Salah satu sifat manusia yang dilukiskan Allah dalam Al
Qur’an ialah sifat keluh kesah dan ingin cepat melihat hasil usahanya; hal ini
membuat manusia merasa diburu waktu, nafasnya tersengal-sengal, langkahnya
cepat namun tidak terkontrol lagi jalan yang akan ditempuh.
Waktu memang berharga tapi harus
diperhitungkan rugi laba dalam mempergunakannya, letak berharganya waktu bukan
tergantung banyak hasil yang diperoleh dari hari ini sementara mengabaikan
kualitas, untuk memperoleh mutu yang tinggi waktu singkat tidak mungkin,
tentunya dalam tempo panjang dengan berbagai macam perbaikan disana sini serta
mengurangi segala hal yang dapat menghambat.
Manusia akan ditempa oleh waktu, lingkungan
dan pendidikan yang diperolehnya selama mengontrak sebidang kehidupan di dunia
ini, seorang Nabi lebih dahsyat tempaannya daripada manusia biasa, cobaan yang
diterimanya akan menentukan sampai dimana mutu manusia itu.
Dalam menghadapi segala tempaan ini,
tidak sedikit manusia yang gugur dan gagal, putus asa dalam kehampaan, tidak
sanggup menerimanya ibarat padi dalam satu tangkai yang memiliki beberapa
butir, setelah datang berbagai bencana seperti serangan hama, angin serta
banjir maka tidaklah semuanya akan jadi padi yang montok dan berisi, tentu ada
juga butir yang hampa hingga tidak masuk dalam hitungan.
Manusia dalam menyelesaikan hidup
ini cendrung kepada apa yang nampak lahir saja, tidak mau menguak makna yang
terkandung di balik itu, setiap yang lahir belum tentu baik bagi manusia,
nampaknya baik tetapi terselip penderitaan.
Kerugian
dalam perdagangan adalah hal yang tidak diinginkan manusia siapapun orangnya,
tetapi dibalik itu bagi kita akan menjadikan selalu berhati-hati, tidak seenaknya
dalam menggunakan modal.
Tidak lulus dalam ujian bagi seorang
pelajar adalah beban yang memusingkan namun dibalik itu akan menjadikan pelajar
tadi semakin tekun dan rajin mengikuti pelajaran dimasa datang.
Terlalu sulit bagi manusia untuk
mencintai hal-hal yang tidak disukai seperti musibah, kegagalan dan
lain-lainnya walaupun disebelah kejadian itu terkandung hikmah yang besar,
Allah berfirman, ”Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik
bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu,
Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui” [Al Baqarah 2;216].
Kepercayaan kepada ketentuan Allah
menimbulkan keseimbangan jiwa, tidak putus asa bertemu suatu kegagalan,
hidupnya selalu optimis dan tidak pula membanggakan diri karena sebuah
kemujuran sebab segala sesuatu bukanlah hasil usahanya sendiri. Juga akan membawa
manusia kepada peningkatan ketaqwaan bahkan segala keberuntungan maupun
kegagalan dapat dijadikan sebagai ujian dari Allah, ”Apakah manusia itu
mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan,”Kami telah beriman” sedangkan
mereka tidak diuji lagi ?”[Al
Ankabut 29;2].
Dalam menghadapi ujian ini harus
pula terujud sikap-sikap keimanan bagi seorang muslim yaitu sesuai dengan At
Taubah 9;111-112,”Sesungguhnya Allah telah memberi dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka
dengan memberikan syurga untuk mereka, mereka berperang di jalan Allah, lalu
mereka membunuh atau terbunuh, itu telah menjadi janji yang benar dari Allah
dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah lebih menepati janjinya selain
Allah ? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu dan
itulah kemenangan yang besar. Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat,
yang beribadat, yang memuji Allah, yang melawat, yang rukuk, yang sujud, yang
menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat mungkar dan memelihara hukum-hukum
Allah, dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu”.
Dari ayat di atas ada beberapa sikap
mukmin yang harus dimiliki manakala kita ingin menjadi seorang mukmin yang
kelak meraih syurga yang dijanjikan Allah. Sikap seornag mukmin bila melakukan
kesalahan atau dosa maka tidak segan-segan dan tidak menunda untuk bertaubat
membersihkan dirinya karena sesuai dengan ajaran Allah dalam Ali Imran 3;133,
”Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada syurga yang
luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang
bertaqwa”.
Kehidupan seorang muslim nampak
dalam semaraknya mereka melakukan ibadah kepada Allah yang merupakan sikap
ketundukan atas perintah Allah, ”Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin,
bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya, agar Rasul menghukum diantara
mereka, ucapan mereka ialah ”Kami mendengar dan kami patuh”, dan mereka itulah
orang-orang yang beruntung” [An Nur 24;51].
Dalam setiap gerak dan gerik muslim
tidak pernah lepas dari pujian dan sanjungan kepada Khaliqnya, ini bertanda
kesyukuran kepada Allah karena dapat mengatasi ujian hidup dengan baik,”Karena
itu ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah
kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku” [Al Baqarah 2;152].
Dari sikap diatas akan membawa
seseorang muslim menghadapi kehidupan ini tanpa harus mengeluh dan takut karena
semua itu uji coba dari Allah. Ujian itu adakalanya sengsara, ada dengan penderitaan atau ujian yang berbentuk
kesenangan, kemewahan dan keberhasilan. Nampak prilaku seorang muslim yang
selalu bertaubat dikala melakukan kesalahan atau sebaliknya merasa diri suci,
selalu taat beribadah dan bersyukur kepada Allah atau malah mengingkari nikmat
yang telah diberikan Allah.
Realisasi dari iman harus diwujudkan
dalam merentang tali menuju hidup yang hakiki, syurga tidaklah semudah yang
kita impikan, dia milik Alah bukan milik nenek moyang kita, harus diperoleh
sesuai dengan persyaratan yang disediakan-Nya, ”Apakah kamu mengira bahwa
kamu akan masuk syurga, padahal belum nyata bagi Allah yang berjuang diantara
kamu dan belum nyata orang-orang yang sabar”[Ali Imran 3;142].
Ketika terjadi hujan yang lebat
dengan terus menerus, bendungan tersebut tidak mampu lagi menampung air yang
semakin membanjir maka akhirnya bendungan Maghrib tersebut jebol dan hancur
dengan menelan korban yang tidak sedikit dan negeri Saba’ hancur berantakan
sebagai balasan atas kekufuran mereka, dalam surat As Saba’ Allah menerangkan”Maka Kami datangkan kepada mereka banjir
yang besar yang menghancurkan segalanya dan Kami ganti kebun-kebun mereka itu
dengan kebun-kebun yang ditumbuhi pohon-pohon berbuah pahit dan semacam pohon
cemara dan sedikit pohon bidara”[As Saba’ 34;16-17].
Fitnah adalah ujian, tempaan
dan pengkaderan yang diberikan kepada orang-orang beriman dalam rangka untuk
meningkatkan kualitas imannya, sedangkan ibtila' adalah menguji atau mengetes,
ujian yang datang dari Allah kepada hamba-Nya dengan kesenangan dan kesusahan.
Fitnah dan ibtila' diberikan Allah kepada hamba-Nya ada dua macam yaitu
keburukan dan kebaikan sebagaimana firman Allah
dalam surat Al Anbiya' 21;35"Tiap-tiap yang berjiwa akan
merasakan mati. kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai
cobaan (yang sebenar-benarnya). dan Hanya kepada kamilah kamu
dikembalikan".
Fitnah yang berupa kesenangan
seperti harta yang banyak, jabatan yang tinggi, populeritas, cantik atau
tampan, luasnya ilmu dan lain-lain. Akibatnya banyak yang tidak bersyukur,
merasa lebih tinggi dari orang lain, jauh dari ajaran islam dan cendrung
sombong.
Fitnah yang berupa kesengsaraan
seperti kemiskinan, kelaparan, kematian, ketakutan, penyiksaan, kesedihan,
pengusiran, penindasan dan lain-lain, biasanya hal ini mudah dihadapi oleh
siapapun dengan kesabaran;"Dan sungguh akan kami berikan cobaan
kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan
buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar"
[Al Baqarah 2;155]
Adapun cakupan fitnah itu
secara individu sebagaimana yang dialami oleh Nabi Ibrahim, Nabi Yusuf, Nabi
ayub, Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Muhammad serta nabi-nabi yang lain.
Sedangkan secara komunal seperti yang dialami ummat islam di zaman jahiliyyah,
ummat islam di Moro, Bosnia, Kashmir, India, Afghanistan dan ummat islam
lainnya yang mengalami penindasan oleh bangsa lain.
Segala fitnah yang datang
walaupun menyakitkan tapi ada hikmah yang terjadi dibalik itu yaitu;
1.Membersihkan ummat islam dari munafiq dan musuh islam
Dikalangan
ummat islam ketika itu bahkan hari ini terlalu banyak orang-orang yang
menyelusup mengaku sebagai muslim hanya sebatas lisannya saja tapi hatinya
tidaklah beriman, yang sebenarnya mereka adalah orang-orang yang memusuhi islam
melalui segala ucapan, sikap dan tindakannya. Dengan adanya fitnah berupa
musibah, peperangan dan segala penderitaan maka Allah akan membuang orang-orang
munafiq itu sehingga jelas yang tinggal adalah orang-orang yang betul-betul
teguh imannya;"Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, Maka
Sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa.
dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan diantara manusia (agar
mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang
beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur
sebagai) syuhada'. dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim, Dan agar
Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan
orang-orang yang kafir.
Ketika
seruan jihad untuk menghadapi kafir Quraisy telah diserukan maka berangkatlah
600 pasukan bersama Rasulullah, namun di
tengah perjalanan pasukan tadi terbagi menjadi dua, hampir 300 pasukan
berbelot ke Madinah di bawah pimpinan Abdullah bin Ubay karena mereka tidak mau
berjihad, sedangkan yang bersama Rasulullah adalah pasukan yang tersaring tetap
berangkat jihad.
2.Menghapus dosa-dosa muslimin
Musibah,
ujian dan fitnah yang datang dari Allah sebenarnya juga untuk menghapus
dosa-dosa muslimin di dunia ini sehingga ketika di akherat tidak lagi menerima
azab dari Allah, artinya sebagai koreksi bagi diri kita, ketika ada ujian dan
fitnah sebaiknya mengaca diri, dosa apa yang sudah saya perbuat, semoga dengan
musibah itu akan dihapuskan dosa-dosa yang lalu, Rasulullah bersabda,"Tiada
satu musibahpun yang menimba seseorang muslim dari penyakit, penderitaan,
kesedihan, kesulitan, sampai-sampai duri
yang terinjak kakinya, kecuali Allah akan menghapus dengan musibah tadi,
kesalahan-kesalahannya" [Mutafaqun alaih]
Ketika
sedang berlansung qishash terhadap wanita yang mengaku telah berbuat zina maka
dia dirajam, ada sebuah percikan darah yang menempel di baju seseorang, orang
itu berkata dengan kesal,"Ih wanita pezina", Rasul menyatakan
kepadanya,"Jangan begitu, hukuman yang sedang berlansung ini adalah untuk
menghapus dosa wanita itu dan dia tidak pezina lagi".
3.Bukti cinta Allah kepada hamba-Nya
Salah satu ujud cinta Allah kepada
hamba-Nya dalah memberikan ujian dan cobaan kepadnya sebagaimana para Nabi dan
Rasul adalah orang-orang yang selalu diberikan ujian-ujian yang tidak mampu
dipikul oleh sembarang orang, ujian untuk para Nabi dan Rasul bukan karena
kebencian tapi karena kecintaan Allah kepada mereka, contoh Nabi Muhammad Saw,
sejak dalam kandungan sudah menjadi yatim karena ayahnya Abdullah telah
meninggal ketika dia masih berusia 6 bulan dalam kandungan ibunya, ketika
berusia enam tahun sang ibu Aminahpun meninggal saat Muhamma dibawa menziarahi
kuburan ayahnya. Waktu masih kanak-kanak
saat diasuh oleh kakeknya Abdul Muthalib diapun akhirnya diasuh oleh pamannya
karena sang kakek meninggal dunia pula. Dalamasuhanpamanbeliaupuntidaklahhidupbersenang-senangtapiharusbekerjakerasmemenuhikebutuhanhidup,
diabiasahidupsusah, Muhammad pernahmenggembalakankambing, menjual air
danikutberdagangdengan Abu Thalib.
ApalagiketikadiamenjadiRasulterlalubanyakujian,
cobaandantempaanhidup yang diberikan Allah
kepadanyadanhalitumerupakanpakaiannyasehari-harisehinggabeliaupunbersabda,"Bila
Allah mencintaihamba-Nyamakadiamendatangkanmusibahkepadahambaitu".
Sikapmukminterhadapujian
Selamakitamasih
di
duniainimakaujianakanselaludatangsesusaidengankapasitasimankitamasing-masing,
tapibagaimanakitaselaluberharapujianitukitamampuuntukmemikulnya;"YaTuhan
kami, janganlahEngkauhukum kami jika kami lupaatau kami tersalah. YaTuhan kami,
janganlahEngkaubebankankepada kami beban yang
beratsebagaimanaEngkaubebankankepada orang-orang sebelum kami.YaTuhan kami,
janganlahEngkaupikulkankepada kami apa yang taksanggup kami memikulnya.
berima'aflah Kami; ampunilah Kami; danrahmatilah kami. Engkaulahpenolong kami,
Makatolonglah kami terhadapkaum yang kafir."[Al Baqarah 2;286]
Dalammenerimaujianadatigasikap
yang akanmunculdaripribadiseorangmuslimyaitu;
1.Bersyukur
Seorangmuslimbilamendapatujiandiaharusbersyukurapalagiujianituketikaberjihad,
berda'wahdanberibadahkarenadisinibesarpeluangpahaladansyurgauntuknyasehinggatidakbolehkesal,
menggerutu, putusasadanpesimiskarenadirikitasebenarnyasudahdibeli Allah
denganharga yang luarbiasa; "Sesungguhnya Allah Telahmembelidari
orang-orang mukmindiridanhartamerekadenganmemberikansurgauntukmereka.
merekaberperangpadajalan Allah; lalumerekamembunuhatauterbunuh.
(ItuTelahmenjadi) janji yang benardari Allah di dalamTaurat, Injildan Al
Quran.dansiapakah yang lebihmenepatijanjinya (selain) daripada Allah?
Makabergembiralahdenganjualbeli yang Telahkamulakukanitu, danItulahkemenangan
yang besar" [At Taubah 9;111].
2.Sabar
Segalaujian
yang dihadapkan Allah kepadakitaharusditerimadengansabar,
karenamemangpribadimuslimitusangatajaib kata Rasul,
bilaadaujiandiabersabardanitubaikbaginyadanbilaadaujiankesenangandiabersyukurdanitupunbaikbaginya
; " Apakahkamumengirabahwakamuakanmasuksurga, padahalbelumnyatabagi
Allah orang-orang yang berjihaddiantaramudanbelumnyata orang-orang yang sabar"
[Ali Imran 3;142].
3.Optimis
Seorangmuslimharusoptimisbahwaujian
yang diterimanyamendatangkanperubahankebaikandimasa yang akandatang;"Dan
kami hendakmemberikaruniakepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir)
itudanhendakmenjadikanmerekapemimpindanmenjadikanmereka orang-orang yang
mewarisi (bumi), Dan akan kami teguhkankedudukanmereka di mukabumidanakan kami
perlihatkankepadaFir'aundan Haman besertatentaranyaapa yang Se-
lalumerekakhawatirkandarimerekaitu"[Al Qashash 28;5-6].
Karena kita sebagai manusia,
sebagai hamba Allah dan tinggal di bumi Allah pula maka tidak akan lepas dari
ujian, fitnah dan cobaan yang akan datang, baik ujian itu karena kesalahan kita
sendiri atapun berupa peningkatan iman, tiada jalan lain selain tetap Itiqamahlah
seperti karang, yang dihempas oleh ombak, dihantam oleh cuaca panas dan dingin,
diterjang oleh angin dan badai, tapi karang tetap kokoh bahkan semakin kokoh.
Suatu hari Sufyan bin Abdullah [Abu Ammah] minta fatwa kepada Rasulullah
sebagai pegangan hidupnya di dunia, maka Rasulullah bersabda, "Katakanlah
aku beriman kepada Allah, kemudian berpegang teguhlah atas pendirian itu"
Buya Hamka berpendapat,"Istiqomahlah laksana batu karang di ujung
pulau, menerima hempasan segala ombak dan gelombang yang menggulung, setiap
ombak dan gelombang datang, setiap itu pula menambah kekokohannya.
Istiqamahlah, laksana sebatang pohon beringin, menerima segala angin sepoi dan
angin badai, kadangkala berderak derik laksana akan runtuh, terhoyong ke kiri
dan ke kanan, demi angin berhenti dan alam tenang, dia tegak pula kembali dan
uratnya bertambah terhunjam ke petala bumi............"Sesungguhnya
orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" Kemudian mereka
meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan
mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan
gembirakanlah mereka dengan jannah yang Telah dijanjikan Allah kepadamu"[Fushilat
41;30]
Untuk sebuah pengakuan keimanan
maka banyak orang yang bisa tapi untuk menjaga iman agar tetap kokoh dan bersih
dari nilai-nilai yang mencemarkan ketauhidan tidak banyak orang yang sanggup.
Orang yang istiqomah haus jauh dari sifat syirik, karena syirik itu dapat
merusak iman dan merupakan kesesatan ; "Sesungguhnya Allah tidak
mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa
yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang
mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah tersesat
sejauh-jauhnya" [An Nisa' 4;116]
Sikap muslim yang istiqmah
dalam kehidupan ini menerima islam
secara penuh dalam sepuruh asfek kehidupan. Selayaknya seorang muslim
itu menerima ajaran islam secara kafah yaitu sepenuhnya agar keislaman tadi
membentuk kepribadian yang utuh pula dengan puncak keimanan yaitu taqwa;''Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam
Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan.
Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu" [Al
Baqarah 2;208]
Dia
memahami islam bukan sebatas masjid dan mimbar, islam bukan hanya bicara syurga
dan neraka tapi juga difahami bahwa islam mencakup seluruh asfek kehidupan.
Kelompok ini memiliki beberapa sifat yaitu;
a.Konsisten
dengan Islam
Bagaimanapun kondisi yang
dialami, sakit atau senang, bahagia atau sengsara bahkan dikala diuji dengan
segala yang melenakan hidupnya agar berpaling dari islam maka semakin kokoh
keimanannya hingga ajal menjemputnya kelak. Kekonsistenannya terhadap islam
nampak dalam kehidupan sehari-hari melalui pribadi, keluarga dan bermasyarakat;"
Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang Telah
mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di
antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah
(janjinya)" [Al Ahzab 33;23]
b.Berjiwa
stabil dalam segala kondisi
Dengan keimanan yang dimiliki menjamin jiwa orang yang beriman
akan stabil dalam kondisi apapun walaupun kondisi itu akan meneteskan air mata
atau akan menggenangkan darah maka semua itu dihadapi dengan jiwa yang stabil,Rasulullah
bersabda,"Sungguh ajaib sikap orang-orang mukmin itu, kalau diberi nikmat
dia bersyukur dan itu lebih baik baginya, dan kalau ditimpa musibah diapun
bersabar dan itu lebih baik baginya"
Ibnu Taimiyah saat berhadapan
dengan pemerintahan yang zhalim yang akan mencelakakan dirinya maka dia
bermunajad kepada Allah yang menggambarkan kestabilan jiwanya menghadapio
segala teror itu, "Ya Allah seandainya mereka mencampakkan aku maka waktu
itu adalah saat yang tepat bagiku untuk bertamasa bersamaMu, kalau mereka
mengurungku maka saat itu adalah waktu yang tepat bagiku untuk bersunyi diri
bersamaMu, walaupun sekiranya mereka menggantungku maka itu adalah waktu yang
tepat agar aku bisa cepat bertemu dengan-Mu".
c.Santun
kepada mukmin dan tegas kepada kafir
Watak orang yang akan menggantikan
posisi mukmin yang murtad adalah orang yang lembah lembut terhadap orang-orang
mukmin yang terpupuk dalam kehidupan ukhuwah islamiyyah.
Sikap lemah lembut yang dimiliki orang-orang
beriman tidak berarti menjadikan mereka
lemah terhadap orang kafir, kekafiran adalah bentuk keingkaran kepada Allah
sehingga mereka tetap bersikap keras dan tegas terhadap orang-orang kafir
karena sudah jelas batas keimanan dan kekafiran, kekafiran tidak bisa dilawan
dengan lembah lembut, harus dihadapi dengan ketegasan dan sikap yang keras
sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah;"Hai orang-orang yang
beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah
akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun
mencintaiNya, yang bersikap lemah Lembut terhadap orang yang mukmin, yang
bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan
yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah,
diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas
(pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui".[Al Maidah 5;54]
d.Tidak
pernah gentar bagaimanapun hebatnya musuh
Disinilah letak kemenangan yang
dialami oleh ummat terdahulu, mereka tidak pernah merasa minder atau rendah
diri berhadapan dengan orang-orang kafir baik dalam peperangan atau dalam
kehidupan sehari-hari walaupun orang-orang kafir menampakkan fasilitas perang
dan perlengkapan hidup yang wah dan menggiurkan.
Ummat ini punya harga diri yang
lebih tinggi dari ummat lain karena keimanan dan ketaqwaanya dengan semboyan Izkariman
aumut syahidan [hidup mulia atau mati syahid] artinya ummat itu siap untuk
hidup mulia dengan segala kesuksesannya dan bila harus menemui kematian maka
kematian yang berharga yaitu sebagai syuhada'."(yaitu) orang-orang
(yang mentaati Allah dan rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang
mengatakan: "Sesungguhnya manusia Telah mengumpulkan pasukan untuk
menyerang kamu, Karena itu takutlah kepada mereka", Maka perkataan itu
menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi
penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung".[Ali Imran
3;173]
Kesabaran yang diiringi dengan
istiqamah dalam menerima tempaan, ujian dan tantangan hidup ini mutlak diperlukan, betapa tidak,
angin yang kencang, petir bergelegar, bah yang dahsyat setiap saat akan menguji
butir padi yang terdapat pada tangkainya, setiap insan akan menghadapi ujian
dengan berbagai bentuknya untuk mengetahui kualitas seseorang, bukankah emas
dapat dikatakan emas setelah mengalami ujian dan tempaan, Wallahu
a'lam [Cubadak Solok, 19 Ramadhan 1431.H/ 29 Agustus 2010]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar