Rabu, 25 November 2015

38. Andai Aku Tahu Mengikuti Tradisi Berdosa



Orang merasa malu kalau sikap dan tindakannya bertentangan dengan adat, dan sangat marah sekali bila dikatakan kepadanya,"Tidak Beradat", tapi tidak begitu marah bila dia disebut "Tidak Beragama". Jauh sebelum islam hadir di Nusantara ini masyarakat kita sudah ada menganut suatu kepercayaan sebelumnya seperti Animisme dan Dinamisme, demikian pula merekapun telah menganut agama Hindu ataupun Budha sehingga sepak terjang kehidupannya tidak bisa lepas dari adat yang berbau agama sebelumnya, bukan tidak ada upaya da'wah yang dilakukan oleh para ulama dan da'i, tapi ketika gerakan da'wah itu digencarkan saat itu kita dalam penjajahan yang tidak menginginkan ummat ini cerdas sehingga para ulama dipenjara dan dibunuh sehingga ummat kehilangan petunjuk.

Tradisi itu dimiliki oleh setiap suku bangsa dengan coraknya masing-masing, yang dikenal dengan sebutan ”kebudayaan nenek moyang”. Pada saat ini sedang hangat-hangatnya agar generasi muda memelihara kelestariannya yang penuh dengan bid’ah, tahyul dan kurafa. Otak tak dapat untuk berfikir, perasaan tak dapat untuk mempertimbangkan lagi, segalanya nampak baik, nampaknya praktek ibadah padahal praktek bid’ah,sehingga terjadilah percampuran antara ibadat dengan adat, yang haq dengan yang bathil.
Ummat  Nabi Ibrahim menyembah berhala karena ajaran nenek moyang mereka, sebagaimana dialoq dengan ayah dan ummatnya;

"Ketika ia Berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Apakah yang kamu sembah?" Mereka menjawab: "Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya".  Berkata Ibrahim: "Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)?,  Atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudharat?" Mereka menjawab: "(Bukan Karena itu) Sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian".  Ibrahim berkata: "Maka apakah kamu Telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, Kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?,' [Asy Syu'ara 26;70-76]

Jadi penyembahan berhala yang dilakukan oleh ummat nabi Ibrahim bukan mereka tidak mengerti kalau hal itu tidak ada manfaatnya, namun semua dilakukan karena tuntutan adat dan sudah tradisi sehingga layak dilestarikan bahkan ada kepercayaan pula bila tradisi itu ditinggalkan maka akan datang kutukan atau laknat dari nenek moyang. Kita bisa saksikan bagaimana tradisi ketika ada orang yang meninggal dunia maka lebih banyak ritual adat yang dilakukan walaupun berbau ibadat seperti peringatan tiga hari , tujuh hari, seratus hari  dan seribu hari yang menguras dana tidak sedikit, membuang waktu sekian jam sehingga meninggalkan pekerjaan penting lainnya, bila tidak dikerjakan oleh sahibul hajat maka dia akan dicap orang yang menyia-nyiakan keluarga yang sudah meninggal bahkan dianggap yang meninggal itu mati anjing, begitu kejam kecaman bagi orang yang tidak taat kepada adat.

Ada saat-saat tertentu yang menjadi adat dan musim untuk diadakan perayaan atau peringatan ini dan itu yang tidak ada dasarnya dalam Islam.Juga ada musim-musim yang mereka jadikan hari-hari untuk beramai-ramai berdatangan ke kubur-kubur, lebih-lebih kuburan yang mereka anggap sebagai kuburan wali atau kuburan keramat.

Bulan Sya’ban yang dalam Islam disunnahkan banyak berpuasa, justru yang terjadi di masyarakat adalah banyaknya orang ke kubur-kubur, lebih-lebih setelah nishfu Sya’ban (pertengahan Sya’ban) sampai datangnya Ramadhan. Menjelang datangnya Bulan Ramadhan itu kubur-kubur apalagi yang dianggap kuburan wali atau keramat, berjubel manusia sampai 24 jam. Mereka “beri’tikaf” di kubur-kubur.Hampir bisa dibilang, masjid-masjid agak sepi, tetapi kubur-kubur sangat ramai. Saking ramainya, sebagai gambaran bukti, adik saya sempat bertanya kepada seorang tukang ojek di Kuburan Muria (Sunan Muria) di Gunung Muria Jawa Tengah bagian utara, Sya’ban 2007M/ 1428H.

“Berapa penghasilan Anda ketika ngojek sampai 24 jam saking ramainya pengunjung ke kuburan semacam ini?” Tanya adik saya kepada tukang ojek yang mangkal di pangkalan menjelang Kuburan di Gunung Muria. Untuk ke kuburan itu pengunjung harus naik lagi dari pangkalan ojek tempat berhentinya mobil ke kuburan sejauh 2 km, ongkos ojek untuk naik ke kuburan itu Rp6.000,- dan turun dari kuburan ke pangkalan Rp6.000,- pula.

Tukang ojek itu mengaku: “Saya sehari semalam sampai mendapat Rp3 juta, Mas!” katanya mantap.
“Benar, sampai mendapat Rp3 juta sehari semalam?”Tanya adik saya dengan ta’ajub.
Saestu, Mas!”(Benar, Mas!), jawab tukang ojek itu serius.

Demikianlah sebuah gambaran betapa berjubelnya manusia yang hilir mudik berdatangan ke kuburan menjelang Ramadhan, siang malam, sampai tukang ojeknya bekerja siang malam dan menghasilkan duit Rp3 juta, sehari semalam itu, sebanding dengan harga 25-an gram emas murni.

Apa yang mereka perbuat di pekuburan itu? Saya sendiri pernah menyaksikan rombongan yang datang ke Kuburan Ampel di Surabaya.Kepala rombongan yang tampaknya ustadz mereka, memberi aba-aba sambil berdiri menghadap jama’ahnya yang duduk bershaf-shaf di sela-sela kuburan, bagai anak sekolah sedang apel upacara bendera namun dalam keadaan duduk. Sang Guru itu memberi aba-aba kepada jama’ahnya dengan tangan mengacung-acung persis dirigent yang memberi aba-aba untuk nyanyi di kalangan para penyanyi. Maka jama’ah itupun serempak mengikuti aba-aba gurunya dengan menyanyikan Ya Robbibil, syair bermasalah menyangkut aqidah, yang sudah biasa mereka jadikan “lagu wajib” ketika memulai pengajian.Hanya saja kali ini mereka nyanyikan di kuburan. Padahal nyanyian syair itu bermasalah menyangkut aqidah, yaitu berisi bait-bait Burdah karangan Al-Bushiri yang dipersoalkan oleh ulama, karena ghuluw, melampaui batas dalam menyanjung Nabi Muhammad saw.
Syekh Shalih Ibnu ‘Utsaimin telah menyoroti bait-bait Burdah Bushiri (penyair Mesir 608-695H aktif dalam tasawuf dan terkenal syairnya: Burdah di antara isinya):
Wahai makhluk paling mulia, tidak ada bagiku tempat berlindung selainmu
Ketika terjadi peristiwa yang berat
Jika di akheratku ia tidak menolongku
Maka kukatakan: wahai diri yang celaka
Sesungguhnya di antara kemurahanmu adalah dunia dan kenikmatannya
Dan di antara ilmu-ilmumu adalah ilmu Lauh dan Qalam.
(Komentar Syaikh ‘Utsaimin):
Sifat-sifat seperti ini tidak sah kecuali bagi Allah ‘Azza wa Jalla. Dan saya heran kepada orang yang mengatakan perkataan ini, jika dia memikirkan maknanya, bagaimana merasa enak pada dirinya untuk berkata sebagai orang yang bicara kepada Nabi saw:
Sesungguhnya di antara kemurahanmu adalah dunia dan kenikmatannya.Lafal min (di antara) itu maknanya untuk bagian.Lafal dunia itu adalah dunia, dan lafal dhorrotiha itu adalah akherat. Apabila dunia dan akherat itu adalah sebagian dari kemurahan Rasul alaihis sholatu wassalam, dan bukan keseluruhan kemurahannya, maka apa yang tersisa bagi Allah ‘Azza wa Jalla, tidak ada sisa bagiNya sedikitpun mungkin, tidak (ada sisa) dalam hal dunia dan tidak pula dalam hal akherat.
Demikian pula ucapannya (Bushiri):Dan di antara ilmu-ilmumu adalah ilmu Lauh dan Qalam.

Lafal min (di antara/ sebagian dari) itu untuk bagian. Saya (‘Syaikh ‘Utsaimin) tidak tahu (pula) apa yang tersisa untuk Allah Ta’ala dari ilmu, apabila kita berbicara kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pembicaraan ini.
Sebentar wahai saudaraku Muslim, kalau engkau bertaqwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka posisikanlah Rasulullah saw pada posisinya yang telah ditempatkan oleh Allah bahwa dia adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya. Maka katakanlah, dia adalah Abdullah wa Rasuuluh (hamba Allah dan utusan-Nya). Dan percayalah kepada apa yang diperintahkan Tuhannya kepadanya untuk menyampaikannya kepada manusia secara umum.

Katakanlah: “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. (QS Al-An’aam: 50).
Dan apa yang diperintahkan Allah kepadanya dalam firman-Nya:
Katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatanpun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu kemanfa`atan”. (QS Al-Jinn: 21).
Katakanlah: “Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorangpun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya“. (QS Al-Jinn/ 72: 22).

Sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun kalau Allah menghendaki sesuatu padanya maka tidak ada seorangpun yang melindunginya dari Allah subhanahu wa ta’ala

Kesimpulannya, bahwa hari-hari besar atau perayaan-perayaan maulid Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam itu tidak terbatas pada asli keadaannya itu bid’ah bikinan baru, awal kejahatan agama, tetapi masih ditambah lagi dengan sesuatu kemunkaran yang membawa kepada kemusyrikan.[Hartono Ahmad Jaiz, Adat yang Rawan Bid’ah dan Kemusyrikan,nahimunkar.com18 August 2008].

Begitu juga halnya dengan ziarah kubur, banyak praktek tradisi yang tidak sesuai dengan ajaran islam, ziarah yang mengandung bid’ah, kurafat dan syirik. Hal itu nampaknya dibenarkan karena sudah berlansung sekian abad, apalagi tokoh-tokoh yang melakukan orang-orang penting sebagai contohnya yaitu ulama dan para kiyai.
Ziarah kubur yang disyari’atkan dalam Islam adalah berziarah ke kubur Muslimin, dan mengucapkan salam atas mereka, mendo’akan untuk mereka agar diberi ampunan dan maghfirah, sebagaimana terdapat dalam hadits-hadits. Dan hendaklah kamu mengambil pelajaran (i’tibar) dengan keadaan mereka dahulunya bahwa mereka dulu begini dan begitu, mereka adalah nabi -nabi, wali-wali, orang-orang shalih, raja-raja, umara’ (pemimpin pemerintahan) dan orang-orang kaya. Mereka telah mati, telah dipendam, telah menjadi tanah, dan mereka telah menjumpai apa yang telah mereka perbuat baik berupa kebaikan atau keburukan.

Jadi, ziarah kubur itu tidak untuk mengambil pelajaran dan menebalkan sikap meterialistis yang mementingkan kehidupan dunia ini. Karena kehidupan di dunia ini adalah tipuan dan tidak kekal, sedangkan kita semua akan mati dan akan dikubur. Maka sebaiknya kita tidak tertipu oleh gebyar dan kesenangan dunia.Inilah hakikat ziarah kubur yang syar’i itu.

Ziarah kubur yang syirkiyah
Adapun ziarah kubur yang syirkiyah atau menyekutukan Allah dan sangat dilarang dalam Islam adalah apabila peziarah menciumi kuburan, atau sujud di atasnya, atau mengusap-usapnya, atau memanggil-manggil penghuninya, atau minta pertolongan padanya (istighatsah dengan kubur), atau minta keselamatan (istinjad) padanya, atau bernadzar (misalnya kalau sukses usahanya maka akan mengadakan penyembelihan) untuk kubur, atau menyangka/ meyakini bahwa (mayit) yang dikubur itu bisa memberi manfaat atau mudharat padanya.

Ziarah kubur yang model ini adalah bertentangan dengan hikmah disyari’atkannya ziarah kubur itu sendiri.Bahkan itu adalah kenyataan yang dulunya diperbuat oleh ahli jahiliyah.Oleh karena itu dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang ziarah kubur.

Menjauhi syirik itu mutlak
Allah memerintahkan semua manusia agar memurnikan ibadahnya hanya untuk Allah, sedang Dia menciptakan seluruh manusia hanyalah untuk beribadah kepadaNya dengan ikhlas. Sebagaimana Allah firmankan,
artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu.” (Adz-Dzaariyaat/ 51:56).

Ketahuilah bahwa ibadah itu tidak sah kecuali bersama tauhid (mengesakan Allah Ta’ala).Sebagaimana shalat itu tidak sah kecuali beserta thaharah (suci) dan wudhu’.Maka apabila kemusyrikan masuk ke dalam ibadah pasti rusaklah ibadah itu, seperti halnya hadats apabila masuk ke dalam wudhu’ maka rusaklah wudhu’nya.
Syirik itu jika mencampuri ibadah maka merusak ibadah , dan menghapus pahala ketaatan, hingga pelakunya termasuk penghuni neraka yang kekal di dalamnya.
Ketahuilah bahwa di antara hal-hal penting yang wajib diketahui adalah: mengetahui syirik. Siapa yang tidak tahu syirik boleh jadi dia terjatuh di dalam kemusyrikan, sedangkan dia tidak tahu! Allah Ta’ala berfirman,
artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendakiNya.” (QS An-Nisaa’: 48, 116).

Dalam ayat tersebut Allah Ta’ala menjelaskan bahwa Dia tidak mengampuni hamba yang mati dalam keadaan musyrik. Dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi hambaNya yang Ia kehendaki.

Ayat di atas menunjukkan bahwa syirik adalah sebesar-besar dosa.Karena Allah menjelaskan bahwa Dia tidak mengampuni dosa syirik bagi orang yang belum bertobat (sebelum kematiannya). Sedangkan dosa selain syirik maka ada di bawah kehendak Allah, jika Dia berkehendak, maka Dia akan mengampuni, dan jika Dia berkehendak, Dia akan menyiksanya karena dosanya itu. Dengan demikian wajib bagi setiap hamba untuk takut pada kemusyrikan yang merupakan dosa terbesar itu.

Wajib sama sekali atas setiap Muslim mengetahui dan menghindari syirik itu. Untuk mengetahuinya di antaranya hendaklah dibaca risalah Al-Ushuuluts Tsalaatsah (sudah diterjemahkan dengan penjelasannya, berjudul Penjelasan Kitab 3 Landasan Utama), dan Kitab Tauhid karangan Syaikh Muhammad At-Tamimi (keduanya diterbitkan oleh Darul Haq).

Dalam buku itu disebutkan firman Allah, artinya: “Sesungguhnya barangsiapa menyekutukan Allah maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga dan tempatnya adalah neraka, dan tidak ada seorang pun penolong bagi orang-orang yang dhalim.” (QS Al-Maidah: 72).

Dari Abdullah, ia berkata, aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dosa apa yang paling besar di sisi Allah? Nabi bersabda: “(Dosa terbesar) adalah engkau menjadikan tandingan (sekutu) bagi Allah sedangkan Dia lah yang menciptakanmu.”(HR Al-Bukhari dan Muslim).

Syaikh Muhammad Al-Utsaimin menjeaskan firman Allah yang artinya: “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu menyekutukanNya dengan sesuatu pun.” (An-Nisaa’: 36).

Dalam ayat ini Allah memerintahkan agar manusia beribadah kepadaNya serta melarang berbuat syirik.Dan ini mengandung pengertian bahwa penyembahan itu hanyalah milik Allah semata.

Barangsiapa tidak menyembah Allah maka dia kafir dan sombong.
Barangsiapa menyembah Allah tetapi juga menyembah selainNya, maka dia kafir dan musyrik.Barangsiapa menyembah Allah saja, maka dia orang Muslim yang sesungguhnya.[Kemusyrikan dan Ziarah Kubur,www.alsofwah.or.id 20 April 2010].

            Praktek syirik bukan hanya di pedesaan yang minim dari ilmu agama tapi juga kita temukan di perkotaan, ironinya pelaku syirik itu orang-orang yang berpendidikan, dengan dalih menghargai kebudayaan nenek moyang dan melindungi budaya.

Terhadap adat apa saja seharusnya seorang muslim sangat selektif untuk memilah dan memilihnya, kita tidak mungkin menyingkirkan semua tradisi adat karena ada hal-hal positif yang  bisa diambil, dan kitapun tidak bisa mengambil semua tradisi itu karena tidak sedikit tradisi itu yang berbau syirik, mengandung bid'ah, kurafat dan tahyul, layaknya ialah, kita ambil tradisi yang tidak bertentangan dengan ajaran islam kemudian kita singkirkan segala tradisi yang tidak cocok dengan nilai-nilai islam.Wallahu A’lam [Kampani Pariaman, 27 Syawal 11432.H/ 25 September 2011.M].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar