Senin, 30 November 2015

72. Andai akuTahu Menghormati Tamu Berpahala



Nabi Muhammad pernah memberikan arahan kepada kita tentang sikap seorang beriman, sabdanya, ”Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah tamu”. Begitu seharusnya sikap kita kepada tamu, apalagi tamu itu masih ada hubungan kerabat dengan kita tentu lebih besar lagi perhatian kita kepadanya. Sampai Nabi Ibrahim dikala dia sedang berpuasa kedatangan tamu, dia batalkan puasa karena menghormati tamu, terakhir baru tahu bahwa tamu yang datang itu adalah malaikat yang tidak perlu disuguhi makanan dan minuman.

Suatu hari ketika Rasulullah sedang berdialoq dengan para sahabatnya, tiba-tiba datanglah seorang tamu lelaki dengan pakaian putih-putih dan bertanya;
"Apakah Iman itu?" Rasulullah menjawab,"Iman ialah engkau percaya dan meyakini Allah, Malaikat-Nya, hari akherat, para Rasul dan yakin adanya hari berangkit".Selanjutnya orang itu bertanya lagi"Apakah Islam itu?", Rasulullah menjawab,"Islam ialah hendaknya kamu menyembah Allah,  jangan menyekutukannya, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat dan puasa pada bulan Ramadhan". Orang itu bertanya lagi,"Apakah Ihsan", Rasulullah menjawab,"Hendaklah kamu menyembah Allah, seolah-olah kamu melihat-Nya, jika kamu tidak melihat-Nya pasti Dia melihatmu".Orang itu bertanya lagi,"Kapan Kiamat akan terjadi?"Rasul menjawab,"Aku yang ditanya juga tidak tahu".

Yang sering datang kepada Rasul untuk menyampaikan wahyu adalah malaikat Jibril, kerap datang dengan rupa seorang lelaki dengan pakaian putih, kalau Jibril datang dengan bentuk aslinya maka Rasulullah tidak mampu melihatnya sebab kakinya saja berada di bumi tapi kepalanya menjulang ke langit dengan ribuan sayapnya.
            Kedatangannya ketika itu lansung menemui Rasulullah sambil duduk berdekatan sehingga lututnya beradu dengan lutut Rasulullah, dia datang untuk mengajar sesuatu kepada Rasul dan  para sahabatnya.

Seorang muslim tidak boleh masuk ke rumah orang lain sebelum minta izin dan diizinkan, ketika bertamupun diatur sebaik-baiknya dengan etika Islam. Allah memberikan peringatan dalam surat An Nur 24; 27, ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum minta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu selalu ingat”.

      Apa pentingnya meminta izin masuk ke rumah orang lain walaupun tetangga kita ataupun rumah sahabat kita ? Hal ini untuk menjaga kesopanan, apalagi bila orang rumah ketika itu belum siap menerima tamu dengan pakaian yang rapi sesuai syar’i. Bila ada sinyal izin dan salam sebelum bertamu tentu yang di dalam rumah membereskan segala bentuk yang tidak layak pandang. Untuk itulah dalam rumah tangga harus ada hijab yaitu pembatas antara satu dengan lainnya, ada ruang tamu dan ruang keluarga yang tidak boleh dilihat oleh orang lain apalagi kamar pribadi.

      Biasanya tamu yang tidak memberi aba-aba, tanpa izin masuk  rumah orang itu  adalah maling, paling tidak perlu dicurigai sebagai calon pencuri. Etika  dimanapun dan budaya nenek moyang kitapun telah mengajarkan kalau tidak sembarangan di rumah orang lain, apalagi masuk tanpa izin.

Dalam ajaran islam posisi isteri adalah milik suaminya, sedangkan posisi suami adalah milik isteri, miliki ibunya dan keluarganya hingga milik masyarakatnya sehingga isteri bisa menjaga dan memuliakan orang-orang yang terlibat dengan suami baik keluarga dan kerabat ataupun tamu suami.

            Adapun cara menjaga keluarga dan tamu  suami hendaklah mengendalikan cemburu, ketahuilah bahwa orang yang berhak terhadap suami adalah ibunya dan saudara-saudara perempuannya. Termasuk memuliakan keluarga dan tamu suami adalah menghiasi diri dengan perangai itsar yaitu mementingkan orang lain lebih dahulu dalam hal-hal positif, pakailah kata mutiara yang mengatakan,"Bagaimana engkau memperlakukan suami, begitulah engkau akan diperlakukan suami".
           
            Bila isteri bisa menjaga perasaan dan hati suami dalam sikap sehari-hari maka suamipun akan lebih lagi menjaga hati dan perasaan isterinya. Suatu ketika Nabi Muhammad sedang duduk-duduk dengan Khadijah lalu beliau mengucapkan kalimat,"Khadijah, aku mencintaimu", Khadijah menjawab,"Aku juga mencintaimu lebih dari yang kau inginkan", Rasul berkata lagi,"Aku mencintaimu seratus  persen", Khadijah menjawab,"Aku mencintaimu seribu persen", begitulah Rasulullah dan isterinya saling menjaga dan menjaga hati masing-masing sehingga kehidupan rumah tangga beliau begitu harmonis.

            Satu ketika seorang ibu berpesan kepada anak lelakinya yang masih membujang, agar memperoleh isteri dengan tiga karakter yaitu isteri yang anggun ketika menerima tamu, hemat ketika di dapur dan  bergairah ketika di tempat tidur. Begitu pesan sang ibu kepada anaknya agar kehidupan rumah tangga hamonis, bahagia hidup berumah tangga, tapi ketika sang anak sudah menikah, ibu menanyakan kondisi menantunya. Anak lelakinya mengatakan bahwa isterinya punya tiga karakter itu tapi letaknya terbalik, isterinya anggun ketika di dapur sehingga tidak dapat berbuat masakan enak baginya, sang isteri hemat ketika di tempat tidur sehingga mengurangi keharmonisan rumah tangga, yang lebih parahnya sang isteri bergairah ketika menerima tamu apalagi tamu itu ada kenangan masa lalunya, dapat diyakini bila isteri dengan sifat begini akan mudah ditinggalkan suaminya.

            Kisah dibawah ini menceritakan tentang anak Abu Bakar yaitu Asma ketika menerima tamu, tamu tersebut ibu kandungnya, apa yang harus dilakukannya sedangkan sang tamu walaupun ibunya sendiri tapi masih kafir.

Siang itu, langit kota Madinah amat terik seolah akan membakar kulit. Membuat sebagian besar penduduknya enggan keluar rumah.Mereka lebih memilih tinggal di dalam untuk menghindari sengatan yang luar biasa panasnya.
Namun, seorang perempuan tua berjalan tertatih-tatih di tengah panas matahari. Kedua tangannya membawa bungkusan besar, ia datang dari Makkah. Tampak tetesan keringat di wajahnya yang keriput. Sebentar-sebentar ia berhenti di bawah pohon untuk melepaskan lelahnya. Di balik mata cekungnya tersimpan beribu harapan untuk bertemu seseorang.
Inikah rumahnya?Tanya perempuan itu dalam hati. Dengan ragu, ia mendekati sebuah rumah mungil yang sederhana.Seorang perempuan cantik kebetulan tengah berdiri di depan pintu. Rupanya Asma binti Abu Bakar."Betulkah ini rumah Asma?" tanya perempuan itu seraya mengusap keringat.
"Ya, benar ini rumah Asma," dia mengerutkan dahinya untuk menegaskan penglihatannya. Rasanya ia sudah pernah mengenal perempuan itu. Tetapi, siapa dan dimana? Sejenak ia terdiam dan mengingatnya.
Kerinduan Asma yang selama ini dipendamnya hampir tak terbendung lagi.Ia berlari menghampiri ibunya. Betapa Asma ingin memeluk dan mencium ibu yang telah lama dinantikannya.
Tiba-tiba, Asma menghentikan langkahnya.Ia teringat ibunya masih musyrik, belum beriman kepada Allah. Asma memang anaknya.Dahulu perempuan itu istri dari Abu Bakar ketika mereka masih sama-sama menyembah berhala.Lalu, Abu Bakar masuk agama Islam yang dibawa Muhammad.Abu Bakar pun bercerai dengan perempuan itu.
Asma mengurungkan niatnya."Nak, kenapa tidak menyuruh ibumu masuk?" perempuan itu menatap Asma dengan rasa rindu dan sayang yang besar.Asma terdiam.Tidak terasa air matanya berderai di pipi.Asma sangat bingung menghadapi ibu kandungnya yang masih musyrik itu.Apa ia boleh dipersilahkan masuk ke rumah? Apa boleh di peluk? Ah, sungguh Asma belum tahu.
Dengan hati tersayat, Asma masuk kerumah.Ia membiarkan ibunya tetap berdiri di halaman rumah. Di bawah sengatan terik matahari.Asma bergegas mencari Aslam, pembantunya."Aslam, tolong temui Rasulullah," kata Asma."Tanyakan pada beliau, apakah ibuku yang belum beriman itu boleh masuk ke rumahku?""Baik, aku segera ke sana," sahut Aslam. "Cepatlah Aslam. Aku tak tega membiarkan ibuku kepanasan di luar sana!"
Aslam bergegas menuju rumah Rasulullah.Tiba di hadapan Rasul, ia menceritakan apa yang di alami oleh Asma."Katakan pada Asma, persilakan ibunya masuk.Hormati dan muliakanlah.Tidak ada larangan bagi seorang anak untuk menghormati orang tua yang belum beriman kepada Allah," kata Rasulullah.
Pembantu itu pun segera pulang dan menyampaikan pesan Rasulullah.Hati Asma terasa lega.Asma berlari ke luar rumah menyambut ibunya dengan senyum ramah.Asma memeluk ibunya erat-erat, lalu menciumnya dengan penuh kasih sayang."Silakan masuk, Bunda," ajak Asma sambil menuntun tangan ibunya."Lihatlah cucu-cucu Bunda yang sudah besar-besar."
Ibunya tersenyum senang mendapatkan Asma hidup bahagia.Dikeluarkannya bungkusan berisi oleh-oleh aneka makanan yang dibuatnya sendiri.
"Asma, Bunda buatkan makanan kesukaanmu," katanya.Asma terharu.Rupanya, ibu masih mengingat semua kegemarannya.Asma menghormati ibunya dengan baik sekali. Dalam hati, ia bersyukur dapat menyayangi ibunya walaupun ibunya belum menjadi seorang Muslimah.[Tamu dari Mekkah, Kisah-kisah Teladan, Compiled by Erman,Citramas Indah E/22, Batu Besar, Batam].

Nabi Luth satu ketika pernah pula didatangi oleh tamu yang berwajah tampan untuk menyampaikan pesan-pesan kepada beliau, kedatangan tamu itu membuat khawatir nabi Luth karena kaumnya mengerubungi sang tamu yang akan mereka jadikan sebagai teman untuk pemuas nafsu.

Nabi Luth berkata kepada dirinya sendiri: Ini adalah hari yang dahsyat. Beliau segera berlari menuju tamu-tamunya.Ketika Nabi Luth melihat mereka, beliau merasakan kehairanan yang luar biasa. Beliau berkata: "Ini adalah hari yang dahsyat." Beliau bertanya kepada mereka: "Dari mana mereka datang dan apa tujuan mereka?" Mereka malah terdiam dan justru memintanya untuk menjamu mereka." Nabi Luth tampak malu di hadapan mereka, kemudian beliau berjalan di depan mereka sedikit lalu beliau berhenti sambil menoleh kepada mereka dan berkata: "Saya belum mengetahui kaum yang lebih keji di muka bumi ini selain penduduk negeri ini." Beliau mengatakan demikian dengan maksud agar mereka mengurungkan niat mereka untuk bermalam di negerinya.Namun mereka tidak peduli dengan ucapan Nabi Luth dan mereka tidak memberikan komentar atasnya.

Nabi Luth kembali berjalan bersama mereka dan beliau selalu berusaha untuk mengalihkan pembicaraan tentang kaumnya.Nabi Luth memberitahu mereka bahawa penduduk desanya sangat jahat dan menghinakan tamu-tamu mereka.Di samping itu, mereka juga membuat kerosakan di muka bumi dan seringkali terjadi pertentangan di dalam desanya.Pemberitahuan tersebut dimaksudkan agar para tamunya membatalkan niat mereka untuk bermalam di desanya tanpa harus melukai perasaan mereka dan tanpa menghilangkan penghormatan pada tamu.Nabi Luth berusaha dan mengisyaratkan kepada mereka untuk melanjutkan perjalanannya tanpa harus mampir di negerinya.Namun tamu-tamu itu sangat menghairankan.Mereka tetap berjalan dalam keadaan diam.

Ketika Nabi Luth melihat tekad mereka untuk tetap bermalam di kota, beliau meminta kepada mereka untuk tinggal di suatu kebun sehingga datang waktu Maghrib dan kegelapan menyelimuti segala penjuru kota. Nabi Luth sangat bersedih dan dadanya menjadi sempit.kerana rasa takutnya dan penderitaannya sehingga ia lupa untuk memberi mereka makanan. Kegelapan mulai menyelimuti kota. Nabi Luth menemani tiga tamunya itu berjalan menuju rumahnya. Tak seorang pun dari penduduk kota yang melihat mereka. Namun isterinya melihat mereka sehingga ia keluar menuju kaumnya dan memberitahu mereka kejadian yang dilihatnya. Kemudian tersebarlah berita dengan begitu cepat dan selanjutnya kaum Nabi Luth menemuinya. Allah SWT berfirman:

"Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya kerana kedatangan mereka, dan dia berkata: 'Ini adalah hari yang amat sulit.' Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergesa-gesa.Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji." (QS. Hud: 77-78)

Mulailah terjadi hari yang sangat keras.Kaum Nabi Luth bergegas menuju padanya. Nabi Luth bertanya pada dirinya sendiri: "Siapa gerangan yang memberitahu mereka?" Kemudian ia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari isterinya namun ia tidak menemuinya. Maka bertambahlah kesedihan Nabi Luth.

Kaum Nabi Luth berdiri di depan pintu rumah. Nabi Luth keluar kepada mereka dengan penuh harap, bagaimana seandainya mereka diajak berfikir secara sehat?Bagaimana seandainya mereka diajak menggunakan fitrah yang sehat? Bagaimana seandainya mereka tergugah dengan kecenderungan yang sehat terhadap jenis lain yang Allah SWT ciptakan untuk mereka? Bukankah di dalam rumah mereka terdapat kaum wanita?Seharusnya wanitalah yang menjadi kecenderungan mereka, bukan malah mereka cenderung kepada sesama lelaki.

"Dia berkata: 'Hai kaumku, inilah puteri-puteri (negeriku) mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal." (QS. Hud: 78)

"Inilah puteri-puteri (negeriku)."Apa yang dimaksud dengan pernyataan tersebut? Nabi Luth ingin berkata kepada mereka: "Di hadapan kalian terdapat wanita-wanita di bumi. Mereka lebih suci bagi kalian dalam bentuk kesucian jiwa dan fizik.Ketika kalian cenderung kepada mereka, maka kecenderungan itu merupakan pelaksanaan dari fitrah yang sehat.""Maka bertakwalah kalian kepada Allah."Nabi Luth berusaha menjamah jiwa mereka dari sisi takwa setelah menjamahnya dari sisi fitrah. Bertakwalah kepada Allah SWT dan ingatlah bahawa Allah SWT mendengar dan melihat serta akan murka dan menyeksa orang-orang yang derhaka. Seharusnya orang yang berakal sehat menghindari murka- Nya.

"Dan janganlah kalian mencemarkan namaku terhadap tamuku ini."Ini adalah usaha gagal dari beliau yang mencuba menggugah kemuliaan dan tradisi mereka sebagai orang Badwi yang harus menghormati tamu, bukan malah menghinakannya."Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?"Tidakkah di antara kalian terdapat orang yang mempunyai fikiran yang sehat?Tidakkah di antara kalian terdapat laki-laki yang berakal?Apa yang kalian inginkan jika memang terwujud, maka itu hakikat kegilaan. Akal adalah sarana yang tepat bagi kalian untuk mengetahui kebenaran.Sesungguhnya perkara tersebut sangat jelas kebenarannya jika kalian memperhatikan fitrah, agama, dan harga diri."Kaumnya menunggu hingga beliau selesai dari nasihatnya yang singkat lalu mereka tertawa terbahak-bahak. Kalimat Nabi Luth yang suci itu tidak mampu mengubah pendirian jiwa yang sakit, hati yang beku, dan fikiran yang bodoh:

"Mereka menjawab: 'Sesungguhnya kamu telah tahu bahawa kami tidak mempunyai keinginan terhadap puteri-puterimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki.'" (QS. Hud: 79)

Demikianlah tampak dengan jelas bahawa kebenaran tersembunyi di balik pengkaburan, suatu hal yang diketahui oleh dunia semuanya. Mereka tidak mengatakan kepadanya apa yang mereka inginkan kerana dunia mengetahuinya dan selanjutnya ia juga mengetahui, yakni isyarat yang buruk pada perbuatan yang buruk.
Nabi Luth merasakan kesedihan dan kelemahannya di tengah-tengah kaumnya.Dengan marah Nabi Luth memasuki rumahnya dan menutup pintu rumahnya.Ia berdiri mendengarkan tertawa dan celaan serta pukulan terhadap pintu rumahnya. Sementara itu, orang-orang asing yang dijamu oleh Nabi Luth tampak duduk dalam keadaan tenang dan terpaku.Nabi Luth merasakan kehairanan dalam dirinya ketika melihat ketenangan mereka.Dan pukulan-pukulan yang ditujukan pada pintu semakin kencang. Mulailah kayu-kayu pintu itu tampak rosak dan lemah, lalu Nabi Luth berteriak dalam keadaan kesal:

"Luth berkata: 'Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).'" (QS. Hud: 80)

Nabi Luth berharap akan mendapatkan kekuatan sehingga dapat melindungi para tamunya. Beliau mengharapkan seandainya terdapat benteng yang kuat yang dapat melindunginya, yaitu benteng Allah SWT yang di dalamnya para nabi dan kekasih-kekasih-Nya dilindungi. Berkenaan dengan hal itu, Rasulullah berkata saat membaca ayat tersebut: "Allah SWT menurunkan rahmat atas Nabi Luth. Ia berlindung pada benteng yang kukuh."Ketika penderitaan mencapai puncaknya dan Nabi Luth mengucapkan kata-katanya yang terbang laksana burung yang putus asa, para tamunya bergerak dan tiba-tiba bangkit. Mereka memberitahunya bahawa ia benar-benar akan terlindung di bawah benteng yang kuat:

"Para utusan (malaikat) berkata: 'Hai Luth sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-sekali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu." (QS. Hud: 81)

Jangan berkeluh kesah wahai Luth dan jangan takut. Kami adalah para malaikat, dan kaum itu tidak akan mampu menyentuhmu. Tiba-tiba pintu terbelah. Jibril bangkit dan ia menunjuk dengan tangannya secara cepat sehingga kaum itu kehilangan matanya. Lalu mereka tampak serampangan di dalam dinding dan mereka keluar dari rumah dan mereka mengira bahawa mereka memasukinya.Jibril as menghilangkan mata mereka.

Allah SWT berfirman: "Dan sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Dan sesungguhnya pada esok harinya mereka ditimpa azab yang kekal." (QS. al-Qamar: 37-38)

Para malaikat menoleh kepada Nabi Luth dan memerintahkan kepadanya untuk membawa keluarganya di tengah malam dan keluar. Mereka mendengar suara yang sangat mengerikan dan akan menggoncangkan gunung. Seksa apa ini? Ini adalah seksa dari bentuk yang aneh.Para malaikat memberitahunya bahawa isterinya termasuk orang-orang yang menentangnya.isterinya adalah seorang kafir seperti mereka, sehingga jika turun azab kepada mereka, maka ia pun akan menerimanya.[Pak Ndak - Kisah Nabi-nabi Allah > Kisah Nabi Luth].

            Tamu pasti akan datang ke rumah kita, apakah tamu itu orang lain yang tidak ada hubungan dengan kita apalagi yang punya hubungan baik kepada kita tentu bertamu ke rumah kita merupakan keharusan baginya, tapi hati-hati dengan tamu asing yang tidak tahu asal-usulnya, bisa saja mereka adalah orang dengan maksud tertentu, dikala anda mengambilkan air minum ke belakang merekapun sudah beraksi di dalam rumah mengumpulkan barang-barang yang perlu dicurinya, lebih-lebih lagi seorang isteri tidak boleh menerima tamu lelaki yang bukan muhrimnya, apalagi tamu itu bekas kekasih masa lalu tentu berbahaya, bagaimanapun juga tamu perlu dihargai sebatas norma agama yang membolehkannya, Wallahu A’lam [Cubadak Solok, 25 Syawal 11432.H/ 23 September 2011.M].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar