Egoisme adalah salah satu sifat manusia yang negatif. Egoisme
ialah; orang yang hanya mementingkan diri pribadi tanpa memperhatikan orang
lain. Sifat ini dimiliki oleh siapa
saja, tergantung tebal dan tipisnya tertanam di dalam jiwa seseorang. Kalau ada
orang berkata, ”Saya akan pergi seorang
diri”, atau ”Saya mendiami rumah ini
seorang diri”, yang dimaksud adalah jelas bahwa dia tidak berteman, dia
hanya sendiri.
Kalimat diatas lebih
lanjut menunjuk bahwa insan itu selamanya dan dimana saja tetap seorang diri,
meskipun perkataan pribadi bisa ditujukan juga kepada hewan dan
tumbuh-tumbuhan, tetapi hanya manusia saja yang memiliki kesadaran diri, hanya
makhluk manusia saja yang mampu mengatakan dirnya dengan pengakuan ”aku”, sehingga pribadi manusia itu
adalah subyek ”aku” berdiri sendiri,
sebagai individu yang tidak terbagi.
Ketika kita dihadapkan
kepada sebuah foto yang terdapat di dalamnya sekelompok manusia, maka akan
terlihat terlebih dahulu wajah sendiri dengan pengakuan ” ini aku sedang duduk”, setelah itu baru terlihat wajah orang
lain. Efek dari sifat ini bisa kita lihat dalam kehidupan berumah tangga yang
suasananya tidak tentram. Misalnya saja si isteri tidak mau mengerti maksud,
rencana dan keadaan suami, akhirnya rumah tangga itu menjadi berantakan. Sedang
bagi suami yang sama sifat egoisnya dengan sang isteri akan lebih fatal lagi
akibatnya, perceraian dapat dipastikan terjadi, Allah berfirman dalam surat Al
Isra’ ; 83-84
”Dan apabila Kami berikan kesenangan [nikmat] kepada manusia, niscaya
berpalinglah dia dan membelakang dengan sikap yang sombong, dan apabila dia
ditimpa kesusahan, niscaya dia putus asa. Katakanlah, ”Tiap-tiap orang berbuat
menurut keadaannya masing-masing, maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang
lebih benar jalannya”.
Egoisme bila meluas sama
dengan membanggakan suku dan bangsa menjadi sukuisme dan nasionalisme, lebih
mengutamakan diri, suku dan bangsa sendiri sementara orang lain yang tidak
terlibat di dalamnya tanpa ditenggang dan diperhatikan. Sifat ini sangat
berbahaya bila terlalu dalam menghinggapi seseorang akan menimbulkan beberapa kegoncangan dana
tekanan batik tidak tergantung faktor ekonomi, politik, adat kebiasaan dan
sosial. Hidupnya diburu oleh keinginan untuk memenuhi kebutuhan pribadi,
biarlah orang lain berada dibawah dan terhimpit penderitaan ”asal aku diatas” terbuai oleh nikmatnya
kebahagiaan.
Setiap orang menjadi
korban keinginannya sendiri, tidak seorangpun yang menentramkan diri dengan
mengatakan, ”Satu burung di tangan lebih
baik daripada sepuluh burung di udara”.
Ego atau nafsu atau sifat
ananiyah kita pada hakekatnya dapat memenjara kita, yang berada di dalam diri
kita. Jadi kita yang memenjara dan yang dipenjara. Manusia yang telah terbenam
oleh egonya bahkan kemudian akan mempertuhankan egonya itu. Dia menjadi manusia
yang tamak, loba dan serakah. Dia tidak puas dengan apa yang dimilikinya,
walaupun kekayaannya sudah melimpah ruah, akibatnya menjadi masyarakat
nafsi-nafsi.
Disadari atau
tidak, bahwa egoisme manusia sangatlah terkait dengan keimanannya. Egoisme atau
kecintaan manusia terhadap dirinya, tidak jarang dapat menguasai kepribadian
seseorang. Bahkan mungkin sering kita lihat dalam kehidupan, betapa manusia
asyik berjuang memenangkan ego masing-masing.
Egoisme
dipastikan akan memunculkan persaingan yang pada gilirannya akan memunculkan
saling berselisih antara satu dengan lainnya di dalam memenuhi kepentingan yang
menjadi ego masing-masing. Bahkan tidak jarang, dalam upaya persaingan dalam
memenuhi ego memanfaatkan sebagian orang dengan menghalalkan segala macam cara,
baik dalam bentuk kolusi, korupsi, nepotisme, pencurian, perampokan, dan lain
sebagainya.
Egoisme akan menghilangkan semangat ”kerjasama” dan ”tolong menolong” menjadi sirna bahkan menjadi masyarakat yang
eksploitatif, pihak yang kuat memeras dan menindas pihak yang lemah, yang kaya
menghisap yang miskin, akibatnya akan timbul beberapa penyakit yang diawali
oleh penyakit Tabaghud [benci
membenci] antara sipendengki dengan orang yang didengki. Kemudian tabaghud yang
tidak terpendam akan menyala menjadi ’Adawah
[permusuhan]. Dan kalau ’adawah inipun selalu beroleh bensin, ia akan berkobar
menjadi Al Baghyu, tak segan
melakukan pengkhianatan terhadap siapa yang dimusuhinya, apalagi ia mendapat
peluang dan kesempatan.
Dan akhirnya kalau nyala
itu tidak dapat lagi dipadamkan, maka ia akan meningkat menjadi Al Haraj [sudi membunuh]. Kita tidak
lagi melihat masyarakat manusia yang manusiawi, tetapi yang kita lihat adalah
masyarakat Srigala yang berujud manusia.
Egoisme, sukisme dan
nasionalisme adalah faham sempit yang timbul dari pengagungan seseorang dan
bangsa, ”Jangan berikan kesempatan
kepadanya karena dia bukan suku kita”, dan ”Kenapa dia diberi bantuan, kan dia bukan golongan kita”.
Tanah ummat Islam bukan
Arab atau Indonesia saja, dimana ada ummat Islam, maka disanalah negeri Islam.
Tentang maju dan mundurnya menjadi tanggungjawab seluruh ummat Islam yang ada
di dunia ini. Tanah Islam jauh membentang, penderitaan yang dialami ummat Islam
Moro, Pattani, India dan Afghanistan serta Palestina merupakan masalah ummat
Islam yang harus dibela, diperjuangkan oleh ummat Islam, walaupun sekupnya terletak dalam negeri suatau bangsa, tetapi
tanggungjawabnya meliputi seluruh ummat Islam.
Bukanlah termasuk ummatku,
kata Rasululah, bila tidak memperhatikan umat islam lainnya. Yang diajarkan
Islam ialah kerja sama, gotong royong dan berlomba-lomba dalam kebaikan dalam
suatu wadah Ukhuwah Islamiyyah.
Zakat merupakan realisasi terwujudnya masyarakat Islam, merasakan penderitaan
yang diderita saudaranya dengan meringankan beban mereka.
Ajaran Islam memberikan
bantuan kepada yang membutuhkan walaupun dia beragama lain dengan batas
tertentu, demikian pula menghormati jenazah seseorang dengan beridirnya ketika
bertemu rombongan yang membawa jenazah, meksipun dia mayat orang Yahudi
Sudah sejak
awal Allah SWT memperingatkan kepada kita apa yang telah terjadi pada manusia
pertama, Adam. Kisah Adam dan Hawa, mengantarkan kita ke dalam keyakinan bahwa
tidak mungkin kita meragukan keimanan Adam dan Hawa. Bagaimana mungkin kita
bisa meragukan keimanan keduanya, karena mereka berdua langsung berjumpa dan
berdialog dengan Allah.
Pertanyaan
yang muncul kemudian, kenapa keimanan Adam dan Hawa harus gugur dengan
mengikuti godaan Iblis untuk melanggar satu aturan Allah, yaitu memakan buah
Khuldi. Bila saja kita simak secara seksama, ternyata kalahnya keimanan Adam
dan Hawa ini setelah Iblis berhasil mengetahui titik lemah manusia yang lalu
Iblis bisikkan pikiran jahatnya dengan menyatakan, "Hai Adam, maukah kamu
saya tunjukkan sebuah pohon Khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa"
(Thaahaa, 20 : 120).
Pada satu sisi Allah mengingatkan kepada Adam dan Hawa, sekaligus menekankan bahwa keduanya dilarang memakan buah tersebut, bahkan jangankan untuk memakannya, mendekatinya pun dilarang. Allah SWT berfirman: “Janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim’ (Al Baqarah, 2:35).
Sementara
Iblis menyatakan, maukah kamu aku “tunjukkan” sebuah pohon. Pohon yang
hakikatnya Allah SWT nyatakan kepada Adam dan Hawa agar mereka berdua tidak
mendekatinya, apalagi memakan buahnya.Ini yang sebenarnya harus menjadi
“Tazkirah” (peringatan), di satu sisi Allah melarang, tapi di sisi yang lain
Iblis malah berusaha “menunjukkan” pohon itu. Masalahnya kemudian mengapa
keimanan Adam dan Hawa tiba-tiba menjadi lemah untuk kemudian keduanya
melanggar aturan Allah dengan memakan buah terlarang tersebut?
Di sinilah titik lemah manusia yang kemudian diketahui Iblis, di mana Iblis menyatakan, maukah saya tunjukkan kamu sebuah pohon yang kalau kamu makan buahnya maka kamu akan mendapatkan "dua" perkara. Yang pertama, “Khuld”(kekal). Yang kedua, mendapatkan kerajaan atau kekayaan yang berlimpah ruah.
Dengan kata lain Iblis berusaha
memperdaya Adam dan Hawa dengan meyakinkan mereka berdua, bahwasanya Allah
melarang memakan buah itu tidak lain karena Allah takut tersaingi, jika karena
kalian memakan buah tersebut maka kalian akan sama-sama kekal dan sama
akan punya kekuasaan. Dua hal inilah, yakni mengharapkan “Kekekalan” kekuasaan
dan harta yang berlimpah ruah yang telah mengantarkan runtuhnya keimanan Adam
dan Hawa, keimanan dua insan yang langsung berjumpa dan berdialog dengan Allah
SWT.
Satu pelajaran
yang luar biasa sangat berharga bagi kita anak cucu Adam, bahwa kalau kita
lihat keberhasilan Iblis menyesatkan manusia terbanyak dari dua sisi ini. Yakni
dari sisi kekuasaan dan ingin hidup kekal lalu berusaha untuk bisa
melanggengkan kekuasaan dan lain sebagainya. Kekal tidak hanya dari segi umur,
tetapi dari sisi jabatan, kedudukan, dan lain sebagainya. Dari sisi inilah
peluang Iblis untuk menggoda dan menyesatkan manusia.
Allah SWT
mengingatkan, hanya keimananlah sebenarnya yang bisa mengendalikan
kecenderungan tersebut. Dalam Islam seseorang tidak diperintahkan untuk
mematikan kecenderungan hawa nafsunya sepanjang dalam memenuhinya masih dalam
aturan yang benar menurut Allah SWT. Tidak salah kalau seseorang ingin kaya,
punya ambisi kedudukan, jabatan dan lain-lain sepanjang bisa ditempuh dengan
jalan yang diridhai-Nya. Yang tidak dimungkinkan dalam Islam adalah, bila dalam
memenuhi keinginannya ia tempuh dengan menghalalkan segala macam cara dengan
melanggar aturan dan hukum-Nya.
Ada
sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Ummu Salmah, istri Rasulullah SAW, tentang
bagaimana keimanan itu bisa mengendalikan ego seseorang. Dikisahkan ada dua
orang laki-laki, mereka bertengkar memperebutkan harta waris, masing-masing
tidak memiliki bukti kepemilikan harta yang diperebutkan itu. Lantas keduanya
menghadap Rasulullah SAW untuk meminta keputusan Beliau.
Rasulullah SAW kepada mereka berdua menyatakan: Saya ini hanyalah seorang manusia, sementara kalian mencoba meminta penyelesaian proses hukum ini kepada saya, padahal boleh jadi seseorang di antara kalian akan mampu dengan dalil-dalil dan pendekatannya meyakinkan kepada saya bahwa dialah yang paling benar, sehingga saya bisa memutuskan bahwa itu milik dia, padahal itu belum tentu benar. Kalau itu yang terjadi maka berarti saya telah memberikan kepada dia peluang untuk menyiapkan bara api neraka jahnnam sepenuh perut dia. "Mereka yang memakan harta anak yatim dengan cara yang zalim maka sama dengan dia telah menyiapkan bara api sepenuh perutnya" (An Nissa', 4 : 10).
Mendengar
pernyataan Rasulullah SAW ini, maka kedua laki-laki tadi kemudian masing-masing
mengatakan kepada yang lain, kalau memang itu adalah hak saya, maka saya ikhlas
untukmu, silakan ambil. Yang satu seperti itu yang lain pun demikian. Akhirnya
mereka sama-sama tidak mau mengambil haknya. (HR. Sunan Abu Daud).
Seperti inilah
jika keimanan yang menjadi pijakan hidup seseorang. Ada kisah lain yang serupa
yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi SAW pernah mengisahkan kepada para
sahabat tentang dua orang mu'min yang satu menjual tanah kepada yang lain. Usai
proses pembelian, si pembeli kembali lagi dengan membawa satu kotak peti berisi
emas dengan mengatakan; Setelah saya membeli tanah kebetulan saya
menggali tanah itu kutemukan satu kotak peti berisi Emas. Karena saya hanya
membeli dan membayar harga tanah, berarti tidak termasuk emas yang ada di dalam
peti ini. Maka dari itu saya kembalikan kotak peti berisi emas ini.
Si penjual
tanah tidak mau menerima dengan mengatakan, saya sudah menjual tanah dengan
segala yang ada di dalamnya. Akhirnya, keduanya sepakat untuk menemui seseorang
untuk meminta keputusan. Maka berkatalah orang yang dipercayakan oleh kedua
orang itu, adakah kalian berdua punya anak ? Yang satu menyatakan, saya punya
anak laki-laki. Yang satunya lagi, saya punya anak perem-puan. Lebih lanjut,
seseorang yang dipercaya itu mengatakan, kalau begitu nikahkan saja anak kalian
berdua dan emas itu untuk modal anak kalian berdua. Maka barulah keduanya
sepakat.
Alangkah luar
biasa dampak keimanan dalam mengendalikan egoisme manusia. Dan alangkah indahnya
hidup dan kehidupan ini jika masing-masing manusia memiliki keimanan yang kuat
sehingga dia mampu mengendalikan kecenderungan “ego” yang ada dalam dirinya
sekaligus mementahkan bisikan Iblis yang menyesatkan.[Republika Online, Egoisme,Senin, 16 November 2009, 11:59 WI].
Kerap kali
runtuhnya sebuah bangunan rumah tangga karena salah satu atau masing-masing
suami dan isteri mempertahankan egonya, tidak ada sikap toleransi, hilangnya
saling menghargai, menonjolkan kesombongan dan menampilkan arogansi, maka
hilanglah persaudaraan dan ukhuwah islamiyyah.
Islam
mengokohkan persaudaraan umat manusia sebagai keturunan Adam. Rasulullah
menyatakan dalam sebuah Hadis, “Manusia itu semuanya adalah ‘iyalullah
(keluarga Allah), dan yang dikasihi Allah adalah yang paling bermanfaat bagi
keluarga Allah itu.” (HR Abu Ya’la).
Ajaran itulah yang melandasi tindakan amirul mukminin Umar bin Khattab ketika menemukan seorang tua jompo peminta-minta dari kalangan dzimmi, yakni non-muslim yang hidup dibawah naungan negara Islam masa itu. Khalifah Umar langsung memberi jatah bantuan biaya hidup dari Baitul Maal kepada orang itu sama seperti yang diberikan kepada penduduk miskin di antara umat Islam.
Ketika ada orang meminta pertolongan atau sedang teraniaya, seorang muslim wajib membantu tanpa memandang suku, bangsa, ataupun agamanya. Tetapi Islam sebagai agama yang sangat menghormati hak asasi manusia, tidak membenarkan tindakan membantu orang lain dikaitkan dengan misi penyebaran agama.
Solidaritas antarmanusia yang diajarkan Islam adalah solidaritas universal yang tidak bertepi. Rasulullah bersabda, “Demi Allah yang diriku dalam kuasa-Nya, kamu tidak akan masuk surga, sebelum kamu beriman. Dan kamu tidak beriman, sebelum kamu cinta mencintai dan sayang menyayangi satu sama lain.” (HR Muslim). “Tidaklah beriman orang yang merasa kenyang sepanjang malam, sedangkan tetangganya menderita kelaparan.” (HR Thabrani).
Islam mengajarkan bahwa harta milik perorangan mempunyai fungsi sosial yang saluran dan mekanismenya telah diatur dengan sebaik-baiknya dalam ketentuan syariah. Jika harta kekayaan telah dijadikan tujuan hidup seseorang atau suatu masyarakat, sesama manusia pun dengan sendirinya akan jatuh menjadi alat bagi sesamanya dan runtuhlah solidaritas kemanusiaan. Dari situlah timbul eksploitasi manusia terhadap manusia lain dengan berbagai bentuk dan cara.
Pandangan hidup materialisme, secara sadar atau tidak, mempengaruhi perilaku manusia, dimana orang lebih menghargai benda daripada hidup manusia. Hubungan antarmanusia pun menjadi longgar dan pragmatis sesuai kepentingan dan bukan karena ketulusan.
Mohammad Natsir menggambarkan tatanan kehidupan sosial yang Islami yakni, “Kehidupan bukanlah perebutan rezeki dan pengaruh, bukan tindasan yang kuat kepada yang lemah, bukan pertentangan yang kaya dengan yang miskin, tapi hidup ialah perlombaan didalam menegakkan sebanyak-banyak kebajikan, untuk manusia. Hidup ialah iman dan amal shaleh, hidup ialah jasa baik yang tidak mengenal mati dan hilang.”
Mengamati berbagai karakter dan perilaku yang muncul di tengah masyarakat belakangan ini, semakin menyadarkan kita terhadap keagungan risalah Nabi Muhammad yang tidak menjadikan persaingan hidup dan perebutan menuntut hak sebagai nafas kehidupan, tetapi mengedepankan perintah untuk berbuat baik (ihsan) dan perlombaan memenuhi kewajiban terhadap sesama. Jika setiap orang telah menunaikan kewajibannya dalam kehidupan bersama, maka semua orang pasti akan mendapatkan haknya.[Republika Online, M Fuad Nasar MSc, Solidaritas Antarmanusia,Thursday, 24 March 2011 07:46 WIB].
Egoisme personal atau sektoral jika dikembangkan akan mengemuka dalam tiga sikap yang destruktif, sebagaimana disebutkan dalam Atsar Umar bin Khatthab. Yaitu: ”syukhkhun mutha’un” sikap pelit yang menggerus rasa empati terhadap sesama; ”hawan muttaba’un” yakni hawa nafsu selera rendah yang diikuti sehingga makin jauh dari idealisme bahkan kewajaran sekalipun; dan ketiga ”dunyan mu’tsaratun” yaitu kepentingan duniawi yang terus dikejar. Dalam konteks itu semua bukan lagi nilai yang menjadi acuan atau norma yang jadi rujukan, melainkan ”i’jabu dzirra’yi bira’yihi” kepongahan orang dalam mempertahankan/membela pendapatnya sendiri. Konsultasi diabaikan dan musyawarah dilecehkan dengan teknik-teknik manipulatif.
Faktor-faktor itu oleh sahabat Umar disebut ”al muhlikat” yakni faktor-faktor penghancur dalam kehidupan masyarakat. Kalau satu dari empat penyakit mental dan moral tersebut sudah merusak, bagaimana jika keempat-empatnya sekaligus telah menimpa kalangan masyarakat kita. Di bawah selimut awan pekat egoisme dan pelbagai bentuk rekayasa dan kebohongan, pesimisme di tengah-tengah masyarakat terus menyeruak melontarkan tanda tanya: masih adakah harapan akan keadilan, kejujuran dan ruang ASA bagi sebuah masa depan yang lebih baik ?[DR. Surahman HidayatKhutbah Idul Adha 1430 H: Semangat Berkorban VS Mengorbankan;dakwatuna.com.20/11/2009 | 02 Zulhijjah 1430 H | Hits: 37.514]
Orang yang
hanya mementingkan diri sendiri, mempertahankan sikap egonya maka sangat sulit
untuk bisa diajak memikirkan orang lain apalagi melakukan sesuatu yang
merugikan dirinya, jiwa sosialnya hilang, tidak resfon atas penderitaan orang
lain, padahal segala kebaikan yang kita lakukan itu selain untuk mengekang
sikap ego juga akan mendatangkan balasan dan kebahagiaan bagi pelakunya, itulah
banyak sekali perintah Allah kepada orang beriman untuk beramal sosial dan
membentuk jiwa shaleh secara social.
Perintah agama
untuk berbuat kebaikan pada dasarnya merupakan washilah yang akan menghantarkan
kita pada derajat keridhaan Illahi nanti di akhirat. Perintah dan dorongan
berbuat baik itu datang dari Allah melalui para utusan-Nya. Namun sesungguhnya
dorongan kepada kebaikan itu sudah merupakan “bakat primordial” manusia,
bersumber dari hati nurani (nurani, bersifat nur atau terang) karena adanya
fitrah pada manusia. Oleh karena itu berbuat baik merupakan sesuatu yang
“natural” atau alami, karena dia tidak lain adalah perpanjangan nalurinya
sendiri, alamnya sendiri, yang ada secara primordial, sejak seseorang
dilahirkan ke dunia ini.
Maka jika Allah memerintahkan kita berbuat baik, sesungguhnya seolah-olah Dia hanyalah mengingatkan kepada kita akan “nature” kita sendiri, kecenderungan kita sendiri. Dengan kata lain, berbuat baik adalah sesuatu yang manusiawi, yang sejalan dan mencocoki sifat dasar manusia itu sendiri. Dengan sendirinya perbuatan jahat adalah melawan kemanusiaan, menyalahi sifat dasar manusia itu
.
Karena itu, dari perspektif ini bisa disimpulkan bahwa perintah berbuat baik dari Allah SWT kepada kita bukanlah untuk kepentingan Allah sendiri. Dia Maha Kaya (al-Ghaniy), tidak membutuhkan pelayanan/service dari makhluk-Nya. Sebaliknya, ketika perbuatan baik dikerjakan manusia maka semuanya akan kembali untuk kebaikan manusia itu sendiri. Hal ini telah Allah tegaskan dalam QS Fushilat : 46, “Barang siapa berbuat baik, maka hal itu untuk dirinya sendiri; dan barang siapa berbuat jahat, maka hal itu adalah atas (kerugian) dirinya sendiri.”
Karena itu, dari perspektif ini bisa disimpulkan bahwa perintah berbuat baik dari Allah SWT kepada kita bukanlah untuk kepentingan Allah sendiri. Dia Maha Kaya (al-Ghaniy), tidak membutuhkan pelayanan/service dari makhluk-Nya. Sebaliknya, ketika perbuatan baik dikerjakan manusia maka semuanya akan kembali untuk kebaikan manusia itu sendiri. Hal ini telah Allah tegaskan dalam QS Fushilat : 46, “Barang siapa berbuat baik, maka hal itu untuk dirinya sendiri; dan barang siapa berbuat jahat, maka hal itu adalah atas (kerugian) dirinya sendiri.”
Berbagai kajian ilmiah mengenai manusia telah mengukuhkan bahwa manusia yang reach out, mengulurkan tangan untuk menolong orang lain, adalah orang yang bahagia. Jika suatu kali kita bertemu dengan orang yang membutuhkan pertolongan, kemudian kita menolongnya, sepintas lalu nampak seperti perbuatan kita adalah untuk kepentingan orang tersebut. Tetapi, dalam perenungan yang lebih mendalam, seuntung-untungnya orang yang kita tolong itu, tetap masih beruntung dan bahagia kita sendiri, justeru karena kita mampu menolong. Lebih lanjut, karena perasaan bahagia itu, kita akan mendapatkan dunia ini terasa lapang dan luas untuk kita disebabkan oleh lapang dan luasnya dada (jiwa) kita. Kita dibimbing oleh Allah, berkat perbuatan baik kita sendiri, kepada kehidupan yang luas,lapang dan penuh harapan.[Republika OnLine, Ihsan Faisal Mag,Rabu, 02 Maret 2011, 07:26 WIB].
Setiap
manusia punya sifat egois dan egoisme, manusia yang baik adalah yang menekan
sifat egonya itu melalui pengarahan agama sehingga mampu membuka sedikit di
hatinya untuk bersifat toleransi, menenggang orang lain dengan ujud kasih dan sayang dengan
kesantunan karena ego itu adalah penyakit sehingga yang mempertahankannya akan menderita
karenanya, wallahu a’lam [Mengkoang
Pahang Malaysia, 01 Juni 2011M/ 28 Jumadil Akhir 1432.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar