Rasulullah
bersabda,”Seseorang yang bertaubat dari
dosanya itu adalah sama dengan orang yang tidak mempunyai dosa lagi”[HR.Ibnu
Majah}. Maka taubat yang sebenarnya menurut pengertian bahasanya ialah kembali,
menurut istilah syariat maksudnya ialah kembali kengikuti jalan yang benar dari
jalan yang sudah ditempuhnya yang tentunya berupa jalan yang sesat. Sebenarnya
terlepas diri dari sesuatu dosa itu bagi setiap manusia tidaklah mungkin sama
sekali, sebab hal ini memang sudah merupakan kekurangan manusia.
Hanya saja besar kecilnya
kekurangan itu tergantung memang berbeda-beda. Tetapi menurut keasliannya
kekurangan demikian itu pasti ada dan tidak dapat dihindari sama sekali, oleh
sebab itu Rasulullah bersabda,”Sesungguhnya saja hatiku dapat juga tergoda
sehingga saya harus memohon pengampunan kepada Allah dalam sehari semalam itu
sebanyak tujuh puluh kali”[HR.Muslim]
Karena itu Allah sengaja
mengaruniakan kemuliaan pada beliau dengan firman-Nya;”Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang Telah lalu
dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu
kepada jalan yang lurus”[Al Fath 48;2]
Jikalau Rasulullah saja
sudah memastikan keadaan dirinya pasti terkena godaan syaitan, konon pula yang
lainnya. Jadi tentulah lebih dapat tergoda dan tidak mustahil terkena godaan
itu. Taubat itu apabila sudah terkumpul syarat-syaratnya, sudah pasti dan tidak
perlu diragukan lagi bahwa taubat yang sedemikian tentu diterima.
Sucikan dosa dengan
cucuran air mata untuk membasuh segala kesalahan yang melekat di hati serta
panasnya rasa penyesalan batin, maka pastilah hati tadi akan kembali bersih,
suci dan mengkilat. Hati yang sudah suci dan bersih dari segala kotoran dan
penyakit batin, tentu saja akan diterima, sebagaimana halnya pakaian yang suci
dan bersih juga akan digemari oleh siapapun juga, jadi yang penting bagi kita
adalah membersihkan dan mensucikan diri
dan hati.
Imam Al Gazali membagi pensucian diri kepada empat
hal yaitu;
- Mensucikan diri dari hadas dan najis dengan jalan thaharah melalui wudhu, mandi atau tayamum sehingga dengan kesucian ini dapat menunaikan ibadah mahdhoh seperti shalat.
- Mensucikan diri dari kegiatan mengandung dosa yang dilakukan oleh indra manusia sehingga tangan tidak mudah untuk mencuri dan memukul, kaki tidak ringan untuk menyepak lawan dan sebagainya.
- Mensucikan diri dari akhlak tercela seperti sombong, takabur, hasad, dengki dan lain sebagainya sehingga memiliki akhlakul karimah yang dipuji Allah dan disenangi oleh manusia.
- Mensucikan diri dari niat yang tidak baik dalam seluruh asfek kehidupan, kesucian ini lebih penting dari segalanya dengan tidak melupakan kesucian lainna. Dalam berbuat manusia dihiasi oleh niat-niat yang sengaja men yimpangkannya dari ikhlas kepada Allah sehingga merusak ibadahnya.
Pada masa dahulupun ummat
ini selalu dirongrong oleh segala konspirasi untuk menjauhkan dirinya dari
kesucian itu, dalam mesjidpun terjadi
usaha penyimpangan aqidah sebagaimana yang tergambar dalam surat At Taubah 9;108 ”Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya.
sesungguh- nya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari
pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. di dalamnya mesjid itu ada
orang-orang yang ingin membersihkan diri. dan Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang bersih.”
Berkaitan dengan ayat
diatas, memang demikianlah keadaan sahabat Rasulullah, mereka adalah orang yang
siap membersihkan dirinya dari segala bentuk kotoran yang melekat di badan dan
di hatinya. Masjid yang didirikan oleh
Abdullah bin Ubay sebagai tandingan terhadap masjid nabi adalah konspirasi
untuk menghancurkan islam yang dimotori oleh para munafiq, pada diri mereka
penuh dengan kotoran yang melekat sejak kenabian Muhammad Saw. Sebuah ancaman
diberikan Allah agar ummat islam tidak menegakkan shalat di masjid itu, lebih
layak mereka shalat di masjid yang didalamnya banyak orang-orang yang
mensucikan dirinya, itulah dia masjid Quba, yang landasan pendiriannya karena
taqwa;
”Hai
orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa
(taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi
kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan nabi dan
orang-orang mukmin yang bersama Dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan
dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb kami,
sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah Kami; Sesungguhnya Engkau
Maha Kuasa atas segala sesuatu."
Kata ”nasuha” dalam ayat
tersebut diatas maksudnya ialah suatu taubat yang memberi nasehat baik pada
diri sendiri serta dilakukan dengan ikhlas yang sesungguh-sungguhnya karena
mengharapkan keridhaan Allah dan sunyi dari segala macam tujuan dan godaan yang
lain-lain.
Perihal keutamaan taubat,
maka Allah sendiri sudah menjelaskan dalam firman-Nya;
’’ Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu
adalah suatu kotoran". oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari
wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka
suci. apabila mereka Telah suci, Maka campurilah mereka itu di tempat yang
diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.’’ [Al Baqarah 2;222]
Di antaraayat Al Quran yang
berbicaratentangtaubatadalahfirman Allah:"Dan
bertaubatlahkamusekaliankepada Allah, hai orang-orang yang berimansupayakamuberuntung"
(QS. An-Nur: 31).
Dalamayatini, Allah SWT
memerintahkankepadaseluruhkaummu'mininuntukbertaubatkepada Allah SWT,
dantidakmengecualikanseorangpundarimereka.Meskipun orang
itutelahdemikiantaatmenjalankansyari'ah, dantelahmenanjakdalambarisankaummuttaqin,
namuntetapiamemerlukantaubat. Di antarakaummu'mininada yang
bertaubatdaridosa-dosabesar, jikaiatelahmelakukandosabesaritu.
Karenaiamemangbukan orang yang ma'shum (terjagadaridosa). Di antaramerekaada
yang bertaubatdaridosa-dosakecil, dansedikitsekali orang yang
selamatdaridosa-dosamacamini.Dari merekaada yang bertaubatdarimelakukan yang
syubhat. Dan orang yang menjauhisyubhatmakaiatelahmenyelamatkan agama
dannamabaiknya. Dan diantaramerekaada yang bertaubatdaritindakan-tindakan yang
dimakruhkan.Dan di antaramerekamalahada orang yang melakukantaubatdarikelalaian
yang terjadidalamhatimereka.Dan darimerekaada yang
bertaubatkarenamerekaberdiamdiripadamaqam yang
rendahdantidakberusahauntukmencapaimaqam yang lebihtinggilagi.
Taubat orang awamtidaksamadengantaubatkalangankhawas,
jugatidaksamadengantaubatkalangankhawas yang lebihtinggilagi. Olehkarenaituada
yang mengatakan: "Kebaikankalanganabraradalahkesalahan orang-orang
kalanganmuqarrabin!" Namun, dalamayatitu, semuamerekadiperintahkanuntukmelakukantaubat,
agar merekaselamat.
Pengarangkitab Al
Qamusmemberikankomentaratasayatinidalamkitabnya (Al Bashair):
Ayatiniterdapatdalamkelompok surah Madaniyyahh .Allah tujukankepadakaum yang
berimandankepadamakhluk-makhluk-Nya yang baik, agar merekabertaubatkepada-Nya,
setelahmerekaberiman, sabar,
hijrahdanberjihad.Kemudianmengaitkankeberuntungandengantaubat "agar kalian
beruntung".Yaitumengaitkanantarasebabdengan yang disebabkan.Dan
menggunakandengan 'adat' "la'alla" untukmemberikanpengertianpengharapan.Yaitujika
kalian bertaubatmaka kalian diharapkanakanmendapatkankeberuntungan, danhanya
orang yang bertaubat yang berhakmengharapkankeberuntunganitu.
Sebagianulamasulukberkata:
Taubatadalahwajibbagiseluruhmanusia, hinggabagiparanabidanwali-walisekalipun.
Dan janganlahengkaudugabahwataubathanyakhususuntuk Adam a.s. saja. Allah SWT
befirman:"Dan durhakalah Adam kepadaTuhandansesatlahia,
kemudianTuhannyamemilihnyamakaDiamenerimataubatnya dam memberinyapetunjuk"
(QS. Thahaa: 121-122).
Namuniaadalahhukum yang
azalidantertulisbagiumatmanusiasehinggatidakmungkindapatditerimasebaliknya.
Selamasunnah-sunnah (ketentuan) Ilahibelumtergantikan.Makakembali
--yaitudenganbertaubat-- kepada Allah SWT bagisetiapmanusiaadalahamaturgen,
baikiaseorangNabiatau orang yang berperangaisepertibabi,
jugabagiwaliatausipencuri. Abu Tamamberkata:"JanganengkausangkahanyaHindun
yang berhianat, ituadalahdoronganperibadidansetiap orang
dapatberlakusepertiHindun!
Perkataanitudidukungolehhadits:"Seluruh
kalian adalahpembuatsalahdandosa, dan orang yang berdosa yang paling
baikadalahmereka yang seringbertaubat". Haditsinidiriwayatkanoleh Ahmad
danlainnyadariAnas.Jugataubatituadalahwajibbagiseluruhmanusia.Iawajibdalamseluruhkondisidansecaraterusmenerus.
Pengertianitudipetikdaridalil yang umum, Allah SWT berfirman: "
danbertaubatlahkamusekaliankepada Allah".
Karenamanusiatidakmungkinterbebaskandaridosa yang
diperbuatolehanggotatubuhnya.Hinggaparanabidan orang-orang yang
salehsekalipun.Dalam Al Quran danhaditsdisebutkantentangdosa-dosamereka,
sertataubatdantangisansesalmereka.
Jikasuatusaat orang
terbebasdarimaksiat yang dilakukanolehtubuhnya,
makaiatidakdapatterlepasdarikeinginanberbuatmaksiatdalamhatinya. Dan
jikapuntidakadakeinginanitu, dapat pula iamerasakan was-was yang
ditiupkanolehsyaitansehinggaialupadaridzikirkepada Allah SWT. Dan jikatidak,
dapat pula iamengalamikelalaiandankurangdalammencapaiilmutentang Allah SWT,
sifat-sifat-Nyasertaperbuatan-perbuatan-Nya.
Semuaituadalahkekurangandanmasing-masingmempunyaisebabnya.Dan
membiarkansebab-sebabitudenganmenyibukkandiridenganpekerjaan yang
berlawananberartimengembalikandiriketingkatannya yang rendah. Dan
manusiaberbeda-bedadalamkadarkekurangannya, bukandalamkondisiasalmereka (Lihat:
SyarhAinulIlmiwaZainulHilm, juz 1 hal. 175. Kitabiniadalahmukhtasar (ringkasan)
kitabIhyaUlumuddin).[KewajibanBertaubatdanUrgensinya].
Namunkewajibanseorangmukmindikalakesalahandandosameliputinya,
apakahbesarataupunkecil,
disengajaataupuntidakmakakewajibankitaadalahmengetukpinturahmat-Nyauntukmeraihampunan
Allah sebagaimana yang pernahdialamiolehpendahulukitayaituNabi Adam As.
Nabi Adam telah
mengukiR keteladanannya dalam hal ini, bukan pada pelanggaRannya teRhadap
laRangan Allah, akan tetapi pada apa yang dia lakukan setelah dia melakukan
pelanggaRan teRsebut. Sebagaimana telah kita ketahui bahwa Adam beRsama
istRinya diizinkan Oleh Allah tinggal di suRga. Allah melaRangnya mendekati
satu pOhOn yang ada di sana, tetapi Adam melanggaR-nya kaRena bujuk Rayu setan,
akan tetapi setelah itu Adam menye-sali dan menyadaRi kesalahannya seRta
memOhOn ampun kepada Allah. Allah mengampuninya dan Adam pun menjadi lebih
mulia dan lebih baik daRi sebelumnya. FiRman Allah Ta’ala, "Kemudian Rabbnya memilihnya maka Dia
meneRima taubatnya dan membeRinya petunjuk." (Thaha: 122).
Di sisi lain, manakala Allah menciptakan
Bani Adam dengan kesalahan dan dOsanya, Dia pun membuka peluang peRbaikan
se-lebaR-lebaRnya. Dia memanggil dan mengajak hamba-hambaNya agaR memanfaatkan
peluang teRsebut sebaik-baiknya. Dan peluang ini senantiasa teRbuka siang-malam
sepanjang umuR manusia atau umuR dunia ini. Peluang teRsebut adalah taubat
untuk meRaih ampunan Allah Ta’ala.
FiRman Allah Ta’ala,"Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan beRseRah diRilah kepa-daNya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditOlOng (lagi)." (Az-ZumaR: 54).
FiRman Allah Ta’ala,"Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan beRseRah diRilah kepa-daNya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditOlOng (lagi)." (Az-ZumaR: 54).
DaRi
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wasallam, Allah Ta’ala beRfiRman,"Wahaihamba-hambaKu, sesungguhnya kalian
melakukankesalahansiang-malamdanAkumengampuniseluRuhdOsa,
OlehkaRenaitumOhOnlahampunkepadaKu, niscayaAkumengampuni kalian." (HR.
Muslim daRi Abu DzaR, MukhtashaRShahih Muslim).
Jika Allah mengajakkepadaampunan,
beRjanjimemaafkandanmembukapintunyalebaR-lebaR,
sementaRakitamanusiaselalubeRdOsa, makatidaksekedaRlayak,
akantetapisangatlayakkalaukitamengetukpintuteRsebutdenganhaRapanDiabeRkenanmelim-pahkanmaafNyakepadakitasemua,
sesungguhnyaDiaMahaPengasihlagiPemuRah.
SekaRang bagaimana caRanya agaR kita dapat menggapai am-punan teRsebut? Banyak
caRa dan jalan menggapai ampunan Allah. Lebih daRi itu, caRa-caRa dan jalan-jalan
teRsebut adalah sangat mudah, teRgantung kepada kita sendiRi, ingin atau tidak
ingin. Di sini khatib memapaRkan empat caRa yang menuRut pandangan khatib
meRupakan caRa yang paling penting dan mendasaR.
Jika Allah
menghendaki, tidak ada dOsa yang tidak teRhapus Oleh taubat, sebeRat dan
se-besaR apa pun ia, jangankan dOsa-dOsa kecil, dOsa-dOsa besaR pun akan
teRhapus Oleh taubat bahkan dOsa teRtinggi dalam Islam, syiRik, juga akan
teRhapus Oleh taubat dengan catatan kesyiRikan teRsebut tidak dibawa mati.
Lihatlah kepada sebagian sahabat Nabi yang di masa jahiliyah adalah ORang-ORang
penyembah beRhala. Begitu meReka beRtaubat daRinya, meReka pun menjadi manusia
teRbaik umat ini. TengOklah seORang laki-laki daRi umat teRdahulu -sepeRti yang
dikisahkan Oleh Rasulullah- pembunuh seRatus nyawa. Adakah di dunia ini pelaku
dOsa yang lebih besaR dan lebih banyak daRinya? DOsanya adalah pembunuhan dan
kORbannya adalah seRatus nyawa. Laki-laki teRsebut dengan dOsanya itu tetap
meRaih ampunan Allah dengan taubatnya dan usaha keRasnya untuk mempeRbaiki diRi
yang dia buktikan dengan beRhijRah ke kOta lain yang bisa mendu-kung usahanya
teRsebut. [Izzudin KaRimi, Lc. MeRaih
Ampunan, Buku Kumpulan KhutbahJum’atPilihanSetahunEdisi ke-2,
DaRulHaqJakaRta).COmpiled
by oRiDo™].
Pintu taubat akan selalu terbuka bagi siapa saja
yang menghendaki, dan tidak seorangpun mampu menghalangi rahmat Allah darinya,
tidak ada hijab [penghalang] apapun antara dia dengan Tuhannya, ”Kecuali bagi
siapa saja yang bertaubat, beriman dan beramal shaleh, niscaya mereka itu akan
masuk ke dalam syurga dan tidak disesatkan sedikit juapun. Yaitu syurga Adn
yang telah dijanjikan oleh Tuhan Yang Maha Pemurah kepada hamba-hamba-Nya
sekalipun syurga itu tidak nampak, sesungguhnya janji Allah itu pasti akan
ditetapi” [Maryam 60;16].
Maka taubatlah yang menumbuhkan iman dan amal
shaleh, sehingga terealisir
pengertiannya secara aktif dan jelas. Taubat juga menyelamatkan orang-orang
dari neraka, selain itu juga, tidak menjerumuskan mereka ke dalam jurang
kesesatan,”Akan tetapi mereka itu akan masuk ke dalam syurga dan tidak
disesatkan sedikitpun” [Maryam;60].
Ucapan taubat seorang hamba semata-mata tidak bisa
dijadikan bukti kesungguhan dalam bertaubat, kecuali dia membuktikan
tanda-tanda kesungguhan taubatnya. Diantaranya tanda-tanda itu adalah;
-Benar-benar berniat untuk meninggalkan perbuatan dosa dan kembali
kepada
ketaatan.
-Setelah bertaubat, keadaan menjadi lebih baik
daripada sebelumnya.
-Tidak pernah merasa aman dari siksa Allah
sekejappun sepanjang hidupnya.
-Benar-benar menyesal, sedih dan rugi atas kelengahannya serta takut akan
pedihnya
siksa di dunia dan di akherat. Seringkali kenikmatan nafsu sekejap
menjadikan
sengsara selamanya.
-Selalu ingat akan kepastian dirinya kembali
kepada Allah, juga kematian
yang
selalu menghantuinya.
-Yang paling penting dari tanda-tanda kesungguhan
orang bertaubat adalah
cinta
kepada Allah, Rasul serta orang-orang mukmin, dengan berbuat
sesuatu
hang menunjukkan kecintaannya itu.
Dengan taubat
yang sesungguhnya seorang mukmin akan mantap memasuki kehidupan baru untuk meraih prediket tertinggi dalam
pengabdian yaitu taqwa, dosa – dosa yang selama ini menaungi hidup telah luntur
dan bersih karena mereka telah bertaubat kepada Allah, memasuki kehidupan baru
yang suci lagi bersih.
Orang yang bertaubat kepada
Allah dari dosa-dosa yang telah diperbuat, niscaya dia akan selalu mendapat
rahmat, perlindungan, barakah dan akan dilapangkan rezekinya serta kebahagiaan
hidup di dunia dan akherat, ”Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Tuhannya
dan syurga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, yang mereka kekal di
dalamnya dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal” [Ali Imran;136.
Taubat
memiliki keutamaan bagi orang yang menyadari kesalahannya lalu kembali menjadi
orang-orang yang shaleh yang diiringi dengan penyesalan yang mendalam, adapun
keutamaannya adalah;
a.Perbuatan yang paling utama;
Taubat kepada Allah adalah perbuatan yang paling
utama, oleh karena itu Allah selalu menyeru kepada orang-orang mukmin untuk
bertaubat, ”Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang
beiman supaya kamu beruntung” [An Nur 24;31] dan Allah selalu membuka
pintu-pintu taubat bagi hamba-hamba-Nya, ”Katakanlah,”Hai hamba-hamba-Ku yang
melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari
rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya, dan
sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [Az Zumar;53].
b.
Dosanya akan diampuni Allah;
Barangsiapa yang bertaubat dan memohon ampun
kepada –Nya, niscaya Allah akan mengampuninya, walaupun dia telah banyak
berbuat dosa,”Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau
menyesatkan dirinya sendiri. Kemudian ingat akan Allah dan memohon ampun atas
dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada
Allah. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan keji itu sedang mereka mengetahui”
[Ali Imran;135]
c.
Mendapat rahmat dari Allah
Orang yang bertaubat kepada Allah dari dosa-dosa
yang telah diperbuat, niscaya dia akan selalu mendapat rahmat, perlindungan,
barakah dan akan dilapangkan rezekinya serta kebahagiaan hidup di dunia dan
akherat, ”Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Tuhannya dan syurga yang di
bawahnya mengalir sungai-sungai, yang mereka kekal di dalamnya dan itulah
sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal” [Ali Imran;136].
d.
Hidup akan tentram dan sejahtera
Memohon ampun kepada Allah dengan meninggalkan
semua perbuatan-perbuatan dosa, inilah yang menyebabkan hidup tentram dan
sejahtera, lahirnya generasi-generasi yang shaleh dan menambah kemuliaan
baginya, ”Maka aku katakan kepada mereka, ”Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu,
sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan kepadamu hujan
yang lebat. Dan melimpahkan kepadamu harta dan keturunan, menyediakan untukmu
kebun-kebun dan sungai-sungai” [Nuh; 10-12].
e.
Tidak ada penghalang dengan Allah
Pintu taubat akan selalu terbuka bagi siapa saja
yang menghendaki, dan tidak seorangpun mampu menghalangi rahmat Allah darinya,
tidak ada hijab [penghalang] apapun antara dia dengan Tuhannya, ”Kecuali bagi
siapa saja yang bertaubat, beriman dan beramal shaleh, niscaya mereka itu akan
masuk ke dalam syurga dan tidak disesatkan sedikit juapun. Yaitu syurga Adn
yang telah dijanjikan oleh Tuhan Yang Maha Pemurah kepada hamba-hamba-Nya
sekalipun syurga itu tidak nampak, sesungguhnya janji Allah itu pasti akan
ditetapi” [Maryam 60;16].
f.
Menyelamatkan dari neraka
Maka taubatlah yang menumbuhkan iman dan amal
shaleh, sehingga terealisir
pengertiannya secara aktif dan jelas. Taubat juga menyelamatkan orang-orang
dari neraka, selain itu juga, tidak menjerumuskan mereka ke dalam jurang
kesesatan,”Akan tetapi mereka itu akan masuk ke dalam syurga dan tidak
disesatkan sedikitpun” [Maryam;60].
Adapun yang berhubungan
dengan persoalan diterimanya, maka hal itu hendaklah kita serahkan saja kepada
Dzat yang hendak menilai hati kita itu, sebab semuanya itu pasti sudah tertulis
dan tercatat dengan seterang-terangnya menurut ketentuan sejak zman azzali
dahulu yang bagi kita tidak mungkin untuk mengelakkannya, jikalau nyata
diterima, maka itulah yang namanya kemenangan atau kebahagiaan sebagaimana yang
disebutkan dalam firman Allah dalam surat Asy Syam 91;7-10 ”Dan jiwa serta penyempurnaannya
(ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan
ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,Dan
Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya..
Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw, menceritakan,
terdapat tiga orang pemuda yang sedang melakukan perjalanan. Ketika hari sudah
malam, mereka masuk ke dalam gua dengan maksud untuk menginap di dalam gua satu
malam saja. Setelah mereka berada di dalam, tiba-tiba sebuah batu besar jatuh
dari puncak bukit itu dan persis menutupi pintu gua. Mereka mencoba
mengeluarkan segala tenaga untuk menggeser batu besar itu. Tapi sedikitpun
tidak bergerak, sebab memang beratnya bukan imbangan tenaga manusia. Dengan
demikian mereka terkurung di dalam gua dan mungkin akan menemui ajalnya.
Pada saat-saat yang kritis
itu mereka menyadari sepenuhnya bahwa tidak ada yang dapat memberikan jalan
keluar bagi mereka dari kesulitan itu selain pertolongan Allah semata. Mereka
memutuskan untuk berdo’a kepada Allah dengan menyebutkan amalan ikhlas yang
pernah dilakukan, secara bergantian ketiganya berdo’a dengan khusyu’”Ya Allah aku punya seorang ibu dan bapak
yang sudah tua dan aku mempunyai seorang isteri dengan dua orang anak. Tiap
pagi saya meninggalkan rumah, menggembalakan kambing, kalau sore aku pulang
dengan membawa susu kambing murni yang segar untuk minuman ibu bapakku, isteri
dan anak-anakku. Suatu hari ya Allah, ketika aku pulang agak terlambat,
kudapati ayah dan ibuku sudah tidur, aku tidak tega mengganggu tidur mereka,
sedang isteri dan anak-anakku merengek minta minuman susu itu, tapi tidak aku
berikan sebelum ayah dan ibuku minum terlebih dahulu. Ya Allah seandainya yang
aku lakukan itu adalah sebuah kebaikan, maka tolonglah keluarkan kami dari gua
ini dengan selamat”.
Setelah pemuda yang
pertama ini berdo’a, maka batu yang menutupi gua itu bergerak sehingga tamak
secercah cahaya keberhasilan, tapi belum bis keluar. Pemuda keduapun berdo’a;”Ya Allah, aku adalah seorang majikan dari
sekian buruh yang bekerja di perkebunanku. Pada suatu hari salah seorang dari mereka pergi tanpa meninggalkan pesan
sehingga upahnya belum diambilnya. Gaji buruhku itu aku belikan sepasang
kambing yang aku urus dengan baik, sampai berbulan dan bertahun, maka jadilah
kambing itu jumlahnya ratusan ekor. Tanpa diduga buruh itu datang lagi untuk
meminta upahnya yang belum dibayar dahulu, maka ya Allah aku serahkan seluruh
kambing itu kepadanya dengan ikhlas, andaikata ini suatu amal ibadah, mohon
lepaskan kami dari bahaya ini”.
Tidak begitu lama batu
itupun bergerak semakin lebar, tapi belum bisa dilalui, maka tampillah pemuda
ketiga dengan do’anya;”Ya Allah, aku
adalah seorang pemuda yang punya kekasih, kebetulan dia anak pamanku yang
cantik. Pada suatu hari aku berdua saja dengannya berjalan-jalan sehingga kami
berada pada tempat yang jauh, tidak ada orang lain, kami hanya berdua saja, sehingga timbul syahwaku untuk
menggaulinya dan diapun pasrah. Saat aku berada
di atasnya untuk melakukan perbuatan nista itu aku sadar dan lari meninggalkannya,
sungguh ya Rabbi semua itu karena hidayah-Mu dan aku tidak jadi melakukan
perbuatan terkutuk itu, ya Allah bila ini suatu kebaikan maka selamatkanlah
kami dari derita ini ”.
Tidak berapa lama sesudah pemuda itu berdo’a
secara otomatis batu itu bergulir kencang meninggalkan mulut gua, maka
selamatlah mereka dari bencana yang nyaris membunuh ketiganya. Do'a dan
permohonan taubat mereka diterima Allah dengan wasilahnya yaitu amal-amal
shaleh. Taubat yang berarti penyesalan, sebagaimana yang difirmankan Allah SWT
dalam Al Baqarah 2;54, ”Maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan
bunuhlah dirimu”. ”Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang
yang beriman supaya kamu beruntung” [An Nur;31]Taubat yang berarti memberi ampun
,”Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan
orang-orang Anshar” [At Taubah;117], wallahu a'lam [Cubadak Solok, 18 Ramadhan
1431.H/ 28 Agustus 2010.M]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar