Selama lebih kurang
tiga belas tahun Rasulullah menghadapi ummat jahiliyyah di tanah Mekkah, selama
itu pula suka dan duka yang beliau tanggung bersama para sahabat yang setia
mengikuti langkah nabinya. Di Madinah bukan berarti perjalanan mulus yang
dihadapi, tidak bedanya denan di Mekkah, hanya di Madinah fokus pembinaan
kepada sosial kemasyarakatan dan hukum-hukum islam. Sedangkan di Mekkah harus
mengikis habis karakteristik jahiliyyah yang telah mengkristal di hati ummat .
Walaupun demikian kerasnya perjuangan yang harus dihadapi berkat pembinaan yang
kontinyu serta hidayah Allah lahirlah tokoh-tokoh handal pembela islam seperti
Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khattab, Hamzah, Bilal bin Rabah dan para
sahabat yang lain yang rela mengorbankan hidup demi tegaknya Kalimatullah di
dunia ini.
Kebenaran islam di Mekkah sebenarnya sudah menyentuh
lapisan masyarakat laus sejak dari budak belian sampai penguasa tapi sedikit
sekali yang mau mengakui karena beberapa
sebab; diantaranya mereka tidak mau ikut ajaran islam karena para pengikut
islam pada waktu itu sedikit sekali dan terdiri dari orang-orang lemah yang
tidak berpengaruh. Kenyataan ini sejak zaman nabi Nuh dahulu sudah terjadi, ”Ketika saudara mereka [Nuh] berkata kepada
mereka, ”Mengapa kamu tidak bertaqwa?
Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan yang diutus kepadamu”, mereka
berkata,”apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah
orang-orang hina” [Asy Syura 26;106,107,111].
Dengan bekal iman dan kekuatan dari Allah, Rasulullah
berusaha menegakkan kebenaran di muka bumi ini dengan memerangi segala bentuk
watak jahiliyyah yang menyesatkan ummat. Mereka menyekutukan Allah dengan
berbagai bentuk sembahan yang mereka buat sendiri, mencuri, berbohong, minu,
khamar, membunuh manusia tanpa haq. Bermain judi adalah suatu adat kasar yang
diwarisi turun temurun. Berzina, main sihir, makan suap, mengurangi timbangan
atau takaran dalam perdagangan, mengumpat dan menghasut sulit untuk
ditinggalkan akibat kerasnya adat jahiliyyah yang mereka anut.
Masih banyak
lagi akhlak tercela yang direkam sejarah yang dilakukan ummat jahiliyyah. Nabi
Muhammad tampil sendiri ke gelanggang dengan tuntunan wahyu Allah agar berbeda
dengan kehidupan banyak orang, karena kalau diikuti maka kehidupan mereka akan
rusaklah pribadi, hancurlah akhlak, ”Dan
jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang muka bumi ini, niscaya mereka
akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Mereka tidak lain adalah mengikuti
persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta terhadap Allah”[Al
An’am 6;116].
Sejak awal beliau mampu menunjukkan kepada ummatnya bahwa
dia adalah contoh teladan yang dikirim Allah untuk membina manusia sehingga
walaupun kafir Quraisy terbelenggu oleh adat jahiliyyah, nabi Muhammad dengan
gelar ”Al Amin” yaitu orang yang
dapat dipercaya, mereka berikan julukan emas. Julukan ini bukan nabi Muhammad
yang membuatnya, tapi kepercayaan masyarakat kepada beliau yang berbeda dengan kehidupan
mereka sendiri, artinya Muhammad secara pribadi tidak jadi masalah bagi mereka,
tapi Muhammad sebagai penyampai wahyu yang mereka tidak mengakuinya.
Untuk menegakkan iman sudah banyak korban berjatuhan di
medan perang, tidak sedikit harta disedekahkan, ayah bercerai dengan anak,
isteri tidak berjumpa dengan suaminya selain nama yang pulang mengabarkan suami
telah syahid dalam berjihad. Tapi mereka bukan semata-mata mati yang tidak
berguna, bahkan inilah kematian yang mahal sekali harganya, ”Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang
yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya
dengan mendapat rezeki” [Ali Imran 3;169].
Mereka masih bertempur menghadapi musuh walaupun kawan
sudah banyak jatuh sebagai syuhada’ sedikitpun tidak gentar malah menambah
keberanian untuk menumpas kebathilan menjunjung tinggi agama Allah, ”Mereka dalam keadaan gembira disebabkan
karunia Allah yang diberikan-Nya kepada
mereka dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang
mereka yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka
dan tidak pula mereka bersedih hati” [Ali Imran 3;170].
Masa itu telah berlalu dibawah komando Rasulullah dan
khulafaur rasyidin, melenyapkan jahiliyyah ke akar-akarnya sehingga tegaklah
kebenaran islam di bumi ini merembes kebelahan dunia sehingga kejayaan islam
diperolehnya, lalu islam satu kekuatan yang diperhitungkan.
Sejarah kejayaan telah lama berlalu sementara ummat masih
tertidur pulas dininabobokkan keberhasilan yang membawa mereka lupa bahwa
lapangan dan pemain telah berganti. Ummat islam bukan lagi sebagai pemenang dan
pemegang keberhasilan tapi sebagai penonton segala bentuk adat jahiliyyah yang
model baru. Kini ummat islam dihadapkan kembali kepada perjuangan berat
sebagaimana yang dialami orang-orang terdahulu, dengan jelas kemaksiatan hadir
didepan mata,kebobrokan akhlak tidak dapat dipungkiri semua itu jiplakan tempo
dulu hanya dibungkus dengan kemasan abad dua puluh, inilah yang disebut dengan
Muhammad Quthb dengan jahiliyyah modern.
Yang dimaksud jahiliyyah adalah segala asfek kehidupan
yang tidak mengacu kepada nilai-nilai islam; sejak dari pakaian, budaya,
ekonomi, pendidikan, politik dan apa saja yang dikerjakan seorang muslim yang
jauh dari nilai-nilai islam, maka itulah jahiliyyah. Ini tanggungjawab ummat
islam seluruhnya sesuai dengan bidang garap yang mereka hadapi minimal keluarga
masing-masing terbina, jangan sampai termakan rayuan kejahatan, karena
jahiliyyah modern cita-citanya melalui keluarga, masyarakat dan bangsa. Ummat islam
selalu dibatasi geraknya, dibelenggu kekuatan dari penguasa kafir, semua mereka
itu bermusuhan tapi bila memerangi ummat islam mereka bersatu walaupun untuk
sesaat, ”Sesungguhnya orang kafir itu,
menafkahkan harta mereka untuk menghalangi orang dari jalan Allah. Mereka akan
menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka dan mereka akan
dikalahkan. Dan kedalam neraka jahanamlah orang-orang yang kafir itu
dikumpulkan”.
Suatu kebudayaan atau tradisi akan tetap lestari bila
generasi yang menyandangnya selalu memberlakukan dan mempertahankan dari
kepunahan, dengan melakukan pemupukan untuk suburnya tradisi tersebut
semaksimal mungkin, tanpa memperhatikan baik dan buruknya tradisi yang telah
diterima, segala yang diwarisi tersebut harus dipertahankan padahal tidak
sedikit warisan itu harus disingkirkan dari peredarannya karena bertentangan
dengan agama serta kemajuan zaman, akan tetapi merombak sebuah tradisi tidaklah
mudah sebagaimana yang digambarkan Allah dalam surat Al Baqarah ayat 70;“Dan apabila dikatakan kepada mereka,
“Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”, mereka menjawab, “Tidak, tetapi
kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari perbuatan nenek moyang
kami”, apakah mereka akan mengikuti juga walaupun nenek moyang mereka itu tidak
mengetahui suatu apapun dan tidak mendapat petunjuk”.
Ada beberapa warisan jahiliyyah yang hingga kini tetap
bersemayam di hati ummat, dengan kemampuan yang ada baik sadar atau tidak,
masih dianut, dilaksanakan dan dipertahankan kelestariannya, seperti halnya
khamar dan judi adalah karakteristik
jahiliyyah yang ditentang Rasululah, namun kini masih tumbuh subur
dengan segala aktivitasnya. Dalam Al Maidah 5;90 Allah berfirman; “Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya
khamar, judi, berkurban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah adalah
perbuatan syaitan, karena itu jauhilah dia, agar kamu mendapat keberuntungan”.
Pada zaman jahiliyyah kebiasaan minum khamar dilakukan di
tempat-tempat umum atau pesta-pesta bahagia, maka tidak jauh bedanya dengan
zaman sekarang; di hari ulang tahun, pesta tahun baru dan lebaran terasa indah
bila koleksi minuman terpampang di rumahnya dengan lengakp, Bir sampai Columbus
serta merek lainnya yang menarik, hari itu bukan sekedar pelebur dosa antara
manusia tetapi hari mabuk-mabukan dengan penumpukan dosa baru.
Khamar bagaimanapun jenisnya sejak dari Bir, Wiski, Brandy, Vodka sampai kepada Jenifer
dengan kadar alkohol dari 1 sampai 70 % tetap haram, sebagaimana sabda
Rasulullah, “Segala sesuatu minuman
bilamana banyak memabukkan maka sedikitpun tetap haram” [Abu Daud dan
Turmuzi].
Ummat islam masih terus meminum khamar, hingga Nabi
Muhammad hijrah dari Mekkah ke Madinah. Ummat islam bertanya-tanya tentang
minum khamar dan tentang judi demi
melihat kejahatan-kejahatan dan kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh kedua
perbuatan itu, oleh karena itulah Allah menurunkan surat Al Baqarah 2;219, ”Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan
judi. Katakanlah pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi
manusia, tetapi dosanya lebih besar dari manfaatnya”.
Maksudnya ialah bahwa melakukan kedua perbuatan itu
mengandung dosa besar, karena didalamnya kemudharatan-kemudharatan serta
kerusakan-kerusakan material dan keagamaan. Kedua hal ini memang mempunyai
manfaat yang bersifat material yaitu keuntungan bagi penjual khamar dan
kemungkinan memperoleh harta benda tanpa susah payah bagi si penjudi. Akan
tetapi dosanya jauh lebih banyak dari pada manfaat-manfaat itu. Lebih besar
dosanya dari pada manfaatnya itulah yang menyebabkan keduanya diharamkan. Hal
ini jugalah yang membuat keduanya lebih cendrung untuk diharamkan walaupun
belum diharamkan secara mutlak.
Setelah ayat diatas turun ayat yang mengharamkan khamar
dalam kaitannya dengan sembahyang terutama bagi mereka yang telah kecanduan
khamar dan telah menjadi bagian dari hidupnya, Allah berfirman dalam An Nisa’
4; 43, ”Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti
apa yang kamu ucapkan”.
Sebab turunnya ayat ini ialah kasus seorang muslim yang
mengerjakan shalat padahal dia sedang mabuk, sehingga yang dibacanya tidak
benar lagi. Kasus ini merupakan pengantar bagi diharamkannya khamar itu secara
final dan setelah ini pulalah Allah mengharamkannya secara tuntas.
Atas dasar itulah manusia diwajibkan menghentikan
perbuatan-perbuatan tersebut. Ayat diatas merupakan ayat terakhir yang
menghukumi minum khamar dengan hukum ”Haram
mutlak”. Dampak negatif dari khamar tidak dapat diragukan lagi, membuat
sipecandu mabuk, tidak tahu diri apalagi di sekitarnya bahkan dapat
mendatangkan maut minimal pingsang bila kadar alkohol dalam darahnya terlalu
banyak sehingga si peminum tidak kuat
lagi.
Ulama-ulama agama mengatakan bahwa khamar itu haram
hukumnya lantara ia merupakan induk segala kejahatan. Ahli kedokteran
mengatakan bahwa khamar bahaya besar yang mengancam manusia yaitu penyakit
paru-paru. Ulama moral mengatakan bahwa agar manusia memiliki sifat-sifat
seperti terpuji, terhormat, berwibawa, mulia dan bersemanga yang tinggi, maka
seharusnya dia menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat menghilangkan
sifat-sifat terpuji itu. Ulam ekonomi mengatakan bahwa setiap sen yang kita
belanjakan untuk kepentingan yang wajar adalah menjadi kekuatan kita dan kekuatan
negara. Sebaliknya setiap sen yang kita
hamburkan untuk hal yang mencelakakan diri kita sendiri merupakan kerugian kia
dan kerugian negara.
Judi biasanya dilakukakan pada zaman jahiliyah seiring
dengan minum khamar di tempat-tempat pesta yang tenggelam dalam kemaksiatan,
namun kini dapat kita saksikan dalam berbagai bentuk, sejak dari yang resmi
sampai yang terlarang, apapun nama dan jenisnya tetap dinamakan judi dan haram
dilakukan.
Dari segi rohani maka judi sangat mempengaruhi jiwa
seseorang sebab tidak adanya keselarasan antara cita-cita dan perbuatan, dengan
khayalan membubung tinggi tanpa kerja keras ingin mendapatkan kekayaan yang
banyak dan mudah, nasib berada pada nomor undian yang dibeli. Judi yang
berlansung sekian hari, minggu dan tahun akhirnya jiwa merana, harta benda
habis. Menurut H. Marzuki Yatim, judi dapat mendatangkan akibat-akibat sebagai
berikut;
- Melalaikan segalanya, bahkan tugas sehari-hari, anak dan isteri
- Banyak musuh.
- Merusak kesehatan.
- Merusak iman.
- Musuh Polisi.
- Merusak keuangan rumah tangga.
Dari sekian warisan jahiliyyah yang masih hidup dan
digandrungi anak-anak remaja dan orang-orang tua ialah khamar dan judi, dari
kampung dengan lapau tuaknya sampai kota besar dengan Barnya. Warisan ini akan
tetap abadi di masyarakat bila segala akivitasnya dilestarikan dengan membuka
kesempatan selebar-lebarnya, sementara kesadaran ummat kepada agama semakin
pudar.
Masyarakat Arab sebelum datangnya agama Islam disebut
dengan masyarakat jahiliyyah artinya masyarakat yang bodoh dalam bidang aqidah,
ibadah yang akhlak.
Adapun watak-watak
jahiliyyah, baik zaman dahulu maupun zaman modern ini adalah;
1.Berdo'a kepada orang shaleh
"Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat
mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan
mereka berkata: "mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi
Allah". Katakanlah: "Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang
tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?" Maha Suci Allah
dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu)."[ Yunus 10;18]
Yang termasuk berdo'a kepada orang shaleh adalah;
-
mengagungkan orang
shaleh dengan berlebihan
-
menganggap orang
shaleh itu dapat menyelamatkan
-
bernazar kepada
orang shaleh lewat kuburan
"Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan
orang-orang Nasrani berkata: "Al masih itu putera Allah". Demikianlah
itu Ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang
kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai
berpaling?[At Taubah 9;30]
2.Menolak kebenaran karena sedikit pengikutnya
Sumual berkata," ''Ia mencela kami lantaran
sedikit jumlah kami, maka akupun menjawab,"bahwa orang yang mulia itu
sedikit jumlahnya".
"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini,
niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah
mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap
Allah).[Al An'am 6;116]
Orang kafir
Quraisy tidak mau mengikuti ajaran Rasulullah karena jumlah orang yang ikut
agama islam sangat sedikit.
3.Menolak kebenaran karena pendukungnya orang lemah
Pengikut Rasulullah
banyak terdiri dari orang-orang yang lemah seperti Bilal bin Rabah, Zaid
bin Haritsah, demikian pula pengikut nabi-nabi sebelumnya;
" Ketika
saudara mereka (Nuh) Berkata kepada mereka: "Mengapa kamu tidak bertakwa?
Sesungguhnya Aku adalah seorang Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, Maka
bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan Aku sekali-kali tidak minta
upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan
semesta alam. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku". Mereka
berkata: "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah
orang-orang yang hina?".[Asy
Syu'ara 26;106-111]
4.Menolak kebenaran karena datang kepada pihak lain
Orang-orang Yahudi dan Nasrani sama-sama menantikan
seorang nabi, mereka berharap bahwa Rasul yang dinantikan itu muncul dari
kalangan mereka, nyatanya Rasul tersebut muncul dari kalangan bangsa Arab, maka
mereka menolak kenabian Muhammad Saw; ''Dan orang-orang kafir Berkata kepada
orang-orang yang beriman: "Kalau sekiranya di (Al Quran) adalah suatu yang
baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya. dan Karena
mereka tidak mendapat petunjuk dengannya Maka mereka akan berkata: "Ini
adalah dusta yang lama".[Al Ahqaf 46;11]
Bila mereka
diajak untuk masuk ke agama Islam maka mereka akan membantah dan bertahan dalam
kekafirannya;"Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah
kepada Al Quran yang diturunkan Allah," mereka berkata: "Kami Hanya
beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami". dan mereka kafir kepada
Al Quran yang diturunkan sesudahnya, sedang Al Quran itu adalah (Kitab) yang
hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: "Mengapa kamu
dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?[Al
Baqarah 2;91]
5.Mencaci- maki masa
Rasulullah bersabda; "Janganlah kamu mencaci-maki
masa, karena Allah telah berfirman,"Aku adalah pengatur hari siang dan
malam, Aku perbaharui dia dan Aku rusakkan pula dan Aku datangkan raja-raja
setelah penguasa yang lain".
Waktu atau masa selalu
dipergilirkan Allah, demikian pula kekuasaan akan digilirkan kepada yang berhak
menerimanya; "Katakanlah: "Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan,
Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut
kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau
kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah
segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu"[Ali
Imran 3;26]
6.Menyandarkan nikmat Allah kepada yang lain
Allah memberikan nikmat kepada manusia tidak terhitung
jumlahnya, diantaranya; "Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu
dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran,
penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur' [An Nahl 16;78] "Mereka
mengetahui nikmat Allah, Kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka
adalah orang-orang yang kafir" [An Nahl 16;83]
Pada masa Nabi Saw pernah pada suatu pagi diturunkan hujan oleh Allah, lalu
Rasulullah bersabda; "Pagi ini ada orang yang syukur dan ada pula yang
kufur, yang bersyukur berkata,"Ini adalah rahmat dari Allah", yang
kufur berkata,"Sungguh tepat bintang ini dan bintang itu".
7.Membanggakan keturunan nabi
Para ahli kitab merasa bangga dan mulia dari orang Arab,
sebab mereka keturunan para Nabi dan menerima kitab Taurat, Zabur dan Injil,
Rasulullah bersabda;"Hai sekalian orang Quraisy, sesungguhnya orang
yang paling dekat kepada Nabi ialah
orang yang bertaqwa".
Rasulullah tidak dapat
menyelamatkan orang lain, karena berdasarkan keturunan, sabdanya; "Wahai
Fatimah binti Muhammad, aku tidak dapat menyelamatkan engkau sedikitpun juga
dari siksa Allah".
Allah berfirman dalam
surat Al Hujurat 49;13 "Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu
dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa -
bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya
orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling
taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha
Mengenal"
Pepatah Arab
mengatakan; "Jadilah engkau orang yang terhormat bukan
karena keturunan dan janganlah engkau menjadi orang yang Cuma membanggakan
keturunan""Sesungguhnya pemuda itu adalah orang berkata,"Inilah
aku". Bukannya pemuda itu orang yang berkata,"Begitulah ayahku dahulu".
Allah berfirman
dalam surat Al Baqarah 2;134
"Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang Telah diusahakannya dan
bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan
jawab tentang apa yang Telah mereka kerjakan" [Al Baqarah 2;134]
Dengan
mengetahui karakter jahiliyyah itu mengajak kita untuk menyelamatkan masyarakat
dari sifat dan sikap jahiliyyah dan juga
agar kita tidak berperangai sebagaimana orang-orang jahiliyyah.
Dengan kemampuan dan keteguhan
hati, serta dukungan dari Allah, maka nabi Muhammad Saw, berhasil meruntuhkan
sendi-sendi jahiliyyah kemudian merubahnya dengan pilar-pilar ajaran islam.
Tetapi sebuah peringatan nabi Muhammad kepada ummat islam sesungguhnya ummat
islam akan diliputi oleh sifat-sifat jahiliyyah, bila tidak waspada menyeleksi
segala perbuatannya.
Meskipun seseorang hidup dalam alam modern
dengan tekhnologi serba canggih, bila sifat-sifat jahiliyah masih terdapat,
maka dia tetap merupakan bagian ummat yang jahiliyah, sesuai dengan pendapat
Muhammad Qutb dengan istilah ”Jahiliyyah
Modern”.
Kata ”jahiliyyah”
pada umumnya diartikan ”bodoh” tetapi
yang dimaksud dengan jahiliyyah Arab pada masa dahulu yaitu bodoh dalam hal ”
ibadah dan aqidah” serta mereka tidak mempunyai tata aturan yang manusiawi.
Karena yang kaya menginjak yang miskin, yang berkuasa menjatuhkan yang lain,
hutang darah dibayar dengan darah, antara satu sama lain tidak ada rasa
tenggang menenggang. Bila semua sifat inipun telah merajalela, berarti tepat
apa yang dikatakan oleh Muhammad Qutb .
Untuk
menegakkan izzatul islam wal muslimin di Afghanistan, Bosnia, Chechnya, Dagestan,
Moro, Pattani, Khasmir, Ambon dan Aceh sudah
banyak korban dan dana ummat islam dikeluarkan agar kejayaan islam dan
ummatnya dapat diperoleh, tapi orang kafirpun tidak sedikit pula mengeluarkan
biaya untuk menghalangi dan menghancurkan rencana ummat islam, mereka takut
kalau kemerdekaan dicapai oleh ummat atau islam dan ummatnya memperoleh
kejayaan.
Walau dimanapun juga berada ummat islam bila prilaku
jahiliyyah mulai beraksi berarti perang pasti dimulai sebagaimana sejarah
menuntun mereka untuk merambah habis jahiliyyah dengan segala daya dan upaya
sebagai ciri ummat terbaik yang dilukiskan Allah yatiu menegakkan kebenaran
dengan kekuatan iman, bahkan konsep hijrah secara maknawi juga ”meninggalkan segala bentuk jahiliyyah
menuju kehidupan yang islami”.
Orang yang telah tershibghah [tercelup] oleh nilai-nilai
islam bagi mereka tidak ada yang lebih penting dari tegaknya dienul islam itu
di dunia ini walaupun diawali dari pribadi dan rumah tangga, sehingga benarlah
kata seorang ulama bernama Musthafa Mashur, ”Tegakkan
islam didirimu maka dia akan tegak di negaramu”, wallahu a’lam . [Cubadak
Solok, 16 Ramadhan 1431.H/ 26 Agustus 2010].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar