Ketika Nabi Ibrahim mencari Tuhan yang
layak disembah di dunia ini, dia melihat bintang-bintang berkelap-kelip,
lansung dia menyatakan, inilah Tuhan, tapi tidak begitu lama bintang-bintang itupun
hilang, akhirnya dia menyatakan, tidak mungkin Tuhan hilang, lalu nampaklah
olehnya Bulan, diapun bergumam, inila Tuhan, lebih besar dari yang tadi,
akhirnya menjelang siang Bulan hilang muncullah Matahari, diapun berkata, nah
ini yang lebih besar, inilah Tuhan itu, menjelang sore Matahari tenggelam,
akhirnya Ibrahim tidak meyakini benda-benda itu sebagai Tuhan, lansung dia
sujud menyerahkan diri kepada Tuhan, siapapun Tuhan itu.
Cerita diatas dapat dilihat pada
surat Al An’am 6; 76-79, sebuah sikap Nabi Ibrahim dalam berfikir mencari Tuhan
yang sebenarnya.
”ketika malam telah gelap,
Dia melihat sebuah bintang (lalu) Dia berkata: "Inilah Tuhanku",
tetapi tatkala bintang itu tenggelam Dia berkata: "Saya tidak suka kepada
yang tenggelam."kemudian tatkala Dia melihat bulan terbit Dia berkata:
"Inilah Tuhanku". tetapi setelah bulan itu terbenam, Dia berkata:
"Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaKu, pastilah aku
Termasuk orang yang sesat."
kemudian tatkala ia melihat
matahari terbit, Dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar".
Maka tatkala matahari itu terbenam, Dia berkata: "Hai kaumku, Sesungguhnya
aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.Sesungguhnya aku menghadapkan
diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada
agama yang benar, dan aku bukanlah Termasuk orang-orang yang mempersekutukan
tuhan.
Begitu usaha Ibrahim dalam berfikir, merenungkan
kejanggalan yang dia lihat dari kaumnya yang menyembah berhala, perenungan
melalui pemikiran yang jernih itulah akhirnya dia mendapat jawaban bahwasanya
Tuhan yang layak disembah itu hanyalah Allah semata, itu merupakan salah satu
hasil dari tafakkur yang dilakukannya.
Kata tafakkur berasal dari
akar kata fakkara-yufakkiru berarti berfikir dan merenung.Tafakkur adalah
berusaha untuk mengecoh atau menjinakkan pikiran kita yang terpecah dari
berbagai obyek lalu difokuskan kepada obyek terbatas, yaitu memikirkan
kemahakuasaan Allah SWT.Betapa yang banyak itu berasal dari Yang Maha Esa. Dari
situ nanti seseorang secara bertahap akan sampai pada sebuah aksioma bahwa
memang Tuhan betul-betul ada. Wujudnya berbeda (incomparable) dengan
makhluk-Nya.Wujud Tuhan disadari lebih mutlak daripada wujud makhluk.Pemilik
wujud yang hakiki adalah Tuhan. Kita dan seluruh makhluk-Nya yang lain hanya
wujud semu. Diri kita hanya wujud kamuflase.Kita dan para makhluk-Nya hanya
bentukan dari kumpulan atom-atom.Kalau atom-atom itu diurai tidak lebih hanya
semacam uap dan menguap akhirnya hilang. So, everybody and everything are nothing.
Kalangan teosofi mengumpamakan
kita dan para makhluk bagaikan gambaran yang ditangkap dalam cermin. Kelihatan
punya bentuk dan gerakan aktif tetapi sesungguhnya mereka itu tidak ada
apa-apanya tanpa adanya wujud di depan cermin itu. Wujud makhluk hanyalah wujud
reflektif dari Sang Maha Wujud yang tertangkap di dalam cermin.Tanpa wujud
hakiki itu maka tidak ada wujud kamuflase itu. Dari tafakkur ini kita akan
sampai pada kesimpulan selanjutnya bahwa Tuhan memang Maha Luar Biasa. Bukan
Tuhan Maha Angkuh dan kikir untuk memperkenalkan dirinya kepada kita tetapi
kapasitas memori kita tidak sanggup untuk merekam hakekat wujud Tuhan.Apa arti
sebuah cangkir untuk untuk mewadahi samudera, demikian ungkapan syair
Jalaluddin Rumi. Kapasitas memori kita amat terbatas (QS al-Isra/17: 85).
Ambisi manusia untuk mengerti
dan memahami Tuhan adalah manusiawi. Namun Al-Quran mengisyaratkan bahwa dengan
motivasi logika, seseorang tidak akan pernah memahami Tuhannya secara sempurna.
Nabi Musa pun sadar akan hal ini sehingga harus mengalah terhadap Khidlir (baca
kisah Musa dan Khidlir dalam QS al-Kahfi). Ini pelajaran buat kita bahwa
perestasi ilmiah dan intelektual seharusnya tidak membuat manusia itu
congkak.Karena hukum alam sangat bisa ditaklukkan oleh Pencipta-Nya.Kebenaran
ilmiah dan intelektual hanya bersifat akumulatif dan nisbi.Kebenaran hakiki di
tangan Sang Khaliq.Itulah sebabnya Ibn Arabi, tokoh utama teosofi
mengistilahkan Tuhan dengan Al-Haq (kebenaran) dan makhluk-Nya disebut al-khalq
(ciptaan). Al-khalq adalah obyek Sang Al-Haq.[Tafakkur,
Nasaruddin Umar,harianpelita.com].
Nasaruddin Umar,harianpelita.com].
Ada batasan kita dalam
bertafakkur, kita hanya boleh merenungi makhluk Allah atau merenungi hasil
ciptaan-Nya, tidak dibenarkan untuk memikirkan eksistensi Allah sebagaimana
sabda Rasulullah “Tafakkaru fi khalqillah wala tafakkaru fi zatihi” fikirkanlah
tentang ciptaan Allah dan jangan fikirkan tentang zat-Nya, banyak ciptaan Allah
dapat kita renungi di alam ini dalam rangka untuk menambah keimanan dan semakin
menundukkan jiwa kita.
Allah Yang Maha Mengatur,
sudah menciptakan alam semesta ini dengan ukuran (takaran) yang pas. Sesuai
firman-Nya: “Sungguh, Kami Menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (QS.
Al-Qamar: 49).
Coba kita bayangkan, jika bumi
sedikit lebih dekat saja ke matahari, apa yang terjadi? Tak ada kehidupan,
karena panasnya membakar habis apa yang ada di bumi. Atau, jika bumi sedikit
lebih jauh dari matahari, apa yang terjadi? Tak ada kehidupan, karena semuanya
membeku.
Allah SWT jugalah yang
mengatur segala gerak-gerik aktivitas makhluk-Nya di dunia ini.Mulai dari
orbit-orbit pada atom yang begitu kecil, hingga mengatur planet-planet dan
benda-benda angkasa lainnya supaya tak terjadi tabrakan. Coba kita bayangkan
lagi, jika ada satu saja partikel subatom yang melenceng keluar dari
lintasannya, apa yang terjadi? Dunia ini akan mengalami kekacauan. Atau, jika
satu planet tak mengikuti orbitnya, apa yang terjadi? Akan terjadi tabrakan
yang begitu dahsyatnya.
Jika saja Allah biarkan
,sedetik saja, matahari tak bersinar, apa akibatnya? Kehidupan akan
kacau-balau. Inilah kekuasaan Allah SWT.Dia mengatur semuanya, hingga detail
sekecil apapun. Kalau saja ada perhitungan yang meleset (walaupun ini tidak
mungkin bagi Allah SWT), kita tidak dapat membayangkan kekacauan apa yang akan
terjadi.
Maka itu, Allah sering
menyuruh kita untuk merenungi ciptaan-Nya, mengambil hikmah darinya.“Dan di
bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan
(juga) pada dirimu sendiri.Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS
Adz-Dzaariyaat: 20-21).
Pada ayat lain Allah
berfirman: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam
dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.” (QS
Ali ‘Imraan: 190).
Kita sebagai orang beriman, tujuan kita
menuntut ilmu adalah untuk menambah iman kita kepada Allah SWT, bukan
sebaliknya.Coba bayangkan, ketika pelajaran tentang atom, munculkan perasaan
kagum kita pada Allah SWT. Betapa Dia menciptakan dan mengatur atom-atom itu,
beserta putaran-putaran partikel subatom di dalamnya, tanpa kesalahan
sedikitpun! Tak ada tabrakan antar atom tersebut. Lebih hebatnya lagi, tak ada
tabrakan antar elektron-elektron yang mengorbit di dalam atom tersebut!
betapa hukum-hukum-Nya begitu
mempesona. Gravitasi, gerak, optik, kalor, usaha, energi, semua Dia ciptakan
beserta rumus-rumusnya!
Sudah begitu banyaknya Ia
hamparkan bukti-bukti kekuasaan-Nya, maka keterlaluan jika kita masih menafikan
keberadaan-Nya. Apalagi menyebut bahwa semua ciptaan ini hanya berasal dari
ketidaksengajaan semata, seperti yang diungkapkan para evolusionis.
Maka, saudaraku, renungilah
alam ciptaan-Nya ini.Begitu indah, begitu mempesona.Sungguh tak ada kesalahan
dan cacat di dalamnya. Semuanya bermanfaat.[Muhammad Fatih ,Bertafakkur,Republika
Online Rabu, 13 April 2011 06:07 WIB].
Renungan hidup yang perlu kita
jadikan sebagai bahan tafakkur diantaranya adalah tentang makna kehidupan yang
dilalui manusia ini, apakah kehidupan ini hanya untuk menghabiskan sisa-sisa
usia dengan segala kesenangannya atau ada beban yang sedang kita pikul yang
akan dipertanggungjawabkan kelak di akherat.
Allah SWT memerintahkan kepada
hamba-hambanya baik melalui kalimat secara langsung maupun tidak langsung, agar
memperbanyak tafakkur/merenung. Termasuklah salah satu bahan renungan adalah
tentang makna sebuah kehidupan; darimana asal kejadian, bagaimana proses
penciptaan manusia, mengapa dan untuk apa diciptakan, kemudian kemana akhir
kehidupan, serta apa kejadian sesudah dimatikan. Demikian isi kandungan dari
ayat di atas.
Yang dapat diketahui bahwa
manusia diciptakan dari saripati tanah, menjadi mani, menjadi segumpal darah,
segumpal darah kemudian menjadi segumpal daging, daging dikuatkan dengan tulang
jadilah manusia seperti kita yang kemudian berproses dalam kehidupan dari masa
anak-anak, remaja, tua, hingga mengakhirinya dengan kematian, kemudian
dibangkitkan untuk mempertanggung-jawabkan masa kehidupan di dunia. Ini adalah
proses alamiah yang tidak hanya manusia yang akan melewatinya, tetapi seluruh
makhluk yang bernyawa."Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan
dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang Telah ditentukan waktunya." (QS
Ali Imran :145)
Apabila disadari betul-betul
hidup di dunia sungguh-sungguh singkat, sangat-sangat sebentar/sesa’at, menurut
WHO salah satu badan kesehatan dunia, rata-rata harapan manusia untuk hidup
maksimal adalah antara 50-79 tahun.Hal ini apabila dibandingkan dengan
kehidupan akhirat yang kekal abadi. Allah SWT menggambarkannya: "Pada hari
mereka melihat hari berbangkit itu, mereka seakan-akan tidak tinggal (di dunia)
melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi." (QS 79: 46)
Dari pemahaman yang mendalam
inilah, diharapkan timbul kesadaran, dan dari kesadaran diharapkan muncul
akhlak yang mulia selama menjalani hidup di dunia. Dengan prinsip untuk apa
melalaikan perintah Allah dalam kehidupan yang singkat dan terbatas, dan untuk
apa berbuat jahat kepada sesama manusia, semua itu akan sia-sia dan menjadikan
rugi bahkan menyesal ketika di hari pertanggungjawaban.
Sebaliknya, hidup yang serba
singkat ini hendaknya banyak berbekal dengan keshalehan, ketakwaan, mengisi
waktu tersisa dengan hal-hal yang bermanfaat dan banyak membahagiakan orang
lain tentunya dapat mengantarkan manusia kepada ketenangan menjalani kehidupan
dunia dan akhirat.
"Hai anak Adam,
sesungguhnya Kami telah menurunkan pakaian untuk menutupi 'auratmu dan pakaian
indah untuk perhiasan.Dan pakaian takwa itulah yang baik.Yang demikian itu
adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu
ingat."(QS 7: 26)[Madri SPdI,Renungan Hidup, Republika Online,Selasa,
19 April 2011 07:17 WIB].
Bahan tafakkur agar hidup kita selamat,
tidak sebagaimana yang terjadi pada ummat terdahulu harus juga menjadi renungan kita, betapa banyaknya kisah yang
diangkat Al Qur’an tentang ummat terdahulu, yang durhaka kepada Allah karena
kesombongan mereka, akhirnya hancur tak berdaya ketika azab diturunkan kepada
mereka, Ustadz Mashadi dalam eramuslim.com. mengungkapkan dalam tulisannya yang
berjudul ”Belajarlah Dari Kehancuran Kaum Terdahulu”.
Al-Qur’an adalah minhaj
Rabbani yang diberikan kepada Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam untuk
seluruh umat manusia, dan mengikuti agama (din) Allah, yang akan menyelamatkan
kehidupan mereka di dunia di akhirat. Minhaj Rabbani ini bersifat mutlak
(final), dan akan berlaku sepanjang zaman (sepanjang kehidupan manusia).
Meskipun, banyak diantara umat manusia yang menolak dan menentangnya. (QS.
Al-A’raf : 2, 3).
Tetapi seperti digambarkan
dalam Al-Qur’an yang menceritakan tidak semua umat menerima Al-Qur’an yang
merupakan petunjuk (hudan), dan jalan lurus (shirat) yang diberikan oleh Allah
kepada manusia. Manusia ada yang hati tertutup (kufur), tidak menerima risalah
Allah Azza wa Jalla, dan menolaknya dengan terang-terangan. Mereka yang menolak
risalah Allah itu, mereka yang yang mengikuti hawa nafsunya sebagai jalan
hidupnya.Ketika menolak din (agama) Allah, mereka binasa. Di negeri-negeri yang
umatnya terang-terangan menolak din Allah dihancurkan. Bahkan bukan hanya
dihancurkan mereka itu, tetapi mendapatkan siska yang amat dahsyat dari Allah
Rabbul Alamin, akibat perbuatan mereka yang zalim. (QS. Al-A’raf : 4, 5)
Tentu, yang pertama dilaknat
oleh Allah Ta’ala, tak lain, adalah Iblis, yang membangkang, karena sifatnya
yang sombong. Kesombongan Iblis itu, tak lain karena merasa dirirnya lebih
mulia dibanding dengan Adam As, karena Iblis diciptakan dari api, sedangkan
Adam As dari tanah. Jadi kekafiran lahir, dapat pula dari adanya asal usul.Inilah
yang banyak terjadi sekarang ini, di mana manusia juga mengikuti jejak Iblis,
yang mengagungkan asal-usul (keturunan), bukan yang menjadi ukuran keimanan dan
ketakwaannya.Maka, Iblis diusir dari surga oleh Allah, karena sikapnya yang
sombong dan ingkar itu. (QS. Al-A’raf : 12,13)
Makhluk yang diciptakan oleh
Allah, yang terkena perintah harus meninggalkan surga, adalah Adam As, yang
terkena bujukan dan kemudian memakan buah yang dilarang oleh Allah, yaitu buah
kuldi. Adam As, lalai atas larangan itu, dan terbujuk dengan bisikan Iblis, dan
kemudian melanggar perintah Allh. Adam As, merupakan makhluk pertama yang
diciptakan yang melanggar perintah Allah, karena terkena fitnah Iblis, dan
kemudian diusir dari surga. (QS. Al-A’raf : 20, 22).
Selanjutnya, kisah Nabi Nuh
As, mengajak umat untuk beriman, tetapi ajakannya ditentang dengan keras,
bahkan beliau dituduh sesat oleh para pemimpin kaumnyaitu. Dakwah yang
dilangsungkan Nabi Nuh As, yang berlangsung selama hampir 90 tahun, gagal, dan
terus mendapatkan penolakan dari kaumnya, sampailah datang datang azab dari
berupa datangnya air bah (tsunami), yang menghancurkan seluruh kaumnya. (QS.
Al-A’raf : 59, 60, 64).
Kaum Nabi Hud As, yang dikenal
dengan kaum ‘Ad, yang juga menolak untuk beriman kepada Allah. Mereka menola
ajakan Nabi Hud As, yang diutus menyampaikan risalah dari Allah Ta’ala, yang
kemudian ditolak oleh para pemimpin kaumnya itu. Nabi Hud As jug dituduh kurang
waras (gila), dan terus menola ajakan Nabi Hud, meskipun beliau mengatakan
tentang risalah Allah Ta’ala itu, tetapi kaum tetap menolaknya, dan kemudian
dihancurkan seluruhnya sampai ke akar-akarnya dengan kejadian yang dahsyat,
datangnya angin topan. Mula-mula kekeringan yang panjang yang mematikan seluruh
tanaman mereka, kemudian datang awan hitam yang menggumpal diatas awan, yang
dikiran akan datangnya huja, ternyata topan. (QS. Al-A’raf : 65, 66, 71).
Kisah berikutnya, kaumnya Nabi
Saleh As, yaitu kaum Samud, yang menyembah agama Allah, dan dilarang menyakiti
unta betina, tetapi perintah dan larangan itu, semuanya dilanggar oleh kaumnya
Nabi Saleh As, yang dihancurkan dengan gempa bumi dahsyat, sehingga kaum Samud
luluh lantak.
Kisah Nabi Luth As, yang
kaumnya melakukan perbuatan terkutuk dengan melakukan sodomi (liwat). Ketika
Nabi Luth As, melarang perbuatan keji itu, mereka tidak menggubrisnya, dan
mengusirnya Nabi Luth dan para pengikutnya yang beriman, dan kaumnya Nabi Luth
dihancurkan oleh Allah Ta’ala dengan hujan batu karena perbuatan dosa mereka.
(QS. Al-A’raf : 80, 81, 84).
Masih dalam kisah, tentang
Nabi Syu’aib As, yang menyuruh kaumnya ta’at kepada Allah, dan tidak berlaku
curang dengan cara mengurangi timbangan, tetapi kaumnya itu tetap sombong, dan
tidak mau mengikuti syariah yang diperintahkan Allah kepada mereka. Tetapi,
lagi-lagi kaumnya Nabi Syu’aib bersama denga para pemukanya, mengusir Nabi
Syu’aib, kecuali Nabi Syu’aib mau kembali ke agama mereka yang sesat itu, dan
Allah menurunkan adab terhadap mereka berupa gempa yang amat dahsyat, yang
memusnahkan kaumnya Nabi Syu’aib. (QS. Al-A’raf : 85, 88, 90, 91).
Terakhir, kaumnya Nabi Musa
As, yang telah diselamatkan dari kehancuran, akibat selalu ingkar dan berbuat
zalim.Kaumnya Nabi Musa As ini diselamatkan dari kekejaman Fir’aun, dan mereka
selamat dari bahaya kehancuran, tetapi mereka tetap tidak mau beriman, dan
selalu berbuat kekafiran, seperti membuat patung sapi, yang kemudian mereka
sembah.Inilah kisah antara Nabi Musa As, kaumnya, dan Fir’aun, yang dimenangkan
oleh Nabi Musa As, dan kaumnya.Tetapi lagi-lagi mereka ingkar dan kafir, dan
menolak untuk beriman kepada Allah.Mereka tetap menyembah berhala. (QS.
Al-A’raf : 150, 155, 162, 167).
Dan, seburuk-buruknya kaum
adalah kaum Yahudi, yang terus-menerus berbuat dzalim, dan menolak kebenaran,
dan ingkar dengan seingkar-ingkarnya kepada risalah
Allah.[Mashadi.Eramuslim.com.Senin, 16/08/2010 14:02 WIB].
Betapa banyaknya manusia yang
tidak mau bertafakkur di dunia ini, semua kehidupan yang diterimanya serba
instan tanpa lagi difikirkan, darimana, kemana, mau apa, dan bagaimana, dia telah menjadikan hidup ini
adalah ini dan disini, jauh dari fikirannya kalau kehidupan yang abadi itu di
akherat, hanya orang-orang yang tafakkur yang menyadari masih adanya kehidupan
akherat kelak, hanya orang yang tafakkur yang semakin mendekatkan dirinya
kepada Allah,Wallahu A’lam
[Cubadak Solok, 24 Syawal 11432.H/ 22 September 2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar