Senin, 30 November 2015

88. Andai aku Tahu Idul Adha Berpahala



Setiap tahun ummat islam merayakan dua hari raya, pertama hari raya Idul Fithri yang dirayakan setelah satu bulan melaksanakan ibadah puasa Ramadhan, yang kedua hari raya Idul Adha, yang dikenal juga dengan hari raya Haji karena pada saat ini bagi ummat islam yang mampu melaksanakan ibadah haji di Mekkah Al Mukarramah, dikatakan juga dengan hari raya Qurban karena bagi ummat islam yang tidak melaksanakan ibadah haji tapi ada kelebihan harta untuk menyembelih hewan kurban pada hari ini. Namun kemeriahan Idul Adha yang jatuh pada bulan Zulhijah itu beda  dengan kemeriahan Idul Fithri, padahal Idul Adha sarat dengan pelajaran dan hikmah tidak kalah pentingnya dengan Idul Fithri.

            Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Rahimahullah, dari Ibnu 'Abbas Radhiyallahu 'Anhuma bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Artinya : Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari dari bulan DzulHijjah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah ?. Beliau menjawab : Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun"

Imam Ahmad, Rahimahullah, meriwayatkan dari Umar Radhiyallahu 'Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :"Artinya : Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (DzulHijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid ".

               Idul Adha dilakukan sehari setelah pelaksanaan puncak ibadah haji, Wukuf Arafah, ditunaikan oleh mereka yang sedang menunaikannya. Pada hari ini yang dinamai sebagai hari "nahar" atau hari mengalirnya darah hewan korban, para jema'ah haji mengalir (afadha dalam bahasa Qur'annya) ke daerah Mina untuk melakukan pelemparan terhadap "Jamrah Aqabah" yang selanjutnya dilanjutkan dengan tahallul awal sebagai tanda dihalalkannya kembali berbagai hal yang diharamkan dalam rangkaian ihram, kecuali hubungan suami-isteri (seksual).

               Rangkaian kata Idul-Adha yang terdiri dari dua kata itu berasal dari bahasa Arab.Kata pertama Idul berasal dari kata "'aada-ya'uudu-awdatan wa 'iidan" yang berarti kembali.Sedangkan Adha adalah kata kerja yaitu "Adha-Yudhii-udhiyatan" yang berarti berkorban.Dengan demikian, idul adha adalah suatu perayaan yang dilakukan oleh ummat sebagai tekad untuk kembali kepada semangat pengorbanan.

               Defenisi ini tentu sangat sederhana. Namun saya yakin, jika kita kaji lebih jauh makna filosofis yang ada padanya, akan kita dapati betapa hal ini sangat mendasar dalam kehidupan kita. Dikatakan bahwa kehidupan ini adalah jihad atau perjuangan (al hayaatu jihaadun), sedangkan setiap perjuangan membutuhkan pengorbanan.Dengan demikian, sifat berkorban adalah sifat keharusan bagi setiap insan.Sehingga kesadaran untuk kembali kepada sifat ini merupakan suatu keharusan pula.

               Dalam konteks waktu pelaksanaannya, yaitu pada hari pelemparan Jumrah Aqabah dilakukan oleh jama'ah haji, juga menunjukan bahwa salah satu bentuk pengorbanan yang paling mendesak adalah pengrobanan dalam melakukan perlawanan tanpa akhir dengan musuh-musuh kita. Sehingga perayaan idul adha juga berarti suatu kesadaran sejati untuk melakukan perlawanan terhadap musuh-musuh manusia dalam kehidupan ini.

               Kali ini, saya tidak akan menguraikan makna idul adha dari kata "adha" ini sendiri, melainkan saya akan bertolak dari kata "Korban" yang lebih dikenal di kalangan Muslim Indonesia. Korban dalam bahasa Indonesia sesungguhnya juga berasal dari kata Arab "Qurbaan" yang asalnya adalah "Qaruba-yaqrabu-qurbun wa qurbaan" (kedekatan yang sangat).

               Kata "qurbaan" adalah bentuk tafdhiil yang menunjukkan penguatan terhadap sifat yang dikandung kata tersebut.Dengan demikian, kurbaan atau korban adalah wujud kedekatan yang sangat tinggi.Sehingga dapat dikatakan bahwa dengan simbol penyembelihan hewan seorang hamba diharapkan semakin dekat (qariib) dengan Rabnya. Penyerahan pengorbanan dan tersimbahnya darah dari hewan adalah simbol penyerahan hidup seorang hamba kepada Rabbul 'aalamin sekaligus pembuktian dari ikrarnya: "Qul inna shalaati wa nusukii wamahyaaya mamaati lillahi Rabbil 'aalamiin" (sungguh shalatku, pengorbananku, hidup dan matiku adalah milik Allah, Tuhan seluruh alam).

               Melaksanakan korban adalah bentuk ritual yang sedemikian suci dan tinggi yang menggambarkan kedekatan seorang hamba terhadap Sang Khaliq.Seolah dengan segala keredhaan, dipersembahkan yang tercinta (kasus Ibrahim dengan anaknya) dalam rangka meraih keredhaan Ilahi.Sehingga pada akhirnya akan terpatri suatu hubungan yang dibangun di atas landasan "Radhiyatun Mardhiyaatun" yaitu seorang hamba yang memiliki jiwa yang redha lagi diridhai oleh Allah SWT" Tingkatan kejiwaan seperti ini adalah puncak kejiwaan insan muttaqiin, sebagaimana disebutkan dalam tingkatan-tingkatan tangga riyadhah nafsiyah (latihan kejiwaan) dalam dunia tasawuf.

               Penjelasan kejiwaan seperti ini sendiri sejalan dengan makna lain yang dikandung oleh kata "Adha" atau "Dhuha". Dalam bahasa Arab, selain berarti pengorbanan, kata dhuha juga berarti suatu waktu di mana mentari sedang menapaki jenjang awal dalam terbitnya. Maka dikenallah misalnya waktu dhuha dengan shalat sunnah dhuhanya. Waktu ini secara khusus dinamakan dhuha, karena pada masa ini merupakan awal mentari pagi menapaki jenjang-jenjang kebarangkatannya menuju ufuk.

               Artinya, Pengorbanan yang dilakukan seorang Mu'min sesungguhnya juga merupakan mentari jiwa dalam menapaki kehidupannya menuju alam kehidupan sejatinya.Diharapkan dengan motivasi pengorbanan, jiwa semakin bersih, suci (muzakkah) sehingga dapat berpaut dengan nuur cahaya Ilahi.Dengan jiwa bersih dan suci ini (qalbun saliim) seorang Muslim manapaki sisa-sisa perjalanannya menuju Khaliqnya. Hanya jiwa seperti ini yang dapat membawa manfaat di hari segala sesuatunya akan sia-sia dan bahkan menjadi penyesalan (yawma laa yanfa'u maalun wa laa banuun, illa man atallaha biqalbin saliim).[M. Syamsi Ali, Idul Adha dan Realita Ummat, Ktpd isnet.1999-2005].

               Ketika kita membuka kembali hikmah yang terkandung dalam idul adha maka didalamnya banyak makna pengorbanan atau tadhiyah yang memotivasi seorang muslim melakukannya, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim beserta keluarganya. Bahkan pengorbanan tidak hanya oleh didapat pahalanya bagi pelakunya saja tapi siapa saja yang terlibat didalamnya ada investasi kurban didalamnya.

Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang memberi perbekalan kepada orang yang akan berperang maka sungguh dia telah (turut) berperang. Dan siapa yang memberikan bekal bagi keluarga yang ditinggalkan (oleh orang yang berjihad) maka sungguh ia telah (turut) berperang.” (Muslim)

Sabdanya pula, “Jihad yang utama adalah perkataan yang benar (dalam riwayat lain: perkataan yang adil, pen.) di hadapan penguasa zalim.” (At-Tirmidzi dan Al-Hakim)
Hadits ini memberikan apresiasi kepada siapa saja yang memberikan kontribusi dan tadhhiyyah (pengorbanan) bagi kemenangan dakwah. Ternyata yang mendapat posisi sebagai orang yang berjihad tidak hanya orang-orang yang terjun langsung di medan laga melainkan semua pihak yang turut mensukseskan proyek dakwah dan jihad itu. Hadits ini juga membuka fikiran kita tentang betapa banyaknya peluang kita untuk bertadhhiyyah.

Tentu saja segala pengorbanan itu tidak akan sia-sia. Allah akan membeli segala yang dipersembahkan oleh orang beriman dengan surga. Allah swt.berfirman, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh.(Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an.Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah?Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (At-Taubah: 111)

Sungguh besar kasih sayang dan penghargaan Allah kepada orang yang mau berkorban.Harta dan jiwa adalah milik Allah.Dia berikan kepada manusia sebagai modal dalam percaturan hidup. Yang mau mengorbankannya dalam rangka mencari rido Allah mendapat laba yang tidak tertandingi oleh harga apa pun: surga! Dan karenanya, pengorbanan dengan kedua hal itu dijadikan-Nya sebagai indikator adanya keimanan sejati.Firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang sejati (imannya).” (Al-Hujurat: 15)

Ummu Harom Bintu Milhan adalah salah satu contoh dalam tadhhiyyah. Saat Rasulullah saw. menceritakan bahwa dirinya bermimpi tentang sejumlah kaum Muslimin yang berperang melintasi laut, Ummu Haram mengatakan, “Ya Rasulullah, doakanlah saya kepada Allah agar menjadikan saya sebagai bagian dari pasukan itu.” Rasulullah saw. menyahut, “Engkau termasuk rombongan pertama.” Dan benar saja, jauh setelah meninggal Rasulullah saw. yakni pada masa Utsman Bin ‘Affan, Ummu Harom masuk dalam pasukan perang pertama yang diutus oleh khalifah ke Cyprus. Dan di negeri itulah wanita mulia itu mendapatkan penghargaan dari Allah swt.: mati syahid.

Abu Ayyub Al-Anshari –semoga Allah meridoinya- mengisahkan, “Setelah Allah memberikan kejayaan kepada Islam, para pengikutnya bertambah banyak, maka kami saling berbisik sesama kami, ‘Harta kita sudah ludes dan Allah sudah memenangkan Islam. Bagaimana kalau kita cuti sejenak dari jihad untuk mengurusi kembali urusan bisnis, ladang, ternak.’ Lalu mereka menghadap kepada Rasulullah saw. untuk mengajukan izin cuti dari jihad dan pengorbanan. Lalu turunlah ayat Allah swt., “Dan berinfaklah kalian di jalan Allah. Dan janganlah kalian mencampakkan diri kalian ke dalam kebinasaan.” (Al-Baqarah: 195). Abu Ayyub selanjutnya menjelaskan, “Kebinasaan adalah bila kami terbelenggu dengan harta dan meningalkan jihad.”

Memperhatikan penjelasan Abu Ayyub itu kita dapat menyimpulkan bahwa ayat di atas ditujukan bukan kepada orang-orang yang sedang berpangku tangan bertopang dagu.Melainkan justeru kepada para sahabat yang telah habis-habisan berjuang, berdakwah, dan berjihad.Jadi pesan tegas ayat itu adalah memerintahkan kaum Muslimin untuk tidak berhenti melakukan pengorbanan. Maka kita pun menemukan dalam sejarah sikap mental yang teramat indah pada diri para sahabat nabi: siap berkorban dengan apa saja demi tegaknya kalimatullah.[Berkorban Untuk Kemenangan, dakwatuna.com.5/7/2008 | 02 Rajab 1429 H].

Di bulan ini kita juga akan menyaksikan kelak kepulangan ummat islam yang sudah kembali menunaikan ibadah sebagai ujud perjuangan ke tanah suci, pengorbanan fisik, mental dan finansial sudah dilakukan karena telah memenuhi panggilan Ilahi, sematan haji/ hajjah juga secara otomatis disebutkan orang tapi yang penting adalah aapakah ibadah haji yang dilakukan itu bermakna mabrur bagi pelakunya atau mabur [terbang] tanpa makna.

Setiap Muslim pasti bercita-cita menunaikan rukun Islam kelima, naik haji.Jika dihitung mulai kemerdekaan Indonesia 1945 hingga tahun ini, berarti sudah 65 tahun penyelenggaraan ibadah haji.Setidaknya jutaan orang sudah bergelar haji dan hajah, baik yang masih hidup maupun sudah meninggal.

Setiap tahun ratusan ribu kaum Muslimah berduyun-duyun mengunjungi rumah Allah SWT.Tahun ini, di antara 221.000 jamaah haji, sebagian besar Muslimah.

Hajah-hajah baru pun muncul di tengah-tengah masyarakat.Sebuah gelar tak resmi yang prestisius, dianggap terhormat dan mumpuni di masyarakat.Panggilan 'Bu Hajah' serasa indah di telinga.

Sementara itu, uang yang telah dikeluarkan oleh jamaah haji Indonesia selama 65 tahun, merupakan jumlah terbanyak dibanding yang dikeluarkan jamaah haji negara manapun di dunia.Bisa mencapai Rp 6 trilyun, jika diasumsikan biaya haji tiap tahun Rp 30 juta.

Namun, apakah banyaknya hajah dan pengeluaran dana yang begitu besar berdampak positif bagi kehidupan umat Islam, khususnya kaum Muslimah di Indonesia? Kontribusi apa yang diberikan para mantan tamu Allah itu terhadap masyarakat?

Jamaah haji selalu berdoa dan didoakan agar menjadi haji (hajah) mabrur.Mabrur berasal dari kata bahasa Arab yang mempunyai arti diterima dan diridhai.Haji mabrur adalah ibadah haji yang diterima Allah dan pelakunya mendapatkan ridha-Nya.

Semua itu berarti tergantung niat, tujuan, terpenuhinya syarat dan rukun haji, serta kepatuhan dalam segala perintah dan larangan haji.Walhasil, mabrur tidaknya jamaah haji adalah rahasia ilahi.Hanya Allah-lah yang tahu diterima atau tidaknya haji seorang hamba.Tak ada manusia yang tahu.Termasuk para pelaku sendiri, tak pernah yakin, apakah hajinya mabrur atau tidak.

Karena itu, ibadah haji bukanlah penutup dari segala ibadah.Ibadah haji bukan jaminan sudah sempurnanya penghambaan diri kepada Allah SWT.Bahkan, ibadah haji hendaknya menjadi titik awal untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.Lebih taat menjalankan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya.Bukankah di tengah ritual ibadah haji terdapat tanda-tanda kebesaran-Nya?

Jadi, pasca beribadah haji, seorang hamba harus lebih segalanya dibanding mereka yang belum haji.Bukan hanya ibadah ritual, juga ibadah sosial.Seorang bergelar hajah, tidak merasa cukup bangga dengan gelarnya, tapi harus menunaikan tugasnya sebagai Muslimah, elemen masyarakat.

Karena itu, bagi para mantan tamu Allah yang baru saja pulang dari Tanah Suci dan kembali ke kampung halamannya masing-masing, tunjukkan kemabruran hajinya dengan menjadi agen peubah.Sesuai semangat haji, segeralah berkorban demi umat. Dengan begitu, ibadah haji dan pengorbanannya dalam melaksanakan haji -yang telah menghabiskan begitu banyak dana, tenaga dan waktu- tidak sia-sia belaka atau tidak hanya bermanfaat pada dirinya sendiri.

Segeralah berbuat karena umat sedang menunggu dan mengharap munculnya agen-agen peubah.Mereka telah begitu lama terpuruk dalam banyak hal, seperti ekonomi, sosial, akhlak, pendidikan dan kesehatan. Bayangkan, betapa dahsyatnya perubahan yang akan terjadi jika ratusan ribu Muslimah yang tiap tahun terlahir sebagai hajah ini berlomba-lomba menyerukan kaumnya untuk kembali pada syariah.[Apa Kabar Bu Hajah Mabrur? Mediaummat.com; Thursday, 20 January 2011 07:27].

Dalam merayakan Idul Adha, setiap tahunnya banyak kebaikan yang dapat direguk oleh ummat islam diantara amal yang besar saja sudah jelas Nampak yaitu menunaikan ibadah haji dengan sekian agenda yang harus dilakukan, memotong hewan kurban sekaligus mendistribusikannya, melaksanakan shalat Idul Adha dan mengumandangkan takbir untuk mengagungkan kebesaran Allah, tahlil untuk mengesakan-Nya sementara manusia lain menserikatkan-Nya dan tahmid dalam rangka untuk memuji, mensyukuri atas segala nikmat yang sudah dicurahkan-Nya, semoga ummat ini selalu termotivasi untuk berkurban, berjihad dan beramal setiap waktu yang dibangkitkan kembali dengan datangnya Idul Adha, wallahu a’lam wallahu a’lam [Takziyah Ibuk Rosnidar 12082011 di Metro Lampung, 15 Agustus 2011.M/ 15 Ramadhan 1432.H].



Tidak ada komentar:

Posting Komentar