Islam mengajarkan
kepada kita serta menuntut ummat ini untuk masuk Islam secara kaffah artinya
total, tidak boleh setengah-setengah, jangan sampai campur baur dengan ajaran
lain yang nyata-nyata menyesatkan. Dalam firman-Nya Allah menyatakan “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu
ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan.
Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”.[Al Baqarah 2;208].
Bila tidak mau
masuk kedalam Islam secara total, walaupun hanya sedikit saja penyimpangan itu
maka pasti telah mengikuti langkah-langkah syaitan, karena syaitan tidak mau
membiarkan ummat islam komitmen dengan nilai aqidah yang tauhid, untuk itulah
syaitan berupaya menanamkan nilai-nilai kesesatan itu berbentuk indah dan
menarik hati dengan bentuk pemikiran dan pengamalan yang diada-adakan, sehingga kesesatan itu tidak jelas sesatnya
bagi masyarakat awam.
“iblis
berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat,
pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka
bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba
Engkau yang mukhlis di antara mereka".[Al Hijr 15;39-40].
Hanya
orang-orang yang mukhlis yang selamat dari tipudaya iblis yaitu orang yang bersih aqidahnya dari nilai-nilai
syirik, yang selamat ibadahnya dari bid’ah. Tapi bagi yang mudah dicengkram
tipudaya iblis mereka terlibat dalam bentuk-bentuk kesesatan yang dibungkus
dengan argumentasi tidak berdasar seperti ajaran Syi’ah, Ahmadiyah, Tarekat dan
Tasauf atau Sufi.
Tentang
kapan awal munculnya tasawuf, Ibnul Jauzi mengemukakan, yang
pasti, istilah sufi muncul sebelum tahun 200H. Ketika pertama kali
muncul, banyak orang yang membicarakannya dengan berbagai
ungkapan. Alhasil, tasawuf dalam pandangan mereka merupakan
latihan jiwa dan usaha mencegah tabiat dari akhlak-akhlak yang hina lalu
membawanya ke akhlak yang baik, hingga mendatangkan pujian di dunia dan pahala
di akherat.
Begitulah yang
terjadi pada diri orang-orang yang pertama kali memunculkannya. Lalu datang
talbis Iblis (tipuan mencampur adukkan yang haq dengan yang batil
hingga yang batil dianggap haq) terhadap mereka (orang sufi) dalam berbagai
hal. Lalu Iblis memperdayai orang-orang setelah itu daripada pengikut
mereka. Setiapkali lewat satu kurun waktu, maka
ketamakan Iblis untuk memperdayai mereka semakin
menjadi-jadi. Begitu seterusnya hingga mereka yang datang belakangan telah
berada dalam talbis Iblis.
Talbis Iblis yang pertama kali terhadap
mereka adalah menghalangi mereka mencari ilmu. Ia menampakkan
kepada mereka bahwa maksud ilmu adalah amal. Ketika
pelita ilmu yang ada di dekat mereka dipadamkan, mereka pun
menjadi linglung dalam kegelapan.
Di antara
mereka ada yang diperdaya Iblis, bahwa maksud yang
harus digapai adalah meninggalkan dunia secara total. Mereka pun menolak
hal-hal yang mendatangkan kemaslahatan bagi badan, mereka menyerupakan
harta dengan kalajengking, mereka berlebih-lebihan dalam
membebani diri, bahkan di antara mereka ada yang
sama sekali tidak mau menelentangkan badannya, terlebih lagi tidur.
Sebenarnya
tujuan mereka itu bagus. Hanya saja mereka meniti jalan yang tidak
benar dan diantara mereka ada yang karena minimnya ilmu, lalu berbuat
berdasarkan hadits-hadits maudhu` (palsu), sementara dia tidak mengetahuinya.
Orang-orang
sufi pada periode-periode pertama menetapkan
untuk merujuk (kembali) kepada Al-Quran dan As-Sunnah,
namun kemudian Iblis memperdayai mereka karena ilmu mereka yang sedikit
sekali.
Ibnul Jauzi
(wafat 597H) yang terkenal dengan bukunya Talbis Iblis menyebutkan
contoh, Al-Junaid (tokoh sufi) berkata, "Madzhab
kami ini terikat dengan dasar, yaitu Al-Kitab dan As-Sunnah."
Dia
(Al-Junaid) juga berkata, "Kami tidak mengambil tasawuf
dari perkataan orang ini dan itu, tetapi dari rasa lapar, meninggalkan dunia,
meninggalkan kebiasan sehari-hari dan hal-hal yang dianggap baik. Sebab
tasawuf itu berasal dari kesucian mu'amalah (pergaulan) dengan Allah dan
dasarnya adalah memisahkan diri dari dunia."
Komentar
Ibnul Jauzi, jika seperti ini yang dikatakan para
syeikh mereka, maka dari syeikh-syeikh yang lain muncul banyak
kesalahan dan penyimpangan, karena mereka menjauhkan diri
dari ilmu.
Jika memang
begitu keadaannya, lanjut Ibnul Jauzi, maka mereka harus disanggah,
karena tidak perlu ada sikap manis muka dalam menegakkan
kebenaran. Jika tidak benar, maka kita tetap harus
waspada terhadap perkataan yang keluar dari golongan mereka.
Dicontohkan
suatu kasus, Imam Ahmad bin Hanbal (780-855M)
pernah berkata tentang diri Sary As-Saqathy, "Dia seorang syeikh
yang dikenal karena suka menjamu makanan." Kemudian
ada yang mengabarinya bahwa dia berkata, bahwa tatkala Allah
menciptakan huruf-huruf, maka huruf ba' sujud kepada-Nya. Maka
seketika itu pula Imam Ahmad berkata: "Jauhilah dia!"
(Ibnul Jauzi, Talbis Iblis, Darul Fikri, 1368H, hal 168-169).
Ibnul Jauzi (w
597H) dalam Kitabnya, Talbis Iblis mencontohkan betapa ekstrimnya bualan orang sufi,
hingga melewati batas dan menentang Allah SWT.
Karena orang-orang sufi jauh dari ilmu, ungkap Ibnul Jauzi, maka perhatian mereka tertuju kepada amal, lalu mereka sepakat menunjukkan kelemahlembutan yang menyerupai karamah, lalu mereka mengeluarkan berbagai macam bualan.
Karena orang-orang sufi jauh dari ilmu, ungkap Ibnul Jauzi, maka perhatian mereka tertuju kepada amal, lalu mereka sepakat menunjukkan kelemahlembutan yang menyerupai karamah, lalu mereka mengeluarkan berbagai macam bualan.
Diriwayatkan,
Abu Yazid Al-Busthamy (tokoh sufi) berkata, "Aku ingin andaikata
saja hari Kiamat sudah tiba, sehingga aku bisa memancangkan kemah
di Neraka Jahannam.""Mengapa begitu wahai Abu Yazid?" tanya
seseorang.Dia menjawab, "Sebab aku tahu bahwa jika Jahannam
melihatku, maka apinya akan padam, sehingga aku bisa menolong orang
lain."
Abu Musa
As-Syibli berkata, saya mendengar Abu Yazid berkata: "Apabila
telah ada hari Kiamat dan Dia memasukkan ahli surga ke surga
dan ahli neraka ke neraka, maka mintakanlah padaNya untuk
memasukkanku ke neraka. Lalu ditanyakan padanya (Abu
Yazid), kenapa? Dia berkata: "Sehingga para makhluk tahu bahwa
kebaikan-Nya dan kelemahlembutanNya di dalam neraka menyertai para
wali-Nya."
Komentar Ibnul
Jauzi: "Benar-benar perkataan yang sangat menjijikkan, karena dia
telah menghinakan apa yang diagungkan Allah, yaitu perintah-Nya
kepada Neraka.
Abdur
Rahman Abdul Khaliq, dalam bukunya Al-Fikrus Shufi fi Dhauil
Kitab was Sunnah menegaskan, tidak diketahui secara tepat siapa
yang pertama kali menjadi sufi di kalangan ummat Islam.
Imam Syafi'i ketika memasuki kota Mesir mengatakan, "Kami tinggalkan
kota Baghdad sementara di sana kaum zindiq (menyeleweng; aliran
yang tidak percaya kepada Tuhan, berasal dari
Persia; orang yang menyelundup ke dalam Islam,
berpura-pura --menurut Leksikon Islam, 2, hal 778) telah mengadakan
sesuatu yang baru yang mereka namakan assama' (nyanyian).
Kaum
zindiq yang dimaksud Imam Syafi'i adalah orang-orang
sufi. Dan assama' yang dimaksudkan adalah nyanyian-nyanyian yang mereka
dendangkan. Sebagaimana dimaklumi, Imam Syafi'i masuk
Mesir tahun 199H.
Perkataan Imam
Syafi'i ini mengisyaratkan bahwa masalah nyanyian merupakan masalah baru.
Sedangkan kaum zindiq tampaknya sudah dikenal sebelum itu.
Alasannya, Imam Syafi'i sering berbicara tentang mereka di
antaranya beliau mengatakan:"Seandainya seseorang menjadi sufi pada
pagi hari, maka siang sebelum dhuhur ia menjadi orang yang dungu."
Dia (Imam
Syafi'i) juga pernah berkata: "Tidaklah seseorang menekuni tasawuf selama
40 hari, lalu akalnya (masih bisa) kembali normal selamanya."
Semua ini,
menurut Abdur Rahman Abdul Khaliq, menunjukkan bahwa
sebelum berakhirnya abad kedua Hijriyah terdapat
satu kelompok yang di kalangan ulama Islam dikenal
dengan sebutan Zanadiqoh (kaum zindiq), dan terkadang dengan
sebutan mutashawwifah (kaum sufi).
Imam Ahmad
(780-855M) hidup sezaman dengan Imam Syafi'i (767-820M), dan pada
mulanya berguru kepada Imam Syafi'i. Perkataan Imam Ahmad
tentang keharusan menjauhi orang-orang tertentu yang berada dalam
lingkaran tasawuf, banyak dikutip orang. Di antaranya ketika
seseorang datang kepadanya sambil meminta fatwa tentang perkataan
Al-Harits Al-Muhasibi (tokoh sufi, meninggal 857M).
Lalu Imam Ahmad bin Hanbal berkata:"Aku nasihatkan kepadamu,
janganlah duduk bersama mereka (duduk dalam majlis
Al-Harits Al-Muhasibi)".
Imam Ahmad
memberi nasihat seperti itu karena beliau telah melihat
majlis Al-Harits Al-Muhasibi. Dalam majlis itu
para peserta duduk dan menangis --menurut mereka-- untuk
mengoreksi diri. Mereka berbicara atas dasar bisikan hati yang jahat.
(Perlu kita cermati, kini ada kalangan-kalangan muda yang
mengadakan daurah/penataran atau halaqah /pengajian, lalu mengadakan
muhasabatun nafsi/ mengoreksi diri, atau mengadakan apa yang mereka
sebut renungan, dan mereka menangis tersedu-sedu, bahkan ada yang
meraung-raung. Apakah perbuatan mereka itu ada dalam
sunnah Rasulullah saw? Ataukah memang mengikuti kaum sufi itu?).
Pada abad keenam
Hijriyah muncul beberapa tokoh tasawuf, masing-masing mengaku bahwa
dirinya keturunan Rasulullah SAW, kemudian mendirikan tempat thariqat
sufiyah dengan pengikutnya yang tertentu. Di Irak muncul thariqat
sufiyah Ar-Rifa`i (Rifa'iyah); di Mesir muncul Al-Badawi,
yang tidak diketahui siapa ibunya, siapa bapaknya, dan siapa keluarganya;
demikian juga Asy-Syadzali (Syadzaliyah/ Syadziliyah) yang muncul di Mesir.
Dari thariqat-thariqat tersebut muncul banyak cabang thariqat sufiyah.
Pada abad
keenam, ketujuh, dan kedelapan Hijriyah fitnah
sufisme mencapai puncaknya. Kaum Sufi mendirikan
kelompok-kelompok khusus, kemudian di berbagai tempat dibangun
kubah-kubah di atas kuburan. Semua itu terjadi setelah tegaknya Daulah Fathimiyah
(kebatinan) di Mesir, dan setelah perluasan kekuasaan ke
wilayah-wilayah dunia Islam. Lalu, kuburan-kuburan palsu muncul, seperti
kuburan Husain bin Ali radliyallahu `anhuma di Mesir, dan kuburan Sayyidah
Zainab. Setelah itu, mereka mengadakan peringatan maulid Nabi,
mereka melakukan bid`ah-bid`ah dan khufarat-khufarat. Pada akhirnya
mereka meng-ilahkan (menuhankan) Al-Hakim Bi-Amrillah Al-Fathimi Al-Abidi.
Propaganda
yang dilakukan oleh Daulah Fathimiyah tersebut
berawal dari Maghrib (Maroko), mereka menggatikan
kekuasaan Abbasiyah yang Sunni. Daulah Fathimiyah berhasil
menggerakkan kelompok Sufi untuk memerangi dunia Islam. Pasukan-pasukan
kebatinan tersebut kemudian menjadi penyebab utama berkuasanya pasukan salib
(Kristen Eropa) di wilayah-wilayah Islam.
Pada abad kesembilan, kesepuluh, dan
kesebelas Hijriyah, telah muncul berpuluh-puluh thariqat
sufiyah, kemudian aqidah dan syari`at Sufi tersebar di
tengah-tengah umat. Keadaan yang merata berlanjut sampai masa kebangkitan Islam
baru.[Sejarah dan fitnah Tasauf, Dari berbagai sumber Internet].
Beberapa
komentar tentang tasawwuf akan menjelaskan bahwa
sebenarnya tasawwuf itu berasal dari luar Islam. Berikut
ini komentar para ulama dan ilmuwan yang menyoroti tasawwuf.
Syaikh Ihsan Ilahi Dhahir rahimahullah
menulis:
"Ketika
kita memperhatikan dengan teliti tentang ajaran sufi yang
pertama dan terakhir, serta pendapat-pendapat yang dikutip dan
diakui oleh mereka di dalam kitab-kitab sufi, baik yang lama maupun
yang baru, maka kita akan melihat dengan jelas perbedaan yang jauh
antara sufi dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Begitu juga kita tidak
melihat adanya bibit-bibit sufi di dalam perjalanan hidup Nabi saw
dan para sahabat beliau, yang mereka itu adalah (sebaik-baik)
pilihan Allah dari kalangan makhluk-Nya. Tetapi kita bisa melihat
bahwa sufi diambil dari percikan kependetaan Nasrani, Brahmana
(Hindu), Yahudi, dan kezuhudan Agama Budha." (Ihsan Ilahi Dhahir,
At-Tashawwuf al-Mansya' wal Mashadir hal 27, seperti dikutip Syaikh Dr Shalih
bin Fauzan Al-Fauzan, Haqiqatut Tashawwuf / diterjemahkan menjadi
Hakikat Tasawuf, Pustaka As-Salaf, Cet I, 1998/ 1419H, hal 19).
Komentar ilmuwan lainnya hampir
sama.
"Jelas
bahwa tasawwuf memiliki pengaruh dari kehidupan para pendeta
Nasrani, mereka suka memakai pakaian dari bulu domba dan berdiam di
biara-biara. Dan ini banyak sekali.Islam memutuskan kebiasaan ini ketika
Islam membebaskan setiap negeri dengan tauhid." (Dr
Shobir Tho'imah, Ash-Shufiyyah Mu'taqadan wa Maslakan, Riyadh, Cet I,
1985M/ 1405H, hal 25, ibid hal 19).
Lebih jelas
lagi, komentar berikut ini: "Sesungguhnya tasawwuf itu
adalah tipuan/ makar paling hina dan tercela. Syetan
telah membuatnya untuk menipu para hamba Allah dan
memerangi Allah 'Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Sesungguhnya tasawwuf
adalah topeng kaum Majusi agar ia terlihat sebagai orang yang
Rabbani (taat pada Tuhan), bahkan juga topeng semua
musuh agama ini (Islam). Bila diteliti ke dalam akan ditemui di dalamnya
(ajaran kaum sufi, ed) ada Brahmaisme, Budhisme, Zaratuisme,
Platoisme, Yahudisme, Nasranisme, dan Paganisme/ Berhalaisme."
(Syaikh Abdur Rahim Al-Wakil rahimahullah, Mashra'ut Tashawwuf, hal
19, ibid hal 19).
Syaikh Al-Fauzan
menyimpulkan:
"Jelaslah
bahwa sufi adalah ajaran (dari) luar yang menyusup ke dalam
Islam. Hal itu tampak dari kebiasaan-kebiasaan yang
dinisbatkan kepadanya. Sufi adalah suatu ajaran yang asing (aneh) di dalam
Islam dan jauh dari petunjuk Allah 'Azza wa Jalla.
Yang
dimaksud dengan kalangan sufi yang belakangan
adalah mereka yang sudah banyak berisi dengan kebohongan.
Adapun sufi yang dahulu, mereka masih berada di dalam keadaan
netral, seperti Al-Fudhail bin 'Iyadh, Al-Junaid, Ibrahim bin Adham
dan lain-lain." (Syaikh Dr Shalih bin Fauzan Al-Fauzan,
terjemah Hakikat Tasawwuf, hal 20).
Pada hakekatnya
ajaran tasawuf yang dianut umat Islam bercorak panteistis, hasil dari konsepsi
filsafat yang disebut monisme.Yaitu konsepsi yang menyatakan bahwa Tuhan dan
alam adalah satu.Bahkan jika diurut-urut lebih jauh, konsepsi monisme dengan
panteismenya ternyata bersumber dari ajaran Hindu.
Drs H Abdul
Qadir Djaelani seorang da'i yang pernah mendekam di penjara di masa Soeharto
akibat menentang asas tunggal Pancasila dsb, produktif menulis buku (kini
sekitar 14 buku diantaranya menanggapi pendapat-pendapat pembaharu/
neomodernis) ini merasa gemas melihat merebaknya tasawuf dan tarekat di
kalangan umat Islam. Dia menulis kritik tajam terhadap tasawuf dalam buku yang
berjudul Koreksi terhadap Ajaran Tasawuf diterbitkan GIP Jakarta, cet I 1996,
240 halaman. Dia menohok tokoh-tokoh tasawwuf yang ia nilai melenceng dari
Islam seperti Al-Hallaj yang dibunuh oleh para ulama dan Ibnu Arabi yang
dikafirkan oleh para ulama.
Berbagai metode
ajaran tasawuf dibelejeti dalam buku ini, yang menurut Abdul Qadir (AQ)
menyimpang dari Islam seperti zuhud, bai'at dan ketaatan mutlak, wasilah dan
rabithah, serta uzlah dan khalwat. Ia juga menghujat praktik ekstase (junun)
yang dilakukan para sufi (orang tasawuf).
Secara tegas, AQ
mengawali bukunya dengan ungkapan yang menyentak, bahwa teori-teori yang
diajarkan oleh berbagai macam aliran tasawuf, baik teori wihdatil wujud,
wihdatus syuhud, al-ittihad, al-ittishal, al-hulul, atau al-liqa', semuanya
bersifat panteistis.Itu ujung-ujungnya adalah ajaran Hindu yang berpengaruh
terhadap Yunani kuno dan kemudian diambil ke tasawuf Islam lewat
penerjemahan-penerjemahan yang kebanyakan dilakukan oleh orang-orang Kristen
zaman kekhalifahan abad kedua Hijriah.
Cukup banyak
para orientalis yang berpendapat bahwa tasawuf berasal dari tradisi pemikiran
Yunani.Para orientalis yang berpendapat seperti ini lebih menaruh perhatian
terhadap tasawuf yang mulai muncul pada abad ketiga Hijriah, lewat Dzun Nun
al-Mishri, wafat 245H. (hal 19).
Muhammad
Al-Bahiy (intelektual Islam Mesir, pen) menyatakan tentang adanya intervensi
(penyusupan) alam pikiran asing, seperti paganisme Mesir, agama Budha, agama
Hindu, agama Zaratrusta, ajaran Manu, Kristen, Yahudi, dan filsafat Yunani.
Dalam
kaitan ini secara khusus filsafat Yunani telah:
1.
Menimbulkan aliran-aliran filsafat di antaranya:
a.
filsafat metafisika yang diwakili oleh Ibnu Sina di Timur dan Ibnu Rusyd di
Barat;
b.
filsafat alam (fisika) yang diwakili oleh Abu Bakar ar-Razi. c. filsafat
emanasi yang diwakili oleh Suhrawardi.
2. Membantu kelahiran:
a.
tasawuf zuhud yang diwakili oleh Abdul Haris al-Muhasibi;
b.
tasawuf filsafat yang diwakili oleh al-Ghazali; c. tasawuf India, Kristen, dan
neoplatonisme yang diwakili oleh Ibnu Arabi, Ibnu Sab'in, dan al-Hallaj.
Selanjutnya, AQ membuktikan bahwa esensi ajaran tasawuf dan praktik-praktik amaliahnya berasal dari asing, yakni Kristen, Yunani, dan Hindu, maka secara prinsipil bertentangan dengan Islam.
Kalau Abdul Qadir Djaelani membuktikannya dengan buku setebal 240 halaman, maka secara mudah ulama tua KH Ghofar Isma'il (almarhum, ayah penyair dr Taufik Isma'il) dalam ceramah-ceramah pengajian tafsirnya cukup menjelaskan pada umat, kalau ada guru yang memberikan amalan-amalan (lafal-lafal dzikir) untuk dibaca sekian kali, itu harus dilandasi hadits yang shohih. Bila tidak, maka perlu diragukan kebenarannya.[Mengoreksi Ajaran Tasauf, dari berbagai sumber].
DR.Yusuf Al-Qardhawi dalam tulisannya
Tasauf Diantara Pemuji dan Pengelak, mengatakan tentang sufi dan tasauf
diantaranya;
Di
antara yang tampak dari penyimpangan sebagian orang-orang sufi adalah sebagai
berikut:
1. Dijadikannya wijid (perasaan) dan ilham sebagai ukuran untuk dasar pengetahuan dan lain-lain; juga dapat dijadikanukuran untuk membedakan antara yang benar dan salah. Sehingga sebagian ada yang berkata, "Aku diberi tahu oleh hati dari Tuhanku (Allah)."Berbeda dengan ungkapan dari ahli sunnah bahwa apabila mereka meriwayatkan ini dari si Fulan, si Fulan sampai kepada Rasulullah SAW.
2. Dibedakannya antara syariat dan hakikat, antara hukum Islam dan yang bebas dari hukumnya.
3. Dikuasai oleh paham Jabariah dan Salabiah, sehingga dapat mempengaruhi iman dan akidah mereka, dimana manusia mutlak dikendalikannya. Maka tidak perlu lagi melawan dan selalu bersikap pasif, tidak aktif.
Tidak dihargainya dunia dan perkembangannya. Apa yang ada di dunia dianggapnya sepele, padahal ayat Al-Qur,an telah menyatakan: "...dan janganlah kamu melupakan akan nasibmu (kebahagiaanmu) dari (kenikmatan) dunia..." (QS Al-Qashash: 77).
Pikiran dan teori di atas telah tersebar dan dipraktikkan dimana-mana, dengan dasar dan paham bahwa hal ini bagian dari Islam, ditetapkan oleh Islam, dan ada sebagian, terutama dari golongan intelektual, keduanya belum mengerti benar akan hal itu karena tidak mempelajarinya.
Sekali lagi kita tandaskan, bahwa orang sufi dahulu, selalu menyuruh jangan sampai menyimpang dari garis syariat dan hukum-hukumnya.
Ibnul Qayyim berkata mengenai keterangan dari tokoh-tokoh sufi, "Tokoh-tokoh sufi dan guru besar mereka, Al-Junaid bin Muhammad (297 H), berkata, 'Semua jalan tertutup bagi manusia, kecuali jalan yang dilalui Nabi SAW.'"
Al-Junaid pun berkata, "Barangsiapa yang tidak hafal Al-Qur'an dan menulis hadis-hadis Nabi saw. maka tidak boleh dijadikan panutan dan ditiru, karena ilmu kita (tasawuf) terikat pada kitab Al-Qur'an dan As-Sunnah."
Abu Khafs berkata, "Barangsiapa yang tidak menimbang amal dan segala sesuatu dengan timbangan Al-Kitab dan As-Sunnah, serta tidak menuduh perasaannya (tidak membenarkan wijid-nya), maka mereka itu tidak termasuk golongan kaum tasawuf."
Abu Yazid Al-Basthami berkata, "Janganlah kamu menilai dan tertipu dengan kekuatan-kekuatan yang luar biasa, tetapi yang harus dinilai adalah ketaatan dan ketakwaan seseorang pada agama dan syariat pelaksanaannya."[Tasawuf Diantara Pemuji dan Pengelak,Eramuslim.com.Kamis, 12 Mei 2011 19:04 WIB].
1. Dijadikannya wijid (perasaan) dan ilham sebagai ukuran untuk dasar pengetahuan dan lain-lain; juga dapat dijadikanukuran untuk membedakan antara yang benar dan salah. Sehingga sebagian ada yang berkata, "Aku diberi tahu oleh hati dari Tuhanku (Allah)."Berbeda dengan ungkapan dari ahli sunnah bahwa apabila mereka meriwayatkan ini dari si Fulan, si Fulan sampai kepada Rasulullah SAW.
2. Dibedakannya antara syariat dan hakikat, antara hukum Islam dan yang bebas dari hukumnya.
3. Dikuasai oleh paham Jabariah dan Salabiah, sehingga dapat mempengaruhi iman dan akidah mereka, dimana manusia mutlak dikendalikannya. Maka tidak perlu lagi melawan dan selalu bersikap pasif, tidak aktif.
Tidak dihargainya dunia dan perkembangannya. Apa yang ada di dunia dianggapnya sepele, padahal ayat Al-Qur,an telah menyatakan: "...dan janganlah kamu melupakan akan nasibmu (kebahagiaanmu) dari (kenikmatan) dunia..." (QS Al-Qashash: 77).
Pikiran dan teori di atas telah tersebar dan dipraktikkan dimana-mana, dengan dasar dan paham bahwa hal ini bagian dari Islam, ditetapkan oleh Islam, dan ada sebagian, terutama dari golongan intelektual, keduanya belum mengerti benar akan hal itu karena tidak mempelajarinya.
Sekali lagi kita tandaskan, bahwa orang sufi dahulu, selalu menyuruh jangan sampai menyimpang dari garis syariat dan hukum-hukumnya.
Ibnul Qayyim berkata mengenai keterangan dari tokoh-tokoh sufi, "Tokoh-tokoh sufi dan guru besar mereka, Al-Junaid bin Muhammad (297 H), berkata, 'Semua jalan tertutup bagi manusia, kecuali jalan yang dilalui Nabi SAW.'"
Al-Junaid pun berkata, "Barangsiapa yang tidak hafal Al-Qur'an dan menulis hadis-hadis Nabi saw. maka tidak boleh dijadikan panutan dan ditiru, karena ilmu kita (tasawuf) terikat pada kitab Al-Qur'an dan As-Sunnah."
Abu Khafs berkata, "Barangsiapa yang tidak menimbang amal dan segala sesuatu dengan timbangan Al-Kitab dan As-Sunnah, serta tidak menuduh perasaannya (tidak membenarkan wijid-nya), maka mereka itu tidak termasuk golongan kaum tasawuf."
Abu Yazid Al-Basthami berkata, "Janganlah kamu menilai dan tertipu dengan kekuatan-kekuatan yang luar biasa, tetapi yang harus dinilai adalah ketaatan dan ketakwaan seseorang pada agama dan syariat pelaksanaannya."[Tasawuf Diantara Pemuji dan Pengelak,Eramuslim.com.Kamis, 12 Mei 2011 19:04 WIB].
Dengan kenyataan demikian, maka
seharusnya para da’i, ulama dan mubaligh gencar untuk menggelar da’wah melalui
berbagai media untuk memberikan pengajaran yang benar terhadap islam sesuai
dengan asholahnya tanpa dicampuri oleh pengaruh-pengaruh lain seperti
Liberalisme, Sekulerisme, Pluralisme serta Tarekat dan Tasauf yang jelas-jelas
sesat dan menyesatkan. Aktivis dakwah dan kita semuanya berkewajiban untuk
meluruskan pemikiran yang salah kearah pemikiran yang benar dengan sumber yang
benar yaitu Al Qur’an dan Al Hadits, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 2 Agustus
2011.M/ 2 Ramadhan 1432.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar