Manusia
pertama yang diciptakan Allah adalah Adam As, keberadaannya ketika itu
ditempatkan di syurga bersama pasangannya yaitu Siti Hawa, yang kemudian harus
turun ke bumi untuk menjalankan tugas kekhalifahannya. Tidak benar kalau
manusia berasal dari kera sebagaimana yang diungkapkan oleh Charles Darwin
dengan teori evolusinya, Allah menegaskan tentang dijadikannya manusia pertama
itu dalam surat Al Baqarah 2;30;“Ingatlah
ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa
Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat
kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih
dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman:
"Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Menurut
Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar jilid I mengungkapkan bahwa Adam yang tercipta
ini adalah Adam yang terakhir, sebelumnya sudah ada Adam-Adam lain yang
diciptakan di dunia ini yang pekerjaan mereka sebagaimana yang diungkapkan oleh
Malaikat, selalu membuat kerusakan dan menumpahkan darah, kekhawatiran malaikat
itu dijawab oleh Allah bahwa Adam yang akan datang adalah Adam yang tidak
sebagaimana dikhawatirkan malaikat itu.
Teori
evolusi yang disampaikan oleh Darwin menggiring orang untuk mempercayai bahwa
manusia bukan diawali dari nenek moyangnya Adam tapi berasal dari binatang
seperti kera, teori inilah yang menggiring pemikiran orang untuk tidak
mempercayai adanya Adam dan mengingkari penciptaan Adam dari Allah Tuhan yang
Maha Esa lagi Perkasa.Dari pemikiran ini pula yang mempengaruhi manusia untuk
tidak percaya kepada Tuhan, menjadi Ateis dengan gerakannya yaitu Komunisme.
Walaupun sebenarnya semakin maju berfikir manusia yang akhirnya teori Darwin itu disanggah oleh
teori lain dan ditentang oleh pemikir lain seperti Harun Yahya dalam beberapa
tulisannya yang mengawali runtuhnya teori evolusi itu.
Teori evolusi sudah berusia
150 tahun, dan juga telah berpengaruh besar pada pandangan hidup yang dianut
masyarakat. Teori ini menyatakan sebuah dusta, yaitu bahwa manusia muncul ke
dunia ini sebagai akibat faktor kebetulan, dan bahwa manusia adalah suatu
“spesies binatang”. Lebih jauh lagi, teori ini mengajarkan bahwa satu-satunya
hukum yang berlaku adalah usaha makhluk hidup, yang hanya mementingkan diri
sendiri, untuk bertahan hidup. Pengaruh gagasan ini tampak di abad kesembilan
belas dan kedua puluh: manusia semakin egois, akhlak masyarakat yang memburuk,
semakin merebaknya sikap mementingkan diri sendiri, sikap tidak
berperikemanusiaan, dan kekerasan, tumbuh berkembangnya ideologi berdarah dan
diktator seperti fasisme dan komunisme, krisis individual dan sosial karena
manusia semakin jauh dari akhlak agama, …
Berbagai akibat sosial yang
disebabkan oleh teori evolusi telah dibahas dalam buku Harun Yahya lainnya. (Lihat
karya Harun Yahya The Disasters Darwinism Brought to Humanity,
Communism Lies in Ambush, The Black Magic of Darwinism,serta The
Religion of Darwinism). Dalam buku-buku tersebut diungkapkan bahwa teori
ini, yang disebut-sebut sebagai “ilmiah”, sebenarnya sama sekali tidak memiliki
dasar ilmiah; bahwa teori tersebut hanyalah sebuah skenario yang terus
dipaksakan walaupun dihadapkan kepada semua fakta yang berbicara sebaliknya;
dan isi teori ini tak lain takhayul belaka.
Bagi mereka yang ingin memahami seperti apa sesungguhnya teori evolusi
dan “pandangan hidup” Darwinisme, yang selama 150 tahun terakhir ini secara
sistematis telah menyeret dunia ke jurang kekerasan, kebiadaban, kekejaman, dan
pertikaian, sangat dianjurkan untuk membaca buku-buku tersebut.
Buku ini akan membahas ketidakabsahan teori evolusi pada tingkat umum.
Di sini dikupas pernyataan evolusionis tentang beberapa hal, menggunakan
beberapa pertanyaan yang sering diajukan orang, yang belum sepenuhnya dipahami.
Jawaban yang tertera dalam buku ini secara ilmiah diperinci lebih jauh dalam
buku lain karya penulis seperti The Evolution Deceit, dan Darwinism
Refuted.
Dalam Bab I pertama, lebih jauh disampaikan ketidakilmiahan teori
evolusi ini dengan argumentasi yang tepat sesuai penelitian yang didukung oleh
ilmu dan ilmuwan lainnya.
Teori evolusi menyatakan
bahwa makhluk hidup di muka bumi tercipta sebagai akibat dari peristiwa
kebetulan dan muncul dengan sendirinya dari kondisi alamiah. Teori ini bukanlah
hukum ilmiah maupun fakta yang sudah terbukti. Di balik topeng ilmiahnya, teori
ini adalah pandangan hidup materialis yang dijejalkan ke dalam masyarakat oleh
kaum Darwinis. Dasar-dasar teori ini – yang telah digugurkan oleh bukti-bukti
ilmiah di segala bidang – adalah cara-cara mempengaruhi dan propaganda, yang
terdiri atas tipuan, kepalsuan, kontradiksi, kecurangan, dan ilusi permainan
sulap.
Teori evolusi diajukan
sebagai hipotesa rekaan di tengah konteks pemahaman ilmiah abad kesembilan
belas yang masih terbelakang, yang hingga hari ini belum pernah didukung oleh
percobaan atau penemuan ilmiah apa pun. Sebaliknya, semua metode yang bertujuan
membuktikan keabsahan teori ini justru berakhir dengan pembuktian
ketidakabsahannya.
Namun, bahkan sekarang, masih
banyak orang beranggapan bahwa evolusi adalah fakta yang sudah terbukti
kebenarannya – layaknya gaya tarik bumi atau hukum benda terapung. Sebab,
seperti telah dinyatakan di muka, teori evolusi sesungguhnya sangatlah berbeda
dari yang diterima masyarakat selama ini. Oleh sebab itu, pada umumnya orang tidak
tahu betapa buruknya landasan berpijak teori ini; betapa teori ini sudah
digagalkan oleh bukti ilmiah pada setiap langkahnya; dan betapa para
evolusionis terus berupaya menghidupkan teori evolusi, walaupun teori ini sudah
“menghadapi ajalnya”. Para evolusionis hanya mengandalkan hipotesa yang tak
terbukti, pengamatan yang penuh prasangka dan tak sesuai kenyataan,
gambar-gambar khayal, cara-cara yang mampu mempengaruhi kejiwaan, dusta yang
tak terhitung jumlahnya, serta teknik-teknik sulap.
Kini, berbagai cabang ilmu
pengetahuan seperti paleontologi (cabang geologi yang mengkaji kehidupan
pra-sejarah melalui fosil – penerj.), genetika, biokimia dan biologi molekuler
telah membuktikan bahwa tak mungkin makhluk hidup tercipta akibat kebetulan
atau muncul dengan sendirinya dari kondisi alamiah. Sel hidup, demikian dunia
ilmiah sepakat, adalah struktur paling kompleks yang pernah ditemukan manusia.
Ilmu pengetahuan modern mengungkapkan bahwa satu sel hidup saja memiliki
struktur dan berbagai sistem rumit dan saling terkait, yang jauh lebih kompleks
daripada sebuah kota besar. Struktur kompleks seperti ini hanya dapat berfungsi
apabila masing-masing bagian penyusunnya muncul secara bersamaan dan dalam
keadaan sudah berfungsi sepenuhnya. Jika tidak, struktur tersebut tidak akan berguna, dan semakin lama akan
rusak dan musnah. Tak mungkin semua bagian penyusun sel itu berkembang secara
kebetulan dalam jutaan tahun, seperti pernyataan teori evolusi. Oleh sebab
itulah, rancangan yang begitu kompleks dari sebuah sel saja, sudah jelas-jelas
menunjukkan bahwa Tuhan-lah yang menciptakan makhluk hidup. (Keterangan lebih
rinci dapat dibaca dalam buku Harun Yahya, Miracle in the Cell).
Berangkat dari teori Darwin
itulah muncul pemikiran-pemikiran
berikutnya yang melahirkan faham anti Tuhan seperti Komunisme, semua gerakannya berupaya untuk
membebaskan manusia dari kepercayaan kepada Tuhan, manusia bebas untuk menganut
agama apa saja dan bebas pula tidak beragama, bahkan gerakan ini memerangi
orang yang beragama dimanapun mereka berada, kekuasaan berada diatas segalanya,
kekuasaan itulah yang menjadikan mereka leluasa untuk menghantam rakyat dengan
kesengsaraan dan penderitaan, tidak satupun negara yang menganut idiologi
komunis mereguk kemakmuran.
Kebebasan beragama artinya orang bebas untuk
beragama bahkan juga bebas untuk tidak beragama yaitu atheis, karena agama
dianggap tidak penting, menurut faham ini yang mementingkan agama itu adalah
manusia sendiri, kalau manusia menyatakan agama penting maka pentinglah dia dan
sebaliknya. Usaha untuk menjadikan agama sesuatu yang tidak penting maka
dibuatlah suatu konspirasi dengan menampilkan beberapa faham dan aliran, yang
seolah-olah ilmiyah seperti Liberalisme, Pluralisme, Kapitalisme, Komunisme,
Hedonisme dan berbagai faham lainnya, yang intinya menjauhkan manusia dari
agama sehingga mengingkari tuhan.
Skenario lain dibuat dengan menampilkan
tokoh-tokoh agama yang seharusnya mereka hidup dalam kondisi harmonis, tenang,
santun dan berperangai baik di tengah-tengah masyarakat tapi nyatanya sang
tokoh agama tadi membuat perbuatan yang nista menodai agamanya sehingga membuat
penganut atau ummatnya kecewa dan prustasi hingga meninggalkan agamanya itu
sebagaimana yang dialami oleh Karl Marx.
Seorang pendiri paham Komunis bernama Karl Marx,
ayahnya seorang Yahudi yang kaya, pada usia
6 tahun semua keluarganya pindah agama kepada Kristen Protestan,
perpindahan agama ini yang mempengaruhi jiwanya pertama kali, lalu dia melihat
ketidakbenaran ajaran Protestan yaitu konsep ”satu Tuhan sama dengan tiga Tuhan”, disamping buku yang dibacanya
banyak mengkritik gereja, dikatakan Protestan adalah agama orang kaya yang
menindas simiskin, gerejapun tidak segan-segan membunuh orang yang ingkar
kepadanya sebagaimana Galileo Galilei yang mengatakan kalau bumi ini bulat,
sedangkan faham gereja mengatakan bumi ini datar. Inilah yang membuat Karl
Marx membenci semua agama, sayang sekali
dia tidak mempelajari islam sehingga dia menyamakan semua agama.[Mukhlis
Denros, Remaja dihadapkan berbagai persoalan,
Harian Semangat Padang, 01121999].
Kita sebagai bangsa yang pernah direcoki oleh
Komunis punya pengalaman berharga bagaimana mereka memerangi rakyat yang
beragama, menghancurkan tatana masyarakat beragama dengan ajaran sesat, gerakan
itu bernama PKI, Partai Kemunis Indonesia, banyak rakyat yang tidak berdosa
terlibat didalamnya, tidak sedikit pula ulama yang berkiprah didalamnya karena
dibohongi bahwa PKI itu Partai Kiyai Indonesia.
Satu contoh bagaimana Komunis berkuasa di China
dibawah kekuasaan Mao Zhe Dung yang menimbulkan kerusakan dan kehancuran
rakyatnya hingga berpuluh-puluh tahun.
Sejak kecil
jiwa memberontaknya sudah terlihat. Demi mengejar pendidikan setinggi-tingginya
ia rela meninggalkan keluarganya, juga ladangnya. Di usia muda ia sudah terlibat
dalam Revolusi Xinhai, sebuah revolusi melawan Dinasti Qing. Aksi rakyat itu
berhasil meruntuhkan kekaisaran Cina yang telah berusia lebih dari 2000 tahun.
Ketika Republik Cina diproklamirkan oleh Sun Yat Sen tahun 1912, Mao Zedong melanjutkan sekolah dan tenggelam dalam dunia Marx.Ide-ide tokoh sosialisme macam Karl Marx, Friedrich Engels, Lenin dan Stalin menjadi menu sehari-harinya.Tanpa berlepas diri dari ajaran para “gurunya”, ia menciptakan pijakan sosialismenya sendiri, yang kemudian lebih dikenal lewat PKT (Partai Komunis Cina). Selanjutnya, ia menjadi salah seorang filsuf Cina berpengaruh besar di abad 20.
Ketika Republik Cina diproklamirkan oleh Sun Yat Sen tahun 1912, Mao Zedong melanjutkan sekolah dan tenggelam dalam dunia Marx.Ide-ide tokoh sosialisme macam Karl Marx, Friedrich Engels, Lenin dan Stalin menjadi menu sehari-harinya.Tanpa berlepas diri dari ajaran para “gurunya”, ia menciptakan pijakan sosialismenya sendiri, yang kemudian lebih dikenal lewat PKT (Partai Komunis Cina). Selanjutnya, ia menjadi salah seorang filsuf Cina berpengaruh besar di abad 20.
Bagi Mao yang
terpenting adalah konflik. Menurutnya, konflik itu bersifat semesta dan
absolut: kelas penindas melawan tertindas, pemodal musuh buruh. Mao juga
percaya bahwa setiap revolusi pasti menghasilkan kontra-revolusi. Oleh sebab
itu, ia tak segan-segan memberantas dan menangkapi lawan-lawan politiknya, juga
mereka yang kontra-revolusi. “Jika kau ingin tahu bagaimana rasa buah jambu,
maka kau harus memakannya,” ujarnya suatu ketika.
Dan hari ini,
dunia modern abad milenium masih bisa menyaksikan warisan Mao di
Xinjiang.Selama bertahun-tahun etnis Uighur yang Muslim menjadi pihak “lawan”
dalam pusaran konflik.Mereka ditekan, ditindas, ditangkap paksa dan dibinasakan
demi sebuah “kekekalan”.
Aksi unjuk
rasa warga Uighur di Minggu pertama bulan ini berubah menjadi ladang
pembantaian.Protes warga yang masif dibalas dengan kekerasan oleh aparat
keamanan.Hu Jintao, salah seorang pewaris Mao, tak mau kalah dengan leluhurnya.
Ia sengaja mempersingkat kunjungannya pada KTT G8 di Italia guna “membereskan”
Xinjiang.
Hasilnya, dalam kurang dari dua pekan, korban jiwa dalam kerusuhan tersebut –versi pemerintah– mencapai 200 orang.Lebih dari 1.000 orang luka-luka dan sekitar 1.400 orang ditahan.Data yang lebih mencengangkan dilansir kelompok Uighur di pengasingan, bahwa korban jiwa mencapai 800 orang.
Hasilnya, dalam kurang dari dua pekan, korban jiwa dalam kerusuhan tersebut –versi pemerintah– mencapai 200 orang.Lebih dari 1.000 orang luka-luka dan sekitar 1.400 orang ditahan.Data yang lebih mencengangkan dilansir kelompok Uighur di pengasingan, bahwa korban jiwa mencapai 800 orang.
Untuk waktu
yang lama, para pewaris Mao akan tetap memegang teguh “petuahnya”, bahwa etnis
Uighur di Xinjiang tak ubahnya buah jambu. Memakannya sama dengan merasakannya.
Dengan demikian, universalitas dan absolutisme konflik tetap terjaga.[Mao ,Republika.co.id.Selasa, 21 Juli 2009 09:10].
Sebenarnya upaya untuk menyingkirkan Tuhan dalam diri manusia
sudah ada sejak dahulu, pengingkaran terhadap nikmat yang diberikan-Nya sudah
ada sejak duni ini terkembang, Komunisme atau faham apapun intinya menjadikan
manusia untuk menginngkari adanya Tuhan sehingga manusia bebas berbuat apasaja,
sejarahpun telah menampakkan kepada ummat ini bagaimana kejadiannya orang-orang
terdahulu yang mengingkari Tuhan walaupun mereka dahulu tidak menyebut diri
sebagai Komunis atau Ateis.
Ustadz Mashadi mengungkapkan dalam tulisannya
tentang kehancuran kaum terdahulu karena kedurhakaan mereka, yang seharusnya
hal itu menjadi pelajaran manusia setelahnya;
Al-Qur’an adalah minhaj
Rabbani yang diberikan kepada Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam untuk
seluruh umat manusia, dan mengikuti agama (din) Allah, yang akan menyelamatkan
kehidupan mereka di dunia di akhirat. Minhaj Rabbani ini bersifat mutlak
(final), dan akan berlaku sepanjang zaman (sepanjang kehidupan manusia). Meskipun,
banyak diantara umat manusia yang menolak dan menentangnya. (QS. Al-A’raf : 2,
3).
Tetapi seperti digambarkan
dalam Al-Qur’an yang menceritakan tidak semua umat menerima Al-Qur’an yang
merupakan petunjuk (hudan), dan jalan lurus (shirat) yang diberikan oleh Allah
kepada manusia. Manusia ada yang hati tertutup (kufur), tidak menerima risalah
Allah Azza wa Jalla, dan menolaknya dengan terang-terangan. Mereka yang menolak
risalah Allah itu, mereka yang yang mengikuti hawa nafsunya sebagai jalan
hidupnya.Ketika menolak din (agama) Allah, mereka binasa. Di negeri-negeri yang
umatnya terang-terangan menolak din Allah dihancurkan. Bahkan bukan hanya
dihancurkan mereka itu, tetapi mendapatkan siska yang amat dahsyat dari Allah
Rabbul Alamin, akibat perbuatan mereka yang zalim. (QS. Al-A’raf : 4, 5)
Tentu, yang pertama dilaknat
oleh Allah Ta’ala, tak lain, adalah Iblis, yang membangkang, karena sifatnya
yang sombong. Kesombongan Iblis itu, tak lain karena merasa dirirnya lebih
mulia dibanding dengan Adam As, karena Iblis diciptakan dari api, sedangkan
Adam As dari tanah. Jadi kekafiran lahir, dapat pula dari adanya asal
usul.Inilah yang banyak terjadi sekarang ini, di mana manusia juga mengikuti
jejak Iblis, yang mengagungkan asal-usul (keturunan), bukan yang menjadi ukuran
keimanan dan ketakwaannya.Maka, Iblis diusir dari surga oleh Allah, karena
sikapnya yang sombong dan ingkar itu. (QS. Al-A’raf : 12,13)
Makhluk yang diciptakan oleh
Allah, yang terkena perintah harus meninggalkan surga, adalah Adam As, yang
terkena bujukan dan kemudian memakan buah yang dilarang oleh Allah, yaitu buah
kuldi. Adam As, lalai atas larangan itu, dan terbujuk dengan bisikan Iblis, dan
kemudian melanggar perintah Allh. Adam As, merupakan makhluk pertama yang
diciptakan yang melanggar perintah Allah, karena terkena fitnah Iblis, dan
kemudian diusir dari surga. (QS. Al-A’raf : 20, 22).
Selanjutnya, kisah Nabi Nuh
As, mengaja umat untuk beriman, tetapi ajakannya ditentang dengan keras, bahkan
beliau dituduh sesat oleh para pemimpin kaumnyaitu. Dakwah yang dilangsungkan
Nabi Nuh As, yang berlangsung selama hampir 90 tahun, gagal, dan terus
mendapatkan penolakan dari kaumnya, sampailah datang datang azab dari berupa
datangnya air bah (tsunami), yang menghancurkan seluruh kaumnya. (QS. Al-A’raf
: 59, 60, 64).
Kaum Nabi Hud As, yang dikenal
dengan kaum ‘Ad, yang juga menolak untuk beriman kepada Allah. Mereka menola
ajakan Nabi Hud As, yang diutus menyampaikan risalah dari Allah Ta’ala, yang
kemudian ditolak oleh para pemimpin kaumnya itu. Nabi Hud As jug dituduh kurang
waras (gila), dan terus menola ajakan Nabi Hud, meskipun beliau mengatakan
tentang risalah Allah Ta’ala itu, tetapi kaum tetap menolaknya, dan kemudian
dihancurkan seluruhnya sampai ke akar-akarnya dengan kejadian yang dahsyat, datangnya
angin topan. Mula-mula kekeringan yang panjang yang mematikan seluruh tanaman
mereka, kemudian datang awan hitam yang menggumpal diatas awan, yang dikiran
akan datangnya huja, ternyata topan. (QS. Al-A’raf : 65, 66, 71).
Kisah berikutnya, kaumnya Nabi
Saleh As, yaitu kaum Samud, yang menyembah agama Allah, dan dilarang menyakiti
unta betina, tetapi perintah dan larangan itu, semuanya dilanggar oleh kaumnya
Nabi Saleh As, yang dihancurkan dengan gempa bumi dahsyat, sehingga kaum Samud
luluh lantak.
Kisah Nabi Luth As, yang
kaumnya melakukan perbuatan terkutuk dengan melakukan sodomi (liwat). Ketika
Nabi Luth As, melarang perbuatan keji itu, mereka tidak menggubrisnya, dan
mengusirnya Nabi Luth dan para pengikutnya yang beriman, dan kaumnya Nabi Luth
dihancurkan oleh Allah Ta’ala dengan hujan batu karena perbuatan dosa mereka.
(QS. Al-A’raf : 80, 81, 84).
Masih dalam kisah, tentang
Nabi Syu’aib As, yang menyuruh kaumnya ta’at kepada Allah, dan tidak berlaku
curang dengan cara mengurangi timbangan, tetapi kaumnya itu tetap sombong, dan
tidak mau mengikuti syariah yang diperintahkan Allah kepada mereka. Tetapi,
lagi-lagi kaumnya Nabi Syu’aib bersama denga para pemukanya, mengusir Nabi
Syu’aib, kecuali Nabi Syu’aib mau kembali ke agama mereka yang sesat itu, dan
Allah menurunkan adab terhadap mereka berupa gempa yang amat dahsyat, yang
memusnahkan kaumnya Nabi Syu’aib. (QS. Al-A’raf : 85, 88, 90, 91).
Terakhir, kaumnya Nabi Musa
As, yang telah diselamatkan dari kehancuran, akibat selalu ingkar dan berbuat
zalim.Kaumnya Nabi Musa As ini diselamatkan dari kekejaman Fir’aun, dan mereka
selamat dari bahaya kehancuran, tetapi mereka tetap tidak mau beriman, dan
selalu berbuat kekafiran, seperti membuat patung sapi, yang kemudian mereka
sembah.Inilah kisah antara Nabi Musa As, kaumnya, dan Fir’aun, yang dimenangkan
oleh Nabi Musa As, dan kaumnya.Tetapi lagi-lagi mereka ingkar dan kafir, dan
menolak untuk beriman kepada Allah.Mereka tetap menyembah berhala. (QS.
Al-A’raf : 150, 155, 162, 167).
Dan,
seburuk-buruknya kaum adalah kaum Yahudi, yang terus-menerus berbuat dzalim,
dan menolak kebenaran, dan ingkar dengan seingkar-ingkarnya kepada risalah
Allah.[Mashadi, Belajarlah Dari Kehancuran Kaum Terdahulu, eramuslim.com.Senin,
16/08/2010 14:02 WIB].
Sepanjang
perjalanan Komunis di dunia ini, lihatlah bagaimana kehancuran tokoh-tokohnya
akibat dari keingkaran kepada Allah dan kezhaliman mereka terhadap rakyatnya,
bagaimana buruknya akhir kehidupan yang dirasakan oleh Karl Mark, Stalin dan
Mao Zhe Dung yang memperjuangkan idiologi Komunisme, semuanya berawal dari
teori evolusinya Darwin,wallahu a’lam [Dukuh Pinggir, Tanah Abang, Jakarta, 19
Agustus 2011.M/ 19 Ramadhan 1432.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar