Drs. St. MUKHLIS DENROS
Syirik artinya sifat menyekutukan Allah swt dalam
peribadatan dengan salah satu makhluk-Nya dengan selain Allah, orang yang
melakukannya disebut muysrik. Syirik yang paling tinggi adalah menyekuutukan
Allah dengan tuhan-tuhan yang lain, menganggap Allah memiliki tandingan,
sedangkan syirik yang paling rendah sesuai dengan sabda Rasulullah adalah riya’
dalam beribadah.
Inilah satu watak yang menggelincirkan tauhid mukmin
sehingga keimanan mereka tidak lagi murni, telah tercemari oleh noda-noda dan
debu-debu kekafiran. Sebenarnya watak ini tidak bisa dipadukan, bila orang
telah syirik tidak bisa disatukan dengan iman yang tauhid, demikian pula
kekafiran tidak bisa bergandengan dengan keimanan.
Ada beberapa hal yang menyebabkan
sifat ini muncul pada pribadi manusia dan banyak sebab yang menjerumuskan
kepada syirik yaitu;
Pertama, pengagungan yang
berlebihan terhadap seseorang dan sesuatu, pengagungan tersebut terbagi dua;
yaitu pengagungan biasa yang tidak ada syiriknya adalah seperti pengagungan anak terhadap bapaknya, Allah
berfirman dalam surat al Isra’ 17;23 “Dan
Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan
hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah
seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam
pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya
perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada
mereka perkataan yang mulia”
Juga ada pengagungan yang ditujukan kepada Nabi dan Rasul
dengan , pengagungan seperti ini dianjurkan bahkan diwajibkan dalam rangka
pengabdian kepada orangtua dan kesantunan kepada Rasulullah, yang tidak boleh
adalah Pengagungan
yang berlebih-lebihan sehingga sampai kepada pengkultusan [taqdis], pengagungan
ini yang menyebabkan syirik, diantaranya pengkultusan kepada ulama sehingga
segala keputusan ulama dianggap wahyu yang tidak bisa dikoreksi bahkan
menjadikan ulama tadi dianggap serba tahu [Nuh 71;21-23] Nuh berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya
mereka telah mendurhakaiku dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan
anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka, dan melakukan
tipu-daya yang amat besar."
Dan mereka berkata: "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa', yaghuts, ya'uq dan nasr"
Dan mereka berkata: "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa', yaghuts, ya'uq dan nasr"
Wadd, Suwwa', Yaghuts, Ya'uq dan Nasr adalah nama-nama
berhala yang terbesar pada qabilah-qabilah kaum Nuh
Menjadikan orang syirik pula bila terjadi pengkultusan
terhadap Nabi dan Rasul sehingga menjadikan mereka sebagai anak Tuhan bahkan
Tuhan [9;30], para pendetapun dijadikan sebagai Tuhan karena pengkultusan oleh
pengikutnya [At Taubah 9;31]. ”Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai
tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam,
padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang
berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka
persekutukan.’
Termasuk syirik pula apabila pengkultusan kepada malaikat
karena dianggap melaikat itu dekat kepada Allah, disamping dari kejadiannya
yang sempurna yaitu tercipta dari nur [cahaya] [6;100], pengkultusan kepada jin
[37;158-159] serta kepada benda-benda
yang ada di langit [Fushilat 41;37] ”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari
dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang
menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah”
Kedua, bersandar kepada
sesuatu yang bisa diketahui leh panca indra yang berbentuk materi sehingga
mereka enggan untuk menyatakan beriman kepada Allah sebab Allah tidak dapat
dilihat dan tidak diketahui secara indra, inilah pengakuan pengikut Nabi Musa
yang dijelaskan Allah dalam surat Al Baqarah 2;55; “Dan
(ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak akan beriman
kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang, Karena itu kamu disambar
halilintar, sedang kamu menyaksikannya".
Seandainya Allah memperlihatkan siapa Dia sebenarnya dan
bisa dilihat oleh mereka [kaum Yahudi] tetap mereka tidak mau beriman, itu
hanya dalih mereka saja. Disamping itu merekapun tidak mau beriman kepada Allah
karena tidak bisa diindra, begitu diajak oleh musyrikin lainnya untuk menyembah
berhala, walaupun tidak sesuai dengan akal mereka siap menerimanya karena Tuhan
yang mereka amksud dapat disaksikan secara lansung, surat Al A’raf 7;138
menjelaskannya; “Dan kami seberangkan Bani Israil ke seberang
lautan itu[562], Maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap
menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata: "Hai Musa. buatlah untuk
kami sebuah Tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa Tuhan
(berhala)". Musa menjawab: "Sesungguh-nya kamu Ini adalah kaum yang
tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)".
Ketiga, penyebab lain
seseorang syirik adalah mengikuti kehendak hawa nafsu tanpa mengacu kepada
sandaran wahyu, mereka telah menjadikan hawa nafsu sebagai Tuhan-Tuhan yang
harus diikuti kemauannya. Ukuran
kebenaran adalah hawa nafsu, bila nafsu mengatakan baik maka wajib
diikuti, padahal semuanya itu menyesatkan manusia; “Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang
diturunkan Allah". mereka menjawab: "(Tidak), tapi kami (hanya)
mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". dan apakah
mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka
ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?”[Luqman 31;21]
Segala tata
aturan yang dibuat manusia yang kita
kenal dengan moral, etika, tata susila dan adat kebanyakan terbentuknya didesak
oleh hawa nafsu yang sesuai dengan keinginan pembuat aturan, itulah makanya
segala moral, etika, tata susila dan adat banyak berbenturan dengan wahyu
Allah.
Keempat, penyebab syirik
juga bisa karena sombong, yaitu sikap hidup yang merasa lebih tinggi dan lebih
berharga dari orang lain sehingga tidak mau diatur oleh aturan yang diberi
Allah. Itulah makanya Abu Thalib, Abu Jahal dan tokoh-tokoh Quraisy lainnya
tidak mau masuk islam, bukan karena ajaran islam tidak baik dan benar menurut
mereka tapi karena kesombongan mereka, watak ini pula yang menjadikan Fir’aun,
Haman, Qarun dan Bal”am jauh dari ajaran tauhid yang dibawa Nabi Musa; “Dan Fir'aun berseru kepada kaumnya (seraya)
berkata: "Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir Ini kepunyaanku dan
(bukankah) sungai-sungai Ini mengalir di bawahku; Maka apakah kamu tidak
melihat(nya)? Bukankah Aku lebih baik dari orang yang hina Ini dan yang hampir
tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?”[Az Zukhruf 43;51-52]
Seseorang
bisa sombong karena memiliki kelebihan pada dirinya baik karena cantik/ganteng,
kaya, punya pangkat, pinter, banyak pengikut, banyak ibadah dan
kelebihan-kelebihan lain. Dari kesombongan itu puncaknya adalah penyepelekan
Allah dan menganggap semua kelebihan tersebut bukan karunia dari Allah tapi
hasil usaha pribadi.
Kelima, adanya para
penguasa yang menindas manusia dan tidak berhukum dengan yang diturunkan Allah,
hal ini terjadi pada penguasa tiran, yang memperbudak manusia sesuai dengan
agama dan pandangan hidupnya, contoh saja sebelum Ratu Bulqis bertemu dengan
Nabi Sulaiman, dia telah memerintahkan rakyatnya untuk menyembah berhala, atau
kisah Ashabul Kahfi yang dipaksa oleh raja Dicnatius untuk menyembah Tuhan
selain Alah, sehingga dia harus melarikan diri untuk menyelamatkan aqidahnya,
tapi masyarakat yang lain telah disesatkan dengan cara kejam.
Sujud kepada
berhala bukanlah satu-satunya syirik, apabila kita kembali kepada Al Qur’an
kita akan tahu bahwa sujud kepada berhala adalah salah satu dari sekian banyak
bentuk syirik, diantara bentuk-bentuk
syirik itu adalah
Pertama, mendekatkan
diri kepada selain Allah, yaitu
mendekatkan diri kepada suatu benda dengan berkeyakinan bahwa benda tersebut
dapat mendekatkan diri dipelakunya kepada Allah. Sebagaimana orang-orang
Quraisy tetap mengakui Allah sebagai Tuhan tapi untuk mendekatkan dirinya
kepada Allah, menurut mereka manusia tidak bisa secara lansung kepada Allah
karena manusia adalah makhluk yang lemah dan kotor maka harus pakai wasilah
atau perantara, maka dijadikanlah patung sebagai perantaranya [Az Zumar 39;3] ”Ingatlah, hanya kepunyaan
Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil
pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan
supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya."
Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka
berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang
pendusta dan sangat ingkar.”
Kedua, memohon
pertolongan atau syafaat selain kepada Allah juga termasuk sifat dan sikap
syirik sebagaimana yang dijelaskan dalam surat Yunus 10;18 “Dan mereka menyembah selain
daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan
tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "mereka itu adalah pemberi
syafa'at kepada kami di sisi Allah". Katakanlah: "Apakah kamu
mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak
(pula) dibumi?"Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka
mempersekutukan (itu)”
Ketiga, cinta dan wala’
[loyalitas] yang ditujukan bukan kepada Allah, Rasul dan orang-orang beriman
juga termasuk kategori syirik [5;55-57] apalagi cinta dan wala’ tadi
mengakibatkan penghambaan. Seorang mukmin tidak boleh memberikan cinta dan
wala’nya kepada Yahudi dan Nasrani [5;51], orang-orang kafir lainnya [9;23],
orang-orang yang menentang syariat allah [58;22], orang-orang yang mengejek
agama Allah [5;57]. Seorang mukmin tidak boleh mencintai sesuatu atau seseorang
melebihi cintanya kepada Allah, Rasul dan berjuang menegakkan agama Allah
[2;165, 9;24], bila hal ini terjadi berarti mereka telah menyekutukan Allah.”Katakanlah: "jika
bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta
kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan
tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan
Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah
mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
yang fasik.”
Keempat, termasuk syirik
adalah dalam ketaatan dan ikutan yang berkaitan dengan hukum dan undang-undang.
Mengikuti undang-undang selain yang diturunkan Allah telah menodai aqidah
tauhid [7;3]. Segala hukum yang dibuat manusia yang tidak bersumber dari
syari’at yang diturunkan Allah walaupun benar, maka pengikutnya telah
menjadikan hukum Allah sebagai pelecehan [2;170] atau memutar baikkan fakta
kebenaran, yang halal diharamkan dan sebaliknya [9;13]. ”Mengapakah kamu tidak memerangi orang-orang
yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemauannya untuk
mengusir Rasul dan merekalah yang pertama mulai memerangi kamu? Mengapakah kamu
takut kepada mereka padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu
benar-benar orang yang beriman.”
Kelima, riya’ yaitu
berbuat karena mengharapkan pujian manusia bukan mencari ridha Allah, kata
Rasulullah ini adalah syrik tapi dalam katagori syirik kecil, Allah berfirman
dalam surat Al Kahfi 18;110] “Katakanlah: Sesungguhnya Aku Ini manusia
biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan
kamu itu adalah Tuhan yang Esa". barangsiapa mengharap perjumpaan dengan
Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia
mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".
Riya’ yang
hinggap dalam hati manusia, walaupun dalam bentuk syirik kecil tapi dapat
merusak ibadah sehingga ibadahnya tidak bernilai disisi Allah kecuali letihnya
sujud dan rukuk dikala shalat, lapar dan haus yang terasa dikala puasa bahkan
jihadpun tidak mendapat balasan pahala dari Allah [Al Baiyinah 98;5]. ”Padahal mereka tidak disuruh
kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam
(menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan
menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”
Keenam, bertuhan lebih
dari satu sebagai tandingan Allah, bisa
terbuat dari bau, berupa berhala, harta, jabatan dan apa saja yang dijadikan
sebagai Ilah, selain menjadikan allah sebagai Tuhan juga mengakui keberadaan
Tuhan lain, baik sengaja maupun tanpa disadari; “ Allah berfirman: "Janganlah kamu menyembah dua tuhan;
Sesungguhnya dialah Tuhan yang Maha Esa, Maka hendaklah kepada-Ku saja kamu
takut".[An Nahl 16;51]
Ketujuh, menyembah Nabi
Isa dan Maryam sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang beragama
Nasrani dizaman kini, mereka lakukan ini karena kelahiran Nabi Isa memiliki
keistimewaan dibandingkan manusia lainnya “Dan
(Ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam, Adakah kamu
mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah Aku dan ibuku dua orang Tuhan
selain Allah?". Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut
bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). jika Aku pernah
mengatakan Maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan Aku
tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha
mengetahui perkara yang ghaib-ghaib".[Al Maidah 5;116]
Kedelapan, menyembah
matahari dan bulan, inilah dahulu hampir dilakukan oleh Nabi Ibrahim saat dia
mencari eksistensi Tuhan, rasa rindu dan ingin tahunya menjadikannya putus asa
hingga dia berkata,”Aku hadapkan wajahku kepada Pencipta langit dan bumi”
artinya terserahlah siapa Tuhan itu, tapi aku serahkan penyembahanku hanya
kepada-Nya, walaupun dia belum tahu
siapa Tuhan yang sebenarnya. Banyak orang yang keliru mencari Tuhan yang dia
sembah sebagaimana matahari dan bulan,“
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan.
janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah yang
menciptakannya, jika ialah yang kamu hendak sembah”[Fushshilat 41;37].
Kesembilan, banyak hal yang
dilakukan manusia dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan, namun karena
kurangnya ilmu, taqlid buta sehingga aktivitas yang nampaknya ibadah menjadikan
iman tauhidnya tercemar, yang nampaknya abadat tapi sebenarnya adat, dikira
sunnah padahal bid’ah
Konsekwensi iman seorang mukmin adalah menjadikan Allah satu-satunya yang disembah [53;62], menjadikan Allah yang ditaati segala aturan yang telah diwahyukan-Nya kepada hamba Allah yang mulia yaitu Muhammad saw [3;32] dan hanya mencintai Allah semata [9;24]. Bila tiga hal tersebut tidak sesuai dengan yang dikehendaki maka perlu adanya perbaikan iman, inilah yang disebut dengan tajdiidul iman, pembaharuan iman. Bila iman tauhid tercemar oleh syirik, ringan apalagi syirik yang tinggi yaitu mencari Tuhan lain selain Allah hingga riya’ dalam beribadah akan mendatangkan bahaya besar bagi ummat ini, bahaya syirik itu adalah;
Pertama,
memadamkan cahaya fithrah; kesucian manusia telah mengakui Allah sebagai Ilah
sejak dari alam ruh atau alam kandungan [7;172] sebagaimana sabda
Rasulullah,”Setiap bayi yang lahir dalam keadaan suci, maka orangtuanyalah yang
menjadikannya Yahudi, Majusi dan Nasrani”[HR. Bukhari] Bila syirik telah
menjalar pada diri manusia, fitrahnya tercemar oleh noda-noda yang dapat
merusak iman, bila shyirik telah mendarah daging walaupun fithrahnya tidak
menerimanya tapi diapun tidak mampu untuk menolaknya, apalagi lingkungan
kondusif untuk itu.
Kedua, mematikan
tuntutan jiwa yang suci, jiwa membutuhkan yang baik, suci dan tauhid, syirik
berarti mematikan jiwa yang suci dan menghambat tuntutan hati nurani manusia
[22;31]”dengan ikhlas
kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa
mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari
langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh”.
Ketiga, bahaya syirik
juga menghilangkan perasaan izzah/ harga diri, mereka yang melakukan perbuatan
ini tidak ada harga dirinya dihadapan Allah dan manusia, karena perbuatan ini
termasuk perbuatan penyelewengan aqidah; ‘Mereka
berkata: "Sesungguhnya jika kita Telah kembali ke Madinah[1478],
benar-benar orang yang Kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari
padanya." padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi rasul-Nya dan
bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada Mengetahui’[Al
Munafiqun 63;8].
Keempat, syirik dapat
menggugurkan amal shaleh sehingga segala kegiatan yang dilakukan walaupun
berujud ibadah maka disisi Allah tidak akan dihitung dan tidak pula
diperhitungkan, karena mereka telah mencemari pengabdian, tidak mengingkari
tauhid yang suci; “ Dan Sesungguhnya Telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi)
yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah
amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”[Az Zumar 39;65]
Kelima, Syirik termasuk
perbuatan zhalim yang besar sebab dia telah mengkhianati Allah swt,
mengkhianati manusia saja sudah dianggap buruk prilaku demikian apalagi
mengkhianati-Nya. Itulah makanya Luqman lebih dahulu membesihkan hati anaknya
dari perbuatan syirik sebelum memberikan tuntutan ibadah, dari sekian
kezhaliman maka syirik merupakan sebesar-besarnya kezhaliman; “Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada
anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah
kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah
benar-benar kezaliman yang besar".[Luqman 31;13]
Keenam, syirik yang
tergores dihati ummat berarti telah merusak keimanannya kepada Allah, kemurnian
iman dan ibadahnya tidak dapat dipertanggungjawabkan, bahkan perbuatan ini
tidak berampun, walaupun Allah mengampuni segala perbuatan dosa manusia dengan
izinnya bila bertaubat, dan ini merupakan hak preogratifnya, selain itu syirik
juga merupakan dosa besar; “ Sesungguhnya
Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang
selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang
mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.”[An Nisa
‘ 4;48]
Ketujuh, syirik yang
dilakukan seorang hamba juga berarti telah menyeretnya kepada kesesatan yang
jauh, lebih primitif dari pada orang-orang jahiliyah, seseorang bila tidak
berada dalam lingkungan dan lingkaran tauhid b erarti dia hadir dalam lingkaran syirik, dari sekian
kesesatan maka syirik merupakan kesesatan yang sangat jauh, sulit untuk
diberikan kesadaran , firman Allah dalams urat An Nisa’ 4;60 “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang
yang mengaku dirinya Telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan
kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada
thaghut, padahal mereka Telah diperintah mengingkari thaghut itu. dan syaitan
bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.”
Kedelapan, orang yang syirik
kepada Allah dengan berbagai bentuk dan caranya, diharamkan untuk masuk syurga,
tidak ada tempat disyurga bagi mereka yang telah mengingkari Alllah dengan
melakukan syirik, syurga itu untuk orang-orang yang bersih aqidahnya, tempat
yang syirik adalah neraka, Al Maidah 5;72 menjelaskan;“ Sesungguhnya Telah kafirlah orang-orang yang berkata:
"Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam", padahal Al masih
(sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan
Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah,
Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka,
tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.”
Demikian
besarnya bahaya bagi mereka yang menserikatkan Allah, baik di dunia sampai di
akherat Allah tidak simpati kepada mereka bahkan sia-sia hidupnya walaupun
amal-amal mereka nampak, syirik inipun salah satu perbuatan orang-orang kafir
sehingga keberadaan mereka sama saja dengan
orang-orang kafir, wallahu a’lam.[Cubadak Solok, 16 Ramadhan 1431.H/ 26
Agustus 2010]
Dari
Buku
ANDAI
AKU TAHU DOSA ITU ADA,
karya
Drs.St. Mukhlis Denros
PENERBIT FAM PUBLISHING
Jln. Mayor Bismo
No.22 Pare, Kediri, Jawa Timur
Info pemesanan
buku di FAM Publishing
Hubungi Aliya
Nurlela No.Hp. 0812 5982 1511
atau kunjungi www.famindonesia.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar