanan mereka tidak lagi murni, telah tercemari oleh noda-noda dan debu-debu kekafiran. Sebenarnya watak ini tidak bisa dipadukan, bila orang telah syirik tidak bisa disatukan dengan iman yang tauhid, demikian pula kekafiran tidak bisa bergandengan dengan keimanan.

             Ada beberapa hal yang menyebabkan sifat ini muncul pada pribadi manusia dan banyak sebab yang menjerumuskan kepada syirik yaitu;

Pertama, pengagungan yang berlebihan terhadap seseorang dan sesuatu, pengagungan tersebut terbagi dua; yaitu pengagungan biasa yang tidak ada syiriknya adalah seperti  pengagungan anak terhadap bapaknya, Allah berfirman dalam surat al Isra’ 17;23 “Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”

            Juga ada pengagungan yang ditujukan kepada Nabi dan Rasul dengan , pengagungan seperti ini dianjurkan bahkan diwajibkan dalam rangka pengabdian kepada orangtua dan kesantunan kepada Rasulullah, yang tidak boleh adalah  Pengagungan yang berlebih-lebihan sehingga sampai kepada pengkultusan [taqdis], pengagungan ini yang menyebabkan syirik, diantaranya pengkultusan kepada ulama sehingga segala keputusan ulama dianggap wahyu yang tidak bisa dikoreksi bahkan menjadikan ulama tadi dianggap serba tahu [Nuh 71;21-23] Nuh berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka, dan melakukan tipu-daya yang amat besar."
Dan mereka berkata: "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa', yaghuts, ya'uq dan nasr"
           
            Wadd, Suwwa', Yaghuts, Ya'uq dan Nasr adalah nama-nama berhala yang terbesar pada qabilah-qabilah kaum Nuh

            Menjadikan orang syirik pula bila terjadi pengkultusan terhadap Nabi dan Rasul sehingga menjadikan mereka sebagai anak Tuhan bahkan Tuhan [9;30], para pendetapun dijadikan sebagai Tuhan karena pengkultusan oleh pengikutnya [At Taubah 9;31]. ”Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.’

            Termasuk syirik pula apabila pengkultusan kepada malaikat karena dianggap melaikat itu dekat kepada Allah, disamping dari kejadiannya yang sempurna yaitu tercipta dari nur [cahaya] [6;100], pengkultusan kepada jin [37;158-159] serta kepada  benda-benda yang ada di langit [Fushilat 41;37] Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah”

Kedua, bersandar kepada sesuatu yang bisa diketahui leh panca indra yang berbentuk materi sehingga mereka enggan untuk menyatakan beriman kepada Allah sebab Allah tidak dapat dilihat dan tidak diketahui secara indra, inilah pengakuan pengikut Nabi Musa yang dijelaskan Allah dalam surat Al Baqarah 2;55;  “Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang, Karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya".

Seandainya  Allah memperlihatkan siapa Dia sebenarnya dan bisa dilihat oleh mereka [kaum Yahudi] tetap mereka tidak mau beriman, itu hanya dalih mereka saja. Disamping itu merekapun tidak mau beriman kepada Allah karena tidak bisa diindra, begitu diajak oleh musyrikin lainnya untuk menyembah berhala, walaupun tidak sesuai dengan akal mereka siap menerimanya karena Tuhan yang mereka amksud dapat disaksikan secara lansung, surat Al A’raf 7;138 menjelaskannya;  “Dan kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu[562], Maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata: "Hai Musa. buatlah untuk kami sebuah Tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa Tuhan (berhala)". Musa menjawab: "Sesungguh-nya kamu Ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)".

Ketiga, penyebab lain seseorang syirik adalah mengikuti kehendak hawa nafsu tanpa mengacu kepada sandaran wahyu, mereka telah menjadikan hawa nafsu sebagai Tuhan-Tuhan yang harus diikuti kemauannya. Ukuran  kebenaran adalah hawa nafsu, bila nafsu mengatakan baik maka wajib diikuti, padahal semuanya itu menyesatkan manusia; “Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang diturunkan Allah". mereka menjawab: "(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?”[Luqman 31;21]

Segala tata aturan  yang dibuat manusia yang kita kenal dengan moral, etika, tata susila dan adat kebanyakan terbentuknya didesak oleh hawa nafsu yang sesuai dengan keinginan pembuat aturan, itulah makanya segala moral, etika, tata susila dan adat banyak berbenturan dengan wahyu Allah.

Keempat, penyebab syirik juga bisa karena sombong, yaitu sikap hidup yang merasa lebih tinggi dan lebih berharga dari orang lain sehingga tidak mau diatur oleh aturan yang diberi Allah. Itulah makanya Abu Thalib, Abu Jahal dan tokoh-tokoh Quraisy lainnya tidak mau masuk islam, bukan karena ajaran islam tidak baik dan benar menurut mereka tapi karena kesombongan mereka, watak ini pula yang menjadikan Fir’aun, Haman, Qarun dan Bal”am jauh dari ajaran tauhid yang dibawa Nabi Musa; “Dan Fir'aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: "Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir Ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai Ini mengalir di bawahku; Maka apakah kamu tidak melihat(nya)? Bukankah Aku lebih baik dari orang yang hina Ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?”[Az Zukhruf 43;51-52]

Seseorang bisa sombong karena memiliki kelebihan pada dirinya baik karena cantik/ganteng, kaya, punya pangkat, pinter, banyak pengikut, banyak ibadah dan kelebihan-kelebihan lain. Dari kesombongan itu puncaknya adalah penyepelekan Allah dan menganggap semua kelebihan tersebut bukan karunia dari Allah tapi hasil usaha pribadi.

Kelima, adanya para penguasa yang menindas manusia dan tidak berhukum dengan yang diturunkan Allah, hal ini terjadi pada penguasa tiran, yang memperbudak manusia sesuai dengan agama dan pandangan hidupnya, contoh saja sebelum Ratu Bulqis bertemu dengan Nabi Sulaiman, dia telah memerintahkan rakyatnya untuk menyembah berhala, atau kisah Ashabul Kahfi yang dipaksa oleh raja Dicnatius untuk menyembah Tuhan selain Alah, sehingga dia harus melarikan diri untuk menyelamatkan aqidahnya, tapi masyarakat yang lain telah disesatkan dengan cara kejam.

Sujud kepada berhala bukanlah satu-satunya syirik, apabila kita kembali kepada Al Qur’an kita akan tahu bahwa sujud kepada berhala adalah salah satu dari sekian banyak bentuk syirik,  diantara bentuk-bentuk syirik itu adalah

Pertama, mendekatkan diri  kepada selain Allah, yaitu mendekatkan diri kepada suatu benda dengan berkeyakinan bahwa benda tersebut dapat mendekatkan diri dipelakunya kepada Allah. Sebagaimana orang-orang Quraisy tetap mengakui Allah sebagai Tuhan tapi untuk mendekatkan dirinya kepada Allah, menurut mereka manusia tidak bisa secara lansung kepada Allah karena manusia adalah makhluk yang lemah dan kotor maka harus pakai wasilah atau perantara, maka dijadikanlah patung sebagai perantaranya [Az Zumar 39;3] ”Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya." Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.”

Kedua, memohon pertolongan atau syafaat selain kepada Allah juga termasuk sifat dan sikap syirik sebagaimana yang dijelaskan dalam surat Yunus 10;18  “Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah". Katakanlah: "Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?"Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu)”

Ketiga, cinta dan wala’ [loyalitas] yang ditujukan bukan kepada Allah, Rasul dan orang-orang beriman juga termasuk kategori syirik [5;55-57] apalagi cinta dan wala’ tadi mengakibatkan penghambaan. Seorang mukmin tidak boleh memberikan cinta dan wala’nya kepada Yahudi dan Nasrani [5;51], orang-orang kafir lainnya [9;23], orang-orang yang menentang syariat allah [58;22], orang-orang yang mengejek agama Allah [5;57]. Seorang mukmin tidak boleh mencintai sesuatu atau seseorang melebihi cintanya kepada Allah, Rasul dan berjuang menegakkan agama Allah [2;165, 9;24], bila hal ini terjadi berarti mereka telah menyekutukan Allah.”Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”

Keempat, termasuk syirik adalah dalam ketaatan dan ikutan yang berkaitan dengan hukum dan undang-undang. Mengikuti undang-undang selain yang diturunkan Allah telah menodai aqidah tauhid [7;3]. Segala hukum yang dibuat manusia yang tidak bersumber dari syari’at yang diturunkan Allah walaupun benar, maka pengikutnya telah menjadikan hukum Allah sebagai pelecehan [2;170] atau memutar baikkan fakta kebenaran, yang halal diharamkan dan sebaliknya [9;13]. ”Mengapakah kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama mulai memerangi kamu? Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”

Kelima, riya’ yaitu berbuat karena mengharapkan pujian manusia bukan mencari ridha Allah, kata Rasulullah ini adalah syrik tapi dalam katagori syirik kecil, Allah berfirman dalam surat Al Kahfi 18;110]  “Katakanlah: Sesungguhnya Aku Ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".

Riya’ yang hinggap dalam hati manusia, walaupun dalam bentuk syirik kecil tapi dapat merusak ibadah sehingga ibadahnya tidak bernilai disisi Allah kecuali letihnya sujud dan rukuk dikala shalat, lapar dan haus yang terasa dikala puasa bahkan jihadpun tidak mendapat balasan pahala dari Allah [Al Baiyinah 98;5]. ”Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”

Keenam, bertuhan lebih dari satu sebagai tandingan  Allah, bisa terbuat dari bau, berupa berhala, harta, jabatan dan apa saja yang dijadikan sebagai Ilah, selain menjadikan allah sebagai Tuhan juga mengakui keberadaan Tuhan lain, baik sengaja maupun tanpa disadari; “ Allah berfirman: "Janganlah kamu menyembah dua tuhan; Sesungguhnya dialah Tuhan yang Maha Esa, Maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut".[An Nahl 16;51]

Ketujuh, menyembah Nabi Isa dan Maryam sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang beragama Nasrani dizaman kini, mereka lakukan ini karena kelahiran Nabi Isa memiliki keistimewaan dibandingkan manusia lainnya “Dan (Ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam, Adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah Aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah?". Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). jika Aku pernah mengatakan Maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan Aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib".[Al Maidah 5;116]

Kedelapan, menyembah matahari dan bulan, inilah dahulu hampir dilakukan oleh Nabi Ibrahim saat dia mencari eksistensi Tuhan, rasa rindu dan ingin tahunya menjadikannya putus asa hingga dia berkata,”Aku hadapkan wajahku kepada Pencipta langit dan bumi” artinya terserahlah siapa Tuhan itu, tapi aku serahkan penyembahanku hanya kepada-Nya,  walaupun dia belum tahu siapa Tuhan yang sebenarnya. Banyak orang yang keliru mencari Tuhan yang dia sembah sebagaimana matahari dan bulan,“ Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika ialah yang kamu hendak sembah”[Fushshilat 41;37].

Kesembilan, banyak hal yang dilakukan manusia dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan, namun karena kurangnya ilmu, taqlid buta sehingga aktivitas yang nampaknya ibadah menjadikan iman tauhidnya tercemar, yang nampaknya abadat tapi sebenarnya adat, dikira sunnah padahal bid’ah

            Konsekwensi iman seorang mukmin adalah menjadikan Allah satu-satunya yang disembah [53;62], menjadikan Allah yang ditaati segala aturan yang telah diwahyukan-Nya kepada hamba Allah yang mulia yaitu Muhammad saw [3;32] dan hanya mencintai Allah semata [9;24]. Bila tiga hal tersebut tidak sesuai dengan yang dikehendaki maka perlu adanya perbaikan iman, inilah yang disebut dengan tajdiidul iman, pembaharuan iman. Bila iman tauhid tercemar oleh syirik, ringan apalagi syirik yang  tinggi yaitu mencari Tuhan lain selain Allah hingga riya’ dalam beribadah akan mendatangkan bahaya besar bagi ummat ini, bahaya syirik itu adalah;

            Pertama, memadamkan cahaya fithrah; kesucian manusia telah mengakui Allah sebagai Ilah sejak dari alam ruh atau alam kandungan [7;172] sebagaimana sabda Rasulullah,”Setiap bayi yang lahir dalam keadaan suci, maka orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi dan Nasrani”[HR. Bukhari] Bila syirik telah menjalar pada diri manusia, fitrahnya tercemar oleh noda-noda yang dapat merusak iman, bila shyirik telah mendarah daging walaupun fithrahnya tidak menerimanya tapi diapun tidak mampu untuk menolaknya, apalagi lingkungan kondusif untuk itu.

Kedua, mematikan tuntutan jiwa yang suci, jiwa membutuhkan yang baik, suci dan tauhid, syirik berarti mematikan jiwa yang suci dan menghambat tuntutan hati nurani manusia [22;31]”dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh”.

Ketiga, bahaya syirik juga menghilangkan perasaan izzah/ harga diri, mereka yang melakukan perbuatan ini tidak ada harga dirinya dihadapan Allah dan manusia, karena perbuatan ini termasuk perbuatan penyelewengan aqidah; ‘Mereka berkata: "Sesungguhnya jika kita Telah kembali ke Madinah[1478], benar-benar orang yang Kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya." padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada Mengetahui’[Al Munafiqun 63;8].

Keempat, syirik dapat menggugurkan amal shaleh sehingga segala kegiatan yang dilakukan walaupun berujud ibadah maka disisi Allah tidak akan dihitung dan tidak pula diperhitungkan, karena mereka telah mencemari pengabdian, tidak mengingkari tauhid yang suci;  “ Dan Sesungguhnya Telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”[Az Zumar 39;65]

Kelima, Syirik termasuk perbuatan zhalim yang besar sebab dia telah mengkhianati Allah swt, mengkhianati manusia saja sudah dianggap buruk prilaku demikian apalagi mengkhianati-Nya. Itulah makanya Luqman lebih dahulu membesihkan hati anaknya dari perbuatan syirik sebelum memberikan tuntutan ibadah, dari sekian kezhaliman maka syirik merupakan sebesar-besarnya kezhaliman; “Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".[Luqman 31;13]

Keenam, syirik yang tergores dihati ummat berarti telah merusak keimanannya kepada Allah, kemurnian iman dan ibadahnya tidak dapat dipertanggungjawabkan, bahkan perbuatan ini tidak berampun, walaupun Allah mengampuni segala perbuatan dosa manusia dengan izinnya bila bertaubat, dan ini merupakan hak preogratifnya, selain itu syirik juga merupakan dosa besar; “ Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.”[An Nisa ‘ 4;48]

Ketujuh, syirik yang dilakukan seorang hamba juga berarti telah menyeretnya kepada kesesatan yang jauh, lebih primitif dari pada orang-orang jahiliyah, seseorang bila tidak berada dalam lingkungan dan lingkaran tauhid b erarti dia  hadir dalam lingkaran syirik, dari sekian kesesatan maka syirik merupakan kesesatan yang sangat jauh, sulit untuk diberikan kesadaran , firman Allah dalams urat An Nisa’ 4;60 “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya Telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka Telah diperintah mengingkari thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.”

Kedelapan, orang yang syirik kepada Allah dengan berbagai bentuk dan caranya, diharamkan untuk masuk syurga, tidak ada tempat disyurga bagi mereka yang telah mengingkari Alllah dengan melakukan syirik, syurga itu untuk orang-orang yang bersih aqidahnya, tempat yang syirik adalah neraka, Al Maidah 5;72 menjelaskan;“ Sesungguhnya Telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam", padahal Al masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.”

Demikian besarnya bahaya bagi mereka yang menserikatkan Allah, baik di dunia sampai di akherat Allah tidak simpati kepada mereka bahkan sia-sia hidupnya walaupun amal-amal mereka nampak, syirik inipun salah satu perbuatan orang-orang kafir sehingga keberadaan mereka sama saja dengan  orang-orang kafir, wallahu a’lam.[Cubadak Solok, 16 Ramadhan 1431.H/ 26 Agustus 2010]


Dari Buku
ANDAI AKU TAHU  DOSA ITU ADA,
karya Drs.St. Mukhlis Denros
PENERBIT FAM PUBLISHING
Jln. Mayor Bismo No.22 Pare,  Kediri, Jawa Timur
Info pemesanan buku di FAM Publishing
Hubungi Aliya Nurlela No.Hp. 0812 5982 1511
         
                   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar