Nabi Muhammad pernah memberikan arahan kepada kita tentang
sikap seorang beriman, sabdanya, ”Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan
hari akhir maka muliakanlah tamu”. Begitu seharusnya sikap kita kepada tamu,
apalagi tamu itu masih ada hubungan kerabat dengan kita tentu lebih besar lagi
perhatian kita kepadanya. Sampai Nabi Ibrahim dikala dia sedang berpuasa
kedatangan tamu, dia batalkan puasa karena menghormati tamu, terakhir baru tahu
bahwa tamu yang datang itu adalah malaikat yang tidak perlu disuguhi makanan
dan minuman.
Suatu hari ketika Rasulullah sedang
berdialoq dengan para sahabatnya, tiba-tiba datanglah seorang tamu lelaki
dengan pakaian putih-putih dan bertanya;
"Apakah Iman itu?" Rasulullah
menjawab,"Iman ialah engkau percaya dan meyakini Allah, Malaikat-Nya, hari
akherat, para Rasul dan yakin adanya hari berangkit".Selanjutnya orang itu
bertanya lagi"Apakah Islam itu?", Rasulullah menjawab,"Islam
ialah hendaknya kamu menyembah Allah,
jangan menyekutukannya, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat dan puasa
pada bulan Ramadhan". Orang itu bertanya lagi,"Apakah Ihsan",
Rasulullah menjawab,"Hendaklah kamu menyembah Allah, seolah-olah kamu
melihat-Nya, jika kamu tidak melihat-Nya pasti Dia melihatmu".Orang itu
bertanya lagi,"Kapan Kiamat akan terjadi?"Rasul menjawab,"Aku
yang ditanya juga tidak tahu".
Yang sering datang kepada Rasul untuk
menyampaikan wahyu adalah malaikat Jibril, kerap datang dengan rupa seorang
lelaki dengan pakaian putih, kalau Jibril datang dengan bentuk aslinya maka
Rasulullah tidak mampu melihatnya sebab kakinya saja berada di bumi tapi
kepalanya menjulang ke langit dengan ribuan sayapnya.
Kedatangannya ketika itu lansung
menemui Rasulullah sambil duduk berdekatan sehingga lututnya beradu dengan
lutut Rasulullah, dia datang untuk mengajar sesuatu kepada Rasul dan para sahabatnya.
Seorang
muslim tidak boleh masuk ke rumah orang lain sebelum minta izin dan diizinkan,
ketika bertamupun diatur sebaik-baiknya dengan etika Islam. Allah memberikan
peringatan dalam surat An Nur 24; 27,
”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu
sebelum minta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu
lebih baik bagimu, agar kamu selalu ingat”.
Apa pentingnya meminta izin masuk ke rumah
orang lain walaupun tetangga kita ataupun rumah sahabat kita ? Hal ini untuk
menjaga kesopanan, apalagi bila orang rumah ketika itu belum siap menerima tamu
dengan pakaian yang rapi sesuai syar’i. Bila ada sinyal izin dan salam sebelum
bertamu tentu yang di dalam rumah membereskan segala bentuk yang tidak layak
pandang. Untuk itulah dalam rumah tangga harus ada hijab yaitu pembatas antara
satu dengan lainnya, ada ruang tamu dan ruang keluarga yang tidak boleh dilihat
oleh orang lain apalagi kamar pribadi.
Biasanya tamu yang tidak memberi aba-aba,
tanpa izin masuk rumah orang itu adalah maling, paling tidak perlu dicurigai
sebagai calon pencuri. Etika dimanapun
dan budaya nenek moyang kitapun telah mengajarkan kalau tidak sembarangan di
rumah orang lain, apalagi masuk tanpa izin.
Dalam ajaran islam posisi isteri adalah milik suaminya,
sedangkan posisi suami adalah milik isteri, miliki ibunya dan keluarganya
hingga milik masyarakatnya sehingga isteri bisa menjaga dan memuliakan
orang-orang yang terlibat dengan suami baik keluarga dan kerabat ataupun tamu
suami.
Adapun cara menjaga
keluarga dan tamu suami hendaklah
mengendalikan cemburu, ketahuilah bahwa orang yang berhak terhadap suami adalah
ibunya dan saudara-saudara perempuannya. Termasuk memuliakan keluarga dan tamu
suami adalah menghiasi diri dengan perangai itsar yaitu mementingkan orang lain
lebih dahulu dalam hal-hal positif, pakailah kata mutiara yang mengatakan,"Bagaimana
engkau memperlakukan suami, begitulah engkau akan diperlakukan suami".
Bila isteri bisa menjaga
perasaan dan hati suami dalam sikap sehari-hari maka suamipun akan lebih lagi
menjaga hati dan perasaan isterinya. Suatu ketika Nabi Muhammad sedang duduk-duduk
dengan Khadijah lalu beliau mengucapkan kalimat,"Khadijah, aku
mencintaimu", Khadijah menjawab,"Aku juga mencintaimu lebih dari yang
kau inginkan", Rasul berkata lagi,"Aku mencintaimu seratus persen", Khadijah menjawab,"Aku
mencintaimu seribu persen", begitulah Rasulullah dan isterinya saling
menjaga dan menjaga hati masing-masing sehingga kehidupan rumah tangga beliau
begitu harmonis.
Satu ketika seorang ibu
berpesan kepada anak lelakinya yang masih membujang, agar memperoleh isteri
dengan tiga karakter yaitu isteri yang anggun ketika menerima tamu, hemat
ketika di dapur dan bergairah ketika di
tempat tidur. Begitu pesan sang ibu kepada anaknya agar kehidupan rumah tangga
hamonis, bahagia hidup berumah tangga, tapi ketika sang anak sudah menikah, ibu
menanyakan kondisi menantunya. Anak lelakinya mengatakan bahwa isterinya punya
tiga karakter itu tapi letaknya terbalik, isterinya anggun ketika di dapur
sehingga tidak dapat berbuat masakan enak baginya, sang isteri hemat ketika di
tempat tidur sehingga mengurangi keharmonisan rumah tangga, yang lebih parahnya
sang isteri bergairah ketika menerima tamu apalagi tamu itu ada kenangan masa
lalunya, dapat diyakini bila isteri dengan sifat begini akan mudah ditinggalkan
suaminya.
Kisah dibawah ini
menceritakan tentang anak Abu Bakar yaitu Asma ketika menerima tamu, tamu
tersebut ibu kandungnya, apa yang harus dilakukannya sedangkan sang tamu
walaupun ibunya sendiri tapi masih kafir.
Siang itu, langit kota Madinah amat
terik seolah akan membakar kulit. Membuat sebagian besar penduduknya enggan
keluar rumah.Mereka lebih memilih tinggal di dalam untuk menghindari sengatan
yang luar biasa panasnya.
Namun, seorang perempuan tua berjalan
tertatih-tatih di tengah panas matahari. Kedua tangannya membawa bungkusan besar,
ia datang dari Makkah. Tampak tetesan keringat di wajahnya yang keriput.
Sebentar-sebentar ia berhenti di bawah pohon untuk melepaskan lelahnya. Di
balik mata cekungnya tersimpan beribu harapan untuk bertemu seseorang.
Inikah rumahnya?Tanya perempuan itu
dalam hati. Dengan ragu, ia mendekati sebuah rumah mungil yang
sederhana.Seorang perempuan cantik kebetulan tengah berdiri di depan pintu.
Rupanya Asma binti Abu Bakar."Betulkah ini rumah Asma?" tanya
perempuan itu seraya mengusap keringat.
"Ya,
benar ini rumah Asma," dia mengerutkan dahinya untuk menegaskan
penglihatannya. Rasanya ia sudah pernah mengenal perempuan itu. Tetapi, siapa
dan dimana? Sejenak ia terdiam dan mengingatnya.
Kerinduan Asma yang selama ini
dipendamnya hampir tak terbendung lagi.Ia berlari menghampiri ibunya. Betapa
Asma ingin memeluk dan mencium ibu yang telah lama dinantikannya.
Tiba-tiba, Asma menghentikan
langkahnya.Ia teringat ibunya masih musyrik, belum beriman kepada Allah. Asma
memang anaknya.Dahulu perempuan itu istri dari Abu Bakar ketika mereka masih
sama-sama menyembah berhala.Lalu, Abu Bakar masuk agama Islam yang dibawa
Muhammad.Abu Bakar pun bercerai dengan perempuan itu.
Asma mengurungkan niatnya."Nak,
kenapa tidak menyuruh ibumu masuk?" perempuan itu menatap Asma dengan rasa
rindu dan sayang yang besar.Asma terdiam.Tidak terasa air matanya berderai di
pipi.Asma sangat bingung menghadapi ibu kandungnya yang masih musyrik itu.Apa
ia boleh dipersilahkan masuk ke rumah? Apa boleh di peluk? Ah, sungguh Asma
belum tahu.
Dengan hati tersayat, Asma masuk
kerumah.Ia membiarkan ibunya tetap berdiri di halaman rumah. Di bawah sengatan
terik matahari.Asma bergegas mencari Aslam, pembantunya."Aslam, tolong
temui Rasulullah," kata Asma."Tanyakan pada beliau, apakah ibuku yang
belum beriman itu boleh masuk ke rumahku?""Baik, aku segera ke
sana," sahut Aslam. "Cepatlah Aslam. Aku tak tega membiarkan ibuku
kepanasan di luar sana!"
Aslam bergegas menuju rumah
Rasulullah.Tiba di hadapan Rasul, ia menceritakan apa yang di alami oleh
Asma."Katakan pada Asma, persilakan ibunya masuk.Hormati dan
muliakanlah.Tidak ada larangan bagi seorang anak untuk menghormati orang tua
yang belum beriman kepada Allah," kata Rasulullah.
Pembantu itu pun segera pulang dan
menyampaikan pesan Rasulullah.Hati Asma terasa lega.Asma berlari ke luar rumah
menyambut ibunya dengan senyum ramah.Asma memeluk ibunya erat-erat, lalu
menciumnya dengan penuh kasih sayang."Silakan masuk, Bunda," ajak
Asma sambil menuntun tangan ibunya."Lihatlah cucu-cucu Bunda yang sudah
besar-besar."
Ibunya tersenyum senang mendapatkan Asma
hidup bahagia.Dikeluarkannya bungkusan berisi oleh-oleh aneka makanan yang
dibuatnya sendiri.
"Asma,
Bunda buatkan makanan kesukaanmu," katanya.Asma terharu.Rupanya, ibu masih
mengingat semua kegemarannya.Asma menghormati ibunya dengan baik sekali. Dalam
hati, ia bersyukur dapat menyayangi ibunya walaupun ibunya belum menjadi
seorang Muslimah.[Tamu dari Mekkah, Kisah-kisah Teladan, Compiled by Erman,Citramas
Indah E/22, Batu
Besar, Batam].
Nabi Luth satu ketika pernah pula
didatangi oleh tamu yang berwajah tampan untuk menyampaikan pesan-pesan kepada
beliau, kedatangan tamu itu membuat khawatir nabi Luth karena kaumnya
mengerubungi sang tamu yang akan mereka jadikan sebagai teman untuk pemuas
nafsu.
Nabi
Luth berkata kepada dirinya sendiri: Ini adalah hari yang dahsyat. Beliau
segera berlari menuju tamu-tamunya.Ketika Nabi Luth melihat mereka, beliau
merasakan kehairanan yang luar biasa. Beliau berkata: "Ini adalah hari
yang dahsyat." Beliau bertanya kepada mereka: "Dari mana mereka
datang dan apa tujuan mereka?" Mereka malah terdiam dan justru memintanya
untuk menjamu mereka." Nabi Luth tampak malu di hadapan mereka, kemudian
beliau berjalan di depan mereka sedikit lalu beliau berhenti sambil menoleh
kepada mereka dan berkata: "Saya belum mengetahui kaum yang lebih keji di
muka bumi ini selain penduduk negeri ini." Beliau mengatakan demikian
dengan maksud agar mereka mengurungkan niat mereka untuk bermalam di
negerinya.Namun mereka tidak peduli dengan ucapan Nabi Luth dan mereka tidak
memberikan komentar atasnya.
Nabi
Luth kembali berjalan bersama mereka dan beliau selalu berusaha untuk
mengalihkan pembicaraan tentang kaumnya.Nabi Luth memberitahu mereka bahawa
penduduk desanya sangat jahat dan menghinakan tamu-tamu mereka.Di samping itu,
mereka juga membuat kerosakan di muka bumi dan seringkali terjadi pertentangan
di dalam desanya.Pemberitahuan tersebut dimaksudkan agar para tamunya
membatalkan niat mereka untuk bermalam di desanya tanpa harus melukai perasaan
mereka dan tanpa menghilangkan penghormatan pada tamu.Nabi Luth berusaha dan
mengisyaratkan kepada mereka untuk melanjutkan perjalanannya tanpa harus mampir
di negerinya.Namun tamu-tamu itu sangat menghairankan.Mereka tetap berjalan dalam
keadaan diam.
Ketika
Nabi Luth melihat tekad mereka untuk tetap bermalam di kota, beliau meminta
kepada mereka untuk tinggal di suatu kebun sehingga datang waktu Maghrib dan
kegelapan menyelimuti segala penjuru kota. Nabi Luth sangat bersedih dan dadanya
menjadi sempit.kerana rasa takutnya dan penderitaannya sehingga ia lupa untuk
memberi mereka makanan. Kegelapan mulai menyelimuti kota. Nabi Luth menemani
tiga tamunya itu berjalan menuju rumahnya. Tak seorang pun dari penduduk kota
yang melihat mereka. Namun isterinya melihat mereka sehingga ia keluar menuju
kaumnya dan memberitahu mereka kejadian yang dilihatnya. Kemudian tersebarlah
berita dengan begitu cepat dan selanjutnya kaum Nabi Luth menemuinya. Allah SWT
berfirman:
"Dan
tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa
susah dan merasa sempit dadanya kerana kedatangan mereka, dan dia berkata: 'Ini
adalah hari yang amat sulit.' Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan
bergesa-gesa.Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang
keji." (QS. Hud: 77-78)
Mulailah
terjadi hari yang sangat keras.Kaum Nabi Luth bergegas menuju padanya. Nabi
Luth bertanya pada dirinya sendiri: "Siapa gerangan yang memberitahu
mereka?" Kemudian ia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari isterinya
namun ia tidak menemuinya. Maka bertambahlah kesedihan Nabi Luth.
Kaum
Nabi Luth berdiri di depan pintu rumah. Nabi Luth keluar kepada mereka dengan
penuh harap, bagaimana seandainya mereka diajak berfikir secara sehat?Bagaimana
seandainya mereka diajak menggunakan fitrah yang sehat? Bagaimana seandainya
mereka tergugah dengan kecenderungan yang sehat terhadap jenis lain yang Allah
SWT ciptakan untuk mereka? Bukankah di dalam rumah mereka terdapat kaum
wanita?Seharusnya wanitalah yang menjadi kecenderungan mereka, bukan malah
mereka cenderung kepada sesama lelaki.
"Dia berkata: 'Hai kaumku, inilah puteri-puteri
(negeriku) mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan
janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di
antaramu seorang yang berakal." (QS. Hud: 78)
"Inilah
puteri-puteri (negeriku)."Apa yang dimaksud dengan pernyataan tersebut?
Nabi Luth ingin berkata kepada mereka: "Di hadapan kalian terdapat
wanita-wanita di bumi. Mereka lebih suci bagi kalian dalam bentuk kesucian jiwa
dan fizik.Ketika kalian cenderung kepada mereka, maka kecenderungan itu
merupakan pelaksanaan dari fitrah yang sehat.""Maka bertakwalah
kalian kepada Allah."Nabi Luth berusaha menjamah jiwa mereka dari sisi takwa
setelah menjamahnya dari sisi fitrah. Bertakwalah kepada Allah SWT dan ingatlah
bahawa Allah SWT mendengar dan melihat serta akan murka dan menyeksa
orang-orang yang derhaka. Seharusnya orang yang berakal sehat menghindari
murka- Nya.
"Dan
janganlah kalian mencemarkan namaku terhadap tamuku ini."Ini adalah usaha
gagal dari beliau yang mencuba menggugah kemuliaan dan tradisi mereka sebagai
orang Badwi yang harus menghormati tamu, bukan malah menghinakannya."Tidak
adakah di antaramu seorang yang berakal?"Tidakkah di antara kalian
terdapat orang yang mempunyai fikiran yang sehat?Tidakkah di antara kalian
terdapat laki-laki yang berakal?Apa yang kalian inginkan jika memang terwujud,
maka itu hakikat kegilaan. Akal adalah sarana yang tepat bagi kalian untuk
mengetahui kebenaran.Sesungguhnya perkara tersebut sangat jelas kebenarannya
jika kalian memperhatikan fitrah, agama, dan harga diri."Kaumnya menunggu
hingga beliau selesai dari nasihatnya yang singkat lalu mereka tertawa
terbahak-bahak. Kalimat Nabi Luth yang suci itu tidak mampu mengubah pendirian
jiwa yang sakit, hati yang beku, dan fikiran yang bodoh:
"Mereka menjawab: 'Sesungguhnya kamu telah tahu
bahawa kami tidak mempunyai keinginan terhadap puteri-puterimu; dan
sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki.'"
(QS. Hud: 79)
Demikianlah
tampak dengan jelas bahawa kebenaran tersembunyi di balik pengkaburan, suatu
hal yang diketahui oleh dunia semuanya. Mereka tidak mengatakan kepadanya apa
yang mereka inginkan kerana dunia mengetahuinya dan selanjutnya ia juga
mengetahui, yakni isyarat yang buruk pada perbuatan yang buruk.
Nabi Luth merasakan kesedihan dan
kelemahannya di tengah-tengah kaumnya.Dengan marah Nabi Luth memasuki rumahnya
dan menutup pintu rumahnya.Ia berdiri mendengarkan tertawa dan celaan serta
pukulan terhadap pintu rumahnya. Sementara itu, orang-orang asing yang dijamu
oleh Nabi Luth tampak duduk dalam keadaan tenang dan terpaku.Nabi Luth
merasakan kehairanan dalam dirinya ketika melihat ketenangan mereka.Dan pukulan-pukulan
yang ditujukan pada pintu semakin kencang. Mulailah kayu-kayu pintu itu tampak
rosak dan lemah, lalu Nabi Luth berteriak dalam keadaan kesal:
"Luth berkata: 'Seandainya aku mempunyai
kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang
kuat (tentu aku lakukan).'" (QS. Hud: 80)
Nabi
Luth berharap akan mendapatkan kekuatan sehingga dapat melindungi para tamunya.
Beliau mengharapkan seandainya terdapat benteng yang kuat yang dapat
melindunginya, yaitu benteng Allah SWT yang di dalamnya para nabi dan
kekasih-kekasih-Nya dilindungi. Berkenaan dengan hal itu, Rasulullah berkata
saat membaca ayat tersebut: "Allah SWT menurunkan rahmat atas Nabi Luth.
Ia berlindung pada benteng yang kukuh."Ketika penderitaan mencapai puncaknya
dan Nabi Luth mengucapkan kata-katanya yang terbang laksana burung yang putus
asa, para tamunya bergerak dan tiba-tiba bangkit. Mereka memberitahunya bahawa
ia benar-benar akan terlindung di bawah benteng yang kuat:
"Para utusan (malaikat) berkata: 'Hai Luth
sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-sekali mereka tidak akan
dapat mengganggu kamu." (QS. Hud: 81)
Jangan
berkeluh kesah wahai Luth dan jangan takut. Kami adalah para malaikat, dan kaum
itu tidak akan mampu menyentuhmu. Tiba-tiba pintu terbelah. Jibril bangkit dan
ia menunjuk dengan tangannya secara cepat sehingga kaum itu kehilangan matanya.
Lalu mereka tampak serampangan di dalam dinding dan mereka keluar dari rumah
dan mereka mengira bahawa mereka memasukinya.Jibril as menghilangkan mata
mereka.
Allah
SWT berfirman: "Dan sesungguhnya
mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu kami
butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Dan
sesungguhnya pada esok harinya mereka ditimpa azab yang kekal." (QS.
al-Qamar: 37-38)
Para
malaikat menoleh kepada Nabi Luth dan memerintahkan kepadanya untuk membawa
keluarganya di tengah malam dan keluar. Mereka mendengar suara yang sangat
mengerikan dan akan menggoncangkan gunung. Seksa apa ini? Ini adalah seksa dari
bentuk yang aneh.Para malaikat memberitahunya bahawa isterinya termasuk
orang-orang yang menentangnya.isterinya adalah seorang kafir seperti mereka,
sehingga jika turun azab kepada mereka, maka ia pun akan menerimanya.[Pak Ndak - Kisah Nabi-nabi Allah > Kisah Nabi Luth].
Tamu
pasti akan datang ke rumah kita, apakah tamu itu orang lain yang tidak ada
hubungan dengan kita apalagi yang punya hubungan baik kepada kita tentu bertamu
ke rumah kita merupakan keharusan baginya, tapi hati-hati dengan tamu asing
yang tidak tahu asal-usulnya, bisa saja mereka adalah orang dengan maksud
tertentu, dikala anda mengambilkan air minum ke belakang merekapun sudah
beraksi di dalam rumah mengumpulkan barang-barang yang perlu dicurinya,
lebih-lebih lagi seorang isteri tidak boleh menerima tamu lelaki yang bukan
muhrimnya, apalagi tamu itu bekas kekasih masa lalu tentu berbahaya,
bagaimanapun juga tamu perlu dihargai sebatas norma agama yang membolehkannya, Wallahu A’lam [Cubadak Solok, 25 Syawal 11432.H/ 23
September 2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar