Tidaklahberlebihanbiladinyatakanbahwatanpaorangtuamakatidakada
pula anak, artinyakehadirananakselainmemangditakdirkan Allah,
jugamerupakanrentetankehidupandariseorang ayah danseorangibu, yang mengandung,
melahirkandanmembesarkansibuahhatinya, pentingnyakeberadaanorangtua yang
berdekatandengan Allah tergambardalamhaditsRasulullah, "Keridhaan Allah
tergantungkepadakeridhaankedua orang tuadanmurka Allah pun
terletakpadamurkakedua orang tua."(HR. Al Hakim)
Dalam surat An Nisa’
4;36 Allah berfirman;"Sembahlah Allah dan janganlah kamu
mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang
ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang
dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil[295] dan hamba
sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan
membangga-banggakan diri,
Pada ayat tersebut tergambar bahwa seorang anak
berkewajiban unuk beribadah hanya kepada Allah Swt, seluruh hidupnya harus
bernuansa ibadah, tidak boleh menserikatkan Allah dengan sesuatu apapun karena
syirik itu merupakan kezhaliman yang besar, beribadah dengan motivasi/ niat
selain Allah maka dihadapan-Nya tidak ada artinya sama sekali. Sedangkan
kewajiban yang kedua adalah berbakti atau berbuat baik kepada kedua
orangtuanya, disini tergambar bahwa kebaktian kepada Allah harus diiringi
dengan kebaktian kepada orangtua, tidak sempurna ibadah seseorang kepada Allah
kalau dia durhaka kepada orangtuanya, demikian pula berbuat baik kepada
orangtua juga sia-sia sementara tidak beriman kepada Allah, disini tidak bisa
dipisahkan iman kepada Allah dengan berbuat baik kepada kedua orangtua.
Berbakti kepada kedua orangtua atau ”birrul walidain’’
dianjurkan oleh Allah Swt. Ia memerintahkan hal ini dan memuji sebagian
Rasul-Nya yang telah berbakti kepada kedua orangtuanya, untuk itu Ia berfirman
sehubungan dengan nabi Yahya As, ”Dan
seorang yang berbakti kepada kedua orangtuanya, dan bukanlah ia seorang yang
sombong lagi durhaka” [Maryam 19;14].
"SeorangdatangkepadaNabiSaw.
Diamengemukakanhasratnyauntukikutberjihad.Nabi Saw bertanyakepadanya,
"Apakahkamumasihmempunyaikeduaoranggtua?"Orang itumenjawab,
"Masih."LaluNabi Saw bersabda, "Untukkepentinganmerekalahkamuberjihad." (Mutafaq'alaih)
Nabi Saw melarangnyaikutberperangkarenadialebihdiperlukankedua orang tuanyauntukmengurusimereka.Padahal jihad merupakanamal yang besarpahalanyabahkanwafatdidalamnyadinnyatakanmatisyahid, tapiketikakondisitertentulebihutamamenjagaorangtua.
Nabi Saw melarangnyaikutberperangkarenadialebihdiperlukankedua orang tuanyauntukmengurusimereka.Padahal jihad merupakanamal yang besarpahalanyabahkanwafatdidalamnyadinnyatakanmatisyahid, tapiketikakondisitertentulebihutamamenjagaorangtua.
Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa ada seseorang yang bertanya
kepada Rasulullah Saw, ”Siapakah orang yang paling berhak ku baktikan diriku
kepadanya?”, Rasulullah menjawab,”Ibumu”, ia bertanya kembali,”Kemudian siapa
lagi?” Rasulullah menjawab,”Ibumu”, ia bertanya lagi,”kemudian siapa lagi?”
Rasulullah menjawab,”Ibumu”, ”Kemudian siapa lagi?”, Rasulullah
menjawab,”Ayahmu”. [HR.Bukhari dan Muslim].
Dari dialog sahabat dengan Rasulullah tersebut dinyatakan
bahwa berbakti kepada orangtua adalah satu kewajiban yang harus ditunaikan
seorang anak terutama kepada ibunya yang telah mengandung, melahirkan,
membesarkan dan mendidik dengan penuh kasih sayang. Seorangsahabatbertanya,
"YaRasulullah, siapa yang paling berhakmemperolehpelayanandanpersahabatanku?"Nabi
Saw menjawab, "ibumu...ibumu...ibumu, kemudianayahmudankemudian yang
lebihdekatkepadamudan yang lebihdekatkepadamu.".
Seorang ayah
datangkepadaRasulullahmenceritakanperangaianaknya yang mengadukandirinyakepadaRasulullahkarena
sang ayah mengambiluanganaknya, diamengatakansesuatuhalkepadabuahhatinya,
Rasulullahhanyamendengarkandenganpenuhperhatian; 'Akumengasuhmusejakbayidanmemeliharamuwaktumuda.
Semuahasiljerih-payahkukauminumdankauregukpuas.Bilakausakit di malamhari,
hatikugundahdangelisah, lantaransakitdanderitamu, akutakbisatidurdanresah,
bagaiakulah yang sakit, bukankau yang
menderita.Laluairmatakuberlinang-linangdanmeluncurderas.Hatikutakutengkaudisambarmaut,
padahalakutahuajalpastiakandatang. Setelahengkaudewasa, danmencapaiapa yang
kaucita-citakan, kaubalasakudengankekerasan, kekasarandankekejaman,
seolahkaulahpemberikenikmatandankeutamaan. Sayang...,
kautakmampupenuhihakayahmu,
kauperlakukandakusepertitetanggajauhmu.Engkauselalumenyalahkandanmembentakku, seolah-olahkebenaranselalumenempel
di dirimu ..., seakan-akankesejukanbagi orang-orang yang benarsudahdipasrahkan.'Selanjutnya
Jabir berkata:
"PadasaatituNabilangsungmemegangiujungbajupadaleheranakituserayaberkata:
"Engkaudanhartamumilikayahmu!" (HR. At-Thabaranidalam
"As-Saghir" dan Al-Ausath).
Baktianakkepadaorangtuanyabanyakhal
yang bisadilakukansehinggapeluangpahalamemangtersediauntuknyasebagaimana yang
disabdakanNabi, "Barangsiapaberhajiuntukkedua orang
tuanyaataumelunasihutang-hutangnyamakadiaakandibangkitkan Allah
padaharikiamatdarigolongan orang-orang yang mengamalkankebajikan.'' (HR.
Ath-Thabranidan Ad-DaarQuthni) Bahkanlebihjauhdariituperanorangtualah yang
menyebabkanselamatatautidaknya sang anak di akheratkelat. Rasulullah Saw ditanyatentangperanankedua
orang tua.Beliaulalumenjawab, "Merekaadalah (yang menyebabkan)
surgamuataunerakamu." (HR. IbnuMajah)
Di tengah masyarakat banyak kita saksikan anak-anak yang tidak dapat menunjukkan dirinya sebagai anak yang baik bahkan cendrung dia memperlakukan orangtuanya dengan kasar, sadis dan kejam tanpa peri kemanusiaan. Allah telah memperingatkan dalam firman-Nya,”Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ”ah” dan janganlah kamu membentaknya...” [17;23].
Di tengah masyarakat banyak kita saksikan anak-anak yang tidak dapat menunjukkan dirinya sebagai anak yang baik bahkan cendrung dia memperlakukan orangtuanya dengan kasar, sadis dan kejam tanpa peri kemanusiaan. Allah telah memperingatkan dalam firman-Nya,”Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ”ah” dan janganlah kamu membentaknya...” [17;23].
Ucapan ”ah, cis, hus ” saja tidak boleh apalagi sampai
membentak orangtua dengan kata-kata kasar. Mungkin anak tidak berkata ”ah” dan
juga tidak berkata kotor, tapi sikap
kesehariannya banyak menyakitkan orangtua, mencoreng nama baik keluarga, maka
inipun termasuk durhaka kepada orangtuanya. Termasukdosabesarseorang yang
mencaci-makiibu-bapaknya.Merekabertanya, "Bagaimana (mungkin) seorang
yang mencaci-maki ayah danibunyasendiri?"Nabi Saw menjawab,
"Diamencaci-maki ayah orang lain lalu orang itu (membalas) mencaci-makiayahnyadandiamencaci-makiibu
orang lain lalu orang lain itupun (membalas) mencaci-makiibunya. (Mutafaq'alaih)
Abdullah ibnu Mas’ud berkata, ”Aku bertanya kepada Rasulullah, amal perbuatan apakah yang paling disukai Allah ?” Rasulullah menjawab, ”Shalat pada waktunya”, aku bertanya kembali ”Kemudian apa lagi?”, Rasulullah menjawab, ”Berbaktilah kepada kedua orangtua”, aku bertanya lagi ”Kemudian apalagi?” Rasulullah menjawab, ”Berjihad di jalan Allah” [HR. Bukhari dan Muslim].
Dari hadits ini Rasulullah mengklasifikasikan tiga amalan
yang utama, yang nomor dua adalah berbakti kepada kedua orangtua, bahkan
berjihad termasuk dalam deretan yang ketiga, karena demikian pentingnya
berbakti kepada kedua orangtua dibandingkan berjihad. Seorang datang kepada
Rasulullah untuk pergi jihad, tapi dia berat untuk meninggalkan orangtuanya
yang hanya sebatang kara, sementara itu diapun siap untuk syahid dalam
jihad, maka Rasulullah menunda keberangkatan jihad untuk pemuda itu, khusus
untuk dia diberi dispensansi untuk berbakti saja kepada orangtua dan itu
senilai dengan jihad.
Berbakti kepada orangtua banyak manfaatnya, diantaranya
dapat menebus dosa yang dilakukannya sebagaimana hadits berikut ini, ”Ada seorang lelaki yang datang kepada
Rasulullah lalu bertanya, ”Sesungguhnya aku telah melakukan suatu dosa besar,
apakah ada taubat bagiku?” Nabi balik bertanya, ”Apakah engkau mempunyai ibu?”,
lelaki itu menjawab, ”Tidak ada”, apakah engkau mempunyai bibi ? tanya Rasul.
Ia menjawab, ”Iya punya”, Maka berbaktilah kepadanya”, kata Rasulullah”
[HR. Turmuzi].
Dari beberapa ayat dan hadits diatas memang keberadaan
anak di dunia ini harus mempersembahkan sesuatu kepada kedua orangtuanya, bukan
sembahan berupa materi, kemewahan dan bukan pula pangkat serta kejayaan, tapi
persembahan; memperlakukan orangtua dengan santun, penuh kasih sayang dan penuh
perhatian, tanpa perantara mereka mustahil kita dapat hadir menikmati hidup
ini.
Kita melihat sirah Rasulullah dan para sahabatnya, pituah
Rasulullah wajib diikuti oleh setiap muslim. Memang ada seorang sahabat yang
datang menceritakan bagaimana orangtua memperlakukannya dengan kejam, kasar dan
tidak manusiawi, tapi Rasulullah memberi jawaban bahwa seorang anak tetap harus
menunjukkan santun dan baktinya kepada orangtua, walaupun dahulu orangtuamu
memperlakukanmu dengan buruk, bahkan mungkin dahulu kamu diiris-iris dengan
pisau sekalipun.
Yang jelas bagi seorang anak dia
berkewajiban untuk berbakti kepada ayah dan ibunya dan itu sudah cukup,
bagaimana ayah dan ibunya memperlakukannya dahulu maka itu tanggungjawab
orangtua kepada Allah, mereka nanti akan ditanya Allah bagaimana kewajibannya
mendidik, mengasuh, memberi pendidikan dan sebagainya kepada anaknya.
Rasulullah dalam sebuah hadits membuka mata orangtua, ”Berbuat baiklah kepada orangtuamu niscaya nanti anak-anakmu akan
berbuat baik kepadamu”. Kepada kita yang hari ini adalah seorang anak,
berbaktilah kepada orangtua kita kalau kita mau nanti dikemudian hari memiliki
anak-anak yang juga berbakti kepada kita, wallahu a’lam [Cubadak Solok,19 Syawal 1431.H/ 28
September 2010]
Referensi;
1.
1100 HaditsTerpilih (SinarAjaran Muhammad) - Dr. Muhammad FaizAlmath 2. 2.
HaditsArbain An Nawawi, SofyanEfendi, HaditsWeb 3.0,
3. Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
3. Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
4. Kumpulan Ceramah Praktis, Drs. Mukhlis
Denros, 2009


Tidak ada komentar:
Posting Komentar