Selasa, 24 November 2015

29. Andai Aku Tahu Membunuh Ulama Berdosa



Kehadiran ulama di tengah-tengah ummat sangatlah diperlukan dalam rangka melanjutkan risalah yang dibawa Nabi Muhammad, tidak ada yang diwariskan Rasul kepada ummat ini kecuali ilmu agama yang diterima oleh para ulama, selain itu mereka adalah roang-orang yang memang sudah dipersiapkan untuk memperjuangkan agama ini hingga tetes darah penghabisan.

 Mereka tidak takut kepada siapapun dalam menyampaikan risalah ini kecuali kepada Allah, bentuk rasa takut itu nampak pada pengabdiannya sehingga dia selalu tenggelam dalam zikir dan ketundukan, dialah yang lebih mengerti tentang keperkasaan Allah dengan segala kekuasaannya, dialah yang lebih dekat kepada Allah dibandingkan dengan hamba lainnya; " Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun" [Fathir 35;28]

Ulama, hidupnya selalu dipenuhi dengan kegiatan Tu'allimu wa tadrus  yaitu belajar dan mengajar. Dengan ilmunya dia mengajar masyarakat dan karena ilmu pula dia sibukkan dirinya dengan belajar, keilmuannya sebagai bukti keulamaannya bagi ummat yang dibimbingnya;"Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya?' [Asy Syu'ara 26;197]

Rasulullah telah membimbing kita dengan sabdanya "Ballighu 'anni walau ayah" sampaikanlah apa yang kau peroleh dariku meskipun satu ayat". Dan memang tugas pokok ulama itu adalah menyampaikan ajaran Allah kepada masyarakat agar hidup selalu berada di jalan yang lurus yaitu al islam;"Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir." [Al Maidah 5;67]

Melalui penyampaian ajaran islam ke tengah masyarakat itulahlah  para ulama sekaligus menjelaskan ajaran-ajaran Ilahi tersebut sesuai dengan tingkat ilmu dan iman mereka sebagai mana kata Imam Al Gazali,"Bicaralah dengan manusia sesuai dengan kadarnya".

Dua orang yang datang kepada Rasul untuk menyatakan keislamannya, yang pertama diberi resep masuk islam hanya dengan ajaran supaya jangan bohong, sedangkan orang yang kedua setelah mengucapkan shahadat nabi menyuruhnya berjihad, inilah bijaksananya Rasul mengetahui kadar iman dan ilmu ummatnya;"Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang Telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan" [An Nahl 16;44]

Hadirnya ulama di tengah masyarakat selain menjelaskan tentang ajaran Ilahi, dia juga untuk menyelesaikan persoalan yang terjadi di tengah masyarakatnya dengan penuh bijaksana. Dialah tempat orang mendapat solusi dari persoalan hidup yang dialami.

Sebenarnya tak satupun persoalan hidup yang tidak dapat diselesaikan oleh ulama karena mereka punya ilmu yang bersandarkan pada dua sandaran yang kuat yaitu Al Qur'an dan Sunnah "Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), Maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi Keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan" [Al Baqarah 2;213]

Begitu besarnya peran ulama di dunia ini dalam rangka untuk membina dan membimbing ummat ke jalan yang benar sehingga terasa benar pentingnya keberadaan di hati ummat, namun banyak pula yang tidak suka dengan ulama yaitu orang-orang yang perbuatannya tidak sesuai dengan keinginan ulama sehingga ada upaya dari pihak-pihak tertentu untuk menyingkirkan ulama, memasukan ke penjara, di buang jauh-jauh dari kehidupan ummat dan yang lebih tragis adalah melakukan pembunuhan terhadap mereka.

Sebenarnya bila ummat ini melakukan kedurhakaan atas ajaran yang disampaikan para ulama, tidak mengindahkan  fatwa-fatwanya, tidak meneladani akhlak mulia yang dicontohkannya, maka Allah mendatangkan murkanya kepada ummat ini dengan berbagai musibah dan bencana, salah satu bencana yang dapat menyesatkan manusia adalah diwafatkannya para ulama, sebagaimana hadits Rasulullah menyatakan,"Dari Urwah, [dia berkata, "Kami diberi keterangan  Abdullah bin Amr bin Ash, [maka saya mendengar dia] berkata, 'Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, 'Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu (agama) dengan serta-merta dari hamba-hamba Nya. Tetapi, Allah mencabutilmudenganmewafatkan (mematikan) ulama, sehingga Allah tidakmenyisakan orang pandai.Maka, manusiamengambil orang-orang bodohsebagaipemimpin.Lalu, merekaditanya, danmerekamemberi fatwa tanpailmu. (Dan dalamsaturiwayat: makamerekamemberi fatwa denganpikirannyasendiri). Maka, merekasesatdanmenyesatkan."

Dengan wafatnya para ulama saja dapat mendatangkan bencana bagi ummat ini apalagi terjadi pembunuhan terhadap mereka, sehingga dapat ditunggu bencana apa yang akan terjadi kelak. Pembunuhan terhadap ulama sudah terjadi di masa Rasulullah, ketika beliau mengirim 40 orang ulama untuk menyiarkan islam pada sebuah daerah dijazirah Arab, di tengah perjalanan empat puluh orang itu disiksa dan dibunuh, berkaitan dengan itulah Rasulullah berduka sehingga menyunnahkan membaca do'a qunut ketika shalat.

Kevokalan para ulama disumbat dengan berbagai ancaman dan intimidasi, mereka tidak boleh dengan bebas menyampaikan kebenaran kepada rakyat, naskah ceramah atau khutbah harus disensor dahulu orang penguasa, tidak boleh menyinggung kebijakan pemerintah yang tidak bijak, bila ada ulama yang menyampaikan hal yang tidak disukai penguasa maka jangan harapkan dikemudian hari bisa tampil lagi menyampaikan da'wahnya.

  Banyak ulama yang dipenjarakan oleh penguasa zhalim sebagaimana Ibnu Taimiyyah, Abu Hanifah, Sayid Qutb, Muhamamd Qutb, Aminah Qutb,  Muhammad Al Gazali, Muhammad Nasir, Buya Hamka, Abu Bakar Baashir dan masih banyak lagi yang harus mendekam dalam penjara hanya karena mereka memperjuangkan Kalimat Allah,  mereka adalah orang-orang yang berjuang tanpa pamrih dunia, tidak ada ambisi pribadi yang mereka kedepankan, semuanya adalah untuk kepentingan agama. Tapi para penzhalim, penguasa yang rendah akhlaknya merasa terganggu dengan suara lantang ulama, yang  menyuarakan jeritan hati nurani ummat ini, apalagi ulama yang  tidak mau diajak kompromi terhadap kemaksiatan.

Pembunuhan karakter ulama dilakukan dengan  cara mengadu-domba ulama melalui berbagai tudingan yang merusak citra seseorang, ada ulama yang diisukan mengajarkan aliran sesat  hanya karena beda dalam hal fiqh, ulama yang dituding menghidup suburkan poligami, hal itu terjadi karena tidak mengertinya penguasa dengan konsep ajaran islam, tidak sedikit ulama yang di kerangkeng di luar penjara dengan memberikan fasilitas dan finansial sehingga terbungkamlah kebebasannya dalam menyuarakan kebenaran, ada juga ulama yang dimanfaatkan untuk kepentingan politik penguasa sehingga da'wah yang disampaikan selalu pujian dan sanjungan kepada penguasa tersebut sehingga tidak bedanya ulama tadi sebagai kacung dan  peliharaan sang penguasa.

Begitu juga, tidak sedikit ulama yang harus mengakhiri hidupnya di tiang gantungan sebagaimana Sayid Qutb, meregang nyawa dalam pengapnya penjara, ditembus peluru serdadu jahanam, sebagaimana yang dialami oleh Hasan Al Banna, itu baru segelintir contoh para ulama yang dizhalimi dan dibunuh oleh penguasa dan masih banyak lagi yang mengalami nasib yang sama. Sampai-sampai karena banyaknya mereka yang dibenamkan dalam penjara sehingga penjara bukan lagi tempat yang menyeramkan tapi tempat pembinaan layaknya sebuah pesantren, namun tidak menghilangkan kebengisan penguasa zhalim sehingga pesantren itu hanya tempat belajar sebentar saja, sebagian dari para ulama yang mendekam dalam penjara itu dihilaangkan malam hari yang akhirnya tidak diketahui lagi nasibnya.

Bahkan ada pula ulama yang dibunuh bersamaan dengan ummat islam lainnya melalui pembunuhan secara masal dalam beberapa kasus seperti peristiwa Tanjung Priok, Kasus Talang Sari Jepara Lampung, Kasus Haor Koneng dan Kasus DOM di Aceh, semuanya berlansung semasa zaman orde baru. Pembunuhan itu dilakukan tanpa hak, semuanya dilakukan karena kebencian dan sikap takut dengan gerakan ulama yang semakin gencar untuk memperbaiki negeri ini sehingga terlepas dari bencana, tapi malam para ulama dahulu yang mengalaminya. Ironinya penguasa yang zalim itu juga beragama islam tapi karena fobi terhadap islam sehingga tidak segan-segan melakukan pembunuhan.

Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tidak halal membunuh seorang muslim kecuali salah satu dari tiga hal: Orang yang telah kawin yang berzina, ia dirajam; orang yang membunuh orang Islam dengan sengaja, ia dibunuh; dan orang yang keluar dari agama Islam lalu memerangi Allah dan Rasul-Nya, ia dibunuh atau disalib atau dibuang jauh dari negerinya." Riwayat Abu Dawud dan Nasa'i. Hadits shahih menurut Hakim. 
Pimpinan Ponpes Ansharullah, Ciamis, Jabar Fauzan al-Anshari berpendapat, bencana yang datang karena dosa-dosa pemimpin yang berbuat zalim, mereka menangkapi ulama-ulama dan aktivis, dan menangkap Ust Abu Bakar Ba’asyir yang menasihati bangsa ini untuk kembali kepada syariat, tapi malah ditangkap. Dan itukezaliman paling besar.“Karena yang ditangkapitubukanpribadi Abu BakarBa’asyir, tapiapa yang diaperjuangkan. Sementara orang yang berzinaseperti Ariel, Luna Maya, Cut Tari, tidakdihukumdengansetimpal, apalagikoruptor,”katanya
Ketikaaktivis Islam ditangkapi, diburu, bahkanditembakmatitanpa proses hukum (extra judicial killing). Umat Islam pun merasaditeror, diintimidasi, danditindas, sehinggatakutmenampakkandiri.Akibatnya, aktivisdanaktivitaskeislaman pun tiarap di pelosoknegeri.Akibatlebihlanjut, kezalimandankeangkaramurkaan pun leluasamelakukanpenistaan. 
Ketikatidakadalagi yang melakukanprotes, tidakadalagi yang menyuarakanamarma’rufnahimunkar, makabumi pun meradang, mengelurkankekuatannya, melontarkansenjata yang ada di dalamperutnya. Karenapadahakikatnya, bumi yang kitapijakadalahtentara Allah. [Sabili No.7/Nofember 2010].
Sebenarnyakematianbagiparaulamabukanlahhal yang ditakuti, tapikematian yang terjadikarenakezhalimanpenguasasungguhmenusukhatinuraniummatislam, halitutidakakanmenggoyahkankeistiqamahanparaulamadalammenghadapiujianhidup yang dialaminya, bilakezhalimaniniberlanjutterusmakadapatdipastikanbencanadanmusibahselaluhadir di negerikitaini, wallahu a'lam[Cubadak Solok, 12 Zulhijjah 1431.H/ 19 Nofember 2010.M]

Referensi;
1.HaditsArbain An Nawawi, SofyanEfendi, HaditsWeb 3.0,
2.
Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
3. Kumpulan Ceramah Praktis, Drs. Mukhlis Denros, 2009
4.1100 HaditsTerpilih, Dr. Muhammad FaizAlmath - GemaInsani Press
5.Majalah Islam Sabili No.7/Nofember 2010]
   


Tidak ada komentar:

Posting Komentar