Sebagai seorang muslim kita diharapkan
untuk memberdayakan segala potensi hidup secara baik, mengefektifkan harta
sehingga berdayaguna untuk kepentingan pribadi, keluarga dan ummat, pengeluaran
potensi seperti harta, kesehatan dan waktu
yang bukan pada tempatnya dikatakan dengan mubazir.Khusus dalam
pengeluaran harta kita harus hemat dan hidup dalam kesederhanaan.
"Tidak
bakal susah orang yang hidup sederhana."Demikian sabda Nabi Muhammad SAW
dalam riwayat Imam Ahmad.Hadis ini hanyalah salah satu dari sekian banyaknya
sabda Nabi yang menyerukan pentingnya hidup sederhana.Dan, prinsip kesederhaan
ini tidak hanya terucap melalui kata-kata tetapi juga mengejawantah dalam laku
keseharian beliau.
Ibnu
Amir pernah memberikan kesaksian perihal hebatnya kesederhanaan dan
ketawadhuan Rasulullah, di tengah kedudukannya yang luhur di antara umat
manusia. "Aku pernah melihat Rasul melempar jumrah dari atas unta tanpa
kawalan pasukan, tanpa senjata, dan juga tanpa pengawal."
Menurut
Ibnu Amir, Rasul menaiki keledai berpelanakan kain beludru dan dibonceng pula.
Sering menjenguk orang yang sakit, mengantar jenazah, menghadiri undangan dari
seorang budak, mengesol sandalnya, menambal pakaiannya, dan mengerjakan
pekerjaan rumah bersama istri-istrinya.
Pernah
suatu ketika, Rasulullah bertemu dengan seorang laki-laki yang kemudian gemetar
karena kewibawaan beliau.Melihat hal itu, Muhammad SAW berujar untuk
menenangkan laki-laki tersebut, "Tenanglah aku bukanlah seorang raja,
namun aku hanyalah anak dari wanita Quraisy yang makan dendeng."
Saat
dia berkumpul dan berbaur dengan para sahabatnya, tak tebersit sedikit pun
sikap untuk menonjolkan dirinya. Sehingga, manakala ada seorang tamu asing
datang ia tak bisa membedakan Rasulullah dengan para sahabatnya. Ini memaksanya
bertanya yang mana Rasulullah.
Bayangkan,
seorang tokoh publik kelas dunia-akhirat sulit dikenali lantaran kesederhanaan
dan ketawadhuannya.Memilih hidup sederhana tidak identik dengan hidup miskin,
atau memerosokkannya dalam kemiskinan, sebagaimana tecermin dalam hadits di
atas. Sementara itu, di kalangan sahabat kita mengenal Mush'ab bin Umair.
Pemuda
ini kaya raya, tampil trendi, dan serbamewah namun ketika tersibghah dengan
nilai-nilai Islam, ia menjadi pemuda yang sederhana. Demikian Islam
menginspirasi umatnya, yakni sederhana dalam berbagai hal, mulai dari cara
berpakaian, bertempat tinggal, berkendaraan, dan sebagainya.
Bukan
sebaliknya, bergaya hidup secara berlebih-lebihan, glamour, boros, dan
bermegah-megahan. Allah berfirman, "Makan dan minumlah, dan janganlah
berlebih-lebihan.Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
berlebih-lebihan." (al-A'raf: 31).
Mengapa
demikian, karena terbukti gaya hidup mewah, berlebih-lebihan, konsumtif, dan
boros, seringkali menyeret pelakunya untuk melakukan hal apa pun demi
memenuhi segenap nafsu dan ambisinya, serta memuaskan gengsinya. Entah dengan
cara korupsi, mencuri, menipu, dan tindakan negatif lainnya[Makmun Nawawi,Hidup Sederhana,Republika.online,
Senin, 11 April 2011 12:20 WIB].
Semakin
hari kehidupan kita semakin sulit karena semua harga barang naik membungbung
tinggi ibarat roket sedang melaju, apalagi memasuki bulan Ramadhan dan tahun
baru, walaupun bagi Pegawai Negeri mungkin ada kenaikan gaji atau gaji
tigabelas namanya tapi sudah didahului dengan naiknya harga-harga di pasaran,
yang paling merasakan sulitnya ekonomi khususnya mengatur keuangan rumah tangga
adalah kaum ibu, bagaimana tidak, dahulu dengan uang hanya Rp. 10.000,- bisa
membeli bahan-bahan dapur satu kantong plastic penuh, sekarang dengan jumlah
uang itu hanya bisa membeli kantong plastiknya saja. Untuk kiranya kita siasati
saja harga-harga itu dengan kiat bijak diantaranya;
Lakukan pola hidup hemat di segala
lini, agar pengeluaran keluarga bisa ditekan.Seperti hemat air, listrik, gas,
telepon, internet, biaya transportasi, dll.Di antaranya, matikan lemari es jika
isinya tidak sampai 50 persen. Mencuci motor, bisa menadah air hujan, bukan air
PAM. Pemanas nasi (magic com) tidak harus dicolokkan 24 jam. Nyalakan kompor
setelah semua persiapan masak tuntas.
Kemudian, buat catatan perkiraan
rincian pengeluaran keluarga satu bulan lamanya.Misalnya pengeluaran reguler
seperti tagihan air, listrik dan SPP anak berapa.Kemudian belanja beras dan
sayur/lauk-pauk per hari kira-kira rata-rata berapa.Jumlahkan, sesuaikan dengan
pendapatan yang diperoleh. Sisihkan uang belanja reguler bulanan ini dalam
amplop tersendiri dan sebisa mungkin jangan diganggu gugat untuk pengeluaran
lain.
Hilangkan belanja yang tidak
penting.Di antaranya konsumsi makanan yang tidak menunjang gizi keluarga,
melainkan hanya sebagai pelengkap atau penyedap.Contohnya belanja cemilan,
kerupuk, sambal, softdrink, es krim, permen dan sejenisnya. Kalau tidak bisa
dihilangkan sama sekali, kurangi porsinya.
Juga, hemat jajan, baik jajan
anak-anak maupun jajan orang tua.Seperti bakso, mi ayam, siomay, rujak, es buah
dan sejenisnya.Toh jajanan seperti itu termasuk junk food yang tidak ada nilai
gizinya.Lebih baik perkuat nilai gizi makanan pokok yang biasanya dikonsumsi
tiga kali sehari.Namun, bukan berarti menunya harus mahal, yang penting
bervariasi.
Selain itu, pengeluaran untuk
komunikasi, seperti telepon rumah atau pembelian pulsa dan jasa internet bisa
ditekan.Komunikasilah seperlunya, sebatas yang dibutuhkan.
Bagi ibu-ibu, perketat atau bila
perlu hilangkan belanja “kosmetik”.Ya, kaum ibu harus mengalah untuk tidak
terlalu memanjakan diri demi kelangsungan keluarga.Bagi yang suka ke salon,
kurangi frekeunsinya.Kalau perlu rawat diri di rumah saja.Belanja sabun, bedak
atau fashion yang mahal, bisa “diturunkan” standarnya ke yang lebih murah.
Belanja fashion keluarga juga bisa
diatur. Baju anak-anak misalnya, selama masih ada yang layak pakai, tidak harus
membeli yang baru.Apalagi perkembangan anak sangat cepat, baju pun cepat
“kecil”. Termasuk fashion yakni belanja tas, sepatu, sendal dan aksesoris
lainnya yang tidak terlalu penting. Selama barang lama masih bisa dimanfaatkan,
jangan dipaksakan untuk membeli.
Buat catatan setiap kali
belanja.Beli hanya barang-barang yang dibutuhkan, hindari barang-barang yang
tidak/belum perlu.Siapkan uang pas saat belanja.Misal Rp 50.000, Rp 100.000,
atau Rp 200.000.Ingat, Anda sedang mengeluarkan uang, bukan mencari
uang.Belanjalah di tempat yang dikenal murah, tapi cukup bagus produknya.Juga,
cari pedagang yang timbangannya pas.
Yang terpenting, hindari berutang
hanya untuk konsumsi karena bisa menyulitkan di kemudian hari jika tak mampu
membayar. Selain menjaga nama baik keluarga, juga menghindari stres gara-gara
terlilit utang.[Menghemat Belanja Rumah Tangga,Media Ummat; Friday, 24
September 2010 10:41kholda].
Ada
sebuah contoh menarik. Ibu Fulanah, sebut saja begitu, hampir setiap minggu
selalu bertengkar dengan suaminya. Sebabnya adalah anggaran belanja yang tidak
pernah cukup. Padahal menurut perhitungan kasar sang suaminya, dianggap sudah
memadai. Sesudah diselidiki dengan seksama, ternyata ibu Fulanah ini memang
tidak punya perencanaan anggaran belanja berimbang, sehingga tidak ada
prioritas dalam pengeluaran uang dan tentu saja akibatnya banyak hal penting
tak terbiayai sedangkan hal sekunder yang tak begitu penting malah dibeli.
Berlainan dengan ibu Siti, bukan nama sebenarnya, yang memiliki pengetahuan
untuk mengadakan perencanaan pengeluaran dan pemasukan yang berimbang. Walaupun
gaji suaminya pas-pasan dan bahkan cenderung kurang, tapi dengan perencanaan
yang cermat dan terbuka kepada seluruh anggota keluarga sehingga setiap anggota
keluarga memahami keadaan perekonomian keluarga yang sebenarnya.Akibatnya,
selain dananya tepat guna, seluruh keluarga pun terbiasa juga berhemat. Selain
itu, kekurangan dana juga bisa dideteksi lebih awal dan segera dicarikan
solusinya bersama. Tentu saja hasil kerja sama setiap anggota keluarga ini
membantu menyelesaikan masalah yang ada. Sungguh sangat belainan dengan ibu
Fulanah dan suaminya tadi yang sibuk saling menyalahkan, padahal tentu saja
tidak menyelesaikan masalah, justru malah menambah masalah.
Kalau tak percaya, untuk hal yang sederhana saja yaitu jikalau kita pergi
berbelanja ke pasar atau toko serba ada namun tidak punya perencanaan yang
jelas, maka akibatnya bisa secara sembrono membeli hal yang tidak
prioritas.Disamping itu kurangnya perencanaan menyebabkan pula peluang
kegagalan semakin terbuka lebar, berarti pemborosan dalam segala bidang.
Maka jikalau ingin menjadi orang yang hemat, selalu adakan perencanaan yang
matang dalam segala hal.Semakin mendetail/rinci maka semakin besar pula peluang
untuk sukses dalam penghematan ini.Termasuk untuk hal-hal yang sederhana atau
yang biasa dianggap sepele. Biasakanlah sebelum belanja tulis dengan baik dan
jelas barang yang harus dibeli dan anggaran yang harus disediakan, begitu pula
dalam belanja bulanan, rumah tangga yang terbiasa mengadakan perencanaan,
selain lebih hemat juga bisa mengadakan antisipasi terhadap kekurangan biaya
belanja, bahkan anak-anak pun sudah bisa dilatih mulai dari kecil dengan cara
uang jajannya bisa diberikan mingguan atau bahkan bulanan, sehingga sang anak
sudah biasa membuat perencanaan pengeluarannya, dan hal ini akan sangat
membantu dalam hal efisiensi.(Sumber :
Koran Kecil MQ EDISI 12, 13, 14, 15/TH.I/2001)
Sikap hemat terhadap anggaran bukan
hanya dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga saja tapi seharusnya juga dilakukan
oleh pemerintah pada level daerah hingga pusat, terlalu banyak anggaran
dihabiskan dengan percuma hanya untuk kegiatan-kegiatan yang tidak atau kurang
manfaatnya apalagi akan berakhirnya tahun terkesan terjadi usaha untuk
menghabiskan anggaran, perjalanan dinas yang tidak terselenggara segera dikebut
dengan melakukan perjalanan dinas, yang biasanya pejabat pergi dengan “surat
jalan”, karena tidak ada lagi waktu untuk menyelesaikannya maka “surat
berjalan” yang berlaku. Hartono Ahmad Jaiz menyoroti hal demikian dalam
tulisannya yang berjudul Tren
Menghabiskan Anggaran Belanja
Menjelang berakhirnya anggaran
satu tahun, sekaligus menjelang akan diterimanya anggaran baru yang telah
diajukan untuk tahun depan, di saat itulah musim untuk menghabiskan anggaran
tiba. Sehingga dalam hal menghabiskan anggaran itu ada dua hal:
- Menghabiskan anggaran itu sendiri seolah merupakan tren (gaya mutakhir).
- Menjelang berakhirnya anggaran satu tahun, sekaligus menjelang akan diterimanya anggaran baru yang telah diajukan untuk tahun depan, di saat itulah musim untuk menghabiskan anggaran tiba.
Kalau di zaman orde baru
pimpinan Soeharto tampaknya anggaran berakhir pada Bulan Maret, dan anggaran
baru pun turun (diberikan) setiap April (kalau tak salah).Sekarang konon
turunnya setiap ganti tahun (kalau tak salah pula).Pokoknya setahun sekali
anggaran itu turun alias diberikan.
Pada musim menghabiskan
anggaran, aneka “proyek” diada-adakan, hingga mungkin hotel-hotel di mana-mana
penuh. Ketika ada gempa di Padang 30 September 2009 yang menghancurkan sekian
banyak bangunan termasuk Hotel Ambacang juga hancur, kabarnya hotel itu sedang
untuk meeting atau apa oleh satu departemen atau lembaga.
Korban pun berjatuhan,
tergencet reruntuhan bangunan hotel bertingkat dan bahkan ada yang berhari-hari
baru berhasil dievakuasi mayatnya karena sulit untuk mengambilnya dari
reruntuhan.
Acara meeting atau apa namanya
itu, tidak tahulah, apakah itu dalam rangka menghabiskan anggaran karena akan
tutup tahun atau bukan. Pokoknya acara-acara semacam itu di musim menghabiskan
anggaran diperkirakan cukup padat di sana-sini.
Tren menghabiskan anggaran pun
dicontohi dari pusat, bahkan kadang di saat pas ada bencana besar. Contohnya
adalah pelantikan DPR dan DPD periode 2009-2014 yang sebenarnya dapat dilakukan
dengan sederhana, namun ternyata sampai menelan biaya 70 miliar rupiah,
sedangkan saat itu sedang terjadi gempa di Padang.
Seorang penulis di situs
eramuslim menyoroti, Gempa besar berkekuatan 7,6 Skala Richter melantakkan kota
Padang dan sekitarnya pukul 17.16 pada tanggal 30 September 2009 lalu. Gempa
susulan terjadi pada pukul 17.58.Keesokan harinya, 1 Oktober kemarin, gempa
berkekuatan 7 Skala Richter kembali menggoyang Jambi dan sekitarnya tepat pukul
08.52.
Adalah ketetapan Allah SWT
jika bencana ini bertepatan dengan beberapa momentum besar bangsa Indonesia,
dulu dan sekarang:
Tanggal 1 Oktober merupakan
hari pelantikan anggota DPR dan DPD periode 2009-2014 yang menuai
kontroversi.Acara seremonial yang sebenarnya bisa dilaksanakan dengan amat
sederhana itu ternyata memboroskan uang rakyat lebih dari 70 miliar rupiah.Hal
ini dilakukan di tengah berbagai musibah yang mengguncang bangsa ini. Dan
kenyataan ini membuktikan jika para pejabat itu tidak memiliki empati sama
sekali terhadap nasib rakyat yang kian hari kian susah.
Bukan mustahil, banyak kaum
mustadh’afin yang berdoa kepada Allah SWT agar menunjukkan kebesaran-Nya kepada
para pejabat negara ini agar mau bersikap amanah dan tidak bertindak bagaikan
segerombolan perampok terhadap uang umat.(Ridyasmara/eramuslim.com/berita/tahukah-anda/ayat-ayat-allah-swt-dalam-gempa-di-sumatera.htm).
Dalam rangka menghabiskan
anggaran, kadang orang yang “ditugaskan” (untuk ikut menghabiskan anggaran)
tidak faham.Kok ada pekerjaaan yang tidak perlu dikerjakan tetapi dibiayai
mahal.Leha-leha, enak-enakan dan tidak usah menghasilkan apa-apa, namun
dibiayai dengan mahal.
Kalau sekadar iseng-iseng cari
contoh, misalnya apa yang dialami seorang wartawan di zaman orde baru. Wartawan
dari surat kabar di Jakarta itu tahu-tahu ditugaskan untuk meliput tentang
seberapa besar ramainya penerbangan di Kalimantan pada saat menjelang tahun
baru. Wartawan itu dengan rekannya yang lain dari surat kabar lain pula sudah
diberi tiket dari satu departemen, tinggal terbang. Sampai di Kalimantan ya
hanya untuk melhat-lihat, seberapa ramainya orang yang hilir mudik untuk
bepergian dengan kapal terbang.
Saat itu kondisinya sepi.Tidak
ada peningkatan apa-apa mengenai jumlah para penumpang kapal terbang.Dan
tampaknya data dan liputan dari wartawan —yang dia sendiri tidak tahu kenapa
ditugaskan untuk meliput yang macam ini— agaknya tidak dibutuhkan.Karena
liputan itu pun tidak layak sebagai berita.Tidak ada apa-apanya.
Jadi untuk apa?
Jadi untuk apa?
Ya, kalau dikaitkan dengan
ancang-ancang untuk menghabiskan anggaran, boleh jadi itu salah satu darinya.Intinya,
hasil tidak diperlukan.Memang tidak untuk meraih hasil. Yang penting itukan
anggaran bisa habis.[Nahimungkar.com.Selasa, 21/12/2010 08:50 WIB].
Betapa berdosanya kita bila
membeli makanan akhirnya tidak termakan lagi karena sudah basi tidak termakan
sehingga dibuang begitu saja sedangkan tetangga dan saudara kita yang lain
tidak mampu untuk membeli makanan, sungguh tidak bijak bila kita masih membeli
baju baru dan mahal hanya karena ada
pesta teman kita sementara baju-baju yang layak masih sangat layak untuk
dikenakan, masihkah kita tidak tersentuh demikian banyaknya tetangga kita hanya
punya satu atau dua baju yang sangat sederhana karena ketidakmampuannya, kita
masih bisa menghabiskan uang untuk pelesiran dengan menyewa atau membeli mobil
sekian juta sementara anak-anak masih kecil yang kelak membutuhkan dana tidak
sedikit untuk sekolahnya, sungguh tidak punya hati kita bila dalam kondisi
sulit begini masih juga menghabiskan uang untuk kepentingan yang tidak penting,
berarti kita sudah melakukan kemubaziran, ingat pelaku mubazir hanya layak
berteman dengan syaitan, Wallahu a’lam
[Cubadak Solok, 15 Syawal 1432.H/ 13 September 2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar