Terlalubanyaknikmat yang sudahdilimpahkan
Allah kepadamanusia di duniaini,
bilaadaupayauntukmenghitungnyamakasungguhtidakterhitungsudahberapanikmattersebutkitareguk,
makakewajibankitauntukmengembalikandanmembalasnikmatitudengansyukurkepadaPemberinikmatyaitu
Allah SWT.Bersyukurkepada Allah
jugadiiringiberterimakasihkepadakeduaorangtuakarenademikianmulianyaorangtuadalampandanganislamkarenaorangtuasudahberupayauntukmengandung,
mendidikdanmembesarkandengansukadanduka. Namuntidaklahditerima rasa
terimakasihseseorangbilamelupakanbersyukurkepadaAllah;"Dan kami
perintahkankepadamanusia (berbuatbaik) kepadadua orang ibu- bapanya;
ibunyaTelahmengandungnyadalamkeadaanlemah yang bertambah- tambah, danmenyapihnyadalamduatahun.bersyukurlahkepadakudankepadadua
orang ibubapakmu, Hanyakepada-Kulahkembalimu" [Lukman 31;14]
Memangtidaksamarezeki yang diterimaolehsemuamanusia,
halitusudahmenjadirahasia Allah sejakzamanazali,
manusiahanyapunyakewajibanuntukberusahamengaisrezeki, bilamendapatkan yang
banyakmakawajibbersyukurdanbilamendapatkankekuranganmakabersabar, Dari Abu
HurairahRadliyallaahu 'anhubahwaRasulullahShallallaahu
'alaihiwaSallambersabda: "Lihatlah orang yang berada di
bawahmudanjanganmelihat orang yang berada di atasmukarenahalitulebihpatut agar
engkausekaliantiakmenganggaprendahnikmat Allah yang telahdiberikankepadamu."
MuttafaqAlaihi.
Ternyatakelebihanhartadariseseorangkarenamendapatnikmatdari Allah
tidakbolehmenimbulkan rasa irisebabakanmenjadikankitameremehkannikmat yang
diberikan Allah, yang
dibolehkankitairiadalahketikaseseorangbanyakamalibadahnya,
sehinggaterangsanguntukmelakukanibadahlebihbaiklagi.
Duahalapabiladimilikiolehseseorangdiadicatatoleh Allah sebagai orang
yang bersyukurdansabar.Dalamurusan agama (ilmudanibadah) diamelihatkepada yang
lebihtinggilalumenirudanmencontohnya.Dalamurusanduniadiamelihatkepada yang
lebihbawah, lalubersyukurkepada Allah bahwadiamasihdiberikelebihan. (HR.
Tirmidzi)
Namunkadangkalamanusiatidakmenyadarinikmat
yang diberikan Allah kepadnyakarenahalitudianggapbiasasajadansudah lama
dinikmati, tapisetelahhilangbarulahterasabahwanikmatitupentingsekali,"Ada
duakenikmatan yang membuatbanyak orang
terpedayayakninikmatsehatdanwaktusenggang (Artinya, saat-saatsehatdanwaktusenggang
/ luang orang seringmenggunakannyauntukmelakukanperbuatan yang
sia-siadanterlarang). (HR. Bukhari)
Bilanikmat yang diberikan Allah itutidakdisyukuribahkandikufurimakaadaefek lain yang akandirasakannyaapalagitidakmembayarkanhak-hak orang atasnikmatitusebagaimana yang disabdakanolehRasulllah, "MembesarnyakenikmatanAllah bagiseseorangadalahbertambahbanyaknyakebutuhan orang kepadanya (banyakdibutuhkan orang). Tetapibarangsiapaengganmemenuhikebutuhan-kebutuhan orang-orang itumakadiatelahmembiarkankenikmatanitulenyap."(HR. Al-Baihaqi)
"Dan
(ingatlahjuga), tatkalaTuhanmumemaklumkan; "Sesungguhnyajikakamubersyukur,
pasti kami akanmenambah (nikmat) kepadamu, danjikakamumengingkari (nikmat-Ku),
MakaSesungguhnyaazab-Ku sangatpedih".
Bukanlahsyukurnamanyabilanikmat
yang diberikan Allah digunakanuntukhal-hal yang
tidakadamanfaatnyaapalagijelas-jelasmendatangkanmudharat,
bukanlahsyukurnamanyabilahartauntukberjudi, mabuk-mabukan,
pelesiranataumembelisesuatu yang jauhkeperluan.Syukurituharusdiujudkanpadatigaasfek,
asfeklisanmakasyukurdiucapkandengankalimatmembesarkannama Allah denganucapan
"Alhamdulillah", asfekhati,
syukurtadidirasakanbenarolehhatidenganperasaansenangdanbahagiamenerimanikmatitu,
sedangkanasfekketigayaituamal, artinyasegalanikmatitudigunakansesuaidengankehendak
yang memberinikmat. Dengantigahalituakanmenambahpemberian Allah
kepadahamba-Nyadengannikmat-nikmatlain, tapibiladikufurimakaazab Allah menanti.
Imam Al Gazali
terhadap penggunaan atau pembelanjaan uang, beliau membagi dalam dua jalan;
1.Digunakan kepada
jalan kebajikan. Dana tersebut digunakan untuk pribadi dalam hal ibadah,
seperti ibadah haji, sedekah, zakat atau sebagai pembantu ibadah seperti makan
dan minum. Dapat pula digunakan kepada manusia lain dlam bentuk derma, membela
sahabat, melindungi nama baik seseorang atau menggaji pegawainya. Digunakan
dalam masyarakat dalam bentuk amal-amal sosial.
2.Digunakan kepada
jalan kejahatan. Dana yang digunakan pada perbuatan maksiat, seperti perjudian,
pelacuran, minum yang haram [memabukkan], kepada keperluan yang tidak berguna
dalam ujud plesiran dan permainan [berfoya-foya]. Perbuatan berfoya-foya itu
melalaikan ingat kepada Allah, yaitu sibuk dengan masalah ekonomi, mengumpulkan
harta sehingga untuk mendekatkan diri
kepada Allah tidak ada waktu.
Begitu banyak
sejarah yang terbentang di belakang kita yang dapat diambil sebagai pelajaranj,
tadinya mereka jaya dibawah berkah Allah akhirnya hancur berantakan karena
laknat Allah. Itu semua karena kekafiran dan keingkaran manusia sebagaimana
halnya kaum ’Ad, Tsamud, Bani Israil serta hancurnya negeri Saba’, pada masa
jayanya negeri ini dengan bendungan Maghribnya diperintah oleh seorang Ratu
bernama Bulqis yang akhirnya dapat ditaklukkan dan diislamkan oleh Nabi
Sulaiman. Karena tentram dan damainya negeri ini dengan kemakmuran kehidupan
penduduknya sehingga terukir dengan indahnya dalam Al Qur’an sebagai sebutan ”Baldatun Thayibatun Warabbun Ghafur”
yaitu Negeri Yang Baik Dibawah Ampunan
Allah, sampai pada Dinasti Mahrib yang dilanjutkan oleh raja-raja yang
tidak cakap dalam memerintah, menyebabkan runtuhnya negeri Saba ’ pada tingkat
yang paling rendah.
Terjadilah
perebutan kekuasaan silih berganti, saling bertengkar merebut harta warisan dan
merebut mahkota serta saling bunuh bahkan terjadi perang antar saudara.
Akhirnya kerajaan yang dipegang oleh Ibnu Amin al Azdi yang lalai dengan
fungsinya sebagai raja pemimpin rakyat. Dia tidak mempunyai sifat-sifat utama,
bahkan pengecut, pengkhianat negeri, bejat moral, lalim, melalaikan segala
amanat yang seharusnya dilaksanakan oleh seorang raja. Bendungan Maghribpun
tidak diperhatikan lagi, dinding dan pintunya mulai rusak yang kian berat,
batu-batunya pada lepas, disana-sini terdapat lubang menganga yang sangat
menyedihkan, karena rakyat semakin melarat dan sengsara, seluruh penduduk telah
melupakan ajaran Allah dan mengingkari nikmat Allah, mereka merusak semua
bangunan umum termasuk bendungan raksasa itu yang setiap saat mengancam mereka.
Ketika
terjadi hujan yang lebat dengan terus menerus, bendungan tersebut tidak mampu
lagi menampung air yang semakin membanjir maka akhirnya bendungan Maghrib
tersebut jebol dan hancur dengan menelan korban yang tidak sedikit dan negeri
Saba’ hancur berantakan sebagai balasan atas kekufuran mereka, dalam surat As
Saba’ Allah menerangkan;”Maka Kami
datangkan kepada mereka banjir yang besar yang menghancurkan segalanya dan Kami
ganti kebun-kebun mereka itu dengan kebun-kebun yang ditumbuhi pohon-pohon
berbuah pahit dan semacam pohon cemara dan sedikit pohon bidara”[As Saba’
34;16-17].
Peringatan Allah tersebut bukan berarti kita dilarang
mencari kebahagiaan di dunia, namun yang perlu menjadi perhatian kita adalah
bahwa kita harus mengusahakan sesuai dengan kehendak Allah, sesuatu hal yang
mustahil Allah menimpakan azab-Nya tanpa sebab dan tanpa kesalahan manusia.
Semua malapetaka, laknat yang dialami ummat sebelumnya menjadi renungan kita
dan pelajaran yang sangat berharga untuk meninjau kembali musibah yang kian
datang dengan bertubi-tubi sejak dari banjir, gunung meletus, tanah longsor,
hasil panen tidak menjadi dan musibah lain, ini baru peringatan ringan yang
ditunjukkan Allah. wallahu a'lam, [Cubadak Solok, 6
Zulhijjah 1431.H/ 13 Nofember 2010.M]
Referensi;
1.HaditsArbain
An Nawawi, SofyanEfendi, HaditsWeb 3.0,
2. Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
2. Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
3. Kumpulan Ceramah Praktis, Drs. Mukhlis Denros, 2009
4.1100
HaditsTerpilih, Dr. Muhammad FaizAlmath - GemaInsani Press
Tidak ada komentar:
Posting Komentar