Kultusindividuartinyamenjadikanseseorang
yang dipuja, disanjung, dibesarkandandifigurkansecaraberlebih-lebihan, apakah
orang tersebutorangtua, guru, tokohmasyarakat, pemimpin, ulama, pendetabahkanmungkinNabi.Dalamislamkitabolehmemujiseseorangsebatasbenarapa
yang dilakukannya, kitajugabolehmemfigurkanseseorangselama orang
tersebutberbuatsesuaidenganaturandanmencontohkehidupanRasulullah. Islam
mengajarkankepadaummatnya agar janganmengkultuskandirisendiriwalaupunmemilikikelebihandalam
agama, apakahdiaseorangNabi,
ulamaataupunseorang yang shalehsebagaimanafirman Allah surat Ali Imran
3;79;
“Tidakwajarbagiseseorangmanusia yang Allah
berikankepadanya Al Kitab, Hikmahdankenabian, laluDiaberkatakepadamanusia:
"Hendaklahkamumenjadipenyembah-penyembahkubukanpenyembah Allah."
akantetapi (diaberkata): "Hendaklahkamumenjadi orang-orang rabbani,
karenakamuselalumengajarkan Al kitabdandisebabkankamutetapmempelajarinya”.
Pengkultusindividuan
yang dilakukanmasyarakatkepada orang-orang
tertentubanyakkitatemukandalamkehidupansehari,
bukanhanyasebatasmemujadanmenyanjung orang
tersebutsetinggilangittapikuburannyapundijadikansebagaisaranauntukmemulyakan
orang tersebutsecaraberlebih-lebihanhinggamenjadikanaktivitasitubergelimangdengansyirik,
bid’ahdankurafat.
Dalamrealiatassehari-hariH.Muh.Nur
Abdurrahman mengungkapkanbeberapabentukpengkultusan yang terjadi,
diamenyatakansebagaimanatulisannyaberikutini;
Firman Allah
SWT: “Makahariini Kami
selamatkanbadanengkau, supayamenjaditandabagi orang-orang sesudahengkau”
(10:92).
TatkalaFiraunmenjelangmautditenggelamkan
Allah SWT di dasarLautMerah, laluterjadilah dialog,
bahwaFiraunmenyatakanberimankepada Allah SWT, tetapi Allah SWT menjawab,
mengapabarusekarangmauberiman, danselanjutnya Allah SWT berfirmansepertiayat
(10:92). SiapakahFiraunitu yang ditenggelamkan Allah SWT?Nabi Musa AS
berhadapandengan 2 FiraundariDinasti ke-19, yaituFiraun Ra-Mose II (1298 -
1232) Seb.MdanFiraunMern-Ptah (1232 - 1224) Seb.M.FiraunMern-Ptahinilah yang
diselamatkanbadannya, kemudianmayatnyaterdampar di
pinggirLautMerahsebelahbarat, dipungutrakyatnya,
laludimumikan.Satu-satunyamumiFiraun di dalam museum di Cairo yang
mengandunggaramadalahmumiFiraunMern-Ptah.SepeninggalFiraunMern-Ptahterjadikhaos
di Mesirselama 24 tahun (1224 -1200) Seb.M.
Dalam museum
di Cairo tersimpansuratdariNabi Muhammad SAW dalamhuruf yang betul-betulgundul,
tidakbertitikdantidakberbaris“dari Muhammad hamba Allah danRasulNya,
kepadaMuqawqis, pembesarQibthi (Copti). SuratituditutupdenganFirman Allah SWT “Katakanlah, haiAhliKitab,
marilahkamu(berpegang) kepadakalimat yang sama di antara kami dankamu (bahwa)
tiada yang kitasembahselain Allah,
dantiadakitamempersekutukanNyadengansesuatupun,
dantiadasetengahkitamengangkatsetengahmenjadi puja-pujaanselain Allah.
Kalaumerekaberpaling, makakatakan, jadisaksilahkamu, bahwa kami orang-orang
Islam’’ (3:64).
Yattakhidzaba'dhuna-
ba'dhanarba-ban, setengahkitamengangkatsetengahmenjadi puja-pujaan, itulah yang
disebutkultusindividu, memuja orang.MuqawqispembesarCoptiberagamaNasranidengantheologialiran
Arius Alexander, yang tidakmengkultuskanNabi 'Isa AS, yang
tidakmenganuttrinitas, yang sekarangaliranitudikenaldenganunitarian Christian.
SuratNabi Muhammad SAW yang membukahubungandiplomatikantaraMadinahdengan Al
QahirahitumembuahkanperkawinanantaraNabi Muhammad SAW denganSitti Maria Al
Qibthi, yang melahirkan Ibrahim, yang meninggaltatkala di
Madinahterjadigerhanamataharipenuh.Untukmenghindarkankultusindividu, Nabi
Muhammad SAW mengeluarkanmaklumatbahwatidakadahubungannyaantarakematian Ibrahim
dengangerhanamatahari.
Baru-baruiniRoeslan
Abdul Ganimenyatakankegusarannya, dalamhubungannyadenganperingatan 100 tahun
Bung Karno, karenaadanyatendensiuntukmengkultusindividukan Bung Karno.
SedangkansemacamRoeslan Abdul Gani, yang dikenaldenganjulukanJubirUsman
(juru-bicaraManipol-Usdek), penganutsetiaajaran Bung Ksrnomenjadigusar, betapa
pula kita yang selektifterhadapajaran Bung Karno,
tentulogiskalaulebihgusarlagi.
Intiajaran
Bung Karnoterletakdalam "Pancasila" yang diperkenal-kannyapada 1 Juni
1945, yaitu: 1.Kebangsaan Indonesia. 2.Internasio-nalisme. 3.Mufakat.
4.KesejahteraanSosial. 5.Ketuhanan yang berkebuda-yaan. Sebelumnya, pada 29 Mei
1945, Mr.Moh.Yamintelahmengemukakanterlebihdahululimaasas, tetapiiabelumberikannama,
sepertiberikut: 1.Peri Kebangsaan. 2.PeriKemanusiaan. 3.PeriKe-Tuhanan.
4.PeriKerakyatan. 5.Kesejahteraan Rakyat. Dituliskandengan
"Pancasila" (di antaraduatandakutip), karena "Pancasila"
ala Bung Karnoitutidaklahkonstitusional, berhubungredaksionaldansusunansilanyaberbedadenganalinea
ke-4 Pembukaan UUD-1945.Silapertama, Ketuhanan Yang MahaEsa,
hanyadiletakkanpadaurutankelimadenganredaksionalKetuhanan yang berkebudayaan.
Asaskebangsaan
yang diletakkanpadaurutanpertamamempunyaikonsekwensilogismempersatukannasionalisme,
agama dankomunisme, yang disingkat Bung
KarnomenjadiNasakom.ArtinyapemerintahandengankoalisiNasakomitubercikal-bakaldari
"Pancasila" ala Bung Karno.PemerintahanNasakominimenjadikan
orang-orang komunis "naikdaun" danmencapakaiklimaxnyadenganpemberontakankomunisjilidkeduapada
30 September 1965, yang dihancurkanolehOrdeBaru.
SecarajujurpatutdihargaijasaOrdeBarudalamhalmenghancurkankomunisme.NamunkesalahanOrdeBarudenganmenanamkanpohon
KKN tidaklahdapatdimaafkan.Sehinggapatutdiwaspadai "come
back"-nyaOrdeBarudalampercaturanpolitik. Namun yang
haruslebihdiwaspadailagiialah "come back"-nyaOrde Lama denganajaran
Bung KarnoNasakom, yang bercikal-bakaldari "Pancasila" kelahiran 1
Juni 1945, yang meletak-kankebangsaanpadaurutanpertama yang
membuahkanNasakomitu.[H.Muh.Nur AbdurrahmanKultusIndividu, Makassar, 17 Juni 2001].
Pengkultusankepadasesuatudankepadaseseorangsudahberlansungsejakdahulukalabahkanmenjadikannyamelebihikekuasaan
Allah, halinidilakukanolehorang-orang jahiliyyahsebagaimana yang digambarkan
Allah dalamsuratYunus 10;18
”Dan mereka menyembah selain daripada
Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak
(pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "mereka itu adalah pemberi
syafa'at kepada kami di sisi Allah". Katakanlah: "Apakah kamu
mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak
(pula) dibumi?" Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka
mempersekutukan (itu)."[
Yunus 10;18]
Yang termasuk berdo'a kepada
orang shaleh adalah;
-
mengagungkan
orang shaleh dengan berlebihan
Pengagungan yang berlebihan itu hingga
mengkramatkan kuburannya dan menjadikan segala apa yang ada pada orang tersebut
dianggap dapat mendatangkan berkah seperti sisa air minum dan sisa makanan.
-
menganggap
orang shaleh itu dapat menyelamatkan
Sehingga dilakukanlah berbagai ritual di kuburan
orang shaleh tersebut untuk memohon syafaat dan berkah, hingga pembacaan Al
Qur’an dan melakukan shalat dalam kawasan makam itu, selain itu banyak hal
syirik lainnya yang dilakukan diantaranya menebar kembang sekian macam,
menyedekahkan makanan dan minuman di kubur tersebut serta bertapa didalamnya.
-
bernazar
kepada orang shaleh lewat kuburan
Allah hanya membolehkan kita bernazar pada hal-hal
yang sesuai dengan syariat saja, tapi pengkultusan itu terjadi dikala diniatkan
nazat kepada kuburan orang tertentu seperti orang-orang shaleh.
Dahulu Allah mengutus Uzair dan Isa sebagai
nabi untuk menyampaikan risalah
kebenaran kepada bangsa Yahudi dan Nasrani, tapi kemudian terjadi pengkultusan
sehingga kedua nabi ini mereka jadikan sebagai anak Tuhan.
"Orang-orang Yahudi berkata:
"Uzair itu putera Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al
masih itu putera Allah". Demikianlah itu Ucapan mereka dengan mulut
mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati
Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?[At Taubah 9;30].
Seperti halnya ajaran Syi’ah yang mengawali
kesesatannya dari pengkultusan terhadap Ali bin Abi Thalib yang dilakukan oleh
orang-orang yang berusaha untuk merusak aqidah islam seperti Abdullah bin
Saba’, dalam buku Diantara Aqidah Syi’ah, Menguak Kesesatan Aqidah Syi’ah yang
disusun oleh Syaikh Abdullah bin
Muhammad As-Salafimengungkapkanhalini;
Firqah ini tumbuh tatkala muncul seorang Yahudi
mendakwakan dirinya sudah masuk Islam, namanya Abdullah bin Saba'. Mendakwakan
kecintaan terhadap ahli bait, dan terlalu memuja-muji Ali, dan mendakwakan,
bahwa Ali punya wasiat untuk mendapatkan khalifah, kemudian ia mengangkat Ali
sampai ke tingkat Ketuhanan, hal ini diakui oleh buku-buku syi'ah sendiri.
Al Qummi berkata dalam bukunya "Al
Maqaalaat wal Firaq”: “Ia mengakui keberadaannya, dan menganggapnya orang
pertama yang berbicara tentang wajibnya keimaman Ali, dan raj’iyah Ali,
dan menampakkan celaan terhadap Abu Bakar, Umar dan Utsman serta seluruh
sahabat, seperti yang dikatakan oleh An Nubakhti di bukunya "Firaqus
Syi'ah". Sebagaimana Al Kissyi mengatakan demikian juga di bukunya
yang dikenal dengan "Rijaalul Kissyi". Pengakuan adalah tuan
argumen (argumen yang akurat), dan mereka-mereka ini semuanya adalah
syaikh-syaikh besar Rafidhah.”
Al Baghdadi berkata : “Kelompok Sabaiyah adalah
pengikut Abdullah bin Saba' yang telah berlebih-lebihan (dalam memuji) Ali, dan
mendakwakan, bahwasanya Ali adalah nabi, kemudian bersikap berlebih-lebihan
lagi, sehingga ia mendakwakan bahwasanya Ali adalah Allah.”
Al Baghdadi berkata juga : “Adalah ia (Abdullah
bin Saba') anak orang berkulit hitam, asal usulnya adalah orang Yahudi dari
penduduk Hirah (Yaman), lalu mengumumkan keislamannya, dan menginginkan agar ia
mempunyai kerinduan dan kedudukan di sisi penduduk negeri Kufah, dan ia juga
menyebutkan kepada mereka, bahwasanya ia membaca di Taurat, bahwa sesungguhnya
bagi tiap-tiap nabi punya orang yang diwasiatkan, dan sesungguhnya Ali adalah
orang yang diwasiatkan Muhammad Sholallahu ‘alaihi wassalam.”
Dan As Syahrastaani menyebutkan dari ibnu Saba',
bahwasanya ia adalah orang yang pertama kali menyebarkan perkataan keimaman Ali
secara nas / telah ditetapkan, dan ia menyebutkan juga dari kelompok Sabaiyah,
bahwa kelompok ini adalah firqah (golongan) yang pertama sekali
mengatakan masalah ghaibah dan akidah raj’iyah, kemudian syiah
mewarisinya setelah itu, meskipun mereka itu berbeda, dan pecahan golongan
mereka banyak. Perkataan tentang keimaman dan kekhilafan Ali merupakan nas dan
wasiat, itu merupakan dari kesalahan-kesalahan Ibnu Saba'. Yang akhirnya syi'ah
sendiri berpecah menjadi golongan-golongan dan perkataan-perkataan yang banyak
sampai puluhan golongan dan perkataan.
Begitulah syiah membuat bid'ah dalam perkataan
tentang keyakinan wasiat, raj’iyah, ghaibah, bahkan perkataan
menjadikan imam-imam sebagai tuhan, karena mengikuti Ibnu Saba' orang yahudi
itu.[Syaikh Abdullah bin Muhammad
As-Salafi,Penerjemah,MuhammadElviSyams,
Lc.,Sumberbukudarimaktabah Abu
Salma, http:dear.to/abusalma].
Kesesatansyi’ahitupadasatusisimengangkatnamaahlul bait
setinggi-tingginyadanmerendahkangolongan yang tidakahlul bait
serendah-rendahnya, sebagaimana yang disampaikanolehUstadz Abu Abdirrahman
al-Atsary Abdullah Zain dalam tulisannya berikut ini;
Ahlul bait adalah: keluarga Ali, ‘Aqil, Ja’far dan
Abbas. Tidak diragukan lagi (menurut Ahlus Sunnah) bahwa istri-istri nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk ahlul bait karena Allah subhanahu wa
ta’ala berfirman:
“Haiistri-istriNabi, kamusekaliantidaklahsepertiwanita yang lain,
jikakamubertakwa.Makajanganlah kalian
tundukdalamberbicarasehinggaberkeinginanlah orang yang adapenyakitdalamhatinya,
danucapkanlahperkataan yang baik, danhendaklahkamutetap di
rumahmudanjanganlahkamuberhiasdanbertingkahlakuseperti orang-orang jahiliah
yang dahuludandirikanlahsholat, tunaikanlah zakat dantaatilah Allah
danRasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksudhendakmenghilangkandosadarikamu,
(hai) ahlul bait danmembersihkankamusebersih-bersihnya.” (QS. Al Ahzab:
32-33)
Ayatinimerupakandalil
yang sangatjelasbahwaistri-istriNabishallallahu ‘alaihiwasallamtermasukahlul
bait (keluarga) nya.
Ahlusunnahmencintaidanmengasihiahlul
bait, mencintaidanmengasihiparasahabatNabishallallahu ‘alaihiwasallam.Akan
tetapimereka (Ahlusunnah) jugameyakinibahwatidakada yang
ma’shummelainkanhanyaRasulullahshallallahu ‘alaihiwasallam. Di
antarakeyakinanmerekajuga: wahyutelahterputusdenganwafatnyaNabishallallahu
‘alaihiwasallam, tidakada yang mengetahuihal yang gaibkecualihanya Allah
subhanahuwata’ala, dantidakseorang pun dariparamanusia yang
telahmatibangkitkembalisebelumharikiamat. Jadi,
kitaAhlusunnahmenjunjungtinggikeutamaanahlul bait danselalumendoakanmereka agar
senantiasamendapatkanrahmat Allah subhanahuwata’ala,
tidaklupakitajugaberlepasdiridarimusuh-musuhmereka.
Di pihaklain,
orang-orang Rafidhah (RafidhahadalahsalahsatujulukankelompokSyi’ah.
Julukaninidisebutkanolehulamakontemporermereka Al Majlisydalamkitabnya Bihar
al-Anwar hal 68, 96 dan 97.Kata-kata
Rafidhah berasal dari fi’il rafadha yang berarti menolak. Adapun asal muasal
mengapa mereka digelari Rafidhah, ada berbagai versi. Antara lain:
1. Karena mereka menolak
kekhilafahan Abu Bakar dan Umar.
2. Versi lain mengatakan karena
mereka menolak agama Islam. (lihat Maqalat al-Islamiyin, karya Abu al-Hasan
al-Asy’ary jilid I, hal 89).
Selain berlebih-lebihan dalam mengagung-agungkan
imam-imam mereka dengan mengatakan bahwasanya mereka itu ma’shum dan lebih
utama dari para nabi dan para rasul, mereka juga melekatkan sifat-sifat tuhan
di dalam diri para imam, hingga mengeluarkan mereka dari batas-batas
kemakhlukan! Tidak diragukan lagi bahwa ini merupakan sikap ghuluw
(berlebih-lebihan) yang paling besar, paling jelek, paling rusak dan paling
kufur.
Di antara sikap ekstrem mereka, klaim mereka bahwa
para imam mengetahui hal-hal yang gaib, dan mereka mengetahui segala yang ada
di langit dan di bumi, tidak terkecuali. Mereka mengetahui apa-apa yang ada
dalam hati, apa-apa yang ada dalam tulang belakang kaum pria dan apa-apa yang
ada dalam rahim kaum wanita. Mereka juga mengetahui apa yang telah lalu dan
yang akan datang hingga hari kiamat.
Al Kulainy dalam kitabnya al-Kaafi -yang mana ini
merupakan kitab yang paling shahih menurut Rafidhah-, dia telah mengkhususkan
di dalamnya bab-bab yang menguatkan sikap ekstrem tersebut. Contohnya: di jilid
I, hal 261, dia berkata, “Bab bahwasanya para imam mengetahui apa yang telah
lalu dan apa yang akan datang, serta bahwasanya tidak ada sesuatu apapun yang
tersembunyi dari pengetahuan mereka.” Dia juga telah meriwayatkan dalam halaman
yang sama dari sebagian sahabat-sahabatnya bahwa mereka mendengar Abu Abdillah
‘alaihis salam (yang dia maksud adalah Ja’far ash-Shadiq) berkata,
“Sesungguhnya aku mengetahui apa-apa yang ada di langit dan di bumi, aku
mengetahui apa-apa yang ada di dalam surya dan aku mengetahui apa yang telah
lalu serta yang akan datang.”
Dia juga berkata dalam jilid I, hal 258, “Bab bahwasanya para imam
mengetahui kapan mereka akan mati dan mereka tidak akan mati kecuali dengan
kemauan mereka sendiri.”
Di antara bukti-bukti sikap ekstrem orang-orang
Syi’ah, klaim mereka para imam memiliki kekuasaan untuk mengatur alam semesta
ini semau mereka; mereka bisa menghidupkan orang yang telah mati, juga
menyembuhkan orang yang buta, orang yang terkena kusta, kemudian dunia akhirat
milik para imam, mereka berikan kepada siapa saja sesuai dengan kehendak
mereka.
Al-Kulainy di jilid I, hal 470 meriwayatkan dengan
sanadnya dari Abu Bashir bahwa ia bertanya kepada Abu Ja’far ‘alaihis salam,
“Apakah kalian pewaris nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Dia menjawab,
“Benar!” Lantas aku bertanya lagi, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
pewaris para nabi mengetahui apa yang mereka ketahui?” “Benar!”, jawabnya. Aku
kembali bertanya, “Mampukah kalian menghidupkan orang yang sudah mati dan
menyembuhkan orang yang buta dan orang yang terkena penyakit kusta?” “Ya,
dengan izin Allah”, sahutnya.”
Husain bin Abdul Wahab dalam kitabnya ‘Uyun
al-Mu’jizat hal 28 bercerita bahwasanya, Ali pernah berkata kepada sesosok
mayat yang tidak diketahui pembunuhnya, “Berdirilah -dengan izin Allah- wahai
Mudrik bin Handzalah bin Ghassan bin Buhairah bin ‘Amr bin al-Fadhl bin Hubab!
Sesungguhnya Allah dengan izin-Nya telah menghidupkanmu dengan kedua tanganku!”
Maka berkatalah Abu Ja’far Maytsam, Sesosok tubuh itu bangkit dalam keadaan
memiliki sifat-sifat yang lebih sempurna dari matahari dan bulan, sembari
berkata, “Aku dengar panggilanmu wahai yang menghidupkan tulang, wahai hujjah
Allah di kalangan umat manusia, wahai satu-satunya yang memberikan kebaikan dan
kenikmatan. Aku dengar panggilanmu wahai Ali, wahai Yang Maha Mengetahui.” Maka
berkatalah amirul-mu’minin, “Siapakah yang telah membunuhmu?” Lantas orang
tersebut memberitahukan pembunuhnya.
Berkata al-Kasany dalam kitabnya ‘Ilm al-Yaqin fi
Ma’rifati Ushul ad-Din jilid II, hal 597, “Semua makhluk diciptakan untuk
mereka (para imam), dari mereka, karena mereka, dengan mereka dan akan kembali
kepada mereka. Karena -tanpa diragukan lagi- Allah subhanahu wa ta’ala
menciptakan dunia dan akhirat hanya untuk mereka. Dunia dan akhirat untuk
mereka dan milik mereka. Para manusia adalah budak-budak mereka!”
Dengarlah salah seorang syaikh mereka Baqir
al-faly yang mengatakan bahwasanya Nabiyullah Isa ‘alaihis salam mendapatkan
kehormatan untuk menjadi budak Ali rodhiallahu ‘anhu, “Wahai para manusia,
beberapa hari yang lalu telah dirayakan hari kelahiran Isa al-Masih, yang telah
mendapatkan kehormatan untuk menjadi budak Ali bin Abi Thalib!”
Berkata Imam mereka Ayatullah al-Khomeini di dalam
kitabnya Al-Hukumah al- Islamiyah hal 52, “Sesungguhnya para Imam memiliki
kedudukan terpuji, derajat yang tinggi dan kekuasaan terhadap alam semesta, di
mana seluruh bagian alam ini tunduk terhadap kekuasaan dan pengawasan mereka.[Virus
Syi’ah Waspadalah, Biarkan Syi’ah Bercerita tentang Kesesatan Agamanya, Ustadz Abu Abdirrahman al-Atsary Abdullah
Zain(Mahasiswa S2, Universitas Islam Madinah).
Kultus individu juga nampak pada masyarakat islam
tradisional, mereka mengkultuskan para ulama yang shaleh dengan julukan wali,
dianggap memiliki keramah dan berkah yang dapat diberikan kepada orang-orang
yang mencintainya, menjadikan kubur-kubur mereka sebagai tempat mengadu dan
bernazar, ramai dikunjungi pada hari-hari tertentu apalagi dibulan Ramadhan
hari-hari besar islam lainnya, hal itu tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah
dan para ulama yang shalehpun tidak pernah mengajak ummat islam melakukan itu,
tapi kebodohan ummatlah yang melanggengkan kultus individu tersebut, padahal
segala syirik yang dilakukan mengantarkan seseorang kepada kesesatan, Wallahua’lam [CubadakSolok, 14 Syawal
1432.H/ 12 September 2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar