Minggu, 22 November 2015

4. Andai aku tahu durhaka kpd orangtua berdosa



Terciptanyasebuahkabilahatausukuhinggamenjadisebuahbangsaberawaldaridiciptakannyapribadi-pribadimanusiadariseorang ayah danseorangibumelaluipernikahandalamsebuahrumahtangga, bila Allah mentakdirkanhasilpernikahanitumakalahirnyabeberapaanakdanketurunan;

"Haimanusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal" [Al Hujurat 49;13]

Tidaklah berlebihan bila dinyatakan bahwa tanpa orangtua maka tidak ada pula anak, artinya kehadiran anak selain memang ditakdirkan Allah, juga merupakan rentetan kehidupan dari seorang ayah dan seorang ibu, yang mengandung, melahirkan dan membesarkan sibuah hatinya, pentingnya keberadaan orangtua yang berdekatan dengan Allah tergambar dalam hadits Rasulullah, "Keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan kedua orang tua dan murka Allah pun terletak pada murka kedua orang tua."(HR. Al Hakim)

Dalam surat An Nisa’ 4;36 Allah berfirman;

"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil[295] dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,

            Pada ayat tersebut tergambar bahwa seorang anak berkewajiban unuk beribadah hanya kepada Allah Swt, seluruh hidupnya harus bernuansa ibadah, tidak boleh menserikatkan Allah dengan sesuatu apapun karena syirik itu merupakan kezhaliman yang besar, beribadah dengan motivasi/ niat selain Allah maka dihadapan-Nya tidak ada artinya sama sekali. Sedangkan kewajiban yang kedua adalah berbakti atau berbuat baik kepada kedua orangtuanya, disini tergambar bahwa kebaktian kepada Allah harus diiringi dengan kebaktian kepada orangtua, tidak sempurna ibadah seseorang kepada Allah kalau dia durhaka kepada orangtuanya, demikian pula berbuat baik kepada orangtua juga sia-sia sementara tidak beriman kepada Allah, disini tidak bisa dipisahkan iman kepada Allah dengan berbuat baik kepada kedua orangtua.

            Berbakti kepada kedua orangtua atau ”birrul walidain’’ dianjurkan oleh Allah Swt. Ia memerintahkan hal ini dan memuji sebagian Rasul-Nya yang telah berbakti kepada kedua orangtuanya, untuk itu Ia berfirman sehubungan dengan nabi Yahya As, ”Dan seorang yang berbakti kepada kedua orangtuanya, dan bukanlah ia seorang yang sombong lagi durhaka” [Maryam 19;14].

"SeorangdatangkepadaNabiSaw. Diamengemukakanhasratnyauntukikutberjihad.Nabi Saw bertanyakepadanya, "Apakahkamumasihmempunyaikeduaoranggtua?"Orang itumenjawab, "Masih."LaluNabi Saw bersabda, "Untukkepentinganmerekalahkamuberjihad." (Mutafaq'alaih)

Nabi Saw melarangnyaikutberperangkarenadialebihdiperlukankedua orang tuanyauntukmengurusimereka.Padahal jihad merupakanamal yang besarpahalanyabahkanwafatdidalamnyadinnyatakanmatisyahid, tapiketikakondisitertentulebihutamamenjagaorangtua.
Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah Saw, ”Siapakah orang yang paling berhak ku baktikan diriku kepadanya?”, Rasulullah menjawab,”Ibumu”, ia bertanya kembali,”Kemudian siapa lagi?” Rasulullah menjawab,”Ibumu”, ia bertanya lagi,”kemudian siapa lagi?” Rasulullah menjawab,”Ibumu”, ”Kemudian siapa lagi?”, Rasulullah menjawab,”Ayahmu”. [HR.Bukhari dan Muslim].

            Dari dialog sahabat dengan Rasulullah tersebut dinyatakan bahwa berbakti kepada orangtua adalah satu kewajiban yang harus ditunaikan seorang anak terutama kepada ibunya yang telah mengandung, melahirkan, membesarkan dan mendidik dengan penuh kasih sayang. Seorangsahabatbertanya, "YaRasulullah, siapa yang paling berhakmemperolehpelayanandanpersahabatanku?"Nabi Saw menjawab, "ibumu...ibumu...ibumu, kemudianayahmudankemudian yang lebihdekatkepadamudan yang lebihdekatkepadamu.".

            Demikianpentingnyabagianakuntukmengabdikepadaorangtuanya, bilahalinitidakdilakukanmakamusibahdanbencanaakandatangkepadapribadidanummatini, sebagaimanabanyaknyasejarah yang diangkatdalamkehidupanmanusia, baik yang benarterjadiataupunhanyaberupalegendasajasepertikisahMalinKundang. Di zaman modern inikitamendengarberitadanmelihatkenyataan di masyarakat  yang tidakbaikterhadapsikapanakkepadaorangtuanya, mencaci-makiorangtua, tidakmengabaikankehidupanmereka, membentakhinggamelakukanpenyiksaanterhadaporangtuanya, halinilah yang akanmemicukemurkaan Allah kepadaanak-anak yang durhakakepadaorangtuanya. 

          Di tengah masyarakat banyak kita saksikan anak-anak yang tidak dapat menunjukkan dirinya sebagai anak yang baik bahkan cendrung dia memperlakukan orangtuanya dengan kasar, sadis dan kejam tanpa peri kemanusiaan. Allah telah memperingatkan dalam firman-Nya,;”Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ”ah” dan janganlah kamu membentaknya...” [17;23].

            Ucapan ”ah, cis, hus ” saja tidak boleh apalagi sampai membentak orangtua dengan kata-kata kasar. Mungkin anak tidak berkata ”ah” dan juga tidak berkata kotor,  tapi sikap kesehariannya banyak menyakitkan orangtua, mencoreng nama baik keluarga, maka inipun termasuk durhaka kepada orangtuanya. Termasukdosabesarseorang yang mencaci-makiibu-bapaknya.Merekabertanya, "Bagaimana (mungkin) seorang yang mencaci-maki ayah danibunyasendiri?"Nabi Saw menjawab, "Diamencaci-maki ayah orang lain lalu orang itu (membalas) mencaci-makiayahnyadandiamencaci-makiibu orang lain lalu orang lain itupun (membalas) mencaci-makiibunya.(Mutafaq'alaih)

Yang jelas bagi seorang anak dia berkewajiban untuk berbakti kepada ayah dan ibunya dan itu sudah cukup, bagaimana ayah dan ibunya memperlakukannya dahulu maka itu tanggungjawab orangtua kepada Allah, mereka nanti akan ditanya Allah bagaimana kewajibannya mendidik, mengasuh, memberi pendidikan dan sebagainya kepada anaknya. Rasulullah dalam sebuah hadits membuka mata orangtua, ”Berbuat baiklah kepada orangtuamu niscaya nanti anak-anakmu akan berbuat baik kepadamu”. Kepada kita yang hari ini adalah seorang anak, berbaktilah kepada orangtua kita kalau kita mau nanti dikemudian hari memiliki anak-anak yang juga berbakti kepada kita, kalau kita mau dunia ini bebas dari musibah dan bencana, apakah kita mau dunia yang hanya sebentar tempat kita singgah tapi penuh dengan derita dan sengsara hanya karena durhaka kepada orangtua, Allah memberikan kebaikan dan ketenangan hidup kepada anak selama dia memberi kebaikan dan ketenangan kepada orangtuanya.

Betapa hancur hati orangtua menyaksikan anak-anak yang dia lahirkan, dibesarkan dengan kasih sayang, bahkan dengan deraian airmata dan bersimbah darah demi keberhasilan sang anak, tapi anak membalasnya dengan kesengsaraan, tak beda air susu dibalas dengan air tuba, Wa Allahu a’lam [Cubadak Solok, 3 Zulhijjah 1431.H/ 10 Nofember 2010.M]

Referensi;
1.HaditsArbain An Nawawi, SofyanEfendi, HaditsWeb 3.0,
2.
Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
3. Kumpulan Ceramah Praktis, Drs. Mukhlis Denros, 2009
4.1100 HaditsTerpilih, Dr. Muhammad FaizAlmath - GemaInsani Press

Tidak ada komentar:

Posting Komentar