Minggu, 29 November 2015

55. Andai aku Tahu Jadi Komunis Berdosa



Manusia pertama yang diciptakan Allah adalah Adam As, keberadaannya ketika itu ditempatkan di syurga bersama pasangannya yaitu Siti Hawa, yang kemudian harus turun ke bumi untuk menjalankan tugas kekhalifahannya. Tidak benar kalau manusia berasal dari kera sebagaimana yang diungkapkan oleh Charles Darwin dengan teori evolusinya, Allah menegaskan tentang dijadikannya manusia pertama itu dalam surat Al Baqarah 2;30;“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

                Menurut Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar jilid I mengungkapkan bahwa Adam yang tercipta ini adalah Adam yang terakhir, sebelumnya sudah ada Adam-Adam lain yang diciptakan di dunia ini yang pekerjaan mereka sebagaimana yang diungkapkan oleh Malaikat, selalu membuat kerusakan dan menumpahkan darah, kekhawatiran malaikat itu dijawab oleh Allah bahwa Adam yang akan datang adalah Adam yang tidak sebagaimana dikhawatirkan malaikat itu.

            Teori evolusi yang disampaikan oleh Darwin menggiring orang untuk mempercayai bahwa manusia bukan diawali dari nenek moyangnya Adam tapi berasal dari binatang seperti kera, teori inilah yang menggiring pemikiran orang untuk tidak mempercayai adanya Adam dan mengingkari penciptaan Adam dari Allah Tuhan yang Maha Esa lagi Perkasa.Dari pemikiran ini pula yang mempengaruhi manusia untuk tidak percaya kepada Tuhan, menjadi Ateis dengan gerakannya yaitu Komunisme. Walaupun sebenarnya semakin maju berfikir manusia yang  akhirnya teori Darwin itu disanggah oleh teori lain dan ditentang oleh pemikir lain seperti Harun Yahya dalam beberapa tulisannya yang mengawali runtuhnya teori evolusi itu.
            Dalam buku yang berjudul Runtuhnya Teori Evolusi Dalam 20 Pertanyaan, pada pengantarnya dinyatakan;
Teori evolusi sudah berusia 150 tahun, dan juga telah berpengaruh besar pada pandangan hidup yang dianut masyarakat. Teori ini menyatakan sebuah dusta, yaitu bahwa manusia muncul ke dunia ini sebagai akibat faktor kebetulan, dan bahwa manusia adalah suatu “spesies binatang”. Lebih jauh lagi, teori ini mengajarkan bahwa satu-satunya hukum yang berlaku adalah usaha makhluk hidup, yang hanya mementingkan diri sendiri, untuk bertahan hidup. Pengaruh gagasan ini tampak di abad kesembilan belas dan kedua puluh: manusia semakin egois, akhlak masyarakat yang memburuk, semakin merebaknya sikap mementingkan diri sendiri, sikap tidak berperikemanusiaan, dan kekerasan, tumbuh berkembangnya ideologi berdarah dan diktator seperti fasisme dan komunisme, krisis individual dan sosial karena manusia semakin jauh dari akhlak agama, …

Berbagai akibat sosial yang disebabkan oleh teori evolusi telah dibahas dalam buku Harun Yahya lainnya. (Lihat karya Harun Yahya The Disasters Darwinism Brought to Humanity, Communism Lies in Ambush, The Black Magic of Darwinism,serta The Religion of Darwinism). Dalam buku-buku tersebut diungkapkan bahwa teori ini, yang disebut-sebut sebagai “ilmiah”, sebenarnya sama sekali tidak memiliki dasar ilmiah; bahwa teori tersebut hanyalah sebuah skenario yang terus dipaksakan walaupun dihadapkan kepada semua fakta yang berbicara sebaliknya; dan isi teori ini tak lain takhayul belaka.

Bagi mereka yang ingin memahami seperti apa sesungguhnya teori evolusi dan “pandangan hidup” Darwinisme, yang selama 150 tahun terakhir ini secara sistematis telah menyeret dunia ke jurang kekerasan, kebiadaban, kekejaman, dan pertikaian, sangat dianjurkan untuk membaca buku-buku tersebut.
Buku ini akan membahas ketidakabsahan teori evolusi pada tingkat umum. Di sini dikupas pernyataan evolusionis tentang beberapa hal, menggunakan beberapa pertanyaan yang sering diajukan orang, yang belum sepenuhnya dipahami. Jawaban yang tertera dalam buku ini secara ilmiah diperinci lebih jauh dalam buku lain karya penulis seperti The Evolution Deceit, dan Darwinism Refuted.

Dalam Bab I pertama, lebih jauh disampaikan ketidakilmiahan teori evolusi ini dengan argumentasi yang tepat sesuai penelitian yang didukung oleh ilmu dan ilmuwan lainnya.
Teori evolusi menyatakan bahwa makhluk hidup di muka bumi tercipta sebagai akibat dari peristiwa kebetulan dan muncul dengan sendirinya dari kondisi alamiah. Teori ini bukanlah hukum ilmiah maupun fakta yang sudah terbukti. Di balik topeng ilmiahnya, teori ini adalah pandangan hidup materialis yang dijejalkan ke dalam masyarakat oleh kaum Darwinis. Dasar-dasar teori ini – yang telah digugurkan oleh bukti-bukti ilmiah di segala bidang – adalah cara-cara mempengaruhi dan propaganda, yang terdiri atas tipuan, kepalsuan, kontradiksi, kecurangan, dan ilusi permainan sulap.

Teori evolusi diajukan sebagai hipotesa rekaan di tengah konteks pemahaman ilmiah abad kesembilan belas yang masih terbelakang, yang hingga hari ini belum pernah didukung oleh percobaan atau penemuan ilmiah apa pun. Sebaliknya, semua metode yang bertujuan membuktikan keabsahan teori ini justru berakhir dengan pembuktian ketidakabsahannya.

Namun, bahkan sekarang, masih banyak orang beranggapan bahwa evolusi adalah fakta yang sudah terbukti kebenarannya – layaknya gaya tarik bumi atau hukum benda terapung. Sebab, seperti telah dinyatakan di muka, teori evolusi sesungguhnya sangatlah berbeda dari yang diterima masyarakat selama ini. Oleh sebab itu, pada umumnya orang tidak tahu betapa buruknya landasan berpijak teori ini; betapa teori ini sudah digagalkan oleh bukti ilmiah pada setiap langkahnya; dan betapa para evolusionis terus berupaya menghidupkan teori evolusi, walaupun teori ini sudah “menghadapi ajalnya”. Para evolusionis hanya mengandalkan hipotesa yang tak terbukti, pengamatan yang penuh prasangka dan tak sesuai kenyataan, gambar-gambar khayal, cara-cara yang mampu mempengaruhi kejiwaan, dusta yang tak terhitung jumlahnya, serta teknik-teknik sulap.

Kini, berbagai cabang ilmu pengetahuan seperti paleontologi (cabang geologi yang mengkaji kehidupan pra-sejarah melalui fosil – penerj.), genetika, biokimia dan biologi molekuler telah membuktikan bahwa tak mungkin makhluk hidup tercipta akibat kebetulan atau muncul dengan sendirinya dari kondisi alamiah. Sel hidup, demikian dunia ilmiah sepakat, adalah struktur paling kompleks yang pernah ditemukan manusia. Ilmu pengetahuan modern mengungkapkan bahwa satu sel hidup saja memiliki struktur dan berbagai sistem rumit dan saling terkait, yang jauh lebih kompleks daripada sebuah kota besar. Struktur kompleks seperti ini hanya dapat berfungsi apabila masing-masing bagian penyusunnya muncul secara bersamaan dan dalam keadaan sudah berfungsi sepenuhnya. Jika tidak, struktur tersebut tidak akan berguna, dan semakin lama akan rusak dan musnah. Tak mungkin semua bagian penyusun sel itu berkembang secara kebetulan dalam jutaan tahun, seperti pernyataan teori evolusi. Oleh sebab itulah, rancangan yang begitu kompleks dari sebuah sel saja, sudah jelas-jelas menunjukkan bahwa Tuhan-lah yang menciptakan makhluk hidup. (Keterangan lebih rinci dapat dibaca dalam buku Harun Yahya, Miracle in the Cell).
Berangkat dari teori Darwin itulah muncul  pemikiran-pemikiran berikutnya yang melahirkan faham anti Tuhan seperti  Komunisme, semua gerakannya berupaya untuk membebaskan manusia dari kepercayaan kepada Tuhan, manusia bebas untuk menganut agama apa saja dan bebas pula tidak beragama, bahkan gerakan ini memerangi orang yang beragama dimanapun mereka berada, kekuasaan berada diatas segalanya, kekuasaan itulah yang menjadikan mereka leluasa untuk menghantam rakyat dengan kesengsaraan dan penderitaan, tidak satupun negara yang menganut idiologi komunis mereguk kemakmuran.

Kebebasan beragama artinya orang bebas untuk beragama bahkan juga bebas untuk tidak beragama yaitu atheis, karena agama dianggap tidak penting, menurut faham ini yang mementingkan agama itu adalah manusia sendiri, kalau manusia menyatakan agama penting maka pentinglah dia dan sebaliknya. Usaha untuk menjadikan agama sesuatu yang tidak penting maka dibuatlah suatu konspirasi dengan menampilkan beberapa faham dan aliran, yang seolah-olah ilmiyah seperti Liberalisme, Pluralisme, Kapitalisme, Komunisme, Hedonisme dan berbagai faham lainnya, yang intinya menjauhkan manusia dari agama sehingga mengingkari tuhan.

Skenario lain dibuat dengan menampilkan tokoh-tokoh agama yang seharusnya mereka hidup dalam kondisi harmonis, tenang, santun dan berperangai baik di tengah-tengah masyarakat tapi nyatanya sang tokoh agama tadi membuat perbuatan yang nista menodai agamanya sehingga membuat penganut atau ummatnya kecewa dan prustasi hingga meninggalkan agamanya itu sebagaimana yang dialami oleh Karl Marx.
Seorang pendiri paham Komunis bernama Karl Marx, ayahnya seorang Yahudi yang kaya, pada usia  6 tahun semua keluarganya pindah agama kepada Kristen Protestan, perpindahan agama ini yang mempengaruhi jiwanya pertama kali, lalu dia melihat ketidakbenaran ajaran Protestan yaitu konsep ”satu Tuhan sama dengan tiga Tuhan”, disamping buku yang dibacanya banyak mengkritik gereja, dikatakan Protestan adalah agama orang kaya yang menindas simiskin, gerejapun tidak segan-segan membunuh orang yang ingkar kepadanya sebagaimana Galileo Galilei yang mengatakan kalau bumi ini bulat, sedangkan faham gereja mengatakan bumi ini datar. Inilah yang membuat Karl Marx  membenci semua agama, sayang sekali dia tidak mempelajari islam sehingga dia menyamakan semua agama.[Mukhlis Denros, Remaja dihadapkan berbagai persoalan,  Harian Semangat Padang, 01121999].

Kita sebagai bangsa yang pernah direcoki oleh Komunis punya pengalaman berharga bagaimana mereka memerangi rakyat yang beragama, menghancurkan tatana masyarakat beragama dengan ajaran sesat, gerakan itu bernama PKI, Partai Kemunis Indonesia, banyak rakyat yang tidak berdosa terlibat didalamnya, tidak sedikit pula ulama yang berkiprah didalamnya karena dibohongi bahwa PKI itu Partai Kiyai Indonesia.
Satu contoh bagaimana Komunis berkuasa di China dibawah kekuasaan Mao Zhe Dung yang menimbulkan kerusakan dan kehancuran rakyatnya hingga berpuluh-puluh tahun.
Sejak kecil jiwa memberontaknya sudah terlihat. Demi mengejar pendidikan setinggi-tingginya ia rela meninggalkan keluarganya, juga ladangnya. Di usia muda ia sudah terlibat dalam Revolusi Xinhai, sebuah revolusi melawan Dinasti Qing. Aksi rakyat itu berhasil meruntuhkan kekaisaran Cina yang telah berusia lebih dari 2000 tahun.

Ketika Republik Cina diproklamirkan oleh Sun Yat Sen tahun 1912, Mao Zedong melanjutkan sekolah dan tenggelam dalam dunia Marx.Ide-ide tokoh sosialisme macam Karl Marx, Friedrich Engels, Lenin dan Stalin menjadi menu sehari-harinya.Tanpa berlepas diri dari ajaran para “gurunya”, ia menciptakan pijakan sosialismenya sendiri, yang kemudian lebih dikenal lewat PKT (Partai Komunis Cina). Selanjutnya, ia menjadi salah seorang filsuf Cina berpengaruh besar di abad 20.

Bagi Mao yang terpenting adalah konflik. Menurutnya, konflik itu bersifat semesta dan  absolut: kelas penindas melawan tertindas, pemodal musuh buruh. Mao juga percaya bahwa setiap revolusi pasti menghasilkan kontra-revolusi. Oleh sebab itu, ia tak segan-segan memberantas dan menangkapi lawan-lawan politiknya, juga mereka yang kontra-revolusi. “Jika kau ingin tahu bagaimana rasa buah jambu, maka kau harus memakannya,” ujarnya suatu ketika.

Dan hari ini, dunia modern abad milenium masih bisa menyaksikan warisan Mao di Xinjiang.Selama bertahun-tahun etnis Uighur yang Muslim menjadi pihak “lawan” dalam pusaran konflik.Mereka ditekan, ditindas, ditangkap paksa dan dibinasakan demi sebuah “kekekalan”.

Aksi unjuk rasa warga Uighur di Minggu pertama bulan ini berubah menjadi ladang pembantaian.Protes warga yang masif dibalas dengan kekerasan oleh aparat keamanan.Hu Jintao, salah seorang pewaris Mao, tak mau kalah dengan leluhurnya. Ia sengaja mempersingkat kunjungannya pada KTT G8 di Italia guna “membereskan” Xinjiang.

Hasilnya, dalam kurang dari dua pekan, korban jiwa dalam kerusuhan tersebut –versi pemerintah– mencapai 200 orang.Lebih dari 1.000 orang luka-luka dan sekitar 1.400 orang ditahan.Data yang lebih mencengangkan dilansir kelompok Uighur di pengasingan, bahwa korban jiwa mencapai 800 orang.
Untuk waktu yang lama, para pewaris Mao akan tetap memegang teguh “petuahnya”, bahwa etnis Uighur di Xinjiang tak ubahnya buah jambu. Memakannya sama dengan merasakannya. Dengan demikian, universalitas dan absolutisme konflik tetap terjaga.[Mao ,Republika.co.id.Selasa, 21 Juli 2009 09:10].

Sebenarnya upaya untuk menyingkirkan Tuhan dalam diri manusia sudah ada sejak dahulu, pengingkaran terhadap nikmat yang diberikan-Nya sudah ada sejak duni ini terkembang, Komunisme atau faham apapun intinya menjadikan manusia untuk menginngkari adanya Tuhan sehingga manusia bebas berbuat apasaja, sejarahpun telah menampakkan kepada ummat ini bagaimana kejadiannya orang-orang terdahulu yang mengingkari Tuhan walaupun mereka dahulu tidak menyebut diri sebagai Komunis atau Ateis.

Ustadz Mashadi mengungkapkan dalam tulisannya tentang kehancuran kaum terdahulu karena kedurhakaan mereka, yang seharusnya hal itu menjadi pelajaran manusia setelahnya;

Al-Qur’an adalah minhaj Rabbani yang diberikan kepada Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam untuk seluruh umat manusia, dan mengikuti agama (din) Allah, yang akan menyelamatkan kehidupan mereka di dunia di akhirat. Minhaj Rabbani ini bersifat mutlak (final), dan akan berlaku sepanjang zaman (sepanjang kehidupan manusia). Meskipun, banyak diantara umat manusia yang menolak dan menentangnya. (QS. Al-A’raf : 2, 3).

Tetapi seperti digambarkan dalam Al-Qur’an yang menceritakan tidak semua umat menerima Al-Qur’an yang merupakan petunjuk (hudan), dan jalan lurus (shirat) yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Manusia ada yang hati tertutup (kufur), tidak menerima risalah Allah Azza wa Jalla, dan menolaknya dengan terang-terangan. Mereka yang menolak risalah Allah itu, mereka yang yang mengikuti hawa nafsunya sebagai jalan hidupnya.Ketika menolak din (agama) Allah, mereka binasa. Di negeri-negeri yang umatnya terang-terangan menolak din Allah dihancurkan. Bahkan bukan hanya dihancurkan mereka itu, tetapi mendapatkan siska yang amat dahsyat dari Allah Rabbul Alamin, akibat perbuatan mereka yang zalim. (QS. Al-A’raf : 4, 5)

Tentu, yang pertama dilaknat oleh Allah Ta’ala, tak lain, adalah Iblis, yang membangkang, karena sifatnya yang sombong. Kesombongan Iblis itu, tak lain karena merasa dirirnya lebih mulia dibanding dengan Adam As, karena Iblis diciptakan dari api, sedangkan Adam As dari tanah. Jadi kekafiran lahir, dapat pula dari adanya asal usul.Inilah yang banyak terjadi sekarang ini, di mana manusia juga mengikuti jejak Iblis, yang mengagungkan asal-usul (keturunan), bukan yang menjadi ukuran keimanan dan ketakwaannya.Maka, Iblis diusir dari surga oleh Allah, karena sikapnya yang sombong dan ingkar itu. (QS. Al-A’raf : 12,13)

Makhluk yang diciptakan oleh Allah, yang terkena perintah harus meninggalkan surga, adalah Adam As, yang terkena bujukan dan kemudian memakan buah yang dilarang oleh Allah, yaitu buah kuldi. Adam As, lalai atas larangan itu, dan terbujuk dengan bisikan Iblis, dan kemudian melanggar perintah Allh. Adam As, merupakan makhluk pertama yang diciptakan yang melanggar perintah Allah, karena terkena fitnah Iblis, dan kemudian diusir dari surga. (QS. Al-A’raf : 20, 22).

Selanjutnya, kisah Nabi Nuh As, mengaja umat untuk beriman, tetapi ajakannya ditentang dengan keras, bahkan beliau dituduh sesat oleh para pemimpin kaumnyaitu. Dakwah yang dilangsungkan Nabi Nuh As, yang berlangsung selama hampir 90 tahun, gagal, dan terus mendapatkan penolakan dari kaumnya, sampailah datang datang azab dari berupa datangnya air bah (tsunami), yang menghancurkan seluruh kaumnya. (QS. Al-A’raf : 59, 60, 64).

Kaum Nabi Hud As, yang dikenal dengan kaum ‘Ad, yang juga menolak untuk beriman kepada Allah. Mereka menola ajakan Nabi Hud As, yang diutus menyampaikan risalah dari Allah Ta’ala, yang kemudian ditolak oleh para pemimpin kaumnya itu. Nabi Hud As jug dituduh kurang waras (gila), dan terus menola ajakan Nabi Hud, meskipun beliau mengatakan tentang risalah Allah Ta’ala itu, tetapi kaum tetap menolaknya, dan kemudian dihancurkan seluruhnya sampai ke akar-akarnya dengan kejadian yang dahsyat, datangnya angin topan. Mula-mula kekeringan yang panjang yang mematikan seluruh tanaman mereka, kemudian datang awan hitam yang menggumpal diatas awan, yang dikiran akan datangnya huja, ternyata topan. (QS. Al-A’raf : 65, 66, 71).

Kisah berikutnya, kaumnya Nabi Saleh As, yaitu kaum Samud, yang menyembah agama Allah, dan dilarang menyakiti unta betina, tetapi perintah dan larangan itu, semuanya dilanggar oleh kaumnya Nabi Saleh As, yang dihancurkan dengan gempa bumi dahsyat, sehingga kaum Samud luluh lantak.

Kisah Nabi Luth As, yang kaumnya melakukan perbuatan terkutuk dengan melakukan sodomi (liwat). Ketika Nabi Luth As, melarang perbuatan keji itu, mereka tidak menggubrisnya, dan mengusirnya Nabi Luth dan para pengikutnya yang beriman, dan kaumnya Nabi Luth dihancurkan oleh Allah Ta’ala dengan hujan batu karena perbuatan dosa mereka. (QS. Al-A’raf : 80, 81, 84).

Masih dalam kisah, tentang Nabi Syu’aib As, yang menyuruh kaumnya ta’at kepada Allah, dan tidak berlaku curang dengan cara mengurangi timbangan, tetapi kaumnya itu tetap sombong, dan tidak mau mengikuti syariah yang diperintahkan Allah kepada mereka. Tetapi, lagi-lagi kaumnya Nabi Syu’aib bersama denga para pemukanya, mengusir Nabi Syu’aib, kecuali Nabi Syu’aib mau kembali ke agama mereka yang sesat itu, dan Allah menurunkan adab terhadap mereka berupa gempa yang amat dahsyat, yang memusnahkan kaumnya Nabi Syu’aib. (QS. Al-A’raf : 85, 88, 90, 91).

Terakhir, kaumnya Nabi Musa As, yang telah diselamatkan dari kehancuran, akibat selalu ingkar dan berbuat zalim.Kaumnya Nabi Musa As ini diselamatkan dari kekejaman Fir’aun, dan mereka selamat dari bahaya kehancuran, tetapi mereka tetap tidak mau beriman, dan selalu berbuat kekafiran, seperti membuat patung sapi, yang kemudian mereka sembah.Inilah kisah antara Nabi Musa As, kaumnya, dan Fir’aun, yang dimenangkan oleh Nabi Musa As, dan kaumnya.Tetapi lagi-lagi mereka ingkar dan kafir, dan menolak untuk beriman kepada Allah.Mereka tetap menyembah berhala. (QS. Al-A’raf : 150, 155, 162, 167).

Dan, seburuk-buruknya kaum adalah kaum Yahudi, yang terus-menerus berbuat dzalim, dan menolak kebenaran, dan ingkar dengan seingkar-ingkarnya kepada risalah Allah.[Mashadi, Belajarlah Dari Kehancuran Kaum Terdahulu, eramuslim.com.Senin, 16/08/2010 14:02 WIB].

Sepanjang perjalanan Komunis di dunia ini, lihatlah bagaimana kehancuran tokoh-tokohnya akibat dari keingkaran kepada Allah dan kezhaliman mereka terhadap rakyatnya, bagaimana buruknya akhir kehidupan yang dirasakan oleh Karl Mark, Stalin dan Mao Zhe Dung yang memperjuangkan idiologi Komunisme, semuanya berawal dari teori evolusinya Darwin,wallahu a’lam [Dukuh Pinggir, Tanah Abang, Jakarta, 19 Agustus 2011.M/ 19 Ramadhan 1432.H].



Tidak ada komentar:

Posting Komentar