Secara
manusiawi manusia itu membutuhkan sesuatu yang lebih dari dirinya yang bersifat
Maha Kuasa dan berkuasa atas segala-galanya serta sifat kesempurnaan lainnya,
yang menciptakan alam raya ini dan segala isinya termasuk manusia sendiri.Sifat
kemanusiaan manusia pula yang menghendaki adanya keinginan untuk
mempersembahkan sesuatu kepada Yang Maha Kuat tadi yang disebut dengan
Tuhan.Mengakui keberadaan Tuhan bukanlah sekedar pengaruh lingkungan tapi
sesuai dengan fitrah yang menuntut jiwa, hati dan perasaan untuk menyatakan
ketundukan kepada Tuhan.
Agama
yang diberikan kepada manusia yang dituntunkan oleh para Nabi dan Rasul juga
sesuai dengan fithrah, artinya fithrah manusia yang ingin adanya Tuhan yang
disembahnya bertemu dengan agama dan tuhan yang sesuai fithrah pula, yaitu
Tuhan Allah dengan agama fithrah yang bersih dari syirik, disebut dengan
tauhid.“Maka hadapkanlah wajahmu dengan
Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan
manusia menurut fitrah itu.tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama
yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” [Ar Ruum 30;30].
Fitrah Allah:
Maksudnya ciptaan Allah. manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama
Yaitu agama tauhid. kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu
tidaklah wajar. mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh
lingkungan, atau beragama juga tapi tidak berada dalam lingkaran tauhid,
kecendrungan syiriknya membuat ajaran tauhid rusak jadinya.
Orang-orang awam kemungkinan hanya
mengerti yang namanya musyrik itu orang yang menyembah berhala.Titik.Karena
lemahnya pemahaman agama, maka kemusyrikan pun dianggap hanya sebatas itu dan
dianggap bukan hal yang bahaya.Padahal kemusyrikan bukan hanya berupa menyembah
berhala.Sedang bahayanya sangat besar, yaitu mengakibatkan haram masuk surga
dan kekal di neraka apabila pelakunya sampai mati belum bertaubat“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan
(sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan
tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang
penolongpun. (QS Al-Maaidah: 72).
Sekalipun seseorang menyembah kepada
Allah, tetapi ketika berdoa, minta pertolongan ataupun berkorban dengan apa pun
kepada selain Allah maka itu kemusyrikan. Dosa paling besar.Pelakunya haram
masuk surga dan kekal di neraka bila sampai ajalnya belum bertobat benar-benar.
Bentuk-bentuk kemusyrikan di antaranya
berdoa minta kepada isi kubur karena dianggap sebagai wali atau orang shaleh
yang dekat dengan Allah. Minta tolong kepada jin, lelembut, atau penjaga
gunung, laut, telaga, dan sebagainya. Itu kemusyrikan.Karena minta tolong
kepada selain Allah dalam hal yang hanya hak Allah. (Berbeda dengan minta
tolong untuk diangkatkan barang dagangan oleh kuli, misalnya, itu sang kuli
memang mampu mengangkatnya, dan berhak ketika diminta).
Tetapi siapa saja tidak berhak dimintai
tolong berkaitan dengan penentuan nasib hidup dan sebagainya yang hanya hak Allah.Demikian
pula peribadahan dan pengorbanan yang sifatnya ibadah atau ritual hanyalah hak
Allah.Maka memberikan sesaji atau pengorbanan kepada selain Allah menjadi
musyrik karena pengorbanan (ibadah) itu hanya hak Allah.Hanya untuk Allah.Juga
memberikan sesaji kepada yang dianggap sebagai penjaga gunung, laut, telaga dan
sebagainya, itu semua ada kemusyrikan.Itu pengorbanan kepada selain Allah.
Karena yang benar: “ Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku
hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian
itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama
menyerahkan diri (kepada Allah)."(QS Al-An’am/ 6:162, 163).[Hartono Ahmad Jaiz, Bukti-bukti Rawannya Penyimpangan Aqidah, di
Kalangan Tradisional maupun Intelektual, Nahi Munkar.com. Senin,
04/07/2011 10:14 WIB].
Karena
pengaruh lingkungan itulah sehingga banyak manusia yang salah mencari Tuhan
bahkan ada yang menodai fithrahnya sehingga tidak mengakui adanya Tuhan, inilah
yang disebut dengan atheisme yaitu faham anti tuhan.
Atheisme
adalah faham yang menolak tentang adanya Tuhan. Lembaga pendukungnya berupa
negara komunis USSR, yang sekarang sudah mantan, selama sekitar 70 tahun tampil
di panggung dunia dan sempat menjadi salah satu raksasa. Sebelumnya di
Indonesia lembaga pendukung atheisme yaitu PKI telah hancur 28 tahun lalu.
Sungguhpun lembaga pendukung itu sudah lenyap, namun atheisme ini masih kuat
kukunya mencengkeram sains tanpa disadari betul oleh para pakar apa lagi yang
bukan pakar.
Agnostisisme
adalah faham yang tidak mau pusing tentang Tuhan.Bagi mereka yang menganut
faham ini adanya Tuhan ataupun tidak adanya Tuhan bukanlah masalah yang harus
diseriusi.Faham ini tidak didukung oleh yang melembaga tetapi secara sporadis
didukung oleh para filosof seperti misalnya Betrand Russel.Sama dengan
atheisme, agnostisisme ini juga erat mencekik sains.
Pokok
kepercayaan dalam dunia ilmiyah disebut dengan postulat.Keseragaman di alam
raya ini adalah sebuah postulat dan itu merupakan asas filsafat dalam dunia
ilmiyah. Postulat tentang keseragaman di alam raya ini dalam dunia ilmiyah yang
tidak mau tahu tentang Tuhan, yang diwarnai oleh atehisme dan agnostisisme,
sama sekali tidak ada dasarnya, karena diterima begitu saja, tanpa alasan apa-apa.
[H.Muh.Nur Abdurrahman, Memerdekakan
Sains dari Atheisme dan Agnostisisme.Menuju Satu Sistem Pendekatan Ayat
Qawliyah-Kawniyah, Makassar, 17 Oktober 1993].
Atheis selain
merupakan kekafiran yang tidak sesuai dengan islam, posisi mereka tidak beda
dengan murtad artinya yang meninggalkan agama islam, apakah meninggalkan itu
berpindah keagama lain atau tidak beragama sama sekali, dalam islam masalah
agama adalah sangat penting untuk menentukan status seseorang di dunia hingga
di akherat kelak, bagi kaum Muslim, urusan agama adalah masalah vital. Sebab
hal ini menyangkut keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Jika orang mati
dalam kekufuran atau murtad, maka dia akan mendapatkan siksa di neraka. Ini
akidah Islam, karena itu, dalam ajaran Islam, tidak sewajarnya, jalan menuju
neraka dimudahkan.
Ada hadits Nabi saw yang diriwayatkan Imam Muslim yang menyebutkan, bahwa murtad (keluar dari Islam) merupakan kejahatan besar. Nabi saw bersabda: "Tidak halal darah seseorang melainkan dengan salah satu daripada tiga sebab yaitu janda atau duda yang berzina, membunuh, dan meninggalkan agamanya serta berpisah dari jemaahnya."
Ada hadits Nabi saw yang diriwayatkan Imam Muslim yang menyebutkan, bahwa murtad (keluar dari Islam) merupakan kejahatan besar. Nabi saw bersabda: "Tidak halal darah seseorang melainkan dengan salah satu daripada tiga sebab yaitu janda atau duda yang berzina, membunuh, dan meninggalkan agamanya serta berpisah dari jemaahnya."
Masalah
penerapan hukum murtad telah banyak dibahas oleh para ulama Islam.Yang jelas,
murtad adalah tindakan tercela, sebagaimana zina, korupsi, mencuri, menfitnah,
tidak mengerjakan shalat wajib, dan sebagainya.Murtad adalah kemaksiatan yang
besar dan serius.Al-Quran surat An Nisa' ayat 137 menyebutkan: "Sesungguhnya
orang-orang yang beriman, kemudian kafir, kemudian beriman, kemudian kafir
lagi, kemudian beriman, kemudian kafir lagi, kemudian bertambah-tambah
kekafirannya, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka,
dan tidak (pula) menunjuki mereka kepada jalan yang lurus."
Cara pandang
orang Islam terhadap agamanya ini tentulah berbeda dengan cara pandang negara
AS. Menurut AS, agama tidaklah penting. Sebab, AS sudah punya agama sendiri,
yang disebut sebagai “civil religion”, yang mengadopsi teori pemikir
Perancis Ruosseau.Agama AS adalah demokrasi versi AS, dengan nabinya bernama
Abraham Lincoln. Richard D. Hefner, dalam bukunya, A Documentary History of The
United States (2002), menulis satu bab khusus berjudul “The Prophet of
Democracy” atau Nabi-nya Demokrasi, yaitu Lincoln.
Dalam teori
demokrasi di AS, memang negara tidak memberikan keistimewaan kepada agama
terentu.Ini teorinya.Praktiknya, negara tetap memberikan keistimewaan kepada
kelompok Kristen.Bahkan, ada doktrin tidak tertulis, syarat untuk jadi Presiden
AS haruslah WASP (White, Anglosaxon, dan Protestant).Dalam negara seperti AS,
dan negara-negara Barat yang percaya kepada agama sekuler, untuk menggantikan
agama-agama lainnya, memang masalah agama dan moralitas keagamaan tidaklah
penting.Hal itu dapat disimak dari biografi para pemikir besar yang menjadi
panutan mereka.
Paul Johnson,
dalam bukunya yang berjudul “Intellecutals” (1988), memaparkan kebejatan
moral sejumlah ilmuwan besar yang menjadi rujukan keilmuan di Barat dan dunia
internasional saat ini, seperti Jean Jacques Ruosseau, Henrik Ibsen, Leo
Tolstoy, Ernest Hemingway, Karl Marx, Bertrand Russel, Jean-Paul Sartre, dan
beberapa lainnya. Ruosseau, misalnya, dicatatnya sebagai “manusia gila yang
menarik” (an interesting madman).
Pada tahun
1728, saat berumur 15 tahun, dia bertukar agama menjadi Katolik, agar dapat
menjadi peliharaan Madame Francoise-Louise de Warens. Ernest Hemingway, seorang
ilmuwan jenius, tidak memiliki agama yang jelas. Kedua orang tuanya adalah
pengikut Kristen yang taat. Istri pertamanya, Hadley, menyatakan, ia hanya
melihat Hemingway sembahyang selama dua kali, yaitu saat perkawinan dan
pembaptisan anaknya. Untuk menyenangkan istri keduanya, Pauline, dia berganti
agama menjadi Katolik Roma.Kata Johnson, dia bukan saja tidak percaya kepada
Tuhan, tetapi menganggap “organized religion” sebagai ancaman terhadap
kebahagiaan manusia. (He not only did not believe in God, but regarded
organized religion as a menace to human happiness).
Dengan cara
pandang seperti terhadap agama, maka bisa dimengerti, mengapa AS sangat tidak
suka, ada negara tertentu yang secara tegas melindungi akidah atau keyakinan
agama rakyatnya. Pemerintahan sekuler menganggap negara haram ikut campur dalam
urusan akidah rakyatnya.Jadi, apakah rakyatnya mau menjadi bajingan, durhaka
kepada orang tua, meninggalkan solat wajib, berzina, dan berbagai tindak jahat
lainnya, pemerintah tidak punya urusan apa-apa.Yang penting, rakyatnya tidak
mengganggu ketertiban.[Adian Husaini, MA, Menelaah Laporan Kebebasan Beragama
(versi) Amerika ,Hidayatullah .com. Senin, 29 Desember 2003].
Kebebasan beragama artinya orang bebas untuk
beragama bahkan juga bebas untuk tidak beragama yaitu atheis, karena agama
dianggap tidak penting, menurut faham ini yang mementingkan agama itu adalah
manusia sendiri, kalau manusia menyatakan agama penting maka pentinglah dia dan
sebaliknya. Usaha untuk menjadikan agama sesuatu yang tidak penting maka
dibuatlah suatu konspirasi dengan menampilkan beberapa faham dan aliran, yang
seolah-olah ilmiyah seperti Liberalisme, Pluralisme, Kapitalisme, Komunisme,
Hedonisme dan berbagai faham lainnya, yang intinya menjauhkan manusia dari
agama sehingga mengingkari tuhan.
Skenario lain dibuat dengan menampilkan
tokoh-tokoh agama yang seharusnya mereka hidup dalam kondisi harmonis, tenang,
santun dan berperangai baik di tengah-tengah masyarakat tapi nyatanya sang
tokoh agama tadi membuat perbuatan yang nista menodai agamanya sehingga membuat
penganut atau ummatnya kecewa dan prustasi hingga meninggalkan agamanya itu
sebagaimana yang dialami oleh Karl Marx.
Seorang pendiri paham Komunis bernama Karl Marx,
ayahnya seorang Yahudi yang kaya, pada usia
6 tahun semua keluarganya pindah agama kepada Kristen Protestan,
perpindahan agama ini yang mempengaruhi jiwanya pertama kali, lalu dia melihat
ketidakbenaran ajaran Protestan yaitu konsep ”satu Tuhan sama dengan tiga Tuhan”, disamping buku yang dibacanya
banyak mengkritik gereja, dikatakan Protestan adalah agama orang kaya yang
menindas simiskin, gerejapun tidak segan-segan membunuh orang yang ingkar kepadanya
sebagaimana Galileo Galilei yang mengatakan kalau bumi ini bulat, sedangkan
faham gereja mengatakan bumi ini datar. Inilah yang membuat Karl Marx membenci semua agama, sayang sekali dia tidak
mempelajari islam sehingga dia menyamakan semua agama.[Mukhlis Denros, Remaja
dihadapkan berbagai persoalan, Harian
Semangat Padang, 01121999].
Sebuah gerakan yang dilahirkan oleh Zionis Israel yaitu Free Masonry berupaya mengajak manusia untuk mengingkari Tuhan dengan menyebarkan virus atheis ke seluruh dunia, bahkan dengan berani mereka menamakan dirinya Freemason Ateis. Sebagaimana yang diungkapkan oleh peneliti brilian yaitu Harun Yahya, dia menyatakan;
Freemason Ateis yang menjadikan "perdamaian, persaudaraan dan kasih sayang di antara umat manusia" sebagai ajaran misi mereka.Namun konsep-konsep ini, meskipun tampaknya positif pada pandangan pertama, menyimpan permusuhan terhadap agama.Masonry Ateis telah menjadi salah satu topik utama yang membuat orang penasaran dan bingung.Itu karena kegiatan organisasi ini bersifat rahasia, dus filosofi dan tujuan-tujuan mereka memiliki sejumlah kontroversi.Dalam pernyataan publik, Freemason Ateis kerap mengobral "cinta kasih sesama manusia, toleransi, persaudaraan universal, cara-cara menggapai pengetahuan dan kebijaksanaan..." secara luas.Sebuah konsep instan yang menarik hati.Walau demikian, Freemasonry Ateis adalah sebuah organisasi gelap dengan fitur-fitur ateis dan bahkan anti-agama.
Aspek paling menarik Freemasonry Ateis adalah konsep-konsep yang mereka sebutkan dalam pernyataan publik dan tuduhan mereka terhadap kaum "beragama" pada intinya tidak memiliki banyak perbedaan. Pada tahap ini, seseorang mungkin akan bertanya, "Kenapa?"
Bagaimana pun juga, konsep-konsep ini tampaknya saling berlawanan; cinta, toleransi dan konsep "humanis" sejenis lainnya tampaknya tidak anti-agama pada pandangan pertama.Selain itu, banyak orang yang berpikir bahwa konsep-konsep tersebut terdapat dalam moral dan ajaran agama.Benarkah demikian?Bagaimana pun juga, kebenaran yang melekat dalam konsep inilah yang lebih utama.
Apakah arti cinta bagi kaum Freemasonry Ateis?Freemason Ateis kerap berbicara tentang persaudaraan, toleransi dan perdamaian universal.Mereka menggunakan retorika bahwa manusia bertanggung jawab terhadap manusia lainnya.Sebenarnya ini adalah kata-kata yang merujuk pada konsolidasi (persatuan) di antara manusia, dengan demikian tidak ada yang salah dengan mereka.Namun, bagaimana dengan tanggung jawab seseorang kepada Allah?
Pertanyaan ini menguak wajah filosofi Masonik Ateis yang sebenarnya. Hal itu karena, "cinta pada manusia", sebagaimana dimaksudkan filsafat Masonik ateis, bukan cinta yang bersumber dari kenyataan bahwa manusia adalah ciptaan Allah, sebagaimana disepakati Yunus Emre dalam kata-katanya "untuk mengasihi ciptaan karena Sang Pencipta". Sebaliknya, Freemason Ateis percaya bahwa semua manusia lahir sebagai akhir dari sebuah proses evolusi. Hal ini, bagaimanapun, merupakan ekspresi utama penolakan terhadap Allah.
Secara singkat, filsafat yang didefinisikan sebagai "humanisme", yang merupakan tulang punggung Freemasonry Ateis, hanya meramalkan cinta yang ditunjukkan kepada manusia dan bukan kepada Allah. Filosofi yang terdistorsi ini diungkapkan dalam laporan resmi Freemason Ateis loji Turki yang diterbitkan pada 1923: "Kami tidak lagi menerima Allah sebagai tujuan hidup kita. Kami telah menciptakan tujuan kita sendiri.Tujuan itu akan melayani kemanusiaan dan bukan Allah lagi.""Masyarakat tertinggal itu impoten.Untuk menutupi ketidakmampuan mereka, mereka kerap mendewakan kekuatan dan kejadian yang mengelilingi mereka.Masonry mempertuhankan manusia."
John Dewey menerbitkan "Manifesto Humanis" pada 1933. Manifesto ini menekankan gagasan bahwa sudah waktunya untuk menghilangkan agama Ilahi dan menggantinya dengan era baru pengembangan ilmiah dan kerjasama sosial.
Manifesto kedua yang diterbitkan pada 1973 menjelaskan semua ancaman terhadap umat manusia. Dalam Manifesto ini, diberikan garis besar tentang bagaimana filsafat ini menyangkal keberadaan Allah; "Tidak ada Tuhan yang akan menyelamatkan kita.Kita harus menyelamatkan diri kita sendiri."
Ideologi Masonik Ateis juga didasarkan pada prinsip-prinsip humanistik yang sama. Semua kata-kata panas yang digunakan dalam ideologi mereka bersifat menipu ketika seseorang benar-benar melihat arti keberadaan masing-masing.Setelah terlepas dari keberadaan Allah, kata-kata seperti cinta, persaudaraan dan perdamaian menjadi tidak berarti.Tujuan eksistensi manusia satu-satunya di dunia adalah untuk menyembah Allah."Tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka menyembah-Ku." (QS Adz-Dzariyat: 56).
Selama abad ke-20, karena adanya
ideologi anti-agama seperti komunisme dan fasisme, ratusan juta orang menderita
dan menjadi korban genosida, sementara miliaran lainnya menjadi sasaran
penyiksaan dan penindasan. Hal ini juga penting diingat, bahwa Revolusi
Perancis—sebuah gerakan yang didukung Freemason—mendapatkan kekuatannya dari
moto "Kebebasan, Kesetaraan dan Persaudaraan", namun berakhir dengan
tewasnya puluhan ribu orang di bawah guillotine (pisau jagal).
Seperti halnya konsep "cinta kasih sesama manusia" yang ditafsirkan
dalam kerangka Humanisme, "pengetahuan" dan "rasionalisme"
juga digunakan dalam konteks anti-agama oleh Freemason Ateis.
Bagi seorang Muslim, ilmu pengetahuan adalah alat untuk mengamati alam semesta yang diciptakan Allah dan untuk memahami rahasia-rahasia yang mendasari cara dan fungsinya. Berpikir rasional, di sisi lain, adalah cara menjalankan perintah-perintah Allah dalam Al-Qur'an dan merupakan tanda keimanan. Namun dalam terminologi Masonik Ateis, konsep-konsep ini digunakan dengan konotasi yang sama sekali berbeda.
Menurut pola pikir Masonik Ateis, ilmu bukan merupakan alat yang digunakan untuk menganalisa makhluk yang diciptakan Allah.Sebaliknya, memercayai sains dikaitkan dengan menjadi ateis.Dengan kedok ilmu pengetahuan, kebohongan Darwinisme diindoktrinasikan kepada masyarakat.Kaum Masonik Ateis mengajarkan perang melawan agama dengan cara-cara tipuan ala Darwinisme, yang sebenarnya ditolak oleh ilmu itu sendiri.
Dalam sebuah jurnal yang diterbitkan Freemason Ateis Turki, disebutkan bahwa tanggung jawab Freemason Ateis adalah membuat propagasi non-religiusitas yang berkedok "ilmu" pengetahuan. "Memercayai bahwa ini (teori Darwin) adalah cara terbaik dan tunggal dalam evolusi, tugas utama Masonik kami tidak menyimpang dari ilmu-ilmu dan kebijaksanaan positif, untuk menyebarkan kepercayaan di antara masyarakat dan untuk meningkatkan masyarakat dengan bimbingan ilmu."
Kata-kata Ernest Renan berikut ini sangat penting, "Tujuan agama yang sia-sia akan runtuh dengan sendirinya, hanya jika masyarakat dilatih dan tercerahkan oleh ilmu pengetahuan dan akal."Kata-kata Lessing berikut juga mendukung argumen yang sama, "Melalui pencerahan manusia dengan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan, manusia tidak lagi merasa membutuhkan agama satu hari nanti."[Harun Yahya, Filosofi Gelap Freemasonry Ateis, Republika.co.id.Senin, 02 Mei 2011 19:30 WIB].
Sebenarnya,
bagaimanapun juga manusia berupaya untuk meniadakan Tuhan dalam hidupnya,
membenci semua agama dengan segala ritualnya dengan berbagai argumentasi dan sekian teori yang intinya
menolak eksistensi Tuhan di dunia ini karena menganggap dunia terjadi dengan
sendirinya, padahal pada setiap hati
nurani manusia mengakui adanya kekuatan lain yang Maha Kuat dan Maha Perkasa di
luar kehidupannya walaupun mereka tidak mau menyebutnya sebagai Tuhan. Sebagai contoh dapatkah orang yang menyatakan
dirinya sebagai ateis ketika melepas kepergian seseorang dia mengatakan,”Semoga
Selamat”, atau waktu memberikan support kepada seseorang dia menyatakan,”Semoga
sukses”. Ada apa dengan kata “Semoga Selamat dan Semoga Sukses” itu, bukankah dia
mengakui bahwa manusia tidak berdaya sama sekali, yang memberikan kesuksesan
dan keselamatan itu bukanlah manusia tapi Tuhan, tapi mereka segan menyebut
Tuhan sebab mereka telah menyatakan Tuhan itu telah meninggal atau mereka sudah
menyatakan dirinya sebagai ateis, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 07 Agustus
2011.M/ 07 Ramadhan 1432.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar