Selasa, 01 Desember 2015

92. Andai Aku Tahu Syahid Berpahala



Syahid artinya orang yang mati dalam rangka menegakkan agama Allah, apakah dalam peperangan ataupun dibunuh oleh orang-orang zhalim bahkan dalam menapaki kehidupan ini yang penuh dengan onak dan duri, yang penuh dengan ujian, fitnah dan cobaan maka didalamnya terdapat peluang untuk syahid. Intinya syahid itu orang yang mati dalam membela kebenaran, menegakkan keadilan dalam seluruh asfek perjuangan dengan bersungguh-sungguh, sikap demikian disebut dengan jihad.

Jihad juga tuntutan dari keimanan dalam rangka mempertaruhkan kalimat tauhid yang diucapkan seseorang ketika mengaku sebagai muslim dengan klasifikasi yang beragam, baik melalui ilmu, harta, tenaga, politik, ekonomi hingga menyerahkan jiwa raga demi tegaknya syariat Allah di bumi ini;
            ’’Sesungguhnya Allah Telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu Telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang Telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar” [At Taubah 9;111]

            Berjihad fisabilillah itu termasuk amal yang utama,disamping mengerjakan shalat tepat pada waktunya, dan berbakti kepada kedua orangtua, demikian inti sari hadits dibawah ini;
            ”Dari Abu Aburrahman Abdullah bin Mas’ud ra, berkata,”Saya bertanya kepada nabi Saw,”Amal apakah yang lebih disenangi Allah?” beliau menjawab,”Mengerjakan shalat tepat pada waktunya” kataku ”Kemudian apa lagi?” sabda nabi,”berbakti kepada kedua orangtua”, aku bertanya lagi,”Kemudian apa?” sabda nabi,”Berjihad di jalan Allah”[HR.Bukhari dan Muslim]

            Adapun hadits-hadits lain tentang berjihad dan keutamaannya antara lain adalah,”Berpagi-pagi di dalam berjuang di jalan Allah atau senja hari adalah lebih baik daripada mendapatkan keuntungan dunia dan seisinya”[HR.Bukhari dan Muslim] 

            Keuntungan dunia dengan segala isinya yang diraih manusia tidaklah seberapa dibandingkan balasan yang akan diterima bagi mujahid di akherat nanti, dunia hanya sementara, kesenangan yang dirasakanpun semua tiada abadi, bila kita mampu meraih segala kesenangan dan kenikmatan dunia, paling lama hanya enampuluh tahun demikian pula halnya kesengsaraan di dunia dirasakan hanya sebatas usia manusia.

            Rasulullah bersabda:”Menjaga garis depan dalam berjihad di jalan Allah sehari semalam, adalah lebih baik daripada puasa dan bangun malam sebulan penuh, dan jika mati ketika itu, amal yang biasa dilakukan itu dilanjutkan dan diberi pahala dan rezeki serta aman dari fitnah kubur” [HR.Muslim].

Garis depan adalah posisi strategis untuk menghantam musuh dengan segala kemampuan yang ada, tidak semua orang siap untuk berada pada garda ini kecuali mukmin sejati yang telah ditempa dengan iman dan  tauhid melalui tarbiyah jihadiyah. Karena keberanian merekalah sehingga rasul memberikan kabar gembira sebagaimana yang tercantum pada arti hadits diatas.Mukmin sejati adalah orang-orang yang siap berjihad di jalan Allah mencari kematian dan syurga. Sedangkan orang-orang lain berperang selain dipimpin oleh thaghut mereka juga mengincar materi dunia dan fasilitasnya. Begitu besarnya pahala yang diraih bagi mujahid yang menunaikan tugas jihadnya sehingga wajar tidak sedikit para sahabat yang menangis dan menyesal sepulang perang dengan selamat karena mereka  tidak syahid saja dalam peperangan ini.

Dapat dipastikan bahwa orang yang membela kebenaran, berjihad di jalan Allah maka kematian bagi mereka adalah syahid, yaitu kualitas akhir kehidupan yang tidak ada balasannya kecuali syurga, niatnya ikhlas, caranya sesuai dengan apa yang diteladankan oleh Rasulullah, dan tujuannyapun mencari ridha Allah semata. Rasulullah bersabda,”Tiada kaki seorang hamba yang telah berdebu karena perjuangan di jalan Allah tersentuh api neraka” [HR.Bukhari]

Pada hadits lainpun beliau telah menyampaikan sabdanya,”Dua mata yang tidak akan tersentuh api neraka adalah; mata yang telah menangis karena takut kepada Allah dan mata yang pernah berjaga dalam fisabilillah”[HR.Turmizi].

Orang yang mati dalam perjuangan itu disebut dengan syuhada' yaitu orang yang mati syahid, bahkan Allah menerangkan mereka tidaklah mati, bahkan hidup yaitu hidup dalam alam yang lain yang bukan alam kita ini, di mana mereka mendapat kenikmatan-kenikmatan di sisi Allah, dan Hanya Allah sajalah yang mengetahui bagaimana keadaan hidup itu.
" Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya" [Al Baqarah 2;154].
Namun tidaklah selamanya orang yang mati dalam peperangan sekalipun dapat dikatakan syahid, semuanya tergantung niat dan motivasi dalam peperangan, apakah niatnya ikhlas dan motivasinya untuk mencari ridha Allah, bila demikian maka itu mati syahid, tapi bila sebaliknya justru bagi mereka neraka jahannam.
Dalam hadits yang diriwayatkan Muslim diceritakan bahwa Allah akan membalas dan membuka segala kepalsuan yang dilakukan manusia dikatakan bahwa pada hari kiamat akan diadili terlebih dahulu tiga golongan manusia yaitu pejuang, kaum terpelajar dan golongan hartawan. Ketiga golongan ini diperiksa satu persatu.

            Kaum pejuang ditanya, ”Apa yang telah engkau kerjakan di dunia ?” mereka menjawab, ”Saya berjuang dan bertempur pada jalan Engkau sehingga saya tewas di medan juang”, Allah menyanggah, ”Engkau berdusta, kamu tewas bukanlah karena mempertahankan  agama Allah tapi hanya karena mengharapkan supaya kamu disebut sebagai pahlawan, tempatmu di neraka”.

            Kaum terpelajar ditanya, ”Apakah amal yang kamu kerjakan ?” mereka menjawab, ”Saya menuntut ilmu, kemudian saya ajarkan pula kepada orang lain, dalam pada itu senantiasa saya membaca Al Qur’an”, dengan keras Allah membentak mereka, ”Engkau pembohong, sebab engkau belajar dan mengajar agar digelari  orang ulama, kamu senantiasa membaca Al Qur’an supaya disebut qori’, tempatmu di neraka”.

            Kaum dermawan ditanya, ”Allah telah melapangkan hidupmu dan mengaruniakan rezeki yang banyak kepada engkau, apa yang telah kamu kerjakan dengan nikmat itu?” mereka menjawab,”Saya nafkahkan harta itu hanya supaya engkau disebut orang dermawan, tempatmupun di neraka”.

Dimasa Rasulullah ada seorang lelaki bernama Kazman, dia selama ini dikenal baik dengan Rasulullah dan para sahabat yang lain bahkan diapun ikut dalam jihad bersama beliau, itulah orang munafiq selalu baik bila bertemu dengan orang yang beriman. Ketika ummat islam sudah berangkat menuju medan jihad, Kazman tanpa alasan tidak ikut pergi bersama Rasulullah. Tidak berada lama datang dua orang wanita kepadanya dengan mengatakan,”Hai Kazman, kamu banci, pengecut, semua lelaki pergi jihad bersama nabi, tapi engkau tidak pergi, malah enak-enakan di rumah, dasar pengecut, tukar bajumu dengan rok kami ini”. Mendengar itu Kazman naik emosinya, malu mendengarkan ocehan demikian, dia persiapkan segala peralatan perang, dengan kuda yang paling kencang dia buru pasukan Rasulullah, akhirnya dia berhasil bersatu dalam pasukan.

Dalam peperangan itu dia mampu membunuh musuh dengan pedangnya, diapun terkena sekian sabetan pedang dan tombak sehingga terhuyung menuju kematiannya,dia tidak tahan dengan keadaan itu, kemudian dia ambil ujung pedangnya, dengan menahan sakit dia tekan ujung pedang itu ke dadanya sehingga dia tersunggur jatuh, para sahabat berseru, Kazman syahid, mendengar itu Rasulullah menyatakan, jangan katakan Kazman syahid karena dia pergi jihad bukan karena Allah tapi karena malu diolok-olok kaum wanita, maka tempatnya di neraka.

Ketika perang Uhud sedang berkecamuk, kafir Quraisy sedang mengincar Hamzah bin Abdul Muthalib untuk dibunuh, ini merupakan balas dendam mereka karena dalam perang Badar Hamzah telah menewaskan ayah dan saudara Hindun. Hindun bt. ‘Utba telah pula menjanjikan Wahsyi, orang Abisinia dan budak Jubair (b. Mut’im) akan memberikan hadiah besar apabila ia berhasil membunuh Hamzah. Begitu juga Jubair b. Mut’im sendiri, tuannya, yang pamannya telah terbunuh di Badr, mengatakan kepadanya:“Kalau Hamzah paman Muhammad itu kau bunuh, maka engkau kumerdekakan.” Wahsyi sendiri dalam hal ini bercerita sebagai berikut:

“Kemudian aku berangkat bersama rombongan. Aku adalah orang Abisinia yang apabila sudah melemparkan tombak cara Abisinia, jarang sekali meleset. Ketika terjadi pertempuran, kucari Hamzah dan kuincar dia. Kemudian kulihat dia di tengah-fengah orang banyak itu seperti seekor unta kelabu sedang membabati orang dengan pedangnya. Lalu tombak kuayunkan-ayunkan, dan sesudah pasti sekali kulemparkan. Ia tepat mengenai sasaran di bawah perutnya, dan keluar dari antara dua kakinya. Kubiarkan tombak itu begitu sampai dia mati. Sesudah itu kuhampiri dia dan kuambil tombakku itu, lalu aku kembali ke markas dan aku diam di sana, sebab sudah tak ada tugas lain selain itu. Kubunuh dia hanya supaya aku dimerdekakan saja dari perbudakan. Dan sesudah aku pulang ke Mekah, ternyata aku dimerdekakan.”

Ketika perang Uhud itu selesai, kemenangan di tangan kafir Qurisy, mereka bergembira termasuk Abu Sufyan karena dendamnya sudah terbayar. Tetapi isterinya, Hindun bint ‘Utba tidak cukup hanya dengan kemenangan, dan tidak cukup hanya dengan tewasnya Hamzah b. Abd’l-Muttalib, malah bersama-sama dengan warõita wanita lain dalam rombongannya itu ia pergi lagi hendak menganiaya mayat-mayat Muslimin; mereka memotongi telinga-telinga dan hidung-hidung mayat itu, yang oleh Hindun lalu dipakainya sebagai kalung dan anting-anting.

Kemudian diteruskannya lagi, dibedahnya perut Hamzah, dikeluarkannya jantungnya, lalu dikunyahnya dengan giginya; tapi ia tak dapat menelannya. Begitu kejinya perbuatannya itu, begitu juga perbuatan wanita-wanita anggota rombongannya, bankan kaum prianyapun turut pula melakukan kejahatan serupa itu, sehingga Abu Sufyan sendiri menyatakan lepas tangan dari perbuatan itu. Ia menyatakan, bahwa dia samasekali tidak memerintahkan orang berbuat serupa itu, sekalipun dia sudah terlibat di dalamnya. Bahkan ia pernah berkata, yang ditujukan kepada salah seorang Islam. “Mayat-mayatmu telah mengalami penganiayaan. Tapi aku sungguh tidak senang, juga tidak benci; aku tidak melarang, juga tidak memerintahkan.”

Selesai menguburkan mayat-mayatnya sendiri. Quraisypun pergi. Sekarang kaum Muslimin kembali ke garis depan guna menguburkan mayat-mayatnya pula. Kemudian Muhammad pergi hendak mencari Hamzah, pamannya. Bilamana kemudian ia melihatnya sudah dianiaya dan perutnya sudah dibedah, ia merasa sangat sedih sekali, sehingga ia berkata:

“Takkan pernah ada orang mengalami malapetaka seperti kau ini. Belum pernah aku menyaksikan suatu peristiwa yang begitu menimbulkan amarahku seperti kejadian ini.” Lalu katanya lagi: “Demi Allah, kalau pada suatu ketika Tuhan memberikan kemenangan kepada kami melawan mereka, niscaya akan kuaniaya mereka dengan cara yang belum pernah dilakukan oleh orang Arab.”

Dalam kejadian inilah firman Tuhan turun.“Dan kalau kamu mengadakan pembalasan, balaslah seperti yang mereka lakukan terhadap kamu. Tetapi kalau kamu tabah hati, itulah yang paling baik bagi mereka yang berhati tabah (sabar). Dan hendaklah kau tabahkan hatimu, dan ketabahan hatimu itu hanyalah dengan berpegang kepada Tuhan. Jangan pula engkau bersedih hati terhadap mereka, jangan engkau bersesak dada menghadapi apa yang mereka rencanakan itu.” (Qur’an, 16: 126 - 127)

Lalu Rasulullah memaafkan mereka, ditabahkannya hatinya dan ia melarang orang melakukan penganiayaan. Diselubunginya jenazah Hamzah itu dengan mantelnya lalu disembahyangkannya. Ketika itu Shafia bt Abd’l-Muttailb - saudara perempuannya - juga datang. Ditatapnya saudaranya itu, lalu ia pun menyembahyangkannya dan mendoakan pengampunan baginya.[Sejarah Hidup Muhammad, Muhammad Husein Haekal].

Pada kesempatan lain, sahabat nabi yang bernama Huzaifah memberitahukan kalau dia akan menikah dalam waktu dekat ini, semoga Nabi berkenan hadir dalam pernikahannya itu, hal itu dipenuhi oleh Nabi. Karena ,Huzaifah sebagai penganten baru tentu malam pertamanya tidak akan diganggu, padahal malam itu Rasul telah menjadwalkan ummat islam untuk berjihad menghadapi orang kafir, sehingga dimaklumi kalau Huzaifah tidak usah ikut jihad, inilah rukhshah atau keringanan untuknya. Tapi malam pertama itu, di tengah malam dia mendengar genderang perang sudah ditabuh, berarti pasukan sedang bergerak menuju lokasi jihad, Huzaifah terkejut dan bangun, dia berfikir, kenapa tidak diajak untuk jihad kalau ada jadwal berangkat malam ini, dia persiapkan segala sesuatu untuk mengejar pasukan Rasulullah.

Saat pamit kepada isterinya untuk berjihad, sang isteri menjawab,”Pergilan kanda, penuhi panggilan jihad, bila engkau syahid, tunggu aku di pintu syurga”, perjalananpun berlanjut, dengan pasti dia bisa mengejar  rombongan, rupanya ketika sampai perang sedang berlansung, Huzaifahpun lansung terjun ke gelanggang, dalam peperangan itu dia mampu menaklukkan musuh dan diapun akhirnya rubuh dari kudanya, Huzaifah syahid di malam pertamanya, dari kejauhan Nabi menyaksikan Malaikat turun memandikan jenazah Huzaifah, Rasul berkata kepada sahabatnya, “Alangkah bahagianya Huzaifah, dia syahid, jenazah dimandikan oleh Malaikat”, karena malam itu dia belum sempat untuk mandi junub.

Setiap mukmin  dituntut jadi seorang mujahid dengan cita-cita sebagai syuhada’, yaitu mati syahid, Imam Hasan Al Banna berkata,”Barangsiapa yang bercita-cita untuk mati syahid maka dia akan mendapatkannya walaupun  wafat di tempat tidur, dan sebaliknya orang yang tidak punya cita-cita untuk syahid, dia tidak akan dapat syahadah walaupun mati dalam peperangan”. 

Selayaknya kita mengisi waktu untuk berjihad dengan segala daya dan upaya menegakkan agama Allah melalui tangan dan lisan sehingga kelak yang tegak di dunia ini adalah hukum Allah, sedangkan pelakunya akan menemui syahadah atau syahid, yaitu kematian yang berharga sebagaimana ulama-ulama dibawah ini, tubuhnya sudah hancur ditelan bumi tapi nama dan jasanya tetap dikenang sepanjang zaman.

Imam Ibnu al-Jauzy pernah kedatangan tamu yang membicarakan hal-hal yang tak berguna. Dia meladeni mereka sembari menyerut pensil untuk menulis buku. Siang dan malam beliau tidak henti-hentinya berpikir, menulis, mengajar dan membaca. Imam Ibnu al-Jauzy pernah berkata, “Dari tanganku lahir dua ribu jilid buku dan di tanganku juga telah bertaubat seratus ribu orang, dua puluh ribu orang di antaranya masuk Islam.” Di antara karya-karyanya, Durratul Ikliil 4 jilid, Fadhail al-Arab, al-Amstaal, al-Manfaat fi Madzahib al-Arba’ah 2 jilid, al-Mukhtar min al-Asy’ar 10 jilid, at-Tabshirah 3 jilid, Ru’us al-Qawariir 2 jilid, Shaidul Khathir, Kitab al-Luqat (ilmu kedokteran) 2 jilid, dan sebagainya.

Imam Ibnu Taimiyah adalah seorang ulama yang waktunya tidak pernah luput dari berbuat kebaikan. Hingga dipenjara sekalipun, ia tetap berusaha menulis, berceramah kepada para napi, dan lain sebagainya. Beliau pernah berkata, “Apakah yang akan diperbuat musuh-musuh terhadapku? Jika aku dipenjara, penjaraku adalah khalwah. Jika aku diasingkan, pengasinganku adalah tamasya. Dan jika aku dibunuh, kematianku adalah syahadah.” Sekalipun pena-penanya disingkirkan oleh pemerintah tirani, dia tetap saja menulis walaupun dengan arang.

Jika diberi umur yang panjang, niscaya mereka akan terus menuntut ilmu sebanyak-banyaknya. Namun kenyataan tidaklah terjadi demikian. Karena ilmu di dunia ini sangatlah banyak dan tak mungkin umur manusia yang pendek, dapat menguasai semuanya, para ulama akhirnya membuat pengurutan ilmu-ilmu apa saja yang “wajib” dikuasai oleh kaum muslimin. Imam Ibnu Qudamah dalam bukunya berjudul Mukhtashar Minhajul Qashidin mengomentari hadits yang berbunyi, “Mencari ilmu itu wajib atas setiap orang muslim,” dengan mengatakan bahwa yang dimaksud ilmu wajib di sini adalah ilmu muamalah hamba terhadap Tuhannya. Muamalah yang dibebankan di sini meliputi tiga macam: Keyakinan, perbuatan dan apa yang harus ditinggalkan.[Manusia yang Tidak Pernah Mati, Chandra Kurniawan, Eramuslim,1 Mei 06 06:59 WIB].

Selain ulama tersebut diatas, masih banyak lagi ulama dan da’i yang sudah mengorbankan waktu, tenaga, fikiran dan jiwanya untuk melanjutkan perjuangan da’wah berhadapan dengan kezhaliman thaghut dan keangkaramurkaan rezim sehingga mereka banyak yang syahid di tiang gantungan seperti Sayid Qutb atau ditembus peluru seperti Hasan Al Banna atau mendekam dalam penjara sebagaimana sebagaimana Zainab Al Gazali dan banyak lagi yang menjadikan dirinya sebagai tumbal dari perjuangan islam, semoga syahidnya mereka akan membakar semangat para mujahid lainnya hingga akhir zaman, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 1 Agustus 2011.M/ 1 Ramadhan 1432.H].



Tidak ada komentar:

Posting Komentar