Untuk menyatakan
beriman kepada Allah sangat mudah sekali bahkan bagi orang munafiq hal itu
sudah menjadi kebiasaan mereka, sedikit sekali orang yang mampu istiqomah dalam
keimanan karena banyaknya virus bertebaran menodai iman sehingga ada yang
beriman hanya sebatas diyakini di hati saja, inilah keimanannya Fir’aun dan
Iblis yang hanya mengakui kebenaran Allah dan risalah-Nya sebatas di sanubari
tapi enggan mengucapkan melalui lisan dan tidak sanggup mengaplikasikan dalam
amal perbuatan, wajar kalau keduanya penyeret orang kepada kesesatan.
Ada pula yang beriman sebatas lisan saja lalu menolak
keimanan melalui hati atau amal perbuatan, inilah keimanan orang-orang munafiq
yang terlalu panjang Allah menceritakan kriteria mereka dalam Al Qur’an surat
Al Baqarah 2;8-12“Di
antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari
kemudian" pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.
Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya
menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada
penyaki, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih,
disebabkan mereka berdusta. Dan bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah
kamu membuat kerusakan di muka bumi". Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan
perbaikan."
Itulah sebagian watak munafiq yang digambarkan Allah,
pengakuan iman mereka hanya sebatas hiasan bibir dengan maksud untuk menipu
Allah dan orang-orang yang beriman disebabkan di hati mereka terdapat penyakit
yaitu penyakit hati, yang mengingkari kebenaran agama yang diwahyukan Allah.
Dengan kondisi demikian, bukannya Allah mengobati penyakit hati mereka tapi
malah ditambah dengan penyakit lainnya agar kemunafiqkan mereka semakin
menjadi-jadi dan militan sehingga kerusakan yang mereka lakukan seolah-olah
sebuah kebaikan, semua itu dalam rangka menjerumuskan mereka ke jurang nifaq
yang semakin dalam,akhirnya mempermudah mereka untuk menerima azab Allah,
mereka disebut juga dengan orang yang bermuka dan berlidah dua, ibarat musang
berbulu ayam, menggunting dalam lipatan menohok teman seiring sebagaimana
firman Allah dalam surat Al Baqarah 2;14 ”Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka
mengatakan: "Kami telah beriman". Dan bila mereka kembali kepada
syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian
dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok."
Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda,”Kami jumpai manusia itu seperti logam, sebaik-baik mereka dimasa jahiliyah itu pula yang baik di masa islam jika mereka telah memahami islam. Dan kamu jumpai sebaik-baik manusia dalam hal ini, adalah mereka yang semula membenci islam lalu cinta dan mempertahankannya. Dan kamu jumpai sejahat-jahat manusia adalah yang bermuka dua, yang datang kesini dengan satu muka, dan kesana dengan muka yang lain”[HR.Bukhari dan Muslim]
Manusia bagaikan logam karena mempunyai asal-usul
sendiri-sendiri sebagai suatu kebanggaan
masing-masing. Adapun manusia yang baik dari mereka adalah yang lebih dahulu
memahami islam dii masa jahiliyah, lalu semula dai sangat benci islam, kemudian
setelah benar-benar faham terhadap islam ia sangat mencintainya, membela,
memperjuangkan dan mempertahannya. Sedangkan manusia terjelek adalah yang
bermuka dua, watak bunglon, ini yang disebut dengan munafiq, pada suatu tempat
dia mengatakan ”Iya” dilain kesempatan dia menidakkan, kepalanya mengangguk
namun hatinyanya menggeleng, watak ini bertentangan dengan akhlaqul karimah
seorang muslim sejati dan memang tidak akan didapati pribadi demikian pada
orang yang memahami dan mengamalkan islam dengan baik” [An Nawawi, 606].
Terkecuali apabila seseorang itu harus menghadapi ujian,
sehingga terpaksa menjaga perasaan salah satu pihak dalam ucapan-ucapan yang
dikeluarkannya dan ia takut jikalau tidak berbuat yang sedemikian. Orang
seperti ini dapatlah diterima keuzurannya, sebab menjaga suatu keburukan yang
mungkin timbul itu dibolehkan dalam agama. Abu Darda’ berkata,”Adakalanya kita
harus bermuka manis menghadapi sesuatu golongan tapi sebenarnya hati kita
sangat melaknat mereka itu”.
Pernah terjadi bahwa pada suatu ketika ada seorang lelaki
meminta izin untuk menghadap Rasulullah Saw, lalu beliau mengizinkan sambil
mengucapkan bahwa orang itu sebenarnya adalah yang amat buruk dikalangan
masyarakat. Anehnya setelah orang itu masuk di tempat beliau, tiba-tiba beliau
bukannya menunjukkan kebenciannya, tetapi bahkan berlemah-lembut diwaktu
bercakap-cakap dengan orang tadi. Setelah orang itu keluar, Aisyah
bertanya,”Bukankah tadi tuan mengatakan bahwa ia orang buruk, tapi tuan bermanis-manis
saja waktu berbicara dengannya”, Rasulullah lalu bersabda,”Hai Aisyah,
sesungguhnya seburuk-buruk manusia ialah orang yang dimuliakan karena ditakuti
perbuatan buruknya”.
Namun demikian perlulah disadari bahwa yang dibolehkan
itu hanya menemuinya dengan bermuka manis, bersikap ramah tamah dan penuh
senyuman. Jadi tidaklah berarti dibolehkannya memberikan kata-kata pujian atau
membenarkan ucapan-ucapannya, atau menggerak-gerakkan kepala sebagai tanda
menyetujui pada pembicaraannya yang bathil. Hal-hal semacam ini termasuk pula
dalam kemunafikan. Bahkan jikalau sampai terjadi yang semacam itu, maka
wajiblah mengingkarinya dengan sanggahan-sanggahan seperlunya dan sekiranya
tidak kuasa demikian, baiklah berdiam diri saja dan mengingkari dengan hatinya.
Ringkasnya dalam keadaan darurat segala sesuatu
yang merupakan keadaan terpaksa, maka hukumnya juga berlainan menilik
keadaannya [Al Gaqazali, 596].
Dizaman Rasulullah kita mengenal tokoh munafiq bernama
Abdullah bin Ubay yang memusuhi islam secara diam-diam, strategi busuk mereka
lancarkan jurus-jurus jitunya untuk merongrong kewibawaan islam dan ummatnya,
walaupun ketika itu mereka masih bersama Rasulullah tidak jadi penghalang
bahkan nada-nada konfrontasi dan provokasi berani mereka hujatkan, beberapa
kasus telah membuktikan seperti mereka enggan untuk mengikuti perang Thabuk dan
menolak kepemimpinan Usamah bin Zaid sebagai komandan perang yang telah
diamanatkan oleh Rasulullah, inilah watak munafiq tersebut yang digambarkan Allah dalam surat
At Taubah 9;67”Orang-orang
munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah
sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma'ruf dan
mereka menggenggamkan tangannya[648]. Mereka telah lupa
kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu
adalah orang-orang yang fasik.”
Bahkan sampai mereka membuat masjid tandingan untuk
menghimpun kekuatan dan mempengaruhi ummat islam, untuk peresmian masjid ini
secara pribadi Abdullah bin Ubay mengundang Rasulullah, dengan tegas Allah
menyampaikan pelarangannya dalam surat At Taubah 9;107-108
”Dan (di
antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk
menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk
memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang
yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu[660].
Mereka Sesungguhnya bersumpah: "Kami tidak menghendaki selain
kebaikan." Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah
pendusta (dalam sumpahnya).
Janganlah
kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguh- nya mesjid yang
didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut
kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin
membersihkan diri. Dan
sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih”.
Nifaq adalah salah satu bentuk kekafiran yang tidak
transparan, lain halnya kufur, dengan
berani menampakkan kekafirannya melalui ucapan dan tindakan. Mereka adalah
musuh yang mudah dideteksi dan siap pula ditinggal, sedangkan munafiq adalah
orang islam sendiri yang menyembunyikan kekafirannya melalui berbagai topeng,
sampai topeng ibadah dan pembangunan masjid, semua itu untuk mengelabui Allah
dan ummat islam lainnya, padahal semua itu berarti menipu diri mereka
sendiri[Al Baqarah 2;9].”Mereka
hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu
dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.”
Lebih jauh Allah mengatakan bahwa mereka itu adalah
orang-orang yang siap memasukkan dirinya ke dalam neraka dengan penuh
perhitungan,merekalah yang membeli kesesatan dengan petunjuk, sementara orang
kafir sendiri sedang mencari hidayah atau petunjuk untuk meninggalkan
kekafirannya melalui pengkajian dan perenungan terhadap kebenaran Islam.
Mereka yang munafiqituadalah orang-orang yang
memperlihatkan Islam
lahiriyah.Padahalmerekamenyembunyikankekafirandalamhatinya.Merekaterdapat di
setiapkampung, kota, agama,masa, danzamandantempat. Semoga Allah
menyelamatkandirikitadaripenyakitini.
Penyakitmunafiqinibilatelahmenguasaikalbuseseorangmemunyaipertanda-pertandasebagaiberikut
:
Pertama, yang
bersangkutanengganshalatberjama'ah.Jikaiashalat,
iamengerjakannyakarenariyadanpamer. Allah Ta'alaberfirman :
"Merekabermaksudriya' (denganshalat) dihadapanmanusia".
(QS : An-Nisa' : 142)
Kedua,
merekajarangmengingataAllah.Bahkanndialebihbanyakmenigngatsyahwat, makanan,
minuman, teman-teman, orang-orang yang dikasihinya,
dantempat-tempatkenikmatansyahwat, tempattinggal yang indahnyadaripadamengingat
Allah. Allah telahberfirman :
"Dan tidaklahmerekamenyebutnama Allah,
kecualisedikitsekali". (QS : An-Nisaa : 142)
Ketiga, merekamengucapkandenganmulutnyaapa yang
tidakadadidalamhatinya. Olehkarenaitu, merekasukamemuji Islam, orang-orang
shalih, al-Qur'an, dandzikir.Padahal, Allah mengetahuikebencian yang
terpendamdalamkalbumerekaterhadap Islam, agama, masjid, dan orang-orang yang
berdzikir. Allah Ta'alaberfirman :
"Dan diantaramanusiaada orang yang
ucapannyatentangkehidupanduniamenarikhatimudandipersaksikannyakepadaAlalh
(ataskebenaran) isihatinya.Padahal, iaadalahpenantang yang paling keras. Dan
apabilaiaberpaling (darimukamu), iaberjalan di
bumiuntukmengadakankerusakanpadanyadanmerusaktanaman-tanamandanbinatangternak,
dan Allah tidakmenyukaikebinasaan. Dan apabiladikatakankepadanya :
'Bertaqwalahkepada Allah', bangkitlahkesombongannya yang
menyebabkannyaberbuatdosa. Makacukuplah (balasannya)
nerekajahanamdansungguhnerekajahanamitutempattinggal yang
seburuk-buruknya". (QS : al-Baqarah : 204-206).
Penyakit yang membahayakaninidisebutoleh Allah
Ta'alasebagaipenyakit yang sangatparah, yaitupenyakitmunafiq.
IbnuTamiyahmengatakankepadasalahseorangahliilmumanthiqdarikalangan
orang-orang munafiq : "Bertaubatlahkepada Allah. Perbanyaklahmenyebutnama
Allah". Ahlimunafiqmenjawab : "Akutidakdapat".
IbnuTamiyahbertanya : "Mengapaengkautidakdapatmelakukannya?".
Iamenjawab : "Akumeasakahatikutertutupolehkgelapan yang
bertumpangtindihsatusamalainnya".
Adakalnyapenyakitinibilamenjangkitikalbusebagian
orang, akanmenjaiparahlahiasehingga yang bersangkutanmembencisegalasesutu yang
adakaitannyadengna Islam. Bahkanadasebagaian orang darmereka yang
beranimengejek al-Qur'an.Manakaladitemuiolehseorangulama, iaberkatakepadanya :
"Ceritakanlahkepadakusebagiandari kata-kata yang bijak". Si ulama pun
mengingatkannyadenganbeberapabuahayatdari al-Qur'an, laluiamenjawab :
"Inidari al-Baqarahdan al-Imranmu,
tetapiberikanlahkepadakusebagiandarifilsafat Socrates da Abicrates".
Penyakit in yang bersangkutansejakmulaberpalingdari al-Qur'an.
Memangdikalanganparapemudasamasekarangterdapat
orang yang tidakpenahmembaca al-Qur'an
danHadistsertatidakpernahmenghadirimajelis agama (Islam) ataupengajian,
tetapidiamempunyaibuku-bukureferensimusuh-musuhmanusia, sepertibuku yang
berjudul : "Al InsanLaaYakuunmuWahdahu"
(Manusiatidakdapatberdirisendiri). KaifaTunhiYaumakadanKaifaTusaithiru 'alaa'
Aqlika" (Bagaimanacaraandamenguasaakalanda), dansebagainya.
Orang yang
bersangkutanberadadalamkekuasaanhalusinasinyadankemauanhawanafsunya. Allah
Ta'alaberfirman :
"Barangsiapa yang
berpalingdariperingatan-Ku, makasesungguhnyabaginyapenghiduan yang sempitdan
Kami akanmenghimpunkannyapadahariKiamatdalamkeadaanbuta.Bertakalahia
'YaTuhanku, mengapaEngkaumenghimpunkanakudalamkeadaanbuta,
padahalakudahulunyaseorang yang melihat. 'Allah berfirman :
'Demikianlahtelahdatangkepadamuayat-ayat kami, makakamumelupakannyadanbegitu
pula padahariinipunkamudilupakan". (QS :Thahaa : 124-126)
Allah Ta'alaberfirmanpula :
"Dan apabiladiturunkansuatusurat,
makadiantaramereka (orang-orang munafiq) ada yang berkata 'Siapadiantarakamu
yang bertambahimannyadengan (turunnya) suratini?Adapun orang yang beriman,
makasuratinimenambahimannya, sedangmerekamerasagembira". (QS :
at-Taubah : 124)
Bergembirlahbagi
orang-orang yang mencintai al-Qur'an dan As-Sunnahnya.Karenatidaklahsekalimanusiamakin
lama duduk, mendengar, danmembacanya,melainkanmakinbertambah pula keimannya.
Tidaklah pula sekali-kali orang yang berpalingmakinbertambahparah,
melainkanbertambahkekafiran, kemunafiqan, danlaknatnya.[Aidh Abdullah al-Qarni,BahayanyaPenyakitMunafiq,Eramuslim,Senin,
16/05/2011 06:42 WIB].
Posisi
munafiq dalam tataran ajaran islam sangatlah buruk, lebih buruk dari
kekafiran karena tidak beraninya mereka
membuka kekafirannya, bungkus islam selalu dia pakai untuk ini, sulit untuk
disingkirkan sebagaimana pengkhianatannya yang dilakukan oleh tokoh monumental
Abdullah bin Ubay, sahabat menyarankan agar orang ini diibunuh saja, termasuk
anaknya sendiri bernama Abdullah bin Abdullah bin Ubay telah menawarkan jasa
untuk membunuh bapak kandungnya sendiri, tapi Rasulullah menolak,”Apa kata
orang nanti bahwa Muhammad telah membunuh sahabatnya sendiri”.
Kemunafikan
dari segi ketauhidan tidaklah beda dengan kekafiran karena tidak ada keimanan
dalam hati mereka, imannya hanya sebatas lisan saja, itupun juga untuk mencari
keuntungan dunia saja, bagi munafiq yang belum atau sudah terlanjur bersikap
demikian sebaiknya merubah keimanan menjadi mukmin yang baik, tentu sebelumnya
melakukan taubat atas kesalahan, dosa dan maksiat yang diperbuat.
Sebagaimana Allah SWT
jugamengajakuntukbertaubatdarikekafiran yang zhahirdanterang-terangan, Allah
SWT jugamengajakuntukbertaubatdarikekafiran yang tersembunyi, yang
ditutupidengankeimananlisan.Yaitu yang terkenaldengannama
"kemunafikan" danorangnyaadalahkaum "munafiqin".
Taubatdarikemunafikaniniadalahtidaksekadarmengungkapkandanmemberitahukankeisalamannya.Karenasebelumnyaiamemangtelah
Islam. Namun, yang patutialakukanadalah agar iabersifatdenganempatsifat yang
disebutkandalam surah an-Nisa. Setelah Al Quran membongkarsifataslimereka,
danapa yang tersembunyidalamdirimereka:
yaitumerekamemberikanloyalitasmerekakepadakaumkafirin, bukankaummu'minin,
sertamerekamencarikemuliaandarikaumkafirinitu:
"Kabarkanlahkepada orang-orang
munafikbahwamerekaakanmendapatkansiksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang
mengambil orang-orang kafirmenjaditeman-temanpenolongdenganmeninggalkan
orang-orang mu'min.Apakahmerekamencarikekuatan di samping orang-orang
kafiritu?Makasesungguhnyasemuakekuatankepunyaan Allah."(QS. an-Nisa: 138-139).
Serta
merekaselalumencarikelengahankaummu'minin, danberada di
tengah-tengahantarakaumkaummu'minindankaumkafirinuntukmencarikeuntungan.
"(Yaitu) orang-orang yang
menunggu-nunggu (peristiwa) yang akanterjadipadadirimu (hai orang-orang
mu'min).Makajikaterjadibagimukemenangandari Allah merekaberkata: "Bukankah
kami (turutberperang) besertakamu?" danjika orang-orang
kafirmendapatkeberuntungan (kemenangan) merekaberkata: 'Bukankah kami
turutmemenangkanmu, danmembelakamudari orang-orang mukmin?" maka Allah
akanmemberikeputusan di antarakamu di harikiamatdan Allah sekali-kali
tidakakanmemberijalankepada orang-orang kafiruntukmemusnahkan orang-orang yang
beriman." (QS. an-Nisa: 141).
Jugadaritindakanmerekamempermainkandanmenipu
Allah danRasul-Nya, danmerekamalasmenjalankankewajiban-kewajiban agama
danlalaidariberdzikirkepada Allah SWT:
"Sesungguhnya orang-orang
munafikitumenipu Allah dan Allah akanmembalastipuanmereka.Dan
apabilamerekaberdiriuntukshalatmerekaberdiridenganmalas.Merekabermaksudriya
(denganShalat) di hadapanmanusia.Dan tidaklahmerekamenyebut Allah
kecualisedikitsekali.Merekadalamkeadaanragu-raguantara yang demikian
(imanataukafir): tidakmasukkepadagolonganini (orang-orang beriman) dantidak
(pula) kepadagolonganitu (orang-orang kafir). Barangsiapa yang disesatkanAllah
,makakamusekali-kali tidakakanmendapatjalan (untukmemberipetunjuk)
baginya." (QS. an-Nisa: 142-143).
Setelah Allah SWT membongkarsifat-sifat
orang-orang munafik, namun Allah SWT tidakmenutuppintubagimereka.Namunmalahmembukakanpintutaubatdengansyarat-syaratnya.Sepertifirman
Allah SWT:
"Sesungguhnya orang-orang munafikitu
(ditempatkan) padatingkatan yang paling bawahdarineraka. Dan kamusekali-kali
tidakakanmendapatseorangpenolongpunbagimereka. Kecuali orang-orang yang taubatdanmengadakanperbaikandanberpegangteguhpada
(agama) Allah dantulusikhlas (mengerjakan) agama merekakarena
Allah.Makamerekaituadalahbersama-sama orang berimandankelak Allah
akanmemberikankepada orang-orang yang berimanpahala yang besar."( QS. An-Nisa: 145-146.)
Di
antaratanda-tandasempurnanyataubatmerekaadalahmerekamemperbaikiapa yang
dirusakolehsifatmunafikmereka. Serta agar merekahanyaberpegangpadaAllah SWT
sajabukankepadamanusia.Dan denganikhlasberibadahkepada Allah SWT, hingga Allah
SWT mengikhlaskanmerekauntuk agama-Nya.Denganitu, merekabergabungkedalambarisankaummu'minin
yang jujur.[TaubatdariKemunafikan,sumber internet].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar