Minggu, 29 November 2015

52. Andai aku Tahu Egoisme Itu Berdosa



Egoisme adalah salah satu sifat manusia yang negatif. Egoisme ialah; orang yang hanya mementingkan diri pribadi tanpa memperhatikan orang lain. Sifat ini dimiliki oleh siapa saja, tergantung tebal dan tipisnya tertanam di dalam jiwa seseorang. Kalau ada orang berkata, ”Saya akan pergi seorang diri”, atau ”Saya mendiami rumah ini seorang diri”, yang dimaksud adalah jelas bahwa dia tidak berteman, dia hanya sendiri.

            Kalimat diatas lebih lanjut menunjuk bahwa insan itu selamanya dan dimana saja tetap seorang diri, meskipun perkataan pribadi bisa ditujukan juga kepada hewan dan tumbuh-tumbuhan, tetapi hanya manusia saja yang memiliki kesadaran diri, hanya makhluk manusia saja yang mampu mengatakan dirnya dengan pengakuan ”aku”, sehingga pribadi manusia itu adalah subyek ”aku” berdiri sendiri, sebagai individu yang tidak terbagi.

            Ketika kita dihadapkan kepada sebuah foto yang terdapat di dalamnya sekelompok manusia, maka akan terlihat terlebih dahulu wajah sendiri dengan pengakuan ” ini aku sedang duduk”, setelah itu baru terlihat wajah orang lain. Efek dari sifat ini bisa kita lihat dalam kehidupan berumah tangga yang suasananya tidak tentram. Misalnya saja si isteri tidak mau mengerti maksud, rencana dan keadaan suami, akhirnya rumah tangga itu menjadi berantakan. Sedang bagi suami yang sama sifat egoisnya dengan sang isteri akan lebih fatal lagi akibatnya, perceraian dapat dipastikan terjadi, Allah berfirman dalam surat Al Isra’ ; 83-84

            ”Dan apabila Kami berikan kesenangan [nikmat] kepada manusia, niscaya berpalinglah dia dan membelakang dengan sikap yang sombong, dan apabila dia ditimpa kesusahan, niscaya dia putus asa. Katakanlah, ”Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing, maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya”.

            Egoisme bila meluas sama dengan membanggakan suku dan bangsa menjadi sukuisme dan nasionalisme, lebih mengutamakan diri, suku dan bangsa sendiri sementara orang lain yang tidak terlibat di dalamnya tanpa ditenggang dan diperhatikan. Sifat ini sangat berbahaya bila terlalu dalam menghinggapi seseorang  akan menimbulkan beberapa kegoncangan dana tekanan batik tidak tergantung faktor ekonomi, politik, adat kebiasaan dan sosial. Hidupnya diburu oleh keinginan untuk memenuhi kebutuhan pribadi, biarlah orang lain berada dibawah dan terhimpit penderitaan ”asal aku diatas” terbuai oleh nikmatnya kebahagiaan.

            Setiap orang menjadi korban keinginannya sendiri, tidak seorangpun yang menentramkan diri dengan mengatakan, ”Satu burung di tangan lebih baik daripada sepuluh burung di udara”.
            Ego atau nafsu atau sifat ananiyah kita pada hakekatnya dapat memenjara kita, yang berada di dalam diri kita. Jadi kita yang memenjara dan yang dipenjara. Manusia yang telah terbenam oleh egonya bahkan kemudian akan mempertuhankan egonya itu. Dia menjadi manusia yang tamak, loba dan serakah. Dia tidak puas dengan apa yang dimilikinya, walaupun kekayaannya sudah melimpah ruah, akibatnya menjadi masyarakat nafsi-nafsi.

Disadari atau tidak, bahwa egoisme manusia sangatlah terkait dengan keimanannya. Egoisme atau kecintaan manusia terhadap dirinya, tidak jarang dapat menguasai kepribadian seseorang. Bahkan mungkin sering kita lihat dalam kehidupan, betapa manusia asyik berjuang memenangkan ego masing-masing. 
            Egoisme dipastikan akan memunculkan persaingan yang pada gilirannya akan memunculkan saling berselisih antara satu dengan lainnya di dalam memenuhi kepentingan yang menjadi ego masing-masing. Bahkan tidak jarang, dalam upaya persaingan dalam memenuhi ego memanfaatkan sebagian orang dengan menghalalkan segala macam cara, baik dalam bentuk kolusi, korupsi, nepotisme, pencurian, perampokan, dan lain sebagainya.
Egoisme akan menghilangkan semangat ”kerjasama” dan ”tolong menolong” menjadi sirna bahkan menjadi masyarakat yang eksploitatif, pihak yang kuat memeras dan menindas pihak yang lemah, yang kaya menghisap yang miskin, akibatnya akan timbul beberapa penyakit yang diawali oleh penyakit Tabaghud [benci membenci] antara sipendengki dengan orang yang didengki. Kemudian tabaghud yang tidak terpendam akan menyala menjadi ’Adawah [permusuhan]. Dan kalau ’adawah inipun selalu beroleh bensin, ia akan berkobar menjadi Al Baghyu, tak segan melakukan pengkhianatan terhadap siapa yang dimusuhinya, apalagi ia mendapat peluang dan kesempatan.

            Dan akhirnya kalau nyala itu tidak dapat lagi dipadamkan, maka ia akan meningkat menjadi Al Haraj [sudi membunuh]. Kita tidak lagi melihat masyarakat manusia yang manusiawi, tetapi yang kita lihat adalah masyarakat Srigala yang berujud manusia.

            Egoisme, sukisme dan nasionalisme adalah faham sempit yang timbul dari pengagungan seseorang dan bangsa, ”Jangan berikan kesempatan kepadanya karena dia bukan suku kita”, dan ”Kenapa dia diberi bantuan, kan dia bukan golongan kita”.

            Tanah ummat Islam bukan Arab atau Indonesia saja, dimana ada ummat Islam, maka disanalah negeri Islam. Tentang maju dan mundurnya menjadi tanggungjawab seluruh ummat Islam yang ada di dunia ini. Tanah Islam jauh membentang, penderitaan yang dialami ummat Islam Moro, Pattani, India dan Afghanistan serta Palestina merupakan masalah ummat Islam yang harus dibela, diperjuangkan oleh ummat Islam, walaupun sekupnya  terletak dalam negeri suatau bangsa, tetapi tanggungjawabnya meliputi seluruh ummat Islam.

            Bukanlah termasuk ummatku, kata Rasululah, bila tidak memperhatikan umat islam lainnya. Yang diajarkan Islam ialah kerja sama, gotong royong dan berlomba-lomba dalam kebaikan dalam suatu wadah Ukhuwah Islamiyyah. Zakat merupakan realisasi terwujudnya masyarakat Islam, merasakan penderitaan yang diderita saudaranya dengan meringankan beban mereka.

            Ajaran Islam memberikan bantuan kepada yang membutuhkan walaupun dia beragama lain dengan batas tertentu, demikian pula menghormati jenazah seseorang dengan beridirnya ketika bertemu rombongan yang membawa jenazah, meksipun dia mayat orang Yahudi

Sudah sejak awal Allah SWT memperingatkan kepada kita apa yang telah terjadi pada manusia pertama, Adam. Kisah Adam dan Hawa, mengantarkan kita ke dalam keyakinan bahwa tidak mungkin kita meragukan keimanan Adam dan Hawa. Bagaimana mungkin kita bisa meragukan keimanan keduanya, karena mereka berdua langsung berjumpa dan berdialog dengan Allah.
Pertanyaan yang muncul kemudian, kenapa keimanan Adam dan Hawa harus gugur dengan mengikuti godaan Iblis untuk melanggar satu aturan Allah, yaitu memakan buah Khuldi. Bila saja kita simak secara seksama, ternyata kalahnya keimanan Adam dan Hawa ini setelah Iblis berhasil mengetahui titik lemah manusia yang lalu Iblis bisikkan pikiran jahatnya dengan menyatakan, "Hai Adam, maukah kamu saya tunjukkan sebuah pohon Khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa" (Thaahaa, 20 : 120).

Pada satu sisi Allah mengingatkan kepada Adam dan Hawa, sekaligus menekankan bahwa keduanya dilarang memakan buah tersebut, bahkan jangankan untuk memakannya, mendekatinya pun dilarang. Allah SWT berfirman: “Janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim’ (Al Baqarah, 2:35).
Sementara Iblis menyatakan, maukah kamu aku “tunjukkan” sebuah pohon. Pohon yang hakikatnya Allah SWT nyatakan kepada Adam dan Hawa agar mereka berdua tidak mendekatinya, apalagi memakan buahnya.Ini yang sebenarnya harus menjadi “Tazkirah” (peringatan), di satu sisi Allah melarang, tapi di sisi yang lain Iblis malah berusaha “menunjukkan” pohon itu. Masalahnya kemudian mengapa keimanan Adam dan Hawa tiba-tiba menjadi lemah untuk kemudian keduanya melanggar aturan Allah dengan memakan buah terlarang tersebut?

Di sinilah titik lemah manusia yang kemudian diketahui Iblis, di mana Iblis menyatakan, maukah saya tunjukkan kamu sebuah pohon yang kalau kamu makan buahnya maka kamu akan mendapatkan "dua" perkara. Yang pertama, “Khuld”(kekal). Yang kedua, mendapatkan kerajaan atau kekayaan yang berlimpah ruah.
Dengan kata lain Iblis berusaha memperdaya Adam dan Hawa dengan meyakinkan mereka berdua, bahwasanya Allah melarang memakan buah itu tidak lain karena Allah takut tersaingi, jika karena kalian  memakan buah tersebut maka kalian akan sama-sama kekal dan sama akan punya kekuasaan. Dua hal inilah, yakni mengharapkan “Kekekalan” kekuasaan dan harta yang berlimpah ruah yang telah mengantarkan runtuhnya keimanan Adam dan Hawa, keimanan dua insan yang langsung berjumpa dan berdialog dengan Allah SWT.
Satu pelajaran yang luar biasa sangat berharga bagi kita anak cucu Adam, bahwa kalau kita lihat keberhasilan Iblis menyesatkan manusia terbanyak dari dua sisi ini. Yakni dari sisi kekuasaan dan ingin hidup kekal lalu berusaha untuk bisa melanggengkan kekuasaan dan lain sebagainya. Kekal tidak hanya dari segi umur, tetapi dari sisi jabatan, kedudukan, dan lain sebagainya. Dari sisi inilah peluang Iblis untuk menggoda dan menyesatkan manusia.

Allah SWT mengingatkan, hanya keimananlah sebenarnya yang bisa mengendalikan kecenderungan tersebut. Dalam Islam seseorang tidak diperintahkan untuk mematikan kecenderungan hawa nafsunya sepanjang dalam memenuhinya masih dalam aturan yang benar menurut Allah SWT. Tidak salah kalau seseorang ingin kaya, punya ambisi kedudukan, jabatan dan lain-lain sepanjang bisa ditempuh dengan jalan yang diridhai-Nya. Yang tidak dimungkinkan dalam Islam adalah, bila dalam memenuhi keinginannya ia tempuh dengan menghalalkan segala macam cara dengan melanggar aturan dan hukum-Nya.

   Ada sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Ummu Salmah, istri Rasulullah SAW, tentang bagaimana keimanan itu bisa mengendalikan ego seseorang. Dikisahkan ada dua orang laki-laki, mereka bertengkar memperebutkan harta waris, masing-masing tidak memiliki bukti kepemilikan harta yang diperebutkan itu. Lantas keduanya menghadap Rasulullah SAW untuk meminta keputusan Beliau.

Rasulullah SAW kepada mereka berdua menyatakan: Saya ini hanyalah seorang manusia, sementara kalian mencoba meminta penyelesaian proses hukum ini kepada saya, padahal boleh jadi seseorang di antara kalian akan mampu dengan dalil-dalil dan pendekatannya meyakinkan kepada saya bahwa dialah yang paling benar, sehingga saya bisa memutuskan bahwa itu milik dia, padahal itu belum tentu benar. Kalau itu yang terjadi maka berarti saya telah memberikan kepada dia peluang untuk menyiapkan bara api neraka jahnnam sepenuh perut dia. "Mereka yang memakan harta anak yatim dengan cara yang zalim maka sama dengan dia telah menyiapkan bara api sepenuh perutnya" (An Nissa', 4 : 10).

Mendengar pernyataan Rasulullah SAW ini, maka kedua laki-laki tadi kemudian masing-masing mengatakan kepada yang lain, kalau memang itu adalah hak saya, maka saya ikhlas untukmu, silakan ambil. Yang satu seperti itu yang lain pun demikian. Akhirnya mereka sama-sama tidak mau mengambil haknya. (HR. Sunan Abu Daud).

Seperti inilah jika keimanan yang menjadi pijakan hidup seseorang. Ada kisah lain yang serupa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi SAW pernah mengisahkan kepada para sahabat tentang dua orang mu'min yang satu menjual tanah kepada yang lain. Usai proses pembelian, si pembeli kembali lagi dengan membawa satu kotak peti berisi emas dengan mengatakan;  Setelah saya membeli tanah kebetulan saya menggali tanah itu kutemukan satu kotak peti berisi Emas. Karena saya hanya membeli dan membayar harga tanah, berarti tidak termasuk emas yang ada di dalam peti ini. Maka dari itu saya kembalikan kotak peti berisi emas ini.
Si penjual tanah tidak mau menerima dengan mengatakan, saya sudah menjual tanah dengan segala yang ada di dalamnya. Akhirnya, keduanya sepakat untuk menemui seseorang untuk meminta keputusan. Maka berkatalah orang yang dipercayakan oleh kedua orang itu, adakah kalian berdua punya anak ? Yang satu menyatakan, saya punya anak laki-laki. Yang satunya lagi, saya punya anak perem-puan. Lebih lanjut, seseorang yang dipercaya itu mengatakan, kalau begitu nikahkan saja anak kalian berdua dan emas itu untuk modal anak kalian berdua. Maka barulah keduanya sepakat.
Alangkah luar biasa dampak keimanan dalam  mengendalikan egoisme manusia. Dan alangkah indahnya hidup dan kehidupan ini jika masing-masing manusia memiliki keimanan yang kuat sehingga dia mampu mengendalikan kecenderungan “ego” yang ada dalam dirinya sekaligus mementahkan bisikan Iblis yang menyesatkan.[Republika Online, Egoisme,Senin, 16 November 2009, 11:59 WI].

Kerap kali runtuhnya sebuah bangunan rumah tangga karena salah satu atau masing-masing suami dan isteri mempertahankan egonya, tidak ada sikap toleransi, hilangnya saling menghargai, menonjolkan kesombongan dan menampilkan arogansi, maka hilanglah persaudaraan dan ukhuwah islamiyyah.
Islam mengokohkan persaudaraan umat manusia sebagai keturunan Adam. Rasulullah menyatakan dalam sebuah Hadis, “Manusia itu semuanya adalah ‘iyalullah (keluarga Allah), dan yang dikasihi Allah adalah yang paling bermanfaat bagi keluarga Allah itu.” (HR Abu Ya’la).

Ajaran itulah yang melandasi tindakan amirul mukminin Umar bin Khattab ketika menemukan seorang tua jompo peminta-minta dari kalangan dzimmi, yakni non-muslim yang hidup dibawah naungan negara Islam masa itu. Khalifah Umar langsung memberi jatah bantuan biaya hidup dari Baitul Maal kepada orang itu sama seperti yang diberikan kepada penduduk miskin di antara umat Islam.

        Ketika ada orang meminta pertolongan atau sedang teraniaya, seorang muslim wajib membantu tanpa memandang suku, bangsa, ataupun agamanya. Tetapi Islam sebagai agama yang sangat menghormati hak asasi manusia, tidak membenarkan tindakan membantu orang lain dikaitkan dengan misi penyebaran agama.

Solidaritas antarmanusia yang diajarkan Islam adalah solidaritas universal yang tidak bertepi. Rasulullah bersabda, “Demi Allah yang diriku dalam kuasa-Nya, kamu tidak akan masuk surga, sebelum kamu beriman. Dan kamu tidak beriman, sebelum kamu cinta mencintai dan sayang menyayangi satu sama lain.” (HR Muslim). “Tidaklah beriman orang yang merasa kenyang sepanjang malam, sedangkan tetangganya menderita kelaparan.” (HR Thabrani).

          Islam mengajarkan bahwa harta milik perorangan mempunyai fungsi sosial yang saluran dan mekanismenya  telah diatur dengan sebaik-baiknya dalam ketentuan syariah. Jika harta kekayaan telah dijadikan tujuan hidup seseorang atau suatu masyarakat, sesama manusia pun dengan sendirinya akan jatuh menjadi alat bagi sesamanya dan runtuhlah solidaritas kemanusiaan. Dari situlah timbul eksploitasi manusia terhadap manusia lain dengan berbagai bentuk dan cara.

Pandangan hidup materialisme, secara sadar atau tidak, mempengaruhi perilaku manusia, dimana orang lebih menghargai benda daripada hidup manusia. Hubungan antarmanusia pun menjadi longgar dan pragmatis sesuai kepentingan dan bukan karena ketulusan.

            Mohammad Natsir menggambarkan tatanan kehidupan sosial yang Islami yakni, “Kehidupan bukanlah perebutan rezeki dan pengaruh, bukan tindasan yang kuat kepada yang lemah, bukan pertentangan yang kaya dengan yang miskin, tapi hidup ialah perlombaan didalam menegakkan sebanyak-banyak kebajikan, untuk manusia. Hidup ialah iman dan amal shaleh, hidup ialah jasa baik yang tidak mengenal mati dan hilang.”

Mengamati berbagai karakter dan perilaku yang muncul di tengah masyarakat belakangan ini, semakin menyadarkan kita terhadap keagungan risalah Nabi Muhammad yang tidak menjadikan persaingan hidup dan perebutan menuntut hak sebagai nafas kehidupan, tetapi mengedepankan perintah untuk berbuat baik (ihsan) dan perlombaan memenuhi kewajiban terhadap sesama. Jika setiap orang telah menunaikan kewajibannya dalam kehidupan bersama, maka semua orang pasti akan mendapatkan haknya.[Republika Online, M Fuad Nasar MSc, Solidaritas Antarmanusia,Thursday, 24 March 2011 07:46 WIB].

Egoisme bermula dari ketidak pedulian terhadap sesama, kemudian demi untuk memenangkan diri atau paling banter kolega chemistrinya maka orang menjadi tidak ragu untuk melakukan kedustaan yang tentu saja merugikan/menzhalimi orang lain. Berikutnya orang akan menutupi kebohongan pertama dengan kebohongan-kebohongan berikutnya secara berlapis-lapis. Krisis kejujuran ini menemukan sinergisitasnya dengan meluasnya egoisme di kalangan masyarakat. Egoisme yang kian parah, sanggup melupakan jasa seorang isteri yang berbilang tahun telah memberikan kesetiaannya secara ikhlas, begitu pun sebaliknya. Prahaha rumah tangga hanya buah dari keakuan yang diperturutkan oleh seorang suami atau isteri. Gara-gara egoisme sektoral maka sinergi antar lembaga sosial atau pemerintah akan berantakan, perundingan akan dead lock, yang menjadi konsen masing-masing pihak adalah mencai titik lemah dan melemahkan pihak yang lain.
Egoisme personal atau sektoral jika dikembangkan akan mengemuka dalam tiga sikap yang destruktif, sebagaimana disebutkan dalam Atsar Umar bin Khatthab. Yaitu: ”syukhkhun mutha’un” sikap pelit yang menggerus rasa empati terhadap sesama; ”hawan muttaba’un” yakni hawa nafsu selera rendah yang diikuti sehingga makin jauh dari idealisme bahkan kewajaran sekalipun; dan ketiga ”dunyan mu’tsaratun” yaitu kepentingan duniawi yang terus dikejar. Dalam konteks itu semua bukan lagi nilai yang menjadi acuan atau norma yang jadi rujukan, melainkan ”i’jabu dzirra’yi bira’yihi” kepongahan orang dalam  mempertahankan/membela  pendapatnya sendiri. Konsultasi diabaikan dan musyawarah dilecehkan dengan teknik-teknik manipulatif.

Faktor-faktor itu oleh sahabat Umar disebut ”al muhlikat” yakni faktor-faktor penghancur  dalam kehidupan masyarakat. Kalau satu dari empat penyakit mental dan moral tersebut sudah merusak, bagaimana jika keempat-empatnya sekaligus telah menimpa  kalangan masyarakat kita.  Di bawah selimut awan pekat egoisme dan pelbagai bentuk rekayasa dan kebohongan, pesimisme di tengah-tengah masyarakat terus menyeruak melontarkan tanda tanya: masih adakah harapan akan keadilan, kejujuran dan ruang ASA bagi sebuah masa depan yang lebih baik ?[DR. Surahman HidayatKhutbah Idul Adha 1430 H: Semangat Berkorban VS Mengorbankan;dakwatuna.com.20/11/2009 | 02 Zulhijjah 1430 H | Hits: 37.514]

Orang yang hanya mementingkan diri sendiri, mempertahankan sikap egonya maka sangat sulit untuk bisa diajak memikirkan orang lain apalagi melakukan sesuatu yang merugikan dirinya, jiwa sosialnya hilang, tidak resfon atas penderitaan orang lain, padahal segala kebaikan yang kita lakukan itu selain untuk mengekang sikap ego juga akan mendatangkan balasan dan kebahagiaan bagi pelakunya, itulah banyak sekali perintah Allah kepada orang beriman untuk beramal sosial dan membentuk jiwa shaleh secara social.

Perintah agama untuk berbuat kebaikan pada dasarnya merupakan washilah yang akan menghantarkan kita pada derajat keridhaan Illahi nanti di akhirat. Perintah dan dorongan berbuat baik itu datang dari Allah melalui para utusan-Nya. Namun sesungguhnya dorongan kepada kebaikan itu sudah merupakan “bakat primordial” manusia, bersumber dari hati nurani (nurani, bersifat nur atau terang) karena adanya fitrah pada manusia. Oleh karena itu berbuat baik merupakan sesuatu yang “natural” atau alami, karena dia tidak lain adalah perpanjangan nalurinya sendiri, alamnya sendiri, yang ada secara primordial, sejak seseorang dilahirkan ke dunia ini.

Maka jika Allah memerintahkan kita berbuat baik, sesungguhnya seolah-olah Dia hanyalah mengingatkan kepada kita akan “nature” kita sendiri, kecenderungan kita sendiri. Dengan kata lain, berbuat baik adalah sesuatu yang manusiawi, yang sejalan dan mencocoki sifat dasar manusia itu sendiri. Dengan sendirinya perbuatan jahat adalah melawan kemanusiaan, menyalahi sifat dasar manusia itu
.
Karena itu, dari perspektif ini bisa disimpulkan bahwa perintah berbuat baik dari Allah SWT kepada kita bukanlah untuk kepentingan Allah sendiri. Dia Maha Kaya (al-Ghaniy), tidak membutuhkan pelayanan/service dari makhluk-Nya. Sebaliknya, ketika perbuatan baik dikerjakan manusia maka semuanya akan kembali untuk kebaikan manusia itu sendiri. Hal ini telah Allah tegaskan dalam QS Fushilat : 46, “Barang siapa berbuat baik, maka hal itu untuk dirinya sendiri; dan barang siapa berbuat jahat, maka hal itu adalah atas (kerugian) dirinya sendiri.”

Berbagai kajian ilmiah mengenai manusia telah mengukuhkan bahwa manusia yang reach out,  mengulurkan tangan untuk menolong orang lain, adalah orang yang bahagia. Jika suatu kali kita bertemu dengan orang yang membutuhkan pertolongan, kemudian kita menolongnya, sepintas lalu nampak seperti perbuatan kita adalah untuk kepentingan orang tersebut. Tetapi, dalam perenungan yang lebih mendalam, seuntung-untungnya orang yang kita tolong itu, tetap masih beruntung dan bahagia kita sendiri, justeru karena kita mampu menolong. Lebih lanjut, karena perasaan bahagia itu, kita akan mendapatkan dunia ini terasa lapang dan luas untuk kita disebabkan oleh lapang dan luasnya dada (jiwa) kita. Kita dibimbing oleh Allah, berkat perbuatan baik kita sendiri, kepada kehidupan yang luas,lapang dan penuh harapan.[Republika OnLine, Ihsan Faisal Mag,Rabu, 02 Maret 2011, 07:26 WIB].

            Setiap manusia punya sifat egois dan egoisme, manusia yang baik adalah yang menekan sifat egonya itu melalui pengarahan agama sehingga mampu membuka sedikit di hatinya untuk bersifat toleransi, menenggang orang  lain dengan ujud kasih dan sayang dengan kesantunan karena ego itu adalah penyakit sehingga yang mempertahankannya akan menderita karenanya, wallahu a’lam [Mengkoang Pahang Malaysia, 01 Juni 2011M/ 28 Jumadil Akhir 1432.H].



Tidak ada komentar:

Posting Komentar