Orang merasa malu kalau sikap dan tindakannya bertentangan
dengan adat, dan sangat marah sekali bila dikatakan kepadanya,"Tidak
Beradat", tapi tidak begitu marah bila dia disebut "Tidak Beragama".
Jauh sebelum islam hadir di Nusantara ini masyarakat kita sudah ada menganut
suatu kepercayaan sebelumnya seperti Animisme dan Dinamisme, demikian pula
merekapun telah menganut agama Hindu ataupun Budha sehingga sepak terjang
kehidupannya tidak bisa lepas dari adat yang berbau agama sebelumnya, bukan
tidak ada upaya da'wah yang dilakukan oleh para ulama dan da'i, tapi ketika
gerakan da'wah itu digencarkan saat itu kita dalam penjajahan yang tidak
menginginkan ummat ini cerdas sehingga para ulama dipenjara dan dibunuh
sehingga ummat kehilangan petunjuk.
Tradisi itu
dimiliki oleh setiap suku bangsa dengan coraknya masing-masing, yang dikenal
dengan sebutan ”kebudayaan nenek moyang”.
Pada saat ini sedang hangat-hangatnya agar generasi muda memelihara
kelestariannya yang penuh dengan bid’ah, tahyul dan kurafa. Otak tak dapat
untuk berfikir, perasaan tak dapat untuk mempertimbangkan lagi, segalanya
nampak baik, nampaknya praktek ibadah padahal praktek bid’ah,sehingga
terjadilah percampuran antara ibadat dengan adat, yang haq dengan yang bathil.
Ummat Nabi Ibrahim menyembah berhala karena ajaran
nenek moyang mereka, sebagaimana dialoq dengan ayah dan ummatnya;
"Ketika ia Berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Apakah yang kamu
sembah?" Mereka menjawab: "Kami menyembah berhala-berhala dan kami
senantiasa tekun menyembahnya".
Berkata Ibrahim: "Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu
sewaktu kamu berdoa (kepadanya)?, Atau
(dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudharat?" Mereka
menjawab: "(Bukan Karena itu) Sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami
berbuat demikian". Ibrahim berkata:
"Maka apakah kamu Telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, Kamu
dan nenek moyang kamu yang dahulu?,' [Asy
Syu'ara 26;70-76]
Jadi
penyembahan berhala yang dilakukan oleh ummat nabi Ibrahim bukan mereka tidak
mengerti kalau hal itu tidak ada manfaatnya, namun semua dilakukan karena
tuntutan adat dan sudah tradisi sehingga layak dilestarikan bahkan ada
kepercayaan pula bila tradisi itu ditinggalkan maka akan datang kutukan atau
laknat dari nenek moyang. Kita bisa saksikan bagaimana tradisi ketika ada orang
yang meninggal dunia maka lebih banyak ritual adat yang dilakukan walaupun
berbau ibadat seperti peringatan tiga hari , tujuh hari, seratus hari dan seribu hari yang menguras dana tidak
sedikit, membuang waktu sekian jam sehingga meninggalkan pekerjaan penting
lainnya, bila tidak dikerjakan oleh sahibul hajat maka dia akan dicap orang
yang menyia-nyiakan keluarga yang sudah meninggal bahkan dianggap yang
meninggal itu mati anjing, begitu kejam kecaman bagi orang yang tidak taat
kepada adat.
Ada saat-saat
tertentu yang menjadi adat dan musim untuk diadakan perayaan atau peringatan
ini dan itu yang tidak ada dasarnya dalam Islam.Juga ada musim-musim yang
mereka jadikan hari-hari untuk beramai-ramai berdatangan ke kubur-kubur,
lebih-lebih kuburan yang mereka anggap sebagai kuburan wali atau kuburan
keramat.
Bulan Sya’ban yang dalam Islam
disunnahkan banyak berpuasa, justru yang terjadi di masyarakat adalah banyaknya
orang ke kubur-kubur, lebih-lebih setelah nishfu Sya’ban (pertengahan Sya’ban)
sampai datangnya Ramadhan. Menjelang datangnya Bulan Ramadhan itu kubur-kubur
apalagi yang dianggap kuburan wali atau keramat, berjubel manusia sampai 24
jam. Mereka “beri’tikaf” di kubur-kubur.Hampir bisa dibilang, masjid-masjid
agak sepi, tetapi kubur-kubur sangat ramai. Saking ramainya, sebagai gambaran
bukti, adik saya sempat bertanya kepada seorang tukang ojek di Kuburan Muria
(Sunan Muria) di Gunung Muria Jawa Tengah bagian utara, Sya’ban 2007M/ 1428H.
“Berapa
penghasilan Anda ketika ngojek sampai 24 jam saking ramainya pengunjung ke
kuburan semacam ini?” Tanya adik saya kepada tukang ojek yang mangkal di
pangkalan menjelang Kuburan di Gunung Muria. Untuk ke kuburan itu pengunjung
harus naik lagi dari pangkalan ojek tempat berhentinya mobil ke kuburan sejauh
2 km, ongkos ojek untuk naik ke kuburan itu Rp6.000,- dan turun dari kuburan ke
pangkalan Rp6.000,- pula.
Tukang ojek itu
mengaku: “Saya sehari semalam sampai mendapat Rp3 juta, Mas!” katanya mantap.
“Benar, sampai
mendapat Rp3 juta sehari semalam?”Tanya adik saya dengan ta’ajub.
“Saestu, Mas!”(Benar,
Mas!), jawab tukang ojek itu serius.
Demikianlah sebuah gambaran betapa
berjubelnya manusia yang hilir mudik berdatangan ke kuburan menjelang Ramadhan,
siang malam, sampai tukang ojeknya bekerja siang malam dan menghasilkan duit
Rp3 juta, sehari semalam itu, sebanding dengan harga 25-an gram emas murni.
Apa yang mereka
perbuat di pekuburan itu? Saya sendiri pernah menyaksikan rombongan yang datang
ke Kuburan Ampel di Surabaya.Kepala rombongan yang tampaknya ustadz mereka,
memberi aba-aba sambil berdiri menghadap jama’ahnya yang duduk bershaf-shaf di
sela-sela kuburan, bagai anak sekolah sedang apel upacara bendera namun dalam
keadaan duduk. Sang Guru itu memberi aba-aba kepada jama’ahnya dengan tangan
mengacung-acung persis dirigent yang memberi aba-aba untuk nyanyi di kalangan
para penyanyi. Maka jama’ah itupun serempak mengikuti aba-aba gurunya dengan
menyanyikan Ya Robbibil, syair bermasalah menyangkut aqidah, yang
sudah biasa mereka jadikan “lagu wajib” ketika memulai pengajian.Hanya saja
kali ini mereka nyanyikan di kuburan. Padahal nyanyian syair itu bermasalah
menyangkut aqidah, yaitu berisi bait-bait Burdah karangan Al-Bushiri yang
dipersoalkan oleh ulama, karena ghuluw, melampaui batas dalam
menyanjung Nabi Muhammad saw.
Syekh Shalih Ibnu ‘Utsaimin
telah menyoroti bait-bait Burdah Bushiri (penyair Mesir 608-695H aktif dalam
tasawuf dan terkenal syairnya: Burdah di antara isinya):
Wahai
makhluk paling mulia, tidak ada bagiku tempat berlindung selainmu
Ketika
terjadi peristiwa yang berat
Jika
di akheratku ia tidak menolongku
Maka
kukatakan: wahai diri yang celaka
Sesungguhnya
di antara kemurahanmu adalah dunia dan kenikmatannya
Dan
di antara ilmu-ilmumu adalah ilmu Lauh dan Qalam.
(Komentar Syaikh ‘Utsaimin):
Sifat-sifat seperti ini tidak
sah kecuali bagi Allah ‘Azza wa Jalla. Dan saya heran kepada orang yang
mengatakan perkataan ini, jika dia memikirkan maknanya, bagaimana merasa enak
pada dirinya untuk berkata sebagai orang yang bicara kepada Nabi saw:
Sesungguhnya di antara
kemurahanmu adalah dunia dan kenikmatannya.Lafal min (di antara) itu
maknanya untuk bagian.Lafal dunia itu adalah dunia, dan lafal dhorrotiha itu adalah akherat. Apabila
dunia dan akherat itu adalah sebagian dari kemurahan Rasul
alaihis sholatu wassalam, dan bukan keseluruhan kemurahannya,
maka apa yang tersisa bagi Allah ‘Azza
wa Jalla,
tidak ada sisa bagiNya sedikitpun mungkin, tidak (ada sisa) dalam hal dunia dan
tidak pula dalam hal akherat.
Demikian pula ucapannya
(Bushiri):Dan di antara ilmu-ilmumu adalah ilmu Lauh dan Qalam.
Lafal
min (di antara/ sebagian dari) itu untuk bagian. Saya (‘Syaikh ‘Utsaimin) tidak
tahu (pula) apa yang tersisa untuk Allah Ta’ala dari ilmu, apabila kita
berbicara kepada Rasul shallallahu
‘alaihi wa sallam
dengan pembicaraan ini.
Sebentar wahai
saudaraku Muslim, kalau engkau bertaqwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla,
maka posisikanlah Rasulullah saw pada posisinya yang telah ditempatkan oleh
Allah bahwa dia adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya. Maka katakanlah, dia adalah
Abdullah wa Rasuuluh (hamba Allah dan utusan-Nya). Dan percayalah kepada apa
yang diperintahkan Tuhannya kepadanya untuk menyampaikannya kepada manusia
secara umum.
Katakanlah:
“Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan
tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu
bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan
kepadaku.
(QS Al-An’aam: 50).
Dan apa yang diperintahkan Allah
kepadanya dalam firman-Nya:
Katakanlah:
“Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatanpun kepadamu dan
tidak (pula) sesuatu kemanfa`atan”. (QS Al-Jinn: 21).
Katakanlah: “Sesungguhnya aku sekali-kali tiada
seorangpun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali tiada akan
memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya“. (QS Al-Jinn/
72: 22).
Sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
pun kalau Allah menghendaki sesuatu padanya maka tidak ada seorangpun yang
melindunginya dari Allah subhanahu wa ta’ala.
Kesimpulannya,
bahwa hari-hari besar atau perayaan-perayaan maulid Rasul
shallallahu ‘alaihi wa sallam itu tidak terbatas pada asli keadaannya
itu bid’ah bikinan baru, awal kejahatan agama, tetapi masih ditambah lagi
dengan sesuatu kemunkaran yang membawa kepada kemusyrikan.[Hartono Ahmad Jaiz, Adat
yang Rawan Bid’ah dan Kemusyrikan,nahimunkar.com18 August 2008].
Begitu juga
halnya dengan ziarah kubur, banyak praktek tradisi yang tidak sesuai dengan
ajaran islam, ziarah yang mengandung bid’ah, kurafat dan syirik. Hal itu
nampaknya dibenarkan karena sudah berlansung sekian abad, apalagi tokoh-tokoh
yang melakukan orang-orang penting sebagai contohnya yaitu ulama dan para
kiyai.
Ziarah
kubur yang disyari’atkan dalam Islam adalah berziarah ke kubur Muslimin, dan
mengucapkan salam atas mereka, mendo’akan untuk mereka agar diberi ampunan dan
maghfirah, sebagaimana terdapat dalam hadits-hadits. Dan hendaklah kamu
mengambil pelajaran (i’tibar) dengan keadaan mereka dahulunya bahwa mereka dulu
begini dan begitu, mereka adalah nabi -nabi, wali-wali, orang-orang shalih,
raja-raja, umara’ (pemimpin pemerintahan) dan orang-orang kaya. Mereka telah
mati, telah dipendam, telah menjadi tanah, dan mereka telah menjumpai apa yang
telah mereka perbuat baik berupa kebaikan atau keburukan.
Jadi,
ziarah kubur itu tidak untuk mengambil pelajaran dan menebalkan sikap
meterialistis yang mementingkan kehidupan dunia ini. Karena kehidupan di dunia
ini adalah tipuan dan tidak kekal, sedangkan kita semua akan mati dan akan
dikubur. Maka sebaiknya kita tidak tertipu oleh gebyar dan kesenangan
dunia.Inilah hakikat ziarah kubur yang syar’i itu.
Ziarah
kubur yang syirkiyah
Adapun
ziarah kubur yang syirkiyah atau menyekutukan Allah dan sangat dilarang dalam
Islam adalah apabila peziarah menciumi kuburan, atau sujud di atasnya, atau
mengusap-usapnya, atau memanggil-manggil penghuninya, atau minta pertolongan
padanya (istighatsah dengan kubur), atau minta keselamatan (istinjad) padanya,
atau bernadzar (misalnya kalau sukses usahanya maka akan mengadakan
penyembelihan) untuk kubur, atau menyangka/ meyakini bahwa (mayit) yang dikubur
itu bisa memberi manfaat atau mudharat padanya.
Ziarah kubur yang model ini adalah bertentangan dengan hikmah disyari’atkannya ziarah kubur itu sendiri.Bahkan itu adalah kenyataan yang dulunya diperbuat oleh ahli jahiliyah.Oleh karena itu dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang ziarah kubur.
Menjauhi
syirik itu mutlak
Allah
memerintahkan semua manusia agar memurnikan ibadahnya hanya untuk Allah, sedang
Dia menciptakan seluruh manusia hanyalah untuk beribadah kepadaNya dengan
ikhlas. Sebagaimana Allah firmankan,
artinya: “Dan
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu.”
(Adz-Dzaariyaat/ 51:56).
Ketahuilah
bahwa ibadah itu tidak sah kecuali bersama tauhid (mengesakan Allah
Ta’ala).Sebagaimana shalat itu tidak sah kecuali beserta thaharah (suci) dan
wudhu’.Maka apabila kemusyrikan masuk ke dalam ibadah pasti rusaklah ibadah
itu, seperti halnya hadats apabila masuk ke dalam wudhu’ maka rusaklah
wudhu’nya.
Syirik
itu jika mencampuri ibadah maka merusak ibadah , dan menghapus pahala ketaatan,
hingga pelakunya termasuk penghuni neraka yang kekal di dalamnya.
Ketahuilah bahwa
di antara hal-hal penting yang wajib diketahui adalah: mengetahui syirik. Siapa
yang tidak tahu syirik boleh jadi dia terjatuh di dalam kemusyrikan, sedangkan
dia tidak tahu! Allah Ta’ala berfirman,
artinya:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni
segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendakiNya.”
(QS An-Nisaa’: 48, 116).
Dalam ayat tersebut Allah Ta’ala menjelaskan bahwa Dia tidak mengampuni hamba yang mati dalam keadaan musyrik. Dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi hambaNya yang Ia kehendaki.
Ayat
di atas menunjukkan bahwa syirik adalah sebesar-besar dosa.Karena Allah menjelaskan
bahwa Dia tidak mengampuni dosa syirik bagi orang yang belum bertobat (sebelum
kematiannya). Sedangkan dosa selain syirik maka ada di bawah kehendak Allah,
jika Dia berkehendak, maka Dia akan mengampuni, dan jika Dia berkehendak, Dia
akan menyiksanya karena dosanya itu. Dengan demikian wajib bagi setiap hamba
untuk takut pada kemusyrikan yang merupakan dosa terbesar itu.
Wajib
sama sekali atas setiap Muslim mengetahui dan menghindari syirik itu. Untuk
mengetahuinya di antaranya hendaklah dibaca risalah Al-Ushuuluts Tsalaatsah
(sudah diterjemahkan dengan penjelasannya, berjudul Penjelasan Kitab 3 Landasan
Utama), dan Kitab Tauhid karangan Syaikh Muhammad At-Tamimi (keduanya
diterbitkan oleh Darul Haq).
Dalam buku itu disebutkan firman Allah, artinya: “Sesungguhnya barangsiapa menyekutukan Allah maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga dan tempatnya adalah neraka, dan tidak ada seorang pun penolong bagi orang-orang yang dhalim.” (QS Al-Maidah: 72).
Dari Abdullah, ia berkata, aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dosa apa yang paling besar di sisi Allah? Nabi bersabda: “(Dosa terbesar) adalah engkau menjadikan tandingan (sekutu) bagi Allah sedangkan Dia lah yang menciptakanmu.”(HR Al-Bukhari dan Muslim).
Syaikh Muhammad Al-Utsaimin menjeaskan firman Allah yang artinya: “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu menyekutukanNya dengan sesuatu pun.” (An-Nisaa’: 36).
Dalam
ayat ini Allah memerintahkan agar manusia beribadah kepadaNya serta melarang
berbuat syirik.Dan ini mengandung pengertian bahwa penyembahan itu hanyalah
milik Allah semata.
Barangsiapa
tidak menyembah Allah maka dia kafir dan sombong.
Barangsiapa menyembah Allah tetapi juga menyembah selainNya, maka dia kafir dan musyrik.Barangsiapa menyembah Allah saja, maka dia orang Muslim yang sesungguhnya.[Kemusyrikan dan Ziarah Kubur,www.alsofwah.or.id 20 April 2010].
Barangsiapa menyembah Allah tetapi juga menyembah selainNya, maka dia kafir dan musyrik.Barangsiapa menyembah Allah saja, maka dia orang Muslim yang sesungguhnya.[Kemusyrikan dan Ziarah Kubur,www.alsofwah.or.id 20 April 2010].
Praktek syirik bukan hanya di
pedesaan yang minim dari ilmu agama tapi juga kita temukan di perkotaan,
ironinya pelaku syirik itu orang-orang yang berpendidikan, dengan dalih
menghargai kebudayaan nenek moyang dan melindungi budaya.
Terhadap adat apa saja seharusnya seorang muslim sangat
selektif untuk memilah dan memilihnya, kita tidak mungkin menyingkirkan semua
tradisi adat karena ada hal-hal positif yang
bisa diambil, dan kitapun tidak bisa mengambil semua tradisi itu karena
tidak sedikit tradisi itu yang berbau syirik, mengandung bid'ah, kurafat dan
tahyul, layaknya ialah, kita ambil tradisi yang tidak bertentangan dengan
ajaran islam kemudian kita singkirkan segala tradisi yang tidak cocok dengan
nilai-nilai islam.Wallahu A’lam [Kampani Pariaman, 27 Syawal 11432.H/ 25 September
2011.M].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar