Banyak ayat Al
Qur’an yang mengajak kita untuk bertaqwa kepada Allah diantaranya;
" Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, kami akan
memberikan kepadamu Furqaan. dan kami akan jauhkan dirimu dari
kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. dan Allah mempunyai
karunia yang besar" [Al Anfal 8;29]
" Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah
setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok
(akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa
yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada
Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. mereka Itulah
orang-orang yang fasik.[Al Hasyr
59;18-19]
Taqwa tidak
bisa dibiarkan saja karena dia merupakan level iman yang mengalami fluktuasi
yaitu ibarat gelombang, kadangkala naik dan kadangkala turun, taqwa harus
dijaga dengan sebaik-baiknya hingga pada akhir kehidupan kita tetap dalam
posisi masih bertaqwa;
”Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah
dengan sungguh-sungguh bertaqwa dan janganlah mati kecuali dalam tetap beriman” [Ali Imran 3;102].
Selain itu
banyak pula definisi yang berkaitan dengan taqwa itu sebagaimana dibawah ini;
Imam Al Ghazali mengartikan taqwa dengan ; T; Tawakal yaitu menyerahkan hasil usaha
kepada Allah setelah maksimal berusaha,
Q; Qona’ah artinya sikap
hidup yang tidak boros dan berangan-angan tinggi. Dia terima dengan rasa syukur
apa yang diperoleh hari ini, tetapi tetap berusaha dengan sungguh-sungguh untuk
masa depan, W; Wara’ artinya
berhati-hati terhadap barang yang syubhat, orang yang bertaqwa ditinggalkannya
yang syubhat ini, Y ; Yakin
artinya kepercayaan yang semakin dalam kepada Allah, Rasul dan
Syari’at-Nya.
Ubay
bin Ka'ab bertanya kepada Umar bin Khattab tentang taqwa, Umar
menjawab,"Apakah anda pernah melewati jalan berduri?", Ubay
menjawab,"Ya pernah", Umar bertanya,"Apakah yang anda
lakukan?". Kata Ubay,"Saya kesampingkan duri itu dan berusaha maju ke
depan dan berhati-hati", kata Umar, "Itulah taqwa". Rasulullah
menyatakan bahwa taqwa itu ada di hati bukan diucapan, sedangkan orang yang
bertaqwa juga dikatakan adalah orang yang mengerjakan segala perintah Allah dan
menjauhi larangan-Nya.Umar bin Abdul Azis berkata,”Taqwa adalah meninggalkan
hal-hal yang Allah haramkan dan menjalankan hal-hal yang Allah wajibkan”.
Demikian indicator taqwa yang dapat kita
ungkapkan dari beberapa pendapat, tapi sedikit sekali referensi yang menuntun
kita agar mempertahankan taqwa itu, sehingga setelah taqwa diraih, karena tidak
terjaga dengan baik sehingga bisa luntur dan lentur karena perubahan zaman,
untuk itulah kita jaga taqwa tersebut dengan sebaik-baik hingga kapanpun. Agar
taqwa itu tetap bertahan di dada kita bahkan akan mengalami kondisi yang
baik terus ada lima sikap yang harus kita tanamkan dalam diri
kita sebagaimana yang dikupas oleh Dr. Muhammad Nasih Ulwan
dalam bukunya, Tarbiyyah Ruhiyyah/
Pendidikan Ruhani, salah satu untuk menjaga taqwa itu adalah Muraqabah
yaitu;
Allah selalu
menyertai dan bersama makhluk-Nya dalam situasi dan kondisi bagaimanapun juga,
ini adalah pengawasan yang efektif untuk menjaga kontinuitas amal dan istiqamahnya
iman, keyakinan ini akan menjauhkan seorang mukmin dari praktek kotor dalam
seluruh asfek kehidupannya.
Dan pada sisi
Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali
dia sendiri, dan dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada
sehelai daun pun yang gugur melainkan dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh
sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang
kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfudz [Al An’Am 6;59]
Muraqabatullah
membangkitkan sifat ihsan dalam seluruh aktivitas, baik ada orang ataupun tidak
ada orang yang melihatnya. Kualitas kerja dan kedisiplinan tidak terpengaruh
oleh orang lain hatta pimpinan sekalipun karena pemimpin yang tertinggi selalu
melihat dan memantaunya.
Allah SWT berfirman (yang artinya): Dia selalu bersama
kalian di mana pun kalian berada (QS al-Hadid: 4); Sesungguhnya tidak ada
sesuatupun yang tersembunyi di mata Allah, baik yang ada di langit maupun yang
ada di bumi (QS Ali Imran: 6); Allah
mengetahui mata yang berkhianat [yang mencuri pandang terhadap apa
saja yang diharamkan] dan apa saja yang tersembunyi di dalam dada (QS Ghafir:
19).
Sebagian ulama mengisyaratkan, ayat-ayat ini merupakan
tadzkirah (peringatan) bahwa: Allah Maha Tahu atas dosa-dosa kecil, apalagi
dosa-dosa besar; Allah Mahatahu atas apa saja yang tersembunyi di dalam
dada-dada manusia, apalagi yang tampak secara kasat mata.
Di sinilah pentingnya muraqabah. Muraqabah
(selalu merasa ada dalam pengawasan Allah SWT) adalah salah satu maqam dari
sikap ihsan, sebagaimana yang pernah diisyaratkan oleh Malaikat Jibril as.
dalam hadits Rasulullah SAW, saat kepada beliau ditanyakan: apa itu ihsan? Saat
itu Malaikat Jibril as sendiri yang menjawab, “Engkau menyembah Allah
seolah-olah engkau melihat Dia. Jika engkau tidak melihat Allah maka
sesungguhnya Dia melihat engkau.” (HR Muslim).
Demikian pula sebagaimana yang dinyatakan dalam hadits
penuturan Ubadah bin ash-Shamit, bahwa Baginda Rasulullah SAW
pernah bersabda, “Iman
seseorang yang paling utama adalah dia menyadari bahwa Allah senantiasa ada bersama dirinya di manapun.” (HR al-Baihaqi, Syu'ab aI-Iman, I/470).
seseorang yang paling utama adalah dia menyadari bahwa Allah senantiasa ada bersama dirinya di manapun.” (HR al-Baihaqi, Syu'ab aI-Iman, I/470).
Dalam hadits lain Baginda Rasulullah bersabda, “Bertakwalah
engkau dalam segala keadaanmu!” (HR at-Tirmidzi, Ahmad dan ad-Darimi).Dalam
Tuhfah al-Awadzi bi Syarh Jâmi' at-Tirmidzi, disebutkan bahwa
frase haytsumma kunta (dalam keadaan
bagaimanapun) maksudnya dalam keadaan lapang/sempit,
senang/susah, ataupun riang-gembira/saat tertimpa bencana
(Al-Mubarakfuri, VI/104). Haytsumma kunta juga bermakna: di manapun berada,
baik saat manusia melihat Anda ataupun saat mereka tak melihat Anda (Muhammad
bin 'Alan ash-Shiddiqi, Dalil al-Falihin, I/164).[Memelihara Sikap
MuraqabahMediaummat.com.Thursday, 14 April 2011 10:09].
Suatu malam
Umarpun pergi keliling kampung, dia mendengar percakapan seorang putri dengan
ibunya,”Nak kita campur saja susu ini,
biar kita mendapat keuntungan yang banyak”, sang putri menjawab,”Jangan ibu, nanti Khalifah tahu bagaimana?”
sang ibu menyanggah,”Mana ada Khalifah
yang berkeliaran tengah malam ini, enaklah dia istirahat di istananya”,
sang gadis lansung menyela pembicaraan ibunya,”Wahai ibu, mungkin saja khalifah Umar tidak tahu apa yang kita
lakukan tapi bagaimana Allah, bukankah Dia juga tahu apa yang kita lakukan?”
mendengar itu Umar tidak kuasa, lansung dia pulang, pagi harinya dia utus
seseorang untuk menjemput tuan putri lalu dinikahkan dengan anaknya yang
bernama Aslam, dari pernikahan inilah maka lahir generasi terbaik pada abadnya
yaitu Umar bin Abdul Azis yang kelak jadi khalifah juga.
Umar bin al-Khaththab pernah menguji seorang anak gembala.
Saat itu Umar membujuk sang gembala agar menjual domba barang seekor dari
sekian ratus ekor domba yang dia gembalakan, tanpa harus melaporkannya
ke majikan sang gembala. Toh sang majikan tak
akan mengetahui karena banyaknya domba yang digembalakan. Namun, apa jawaban
sang gembala. ”Kalau begitu, di mana Allah?
Majikanku mungkin memang tak tahu. Namun, tentu Allah Maha Tahu dan Maha
Melihat,” tegas sang gembala.).[Memelihara Sikap MuraqabahMediaummat.com.Thursday,
14 April 2011 10:09].
Seorang pemuda yang selalu berbuat maksiat kepada Allah dengan berbagai
kelakuan. Suatu malam dia sedang menjalankan aksinya, memanjat rumah seseorang
untuk mencuri, namun dia mendengarkan bacaan Al Qur'an dikumandangkan oleh seorang
wanita, dia sudah biasa mendengarkan Al Qur'an dibacakan tapi malam ini
seolah-olah isi Al Qur'an itu ditujukan kepadanya. Dia urungkan niatnya untuk
mencuri,dia turun dari rumah itu untuk mensucikan diri kemudian bertaubat
kepada Allah.
Jujur harus kita akui, sikap
muraqabah (selalu merasa dalam pengawasan Allah
SWT), sebagaimana yang ditunjukkan oleh sang gembala dalam kisah di atas,
makin jauh dari kehidupan banyak individu Muslim saat ini. Banyak Muslim yang
berperilaku seolah-olah Allah SWT tak pernah melihat dia. Tak ada lagi rasa
takut saat bermaksiat. Tak ada lagi rasa khawatir saat melakukan dosa. Tak ada
lagi rasa malu saat berbuat salah. Tak ada lagi rasa sungkan saat berbuat
keharaman. Setiap dosa, kemaksiatan keharaman dan kesalahan 'mengalir' begitu
saja dilakukan seolah tanpa beban. Banyak Muslim saat ini yang tak lagi merasa
risih saat korupsi, tak lagi ragu saat menipu, tak lagi
merasa berat saat mengumbar aurat, tak lagi
merasa berdosa saat berzina, tak lagi merasa malu
saat selingkuh, dll.
Semua itu terjadi akibat mereka gagal 'menghadirkan' Allah
SWT di sisinya dan melupakan pengawasan-Nya atas setiap
gerak-gerik dirinya. Mengapa gagal? Karena banyak individu Muslim yang
awas mata lahiriahnya, tetapi buta mata
batiniahnya. Mereka hanya mampu melihat hal-hal yang kasat mata,
tetapi gagal 'melihat' hal-hal yang gaib:
pengawasan Allah SWT; Hari Perhitungan, surga
dan neraka, pahala dan siksa, dst. Yang bisa mereka lihat hanyalah kenikmatan
dunia yang sedikit dan kesenangan sesaat. Tentu, kondisi ini
harus diubah, agar seorang Muslim kembali memiliki sikap
muraqabah.
Adanya sikap muraqabah pada
diri seorang Muslim paling tidak dicirikan oleh dua hal.
Pertama: selalu
berupaya menghisab diri, sebelum dirinya kelak dihisab oleh Allah SWT.
Kedua:
sungguh-sungguh beramal shalih sebagai bekal untuk kehidupan sesudah mati. Dua
hal inilah yang disabdakan oleh Rasulullah
SAW, ”Orang cerdas adalah orang yang selalu menghisab dirinya dan beramal
shalih untuk bekal kehidupan setelah mati. Orang lemah adalah orang yang selalu
memperturutkan hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah SWT.” (HR
at-Tirmidzi, Ahmad, Ibn Majah dan al-Hakim).
Ketiga:
meninggalkan hal-hal yang sia-sia sebagaimana
sabda Nabi SAW, ”Di antara kebaikan keislaman
seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tak berguna.” (HR
at-Tirmidzi). Jika yang tak berguna saja—meski halal—ia
tinggalkan, apalagi yang haram.Itulah di antara wujud sikap muraqabah. Semoga
kita adalah pelakunya.).[Memelihara Sikap MuraqabahMediaummat.com.Thursday, 14
April 2011 10:09].
Dari Ibn ‘Abbas RA., dia
berkata, “Suatu hari aku berada di belakang Nabi SAW., lalu beliau bersabda, ‘Wahai
Ghulam, sesungguhnya ku ingin mengajarkanmu beberapa kalimat (nasehat-nasehat),
‘Jagalah Allah, pasti Allah menjagamu, jagalah Allah, pasti kamu mendapatinya
di hadapanmu, bila kamu meminta, maka mintalah kepada Allah dan bila kamu minta
tolong, maka minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah, bahwa jikalau ada
seluruh umat berkumpul untuk memberikan suatu manfa’at bagimu, maka mereka
tidak akan dapat memberikannya kecuali sesuatu yang telah ditakdirkan Allah
atasmu, dan jikalau mereka berkumpul untuk merugikanmu (membahayakanmu) dengan
sesuatu, maka mereka tidak akan bisa melakukan itu kecuali sesuatu yang telah
ditakdirkan Allah atasmu. Pena-pena (pencatat) telah diangkat dan
lembaran-lembaran telah kering.” (HR. at-Turmudzy, dia berkata, ‘Hadits
Hasan Shahih’. Hadits ini juga diriwayatkan Imam Ahmad)
Al-Hafizh Ibn Rajab RAH., berkata, “Hadits ini
mencakup beberapa wasiat agung dan kaidah Kulliyyah (menyeluruh) yang
termasuk perkara agama yang paling urgen. Saking urgennya, sebagian ulama
pernah berkata, ‘Aku sudah merenungi hadits ini, ternyata ia begitu membuatku
tercengang dan hampir saja aku berbuat sia-sia. Sungguh, sangat disayangkan
sekali bila buta terhadap hadits ini dan kurang memahami maknanya.” (Lihat, Jaami’
al-‘Uluum, Jld.I, h.483)
Berkaitan dengan hadits
tersebutProf.Dr.Faalih bin Muhammad ash-Shaghiir memberikan beberapa pesan
untuk kita semua, pesan itu terangkum dalam buku beliau yang berjudul Silsilah Manaahij Dawraat al-‘Uluum
asy-Syar’iyyah –al-Hadiits- Fi`ah an-Naasyi`ah, yaitu;
1. Hadits di atas menunjukkan
perhatian khusus Nabi SAW., terhadap umatnya dan kerja karas beliau di dalam
menumbuhkan mereka di atas ‘aqidah yang benar dan akhlaq mulia. Di sini (dalam
hadits) beliau mengajarkan si bocah ini –yang tak lain adalah Ibn ‘Abbas-
beberapa nasehat dalam untaian yang singkat namun padat makna.
2. Di antara isi wasiat ini
adalah agar menjaga Allah Ta’ala, yaitu dengan menjaga Hudud-Nya,
hak-hak, perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya. Menjaga hal itu dapat
direalisasikan dengan melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi segala
larangan-Nya dan tidak melanggar apa yang diperintahkan dan diizinkan-Nya
dengan melakukan apa yang dilarang-Nya. Allah Ta’ala berfirman, “Inilah yang
dijanjikankepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada
Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang
takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan
dia datang dengan hati yang bertaubat.” (Q.s.,Qaaf:32-33)
3. Di antara hal yang terdapat
perintah agar menjaganya secara khusus adalah shalat sebagaimana firman-Nya, “Jagalah
segala shalat(mu), dan (jagalah) shalat Wustha.” (Q.s.,al-Baqarah:238), dan
thaharah (kesucian) sebagaimana bunyi hadits Rasulullah SAW., “Beristiqamahlah
(mantaplah) sebab kamu tidak akan mampu menghitung-hitung. Dan ketahuilah bahwa
sebaik-baik pekerjaan kamu adalah shalat sedangkan yang bisa menjaga wudlu itu
hanya seorang Mukmin.” (HR.Ibn Majah). Di antaranya juga adalah sumpah
sebagaimana firman-Nya, “Dan jagalah sumpahmu.” (Q.s., al-Maa`idah:89)
4. Di antara penjagaan yang diberikan oleh
Allah adalah penjagaan-Nya terhadapnya di dalam kehidupan dunia dan akhirat:
a. Allah menjaganya di dunia,
yaitu terhadap badannya, anaknya dan keluarganya sebagaimana firman-Nya, “Bagi
manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya di muka dan di
belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.” (Q.s., ar-Ra’d:11).
Ibn ‘Abbas RA., berkata, “Mereka itu adalah para malaikat yang menjaganya atas
perintah Allah. Dan bila takdir telah tiba, mereka pun meninggalkannya.”
(Dikeluarkan oleh ‘Abduurrazzaq, al-Firyaaby, Ibn Jarir, Ibn al-Mundzir dan Ibn
Abi Haatim sebagai yang disebutkan di dalam kitab ad-Durr al-Mantsuur,
Jld.IV, h.614). Allah juga menjaganya di masa kecil, muda, kuat, lemah, sehat
dan sakitnya
. b. Allah juga menjaganya di
dalam agama dan keimanannya. Dia menjaganya di dalam kehidupannya dari
syubhat-syubhat yang menyesatkan dan syahwat yang diharamkan.
c. Allah juga menjaganya di dalam kubur dan
setelah alam kubur dari kengerian dan derita-deritanya dengan menaunginya pada
hari di mana tiada naungan selain naungan-Nya
5. Di antara penjagaan Allah
lainnya terhadap hamba-Nya adalah menganugerahinya ketenangan dan kemantapan
jiwa sehingga dia selalu berada di dalam penyertaan khusus Allah. Mengenai hal
ini, Allah berfirman ketika menyinggung tentang Musa dan Harun AS., “Janganlah
kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku berserta kamu berdua; Aku mendengar dan
melihat.” (Q.s., Thaaha:46) Demikian juga dengan yang terjadi terhadap Nabi dan
Abu Bakar ash-Shiddiq saat keduanya berhijrah dan berada di gua, Rasulullah
SAW., bersabda, “Apa katamu terhadap dua orang di mana Yang Ketiganya adalah
Allah? Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita.”
(HR.Bukhari, Muslim dan at-Turmudzy)
6. Seorang Muslim wajib
mengenal Allah Ta’ala, ta’at kepada-Nya dan selalu mengadakan kontak dengan-Nya
dalam semua kondisinya sebab orang yang mengenal Allah di dalam kondisi
sukanya, maka Allah akan mengenalnya di dalam kondisi sulitnya dan saat dia
berhajat kepada-Nya
7. Terkadang ada orang yang tertipu dengan
kondisi kuat, fit, muda, sehat dan kayanya namun sesungguhnya nasib orang yang
demikian ini hanyalah kerugian, kesia-siaan dan celaka
8. Seorang harus selalu antusias untuk
memperbanyak meminta pertolongan kepada Allah dan memohon kepada-Nya dalam
semua kondisi dan situasi yang dihadapinya. Hendaklah dia tidak memohon kepada
selain-Nya terhadap hal tidak ada yang mampu melakukannya selain Allah seperti
meminta kepada para wali yang shalih, orang mati dan sebagainya. Allah
berfirman, “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu pula kami
meminta tolong.” (Q.s., al-Fatihah:5)
9. Sesungguhnya apa-apa yang menimpa seorang
hamba di dunia, baik yang mencelakakan dirinya atau yang menguntungkannya;
semuanya itu sudah ditakdirkan atasnya. Dan tidaklah menimpa seorang hamba
kecuali takdir-takdir yang telah dicatatkan atasnya di dalam kitab catatan amal
sekalipun semua makhluk berupaya untuk melakukannya (mencelakan dirinya atau
memberikan manfa’at kepadanya). Allah berfirman, “Katakanlah, sekali-kali
tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi
kami.” (Q.s.,at-Taubah:51)
10. Bila seorang hamba telah mengetahui bahwa
tidak akan ada yang dapat menimpanya baik berupa kebaikan, keburukan, hal yang
bermanfa’at atau pun membahayakannya kecuali apa yang telah ditakdirkan oleh
Allah darinya, serta mengetahui bahwa seluruh upaya yang dilakukan semua
makhluk karena bertentangan dengan hal yang ditakdirkan tidak akan ada gunanya
sama sekali; maka ketika itulah dia akan mengetahui bahwa hanya Allah semata
Yang memberi mudlarat, Yang menjadikan sesuatu bermanfa’at, Yang Maha Memberi
atau pun Menahannya. Sebagai konsekuensi dari semua itu, seorang hamba mestilah
mentauhidkan Rabbnya dan menunggalkan-Nya dalam berbuat keta’atan dan menjaga Hudud-Nya.
11. Seorang Muslim harus
menghadapi takdir-takdir Allah yang tidak mengenakkannya dengan penuh keridlaan
dan kesabaran agar bisa meraih pahala atas hal itu. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya
orang-orang yang bersabar akan diganjari pahala mereka dengan tanpa hisab
(perhitungan).” (Q.s., az-Zumar:10). Dan dalam sebuah hadits, Rasulullah
SAW., bersabda, “Sungguh aneh kondisi seorang Mukmin; sesungguhnya semua
kondisinya adalah baik, jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur; maka itu
adalah baik baginya. Dan bila ia ditimpa hal yang tidak menguntungkannya
(kemudlaratan), ia bersabar; maka itu adalah baik (pula) baginya.”
(HR.Muslim)
12. Seorang Muslim tidak boleh
dihantui keputusasaan dan pupus harapan terhadap rahmat Allah ketika mengalami
suatu problem atau musibah. Ia harus bersabar dan mengharap pahala dari Allah
atas hal itu serta bercita-cita agar mendapatkan kemudahan (jalan keluar) sebab
sesungguhnya kemenangan itu bersama kesabaran dan bersama kesulitan itu ada
kemudahan.( Silsilah Manaahij Dawraat
al-‘Uluum asy-Syar’iyyah –al-Hadiits- Fi`ah an-Naasyi`ah, karya
Prof.Dr.Faalih bin Muhammad ash-Shaghiir, h.104-109)
Meraih taqwa tidaklah mudah, harus
melalui perjuangan yang panjang dan mengerahkan segala potensi yang ada, tapi
menjaga taqwapun tidaklah semudah mendapatkannya, harus dijaga dengan
sebaik-baiknya, salah satunya dengan muraqabah, bila tidak ada sifat muraqabah
di hati orang bertaqwa maka dalam waktu singkat bahkan hal itu sudah menandakan
taqwanya sudah lenyap dari dirinya, Wallahu a’lam [Cubadak Solok, 15 Syawal
1432.H/ 13 September 2011.M].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar