Rabu, 25 November 2015

33. Andai Aku Tahu Mengabaikan Anak Yatim Berdosa



Muhammad ketika lahir dia sudah tidak mempunyai ayah lagi karena dalam usia kandungan sang ibu enam bulan Abdullah yang melakukan pejalanan dagang ke negeri Syam jatuh sakit hingga wafatnya, otomatis Nabi lahir sudah dalam keadaan yatim, bersama asuhan Aminahlah sang ibu membesarkan anaknya sendiri tanpa suami yang mendampingi, malang datang dalam usia enam tahun saat Aminah dan Muhammad menziarahi makam suaminya, dia jatuh sakit dan meninggal pula, lengkaplah sudah status Muhammad menjadi anak yang tiada berayah dan tiada beribu, akhirnya dia dibesarkan oleh Kakeknya bernama Abdul Muthalib, yang kemudian dikala sang kakek wafat maka pindahlah pengasuhan kepada pamannya Abu Thalib hingga menikah dengan Khadijah.

Dengan memperhatikan perjalanan hidup Muhammad kecil hingga dia menikah dan menjadi nabi, walaupun dari segi makan dan minum dan perlindungan dari kakek dan pamannya tidak dapat diragukan, tapi hidup tanpa ayah dan tanpa ibu sungguh banyak penderitaan yang dirasakan, apalagi anak-anak yatim lainnya yang hidup bersama saudara atau orang lain yang serba kekurangan.

Al-Qur’an memerintahkan orang-orang yang beriman untuk menyantuni dan menyayangi anak-anak yatim.Anak yatim adalah mereka yang ditinggal oleh orang tuanya. Al-Qur’an sangat memperhatikan hal-hal yang berkenaan dengan anak yatim sebagaimana berikut,
  1. Berbuat baik kepada anak yatim adalah salah satu tanda orang yang beriman, bertakwa, dan orang-orang yang baik (al-abrar). QS. (Al-Baqarah : 177) dan (QS. Al-Balad : 8)
  2. Menyantuni anak yatim adalah kewajiban sosial setiap orang Islam segera setelah ia mengetahui jalan yang baik dan jalan yang jelek dalam kehidupan . Membela anak yatim adalah satu satu perjuangan dalam Islam (QS. Al-Balad : 15)
  3. Problem sosial timbul, karena empat sebab : tidak memuliakan anak yatim, tidak memberi makank orang miskin, memakan warisan (kekayaan) alam dengan rakus, dan mencintai hartabenda secara berlebihan. (QS. Al-Fajar : 15-20)
  4. Memberikan perhatian terhadap kepentingan anak yatim. (QS. Al-Kahfi : 82)
  5. Bila orang membagikan harta warisan, diperintahkan agar sebagian diberikan kepada karabat, anak yatim, dan orang miskin, dan orang miskin yang tidak mempunyai hak waris. (QS. An-Nisaa’ : 8)
  6. Orang Islam di suruh berhati-hati dalam memelihara harta anak yatim, yaitu dengan tidak mencampurkan harta anak yatim itu dengan harta mereka sendiri. QS. An-Nisaa’ : 2,10). Disuruh-Nya mereka mencari cara yang paling baik untuk mengurus harta anak yatim termasuk . (QS. Al-Aam : 152), dan memakan harta yatim termasuk dosa besar. (QS. An-Nisaa’ : 2, 10).
  7. Orang islam dilarang mempermalukan anak yatim secara sewenang-wenang. (QS. Ad-Dhuha : 9), dan dilarang menghardik (QS. 107 : 2), Ibnu Katsir mengartikan fala taqhar sebagai “Janganlah engkau merendahkan dia, jangan membentak dia, jangan menghinakan mereka, tetapi berbuat baiklah kepdanya, dan sayangilah. (Tafsir Ibnu Katsir, jilid 4, hal. 523).
  8. Surah Al-Ma’un ayat 2 menyebutkan, bahwa orang yang menghardik anak yatim adalah pendusta agama.
Betapa masih banyaknya anak-anak yatim, anak terlantar, serta para fakir miskin, yang tidak terpelihara dan mendapatkan perhatian, bahkan mereka menjadi gelandangan pengemis, dan bahkan banyak diantara mereka pula, yang hidup dalam keadaan sangat menyedihkan.[Mashadi,Cintailah Anak-Anak Yatim,Eramuslim.com.Senin, 19/07/2010 09:43 WIB].
Islam adalah sebagai sistem aturan (agama) yang berfungsi sebagai rahmatan lil ‘alamin.Karena itu, sasaran akhlak yang baik selain untuk diri sendiri juga untuk Allah SWT, sesama manusia, dan alam secara keseluruhan (M Quraish Shihab, 2000:261-273).

Perintah agama untuk berbuat kebaikan pada dasarnya merupakan washilah yang akan menghantarkan kita pada derajat keridhaan Illahi nanti di akhirat. Perintah dan dorongan berbuat baik itu datang dari Allah melalui para utusan-Nya.Namun sesungguhnya dorongan kepada kebaikan itu sudah merupakan “bakat primordial” manusia, bersumber dari hati nurani (nurani, bersifat nur atau terang) karena adanya fitrah pada manusia. Oleh karena itu berbuat baik merupakan sesuatu yang “natural” atau alami, karena dia tidak lain adalah perpanjangan nalurinya sendiri, alamnya sendiri, yang ada secara primordial, sejak seseorang dilahirkan ke dunia ini.

Maka jika Allah memerintahkan kita berbuat baik, sesungguhnya seolah-olah Dia hanyalah mengingatkan kepada kita akan “nature” kita sendiri, kecenderungan kita sendiri. Dengan kata lain, berbuat baik adalah sesuatu yang manusiawi, yang sejalan dan mencocoki sifat dasar manusia itu sendiri. Dengan sendirinya perbuatan jahat adalah melawan kemanusiaan, menyalahi sifat dasar manusia itu.

Karena itu, dari perspektif ini bisa disimpulkan bahwa perintah berbuat baik dari Allah SWT kepada kita bukanlah untuk kepentingan Allah sendiri. Dia Maha Kaya (al-Ghaniy), tidak membutuhkan pelayanan/service dari makhluk-Nya. Sebaliknya, ketika perbuatan baik dikerjakan manusia maka semuanya akan kembali untuk kebaikan manusia itu sendiri. Hal ini telah Allah tegaskan dalam QS Fushilat : 46, “Barang siapa berbuat baik, maka hal itu untuk dirinya sendiri; dan barang siapa berbuat jahat, maka hal itu adalah atas (kerugian) dirinya sendiri.”

            Berbagai kajian ilmiah mengenai manusia telah mengukuhkan bahwa manusia yang reach out,  mengulurkan tangan untuk menolong orang lain, adalah orang yang bahagia. Jika suatu kali kita bertemu dengan orang yang membutuhkan pertolongan, kemudian kita menolongnya, sepintas lalu nampak seperti perbuatan kita adalah untuk kepentingan orang tersebut.Tetapi, dalam perenungan yang lebih mendalam, seuntung-untungnya orang yang kita tolong itu, tetap masih beruntung dan bahagia kita sendiri, justeru karena kita mampu menolong. Lebih lanjut, karena perasaan bahagia itu, kita akan mendapatkan dunia ini terasa lapang dan luas untuk kita disebabkan oleh lapang dan luasnya dada (jiwa) kita. Kita dibimbing oleh Allah, berkat perbuatan baik kita sendiri, kepada kehidupan yang luas,lapang dan penuh harapan (Nurcholis Madjid, 1999 : 186-187)

            Inilah salah satu makna janji Allah SWT dalam firman-Nya QS. Al-Zumar : 10   “Katakanlah (Muhammad), “wahai-wahai hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu.” Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas.Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pehalanya tanpa batas.”[Ihsan Faisal Mag,Hikmah: Keshalihan Sosial,Republika OnLineRabu, 02 Maret 2011, 07:26 WIB].

Menyantuni anak yatim bukan sebatas anak yatimnya tapi menandung unsur kepedulian social terhadap masyarakat yang membutuhkan, membangun jiwa berbagi dengan sesame yang merupakan investasi akherat.

Allah memerintahkan kita bersedekah dan berbagi kepada hamba- hamba- Nya yang lain yang belum kebagian seperti kita.”Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: "Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada bari itu tidak ada jual beli dan persahabatan.” (QS. Ibrahim [14]: 31)

Bila hamba-Nya itu mau berbagi, akankah Allah membiarkan mereka itu terlantar sia-sia di dunia ini?Sama sekali tidak. Allah Maha Melihat, dan Dia akan menggantinya dengan yang lebih baik. Bukankah Allah Maha Kuasa dan Maha Kaya?

Sesungguhnya kalian akan diberi pertolongan dan akan diberikan rizki oleh Allah SWT, manakala kalian mau menolong dan berpihak, membantu, serta mau memberikan kepada orang-orang yang lemah dan menderita dalam kehidupannya. (Riwayat Muslim).

Saat kita memberi, secara psikis Allah telah melepaskan jiwa ini dari belenggu cinta dunia.Jiwa ini merdeka dari perbudakan harta. Secara sosial, didekatkan hati-hati sesama saling kasih sayang dan senyum yang menyegarkan jiwa ini

 Andai roda kehidupan sedang berputar ke bawah, seorang yang suka berbagi pun tak akan berlarut dalam kesulitan terlalu lama. Sebab pintu- pintu pertolongan Allah terbuka lebar lewat berbagai jalan. Buah dari sukanya berbagi itu, akan mengundang demikian banyak orang yang dengan senang hati menolongnya. Hal yang tak akan dinikmati oleh seorang yang bakhil.

Diriwayatkan oleh Imam Thabrani dari Abu Darda, bahwa Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabatnya, “Inginkah kalian mendapatkan dua hal, yakni mendapatkan ketenangan batin dan kebahagiaan yang hakiki, serta terpenuhinya segala kebutuhan hidup kalian?”

 Para sahabat menjawab: "Benar ya Rasul, kami menginginkan hal itu.”  Rasul pun menjawab: “Sayangilah anak-anak yatim; usaplah kepalanya (bertanggung jawab serta memperhatikan kehidupan mereka), dan berilah makanan dari sebagian makanan yang kalian makan (untuk para dhu'afa dan fakir miskin); maka pasti kalian akan mendapatkan ketenangan batin dan kebahagiaan yang hakiki, serta terpenuhi kebutuhan kalian.”[Ust. Hanif Hanan,Indahnya Berbagi dengan Sesama,BMH,Friday, 19 June 2009 16:21].
Perhatian Rasulullah terhadap anak yatim Nampak dalam beberapa hal bahkan hal itu dialami lansung oleh beliau sebagai figure yang memberi teladan kepada ummatnya.Rasulullah pernah terlambat menunaikan shalat Idul Fithri karena berpapasan denan seorang bocah yang bermasalah, pakaiannya kumal, rambutnya kusut dan tidak terurus,”Kenapa kamu menangis sementara teman-temanmu sibuk dengan permainannya, pakaiannyapun bagus-bagus dan di tangannya da kue yang enak, dimana orangtuamu?”.

            Anak itu terkejut dengan datangnya seorang lelaki di hadapannya, dia tidak tahu kalau sedang berhadapan dengan Rasulullah,”Bagaimana saya tidak sedih, ayah saya sudah meninggal, ia syahid dalam peperangan mengikuti perintah jihad dari Rasulullah, sedangkan ibu saya sudah menikah lagi, mereka tidak memperhatikan saya...”, Keluhan lirih itu disambut oleh ajakan Rasulullah,”maukah engkau berayahkan Muhammad, beribukan Aisyah, bersaudarakan Fatimah dan bertemankan Hasan?”.

            Spontan anak itu menerima tawaran itu, Rasulullah mengantarkan anak itu pulang untuk dimandikan, diberi makan, diberi baju baru dan belanja layaknya seorang anak yang sedang merayakan Idul Fithri.

            Diantara gema takbir, Rasulullah telah mengangkat derajat seorang anak sebagai manusia yang mulia dengan penghormatan yang layak tanpa melecehkan keadaannya.[Mukhlis Denros, Diantara Gema Takbir, Majalah Serial Khutbah Jum’at Jakarta no. 153/ Maret 1994].

            Kesiapan untuk berbagi apalagi terhadap anak yatim yang bukan hanya pemberian dari asfek jasmani saja tapi juga diiringi dengan sikap santun dan kasing sayang serta kelembutan, hal ini juga dalam rangka untuk menjaga kelembutan hati kita.

Kelembutan hati merupakan sesuatu yang amat penting untuk dimiliki, hal ini karena dengan hati yang lembut, hubungan dengan orang lain akan berlangsung dengan baik dan ia mudah menerima nilai-nilai kebenaran. Kelembutan hati akan membuat kita memandang dan menyikapi orang lain dengan sudut pandang kasih sayang sehingga bila ada orang lain mengalami kesulitan hidup, ingin rasanya kita mengatasi persoalan hidupnya, ketika kita melihat orang susah, ingin sekali kita mudahkan, tegasnya kelembutan hati menjauhkan kita dari rasa benci kepada orang lain meskipun ia orang yang tidak baik, karena kita pun ingin memperbaiki orang yang belum baik.

Salah satu yang harus kita waspadai yang menyebabkan hati menjadi keras sehingga kita menjadi semakin jauh dari Allah SWT adalah berbicara yang tidak baik dan tidak benar, hal ini karena ketika bicara kita demikian lalu ada orang lain menegur, meluruskan atau menasihati, kita cenderung mempertahankan dan membela diri atas pembicaraan kita yang tidak benar itu sehingga tanpa kita sadari kita pun memiliki hati yang menjadi keras, Rasulullah SAW bersabda:
Janganlah kalian banyak berbicara yang bukan (dalam rangka) dzikir kepada Allah. Karena banyak bicara yang bukan (dalam rangka) dzikir kepada Allah akan membuat hati keras. Sementara manusia yang paling jauh dari Allah adalah yang hatinya keras (HR. Tirmidzi).

Untuk bisa melembutkan hati, kita bisa melakukannya dengan banyak cara, di antaranya menyayangi anak yatim dan orang-orang miskin. Dalam satu hadits disebutkan: Seorang lelaki pernah datang kepada Rasulullah SAW seraya melaporkan kekerasan hatinya, maka beliau menasihatinya: “Usaplah kepalaanak yatim dan berilah makanan kepadaorang miskin” (HR. Ahmad).[Drs. Ahmad Yani, Khutbah Idul Fitri 1432 H,Lima Cara Memperlakukan Hati,dakwatuna.com 24/8/2011 | 25 Ramadhan 1432 H].

Betapa banyaknya anak yatim di lingkungan kita, karena tidak atau kurangnya perhatian dari orang sekitarnya sehingga mereka tampil agak proaktif, lebih agresif bahkan cendrung kita menyebutnya anak-anak nakal, sebenarnya tidak ada anak yang nakal walaupun anak yatim, tapi mereka sedang mencari perhatian orang-orang di sekitarnya, atau memang kita sedang diuji oleh Allah untuk bersikap sabar, santun dan harus memperhatikan mereka, karena bila tidak akan terjadi sikap-sikap kita yang tidak baik kepada mereka, dengan kasar, keras hingga menghardik, dengan kejadian ini maka cap sebagai pendusta agama tersandang kepada kita, Wallahu A’lam [Kampani Pariaman, 28 Syawal 11432.H/ 26 September 2011.M].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar