Setiap tahun ummat islam merayakan dua
hari raya, pertama hari raya Idul Fithri yang dirayakan setelah satu bulan
melaksanakan ibadah puasa Ramadhan, yang kedua hari raya Idul Adha, yang
dikenal juga dengan hari raya Haji karena pada saat ini bagi ummat islam yang
mampu melaksanakan ibadah haji di Mekkah Al Mukarramah, dikatakan juga dengan
hari raya Qurban karena bagi ummat islam yang tidak melaksanakan ibadah haji
tapi ada kelebihan harta untuk menyembelih hewan kurban pada hari ini. Namun
kemeriahan Idul Adha yang jatuh pada bulan Zulhijah itu beda dengan kemeriahan Idul Fithri, padahal Idul
Adha sarat dengan pelajaran dan hikmah tidak kalah pentingnya dengan Idul
Fithri.
Diriwayatkan
oleh Al-Bukhari, Rahimahullah, dari Ibnu 'Abbas Radhiyallahu 'Anhuma bahwa Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Artinya : Tidak ada hari dimana
amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini,
yaitu : Sepuluh hari dari bulan DzulHijjah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah,
tidak juga jihad fi sabilillah ?. Beliau menjawab : Tidak juga jihad fi
sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya,
kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun"
Imam Ahmad, Rahimahullah,
meriwayatkan dari Umar Radhiyallahu 'Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda :"Artinya : Tidak ada hari yang paling agung dan amat
dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari
(DzulHijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid
".
Idul
Adha dilakukan sehari setelah pelaksanaan puncak ibadah haji, Wukuf Arafah,
ditunaikan oleh mereka yang sedang menunaikannya. Pada hari ini yang dinamai
sebagai hari "nahar" atau hari mengalirnya darah hewan korban, para
jema'ah haji mengalir (afadha dalam bahasa Qur'annya) ke daerah Mina untuk
melakukan pelemparan terhadap "Jamrah Aqabah" yang selanjutnya
dilanjutkan dengan tahallul awal sebagai tanda dihalalkannya kembali berbagai
hal yang diharamkan dalam rangkaian ihram, kecuali hubungan suami-isteri
(seksual).
Rangkaian
kata Idul-Adha yang terdiri dari dua kata itu berasal dari bahasa Arab.Kata
pertama Idul berasal dari kata "'aada-ya'uudu-awdatan wa 'iidan" yang
berarti kembali.Sedangkan Adha adalah kata kerja yaitu
"Adha-Yudhii-udhiyatan" yang berarti berkorban.Dengan demikian, idul
adha adalah suatu perayaan yang dilakukan oleh ummat sebagai tekad untuk
kembali kepada semangat pengorbanan.
Defenisi
ini tentu sangat sederhana. Namun saya yakin, jika kita kaji lebih jauh makna
filosofis yang ada padanya, akan kita dapati betapa hal ini sangat mendasar
dalam kehidupan kita. Dikatakan bahwa kehidupan ini adalah jihad atau
perjuangan (al hayaatu jihaadun), sedangkan setiap perjuangan membutuhkan
pengorbanan.Dengan demikian, sifat berkorban adalah sifat keharusan bagi setiap
insan.Sehingga kesadaran untuk kembali kepada sifat ini merupakan suatu
keharusan pula.
Dalam
konteks waktu pelaksanaannya, yaitu pada hari pelemparan Jumrah Aqabah
dilakukan oleh jama'ah haji, juga menunjukan bahwa salah satu bentuk pengorbanan
yang paling mendesak adalah pengrobanan dalam melakukan perlawanan tanpa akhir
dengan musuh-musuh kita. Sehingga perayaan idul adha juga berarti suatu
kesadaran sejati untuk melakukan perlawanan terhadap musuh-musuh manusia dalam
kehidupan ini.
Kali
ini, saya tidak akan menguraikan makna idul adha dari kata "adha" ini
sendiri, melainkan saya akan bertolak dari kata "Korban" yang lebih
dikenal di kalangan Muslim Indonesia. Korban dalam bahasa Indonesia
sesungguhnya juga berasal dari kata Arab "Qurbaan" yang asalnya
adalah "Qaruba-yaqrabu-qurbun wa qurbaan" (kedekatan yang sangat).
Kata
"qurbaan" adalah bentuk tafdhiil yang menunjukkan penguatan terhadap
sifat yang dikandung kata tersebut.Dengan demikian, kurbaan atau korban adalah
wujud kedekatan yang sangat tinggi.Sehingga dapat dikatakan bahwa dengan simbol
penyembelihan hewan seorang hamba diharapkan semakin dekat (qariib) dengan
Rabnya. Penyerahan pengorbanan dan tersimbahnya darah dari hewan adalah simbol
penyerahan hidup seorang hamba kepada Rabbul 'aalamin sekaligus pembuktian dari
ikrarnya: "Qul inna shalaati wa nusukii wamahyaaya mamaati lillahi Rabbil
'aalamiin" (sungguh shalatku, pengorbananku, hidup dan matiku adalah milik
Allah, Tuhan seluruh alam).
Melaksanakan
korban adalah bentuk ritual yang sedemikian suci dan tinggi yang menggambarkan
kedekatan seorang hamba terhadap Sang Khaliq.Seolah dengan segala keredhaan,
dipersembahkan yang tercinta (kasus Ibrahim dengan anaknya) dalam rangka meraih
keredhaan Ilahi.Sehingga pada akhirnya akan terpatri suatu hubungan yang
dibangun di atas landasan "Radhiyatun Mardhiyaatun" yaitu seorang
hamba yang memiliki jiwa yang redha lagi diridhai oleh Allah SWT"
Tingkatan kejiwaan seperti ini adalah puncak kejiwaan insan muttaqiin, sebagaimana
disebutkan dalam tingkatan-tingkatan tangga riyadhah nafsiyah (latihan
kejiwaan) dalam dunia tasawuf.
Penjelasan
kejiwaan seperti ini sendiri sejalan dengan makna lain yang dikandung oleh kata
"Adha" atau "Dhuha". Dalam bahasa Arab, selain berarti
pengorbanan, kata dhuha juga berarti suatu waktu di mana mentari sedang
menapaki jenjang awal dalam terbitnya. Maka dikenallah misalnya waktu dhuha
dengan shalat sunnah dhuhanya. Waktu ini secara khusus dinamakan dhuha, karena
pada masa ini merupakan awal mentari pagi menapaki jenjang-jenjang
kebarangkatannya menuju ufuk.
Artinya,
Pengorbanan yang dilakukan seorang Mu'min sesungguhnya juga merupakan mentari
jiwa dalam menapaki kehidupannya menuju alam kehidupan sejatinya.Diharapkan
dengan motivasi pengorbanan, jiwa semakin bersih, suci (muzakkah) sehingga
dapat berpaut dengan nuur cahaya Ilahi.Dengan jiwa bersih dan suci ini (qalbun
saliim) seorang Muslim manapaki sisa-sisa perjalanannya menuju Khaliqnya. Hanya
jiwa seperti ini yang dapat membawa manfaat di hari segala sesuatunya akan
sia-sia dan bahkan menjadi penyesalan (yawma laa yanfa'u maalun wa laa banuun,
illa man atallaha biqalbin saliim).[M. Syamsi Ali, Idul Adha dan Realita Ummat,
Ktpd isnet.1999-2005].
Ketika
kita membuka kembali hikmah yang terkandung dalam idul adha maka didalamnya
banyak makna pengorbanan atau tadhiyah yang memotivasi seorang muslim
melakukannya, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim beserta keluarganya.
Bahkan pengorbanan tidak hanya oleh didapat pahalanya bagi pelakunya saja tapi siapa
saja yang terlibat didalamnya ada investasi kurban didalamnya.
Rasulullah saw. bersabda,
“Siapa yang memberi perbekalan kepada orang yang akan berperang maka sungguh
dia telah (turut) berperang. Dan siapa yang memberikan bekal bagi keluarga yang
ditinggalkan (oleh orang yang berjihad) maka sungguh ia telah (turut)
berperang.” (Muslim)
Sabdanya pula, “Jihad yang
utama adalah perkataan yang benar (dalam riwayat lain: perkataan yang adil,
pen.) di hadapan penguasa zalim.” (At-Tirmidzi dan Al-Hakim)
Hadits ini memberikan
apresiasi kepada siapa saja yang memberikan kontribusi dan tadhhiyyah
(pengorbanan) bagi kemenangan dakwah. Ternyata yang mendapat posisi
sebagai orang yang berjihad tidak hanya orang-orang yang terjun langsung di
medan laga melainkan semua pihak yang turut mensukseskan proyek dakwah dan
jihad itu. Hadits ini juga membuka fikiran kita tentang betapa banyaknya
peluang kita untuk bertadhhiyyah.
Tentu saja segala pengorbanan
itu tidak akan sia-sia. Allah akan membeli segala yang dipersembahkan oleh
orang beriman dengan surga. Allah swt.berfirman, “Sesungguhnya Allah telah
membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga
untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau
terbunuh.(Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil
dan Al-Qur’an.Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada
Allah?Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan
itulah kemenangan yang besar. (At-Taubah: 111)
Sungguh besar kasih sayang dan
penghargaan Allah kepada orang yang mau berkorban.Harta dan jiwa adalah milik
Allah.Dia berikan kepada manusia sebagai modal dalam percaturan hidup. Yang mau
mengorbankannya dalam rangka mencari rido Allah mendapat laba yang tidak
tertandingi oleh harga apa pun: surga! Dan karenanya, pengorbanan dengan kedua
hal itu dijadikan-Nya sebagai indikator adanya keimanan sejati.Firman-Nya,
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada
Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan
harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang sejati
(imannya).” (Al-Hujurat: 15)
Ummu Harom Bintu Milhan adalah
salah satu contoh dalam tadhhiyyah. Saat Rasulullah
saw. menceritakan bahwa dirinya bermimpi tentang sejumlah kaum Muslimin yang
berperang melintasi laut, Ummu Haram mengatakan, “Ya Rasulullah, doakanlah saya
kepada Allah agar menjadikan saya sebagai bagian dari pasukan itu.” Rasulullah
saw. menyahut, “Engkau termasuk rombongan pertama.” Dan benar saja, jauh
setelah meninggal Rasulullah saw. yakni pada masa Utsman Bin ‘Affan, Ummu Harom
masuk dalam pasukan perang pertama yang diutus oleh khalifah ke Cyprus. Dan di
negeri itulah wanita mulia itu mendapatkan penghargaan dari Allah swt.: mati
syahid.
Abu Ayyub Al-Anshari –semoga
Allah meridoinya- mengisahkan, “Setelah Allah memberikan kejayaan kepada Islam,
para pengikutnya bertambah banyak, maka kami saling berbisik sesama kami,
‘Harta kita sudah ludes dan Allah sudah memenangkan Islam. Bagaimana kalau kita
cuti sejenak dari jihad untuk mengurusi kembali urusan bisnis, ladang, ternak.’
Lalu mereka menghadap kepada Rasulullah saw. untuk mengajukan izin cuti dari
jihad dan pengorbanan. Lalu turunlah ayat Allah swt., “Dan berinfaklah kalian
di jalan Allah. Dan janganlah kalian mencampakkan diri kalian ke dalam
kebinasaan.” (Al-Baqarah: 195). Abu Ayyub selanjutnya menjelaskan, “Kebinasaan
adalah bila kami terbelenggu dengan harta dan meningalkan jihad.”
Memperhatikan penjelasan Abu
Ayyub itu kita dapat menyimpulkan bahwa ayat di atas ditujukan bukan kepada
orang-orang yang sedang berpangku tangan bertopang dagu.Melainkan justeru
kepada para sahabat yang telah habis-habisan berjuang, berdakwah, dan
berjihad.Jadi pesan tegas ayat itu adalah memerintahkan kaum Muslimin untuk
tidak berhenti melakukan pengorbanan. Maka kita pun menemukan dalam sejarah
sikap mental yang teramat indah pada diri para sahabat nabi: siap berkorban
dengan apa saja demi tegaknya kalimatullah.[Berkorban Untuk Kemenangan, dakwatuna.com.5/7/2008
| 02 Rajab 1429 H].
Di bulan ini kita juga akan
menyaksikan kelak kepulangan ummat islam yang sudah kembali menunaikan ibadah
sebagai ujud perjuangan ke tanah suci, pengorbanan fisik, mental dan finansial
sudah dilakukan karena telah memenuhi panggilan Ilahi, sematan haji/ hajjah
juga secara otomatis disebutkan orang tapi yang penting adalah aapakah ibadah
haji yang dilakukan itu bermakna mabrur bagi pelakunya atau mabur [terbang]
tanpa makna.
Setiap Muslim pasti bercita-cita menunaikan rukun Islam
kelima, naik haji.Jika dihitung mulai kemerdekaan Indonesia 1945 hingga tahun
ini, berarti sudah 65 tahun penyelenggaraan ibadah haji.Setidaknya jutaan orang
sudah bergelar haji dan hajah, baik yang masih hidup maupun sudah meninggal.
Setiap tahun ratusan ribu kaum Muslimah berduyun-duyun
mengunjungi rumah Allah SWT.Tahun ini, di antara 221.000 jamaah haji, sebagian
besar Muslimah.
Hajah-hajah baru pun muncul di tengah-tengah
masyarakat.Sebuah gelar tak resmi yang prestisius, dianggap terhormat dan
mumpuni di masyarakat.Panggilan 'Bu Hajah' serasa indah di telinga.
Sementara itu, uang yang telah dikeluarkan oleh jamaah haji
Indonesia selama 65 tahun, merupakan jumlah terbanyak dibanding yang
dikeluarkan jamaah haji negara manapun di dunia.Bisa mencapai Rp 6 trilyun,
jika diasumsikan biaya haji tiap tahun Rp 30 juta.
Namun, apakah banyaknya hajah dan pengeluaran dana yang
begitu besar berdampak positif bagi kehidupan umat Islam, khususnya kaum
Muslimah di Indonesia? Kontribusi apa yang diberikan para mantan tamu Allah itu
terhadap masyarakat?
Jamaah haji selalu berdoa dan didoakan agar menjadi haji (hajah) mabrur.Mabrur berasal dari kata bahasa Arab yang mempunyai arti diterima dan diridhai.Haji mabrur adalah ibadah haji yang diterima Allah dan pelakunya mendapatkan ridha-Nya.
Jamaah haji selalu berdoa dan didoakan agar menjadi haji (hajah) mabrur.Mabrur berasal dari kata bahasa Arab yang mempunyai arti diterima dan diridhai.Haji mabrur adalah ibadah haji yang diterima Allah dan pelakunya mendapatkan ridha-Nya.
Semua
itu berarti tergantung niat, tujuan, terpenuhinya syarat dan rukun haji, serta
kepatuhan dalam segala perintah dan larangan haji.Walhasil, mabrur tidaknya
jamaah haji adalah rahasia ilahi.Hanya Allah-lah yang tahu diterima atau
tidaknya haji seorang hamba.Tak ada manusia yang tahu.Termasuk para pelaku
sendiri, tak pernah yakin, apakah hajinya mabrur atau tidak.
Karena itu, ibadah haji bukanlah penutup dari segala
ibadah.Ibadah haji bukan jaminan sudah sempurnanya penghambaan diri kepada
Allah SWT.Bahkan, ibadah haji hendaknya menjadi titik awal untuk lebih
mendekatkan diri kepada Allah SWT.Lebih taat menjalankan perintah-Nya, dan
menjauhi larangan-Nya.Bukankah di tengah ritual ibadah haji terdapat tanda-tanda
kebesaran-Nya?
Jadi, pasca beribadah haji,
seorang hamba harus lebih segalanya dibanding mereka yang belum haji.Bukan
hanya ibadah ritual, juga ibadah sosial.Seorang bergelar hajah, tidak merasa
cukup bangga dengan gelarnya, tapi harus menunaikan tugasnya sebagai Muslimah,
elemen masyarakat.
Karena itu, bagi para mantan tamu Allah yang baru saja
pulang dari Tanah Suci dan kembali ke kampung halamannya masing-masing,
tunjukkan kemabruran hajinya dengan menjadi agen peubah.Sesuai semangat haji,
segeralah berkorban demi umat. Dengan begitu, ibadah haji dan pengorbanannya
dalam melaksanakan haji -yang telah menghabiskan begitu banyak dana, tenaga dan
waktu- tidak sia-sia belaka atau tidak hanya bermanfaat pada dirinya sendiri.
Segeralah berbuat karena umat
sedang menunggu dan mengharap munculnya agen-agen peubah.Mereka telah begitu
lama terpuruk dalam banyak hal, seperti ekonomi, sosial, akhlak, pendidikan dan
kesehatan. Bayangkan, betapa dahsyatnya perubahan yang akan terjadi jika
ratusan ribu Muslimah yang tiap tahun terlahir sebagai hajah ini berlomba-lomba
menyerukan kaumnya untuk kembali pada syariah.[Apa Kabar Bu Hajah Mabrur?
Mediaummat.com; Thursday, 20 January 2011 07:27].
Dalam merayakan Idul Adha, setiap
tahunnya banyak kebaikan yang dapat direguk oleh ummat islam diantara amal yang
besar saja sudah jelas Nampak yaitu menunaikan ibadah haji dengan sekian agenda
yang harus dilakukan, memotong hewan kurban sekaligus mendistribusikannya,
melaksanakan shalat Idul Adha dan mengumandangkan takbir untuk mengagungkan
kebesaran Allah, tahlil untuk mengesakan-Nya sementara manusia lain
menserikatkan-Nya dan tahmid dalam rangka untuk memuji, mensyukuri atas segala
nikmat yang sudah dicurahkan-Nya, semoga ummat ini selalu termotivasi untuk
berkurban, berjihad dan beramal setiap waktu yang dibangkitkan kembali dengan
datangnya Idul Adha, wallahu a’lam wallahu a’lam [Takziyah Ibuk Rosnidar
12082011 di Metro Lampung, 15 Agustus 2011.M/ 15 Ramadhan 1432.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar