Terciptanyasebuahkabilahatausukuhinggamenjadisebuahbangsaberawaldaridiciptakannyapribadi-pribadimanusiadariseorang
ayah danseorangibumelaluipernikahandalamsebuahrumahtangga, bila Allah
mentakdirkanhasilpernikahanitumakalahirnyabeberapaanakdanketurunan;
"Haimanusia, Sesungguhnya kami
menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa
- bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang
paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling
taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal" [Al
Hujurat 49;13]
Tidaklah berlebihan bila dinyatakan bahwa tanpa orangtua maka tidak ada
pula anak, artinya kehadiran anak selain memang ditakdirkan Allah,
juga merupakan rentetan kehidupan dari seorang ayah dan seorang ibu, yang mengandung,
melahirkan dan membesarkan sibuah hatinya, pentingnya keberadaan orangtua yang
berdekatan dengan Allah tergambar dalam hadits Rasulullah, "Keridhaan Allah
tergantung kepada keridhaan kedua orang tua dan murka Allah pun
terletak pada murka kedua orang tua."(HR. Al Hakim)
Dalam surat An Nisa’
4;36 Allah berfirman;
"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan
sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat,
anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang
jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil[295] dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,
Pada ayat tersebut tergambar bahwa seorang anak
berkewajiban unuk beribadah hanya kepada Allah Swt, seluruh hidupnya harus
bernuansa ibadah, tidak boleh menserikatkan Allah dengan sesuatu apapun karena
syirik itu merupakan kezhaliman yang besar, beribadah dengan motivasi/ niat
selain Allah maka dihadapan-Nya tidak ada artinya sama sekali. Sedangkan
kewajiban yang kedua adalah berbakti atau berbuat baik kepada kedua
orangtuanya, disini tergambar bahwa kebaktian kepada Allah harus diiringi
dengan kebaktian kepada orangtua, tidak sempurna ibadah seseorang kepada Allah
kalau dia durhaka kepada orangtuanya, demikian pula berbuat baik kepada
orangtua juga sia-sia sementara tidak beriman kepada Allah, disini tidak bisa
dipisahkan iman kepada Allah dengan berbuat baik kepada kedua orangtua.
Berbakti kepada kedua orangtua atau ”birrul walidain’’
dianjurkan oleh Allah Swt. Ia memerintahkan hal ini dan memuji sebagian
Rasul-Nya yang telah berbakti kepada kedua orangtuanya, untuk itu Ia berfirman
sehubungan dengan nabi Yahya As, ”Dan
seorang yang berbakti kepada kedua orangtuanya, dan bukanlah ia seorang yang
sombong lagi durhaka” [Maryam 19;14].
"SeorangdatangkepadaNabiSaw. Diamengemukakanhasratnyauntukikutberjihad.Nabi Saw bertanyakepadanya, "Apakahkamumasihmempunyaikeduaoranggtua?"Orang itumenjawab, "Masih."LaluNabi Saw bersabda, "Untukkepentinganmerekalahkamuberjihad." (Mutafaq'alaih)
Nabi Saw melarangnyaikutberperangkarenadialebihdiperlukankedua orang tuanyauntukmengurusimereka.Padahal jihad merupakanamal yang besarpahalanyabahkanwafatdidalamnyadinnyatakanmatisyahid, tapiketikakondisitertentulebihutamamenjagaorangtua.Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah Saw, ”Siapakah orang yang paling berhak ku baktikan diriku kepadanya?”, Rasulullah menjawab,”Ibumu”, ia bertanya kembali,”Kemudian siapa lagi?” Rasulullah menjawab,”Ibumu”, ia bertanya lagi,”kemudian siapa lagi?” Rasulullah menjawab,”Ibumu”, ”Kemudian siapa lagi?”, Rasulullah menjawab,”Ayahmu”. [HR.Bukhari dan Muslim].
Dari dialog sahabat dengan Rasulullah tersebut dinyatakan
bahwa berbakti kepada orangtua adalah satu kewajiban yang harus ditunaikan
seorang anak terutama kepada ibunya yang telah mengandung, melahirkan,
membesarkan dan mendidik dengan penuh kasih sayang. Seorangsahabatbertanya,
"YaRasulullah, siapa yang paling
berhakmemperolehpelayanandanpersahabatanku?"Nabi Saw menjawab,
"ibumu...ibumu...ibumu, kemudianayahmudankemudian yang
lebihdekatkepadamudan yang lebihdekatkepadamu.".
Demikianpentingnyabagianakuntukmengabdikepadaorangtuanya,
bilahalinitidakdilakukanmakamusibahdanbencanaakandatangkepadapribadidanummatini,
sebagaimanabanyaknyasejarah yang diangkatdalamkehidupanmanusia, baik yang
benarterjadiataupunhanyaberupalegendasajasepertikisahMalinKundang. Di zaman
modern inikitamendengarberitadanmelihatkenyataan di masyarakat yang
tidakbaikterhadapsikapanakkepadaorangtuanya, mencaci-makiorangtua,
tidakmengabaikankehidupanmereka, membentakhinggamelakukanpenyiksaanterhadaporangtuanya,
halinilah yang akanmemicukemurkaan Allah kepadaanak-anak yang
durhakakepadaorangtuanya.
Di tengah masyarakat banyak kita
saksikan anak-anak yang tidak dapat menunjukkan dirinya sebagai anak yang baik
bahkan cendrung dia memperlakukan orangtuanya dengan kasar, sadis dan kejam
tanpa peri kemanusiaan. Allah telah memperingatkan dalam firman-Nya,;”Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan
kepada keduanya perkataan ”ah” dan janganlah kamu membentaknya...” [17;23].
Ucapan ”ah, cis, hus ” saja tidak boleh apalagi sampai
membentak orangtua dengan kata-kata kasar. Mungkin anak tidak berkata ”ah” dan
juga tidak berkata kotor, tapi sikap
kesehariannya banyak menyakitkan orangtua, mencoreng nama baik keluarga, maka
inipun termasuk durhaka kepada orangtuanya. Termasukdosabesarseorang yang
mencaci-makiibu-bapaknya.Merekabertanya, "Bagaimana (mungkin) seorang
yang mencaci-maki ayah danibunyasendiri?"Nabi Saw menjawab,
"Diamencaci-maki ayah orang lain lalu orang itu (membalas)
mencaci-makiayahnyadandiamencaci-makiibu orang lain lalu orang lain itupun
(membalas) mencaci-makiibunya.(Mutafaq'alaih)
Yang jelas
bagi seorang anak dia berkewajiban untuk berbakti kepada ayah dan ibunya dan
itu sudah cukup, bagaimana ayah dan ibunya memperlakukannya dahulu maka itu
tanggungjawab orangtua kepada Allah, mereka nanti akan ditanya Allah bagaimana
kewajibannya mendidik, mengasuh, memberi pendidikan dan sebagainya kepada
anaknya. Rasulullah dalam sebuah hadits membuka mata orangtua, ”Berbuat baiklah kepada orangtuamu niscaya
nanti anak-anakmu akan berbuat baik kepadamu”. Kepada kita yang hari ini
adalah seorang anak, berbaktilah kepada orangtua kita kalau kita mau nanti
dikemudian hari memiliki anak-anak yang juga berbakti kepada kita, kalau kita
mau dunia ini bebas dari musibah dan bencana, apakah kita mau dunia yang hanya
sebentar tempat kita singgah tapi penuh dengan derita dan sengsara hanya karena
durhaka kepada orangtua, Allah memberikan kebaikan dan ketenangan hidup kepada
anak selama dia memberi kebaikan dan ketenangan kepada orangtuanya.
Betapa
hancur hati orangtua menyaksikan anak-anak yang dia lahirkan, dibesarkan dengan
kasih sayang, bahkan dengan deraian airmata dan bersimbah darah demi
keberhasilan sang anak, tapi anak membalasnya dengan kesengsaraan, tak beda air
susu dibalas dengan air tuba, Wa Allahu a’lam [Cubadak
Solok, 3 Zulhijjah 1431.H/ 10 Nofember 2010.M]
Referensi;
1.HaditsArbain
An Nawawi, SofyanEfendi, HaditsWeb 3.0,
2. Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
2. Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
3. Kumpulan Ceramah Praktis, Drs. Mukhlis Denros, 2009
4.1100
HaditsTerpilih, Dr. Muhammad FaizAlmath - GemaInsani Press
Tidak ada komentar:
Posting Komentar