Islam
adalah agama yang suci dari syirik, bersih dari penyembahan kepada siapapun,
pemeluknya hanya menyembah kepada Allah sebagai Tuhan Yang Esa dan menjadikan
Muhammad sebagai Nabi dan Rasul yang telah diberi amanah untuk menyampaikan
risalah kebenaran ini kepada ummat manusia.Dua hal inilah yang menjadi pondasi
dasar bagi agama Islam yang dituangkan dalam pengakuan yang disebut dengan
Kalimat Syahadat.Menurut Sayid Qutb, kalimat syahadat itu dimaknai dengan
“Jangan ada lagi Tuhan yang disembah di dunia ini kecuali Allah’’ dan Muhammad
sebagai Nabi terakhir, tidak ada lagi nabi sesudahnya.
Namun
perjalanan sejarah, sepanjang apapun jauhnya perjalanan sejarah itu maka akan
terjadi penyelewengan dan penyimpangan yang dilakukan oleh orang-orang bodoh,
zhalim, fasiq dan kafir sehingga menodai islam dan mencederai ajaran tauhid,
salah satunya penyelewengan itu adalah aliran Ahmadiyah.
Mereka mengakui Allah
sebagai Tuhan tapi Nabi Muhammad bukanlah nabi terakhir, dia nabi hanya untuk
satu kurun saja, yang kemudian
dilanjutkan oleh nabi berikutnya bernama Mirza Ghulam Ahmad, Al Qur'an
merekapun tidak orisinil lagi sebab sudah ditambah-tambah menurut kemauan
pengikutnya, sudah lama dan berkali-kali masyarakat menuntut agar aliran yang
disebut dengan Ahmadiyah ini untuk dibubarkan, bahkan ada yang menyatakan,
silahkan mereka beribadah menurut yang mereka percayai tapi jangan disebut
kalau mereka bagian dari ummat islam.
Dari
hasil penelitian LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) ditemukan
butir-butir kesesatan dan penyimpangan Ahmadiyah ditinjau dari ajaran Islam
yang sebenarnya. Butir-butir kesesatan dan penyimpangan itu bisa diringkas
sebagai berikut:
1.
Ahmadiyah Qadyan berkeyakinan bahwa Mirza Ghulam Ahmad
dari India itu adalah nabi dan rasul. Siapa saja yang tidak mempercayainya
adalah kafir dan murtad.
2. Ahmadiyah Qadyan
mempunyai kitab suci sendiri yaitu kitab suci “Tadzkirah”.
3. Kitab suci
“Tadzkirah”adalah kumpulan “wahyu” yang diturunkan “Tuhan” kepada “Nabi Mirza
Ghulam Ahmad” yang kesuciannya sama dengan Kitab Suci Al-Qur’an dan kitab-kitab
suci yang lain seperti; Taurat, Zabur dan Injil, karena sama-sama wahyu dari
Tuhan.
4. Orang Ahmadiyah
mempunyai tempat suci sendiri untuk melakukan ibadah haji yaitu Rabwah dan
Qadyan di India. Mereka mengatakan: “Alangkah celakanya orang yang telah
melarang dirinya bersenang-senang dalam Haji Akbar ke Qadyan. Haji ke Makkah
tanpa haji ke Qadyan adalah haji yang kering lagi kasar”.Dan selama hidupnya
“Nabi” Mirza Ghulam Ahmad tidak pernah pergi haji ke Makkah.
5. Orang Ahmadiyah mempunyai
perhitungan tanggal, bulan dan tahun sendiri. Nama-nama bulan Ahmadiyah adalah:
1. Suluh 2. Tabligh 3.Aman 4.Syahadah 5.Hijrah 6.Ihsan 7. Wafa 8.
Zuhur 9. Tabuk 10.Ikha’ 11. Nubuwah 12. Fatah.Sedang tahunnya
adalah Hijri Syamsi yang biasa mereka singkat dengan HS.Dan tahun Ahmadiyah
saat penelitian ini dibuat 1994M/ 1414H adalah tahun 1373 HS. Kewajiban
menggunakan tanggal, bulan, dan tahun Ahmadiyah tersendiri tersebut di atas
adalah perintah khalifah Ahmadiyah yang kedua yaitu: Basyiruddin Mahmud Ahmad.
6. Berdasarkan firman
“Tuhan” yang diterima oleh “Nabi” dan “Rasul” Ahmadiyah yang terdapat dalam
kitab suci “Tadzkirah” yang berbunyi: Artinya: “Dialah Tuhan yang mengutus
Rasulnya “Mirza Ghulam Ahmad” dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar
Dia memenangkannya atas segala agama-agama semuanya. (kitab suci Tadzkirah
hal. 621).
Menunjukkan BAHWA
AHMADIYAH BUKAN SUATU ALIRAN DALAM ISLAM, TETAPI MERUPAKAN SUATU AGAMA YANG
HARUS DIMENANGKAN TERHADAP SEMUA AGAMA-AGAMA LAINNYA TERMASUK AGAMA ISLAM.
7. Secara
ringkas, Ahmadiyah mempunyai nabi dan rasul sendiri, kitab suci sendiri,
tanggal, bulan dan tahun sendiri, tempat untuk haji sendiri serta
khalifah sendiri yang sekarang khalifah yang ke 4 yang bermarkas di London
Inggris bernama: Thahir Ahmad. Semua anggota Ahmadiyah di seluruh dunia wajib
tunduk dan taat tanpa reserve kepada perintah dia. Orang di luar Ahmadiyah
adalah kafir, sedang wanita Ahmadiyah haram dikawini laki-laki di luar
Ahmadiyah. Orang yang tidak mau menerima Ahmadiyah tentu mengalami kehancuran.
8. Berdasarkan “ayat-ayat”
kitab suci Ahmadiyah “Tadzkirah”. Bahwa tugas dan fungsi Nabi Muhammad saw
sebagai Nabi dan Rasul yang dijelaskan oleh kitab suci umat Islam Al Qur’an,
dibatalkan dan diganti oleh “nabi” orang Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad. [Tasawuf,
Pluralisme, & Pemurtadan.- H Hartono Ahmad Jaiz -
- navigasi & konversi ke format html: nono 2005 –].
- navigasi & konversi ke format html: nono 2005 –].
Kehadiran
Ahmadiyah di Indonesia tak terlepas dari peran tiga pemuda dari Sumatera
Thawalib, sekolah Islam modern pertama di Indonesia, yang merantau ke
India.Seperti dikutip dari laman resmi Ahmadiyah, www.alislam.org, ketiga
pemuda itu adalah Abubakar Ayyub, Ahmad Nuruddin dan Zaini Dahlan.Kedatangan
mereka kemudian disusul oleh 20 pemuda Thawalib lainnya untuk bergabung dengan
jamaah Ahmadiyah.Pada 1925 Ahmadiyah mengirim Rahmat Ali ke Hindia
Belanda.Ahmadiyah resmi menjadi organisasi keagamaan di Padang pada 1926. Sejak
saat itulah Ahmadiyah mulai menyebarkan pengaruhnya di Indonesia
.Ahmadiyah
berhasil meraih pengikut dari kalangan terdidik yang bisa dengan cepat menerima
ajarah Mirza Ghulam Ahmad.Namun demikian masuknya Ahmadiyah ke Indonesia menuai
respons dari beberapa kalangan.Perdebatan pun terjadi di mana-mana. Sebagian
kelompok muslim lain menganggap pengikut Ahmadiyah sesat karena mengakui
kenabian Mirza Ghulam Ahmad yang sama artinya menafikan bahwa Muhammad SAW
sebagai nabi terakhir.
Kontroversi
keberadaan Ahmadiyah tak serta-merta berakhir dengan kekerasan. Perbedaan
pendapat dan penafsiran itu malah dibawa ke meja dialog yang sangat intelek.
Pada 28-29 September 1933 beberapa organisasi Islam menyelenggarakan debat
terbuka untuk membahas Ahmadiyah. Ada sekira 10 organisasi yang hadir antara
lain Persatuan Islam (Persis), Nahdlatul Ulama dan Al-Irsyad. Perdebatan itu
menarik minat masyarakat sehingga gedung pertemuan di Gang Kenari, Salemba itu
disesaki oleh 1800 orang yang antusias.Sejumlah suratkabar ternama seperti
Sipatahunan, Sin Po, Pemandangan dan Bintang Timur meliput jalannya perdebatan.
Dr. Pijper, kelak menjadi ahli Islam, datang sebagai wakil pemerintah Belanda
untuk menyaksikan jalannya acara.
Acara
debat itu dihadiri oleh Rahmat Ali dan Abubakar Ayyub yang mewakili Ahmadiyah
berhadapan dengan Ahmad Hassan, pendiri Persis. Ahmad Sarido dari komite
Munazarah ditunjuk sebagai moderatornya. Sebelum debat dimulai moderator
mengumumkan peraturan kepada para penonton untuk tidak bersorak-sorai, menghujat,
meneriakkan kebencian dan menyindir para pembicara, khususnya dari perwakilan
Ahmadiyah.
Baik pada malam pertama dan kedua panelis mengajukan argumennya masing-masing.Ahmad Hassan mempertanyakan kenabian Mirza Ghulam Ahmad.Sementara itu Rahmat Ali dan Abubakar Ayyub pun mengajukan argumentasi untuk mendukung pendiriannya di Ahmadiyah.Acara pada malam kedua dibanjiri sekitar 2000 orang penonton. Karena sejak awal moderator telah mengingatkan mereka untuk tidak membuat kegaduhan, acara debat pun berakhir damai. Kendati para panelis berkeras pada pendiriannya, tak ada yang saling memaksa untuk mengubah pendapatnya dan keyakinannya masing-masing
Baik pada malam pertama dan kedua panelis mengajukan argumennya masing-masing.Ahmad Hassan mempertanyakan kenabian Mirza Ghulam Ahmad.Sementara itu Rahmat Ali dan Abubakar Ayyub pun mengajukan argumentasi untuk mendukung pendiriannya di Ahmadiyah.Acara pada malam kedua dibanjiri sekitar 2000 orang penonton. Karena sejak awal moderator telah mengingatkan mereka untuk tidak membuat kegaduhan, acara debat pun berakhir damai. Kendati para panelis berkeras pada pendiriannya, tak ada yang saling memaksa untuk mengubah pendapatnya dan keyakinannya masing-masing
.Keberadaan
Ahmadiyah di Indonesia menjadi perbicangan luas.Bahkan Sukarno pun sempat
digosipkan sebagai pengikut Ahmadiyah. Menurut pengakuannya, penyebar gosip
miring itu adalah dinas rahasia kolonial atau PID (Politieke Inlichtingen
Dienst) yang bertujuan mendiskreditkan Sukarno yang saat itu berada di
pengasingannya di Ende. Untuk menepis sassus itu, pada 25 November 1935 Sukarno
menulis sebuah artikel berjudul “Tidak Percaya Bahwa Mirza Gulam Ahmad Adalah
Nabi”.
Dalam artikelnya itu Sukarno menolak tuduhan bahwa dia adalah jemaat Ahmadiyah.“Saya bukan anggota Ahmadiah.Jadi mustahil saya mendirikan cabang Ahmadiah atau menjadi propagandisnya. Apalagi buat bagian Celebes! Sedang pelesir ke sebuah pulau yang jauhnya hanya beberapa mil saja dari Endeh, saya tidak boleh! Di Endeh memang saya lebih memperhatikan urusan agama daripada dulu.Di samping saya punja studi sociale wetenschappen, rajin jugalah saya membaca buku-buku agama.Tapi saya punya ke-Islam-an tidaklah terikat oleh sesuatu golongan. Dari Persatuan Islam Bandung saya banyak mendapat penerangan; terutama personnya tuan A. Hassan sangat membantu penerangan bagi saya itu.”[Bonnie Triyana, Membaca Kembali Riwayat Ahmadiyah di Indonesia, padang-today.com,Jumat, 18/02/2011 - 12:31 WIB].
Dalam artikelnya itu Sukarno menolak tuduhan bahwa dia adalah jemaat Ahmadiyah.“Saya bukan anggota Ahmadiah.Jadi mustahil saya mendirikan cabang Ahmadiah atau menjadi propagandisnya. Apalagi buat bagian Celebes! Sedang pelesir ke sebuah pulau yang jauhnya hanya beberapa mil saja dari Endeh, saya tidak boleh! Di Endeh memang saya lebih memperhatikan urusan agama daripada dulu.Di samping saya punja studi sociale wetenschappen, rajin jugalah saya membaca buku-buku agama.Tapi saya punya ke-Islam-an tidaklah terikat oleh sesuatu golongan. Dari Persatuan Islam Bandung saya banyak mendapat penerangan; terutama personnya tuan A. Hassan sangat membantu penerangan bagi saya itu.”[Bonnie Triyana, Membaca Kembali Riwayat Ahmadiyah di Indonesia, padang-today.com,Jumat, 18/02/2011 - 12:31 WIB].
Hingga kini keberadaan Ahmadiyah selalu menjadi persoalan ummat islam
karena mereka menyatakan diri sebagai “islam”, Hidayat Nur Wahid
menyatakan,”Kalau Ahmadiyah mengatakan dirinya bukan bagian dari Islam, tidak
masalah’’, hal ini yang membuat persoalan karena aqidah yang dianut pengikut
Ahmadiyah sudah menyalahi tauhid. Ketika masyarakat mendesak kepada Menteri
Agama [Kementerian Agama] agar Ahmadiyah dibubarkan, Menteri Agama meresfonnya.
Persoalan
Ahmadiyah tidak hanya terjadi belakangan ini, jauh sejak lahir di India,
Ahmadiyah sudah menuai protes dan fatwa sesat dan pelarangan sudah dikeluarkan
diantaranya oleh Liga Arab dan Rabitoh Alam Islami, bahkan MUI sudah menyatakan
kesesatan Ahmadiyah.
Demikian
disampaikan oleh Menteri Agama, Suryadarma Ali, saat menerima perwakilan FUI di
Kementrian Agama, Rabu (3/3/2011). "Kesesatan Ahmadiyah juga sudah
difatwakan oleh MUI, Kementrian Agama sebagai mediator dengan lembaga yang
lebih berwenang membubarkan, yakni Kementrian hukum dan Ham yang bisa mencabut
badan hukunnya.Dan Jaksa Agung yang bisa membubarkan," tegas Menag.
Selain itu,
lanjut Menag, Kementrian agama sudah memberikan usulan opsi terkait Ahmadiyah,
yaitu membiarkan atau membubarkannya.Namun, Menag berpendapat bahwa membubarkan
lebih kecil mudharatnya. "Membubarkan Ahmadiyah lebih kecil
mudharatnya," terang Menag.
Ia berpendapat,
dengan membiarkan maka akan melecehkan kemurnian aqidah Islam. Mereka bisa
menanggalkan atribut ke-Islamannya.Sedangkan jemaahnya dapat kembali dan
dibinaSelain itu, kesesatan Ahmadiyah serta dapat merusak hukum perkawinan
dalam Islam. "Karena KTP mereka Islam, maka tatanan rumah tangga umat
Islam bisa terjebak dan perkawinannya tidak sah," papar Menag.
Untuk itu,
Menag berpendapat, perlu adanya aturan khusus sehingga dalam proses pencatatan
sipil di KUA, umat Islam tidak terjebak. Selain itu, Ahmadiyah yang
dinilai sudah keluar dari Islam, maka dalam ibadah Haji juga diperlukan aturan
khusus.Selama ini, dengan ber-KTP Islam, Jemaah Ahmadiyah dapat melaksanakan
ibadah Haji tiap tahunnya.
"Mereka
(Ahmadiyah) tidak bisa melaksanakan ibadah Haji, karena demi kesucian kota
Makkah dan Madinah, dan Arab Saudi juga sudah mengeluarkan fatwa kesesatan
Ahmadiyah," pungkasnya.[CyberSabili-Jakarta Membubarkan
Ahmadiyah Lebih Kecil Mudharatnya ,Jumat, 04 Maret 2011 19:56 Dwi
Hardianto].
Hidayah iman
dan islam merupakan nikmat besar yang diberikan Allah kepada hamba-Nya karena
tidak semua orang mendapat nikmat ini, selayaknya nikmat ini dijaga dengan
sebaik-baiknya, tingkatkan ilmu, tambah pengetahuan, kuatkan iman sehingga
hidayah tauhid yang diterima tidak dicemari oleh penyelewengan aqidah berupa
syirik, bid’ah, kurafat dan kekafiran. Bila muslim jatuh ke jurang
penyelewengan aqidah dengan mengikuti aliran yang tidak sesuai dengan ajaran
yang dibawa oleh Nabi Muhammad maka binasalah agamanya dan sia-sialah amalnya,
bagi yang sudah terjerumus ke dalam kubangan
sesat itu maka solusi terbaik adalah kembali ke jalan yang benar dengan
bertaubat, memeluk islam secara kaffah.
’’Saya secara
sadar dan tanpa paksaan kembali ke Islam,’’ ujar Hasanudin, warga Kampung
Baeud, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, yang menyatakan kembali
bersyahadat setelah sebelumnya menganut Ahmadiyah. Ia mengaku tak nyaman dengan
ajaran yang diikutinya itu.
Ia bersama dengan 17 warga lainnya dari empat
kecamatan di Sukabumi menggelar ikrar kembali ke Islam di Gedung Dakwah dan
Islamic Center Kabupaten Sukabumi, tanggal 16 Maret lalu. Mereka datang ke sana
karena ingin mendapatkan pembinaan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan pihak
terkait lainnya.
Warga Ahmadiyah
yang tobat berasal dari Kecamatan Warungkiara, Kecamatan Cibadak, Kecamatan
Parakansalak, dan Kecamatan Jampang Tengah.Hasanudin mengungkapkan, dia sendiri
sudah selama 20 tahun berada di Ahmadiyah.Selama puluhan tahun tersebut dia
tidak merasakan kenyamanan.Ia berharap bisa menemukan ketenangan setelah
kembali ke Islam.
Pernyataan
serupa disampaikan oleh tetangganya di Kampung Baeud, Wawan Irwansyah
(47).Wawan yang sudah selama 19 tahun menganut Ahmadiyah, awalnya hanya diajak
oleh temannya.Kini, Wawan telah berikrar kembali ke Islam karena merasakan
tidak tentram di aliran tersebut. Selain mereka, ada warga Ahmadiyah lainnya
yang baru menganut selama satu tahun.‘’Setelah satu tahun baru merasakan ada
yang tidak sesuai,’’cetus Suparman (40), warga Warungkiara. Diakuinya, dia
hanya ingin mengetahui dan mempelajari ajaran Ahmadiyah.[Selama di Ahmadiyah
Hasanudin Tak Nyaman Republika.co.id. Friday, 25 March 2011 14:44 WIB].
Benar atau salahnya ajaran Ahmadiyah,
tanyalah ke Herman (62 tahun), warga Blok Desa, Desa Karayunan, Kecamatan
Cigasong, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.Herman mengaku mengikuti ajaran
Ahmadiyah sejak tahun 1990 karena diajak bosnya saat dia masih bekerja di salah
satu pabrik genteng besar di Majalengka.
Herman kemudian mengajak istrinya untuk
masuk menjadi pengikut Ahmadiyah.Namun, dia tetap membiarkan anak-anaknya untuk
tetap memeluk agama lama mereka, Islam.''Anak-anak saya bahkan belum tahu kalau
bapak dan ibunya masuk Ahmadiyah,'' kata Herman.Namun, ketika akhirnya mereka
tahu pun, Herman mengaku anak-anaknya bersikap biasa saja.
Kini, Herman bersama 11 warga Majalengka
lainnya termasuk juga sang istri kini telah keluar dari sekte yang divonis oleh
Majelis Ulama Indonesia sebagai sesat itu karena mengakui Mirza Ghulam Ahmad,
pendiri Ahmadiyah, sebagai nabi. Herman, menegaskan, pertaubatan yang
dilakukannya itu didasari atas kesadarannya sendiri.
Dia mengakui kekeliruan ajaran Ahmadiyah
dan ingin sepenuhnya memeluk ajaran Islam secara murni.''Saya ikhlas kembali ke
Islam.Saya sadar saya selama ini salah.Jadi tanpa paksaan,'' ujarnya.
Adapun 10 anggota jemaat Ahmadiyah yang
bertaubat adalah warga Desa Sadasari, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka.
Mereka adalah Eman Aji Widodo (37), Tati Sri Mulyati (34), Endun Abdul Latif
(33), Ian Iryanti (30),Carma Supriatna (45), Masturo (40), Sujana (36), Teti
Mulyati (34), Tati Nurhayati (42), dan Rodiyah (62).
Kembalinya mereka ke Islam ditandai
dengan pembacaan syahadat secara bersama-sama di Masjdi Al Abror Islamic
Centre, Jalan Siti Armila, Kecamatan Majalengka, Selasa (15/3) pekan
lalu.Pembacaan ikrar paling fundamental para mantan pengikut jemaat Ahmadiyah
itu dibimbing oleh Kepala Kantor Agama Kabupaten Majalengka M Athoillah dan
sejumlah pemuka agama.
Di Kabupaten Majalengka terdapat sekitar
230 pengikuti Ahmadiyah yang sebagian besar berada di Desa Sadasari. Yang
mengejutkan, dari 11 jamaah Ahmadiyah yang kembali masuk Islam itu, tiga orang
mengaku sebagai anak perempuan dari pimpinan Ahmadiyah Desa Sadasari, Moh
Sahidi. Mereka adalah Tati Sri Mulyati, Teti Mulyati, dan Tati
Nurhayati.Pengakuan itu diucapkan ketiganya sebelum mereka mengucapkan kalimat
syahadat.
Wilayah Jawa Barat merupakan lahan
paling subur bagi penyebaran ajaran Ahmadiyah terutama yang bernaung di bawah
Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI).Sementara organisasi Ahmadiyah satunya adalah
Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) yang berpusat di Yogyakarta.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat
memperkirakan di wilayahnya ada 18 ribu pengikut Ahmadiyah yang sebagian besar
terangkum dalam JAI.Setelah keluarnya Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor
12/2011 yang melarang penyebaran ajaran Ahmadiyah, beberapa kabupaten termasuk
Majalengka mengikuti dengan mengeluarkan peraturan bupati. ''Pemkab Majalengka
melarang segala bentuk aktivitas keagamaan jamaah Ahmadiyah di Majalengka,''
kata Bupati Majalengka Sutrisno.[Kembali ke Islam Tanpa Paksaan,Republika.co.id,
Jumat, 25 Maret 2011 13:25 WIB].
Beruntunglah mereka yang sudah kembali
kejalan islam yang benar dengan bertaubat kepada Allah agar kesalahan, dosa dan
maksiat yang dilakukan selama ini diampuni-Nya dengan tetap memperteguh iman
hingga akhir hayat, jangan sampai lengah dengan segala tipu daya yang datang
dari manusia fasiq, munafiq, zhalim yang berbaju indah dipandang mata, hindari
segala rayuan dan ajaran iblis untuk bergabung dengan aliran sesat manapun,
islam sudah cukup, sudah lengkap, sudah utuh, tinggal diamalkan saja lagi,
bahkan nabi menjamin, bila dua pusaka yang beliau tinggalkan dijaga dengan baik yaitu Al Qur’an
dan Sunnahnya maka kita akan hidup selamat, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 18
Juli 2011.M/16 Sya’ban 1432.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar