Selasa, 24 November 2015

28. Andai Aku Tahu Mubazir itu Berdosa



Sebagai seorang muslim kita diharapkan untuk memberdayakan segala potensi hidup secara baik, mengefektifkan harta sehingga berdayaguna untuk kepentingan pribadi, keluarga dan ummat, pengeluaran potensi seperti harta, kesehatan dan waktu  yang bukan pada tempatnya dikatakan dengan mubazir.Khusus dalam pengeluaran harta kita harus hemat dan hidup dalam kesederhanaan.

"Tidak bakal susah orang yang hidup sederhana."Demikian sabda Nabi Muhammad SAW dalam riwayat Imam Ahmad.Hadis ini hanyalah salah satu dari sekian banyaknya sabda Nabi yang menyerukan pentingnya hidup sederhana.Dan, prinsip kesederhaan ini tidak hanya terucap melalui kata-kata tetapi juga mengejawantah dalam laku keseharian beliau.

Ibnu Amir pernah memberikan kesaksian perihal hebatnya kesederhanaan dan ketawadhuan  Rasulullah, di tengah kedudukannya yang luhur di antara umat manusia. "Aku pernah melihat Rasul melempar jumrah dari atas unta tanpa kawalan pasukan, tanpa senjata, dan juga tanpa pengawal."

Menurut Ibnu Amir, Rasul menaiki keledai berpelanakan kain beludru dan dibonceng pula. Sering menjenguk orang yang sakit, mengantar jenazah, menghadiri undangan dari seorang budak, mengesol sandalnya, menambal pakaiannya, dan mengerjakan pekerjaan rumah bersama istri-istrinya.

Pernah suatu ketika, Rasulullah bertemu dengan seorang laki-laki yang kemudian gemetar karena kewibawaan beliau.Melihat hal itu, Muhammad SAW berujar untuk menenangkan laki-laki tersebut, "Tenanglah aku bukanlah seorang raja, namun aku hanyalah anak dari wanita Quraisy yang makan dendeng."

Saat dia berkumpul dan berbaur dengan para sahabatnya, tak tebersit sedikit pun sikap untuk menonjolkan dirinya. Sehingga, manakala ada seorang tamu asing datang ia tak bisa membedakan Rasulullah dengan para sahabatnya. Ini memaksanya bertanya yang mana Rasulullah.

Bayangkan, seorang tokoh publik kelas dunia-akhirat sulit dikenali lantaran kesederhanaan dan ketawadhuannya.Memilih hidup sederhana tidak identik dengan hidup miskin, atau memerosokkannya dalam kemiskinan, sebagaimana tecermin dalam hadits di atas. Sementara itu, di kalangan sahabat kita mengenal Mush'ab bin Umair.

Pemuda ini kaya raya, tampil trendi, dan serbamewah namun ketika tersibghah dengan nilai-nilai Islam, ia menjadi pemuda yang sederhana. Demikian Islam menginspirasi umatnya, yakni sederhana dalam berbagai hal, mulai dari cara berpakaian, bertempat tinggal, berkendaraan, dan sebagainya.

Bukan sebaliknya,  bergaya hidup secara berlebih-lebihan, glamour, boros, dan bermegah-megahan. Allah berfirman, "Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan.Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (al-A'raf: 31).

Mengapa demikian, karena terbukti gaya hidup mewah, berlebih-lebihan, konsumtif, dan boros, seringkali  menyeret pelakunya untuk melakukan hal apa pun demi memenuhi segenap nafsu dan ambisinya, serta memuaskan gengsinya. Entah dengan cara  korupsi, mencuri, menipu, dan tindakan negatif lainnya[Makmun Nawawi,Hidup Sederhana,Republika.online, Senin, 11 April 2011 12:20 WIB].

Semakin hari kehidupan kita semakin sulit karena semua harga barang naik membungbung tinggi ibarat roket sedang melaju, apalagi memasuki bulan Ramadhan dan tahun baru, walaupun bagi Pegawai Negeri mungkin ada kenaikan gaji atau gaji tigabelas namanya tapi sudah didahului dengan naiknya harga-harga di pasaran, yang paling merasakan sulitnya ekonomi khususnya mengatur keuangan rumah tangga adalah kaum ibu, bagaimana tidak, dahulu dengan uang hanya Rp. 10.000,- bisa membeli bahan-bahan dapur satu kantong plastic penuh, sekarang dengan jumlah uang itu hanya bisa membeli kantong plastiknya saja. Untuk kiranya kita siasati saja harga-harga itu dengan kiat bijak diantaranya;

Lakukan pola hidup hemat di segala lini, agar pengeluaran keluarga bisa ditekan.Seperti hemat air, listrik, gas, telepon, internet, biaya transportasi, dll.Di antaranya, matikan lemari es jika isinya tidak sampai 50 persen. Mencuci motor, bisa menadah air hujan, bukan air PAM. Pemanas nasi (magic com) tidak harus dicolokkan 24 jam. Nyalakan kompor setelah semua persiapan masak tuntas.

Kemudian, buat catatan perkiraan rincian pengeluaran keluarga satu bulan lamanya.Misalnya pengeluaran reguler seperti tagihan air, listrik dan SPP anak berapa.Kemudian belanja beras dan sayur/lauk-pauk per hari kira-kira rata-rata berapa.Jumlahkan, sesuaikan dengan pendapatan yang diperoleh. Sisihkan uang belanja reguler bulanan ini dalam amplop tersendiri dan sebisa mungkin jangan diganggu gugat untuk pengeluaran lain.

Hilangkan belanja yang tidak penting.Di antaranya konsumsi makanan yang tidak menunjang gizi keluarga, melainkan hanya sebagai pelengkap atau penyedap.Contohnya belanja cemilan, kerupuk, sambal, softdrink, es krim, permen dan sejenisnya. Kalau tidak bisa dihilangkan sama sekali, kurangi porsinya.

Juga, hemat jajan, baik jajan anak-anak maupun jajan orang tua.Seperti bakso, mi ayam, siomay, rujak, es buah dan sejenisnya.Toh jajanan seperti itu termasuk junk food yang tidak ada nilai gizinya.Lebih baik perkuat nilai gizi makanan pokok yang biasanya dikonsumsi tiga kali sehari.Namun, bukan berarti menunya harus mahal, yang penting bervariasi.

Selain itu, pengeluaran untuk komunikasi, seperti telepon rumah atau pembelian pulsa dan jasa internet bisa ditekan.Komunikasilah seperlunya, sebatas yang dibutuhkan.

Bagi ibu-ibu, perketat atau bila perlu hilangkan belanja “kosmetik”.Ya, kaum ibu harus mengalah untuk tidak terlalu memanjakan diri demi kelangsungan keluarga.Bagi yang suka ke salon, kurangi frekeunsinya.Kalau perlu rawat diri di rumah saja.Belanja sabun, bedak atau fashion yang mahal, bisa “diturunkan” standarnya ke yang lebih murah.

Belanja fashion keluarga juga bisa diatur. Baju anak-anak misalnya, selama masih ada yang layak pakai, tidak harus membeli yang baru.Apalagi perkembangan anak sangat cepat, baju pun cepat “kecil”. Termasuk fashion yakni belanja tas, sepatu, sendal dan aksesoris lainnya yang tidak terlalu penting. Selama barang lama masih bisa dimanfaatkan, jangan dipaksakan untuk membeli.

Buat catatan setiap kali belanja.Beli hanya barang-barang yang dibutuhkan, hindari barang-barang yang tidak/belum perlu.Siapkan uang pas saat belanja.Misal Rp 50.000, Rp 100.000, atau Rp 200.000.Ingat, Anda sedang mengeluarkan uang, bukan mencari uang.Belanjalah di tempat yang dikenal murah, tapi cukup bagus produknya.Juga, cari pedagang yang timbangannya pas.

Yang terpenting, hindari berutang hanya untuk konsumsi karena bisa menyulitkan di kemudian hari jika tak mampu membayar. Selain menjaga nama baik keluarga, juga menghindari stres gara-gara terlilit utang.[Menghemat Belanja Rumah Tangga,Media Ummat; Friday, 24 September 2010 10:41kholda].

Ada sebuah contoh menarik. Ibu Fulanah, sebut saja begitu, hampir setiap minggu selalu bertengkar dengan suaminya. Sebabnya adalah anggaran belanja yang tidak pernah cukup. Padahal menurut perhitungan kasar sang suaminya, dianggap sudah memadai. Sesudah diselidiki dengan seksama, ternyata ibu Fulanah ini memang tidak punya perencanaan anggaran belanja berimbang, sehingga tidak ada prioritas dalam pengeluaran uang dan tentu saja akibatnya banyak hal penting tak terbiayai sedangkan hal sekunder yang tak begitu penting malah dibeli.

            Berlainan dengan ibu Siti, bukan nama sebenarnya, yang memiliki pengetahuan untuk mengadakan perencanaan pengeluaran dan pemasukan yang berimbang. Walaupun gaji suaminya pas-pasan dan bahkan cenderung kurang, tapi dengan perencanaan yang cermat dan terbuka kepada seluruh anggota keluarga sehingga setiap anggota keluarga memahami keadaan perekonomian keluarga yang sebenarnya.Akibatnya, selain dananya tepat guna, seluruh keluarga pun terbiasa juga berhemat. Selain itu, kekurangan dana juga bisa dideteksi lebih awal dan segera dicarikan solusinya bersama. Tentu saja hasil kerja sama setiap anggota keluarga ini membantu menyelesaikan masalah yang ada. Sungguh sangat belainan dengan ibu Fulanah dan suaminya tadi yang sibuk saling menyalahkan, padahal tentu saja tidak menyelesaikan masalah, justru malah menambah masalah.

            Kalau tak percaya, untuk hal yang sederhana saja yaitu jikalau kita pergi berbelanja ke pasar atau toko serba ada namun tidak punya perencanaan yang jelas, maka akibatnya bisa secara sembrono membeli hal yang tidak prioritas.Disamping itu kurangnya perencanaan menyebabkan pula peluang kegagalan semakin terbuka lebar, berarti pemborosan dalam segala bidang.

            Maka jikalau ingin menjadi orang yang hemat, selalu adakan perencanaan yang matang dalam segala hal.Semakin mendetail/rinci maka semakin besar pula peluang untuk sukses dalam penghematan ini.Termasuk untuk hal-hal yang sederhana atau yang biasa dianggap sepele. Biasakanlah sebelum belanja tulis dengan baik dan jelas barang yang harus dibeli dan anggaran yang harus disediakan, begitu pula dalam belanja bulanan, rumah tangga yang terbiasa mengadakan perencanaan, selain lebih hemat juga bisa mengadakan antisipasi terhadap kekurangan biaya belanja, bahkan anak-anak pun sudah bisa dilatih mulai dari kecil dengan cara uang jajannya bisa diberikan mingguan atau bahkan bulanan, sehingga sang anak sudah biasa membuat perencanaan pengeluarannya, dan hal ini akan sangat membantu dalam hal efisiensi.(Sumber : Koran Kecil MQ EDISI 12, 13, 14, 15/TH.I/2001)

Sikap hemat terhadap anggaran bukan hanya dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga saja tapi seharusnya juga dilakukan oleh pemerintah pada level daerah hingga pusat, terlalu banyak anggaran dihabiskan dengan percuma hanya untuk kegiatan-kegiatan yang tidak atau kurang manfaatnya apalagi akan berakhirnya tahun terkesan terjadi usaha untuk menghabiskan anggaran, perjalanan dinas yang tidak terselenggara segera dikebut dengan melakukan perjalanan dinas, yang biasanya pejabat pergi dengan “surat jalan”, karena tidak ada lagi waktu untuk menyelesaikannya maka “surat berjalan” yang berlaku. Hartono Ahmad Jaiz menyoroti hal demikian dalam tulisannya yang berjudul Tren Menghabiskan Anggaran Belanja
Menjelang berakhirnya anggaran satu tahun, sekaligus menjelang akan diterimanya anggaran baru yang telah diajukan untuk tahun depan, di saat itulah musim untuk menghabiskan anggaran tiba. Sehingga dalam hal menghabiskan anggaran itu ada dua hal:
  1. Menghabiskan anggaran itu sendiri seolah merupakan tren (gaya mutakhir).
  2. Menjelang berakhirnya anggaran satu tahun, sekaligus menjelang akan diterimanya anggaran baru yang telah diajukan untuk tahun depan, di saat itulah musim untuk menghabiskan anggaran tiba.
Kalau di zaman orde baru pimpinan Soeharto tampaknya anggaran berakhir pada Bulan Maret, dan anggaran baru pun turun (diberikan) setiap April (kalau tak salah).Sekarang konon turunnya setiap ganti tahun (kalau tak salah pula).Pokoknya setahun sekali anggaran itu turun alias diberikan.

Pada musim menghabiskan anggaran, aneka “proyek” diada-adakan, hingga mungkin hotel-hotel di mana-mana penuh. Ketika ada gempa di Padang 30 September 2009 yang menghancurkan sekian banyak bangunan termasuk Hotel Ambacang juga hancur, kabarnya hotel itu sedang untuk meeting atau apa oleh satu departemen atau lembaga.

Korban pun berjatuhan, tergencet reruntuhan bangunan hotel bertingkat dan bahkan ada yang berhari-hari baru berhasil dievakuasi mayatnya karena sulit untuk mengambilnya dari reruntuhan.

Acara meeting atau apa namanya itu, tidak tahulah, apakah itu dalam rangka menghabiskan anggaran karena akan tutup tahun atau bukan. Pokoknya acara-acara semacam itu di musim menghabiskan anggaran diperkirakan cukup padat di sana-sini.

Tren menghabiskan anggaran pun dicontohi dari pusat, bahkan kadang di saat pas ada bencana besar. Contohnya adalah pelantikan DPR dan DPD periode 2009-2014 yang sebenarnya dapat dilakukan dengan sederhana, namun ternyata sampai menelan biaya 70 miliar rupiah, sedangkan saat itu sedang terjadi gempa di Padang.

Seorang penulis di situs eramuslim menyoroti, Gempa besar berkekuatan 7,6 Skala Richter melantakkan kota Padang dan sekitarnya pukul 17.16 pada tanggal 30 September 2009 lalu. Gempa susulan terjadi pada pukul 17.58.Keesokan harinya, 1 Oktober kemarin, gempa berkekuatan 7 Skala Richter kembali menggoyang Jambi dan sekitarnya tepat pukul 08.52.

Adalah ketetapan Allah SWT jika bencana ini bertepatan dengan beberapa momentum besar bangsa Indonesia, dulu dan sekarang:

Tanggal 1 Oktober merupakan hari pelantikan anggota DPR dan DPD periode 2009-2014 yang menuai kontroversi.Acara seremonial yang sebenarnya bisa dilaksanakan dengan amat sederhana itu ternyata memboroskan uang rakyat lebih dari 70 miliar rupiah.Hal ini dilakukan di tengah berbagai musibah yang mengguncang bangsa ini. Dan kenyataan ini membuktikan jika para pejabat itu tidak memiliki empati sama sekali terhadap nasib rakyat yang kian hari kian susah.

Bukan mustahil, banyak kaum mustadh’afin yang berdoa kepada Allah SWT agar menunjukkan kebesaran-Nya kepada para pejabat negara ini agar mau bersikap amanah dan tidak bertindak bagaikan segerombolan perampok terhadap uang umat.(Ridyasmara/eramuslim.com/berita/tahukah-anda/ayat-ayat-allah-swt-dalam-gempa-di-sumatera.htm).

Dalam rangka menghabiskan anggaran, kadang orang yang “ditugaskan” (untuk ikut menghabiskan anggaran) tidak faham.Kok ada pekerjaaan yang tidak perlu dikerjakan tetapi dibiayai mahal.Leha-leha, enak-enakan dan tidak usah menghasilkan apa-apa, namun dibiayai dengan mahal.

Kalau sekadar iseng-iseng cari contoh, misalnya apa yang dialami seorang wartawan di zaman orde baru. Wartawan dari surat kabar di Jakarta itu tahu-tahu ditugaskan untuk meliput tentang seberapa besar ramainya penerbangan di Kalimantan pada saat menjelang tahun baru. Wartawan itu dengan rekannya yang lain dari surat kabar lain pula sudah diberi tiket dari satu departemen, tinggal terbang. Sampai di Kalimantan ya hanya untuk melhat-lihat, seberapa ramainya orang yang hilir mudik untuk bepergian dengan kapal terbang.

Saat itu kondisinya sepi.Tidak ada peningkatan apa-apa mengenai jumlah para penumpang kapal terbang.Dan tampaknya data dan liputan dari wartawan —yang dia sendiri tidak tahu kenapa ditugaskan untuk meliput yang macam ini— agaknya tidak dibutuhkan.Karena liputan itu pun tidak layak sebagai berita.Tidak ada apa-apanya.
Jadi untuk apa?

Ya, kalau dikaitkan dengan ancang-ancang untuk menghabiskan anggaran, boleh jadi itu salah satu darinya.Intinya, hasil tidak diperlukan.Memang tidak untuk meraih hasil. Yang penting itukan anggaran bisa habis.[Nahimungkar.com.Selasa, 21/12/2010 08:50 WIB].

Betapa berdosanya kita bila membeli makanan akhirnya tidak termakan lagi karena sudah basi tidak termakan sehingga dibuang begitu saja sedangkan tetangga dan saudara kita yang lain tidak mampu untuk membeli makanan, sungguh tidak bijak bila kita masih membeli baju baru dan mahal hanya karena ada  pesta teman kita sementara baju-baju yang layak masih sangat layak untuk dikenakan, masihkah kita tidak tersentuh demikian banyaknya tetangga kita hanya punya satu atau dua baju yang sangat sederhana karena ketidakmampuannya, kita masih bisa menghabiskan uang untuk pelesiran dengan menyewa atau membeli mobil sekian juta sementara anak-anak masih kecil yang kelak membutuhkan dana tidak sedikit untuk sekolahnya, sungguh tidak punya hati kita bila dalam kondisi sulit begini masih juga menghabiskan uang untuk kepentingan yang tidak penting, berarti kita sudah melakukan kemubaziran, ingat pelaku mubazir hanya layak berteman dengan syaitan,  Wallahu a’lam [Cubadak Solok, 15 Syawal 1432.H/ 13 September 2011.M].



Tidak ada komentar:

Posting Komentar