Senin, 30 November 2015

73. Andai akuTahu Tafakkur Berpahala



Ketika Nabi Ibrahim mencari Tuhan yang layak disembah di dunia ini, dia melihat bintang-bintang berkelap-kelip, lansung dia menyatakan, inilah Tuhan, tapi tidak begitu lama bintang-bintang itupun hilang, akhirnya dia menyatakan, tidak mungkin Tuhan hilang, lalu nampaklah olehnya Bulan, diapun bergumam, inila Tuhan, lebih besar dari yang tadi, akhirnya menjelang siang Bulan hilang muncullah Matahari, diapun berkata, nah ini yang lebih besar, inilah Tuhan itu, menjelang sore Matahari tenggelam, akhirnya Ibrahim tidak meyakini benda-benda itu sebagai Tuhan, lansung dia sujud menyerahkan diri kepada Tuhan, siapapun Tuhan itu.
            Cerita diatas dapat dilihat pada surat Al An’am 6; 76-79, sebuah sikap Nabi Ibrahim dalam berfikir mencari Tuhan yang sebenarnya.
”ketika malam telah gelap, Dia melihat sebuah bintang (lalu) Dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam Dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam."kemudian tatkala Dia melihat bulan terbit Dia berkata: "Inilah Tuhanku". tetapi setelah bulan itu terbenam, Dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaKu, pastilah aku Termasuk orang yang sesat."
kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, Dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, Dia berkata: "Hai kaumku, Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah Termasuk orang-orang yang mempersekutukan tuhan.

Begitu usaha Ibrahim dalam berfikir, merenungkan kejanggalan yang dia lihat dari kaumnya yang menyembah berhala, perenungan melalui pemikiran yang jernih itulah akhirnya dia mendapat jawaban bahwasanya Tuhan yang layak disembah itu hanyalah Allah semata, itu merupakan salah satu hasil dari tafakkur yang dilakukannya.

Kata tafakkur berasal dari akar kata fakkara-yufakkiru berarti berfikir dan merenung.Tafakkur adalah berusaha untuk mengecoh atau menjinakkan pikiran kita yang terpecah dari berbagai obyek lalu difokuskan kepada obyek terbatas, yaitu memikirkan kemahakuasaan Allah SWT.Betapa yang banyak itu berasal dari Yang Maha Esa. Dari situ nanti seseorang secara bertahap akan sampai pada sebuah aksioma bahwa memang Tuhan betul-betul ada. Wujudnya berbeda (incomparable) dengan makhluk-Nya.Wujud Tuhan disadari lebih mutlak daripada wujud makhluk.Pemilik wujud yang hakiki adalah Tuhan. Kita dan seluruh makhluk-Nya yang lain hanya wujud semu. Diri kita hanya wujud kamuflase.Kita dan para makhluk-Nya hanya bentukan dari kumpulan atom-atom.Kalau atom-atom itu diurai tidak lebih hanya semacam uap dan menguap akhirnya hilang. So, everybody and everything are nothing. 

Kalangan teosofi mengumpamakan kita dan para makhluk bagaikan gambaran yang ditangkap dalam cermin. Kelihatan punya bentuk dan gerakan aktif tetapi sesungguhnya mereka itu tidak ada apa-apanya tanpa adanya wujud di depan cermin itu. Wujud makhluk hanyalah wujud reflektif dari Sang Maha Wujud yang tertangkap di dalam cermin.Tanpa wujud hakiki itu maka tidak ada wujud kamuflase itu. Dari tafakkur ini kita akan sampai pada kesimpulan selanjutnya bahwa Tuhan memang Maha Luar Biasa. Bukan Tuhan Maha Angkuh dan kikir untuk memperkenalkan dirinya kepada kita tetapi kapasitas memori kita tidak sanggup untuk merekam hakekat wujud Tuhan.Apa arti sebuah cangkir untuk untuk mewadahi samudera, demikian ungkapan syair Jalaluddin Rumi. Kapasitas memori kita amat terbatas (QS al-Isra/17: 85).

Ambisi manusia untuk mengerti dan memahami Tuhan adalah manusiawi. Namun Al-Quran mengisyaratkan bahwa dengan motivasi logika, seseorang tidak akan pernah memahami Tuhannya secara sempurna. Nabi Musa pun sadar akan hal ini sehingga harus mengalah terhadap Khidlir (baca kisah Musa dan Khidlir dalam QS al-Kahfi). Ini pelajaran buat kita bahwa perestasi ilmiah dan intelektual seharusnya tidak membuat manusia itu congkak.Karena hukum alam sangat bisa ditaklukkan oleh Pencipta-Nya.Kebenaran ilmiah dan intelektual hanya bersifat akumulatif dan nisbi.Kebenaran hakiki di tangan Sang Khaliq.Itulah sebabnya Ibn Arabi, tokoh utama teosofi mengistilahkan Tuhan dengan Al-Haq (kebenaran) dan makhluk-Nya disebut al-khalq (ciptaan). Al-khalq adalah obyek Sang Al-Haq.[Tafakkur,
Nasaruddin Umar,harianpelita.com].

Ada batasan kita dalam bertafakkur, kita hanya boleh merenungi makhluk Allah atau merenungi hasil ciptaan-Nya, tidak dibenarkan untuk memikirkan eksistensi Allah sebagaimana sabda Rasulullah “Tafakkaru fi khalqillah wala tafakkaru fi zatihi” fikirkanlah tentang ciptaan Allah dan jangan fikirkan tentang zat-Nya, banyak ciptaan Allah dapat kita renungi di alam ini dalam rangka untuk menambah keimanan dan semakin menundukkan jiwa kita.

Allah Yang Maha Mengatur, sudah menciptakan alam semesta ini dengan ukuran (takaran) yang pas. Sesuai firman-Nya: “Sungguh, Kami Menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (QS. Al-Qamar: 49).
Coba kita bayangkan, jika bumi sedikit lebih dekat saja ke matahari, apa yang terjadi? Tak ada kehidupan, karena panasnya membakar habis apa yang ada di bumi. Atau, jika bumi sedikit lebih jauh dari matahari, apa yang terjadi? Tak ada kehidupan, karena semuanya membeku.

Allah SWT jugalah yang mengatur segala gerak-gerik aktivitas makhluk-Nya di dunia ini.Mulai dari orbit-orbit pada atom yang begitu kecil, hingga mengatur planet-planet dan benda-benda angkasa lainnya supaya tak terjadi tabrakan. Coba kita bayangkan lagi, jika ada satu saja partikel subatom yang melenceng keluar dari lintasannya, apa yang terjadi? Dunia ini akan mengalami kekacauan. Atau, jika satu planet tak mengikuti orbitnya, apa yang terjadi? Akan terjadi tabrakan yang begitu dahsyatnya.

Jika saja Allah biarkan ,sedetik saja, matahari tak bersinar, apa akibatnya? Kehidupan akan kacau-balau. Inilah kekuasaan Allah SWT.Dia mengatur semuanya, hingga detail sekecil apapun. Kalau saja ada perhitungan yang meleset (walaupun ini tidak mungkin bagi Allah SWT), kita tidak dapat membayangkan kekacauan apa yang akan terjadi.

Maka itu, Allah sering menyuruh kita untuk merenungi ciptaan-Nya, mengambil hikmah darinya.“Dan di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri.Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS Adz-Dzaariyaat: 20-21).

Pada ayat lain Allah berfirman: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.” (QS Ali ‘Imraan: 190).

  Kita sebagai orang beriman, tujuan kita menuntut ilmu adalah untuk menambah iman kita kepada Allah SWT, bukan sebaliknya.Coba bayangkan, ketika pelajaran tentang atom, munculkan perasaan kagum kita pada Allah SWT. Betapa Dia menciptakan dan mengatur atom-atom itu, beserta putaran-putaran partikel subatom di dalamnya, tanpa kesalahan sedikitpun! Tak ada tabrakan antar atom tersebut. Lebih hebatnya lagi, tak ada tabrakan antar elektron-elektron yang mengorbit di dalam atom tersebut!

betapa hukum-hukum-Nya begitu mempesona. Gravitasi, gerak, optik, kalor, usaha, energi, semua Dia ciptakan beserta rumus-rumusnya!
Sudah begitu banyaknya Ia hamparkan bukti-bukti kekuasaan-Nya, maka keterlaluan jika kita masih menafikan keberadaan-Nya. Apalagi menyebut bahwa semua ciptaan ini hanya berasal dari ketidaksengajaan semata, seperti yang diungkapkan para evolusionis.
Maka, saudaraku, renungilah alam ciptaan-Nya ini.Begitu indah, begitu mempesona.Sungguh tak ada kesalahan dan cacat di dalamnya. Semuanya bermanfaat.[Muhammad Fatih ,Bertafakkur,Republika Online Rabu, 13 April 2011 06:07 WIB].

Renungan hidup yang perlu kita jadikan sebagai bahan tafakkur diantaranya adalah tentang makna kehidupan yang dilalui manusia ini, apakah kehidupan ini hanya untuk menghabiskan sisa-sisa usia dengan segala kesenangannya atau ada beban yang sedang kita pikul yang akan dipertanggungjawabkan kelak di akherat.
Allah SWT memerintahkan kepada hamba-hambanya baik melalui kalimat secara langsung maupun tidak langsung, agar memperbanyak tafakkur/merenung. Termasuklah salah satu bahan renungan adalah tentang makna sebuah kehidupan; darimana asal kejadian, bagaimana proses penciptaan manusia, mengapa dan untuk apa diciptakan, kemudian kemana akhir kehidupan, serta apa kejadian sesudah dimatikan. Demikian isi kandungan dari ayat di atas.

Yang dapat diketahui bahwa manusia diciptakan dari saripati tanah, menjadi mani, menjadi segumpal darah, segumpal darah kemudian menjadi segumpal daging, daging dikuatkan dengan tulang jadilah manusia seperti kita yang kemudian berproses dalam kehidupan dari masa anak-anak, remaja, tua, hingga mengakhirinya dengan kematian, kemudian dibangkitkan untuk mempertanggung-jawabkan masa kehidupan di dunia. Ini adalah proses alamiah yang tidak hanya manusia yang akan melewatinya, tetapi seluruh makhluk yang bernyawa."Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang Telah ditentukan waktunya." (QS Ali Imran :145)

Apabila disadari betul-betul hidup di dunia sungguh-sungguh singkat, sangat-sangat sebentar/sesa’at, menurut WHO salah satu badan kesehatan dunia, rata-rata harapan manusia untuk hidup maksimal adalah antara 50-79 tahun.Hal ini apabila dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang kekal abadi. Allah SWT menggambarkannya: "Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi." (QS 79: 46)

Dari pemahaman yang mendalam inilah, diharapkan timbul kesadaran, dan dari kesadaran diharapkan muncul akhlak yang mulia selama menjalani hidup di dunia. Dengan prinsip untuk apa melalaikan perintah Allah dalam kehidupan yang singkat dan terbatas, dan untuk apa berbuat jahat kepada sesama manusia, semua itu akan sia-sia dan menjadikan rugi bahkan menyesal ketika di hari pertanggungjawaban.

Sebaliknya, hidup yang serba singkat ini hendaknya banyak berbekal dengan keshalehan, ketakwaan, mengisi waktu tersisa dengan hal-hal yang bermanfaat dan banyak membahagiakan orang lain tentunya dapat mengantarkan manusia kepada ketenangan menjalani kehidupan dunia dan akhirat.

"Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan pakaian untuk menutupi 'auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan.Dan pakaian takwa itulah yang baik.Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat."(QS 7: 26)[Madri SPdI,Renungan Hidup, Republika Online,Selasa, 19 April 2011 07:17 WIB].

                Bahan tafakkur agar hidup kita selamat, tidak sebagaimana yang terjadi pada ummat terdahulu harus juga menjadi  renungan kita, betapa banyaknya kisah yang diangkat Al Qur’an tentang ummat terdahulu, yang durhaka kepada Allah karena kesombongan mereka, akhirnya hancur tak berdaya ketika azab diturunkan kepada mereka, Ustadz Mashadi dalam eramuslim.com. mengungkapkan dalam tulisannya yang berjudul ”Belajarlah Dari Kehancuran Kaum Terdahulu”.

Al-Qur’an adalah minhaj Rabbani yang diberikan kepada Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam untuk seluruh umat manusia, dan mengikuti agama (din) Allah, yang akan menyelamatkan kehidupan mereka di dunia di akhirat. Minhaj Rabbani ini bersifat mutlak (final), dan akan berlaku sepanjang zaman (sepanjang kehidupan manusia). Meskipun, banyak diantara umat manusia yang menolak dan menentangnya. (QS. Al-A’raf : 2, 3).

Tetapi seperti digambarkan dalam Al-Qur’an yang menceritakan tidak semua umat menerima Al-Qur’an yang merupakan petunjuk (hudan), dan jalan lurus (shirat) yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Manusia ada yang hati tertutup (kufur), tidak menerima risalah Allah Azza wa Jalla, dan menolaknya dengan terang-terangan. Mereka yang menolak risalah Allah itu, mereka yang yang mengikuti hawa nafsunya sebagai jalan hidupnya.Ketika menolak din (agama) Allah, mereka binasa. Di negeri-negeri yang umatnya terang-terangan menolak din Allah dihancurkan. Bahkan bukan hanya dihancurkan mereka itu, tetapi mendapatkan siska yang amat dahsyat dari Allah Rabbul Alamin, akibat perbuatan mereka yang zalim. (QS. Al-A’raf : 4, 5)

Tentu, yang pertama dilaknat oleh Allah Ta’ala, tak lain, adalah Iblis, yang membangkang, karena sifatnya yang sombong. Kesombongan Iblis itu, tak lain karena merasa dirirnya lebih mulia dibanding dengan Adam As, karena Iblis diciptakan dari api, sedangkan Adam As dari tanah. Jadi kekafiran lahir, dapat pula dari adanya asal usul.Inilah yang banyak terjadi sekarang ini, di mana manusia juga mengikuti jejak Iblis, yang mengagungkan asal-usul (keturunan), bukan yang menjadi ukuran keimanan dan ketakwaannya.Maka, Iblis diusir dari surga oleh Allah, karena sikapnya yang sombong dan ingkar itu. (QS. Al-A’raf : 12,13)

Makhluk yang diciptakan oleh Allah, yang terkena perintah harus meninggalkan surga, adalah Adam As, yang terkena bujukan dan kemudian memakan buah yang dilarang oleh Allah, yaitu buah kuldi. Adam As, lalai atas larangan itu, dan terbujuk dengan bisikan Iblis, dan kemudian melanggar perintah Allh. Adam As, merupakan makhluk pertama yang diciptakan yang melanggar perintah Allah, karena terkena fitnah Iblis, dan kemudian diusir dari surga. (QS. Al-A’raf : 20, 22).

Selanjutnya, kisah Nabi Nuh As, mengajak umat untuk beriman, tetapi ajakannya ditentang dengan keras, bahkan beliau dituduh sesat oleh para pemimpin kaumnyaitu. Dakwah yang dilangsungkan Nabi Nuh As, yang berlangsung selama hampir 90 tahun, gagal, dan terus mendapatkan penolakan dari kaumnya, sampailah datang datang azab dari berupa datangnya air bah (tsunami), yang menghancurkan seluruh kaumnya. (QS. Al-A’raf : 59, 60, 64).

Kaum Nabi Hud As, yang dikenal dengan kaum ‘Ad, yang juga menolak untuk beriman kepada Allah. Mereka menola ajakan Nabi Hud As, yang diutus menyampaikan risalah dari Allah Ta’ala, yang kemudian ditolak oleh para pemimpin kaumnya itu. Nabi Hud As jug dituduh kurang waras (gila), dan terus menola ajakan Nabi Hud, meskipun beliau mengatakan tentang risalah Allah Ta’ala itu, tetapi kaum tetap menolaknya, dan kemudian dihancurkan seluruhnya sampai ke akar-akarnya dengan kejadian yang dahsyat, datangnya angin topan. Mula-mula kekeringan yang panjang yang mematikan seluruh tanaman mereka, kemudian datang awan hitam yang menggumpal diatas awan, yang dikiran akan datangnya huja, ternyata topan. (QS. Al-A’raf : 65, 66, 71).

Kisah berikutnya, kaumnya Nabi Saleh As, yaitu kaum Samud, yang menyembah agama Allah, dan dilarang menyakiti unta betina, tetapi perintah dan larangan itu, semuanya dilanggar oleh kaumnya Nabi Saleh As, yang dihancurkan dengan gempa bumi dahsyat, sehingga kaum Samud luluh lantak.

Kisah Nabi Luth As, yang kaumnya melakukan perbuatan terkutuk dengan melakukan sodomi (liwat). Ketika Nabi Luth As, melarang perbuatan keji itu, mereka tidak menggubrisnya, dan mengusirnya Nabi Luth dan para pengikutnya yang beriman, dan kaumnya Nabi Luth dihancurkan oleh Allah Ta’ala dengan hujan batu karena perbuatan dosa mereka. (QS. Al-A’raf : 80, 81, 84).

Masih dalam kisah, tentang Nabi Syu’aib As, yang menyuruh kaumnya ta’at kepada Allah, dan tidak berlaku curang dengan cara mengurangi timbangan, tetapi kaumnya itu tetap sombong, dan tidak mau mengikuti syariah yang diperintahkan Allah kepada mereka. Tetapi, lagi-lagi kaumnya Nabi Syu’aib bersama denga para pemukanya, mengusir Nabi Syu’aib, kecuali Nabi Syu’aib mau kembali ke agama mereka yang sesat itu, dan Allah menurunkan adab terhadap mereka berupa gempa yang amat dahsyat, yang memusnahkan kaumnya Nabi Syu’aib. (QS. Al-A’raf : 85, 88, 90, 91).

Terakhir, kaumnya Nabi Musa As, yang telah diselamatkan dari kehancuran, akibat selalu ingkar dan berbuat zalim.Kaumnya Nabi Musa As ini diselamatkan dari kekejaman Fir’aun, dan mereka selamat dari bahaya kehancuran, tetapi mereka tetap tidak mau beriman, dan selalu berbuat kekafiran, seperti membuat patung sapi, yang kemudian mereka sembah.Inilah kisah antara Nabi Musa As, kaumnya, dan Fir’aun, yang dimenangkan oleh Nabi Musa As, dan kaumnya.Tetapi lagi-lagi mereka ingkar dan kafir, dan menolak untuk beriman kepada Allah.Mereka tetap menyembah berhala. (QS. Al-A’raf : 150, 155, 162, 167).

Dan, seburuk-buruknya kaum adalah kaum Yahudi, yang terus-menerus berbuat dzalim, dan menolak kebenaran, dan ingkar dengan seingkar-ingkarnya kepada risalah Allah.[Mashadi.Eramuslim.com.Senin, 16/08/2010 14:02 WIB].

Betapa banyaknya manusia yang tidak mau bertafakkur di dunia ini, semua kehidupan yang diterimanya serba instan tanpa lagi difikirkan, darimana, kemana, mau apa,  dan bagaimana, dia telah menjadikan hidup ini adalah ini dan disini, jauh dari fikirannya kalau kehidupan yang abadi itu di akherat, hanya orang-orang yang tafakkur yang menyadari masih adanya kehidupan akherat kelak, hanya orang yang tafakkur yang semakin mendekatkan dirinya kepada Allah,Wallahu A’lam [Cubadak Solok, 24 Syawal 11432.H/ 22 September 2011.M].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar