Selasa, 24 November 2015

19. Andai Aku Tahu Nifaq Itu Berdosa



Untuk menyatakan beriman kepada Allah sangat mudah sekali bahkan bagi orang munafiq hal itu sudah menjadi kebiasaan mereka, sedikit sekali orang yang mampu istiqomah dalam keimanan karena banyaknya virus bertebaran menodai iman sehingga ada yang beriman hanya sebatas diyakini di hati saja, inilah keimanannya Fir’aun dan Iblis yang hanya mengakui kebenaran Allah dan risalah-Nya sebatas di sanubari tapi enggan mengucapkan melalui lisan dan tidak sanggup mengaplikasikan dalam amal perbuatan, wajar kalau keduanya penyeret orang kepada kesesatan.

            Ada pula yang beriman sebatas lisan saja lalu menolak keimanan melalui hati atau amal perbuatan, inilah keimanan orang-orang munafiq yang terlalu panjang Allah menceritakan kriteria mereka dalam Al Qur’an surat Al Baqarah 2;8-12“Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian" pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyaki, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. Dan bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi". Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan."

            Itulah sebagian watak munafiq yang digambarkan Allah, pengakuan iman mereka hanya sebatas hiasan bibir dengan maksud untuk menipu Allah dan orang-orang yang beriman disebabkan di hati mereka terdapat penyakit yaitu penyakit hati, yang mengingkari kebenaran agama yang diwahyukan Allah. Dengan kondisi demikian, bukannya Allah mengobati penyakit hati mereka tapi malah ditambah dengan penyakit lainnya agar kemunafiqkan mereka semakin menjadi-jadi dan militan sehingga kerusakan yang mereka lakukan seolah-olah sebuah kebaikan, semua itu dalam rangka menjerumuskan mereka ke jurang nifaq yang semakin dalam,akhirnya mempermudah mereka untuk menerima azab Allah, mereka disebut juga dengan orang yang bermuka dan berlidah dua, ibarat musang berbulu ayam, menggunting dalam lipatan menohok teman seiring sebagaimana firman Allah dalam surat Al Baqarah 2;14 ”Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami telah beriman". Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok."

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda,”Kami jumpai manusia itu seperti logam, sebaik-baik mereka dimasa jahiliyah itu pula yang baik di masa islam jika mereka telah memahami islam. Dan kamu jumpai sebaik-baik manusia dalam hal ini, adalah mereka yang semula membenci islam lalu cinta dan mempertahankannya. Dan kamu jumpai sejahat-jahat manusia adalah yang bermuka dua, yang datang kesini dengan satu muka, dan kesana dengan muka yang lain”[HR.Bukhari dan Muslim]

            Manusia bagaikan logam karena mempunyai asal-usul sendiri-sendiri sebagai  suatu kebanggaan masing-masing. Adapun manusia yang baik dari mereka adalah yang lebih dahulu memahami islam dii masa jahiliyah, lalu semula dai sangat benci islam, kemudian setelah benar-benar faham terhadap islam ia sangat mencintainya, membela, memperjuangkan dan mempertahannya. Sedangkan manusia terjelek adalah yang bermuka dua, watak bunglon, ini yang disebut dengan munafiq, pada suatu tempat dia mengatakan ”Iya” dilain kesempatan dia menidakkan, kepalanya mengangguk namun hatinyanya menggeleng, watak ini bertentangan dengan akhlaqul karimah seorang muslim sejati dan memang tidak akan didapati pribadi demikian pada orang yang memahami dan mengamalkan islam dengan baik” [An Nawawi, 606].

            Terkecuali apabila seseorang itu harus menghadapi ujian, sehingga terpaksa menjaga perasaan salah satu pihak dalam ucapan-ucapan yang dikeluarkannya dan ia takut jikalau tidak berbuat yang sedemikian. Orang seperti ini dapatlah diterima keuzurannya, sebab menjaga suatu keburukan yang mungkin timbul itu dibolehkan dalam agama. Abu Darda’ berkata,”Adakalanya kita harus bermuka manis menghadapi sesuatu golongan tapi sebenarnya hati kita sangat melaknat mereka itu”.

            Pernah terjadi bahwa pada suatu ketika ada seorang lelaki meminta izin untuk menghadap Rasulullah Saw, lalu beliau mengizinkan sambil mengucapkan bahwa orang itu sebenarnya adalah yang amat buruk dikalangan masyarakat. Anehnya setelah orang itu masuk di tempat beliau, tiba-tiba beliau bukannya menunjukkan kebenciannya, tetapi bahkan berlemah-lembut diwaktu bercakap-cakap dengan orang tadi. Setelah orang itu keluar, Aisyah bertanya,”Bukankah tadi tuan mengatakan bahwa ia orang buruk, tapi tuan bermanis-manis saja waktu berbicara dengannya”, Rasulullah lalu bersabda,”Hai Aisyah, sesungguhnya seburuk-buruk manusia ialah orang yang dimuliakan karena ditakuti perbuatan buruknya”.

            Namun demikian perlulah disadari bahwa yang dibolehkan itu hanya menemuinya dengan bermuka manis, bersikap ramah tamah dan penuh senyuman. Jadi tidaklah berarti dibolehkannya memberikan kata-kata pujian atau membenarkan ucapan-ucapannya, atau menggerak-gerakkan kepala sebagai tanda menyetujui pada pembicaraannya yang bathil. Hal-hal semacam ini termasuk pula dalam kemunafikan. Bahkan jikalau sampai terjadi yang semacam itu, maka wajiblah mengingkarinya dengan sanggahan-sanggahan seperlunya dan sekiranya tidak kuasa demikian, baiklah berdiam diri saja dan mengingkari dengan hatinya. Ringkasnya dalam keadaan darurat segala sesuatu  yang merupakan keadaan terpaksa, maka hukumnya juga berlainan menilik keadaannya [Al Gaqazali, 596].

            Dizaman Rasulullah kita mengenal tokoh munafiq bernama Abdullah bin Ubay yang memusuhi islam secara diam-diam, strategi busuk mereka lancarkan jurus-jurus jitunya untuk merongrong kewibawaan islam dan ummatnya, walaupun ketika itu mereka masih bersama Rasulullah tidak jadi penghalang bahkan nada-nada konfrontasi dan provokasi berani mereka hujatkan, beberapa kasus telah membuktikan seperti mereka enggan untuk mengikuti perang Thabuk dan menolak kepemimpinan Usamah bin Zaid sebagai komandan perang yang telah diamanatkan oleh Rasulullah, inilah watak munafiq  tersebut yang digambarkan Allah dalam surat At Taubah 9;67”Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma'ruf dan mereka menggenggamkan tangannya[648]. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.”

            Bahkan sampai mereka membuat masjid tandingan untuk menghimpun kekuatan dan mempengaruhi ummat islam, untuk peresmian masjid ini secara pribadi Abdullah bin Ubay mengundang Rasulullah, dengan tegas Allah menyampaikan pelarangannya dalam surat At Taubah 9;107-108
            ”Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu[660]. Mereka Sesungguhnya bersumpah: "Kami tidak menghendaki selain kebaikan." Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).
            Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguh- nya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih”.

            Nifaq adalah salah satu bentuk kekafiran yang tidak transparan, lain  halnya kufur, dengan berani menampakkan kekafirannya melalui ucapan dan tindakan. Mereka adalah musuh yang mudah dideteksi dan siap pula ditinggal, sedangkan munafiq adalah orang islam sendiri yang menyembunyikan kekafirannya melalui berbagai topeng, sampai topeng ibadah dan pembangunan masjid, semua itu untuk mengelabui Allah dan ummat islam lainnya, padahal semua itu berarti menipu diri mereka sendiri[Al Baqarah 2;9].”Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.”

            Lebih jauh Allah mengatakan bahwa mereka itu adalah orang-orang yang siap memasukkan dirinya ke dalam neraka dengan penuh perhitungan,merekalah yang membeli kesesatan dengan petunjuk, sementara orang kafir sendiri sedang mencari hidayah atau petunjuk untuk meninggalkan kekafirannya melalui pengkajian dan perenungan terhadap kebenaran Islam.

Mereka yang munafiqituadalah orang-orang yang memperlihatkan Islam lahiriyah.Padahalmerekamenyembunyikankekafirandalamhatinya.Merekaterdapat di setiapkampung, kota, agama,masa, danzamandantempat. Semoga Allah menyelamatkandirikitadaripenyakitini.
Penyakitmunafiqinibilatelahmenguasaikalbuseseorangmemunyaipertanda-pertandasebagaiberikut :
Pertama, yang bersangkutanengganshalatberjama'ah.Jikaiashalat, iamengerjakannyakarenariyadanpamer. Allah Ta'alaberfirman :
"Merekabermaksudriya' (denganshalat) dihadapanmanusia". (QS : An-Nisa' : 142)
Kedua, merekajarangmengingataAllah.Bahkanndialebihbanyakmenigngatsyahwat, makanan, minuman, teman-teman, orang-orang yang dikasihinya, dantempat-tempatkenikmatansyahwat, tempattinggal yang indahnyadaripadamengingat Allah. Allah telahberfirman :
"Dan tidaklahmerekamenyebutnama Allah, kecualisedikitsekali". (QS : An-Nisaa : 142)
Ketiga, merekamengucapkandenganmulutnyaapa yang tidakadadidalamhatinya. Olehkarenaitu, merekasukamemuji Islam, orang-orang shalih, al-Qur'an, dandzikir.Padahal, Allah mengetahuikebencian yang terpendamdalamkalbumerekaterhadap Islam, agama, masjid, dan orang-orang yang berdzikir. Allah Ta'alaberfirman :
"Dan diantaramanusiaada orang yang ucapannyatentangkehidupanduniamenarikhatimudandipersaksikannyakepadaAlalh (ataskebenaran) isihatinya.Padahal, iaadalahpenantang yang paling keras. Dan apabilaiaberpaling (darimukamu), iaberjalan di bumiuntukmengadakankerusakanpadanyadanmerusaktanaman-tanamandanbinatangternak, dan Allah tidakmenyukaikebinasaan. Dan apabiladikatakankepadanya : 'Bertaqwalahkepada Allah', bangkitlahkesombongannya yang menyebabkannyaberbuatdosa. Makacukuplah (balasannya) nerekajahanamdansungguhnerekajahanamitutempattinggal yang seburuk-buruknya". (QS : al-Baqarah : 204-206).

Penyakit yang membahayakaninidisebutoleh Allah Ta'alasebagaipenyakit yang sangatparah, yaitupenyakitmunafiq.
IbnuTamiyahmengatakankepadasalahseorangahliilmumanthiqdarikalangan orang-orang munafiq : "Bertaubatlahkepada Allah. Perbanyaklahmenyebutnama Allah". Ahlimunafiqmenjawab : "Akutidakdapat". IbnuTamiyahbertanya : "Mengapaengkautidakdapatmelakukannya?". Iamenjawab : "Akumeasakahatikutertutupolehkgelapan yang bertumpangtindihsatusamalainnya".

Adakalnyapenyakitinibilamenjangkitikalbusebagian orang, akanmenjaiparahlahiasehingga yang bersangkutanmembencisegalasesutu yang adakaitannyadengna Islam. Bahkanadasebagaian orang darmereka yang beranimengejek al-Qur'an.Manakaladitemuiolehseorangulama, iaberkatakepadanya : "Ceritakanlahkepadakusebagiandari kata-kata yang bijak". Si ulama pun mengingatkannyadenganbeberapabuahayatdari al-Qur'an, laluiamenjawab : "Inidari al-Baqarahdan al-Imranmu, tetapiberikanlahkepadakusebagiandarifilsafat Socrates da Abicrates". Penyakit in yang bersangkutansejakmulaberpalingdari al-Qur'an.
Memangdikalanganparapemudasamasekarangterdapat orang yang tidakpenahmembaca al-Qur'an danHadistsertatidakpernahmenghadirimajelis agama (Islam) ataupengajian, tetapidiamempunyaibuku-bukureferensimusuh-musuhmanusia, sepertibuku yang berjudul : "Al InsanLaaYakuunmuWahdahu" (Manusiatidakdapatberdirisendiri). KaifaTunhiYaumakadanKaifaTusaithiru 'alaa' Aqlika" (Bagaimanacaraandamenguasaakalanda), dansebagainya.

Orang yang bersangkutanberadadalamkekuasaanhalusinasinyadankemauanhawanafsunya. Allah Ta'alaberfirman :
"Barangsiapa yang berpalingdariperingatan-Ku, makasesungguhnyabaginyapenghiduan yang sempitdan Kami akanmenghimpunkannyapadahariKiamatdalamkeadaanbuta.Bertakalahia 'YaTuhanku, mengapaEngkaumenghimpunkanakudalamkeadaanbuta, padahalakudahulunyaseorang yang melihat. 'Allah berfirman : 'Demikianlahtelahdatangkepadamuayat-ayat kami, makakamumelupakannyadanbegitu pula padahariinipunkamudilupakan". (QS :Thahaa : 124-126)

Allah Ta'alaberfirmanpula :
"Dan apabiladiturunkansuatusurat, makadiantaramereka (orang-orang munafiq) ada yang berkata 'Siapadiantarakamu yang bertambahimannyadengan (turunnya) suratini?Adapun orang yang beriman, makasuratinimenambahimannya, sedangmerekamerasagembira". (QS : at-Taubah : 124)
Bergembirlahbagi orang-orang yang mencintai al-Qur'an dan As-Sunnahnya.Karenatidaklahsekalimanusiamakin lama duduk, mendengar, danmembacanya,melainkanmakinbertambah pula keimannya. Tidaklah pula sekali-kali orang yang berpalingmakinbertambahparah, melainkanbertambahkekafiran, kemunafiqan, danlaknatnya.[Aidh Abdullah al-Qarni,BahayanyaPenyakitMunafiq,Eramuslim,Senin, 16/05/2011 06:42 WIB].
           
Posisi munafiq dalam tataran ajaran islam sangatlah buruk, lebih buruk dari kekafiran  karena tidak beraninya mereka membuka kekafirannya, bungkus islam selalu dia pakai untuk ini, sulit untuk disingkirkan sebagaimana pengkhianatannya yang dilakukan oleh tokoh monumental Abdullah bin Ubay, sahabat menyarankan agar orang ini diibunuh saja, termasuk anaknya sendiri bernama Abdullah bin Abdullah bin Ubay telah menawarkan jasa untuk membunuh bapak kandungnya sendiri, tapi Rasulullah menolak,”Apa kata orang nanti bahwa Muhammad telah membunuh sahabatnya sendiri”.

Kemunafikan dari segi ketauhidan tidaklah beda dengan kekafiran karena tidak ada keimanan dalam hati mereka, imannya hanya sebatas lisan saja, itupun juga untuk mencari keuntungan dunia saja, bagi munafiq yang belum atau sudah terlanjur bersikap demikian sebaiknya merubah keimanan menjadi mukmin yang baik, tentu sebelumnya melakukan taubat atas kesalahan, dosa dan maksiat yang diperbuat.

Sebagaimana Allah SWT jugamengajakuntukbertaubatdarikekafiran yang zhahirdanterang-terangan, Allah SWT jugamengajakuntukbertaubatdarikekafiran yang tersembunyi, yang ditutupidengankeimananlisan.Yaitu yang terkenaldengannama "kemunafikan" danorangnyaadalahkaum "munafiqin".
Taubatdarikemunafikaniniadalahtidaksekadarmengungkapkandanmemberitahukankeisalamannya.Karenasebelumnyaiamemangtelah Islam. Namun, yang patutialakukanadalah agar iabersifatdenganempatsifat yang disebutkandalam surah an-Nisa. Setelah Al Quran membongkarsifataslimereka, danapa yang tersembunyidalamdirimereka: yaitumerekamemberikanloyalitasmerekakepadakaumkafirin, bukankaummu'minin, sertamerekamencarikemuliaandarikaumkafirinitu:
"Kabarkanlahkepada orang-orang munafikbahwamerekaakanmendapatkansiksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafirmenjaditeman-temanpenolongdenganmeninggalkan orang-orang mu'min.Apakahmerekamencarikekuatan di samping orang-orang kafiritu?Makasesungguhnyasemuakekuatankepunyaan Allah."(QS. an-Nisa: 138-139).

Serta merekaselalumencarikelengahankaummu'minin, danberada di tengah-tengahantarakaumkaummu'minindankaumkafirinuntukmencarikeuntungan.
"(Yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akanterjadipadadirimu (hai orang-orang mu'min).Makajikaterjadibagimukemenangandari Allah merekaberkata: "Bukankah kami (turutberperang) besertakamu?" danjika orang-orang kafirmendapatkeberuntungan (kemenangan) merekaberkata: 'Bukankah kami turutmemenangkanmu, danmembelakamudari orang-orang mukmin?" maka Allah akanmemberikeputusan di antarakamu di harikiamatdan Allah sekali-kali tidakakanmemberijalankepada orang-orang kafiruntukmemusnahkan orang-orang yang beriman." (QS. an-Nisa: 141).

Jugadaritindakanmerekamempermainkandanmenipu Allah danRasul-Nya, danmerekamalasmenjalankankewajiban-kewajiban agama danlalaidariberdzikirkepada Allah SWT:
"Sesungguhnya orang-orang munafikitumenipu Allah dan Allah akanmembalastipuanmereka.Dan apabilamerekaberdiriuntukshalatmerekaberdiridenganmalas.Merekabermaksudriya (denganShalat) di hadapanmanusia.Dan tidaklahmerekamenyebut Allah kecualisedikitsekali.Merekadalamkeadaanragu-raguantara yang demikian (imanataukafir): tidakmasukkepadagolonganini (orang-orang beriman) dantidak (pula) kepadagolonganitu (orang-orang kafir). Barangsiapa yang disesatkanAllah ,makakamusekali-kali tidakakanmendapatjalan (untukmemberipetunjuk) baginya." (QS. an-Nisa: 142-143).

Setelah Allah SWT membongkarsifat-sifat orang-orang munafik, namun Allah SWT tidakmenutuppintubagimereka.Namunmalahmembukakanpintutaubatdengansyarat-syaratnya.Sepertifirman Allah SWT:
"Sesungguhnya orang-orang munafikitu (ditempatkan) padatingkatan yang paling bawahdarineraka. Dan kamusekali-kali tidakakanmendapatseorangpenolongpunbagimereka. Kecuali orang-orang yang taubatdanmengadakanperbaikandanberpegangteguhpada (agama) Allah dantulusikhlas (mengerjakan) agama merekakarena Allah.Makamerekaituadalahbersama-sama orang berimandankelak Allah akanmemberikankepada orang-orang yang berimanpahala yang besar."( QS. An-Nisa: 145-146.)

Di antaratanda-tandasempurnanyataubatmerekaadalahmerekamemperbaikiapa yang dirusakolehsifatmunafikmereka. Serta agar merekahanyaberpegangpadaAllah SWT sajabukankepadamanusia.Dan denganikhlasberibadahkepada Allah SWT, hingga Allah SWT mengikhlaskanmerekauntuk agama-Nya.Denganitu, merekabergabungkedalambarisankaummu'minin yang jujur.[TaubatdariKemunafikan,sumber internet].

Untuk tegaknya izzatul islam [kejayaan islam] di bumi ini memang tidak mudah selama kita masih memelihara orang-orang munafiq berjuang bersama kita, susun barisan ummat ini agar solid, singkirkan sifat-sifat nifaq pada kita dan jauhkan tokoh munafiq dalam perjuangan ini, bila kejayaan memang kita harapkan, bila tidak demikian jangan diharapkan akan tegak kejayaan islam, daulah islamiyah dengan satu khilafah hanya sebatas utopia. Anda seorang munafiq ? jangan sembunyikan kekafiran anda di balik topeng agama islam, masuklah ke dalam islam keseluruhan menjadi mukmin sejati atau tinggalkan islam seluruhnya jadi seorang kafir yang militan. wallahua’lam[Batu Berendam Malaka Malaysia,  06 Rajab 1432.H/ 08Juni 2011.M].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar