Muhammad ketika lahir dia sudah tidak
mempunyai ayah lagi karena dalam usia kandungan sang ibu enam bulan Abdullah
yang melakukan pejalanan dagang ke negeri Syam jatuh sakit hingga wafatnya,
otomatis Nabi lahir sudah dalam keadaan yatim, bersama asuhan Aminahlah sang
ibu membesarkan anaknya sendiri tanpa suami yang mendampingi, malang datang
dalam usia enam tahun saat Aminah dan Muhammad menziarahi makam suaminya, dia
jatuh sakit dan meninggal pula, lengkaplah sudah status Muhammad menjadi anak
yang tiada berayah dan tiada beribu, akhirnya dia dibesarkan oleh Kakeknya
bernama Abdul Muthalib, yang kemudian dikala sang kakek wafat maka pindahlah
pengasuhan kepada pamannya Abu Thalib hingga menikah dengan Khadijah.
Dengan memperhatikan perjalanan hidup Muhammad
kecil hingga dia menikah dan menjadi nabi, walaupun dari segi makan dan minum
dan perlindungan dari kakek dan pamannya tidak dapat diragukan, tapi hidup
tanpa ayah dan tanpa ibu sungguh banyak penderitaan yang dirasakan, apalagi
anak-anak yatim lainnya yang hidup bersama saudara atau orang lain yang serba
kekurangan.
Al-Qur’an memerintahkan
orang-orang yang beriman untuk menyantuni dan menyayangi anak-anak yatim.Anak
yatim adalah mereka yang ditinggal oleh orang tuanya. Al-Qur’an sangat
memperhatikan hal-hal yang berkenaan dengan anak yatim sebagaimana berikut,
- Berbuat baik kepada anak yatim adalah salah satu tanda orang yang beriman, bertakwa, dan orang-orang yang baik (al-abrar). QS. (Al-Baqarah : 177) dan (QS. Al-Balad : 8)
- Menyantuni anak yatim adalah kewajiban sosial setiap orang Islam segera setelah ia mengetahui jalan yang baik dan jalan yang jelek dalam kehidupan . Membela anak yatim adalah satu satu perjuangan dalam Islam (QS. Al-Balad : 15)
- Problem sosial timbul, karena empat sebab : tidak memuliakan anak yatim, tidak memberi makank orang miskin, memakan warisan (kekayaan) alam dengan rakus, dan mencintai hartabenda secara berlebihan. (QS. Al-Fajar : 15-20)
- Memberikan perhatian terhadap kepentingan anak yatim. (QS. Al-Kahfi : 82)
- Bila orang membagikan harta warisan, diperintahkan agar sebagian diberikan kepada karabat, anak yatim, dan orang miskin, dan orang miskin yang tidak mempunyai hak waris. (QS. An-Nisaa’ : 8)
- Orang Islam di suruh berhati-hati dalam memelihara harta anak yatim, yaitu dengan tidak mencampurkan harta anak yatim itu dengan harta mereka sendiri. QS. An-Nisaa’ : 2,10). Disuruh-Nya mereka mencari cara yang paling baik untuk mengurus harta anak yatim termasuk . (QS. Al-Aam : 152), dan memakan harta yatim termasuk dosa besar. (QS. An-Nisaa’ : 2, 10).
- Orang islam dilarang mempermalukan anak yatim secara sewenang-wenang. (QS. Ad-Dhuha : 9), dan dilarang menghardik (QS. 107 : 2), Ibnu Katsir mengartikan fala taqhar sebagai “Janganlah engkau merendahkan dia, jangan membentak dia, jangan menghinakan mereka, tetapi berbuat baiklah kepdanya, dan sayangilah. (Tafsir Ibnu Katsir, jilid 4, hal. 523).
- Surah Al-Ma’un ayat 2 menyebutkan, bahwa orang yang menghardik anak yatim adalah pendusta agama.
Betapa masih banyaknya
anak-anak yatim, anak terlantar, serta para fakir miskin, yang tidak
terpelihara dan mendapatkan perhatian, bahkan mereka menjadi gelandangan
pengemis, dan bahkan banyak diantara mereka pula, yang hidup dalam keadaan
sangat menyedihkan.[Mashadi,Cintailah
Anak-Anak Yatim,Eramuslim.com.Senin, 19/07/2010 09:43 WIB].
Islam adalah sebagai sistem aturan (agama) yang
berfungsi sebagai rahmatan lil ‘alamin.Karena itu, sasaran akhlak yang baik
selain untuk diri sendiri juga untuk Allah SWT, sesama manusia, dan alam secara
keseluruhan (M Quraish Shihab, 2000:261-273).
Perintah agama untuk berbuat kebaikan pada dasarnya merupakan washilah yang akan menghantarkan kita pada derajat keridhaan Illahi nanti di akhirat. Perintah dan dorongan berbuat baik itu datang dari Allah melalui para utusan-Nya.Namun sesungguhnya dorongan kepada kebaikan itu sudah merupakan “bakat primordial” manusia, bersumber dari hati nurani (nurani, bersifat nur atau terang) karena adanya fitrah pada manusia. Oleh karena itu berbuat baik merupakan sesuatu yang “natural” atau alami, karena dia tidak lain adalah perpanjangan nalurinya sendiri, alamnya sendiri, yang ada secara primordial, sejak seseorang dilahirkan ke dunia ini.
Perintah agama untuk berbuat kebaikan pada dasarnya merupakan washilah yang akan menghantarkan kita pada derajat keridhaan Illahi nanti di akhirat. Perintah dan dorongan berbuat baik itu datang dari Allah melalui para utusan-Nya.Namun sesungguhnya dorongan kepada kebaikan itu sudah merupakan “bakat primordial” manusia, bersumber dari hati nurani (nurani, bersifat nur atau terang) karena adanya fitrah pada manusia. Oleh karena itu berbuat baik merupakan sesuatu yang “natural” atau alami, karena dia tidak lain adalah perpanjangan nalurinya sendiri, alamnya sendiri, yang ada secara primordial, sejak seseorang dilahirkan ke dunia ini.
Maka jika Allah memerintahkan
kita berbuat baik, sesungguhnya seolah-olah Dia hanyalah mengingatkan kepada
kita akan “nature” kita sendiri, kecenderungan kita sendiri. Dengan kata lain,
berbuat baik adalah sesuatu yang manusiawi, yang sejalan dan mencocoki sifat
dasar manusia itu sendiri. Dengan sendirinya perbuatan jahat adalah melawan
kemanusiaan, menyalahi sifat dasar manusia itu.
Karena itu, dari perspektif
ini bisa disimpulkan bahwa perintah berbuat baik dari Allah SWT kepada kita
bukanlah untuk kepentingan Allah sendiri. Dia Maha Kaya (al-Ghaniy), tidak
membutuhkan pelayanan/service dari makhluk-Nya. Sebaliknya, ketika perbuatan
baik dikerjakan manusia maka semuanya akan kembali untuk kebaikan manusia itu
sendiri. Hal ini telah Allah tegaskan dalam QS Fushilat : 46, “Barang siapa
berbuat baik, maka hal itu untuk dirinya sendiri; dan barang siapa berbuat
jahat, maka hal itu adalah atas (kerugian) dirinya sendiri.”
Berbagai
kajian ilmiah mengenai manusia telah mengukuhkan bahwa manusia yang reach
out, mengulurkan tangan untuk menolong orang lain, adalah orang yang
bahagia. Jika suatu kali kita bertemu dengan orang yang membutuhkan
pertolongan, kemudian kita menolongnya, sepintas lalu nampak seperti perbuatan
kita adalah untuk kepentingan orang tersebut.Tetapi, dalam perenungan yang
lebih mendalam, seuntung-untungnya orang yang kita tolong itu, tetap masih
beruntung dan bahagia kita sendiri, justeru karena kita mampu menolong. Lebih
lanjut, karena perasaan bahagia itu, kita akan mendapatkan dunia ini terasa
lapang dan luas untuk kita disebabkan oleh lapang dan luasnya dada (jiwa) kita.
Kita dibimbing oleh Allah, berkat perbuatan baik kita sendiri, kepada kehidupan
yang luas,lapang dan penuh harapan (Nurcholis Madjid, 1999 : 186-187)
Inilah
salah satu makna janji Allah SWT dalam firman-Nya QS. Al-Zumar : 10
“Katakanlah (Muhammad), “wahai-wahai hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada
Tuhanmu.” Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh
kebaikan. Dan bumi Allah itu luas.Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan
pehalanya tanpa batas.”[Ihsan Faisal Mag,Hikmah: Keshalihan Sosial,Republika
OnLineRabu, 02 Maret 2011, 07:26 WIB].
Menyantuni anak yatim bukan
sebatas anak yatimnya tapi menandung unsur kepedulian social terhadap
masyarakat yang membutuhkan, membangun jiwa berbagi dengan sesame yang
merupakan investasi akherat.
Allah memerintahkan kita
bersedekah dan berbagi kepada hamba- hamba- Nya yang lain yang belum kebagian
seperti kita.”Katakanlah kepada
hamba-hamba-Ku yang telah beriman: "Hendaklah mereka mendirikan shalat,
menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi
ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada bari itu tidak
ada jual beli dan persahabatan.” (QS. Ibrahim [14]: 31)
Bila hamba-Nya itu mau
berbagi, akankah Allah membiarkan mereka itu terlantar sia-sia di dunia
ini?Sama sekali tidak. Allah Maha Melihat, dan Dia akan menggantinya dengan
yang lebih baik. Bukankah Allah Maha Kuasa dan Maha Kaya?
Sesungguhnya kalian akan
diberi pertolongan dan akan diberikan rizki oleh Allah SWT, manakala kalian mau
menolong dan berpihak, membantu, serta mau memberikan kepada orang-orang yang
lemah dan menderita dalam kehidupannya. (Riwayat Muslim).
Saat kita memberi, secara
psikis Allah telah melepaskan jiwa ini dari belenggu cinta dunia.Jiwa ini
merdeka dari perbudakan harta. Secara sosial, didekatkan hati-hati sesama
saling kasih sayang dan senyum yang menyegarkan jiwa ini
Andai roda kehidupan sedang berputar ke bawah,
seorang yang suka berbagi pun tak akan berlarut dalam kesulitan terlalu lama.
Sebab pintu- pintu pertolongan Allah terbuka lebar lewat berbagai jalan. Buah
dari sukanya berbagi itu, akan mengundang demikian banyak orang yang dengan
senang hati menolongnya. Hal yang tak akan dinikmati oleh seorang yang bakhil.
Diriwayatkan oleh Imam
Thabrani dari Abu Darda, bahwa Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabatnya,
“Inginkah kalian mendapatkan dua hal, yakni mendapatkan ketenangan batin dan
kebahagiaan yang hakiki, serta terpenuhinya segala kebutuhan hidup kalian?”
Para sahabat menjawab: "Benar ya Rasul,
kami menginginkan hal itu.” Rasul pun menjawab: “Sayangilah anak-anak
yatim; usaplah kepalanya (bertanggung jawab serta memperhatikan kehidupan
mereka), dan berilah makanan dari sebagian makanan yang kalian makan (untuk
para dhu'afa dan fakir miskin); maka pasti kalian akan mendapatkan ketenangan
batin dan kebahagiaan yang hakiki, serta terpenuhi kebutuhan kalian.”[Ust.
Hanif Hanan,Indahnya Berbagi
dengan Sesama,BMH,Friday, 19 June 2009 16:21].
Perhatian Rasulullah terhadap anak
yatim Nampak dalam beberapa hal bahkan hal itu dialami lansung oleh beliau
sebagai figure yang memberi teladan kepada ummatnya.Rasulullah pernah terlambat menunaikan shalat Idul
Fithri karena berpapasan denan seorang bocah yang bermasalah, pakaiannya kumal,
rambutnya kusut dan tidak terurus,”Kenapa kamu menangis sementara teman-temanmu
sibuk dengan permainannya, pakaiannyapun bagus-bagus dan di tangannya da kue
yang enak, dimana orangtuamu?”.
Anak itu terkejut dengan datangnya seorang lelaki di
hadapannya, dia tidak tahu kalau sedang berhadapan dengan Rasulullah,”Bagaimana
saya tidak sedih, ayah saya sudah meninggal, ia syahid dalam peperangan
mengikuti perintah jihad dari Rasulullah, sedangkan ibu saya sudah menikah
lagi, mereka tidak memperhatikan saya...”, Keluhan lirih itu disambut oleh
ajakan Rasulullah,”maukah engkau berayahkan Muhammad, beribukan Aisyah,
bersaudarakan Fatimah dan bertemankan Hasan?”.
Spontan anak itu menerima tawaran itu, Rasulullah
mengantarkan anak itu pulang untuk dimandikan, diberi makan, diberi baju baru
dan belanja layaknya seorang anak yang sedang merayakan Idul Fithri.
Diantara gema takbir, Rasulullah telah mengangkat derajat
seorang anak sebagai manusia yang mulia dengan penghormatan yang layak tanpa
melecehkan keadaannya.[Mukhlis Denros, Diantara Gema Takbir, Majalah Serial
Khutbah Jum’at Jakarta no. 153/ Maret 1994].
Kesiapan untuk berbagi apalagi terhadap anak yatim yang
bukan hanya pemberian dari asfek jasmani saja tapi juga diiringi dengan sikap
santun dan kasing sayang serta kelembutan, hal ini juga dalam rangka untuk
menjaga kelembutan hati kita.
Kelembutan hati
merupakan sesuatu yang amat penting untuk dimiliki, hal ini karena dengan hati
yang lembut, hubungan dengan orang lain akan berlangsung dengan baik dan ia
mudah menerima nilai-nilai kebenaran. Kelembutan hati akan membuat kita
memandang dan menyikapi orang lain dengan sudut pandang kasih sayang sehingga
bila ada orang lain mengalami kesulitan hidup, ingin rasanya kita mengatasi persoalan
hidupnya, ketika kita melihat orang susah, ingin sekali kita mudahkan, tegasnya
kelembutan hati menjauhkan kita dari rasa benci kepada orang lain meskipun ia
orang yang tidak baik, karena kita pun ingin memperbaiki orang yang belum baik.
Salah satu yang
harus kita waspadai yang menyebabkan hati menjadi keras sehingga kita menjadi
semakin jauh dari Allah SWT adalah berbicara yang tidak baik dan tidak benar,
hal ini karena ketika bicara kita demikian lalu ada orang lain menegur,
meluruskan atau menasihati, kita cenderung mempertahankan dan membela diri atas
pembicaraan kita yang tidak benar itu sehingga tanpa kita sadari kita pun
memiliki hati yang menjadi keras, Rasulullah SAW bersabda:
Janganlah kalian
banyak berbicara yang bukan (dalam rangka) dzikir kepada Allah. Karena banyak
bicara yang bukan (dalam rangka) dzikir kepada Allah akan membuat hati keras.
Sementara manusia yang paling jauh dari Allah adalah yang hatinya keras (HR.
Tirmidzi).
Untuk bisa
melembutkan hati, kita bisa melakukannya dengan banyak cara, di antaranya
menyayangi anak yatim dan orang-orang miskin. Dalam satu hadits disebutkan: Seorang lelaki pernah datang kepada
Rasulullah SAW seraya melaporkan kekerasan hatinya, maka beliau menasihatinya:
“Usaplah kepalaanak yatim dan berilah makanan kepadaorang miskin” (HR.
Ahmad).[Drs. Ahmad Yani,
Khutbah Idul Fitri 1432 H,Lima Cara Memperlakukan Hati,dakwatuna.com 24/8/2011 | 25 Ramadhan
1432 H].
Betapa banyaknya
anak yatim di lingkungan kita, karena tidak atau kurangnya perhatian dari orang
sekitarnya sehingga mereka tampil agak proaktif, lebih agresif bahkan cendrung
kita menyebutnya anak-anak nakal, sebenarnya tidak ada anak yang nakal walaupun
anak yatim, tapi mereka sedang mencari perhatian orang-orang di sekitarnya,
atau memang kita sedang diuji oleh Allah untuk bersikap sabar, santun dan harus
memperhatikan mereka, karena bila tidak akan terjadi sikap-sikap kita yang
tidak baik kepada mereka, dengan kasar, keras hingga menghardik, dengan
kejadian ini maka cap sebagai pendusta agama tersandang kepada kita, Wallahu
A’lam [Kampani
Pariaman, 28 Syawal 11432.H/ 26 September 2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar