Minggu, 29 November 2015

61. Andai Aku Tahu Sihir Berdosa



Sihir sudah ada sejak dahulu yang dimotori oleh jin dan syaitan dibawah kendali para dukun, kekuatan Fir’aun untuk melawan Nabi Musa juga memakai kemampuan sihir yang akhirnya mampu dilawan oleh Nabi Musa dengan mukjizat dari Allah. Kekuatan dan keluarbiasaan yang dinampakkan oleh sihir disebut dengan istidraj seperti tali bisa menjadi ular, orang sehat bisa sakit dan sebaliknya, sedangkan hal luar biasa yang ada dari Nabi dinamakan dengan mukjizat. Inilah salah satu contoh sihir yang dikalahkan oleh mukjizat pada masa Nabi Musa As. Allah menerangkan dalam surat Al A’raf 7;111-121
”pemuka-pemuka itu menjawab: "Beri tangguhlah Dia dan saudaranya serta kirimlah ke kota-kota beberapa orang yang akan mengumpulkan (ahli-ahli sihir), supaya mereka membawa kepadamu semua ahli sihir yang pandai".dan beberapa ahli sihir itu datang kepada Fir'aun mengatakan: "(Apakah) Sesungguhnya Kami akan mendapat upah, jika kamilah yang menang?"
”Fir'aun menjawab: "Ya, dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan Termasuk orang-orang yang dekat (kepadaku)".Ahli-ahli sihir berkata: "Hai Musa, kamukah yang akan melemparkan lebih dahulu, ataukah Kami yang akan melemparkan?" Musa menjawab: "Lemparkanlah (lebih dahulu)!" Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (mena'jubkan).
”dan Kami wahyukan kepada Musa: "Lemparkanlah tongkatmu!". Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan. karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan.Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina.dan Ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud. mereka berkata: "Kami beriman kepada Tuhan semesta alam”.

Adalah fakta, jika sihir memiliki pengaruh, seperti dapat membunuh orang yang terkena sihir, dapat membuat seseorang jatuh sakit, sihair dapat memisahkan antara suami dan isteri, juga bisa menimbulkan perseteruan antara dua orang yang bersahabat dan berkasih-sayang.Demikian ini termasuk salah satu aqidah Ahlu Sunnah wal Jama'ah.Yaitu meyakini bahwa pengaruh sihir benar-benar nyata dan ada.

Para ulama berbeda pendapat tentang hakikat sihir dan jenis-jenisnya, tetapi mayoritas ulama Ahlu Sunnah wal Jama'ah berpendapat, sihir dapat memberikan pengaruh langsung terhadap kematian orang yang disihir, atau membuatnya jatuh sakit, tanpa terlihat tanda-tanda lahiriyah yang menyebabkannya.Sebagian lainnya -yakni dari kalangan ahli filsafat dan kelompok Mu'tazilah- mereka mengklaim jika sihar hanyalah khayal (ilusi) belaka.

Pengingkaran terhadap pengaruh sihir ini merupakan keyakinan ahli kalam dari kalangan Mu'tazilah.Keyakinan tersebut bertentangan dengan al Qur`an, Sunnah, Ijma' dan akal sehat.Ketika menjelaskan ushul i'tiqad (pokok-pokok keyakinan) Ahlu Sunnah wal Jama'ah, Abul Hasan al Asy'ari t mengatakan: "Kami meyakini, sihir dan tukang sihir benar-benar ada di dunia ini.Dan kekuatan sihir merupakan kenyataan".

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengatakan:"Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :  "(dan dari kejahatan-kejahatan wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul," [Al Falaq/113 ayat 4] menunjukkan bahwa, pengaruh sihir itu benar-benar nyata. Beberapa kelompok ahlu kalam (filosof dan kalangan Mu'tazilah) mengingkari adanya pengaruh sihir ini.Mereka mengatakan, sebenarnya pengaruh sihir itu tidak ada. Baik berupa penyakit, pembunuhan, kerasukan, keterpikatan dan pengaruh-pengaruh lain. Semua itu hanyalah imajinasi orang-orang yang melihatnya, dan bukan sesuatu yang sebenarnya".

Syaikh Salim bin 'Id al Hilali menjelaskan, ayat dan hadits di atas menegaskan bahwa sihir itu memang ada. Hakikat sihir itu benar-benar nyata, sama seperti perkara-perkara lainnya. Penjelasannya :

Pertama : Dalam surat al Baqarah ayat 102, Allah menyebutkan ilmu sihir dipelajari manusia. Sihir dapat menimbulkan mudharat.Di antaranya dapat memisahkan antara sepasang suami isteri.Lalu apakah kedua hal tersebut hanya sebuah ilusi dan tipuan belaka, ataukah hakiki?Jawabannya, hal itu benar-benar hakiki.
Kedua : Allah, Dia-lah Pencipta segala sesuatu, telah memerintahkan kita agar berlindung kepadaNya dari kejahatan tukang sihir. Allah berfirman : "Dan dari kejahatan-kejahatan wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul" [Al Falaq/113 ayat 4]. Ayat ini merupakan bukti, jika sihir itu benar-benar nyata. Pengaruhnya sangat jahat dan dapat menyakiti manusia dengan seizin Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Al Maziri berkata: "Mayoritas Ahlu Sunnah dan jumhur ulama menegaskan, sihir memang benar nyata. Sihir memiliki hakikat, sebagaimana perkara-perkara lainnya.Berbeda dengan orang-orang yang mengingkari hakikatnya dan menganggapnya sebagai halusinasi batil yang tidak riil.Allah telah menyebutkan sihir di dalam al Qur`an, dan menggolongkannya sebagai ilmu yang dipelajari.Allah juga menyebutkan, sihir merupakan perkara yang membuat kafir dan pengaruhnya dapat memisahkan suami isteri.Semua itu tidaklah mungkin bila tidak nyata. Hadits dalam bab ini juga menegaskan bahwa, sihir itu memang benar ada. Ilmu sihir termasuk ilmu yang terkubur, dan kemudian muncul kembali.Semua itu menyanggah perkataan orang-orang yang mengingkarinya.Dan menganggapnya tidak nyata, adalah suatu perkara yang mustahil".

Al Khaththabi berkata: "Sejumlah pakar ilmu pengetahuan alam mengingkari adanya sihir dan menolak hakikatnya. Sementara itu, sejumlah ahli kalam (filosof) menolak hadits ini.Mereka berkata, sekiranya sihir dapat mempengaruhi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka sihir dikhawatirkan juga mempengaruhi wahyu, syariat yang diturunkan kepada beliau.Itu artinya penyesatan umat!"

Bantahannya: Sihir memang benar ada dan hakikatnya juga ada. Sejumlah bangsa, seperti bangsa Arab, Persia, India dan bangsa-bangsa Romawi menegaskan adanya sihir.Mereka merupakan penduduk bumi yang terutama, yang paling banyak memiliki ilmu dan hikmat. Allah telah berfirman:"… Mereka mengajarkan sihir kepada manusia… " [Al Baqarah/2:102]

Allah juga memerintahkan kita agar berlindung kepadaNya dari pengaruh sihir. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : " Dan dari kejahatan-kejahatan wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul" [Al Falaq/113:4].

Telah dinukil secara shahih dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam beberapa hadits. Orang-orang yang mengingkarinya, sama artinya mengingkari sesuatu yang terlihat nyata dan pasti adanya. Para ahli fiqh juga telah menyebutkan beberapa hukuman terhadap tukang sihir.Sesuatu yang tidak hakiki atau tidak riil tentu tidak mencari kepopuleran dan kemasyhuran seperti ini.Menafikan adanya sihir merupakan kejahilan.Membantah orang yang menafikannya merupakan perbuatan sia-sia dan tak ada gunanya.

Ibnul Qayyim al Jauziyah berkata dalam kitab Badaa-i'ul Fawaa-id (II/227-228) : "Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala : "Dan dari kejahatan-kejahatan wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul", [Al Falaq/113:4]. Dan hadits 'Aisyah Radhiyallahu 'anha di atas menetapkan adanya pengaruh dan hakikat sihir.Sebagian ahli kalam dari kalangan Mu'tazilah dan lainnya ada yang mengingkarinya.Mereka mengatakan, sebenarnya pengaruh sihir itu tidak ada. Baik berupa penyakit, pembunuhan, kerasukan, keterpikatan atau pengaruh-pengaruh lain. Menurut mereka, semua itu hanyalah halusinasi orang-orang yang melihatnya, dan bukan sesuatu yang nyata".

Perkataan mereka ini jelas menyelisihi riwayat-riwayat yang mutawatir dari para sahabat dan para salaf, serta kesepakatan para fuqaha, ahli tafsir, ahli hadits dan para pemerhati masalah hati dari kalangan ahli tasawwuf, serta seluruh orang-orang yang berakal sehat.Pengaruh sihir itu bisa berupa sakit, perasaan berat, kerasukan, pembunuhan, perasaan cinta, perasaan benci, dan pengaruh-pengaruh lain yang terjadi pada diri manusia.Semua itu benar-benar ada dan diketahui oleh kebanyakan manusia.Kebanyakan mereka benar-benar dapat merasakan sihir itu. Allah Subhanhu wa Ta'ala berfirman: "Dan dari kejahatan-kejahatan wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul", [Al Falaq/113 : 4].

 Ayat di atas merupakan dalil bahwa, an nafats (hembusan sihir) dapat mendatangkan kejelekan bagi orang yang disihir dari arah yang tidak ia ketahui. Seandainya kejahatan itu hanya bisa terjadi dengan kontak badan secara lahir -sebagaimana dikatakan oleh kelompok yang mengingkari- niscaya kita tidak perlu berlindung dari kejahatan sihir dan wanita-wanita tukang sihir itu.Dan kenyataanya, para tukang sihir itu mampu mengelabui pandangan orang-orang yang menyaksikan sihirnya, padahal jumlah mereka begitu banyak, hingga mereka menyaksikan sesuatu yang bukan sebenarnya. Dan seketika itu juga, imajinasi yang melihat menjadi berubah.[Ustadz Abu Ihsan al AtsariPengaruh Sihir, Nyata Atau Tidak? Minggu, almanhaj.or.id18 Oktober 2009 16:12:09 WIB].

Asy-Syaikh Al-Imam Abu Utsman Isma'il Ash-Shabuni menyatakan; Mereka (Ashabul Hadits) juga berkeyakinan bahwa di dunia ini memang ada sihir dan tukang sihir, akan tetapi tukang sihir tersebut tidak dapat mencelakakan seseorang kecuali dengan izin Allah 'azza wa jalla, sebagaimana firman Allah ta'ala:"Dan mereka (tukang sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah .."(Al-Baqarah:102) 

Siapa yang menjadi penyihir atau menggunakan jasa sihir, sementara ia berkeyakinan bahwa sihir bisa memberi manfaat atau memberi mudharat tanpa izin Allah, maka ia telah kafir kepada Allah ta'ala.  Apabila seseorang telah melakukan hal-hal yang secara dzahir dapat membuatnya kafir itu, maka ia harus dipaksa untuk bertaubat, kalau enggan dipenggal lehernya (oleh penguasa muslim).

Namun apabila ia hanya melakukan perkara sihir yang tidak sampai mengkufurkan dirinya, atau misalnya mengucapkan sesuatu yang dia sendiri tidak memahaminya, maka cukup dicegah saja. Kalau enggan, maka diberikan hukuman cambuk.

Apabila seseorang berpendapat bahwa sihir itu tidaklah haram, bahkan meyakininya boleh-boleh saja, maka orang itu harus dibunuh karena ia telah membolehkan apa yang telah menjadi kesepakatan umat Islam (Ulama) bahwa sihir itu haram. [sihir dan tukang sihir, Aqidah ahlus sunnah].

Sihir juga pernah menimpa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Yaitu ketika seorang Yahudi bernama Labid bin Al A’sham menyihir Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam. Aisyah rahimahullah menceritakan:"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah disihir, sehingga Beliau merasa seolah-olah mendatangi istri-istrinya, padahal tidak melakukannya".

Berkaitan dengan hadits ini, Al Qadhi ‘Iyadh menjelaskan: “Sihir adalah salah satu jenis penyakit diantara penyakit-penyakit lainnya yang wajar menimpa Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam, seperti halnya penyakit lain yang tidak diingkari. Dan sihir ini tidak menodai nubuwah Beliau.Adapun keadaan Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika itu, seolah-olah membayangkan melakukan sesuatu, padahal Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak melakukannya.Hal itu tidak mengurangi kejujuran Beliau.Karena dalil dan ijma’ telah menegaskan tentang kema’shuman Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dari sikap tidak jujur.

Terpengaruh sihir perkara yang hanya mungkin terjadi pada diri Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam masalah duniawi yang bukan merupakan tujuan risalah Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak diistimewakan lantaran masalah duniawi pula. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah manusia biasa yang bisa tertimpa penyakit seperti halnya manusia. Maka bisa saja terjadi, Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam dikhayalkan oleh perkara-perkara dunia yang tidak ada hakikatnya. Kemudian perkara itu (pada akhirnya) menjadi jelas sebagaimana yang terjadi pada diri Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam’’

Sihir memiliki bentuk beraneka ragam dan bertingkat-tingkat.Di antara contohnya adalah tiwalah (sihir yang dilakukan oleh seorang istri untuk mendapatkan cinta suaminya/pelet), namimah (adu domba), al ‘athfu (pengasihan), ash sharfu (menjauhkan hati) dan sebagainya.Sebagian besar sihir ini masuk ke dalam perbuatan kufur dan syirik, kecuali sihir dengan membubuhi racun atau obat-obatan serta namimah, maka ini tidak termasuk syirik.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di menjelaskan: “Sihir termasuk perbuatan syirik ditinjau dari dua sisi.

Pertama : Karena dalam sihir itu terdapat unsur meminta pelayanan dan ketergantungan dari setan serta pendekatan diri kepada mereka melalui sesuatu yang mereka sukai, agar setan-setan itu memberi pelayanan yang diinginkan.
Kedua : Karena di dalam sihir terdapat unsur pengakuan (bahwa si pelaku) mengetahui ilmu ghaib dan penyetaraan diri dengan Allah dalam ilmuNya, dan adanya upaya untuk menempuh segala cara yang bisa menyampaikannya kepada hal tersebut. Ini adalah salah satu cabang dari kesyirikan dan kekufuran”.

Hukum mempelajari dan melakukan sihir adalah haram dan kufur.Hukuman bagi para tukang sihir adalah dibunuh, sebagaimana yang diriwayatkan dari beberapa orang sahabat [6].Dan sihir merupakan perbuatan setan. Allah Azza wa Jalla berfirman :"Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (dan tidak mengerjakan sihir), tetapi setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia". [Al Baqarah : 102]

Seperti telah dijelaskan oleh para ulama, sihir termasuk jenis penyakit yang bisa menimpa manusia dengan izin Allah Azza wa Jalla . Tidaklah Allah Azza wa Jalla menurunkan satu penyakit melainkan Dia juga menurunkan obat penawarnya. Dan seorang muslim dilarang berobat dengan sesuatu yang diharamkan Allah.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, Beliau bersabda :"Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan Allah akan menurunkan pula obat penawarnya".

Seorang muslim dilarang pergi ke dukun untuk mengobati sihir dengan sihir yang sejenis. Karena hukum mendatangi dukun dan mempercayai mereka adalah kufur.Apatah lagi sampai meminta mereka untuk melakukan sihir demi mengusir sihir yang menimpanya, ataupun untuk menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan jodoh anak dan sanak saudaranya, atau hubungan suami istri dan keluarga, tentang barang yang hilang, percintaan, perselisihan dan sebagainya. Hal itu merupakan perkara ghaib dan hanya Allah Azza wa Jalla saja yang mengetahui. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :"Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang sihir, kemudian ia membenarkan (mempercayai) perkataan mereka, maka sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad".

Para dukun, paranormal, tukang sihir dan peramal itu hanya mengaku-ngaku mengetahui ilmu ghaib berdasarkan kabar yang dibawa setan yang mencuri dengar dari langit. Para dukun itu, tidak akan sampai pada maksud yang diinginkan kecuali dengan cara berkhidmah, tunduk dan taat serta menyembah tentara iblis tersebut. Ini merupakan perbuatan kufur dan syirik terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :"Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada setiap pendusta lagi banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada setan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta". [Asy Syu’ara`: 221-223].

Oleh karena itu, seorang muslim tidak boleh tunduk dan percaya kepada dugaan dan asumsi bahwa cara yang dilakukan para dukun itu sebagai pengobatan, misalnya tulisan-tulisan azimat, rajah-rajah, menuangkan cairan yang telah dibaca mantra-mantra syirik dan sebagainya. Semua itu adalah praktek perdukunan dan penipuan terhadap manusia. Barangsiapa yang rela menerima praktek-praktek tersebut tanpa menunjukkan sikap penolakannya, sungguh ia telah ikut tolong-menolong dalam perbuatan bathil dan kufur.[Kiat Membentengi Keluarga Dari Sihir, almanhaj.or.idJumat, 2 April 2010 22:53:11 WIB].

Selain memperkuat iman dan membersihkan tauhid serta mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah, kita juga dianjurkan untuk menghindari diri dari sihir dengan menyanjungkan doa kepada Allah, dimanapun berada, perlindungan kepada Allah inilah yang akan menyelamatkan kita dari pengaruh sihir.

Ketika kita berada ditempat yang baru, baik di perkampungan, desa, kota atau hutan. Nabi saw mengajarkan doa agar kita tidak diganggu oleh kejahatan makhluk lain, artinya bukan saja manusia, tapi juga jin atau makhluk Allah yang lain, yang mungkin bisa menimbulkan bahaya bagi diri kita. Doanya sering kita dengar, dan doanya pendek saja, tapi memiliki perlindungan yang luar biasa, karena Nabi yang mengajarkan.

Dalam sebuah hadisnya Nabi saw bersabda, "Barang siapa yang singgah disatu tempat, sebaiknya membaca doa penjagaan yang di baca sore hari." Doa tersebut adalah "A'udzu bi kalimatillahi taammati min syarri maa khalaq" memiliki arti "Aku berlindungan dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari kejahatan makhluk ciptaan-Nya." Keutamaan dari doa tersebut, siapa yang membaca doa itu, maka tidak akan ada makhluk yang mengganggu, sampai ia meninggalkan tempat tersebut. Ini artinya jaminan yang luar biasa, jadi tidak usah takut terhadap ilmu hitam atau apapun, karena siapapun yang dilindungi oleh Allah SWT, tidak akan bisa tembus dengan ilmu apapun.[Budi Ashari, Lc.,Do'a Penangkal Sihir di Tempat yang Baru,Eramuslim.com.15 Juni 2006]. 

        Pelaku sihir adalah para dukun yang diminta oleh orang-orang yang imannya dangkal sehingga ketika terjadi hal-hal yang mengecewakan akhirnya kalap semuanya dikembalikan kepada dukun dengan melakukan sihir, seperti cinta ditolak dukun bertindak, bisnis berbau kemenyan, jabatan hasil perjuangan jin, tolak bala mendatangkan petaka dan segala bentuk sihir lainnya, ironinya oknum pelaku yang terlibat dengan perdukunan itu ada juga yang berpendidikan tinggi bahkan ada juga yang disebut sebagai pejabat dan santri, Wallahu A’lam [Cubadak Solok, 23 Syawal 11432.H/ 21 September 2011.M].



Tidak ada komentar:

Posting Komentar