Kehadiran ulama di
tengah-tengah ummat sangatlah diperlukan dalam rangka melanjutkan risalah yang
dibawa Nabi Muhammad, tidak ada yang diwariskan Rasul kepada ummat ini kecuali
ilmu agama yang diterima oleh para ulama, selain itu mereka adalah roang-orang
yang memang sudah dipersiapkan untuk memperjuangkan agama ini hingga tetes
darah penghabisan.
Mereka tidak takut
kepada siapapun dalam menyampaikan risalah ini kecuali kepada Allah, bentuk
rasa takut itu nampak pada pengabdiannya sehingga dia selalu tenggelam dalam
zikir dan ketundukan, dialah yang lebih mengerti tentang keperkasaan Allah
dengan segala kekuasaannya, dialah yang lebih dekat kepada Allah dibandingkan
dengan hamba lainnya; " Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha
Pengampun" [Fathir 35;28]
Ulama, hidupnya selalu dipenuhi dengan kegiatan Tu'allimu wa
tadrus yaitu belajar dan mengajar.
Dengan ilmunya dia mengajar masyarakat dan karena ilmu pula dia sibukkan dirinya
dengan belajar, keilmuannya sebagai bukti keulamaannya bagi ummat yang
dibimbingnya;"Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa
para ulama Bani Israil mengetahuinya?' [Asy Syu'ara 26;197]
Rasulullah telah membimbing kita dengan sabdanya "Ballighu
'anni walau ayah" sampaikanlah apa yang kau peroleh dariku meskipun
satu ayat". Dan memang tugas pokok ulama itu adalah menyampaikan ajaran
Allah kepada masyarakat agar hidup selalu berada di jalan yang lurus yaitu al
islam;"Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari
Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti)
kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan)
manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang
kafir." [Al Maidah 5;67]
Melalui penyampaian ajaran islam ke tengah masyarakat
itulahlah para ulama sekaligus
menjelaskan ajaran-ajaran Ilahi tersebut sesuai dengan tingkat ilmu dan iman
mereka sebagai mana kata Imam Al Gazali,"Bicaralah dengan manusia sesuai
dengan kadarnya".
Dua orang yang datang kepada Rasul untuk menyatakan
keislamannya, yang pertama diberi resep masuk islam hanya dengan ajaran supaya
jangan bohong, sedangkan orang yang kedua setelah mengucapkan shahadat nabi
menyuruhnya berjihad, inilah bijaksananya Rasul mengetahui kadar iman dan ilmu
ummatnya;"Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan kami
turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang
Telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan" [An Nahl
16;44]
Hadirnya ulama di tengah masyarakat selain menjelaskan
tentang ajaran Ilahi, dia juga untuk menyelesaikan persoalan yang terjadi di
tengah masyarakatnya dengan penuh bijaksana. Dialah tempat orang mendapat
solusi dari persoalan hidup yang dialami.
Sebenarnya tak satupun persoalan hidup yang tidak dapat
diselesaikan oleh ulama karena mereka punya ilmu yang bersandarkan pada dua
sandaran yang kuat yaitu Al Qur'an dan Sunnah "Manusia itu adalah umat
yang satu. (Setelah timbul perselisihan), Maka Allah mengutus para nabi,
sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang
benar, untuk memberi Keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka
perselisihkan" [Al Baqarah 2;213]
Begitu
besarnya peran ulama di dunia ini dalam rangka untuk membina dan membimbing
ummat ke jalan yang benar sehingga terasa benar pentingnya keberadaan di hati
ummat, namun banyak pula yang tidak suka dengan ulama yaitu orang-orang yang
perbuatannya tidak sesuai dengan keinginan ulama sehingga ada upaya dari
pihak-pihak tertentu untuk menyingkirkan ulama, memasukan ke penjara, di buang
jauh-jauh dari kehidupan ummat dan yang lebih tragis adalah melakukan
pembunuhan terhadap mereka.
Sebenarnya
bila ummat ini melakukan kedurhakaan atas ajaran yang disampaikan para ulama,
tidak mengindahkan fatwa-fatwanya, tidak
meneladani akhlak mulia yang dicontohkannya, maka Allah mendatangkan murkanya
kepada ummat ini dengan berbagai musibah dan bencana, salah satu bencana yang
dapat menyesatkan manusia adalah diwafatkannya para ulama, sebagaimana hadits
Rasulullah menyatakan,"Dari Urwah, [dia berkata, "Kami diberi
keterangan Abdullah bin Amr bin Ash,
[maka saya mendengar dia] berkata, 'Saya mendengar Rasulullah saw bersabda,
'Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu (agama) dengan serta-merta dari
hamba-hamba Nya. Tetapi,
Allah mencabutilmudenganmewafatkan (mematikan) ulama, sehingga Allah
tidakmenyisakan orang pandai.Maka, manusiamengambil orang-orang
bodohsebagaipemimpin.Lalu, merekaditanya, danmerekamemberi fatwa tanpailmu.
(Dan dalamsaturiwayat: makamerekamemberi fatwa denganpikirannyasendiri). Maka,
merekasesatdanmenyesatkan."
Dengan
wafatnya para ulama saja dapat mendatangkan bencana bagi ummat ini apalagi
terjadi pembunuhan terhadap mereka, sehingga dapat ditunggu bencana apa yang
akan terjadi kelak. Pembunuhan terhadap ulama sudah terjadi di masa Rasulullah,
ketika beliau mengirim 40 orang ulama untuk menyiarkan islam pada sebuah daerah
dijazirah Arab, di tengah perjalanan empat puluh orang itu disiksa dan dibunuh,
berkaitan dengan itulah Rasulullah berduka sehingga menyunnahkan membaca do'a
qunut ketika shalat.
Kevokalan
para ulama disumbat dengan berbagai ancaman dan intimidasi, mereka tidak boleh
dengan bebas menyampaikan kebenaran kepada rakyat, naskah ceramah atau khutbah
harus disensor dahulu orang penguasa, tidak boleh menyinggung kebijakan
pemerintah yang tidak bijak, bila ada ulama yang menyampaikan hal yang tidak
disukai penguasa maka jangan harapkan dikemudian hari bisa tampil lagi
menyampaikan da'wahnya.
Banyak ulama yang dipenjarakan oleh penguasa
zhalim sebagaimana Ibnu Taimiyyah, Abu Hanifah, Sayid Qutb, Muhamamd Qutb,
Aminah Qutb, Muhammad Al Gazali,
Muhammad Nasir, Buya Hamka, Abu Bakar Baashir dan masih banyak lagi yang harus
mendekam dalam penjara hanya karena mereka memperjuangkan Kalimat Allah, mereka adalah orang-orang yang berjuang tanpa
pamrih dunia, tidak ada ambisi pribadi yang mereka kedepankan, semuanya adalah
untuk kepentingan agama. Tapi para penzhalim, penguasa yang rendah akhlaknya merasa
terganggu dengan suara lantang ulama, yang
menyuarakan jeritan hati nurani ummat ini, apalagi ulama yang tidak mau diajak kompromi terhadap
kemaksiatan.
Pembunuhan
karakter ulama dilakukan dengan cara
mengadu-domba ulama melalui berbagai tudingan yang merusak citra seseorang, ada
ulama yang diisukan mengajarkan aliran sesat
hanya karena beda dalam hal fiqh, ulama yang dituding menghidup suburkan
poligami, hal itu terjadi karena tidak mengertinya penguasa dengan konsep
ajaran islam, tidak sedikit ulama yang di kerangkeng di luar penjara dengan
memberikan fasilitas dan finansial sehingga terbungkamlah kebebasannya dalam
menyuarakan kebenaran, ada juga ulama yang dimanfaatkan untuk kepentingan
politik penguasa sehingga da'wah yang disampaikan selalu pujian dan sanjungan
kepada penguasa tersebut sehingga tidak bedanya ulama tadi sebagai kacung
dan peliharaan sang penguasa.
Begitu juga,
tidak sedikit ulama yang harus mengakhiri hidupnya di tiang gantungan
sebagaimana Sayid Qutb, meregang nyawa dalam pengapnya penjara, ditembus peluru
serdadu jahanam, sebagaimana yang dialami oleh Hasan Al Banna, itu baru
segelintir contoh para ulama yang dizhalimi dan dibunuh oleh penguasa dan masih
banyak lagi yang mengalami nasib yang sama. Sampai-sampai karena banyaknya
mereka yang dibenamkan dalam penjara sehingga penjara bukan lagi tempat yang
menyeramkan tapi tempat pembinaan layaknya sebuah pesantren, namun tidak
menghilangkan kebengisan penguasa zhalim sehingga pesantren itu hanya tempat
belajar sebentar saja, sebagian dari para ulama yang mendekam dalam penjara itu
dihilaangkan malam hari yang akhirnya tidak diketahui lagi nasibnya.
Bahkan ada
pula ulama yang dibunuh bersamaan dengan ummat islam lainnya melalui pembunuhan
secara masal dalam beberapa kasus seperti peristiwa Tanjung Priok, Kasus Talang
Sari Jepara Lampung, Kasus Haor Koneng dan Kasus DOM di Aceh, semuanya
berlansung semasa zaman orde baru. Pembunuhan itu dilakukan tanpa hak, semuanya
dilakukan karena kebencian dan sikap takut dengan gerakan ulama yang semakin
gencar untuk memperbaiki negeri ini sehingga terlepas dari bencana, tapi malam
para ulama dahulu yang mengalaminya. Ironinya penguasa yang zalim itu juga
beragama islam tapi karena fobi terhadap islam sehingga tidak segan-segan
melakukan pembunuhan.
Dari 'Aisyah
Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam
bersabda: "Tidak halal membunuh seorang muslim kecuali salah satu dari
tiga hal: Orang yang telah kawin yang berzina, ia dirajam; orang yang membunuh
orang Islam dengan sengaja, ia dibunuh; dan orang yang keluar dari agama Islam
lalu memerangi Allah dan Rasul-Nya, ia dibunuh atau disalib atau dibuang jauh
dari negerinya." Riwayat Abu Dawud dan Nasa'i. Hadits shahih menurut
Hakim.
Pimpinan Ponpes Ansharullah, Ciamis, Jabar Fauzan
al-Anshari berpendapat, bencana yang datang karena dosa-dosa pemimpin yang
berbuat zalim, mereka menangkapi ulama-ulama dan aktivis, dan menangkap Ust Abu
Bakar Ba’asyir yang menasihati bangsa ini untuk kembali kepada syariat, tapi
malah ditangkap. Dan itukezaliman paling besar.“Karena
yang ditangkapitubukanpribadi Abu BakarBa’asyir, tapiapa yang diaperjuangkan.
Sementara orang yang berzinaseperti Ariel, Luna Maya, Cut Tari,
tidakdihukumdengansetimpal, apalagikoruptor,”katanya
Ketikaaktivis Islam
ditangkapi, diburu, bahkanditembakmatitanpa proses hukum (extra judicial
killing). Umat Islam pun merasaditeror, diintimidasi, danditindas,
sehinggatakutmenampakkandiri.Akibatnya, aktivisdanaktivitaskeislaman pun tiarap
di pelosoknegeri.Akibatlebihlanjut, kezalimandankeangkaramurkaan pun
leluasamelakukanpenistaan.
Ketikatidakadalagi
yang melakukanprotes, tidakadalagi yang menyuarakanamarma’rufnahimunkar,
makabumi pun meradang, mengelurkankekuatannya, melontarkansenjata yang ada di
dalamperutnya. Karenapadahakikatnya, bumi yang kitapijakadalahtentara Allah.
[Sabili No.7/Nofember 2010].
Sebenarnyakematianbagiparaulamabukanlahhal
yang ditakuti, tapikematian yang
terjadikarenakezhalimanpenguasasungguhmenusukhatinuraniummatislam,
halitutidakakanmenggoyahkankeistiqamahanparaulamadalammenghadapiujianhidup yang
dialaminya,
bilakezhalimaniniberlanjutterusmakadapatdipastikanbencanadanmusibahselaluhadir
di negerikitaini, wallahu a'lam[Cubadak Solok,
12 Zulhijjah 1431.H/ 19 Nofember 2010.M]
Referensi;
1.HaditsArbain
An Nawawi, SofyanEfendi, HaditsWeb 3.0,
2. Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
2. Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
3. Kumpulan Ceramah Praktis, Drs. Mukhlis Denros, 2009
4.1100
HaditsTerpilih, Dr. Muhammad FaizAlmath - GemaInsani Press
5.Majalah
Islam Sabili No.7/Nofember 2010]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar