Senin, 30 November 2015

87. Andai aku tahu Idul Fitri Berpahala



Ramadhan telah ditunaikan, dengan segala  keimanan rela menahan lapar dan haus, serta menghindarkan aktivitas seksual suami isteri yang sah di siang hari. Bagi orang yang berpuasa dia akan merasakan dan menemukan dua kegembiraan, yaitu gembira ketika berbuka puasa karena dahaga lepas setelah beberapa teguk air membasahi kerongkongan, lapar terobati setelah disuapi makanan, letih habis, capek hilang, tidak dapat dibayangkan dengan lukisan kata-kata betapa sejuknya hati ini ketika berbuka puasa.

            Kegembiraan kedua, yaitu ketika bertemu dengan Allah Swt di Padang Mashar dengan segala pertanggungjawaban di hadapan Mahkamah Yang Maha Adil sebagaiana Allah memfirmankan,”Semua amal yang dilakukan anak Adam adalah untuknya, sedangkan puasa yang dilakukannya adalah untukKu”, artinya pahalanya hanya Allah yang lebih tahu dan lansung diberikan kelak.

Dalam rangka menyambut hari raya tanggal 1 Syawal, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu;

1.Menyempurnakan Ibadah Puasa
Menghitung kembali hari-hari puasa yang tidak dilakukan karena beberapa hal, kemudian pada tahun ini juga harus dibayarkan dengan puasa pada hari dan bulan yang lain, sebagaimana anjuran Allah dalam surat Al Baqarah 2;184,”Hari-hari yang tertentu, jika diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan [lalu berbuka] maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain”.

2.Membayar Zakat Fithrah
Hikmah dari membayar zakat fithrah yaitu mensucikan orang yang berpuasa dari perbuatan, perkataan sia-sia dan keji selama puasa, zakat fithrah itu disalurkan kepada fakir miskin dengan batas waktu sebelum usai shalat Idul Fithri, dengan kadar 2,5 kilogram beras perjiwa atau sejenis makanan yang menyenangkan. Umar bin Khattab berkata,”Rasulullah Saw memerintahkan kami mengeluarkan zakat fithrah sebelum orang pergi shalat”.

3.Perhitungan Zakat Mal
Bagi ummat islam yang selalu memperhitungkan zakat harta pada bulan Ramadhan, hendaklah sebagian harta yang dimilikinya sebagai ummat yang wajib disampaikan kepada yang berhak menerimanya.  Karena dibalik harta itu terdapat hak fakir miskin, anak yatim dan lainnya. Allah tidak membenarkan bila orang yang beriman dan telah cukup nisab hartanya, lalu tidak memperhitungkan zakat yang harus dikeluarkannya.

4.Menyambut Idul Fithri dengan Gembira
Kegembiraan ini bukan diiringi dengan berbagai pesta meriah dengan mempersiapkan minuman dan makanan serta pakaian yang menggembirakan. Sambutlah Hari Raya Idul Fithri dengan kegembiraan, karena kita telah berhasil mengekang dorongan hawa nafsu selama satu bulan dengan ibadah puasa. Kedatangan Idul Fithri tidak layak ditakuti karena situasi ekonomi yang kurang menggembirakan, apalagi diiringi dengan pertengkaran antara suami isteri tidak tersedianya pakaian dan makanan untuk anak-anak.

5.Mengucapkan Takbir
Takbir akan bergema sejak masuknya Idul Fithri, yaitu setelah berbuka pada hari terakhir puasa Ramadhan sampai selesai shalat Idul Fithri, baik di rumah, di masjid maupun perjalanan menuju kelapangan untuk melaksanakan shalat. Al Qur’an pada surah Al Baqarah ayat 185 mengisyaratkan,”Supaya kamu besarkan dan agungkan asma Allah karena rasa syukur nikmat [yang telah diberikan Allah berupa pedoman hidup yaitu Al Qur’an”.Rasulullah Saw bersabda,”Hendaklah kamu siarkn hari raya dengan takbir” [HR. Thabrani dari Anas].

6.Jangan ke kuburan karena Hari Tertentu
Salah satu adat kebiasaan di Indonesia ialah melakukan ziarah pada hari-hari dan bulan-bulan tertentu, seperti hari akan menyambut puasa dan setelah selesai bulan Ramadhan, yang diiringi dengan manabur bunga dan menyiram air. Pada saat lebaran sehabis shalat Id, ummat islam berbondong-bondong ke kuburan dalam rangka ziarah kubur. Ajaran islam tidak melarang ziarah, bahkan disunnahkan oleh Nabi Muhammad Saw untuk mengingat mati, tapi janganlah dilakukan dengan aturan islam yang dibalut dan dipoles oleh adat nenek moyang. Ziarahlah sebagaimana  yang dituntunkan oleh sunnah Rasulullah Saw yang menganjurkan ziarah kubur itu kapan saja, hanya jangan ditentukan pada hari dan bulan tertentu, seperti pada saat menyambut Ramadhan atau Idul Fithri saja.

Rasulullah Saw  mengajarkan do’a ketika masuk kubur,’’Semoga Kesejahteaan tetap bagimu wahai ahli kubur kaum mukmunin dan muslimin, insya Allah kami akan bertemu denganmu, kami mohon kepada Allah untuk kami dan kamu”[HR.Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah].

7.Bersilaturahim
Lebaran tiba, adalah saat yang dapat digunakan untuk saling kunjung mengunjungi antara satu dengan lainnya, bahkan saat lebaran saja kegiatan ini dilakukan, pada hari lainpun tidak ada halangan. Pada saat ini saling menebur dosa dan memaafkan segala kesalahan, isteri mohon maaf kepada suami dan sebaliknya, anak mohon maaf kepada ibu dan bapaknya dan sebaliknya, hubungan dengan tetangga dijalin dengan silaturahim. Disamping itu satu hal yang tidak patut dilaksanakan ialah berjabat tangan antara pria dan wanita yang bukan muhrimnya. Jika bertemu antara satu dengan yang lain hendaklah saling mengucapkan tahniah yaitu ”Taqabbalallahu minna waminkum” semoga Allah menerima amal kami dan amal kamu” [HR.Jubair Ibnu Nufair].

            Akhir Ramadhan takbir bergema sejak dari surau yang berada di ujung kampung sampai masjid pencakar langit di tengah kota, berkumandang menyemarakkan Idul Fithri dengan mengagungkan Asma Allah dengan takbir. Zakat fithrahpun dikeluarkan sebagai rangkaian amaliah ibadah puasa Ramadhan dengan penyaluran kepada fakir miskin, agar dapat merasakan kegembiraan besok bersama dengan orang-orang islam lainnya.

            Disela-sela gema takbir masih terdapat beberapa orang yang harus berduka karena kemalangan yang menimpa, kesedihan ini akan tergurat lebar karena lebaran datang, sedangkan anggota keluarga tidak cukup mengelilingi mereka. Bagaimana jerit pilu seorang isteri di tengah keramaian takbir sementara suami berada jauh, entah dialam baqa atau jauh merantau mengadu nasib mencari rezeki. Bagaimana keadaan janda yang ditinggal suami tercinta, atau hati seorang ibu ketika anaknya tidak ada di sekitarnya, entah karena ditinggalkan selamanya atau menuntut ilmu di rantau tidak dapat hadir pada saat ini.

            Tidakkah kita    tahu bagaimana keras dan sempitnya kehidupan dalam penjara dibalik terali besi, pada saat itu ingin tenaga mendobrak jeruji serta menjebol tembok penjara untuk sedetik saja melihat sanak keluarga lalu bersama mereka merayakan Idul Fithri, tapi apa daya, kungkungan begitu keras, keadaan memaksa untuk menikmati lebaran dengan getir dalam kesendirian.

            Gema takbir masih memecah angkasa, kesedihan ditinggal suami dan anak tercinta, kepiluan dalam penjara, kedukaan dalam hidup dapat hilang dan luntur ditelan takbir [Allahu Akbar], tahmid [Alhamdulillah], tasbih [Subhanallah] dan tahlil [Lailaha illallah]. Kebesaran Allah dapat melepaskan diri dari kepiluan, kegetiran, kesedihan untuk ikut bersama-sama merayakan Idul Fithri dengan situasi dan kondisi apa adanya.

            Bagi orang yang mengamalkan hasil Ramadhan, tentunya jiwa sosialnya semakin tinggi setelah ditempa selama satu bulan untuk merasakan bagaimana rasanya lapar dan haus, bagaimana rasanya tidak makan sekian jam, apalagi mereka yang tidak menyentuh nasi sekian hari. Sehingga layak dan pantas kalau mereka mengangkat martabat fakir miskin, yatim piatu minimal di hari raya itu sementara takbir berkumandang, bjukan sekedar dengan zakat fithrah 2,5 kg, merdekakan mereka pada hari itu dari rasa sedih dan duka, karena papa dan kesengsaraan dengan mencukupi kebutuhannya sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah Saw.. Rasulullah pernah terlambat menunaikan shalat Idul Fithri karena berpapasan denan seorang bocah yang bermasalah, pakaiannya kumal, rambutnya kusut dan tidak terurus,”Kenapa kamu menangis sementara teman-temanmu sibuk dengan permainannya, pakaiannyapun bagus-bagus dan di tangannya da kue yang enak, dimana orangtuamu?”.

            Anak itu terkejut dengan datangnya seorang lelaki di hadapannya, dia tidak tahu kalau sedang berhadapan dengan Rasulullah,”Bagaimana saya tidak sedih, ayah saya sudah meninggal, ia syahid dalam peperangan mengikuti perintah jihad dari Rasulullah, sedangkan ibu saya sudah menikah lagi, mereka tidak memperhatikan saya...”, Keluhan lirih itu disambut oleh ajakan Rasulullah,”maukah engkau berayahkan Muhammad, beribukan Aisyah, bersaudarakan Fatimah dan bertemankan Hasan?”.

            Spontan anak itu menerima tawaran itu, Rasulullah mengantarkan anak itu pulang untuk dimandikan, diberi makan, diberi baju baru dan belanja layaknya seorang anak yang sedang merayakan Idul Fithri.

            Diantara gema takbir, Rasulullah telah mengangkat derajat seorang anak sebagai manusia yang mulia dengan penghormatan yang layak tanpa melecehkan keadaannya.

            Kemudian seandainya para hartawan dan dermawan islam yang ada di dunia ini mau dan mampu berbuat demikian, maka akan habislah kaum gelandangan, minimal mengurangi jumlah mereka, walaupun mereka dibebaskan pada hari lebaran saja, sudah suatu usaha yang patut dipuji, dalam surat Al Ma’un Allah berfirman,”Adakah engkau ketahui orang yang mendustakan agama ? maka demikian itu adalah orang yang mengusir anak yatim dan tiada menyuruh memberi makan orang miskin”.

            Orang yang mengusir anak yatim, dan tiada suka menyantuni orang miskin, dengan memberi makanan atau keperluan mereka adalah masuk golongan orang yang mendustakan hari pembalasan atau agama Allah; meskipun mereka mengaku, ia orang muslim sejati, karena tiadalah faedahnya perkataan itu, jika tiada disertai amal kebaikan.

            Diantara gema takbir, terdapat dua golongan manusia yang ikut merayakan Idul Fithri atau Idul Adha, yaitu golongan hartawan dengan segala fasilitas kemewahan, serta golongan miskin yang selalu dalam kekurangan. Mereka ingin diangkat martabatnya dengan uluran tangan dan santunan dari hartawan dan dermawan, karena mereka tahu dibalik harta si kaya ada haknya yang harus dikeluarkan untuk mereka.

            Biarkan takbir berlalu dengan gema dan kumandang yang Agung selama rintihan mereka dapat terobati, pengaduan mereka terjawab,kemiskinan mereka walaupun sejenak terlupakan. Derajat dan martabat merekapun terentaskan.
Keberhasilan Ramadhan tidak dapat dilihat ketika bulan Ramadhan tapi diketahui sebelas bulan setelah Ramadhan, sebagaimana aktivitas ummat ketika itu, Ramadhan berakhir bukan berarti selesai tugas ibadah, tapi lebih berat lagi yaitu memelihara nilai-nilai perjuangan Ramadhan sampai datang Ramadhan berikutnya. Bila kita tidak menjaganya berarti kita telah menyia-nyiakan ibadah selama ini. Kita beranggapan telah beribadah dengan pahala yang banyak akan tetapi di akherat kosong. Ibarat fatamorgana, seperti debu yang menempel pada batu yang licin, ketika hujan datang berhamburan atau seperti wanita yang menenun kain dimalam hari, saat pagi datang ia urai kembali sehingga kain berantakan, Allah menegaskan,”Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benang yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali...”[An Nahl 16;92].

            Dalam Idul Fithri setelah puasa sebulan penuh yang beriman dituntut untuk suci kembali dari segala kotoran, kesalahan, fikiran kotor, faham sesat dan dosa agar kesucian yang dimaksud secara lahir batin terujud maka ada enam kesucian yang harus dijaga sejak dari bulan Syawal sampai datangnya Ramadhan tahun depan.

            Pertama, suci dari kekuasaan hawa nafsu; hawa nafsu manusia cendrung mengarah kepada kesesatan dan kejahatan, dia tidak mengenal baik dan buruk, benar dan salah serta halal dan haram tapi mengenal menang dan kalah, untung dan rugi serta konsep tiga H yaitu Halal, Haram Hantam dalam meraih tujuan.

            Dengan puasa bahwa nafsu manusia cukup terkendali dengan baik, makanan walaupun milik sendiri dan sah menurut hukum tidak akan dimakan kalau belum datang saatnya, isteri walaupun sah menurut takaran syariat tidak akan dicampuri siang hari Ramadhan karena disamping membatalkan puasa juga akan kena denda / kefarat.

            Kesucian  dari  kekuasaan hawa nafsu inilah yang dikehendaki oleh Idul Fithri bukan hanya di bulan Ramadhan saja, kalau manusia dijajah oleh hawa nafsu dia berbuat bukan lagi karena Allah tapi karena mengharapkan popularitas berupa tepukan dan ”wah”, materi sebagai pengharapan pertama.

            kedua , suci dari dosa; dosa yang dilakukan manusia sebelum dihukum di akherat menjadi hukuman di dunia, bagai seorang penjahat yang menyelewengkan kekuasaan karena dihantui perasaan bersalah dia serahkan dirinya untuk dihukum. Anak yang durhaka kepada orangtua akan kembali kepada kebenaran karena dihantui oleh kesalahan, walaupun fikirannya dapat mengatasi dan aman, tidak ada masalah, tapi perasaan dan hati nuraninya tidak tentram.

            Dosa seseorang diampuni Allah bila menyesali perbuatannya, mengakui kesalahan dan menebus kesalahan dengan kebaikan, dia semakin dekat dan taat kepada Allah sehingga shalat yang dilakukan bukan sekedar sarana ibadah dan media terima kasih kepada Allah tapi sebagai hobi yang sulit untuk ditinggalkan. Dosa yang dilakukan masih diberi tangguh oleh Allah untuk bertaubat sebelum datang kematian sebagaimana Kazman yang mati dalam gelimang dosa, dia tidak sempat menghitung kesalahannya lalu tidak ada waktu untuk bertaubat.

            Menurut Rasulullah setiap orang yang berbuat dosa maka akan ada bekas hitam di hatinya sehingga hatinya tadi diliputi oleh dosa dan menhitam sehingga sulit untuk menerima kebenaran.

            Ketiga, kesucian dari fikiran; orang islam tidak boleh berfikiran seperti fikiran komunis, kapitalis atau fikiran orang kafir lainnya, dia harus berfikir secara islami sehingga timbul pada dirinya satu watak ”salamatul fikrah” yaitu fikiran yang selamat dari kontaminasi atau racun-racun orientalis dan sekularis.

            Orang yang berfikir sesuai dengan ilmu, bacaan dan informasi yang diterimanya, bila kita terbiasa dengan buku-buku yang berorientasi Barat dan melupakan buku-buku lain yang ditulis oleh ulama-ulama terkenal maka kita cendrung perpanjangan tangan dari orang-orang yang tidak islami.

            Dihari Idul Fithri segala fikiran yang kotor yang keluar  dari konsep Allah harus dijauhkan karena dari fikiran itu akan keluar ucapan dan tindakan yang kotor pula.

            Keempat, suci dari najis dan kotoran; untuk menunaikan ibadah segala anggota badan harus bersih, baik pakaian maupun tempat, orang islam paling sedikit harus mandi sekali dalam sehari demi menjaga kebersihan dan kesegaran badan. Pakaianpun harus bersih dari kotoran,walaupun tidak bagus apalagi baru tapi bersih lebih baik dan lebih enak dipandang daripada pakaian baru lagi mahal namun penuh dengan kotoran dan berbau tidak sedap.Menjaga kebersihan rumahpun perlu apalagi kamar mandi, itu semua menjaga kesehatan dan tidak kalah pentingnya adalah menjaga kebersihan lingkungan, di rumah seorang muslim tidak akan ditemui selokan yang tertimbun sampah yang dapat mendatangkan banjir.

            Kelima, suci dari niat; segala perbuatan manusia bermuara dari niat, bila niatnya baik maka baik pulalah hasilnya demikian pula dengan ibadah, kalau dilakukan karena Allah maka segala amalnya dihitung dan diperhitungkan Allah, ibadah karena niatnya mencari pujian manusia maka nilainya akan diperoleh dari manusia sendiri. Peristiwa hijrah adalah peristiwa besar demikian pula berjihad dijalan Allah maka balasannya syurga dari Allah, tapi kalau dilakukan karena manusia atau karena seorang kekasih maka pahalanya dari Allah tidak akan didapat.

            Manusia dalam berbuatpun kadangkala simpangsiur bahkan dalam beramal juga diliputi niat yang baik seperti naik haji sambil membeli barang dagangan, puasa biar lansing dan karena malas memasak, shalat tahajud diiringi dengan ronda menjaga rumah dan bersedekah agar pengemis cepat pergi, ibadah yang demikian nilainya dihadapan Allah tentu saja tidak sempurna, kesucian itupun setelah puasa diharapkan terujud di hati orang yang berpuasa.

            Keenam, suci dari keharaman harta benda; tidak semua harta yang kita miliki diperoleh dari jalan yang benar tentu saja ada yang dihasilkan dari jalan yang salah walaupun tanpa kita sadari. Minimal harta itu kita peroleh dari jenis yang syubhat, yaitu barang yang tidak jelas halal dan haramnya, orang yang baik kata Rasulullah adalah orang yang meninggalkan yang syubhat itu, harta syubhat bisa suci kembali bila kita banyak berinfaq, sedekah dan zakat, tapi harta  haram tidak bisa disucikan, harta ini memang harus disingkirkan.

            Kegiatanrutin yang dilakukanummatislamselamabulanRamadhandiantaranyapuasa, shalatmalam [tarawih], shalatberjamaah, membaca Al Qur’an, sedekah, pengajian-pengajiandan lain-lainnya. Kegiatan tersebut bila terbukti pula diluar bulan Ramadhan berarti pengkaderan selama satu bulan berhasil.

            Puasa yang dilakukan selama bulan Ramadhan dapat diselesaikan dengan baik, menahan lapar dan dahaga, serta menjauhkan segala yang membatalkan puasa, hal ini biasa dilakukan karena bulan puasa, bila tidak nampak dilakukan diluar bulan Ramadhan dengan puas nazar, puasa sunnat dan puasa qadhanya  tidak terujud kader yang baik.

            Shalat malam  yang dilakukan di bulan Ramadhan dengan tarawih biasa dan wajar, tapi apakah terlihat pula shalat malam tersebut dengan tahajudnya di luar bulan Ramadhan, bila puasanya baik tentu saja kegiatan ini akan berkelanjutan bukan di bulan Ramadhan saja.

            Orang mengejar shalat berjamaah di bulan Ramadhan karena pahalanya besar bahkan shalat sunat saja sama nilainya dengan shalat wajib di luar bulan Ramadhan. Tapi kerap kali bila Ramadhan berlalu tidak lagi shalat berjamaah diutamakan untuk dilakukan baik di masjid ataupun di rumah, begitu Ramadhan berlalu maka shalatpun menjadi nomor terakhir.

            Tabungan Ramadhan akan  penuh oleh infaq, sedekah dan santunan, orang yang memberi berbuka bagai yang puasa pahalanya sama dengan orang yang berpuasa, setelah puasa usai pula sedekah, infaq dan santunan jarang sekali terdengar, pembangunan masjid terhenti karena dana yang dihasilkan Ramadhan telah habis, terpaksa pembangunan dilanjutkan menanti Ramadhan berikutnya.

            Di bulan Ramadhan syiar islam nampak memancar dengan kegiatan tilawatil qur’an yang digemakan di masjid-masjid melalui qori dan qariah, baik selesai tarawih ataupun menjelang subuh, dimana-mana diadakan pengajian dan pengkajian islam dan Al Qur’an, setelah berlalu satu bulan mulia ini Al Qur’an disimpan di lemari yang paling tinggi, sekali-kali berkumandang ayat-ayat ini melalui kaset, tidak terdengar lagi suara merdu anak-anak mengaji dan mengeja Al Qur’an.

            Pengajian-pengajian semarak, dari kuliah subuh, kuliah taraweh sampai pengajian menjelang berbuka, begitu pula radio selalu mengudarakan ceramah-ceramah islam, tapi sayang hanya satu bulan, begitu Syawal menjelang Ramadhanpun tenggelam diiringi tenggelamnya segala aktivitas ummat.

            Orangtuapun sibuk membawa anak-anaknya untuk shalat di masjid, menyediakan makan sahur dan berbuka keluarga karena dihiasi oleh Ramadhan, perhatian orangtua ekstra ketat dibulan ini, terpanggil ayat Allah dalam surat At Tahrim 66;6 yang artinya,”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargam dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”.

            Sehubungan dengan ayat diatas Umar bin Khattab bertanya kepada Rasulullah,”Ya Rasulullah kami telah dapat memelihara diri kami, tetapi bagaimana caranya memelihara keluarga kami?” Jawab Rasul,”Kamu laranglah  mereka dari segala perbuatan yang dilarang Allah, dan perintahkan mereka mengerjakan pekerjaan yang diperintahkan Allah” [HR> Al Quraisyi].

            Sangat rugi orang yang tidak menjaga dirinya dari neraka, tidak terpuji orang yang hanya menjaga dirinya sementara keluarganya diabaikan, sangat bodoh orang yang menyelamatkan keluarganya sementara dirinya tenggelam dalam neraka.

            Bila segala kegiatan yang berlansung di bulan Ramadhan tidak dilanjutkan di luar bulan Ramadhan berarti tempaan, pengkaderan dan latihan di bulan ini sedikit hasilnya dan manfaatnya atau tidak berhasil dan tidak bermanfaat sama sekali. Seandainya dapat pula terlaksana dengan baik di bulan lain berarti tercapailah tujuan dari puasa yaitu meraih derajat taqwa. Taqwa adalah tingkatan tertinggi dalam ajaran islam setelah seseorang disebut dengan muslim, mukmin, muhsin dan mukhlis.

         Sifat yang harus tertanam setelah Ramadhan yaitu sabar, disiplin, kasih sayang,semakin dekat kepada Allah dan punya masa depan sebagai neraca pribadi, keluarga dan masyarakat,”Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan hari esok” [59;18]

Dihari Idul Fithri bukan pakaian saja yang baru dan baik tapi segala perlengkapan kehidupanpun harus baru lagi suci sebagaimana kata seorang sufi,”Yang dikatakan orang yang merayakan Idul Fithri itu bukanlah mereka yang mampu menyediakan serba baru, tapi bagi mereka yang mampu memperbaharui imannya”. Wallahu a'lam [CubadakSolok, 19 Ramadhan 1431.H/ 29 Agustus 2010]




Tidak ada komentar:

Posting Komentar