Minggu, 29 November 2015

59. Andai Aku Tahu Mengikuti Aliran Ahmadiyah Berdosa



Islam adalah agama yang suci dari syirik, bersih dari penyembahan kepada siapapun, pemeluknya hanya menyembah kepada Allah sebagai Tuhan Yang Esa dan menjadikan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul yang telah diberi amanah untuk menyampaikan risalah kebenaran ini kepada ummat manusia.Dua hal inilah yang menjadi pondasi dasar bagi agama Islam yang dituangkan dalam pengakuan yang disebut dengan Kalimat Syahadat.Menurut Sayid Qutb, kalimat syahadat itu dimaknai dengan “Jangan ada lagi Tuhan yang disembah di dunia ini kecuali Allah’’ dan Muhammad sebagai Nabi terakhir, tidak ada lagi nabi sesudahnya.

            Namun perjalanan sejarah, sepanjang apapun jauhnya perjalanan sejarah itu maka akan terjadi penyelewengan dan penyimpangan yang dilakukan oleh orang-orang bodoh, zhalim, fasiq dan kafir sehingga menodai islam dan mencederai ajaran tauhid, salah satunya penyelewengan itu adalah aliran Ahmadiyah.
Mereka mengakui Allah sebagai Tuhan tapi Nabi Muhammad bukanlah nabi terakhir, dia nabi hanya untuk satu kurun saja, yang kemudian  dilanjutkan oleh nabi berikutnya bernama Mirza Ghulam Ahmad, Al Qur'an merekapun tidak orisinil lagi sebab sudah ditambah-tambah menurut kemauan pengikutnya, sudah lama dan berkali-kali masyarakat menuntut agar aliran yang disebut dengan Ahmadiyah ini untuk dibubarkan, bahkan ada yang menyatakan, silahkan mereka beribadah menurut yang mereka percayai tapi jangan disebut kalau mereka bagian dari ummat islam.  

Dari hasil penelitian LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) ditemukan butir-butir kesesatan dan penyimpangan Ahmadiyah ditinjau dari ajaran Islam yang sebenarnya. Butir-butir kesesatan dan penyimpangan itu bisa diringkas sebagai berikut:

1.        Ahmadiyah Qadyan berkeyakinan bahwa Mirza Ghulam Ahmad dari India itu adalah nabi dan rasul. Siapa saja yang tidak mempercayainya adalah kafir dan murtad.
2.  Ahmadiyah Qadyan mempunyai kitab suci sendiri yaitu kitab suci “Tadzkirah”.
3.  Kitab suci “Tadzkirah”adalah kumpulan “wahyu” yang diturunkan “Tuhan” kepada “Nabi Mirza Ghulam Ahmad” yang kesuciannya sama dengan Kitab Suci Al-Qur’an dan kitab-kitab suci yang lain seperti; Taurat, Zabur dan Injil, karena sama-sama wahyu dari Tuhan.
4.   Orang Ahmadiyah mempunyai tempat suci sendiri untuk melakukan ibadah haji yaitu Rabwah dan Qadyan di India. Mereka mengatakan: “Alangkah celakanya orang yang telah melarang dirinya bersenang-senang dalam Haji Akbar ke Qadyan. Haji ke Makkah tanpa haji ke Qadyan adalah haji yang kering lagi kasar”.Dan selama hidupnya “Nabi” Mirza Ghulam Ahmad tidak pernah pergi haji ke Makkah.
5.  Orang Ahmadiyah mempunyai perhitungan tanggal, bulan dan tahun sendiri. Nama-nama bulan Ahmadiyah adalah: 1. Suluh 2. Tabligh 3.Aman 4.Syahadah 5.Hijrah 6.Ihsan 7. Wafa  8. Zuhur  9. Tabuk 10.Ikha’ 11. Nubuwah  12. Fatah.Sedang tahunnya adalah Hijri Syamsi yang biasa mereka singkat dengan HS.Dan tahun Ahmadiyah saat penelitian ini dibuat 1994M/ 1414H adalah tahun 1373 HS. Kewajiban menggunakan tanggal, bulan, dan tahun Ahmadiyah tersendiri tersebut di atas adalah perintah khalifah Ahmadiyah yang kedua yaitu: Basyiruddin Mahmud Ahmad.
6.  Berdasarkan firman “Tuhan” yang diterima oleh “Nabi” dan “Rasul” Ahmadiyah yang terdapat dalam kitab suci “Tadzkirah” yang berbunyi: Artinya: “Dialah Tuhan yang mengutus Rasulnya “Mirza Ghulam Ahmad” dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya atas segala agama-agama semuanya. (kitab suci Tadzkirah hal. 621).
Menunjukkan BAHWA AHMADIYAH BUKAN SUATU ALIRAN DALAM ISLAM, TETAPI MERUPAKAN SUATU AGAMA YANG HARUS DIMENANGKAN TERHADAP SEMUA AGAMA-AGAMA LAINNYA TERMASUK AGAMA ISLAM.
7.  Secara ringkas, Ahmadiyah mempunyai nabi dan rasul sendiri, kitab suci sendiri, tanggal, bulan  dan tahun sendiri, tempat untuk haji sendiri serta khalifah sendiri yang sekarang khalifah yang ke 4 yang bermarkas di London Inggris bernama: Thahir Ahmad. Semua anggota Ahmadiyah di seluruh dunia wajib tunduk dan taat tanpa reserve kepada perintah dia. Orang di luar Ahmadiyah adalah kafir, sedang wanita Ahmadiyah haram dikawini laki-laki di luar Ahmadiyah. Orang yang tidak mau menerima Ahmadiyah tentu mengalami kehancuran.

8.  Berdasarkan “ayat-ayat” kitab suci Ahmadiyah “Tadzkirah”. Bahwa tugas dan fungsi Nabi Muhammad saw sebagai Nabi dan Rasul yang dijelaskan oleh kitab suci umat Islam Al Qur’an, dibatalkan dan diganti oleh “nabi” orang Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad. [Tasawuf, Pluralisme, & Pemurtadan.- H Hartono Ahmad Jaiz -
- navigasi & konversi ke format html: nono 2005 –].
Kehadiran Ahmadiyah di Indonesia tak terlepas dari peran tiga pemuda dari Sumatera Thawalib, sekolah Islam modern pertama di Indonesia, yang merantau ke India.Seperti dikutip dari laman resmi Ahmadiyah, www.alislam.org, ketiga pemuda itu adalah Abubakar Ayyub, Ahmad Nuruddin dan Zaini Dahlan.Kedatangan mereka kemudian disusul oleh 20 pemuda Thawalib lainnya untuk bergabung dengan jamaah Ahmadiyah.Pada 1925 Ahmadiyah mengirim Rahmat Ali ke Hindia Belanda.Ahmadiyah resmi menjadi organisasi keagamaan di Padang pada 1926. Sejak saat itulah Ahmadiyah mulai menyebarkan pengaruhnya di Indonesia
.Ahmadiyah berhasil meraih pengikut dari kalangan terdidik yang bisa dengan cepat menerima ajarah Mirza Ghulam Ahmad.Namun demikian masuknya Ahmadiyah ke Indonesia menuai respons dari beberapa kalangan.Perdebatan pun terjadi di mana-mana. Sebagian kelompok muslim lain menganggap pengikut Ahmadiyah sesat karena mengakui kenabian Mirza Ghulam Ahmad yang sama artinya menafikan bahwa Muhammad SAW sebagai nabi terakhir.
Kontroversi keberadaan Ahmadiyah tak serta-merta berakhir dengan kekerasan. Perbedaan pendapat dan penafsiran itu malah dibawa ke meja dialog yang sangat intelek. Pada 28-29 September 1933 beberapa organisasi Islam menyelenggarakan debat terbuka untuk membahas Ahmadiyah. Ada sekira 10 organisasi yang hadir antara lain Persatuan Islam (Persis), Nahdlatul Ulama dan Al-Irsyad. Perdebatan itu menarik minat masyarakat sehingga gedung pertemuan di Gang Kenari, Salemba itu disesaki oleh 1800 orang yang antusias.Sejumlah suratkabar ternama seperti Sipatahunan, Sin Po, Pemandangan dan Bintang Timur meliput jalannya perdebatan. Dr. Pijper, kelak menjadi ahli Islam, datang sebagai wakil pemerintah Belanda untuk menyaksikan jalannya acara.
Acara debat itu dihadiri oleh Rahmat Ali dan Abubakar Ayyub yang mewakili Ahmadiyah berhadapan dengan Ahmad Hassan, pendiri Persis. Ahmad Sarido dari komite Munazarah ditunjuk sebagai moderatornya. Sebelum debat dimulai moderator mengumumkan peraturan kepada para penonton untuk tidak bersorak-sorai, menghujat, meneriakkan kebencian dan menyindir para pembicara, khususnya dari perwakilan Ahmadiyah.

Baik pada malam pertama dan kedua panelis mengajukan argumennya masing-masing.Ahmad Hassan mempertanyakan kenabian Mirza Ghulam Ahmad.Sementara itu Rahmat Ali dan Abubakar Ayyub pun mengajukan argumentasi untuk mendukung pendiriannya di Ahmadiyah.Acara pada malam kedua dibanjiri sekitar 2000 orang penonton. Karena sejak awal moderator telah mengingatkan mereka untuk tidak membuat kegaduhan, acara debat pun berakhir damai. Kendati para panelis berkeras pada pendiriannya, tak ada yang saling memaksa untuk mengubah pendapatnya dan keyakinannya masing-masing
.Keberadaan Ahmadiyah di Indonesia menjadi perbicangan luas.Bahkan Sukarno pun sempat digosipkan sebagai pengikut Ahmadiyah. Menurut pengakuannya, penyebar gosip miring itu adalah dinas rahasia kolonial atau PID (Politieke Inlichtingen Dienst) yang bertujuan mendiskreditkan Sukarno yang saat itu berada di pengasingannya di Ende. Untuk menepis sassus itu, pada 25 November 1935 Sukarno menulis sebuah artikel berjudul “Tidak Percaya Bahwa Mirza Gulam Ahmad Adalah Nabi”.

Dalam artikelnya itu Sukarno menolak tuduhan bahwa dia adalah jemaat Ahmadiyah.“Saya bukan anggota Ahmadiah.Jadi mustahil saya mendirikan cabang Ahmadiah atau menjadi propagandisnya. Apalagi buat bagian Celebes! Sedang pelesir ke sebuah pulau yang jauhnya hanya beberapa mil saja dari Endeh, saya tidak boleh! Di Endeh memang saya lebih memperhatikan urusan agama daripada dulu.Di samping saya punja studi sociale wetenschappen, rajin jugalah saya membaca buku-buku agama.Tapi saya punya ke-Islam-an tidaklah terikat oleh sesuatu golongan. Dari Persatuan Islam Bandung saya banyak mendapat penerangan; terutama personnya tuan A. Hassan sangat membantu penerangan bagi saya itu.”[Bonnie Triyana,  Membaca Kembali Riwayat Ahmadiyah di Indonesia, padang-today.com,Jumat, 18/02/2011 - 12:31 WIB]. 

Hingga kini keberadaan Ahmadiyah selalu menjadi persoalan ummat islam karena mereka menyatakan diri sebagai “islam”, Hidayat Nur Wahid menyatakan,”Kalau Ahmadiyah mengatakan dirinya bukan bagian dari Islam, tidak masalah’’, hal ini yang membuat persoalan karena aqidah yang dianut pengikut Ahmadiyah sudah menyalahi tauhid. Ketika masyarakat mendesak kepada Menteri Agama [Kementerian Agama] agar Ahmadiyah dibubarkan, Menteri Agama meresfonnya.

Persoalan Ahmadiyah tidak hanya terjadi belakangan ini, jauh sejak lahir di India, Ahmadiyah sudah menuai protes dan fatwa sesat dan pelarangan sudah dikeluarkan diantaranya oleh Liga Arab dan Rabitoh Alam Islami, bahkan MUI sudah menyatakan kesesatan Ahmadiyah.

Demikian disampaikan oleh Menteri Agama, Suryadarma Ali, saat menerima perwakilan FUI di Kementrian Agama, Rabu (3/3/2011). "Kesesatan Ahmadiyah juga sudah difatwakan oleh MUI, Kementrian Agama sebagai mediator dengan lembaga yang lebih berwenang membubarkan, yakni Kementrian hukum dan Ham yang bisa mencabut badan hukunnya.Dan Jaksa Agung yang bisa membubarkan," tegas Menag.

Selain itu, lanjut Menag, Kementrian agama sudah memberikan usulan opsi terkait Ahmadiyah, yaitu membiarkan atau membubarkannya.Namun, Menag berpendapat bahwa membubarkan lebih kecil mudharatnya. "Membubarkan Ahmadiyah lebih kecil mudharatnya," terang Menag.

Ia berpendapat, dengan membiarkan maka akan melecehkan kemurnian aqidah Islam. Mereka bisa menanggalkan atribut ke-Islamannya.Sedangkan jemaahnya dapat kembali dan dibinaSelain itu, kesesatan Ahmadiyah serta dapat merusak hukum perkawinan dalam Islam. "Karena KTP mereka Islam, maka tatanan rumah tangga umat Islam bisa terjebak dan perkawinannya tidak sah," papar Menag.

Untuk itu, Menag berpendapat, perlu adanya aturan khusus sehingga dalam proses pencatatan sipil di KUA, umat Islam tidak terjebak. Selain itu, Ahmadiyah yang dinilai sudah keluar dari Islam, maka dalam ibadah Haji juga diperlukan aturan khusus.Selama ini, dengan ber-KTP Islam, Jemaah Ahmadiyah dapat melaksanakan ibadah Haji tiap tahunnya.

"Mereka (Ahmadiyah) tidak bisa melaksanakan ibadah Haji, karena demi kesucian kota Makkah dan Madinah, dan Arab Saudi juga sudah mengeluarkan fatwa kesesatan Ahmadiyah," pungkasnya.[CyberSabili-Jakarta Membubarkan Ahmadiyah Lebih Kecil Mudharatnya ,Jumat, 04 Maret 2011 19:56 Dwi Hardianto]. 

Hidayah iman dan islam merupakan nikmat besar yang diberikan Allah kepada hamba-Nya karena tidak semua orang mendapat nikmat ini, selayaknya nikmat ini dijaga dengan sebaik-baiknya, tingkatkan ilmu, tambah pengetahuan, kuatkan iman sehingga hidayah tauhid yang diterima tidak dicemari oleh penyelewengan aqidah berupa syirik, bid’ah, kurafat dan kekafiran. Bila muslim jatuh ke jurang penyelewengan aqidah dengan mengikuti aliran yang tidak sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad maka binasalah agamanya dan sia-sialah amalnya, bagi yang sudah terjerumus ke dalam kubangan  sesat itu maka solusi terbaik adalah kembali ke jalan yang benar dengan bertaubat, memeluk islam secara kaffah.
’’Saya secara sadar dan tanpa paksaan kembali ke Islam,’’ ujar Hasanudin, warga Kampung Baeud, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, yang menyatakan kembali bersyahadat setelah sebelumnya menganut Ahmadiyah. Ia mengaku tak nyaman dengan ajaran yang diikutinya itu.
 Ia bersama dengan 17 warga lainnya dari empat kecamatan di Sukabumi menggelar ikrar kembali ke Islam di Gedung Dakwah dan Islamic Center Kabupaten Sukabumi, tanggal 16 Maret lalu. Mereka datang ke sana karena ingin mendapatkan pembinaan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan pihak terkait lainnya.
Warga Ahmadiyah yang tobat berasal dari Kecamatan Warungkiara, Kecamatan Cibadak, Kecamatan Parakansalak, dan Kecamatan Jampang Tengah.Hasanudin mengungkapkan, dia sendiri sudah selama 20 tahun berada di Ahmadiyah.Selama puluhan tahun tersebut dia tidak merasakan kenyamanan.Ia berharap bisa menemukan ketenangan setelah kembali ke Islam.

Pernyataan serupa disampaikan oleh tetangganya di Kampung Baeud, Wawan Irwansyah (47).Wawan yang sudah selama 19 tahun menganut Ahmadiyah, awalnya hanya diajak oleh temannya.Kini, Wawan telah berikrar kembali ke Islam karena merasakan tidak tentram di aliran tersebut. Selain mereka, ada warga Ahmadiyah lainnya yang baru menganut selama satu tahun.‘’Setelah satu tahun baru merasakan ada yang tidak sesuai,’’cetus Suparman (40), warga Warungkiara. Diakuinya, dia hanya ingin mengetahui dan mempelajari ajaran Ahmadiyah.[Selama di Ahmadiyah Hasanudin Tak Nyaman Republika.co.id. Friday, 25 March 2011 14:44 WIB].

Benar atau salahnya ajaran Ahmadiyah, tanyalah ke Herman (62 tahun), warga Blok Desa, Desa Karayunan, Kecamatan Cigasong, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.Herman mengaku mengikuti ajaran Ahmadiyah sejak tahun 1990 karena diajak bosnya saat dia masih bekerja di salah satu pabrik genteng besar di Majalengka.

Herman kemudian mengajak istrinya untuk masuk menjadi pengikut Ahmadiyah.Namun, dia tetap membiarkan anak-anaknya untuk tetap memeluk agama lama mereka, Islam.''Anak-anak saya bahkan belum tahu kalau bapak dan ibunya masuk Ahmadiyah,'' kata Herman.Namun, ketika akhirnya mereka tahu pun, Herman mengaku anak-anaknya bersikap biasa saja.

Kini, Herman bersama 11 warga Majalengka lainnya termasuk juga sang istri kini telah keluar dari sekte yang divonis oleh Majelis Ulama Indonesia sebagai sesat itu karena mengakui Mirza Ghulam Ahmad, pendiri Ahmadiyah, sebagai nabi. Herman, menegaskan, pertaubatan yang dilakukannya itu didasari atas kesadarannya sendiri.
Dia mengakui kekeliruan ajaran Ahmadiyah dan ingin sepenuhnya memeluk ajaran Islam secara murni.''Saya ikhlas kembali ke Islam.Saya sadar saya selama ini salah.Jadi tanpa paksaan,'' ujarnya.

Adapun 10 anggota jemaat Ahmadiyah yang bertaubat adalah warga Desa Sadasari, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka. Mereka adalah Eman Aji Widodo (37), Tati Sri Mulyati (34), Endun Abdul Latif (33), Ian Iryanti (30),Carma Supriatna (45), Masturo (40), Sujana (36), Teti Mulyati (34), Tati Nurhayati (42), dan Rodiyah (62).

Kembalinya mereka ke Islam ditandai dengan pembacaan syahadat secara bersama-sama di Masjdi Al Abror Islamic Centre, Jalan Siti Armila, Kecamatan Majalengka, Selasa (15/3) pekan lalu.Pembacaan ikrar paling fundamental para mantan pengikut jemaat Ahmadiyah itu dibimbing oleh Kepala Kantor Agama Kabupaten Majalengka M Athoillah dan sejumlah pemuka agama.

Di Kabupaten Majalengka terdapat sekitar 230 pengikuti Ahmadiyah yang sebagian besar berada di Desa Sadasari. Yang mengejutkan, dari 11 jamaah Ahmadiyah yang kembali masuk Islam itu, tiga orang mengaku sebagai anak perempuan dari pimpinan Ahmadiyah Desa Sadasari, Moh Sahidi. Mereka adalah Tati Sri Mulyati, Teti Mulyati, dan Tati Nurhayati.Pengakuan itu diucapkan ketiganya sebelum mereka mengucapkan kalimat syahadat.

Wilayah Jawa Barat merupakan lahan paling subur bagi penyebaran ajaran Ahmadiyah terutama yang bernaung di bawah Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI).Sementara organisasi Ahmadiyah satunya adalah Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) yang berpusat di Yogyakarta.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat memperkirakan di wilayahnya ada 18 ribu pengikut Ahmadiyah yang sebagian besar terangkum dalam JAI.Setelah keluarnya Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 12/2011 yang melarang penyebaran ajaran Ahmadiyah, beberapa kabupaten termasuk Majalengka mengikuti dengan mengeluarkan peraturan bupati. ''Pemkab Majalengka melarang segala bentuk aktivitas keagamaan jamaah Ahmadiyah di Majalengka,'' kata Bupati Majalengka Sutrisno.[Kembali ke Islam Tanpa Paksaan,Republika.co.id, Jumat, 25 Maret 2011 13:25 WIB].

Beruntunglah mereka yang sudah kembali kejalan islam yang benar dengan bertaubat kepada Allah agar kesalahan, dosa dan maksiat yang dilakukan selama ini diampuni-Nya dengan tetap memperteguh iman hingga akhir hayat, jangan sampai lengah dengan segala tipu daya yang datang dari manusia fasiq, munafiq, zhalim yang berbaju indah dipandang mata, hindari segala rayuan dan ajaran iblis untuk bergabung dengan aliran sesat manapun, islam sudah cukup, sudah lengkap, sudah utuh, tinggal diamalkan saja lagi, bahkan nabi menjamin, bila dua pusaka yang beliau  tinggalkan dijaga dengan baik yaitu Al Qur’an dan Sunnahnya maka kita akan hidup selamat, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 18 Juli 2011.M/16 Sya’ban 1432.H].




Tidak ada komentar:

Posting Komentar