Hijrah ke Madinah
adalah peristiwa besar yang dialami ummat Islam
dimasa Rasulullah setelah mengalami dua kali hijrah ke Ethiofia dan ke
Thaif. Peristiwaini disamping wahyu dari Allah juga sebagai taktik strategi
dalam perjuangan menegakkan agama Allah.
Dalam setiap perjuangan selalu memakai strategi dan
taktik. Strategi merupakan induk sedang taktik laksana anak. Setiap taktik yang
dilakukan tidak boleh terlepas dari
strategi. Sikap hijrah yang dilakukan Rasulullah itu, walaupun sepintas lalu
kelihatan sebagai satu taktik, tapi pada hakekatnya dalam rangka satu strategi
yang menyeluruh.
Ada kalanya dalam suatu perjuangan, terutama tatkala
timbul satu situasi yang amat sulit, harus menentukan pilihan sementara waktu
mundur, tapi tidak melepas strategi. Dengan mundur sebagai taktik ialah karena
memperhitungkan pihak lawan pada saat itu mempunyai kekuatan yang dapat
menguasai, sedang pihak sendiri yakin terhadap kebenaran yang dipertahankan dan
kepalsuan yang hendak dipertahankan oleh pihak lawan.
Dengan sikap mundur, hijrah atau menyingkir berarti
sementara menerima kenyataan tentang keunggulan lawan, tapi dengan sikap itu
terjamin kesinambungan dan kelanjutan pembangunan. Sikap yang pertama taktis,
sedang sikap yang kedua strategis, apalagi berkenaan dengan sikap hijrah
Rasulullah itu, seperti yang diterangkan di atas, sudah ada green ligh atau
lampu hijau dari Penguasa Tunggal.
Hijrah ke Madinah meninggalkan kampung halaman, bercerai berai
dengan keluarga, harta benda tinggal, berbekal sekedar saja demi mengikuti
perintah Allah adalah sikap terpuji yang membedakan orang yang mengaku beriman
tapi tidak hijrah, tempat mereka mulia disisi Allah dengan kemenangan besar, At
Taubah 9;20-21 Allah memfirmankan, ”Orang-orang
yang beriman dan berhijrah di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka,
adalah lebih tinggi derajatnya disisi Allah, dan itulah orang-orang yang
mendapat kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan
rahmat daripada-Nya, keridhaan dan syurga, mereka memperoleh di dalamnya
kesenangan yang kekal”.
Ada sebagian pendapat yang mengatakan keberangkatan Nabi
dan pengikutnya menyingkir ke Madinah menunjukkan sikap penakut dan lemah,
sepintas pendapat ini benar tapi dibantah dengan tiga alasan;
Pertama; bahwa
Nabi hijrah ke Madinah setelah beliau berda’wah dan berjuang di Mekkah selama
hampir 13 tahun. Seandainya Nabi hijrah
lantaran takut itu, niscaya beliau tidak dapat bertahan di Mekkah sekian
lamanya. Justru dari sini kita dapat melihat betapa Nabi memiliki ketabahan dan
keberanian yang sangat mengagumkan.
Kedua; sebelum
Nabi hijrah ke Madinah terlebih dahulu beliau memerintahkan kepada para
sahabatnya untuk meninggalkan Mekkah menuju Madinah. Oleh karena itu, secara
diam-diam kaum muslimin baik perorangan maupun berombongan meninggalkan Kota
Mekkah itu. Dengan demikian hijrah Nabi dan kaum muslimin merupakan taktik
strategi perjuangan bukan karena ketakutan.
Ketiga;
barangkali ada yang bertanya kalau Nabi memang seorang pemberani, mengapa
beliau hijrah dengan cara diam-diam dan bersembunyi di gua Tsur ? Nabi memang
hijrah secara diam-diam dan bersembunyi, bahkan ditemani oleh sahabat Abu
Bakar. Cara yang ditempuh Nabi seperti ini memberi pelajaran kepada kita bahwa
sikap hati-hati dan waspada adalah suatu yang sangat penting dalam suatu
perjuangan.
Sebenarnya di hati ummat Islam tidak ada sedikitpun rasa
takut kepada kafir Quraisy, terbukti dengan keberanian ummat mengorbankan jiwa raga asal tetap dalam keimanan sehingga
segala siksa dan derita yang dilakukan oleh kafir Quraisy mereka hadapi. Dengan
iman yang ada timbul keberanian untuk menghadapi resiko hidup, bagaimanapun
kerasnya tetap dihadapi walaupun harus menempuh perjalanan panjang dengan
berjalan kaki, yang dikala malam dingin menusuk ke tulang, saat siang di atas
Matahari menghantam panasnya ke tubuh mereka sedangkan di bawah pasir membakar
telapak kaki, kadangkala sebelum sampai ke tujuan maut telah menjemput,
bukankah ini suatu keberanian ? Islam tidak menghendaki ummatnya lemah dan
takut, kematian yang menjemput dalam perjalanan hijrah mendapat perhatian besar
dari Allah, An Nisa 4;100 menjelaskan;
”Barangsiapa
berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat
hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya
dengan maksud hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian kematian menimpanya
[sebelum sampai tujuan] maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan
adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Keberanian ini timbul karena tempaan iman yang begitu
matang sehingga ada orang yang mungkin memiliki persediaan semangat yang lemah,
tetapi karena ditempa dan digembleng, maka persediaan yang sedikit itu menjadi
efektif malahan kuat. Demikian juga kecerdasan dapat dibina dan dikembangkan
melalui pendidikan dan latihan keterampilan.
Kekuatan sebagai fadilah difahamkan dari pelbagai dalil
dalam Al Qur’an antara lain;
”Dan janganlah
kalian bersifat lemah dan janganlah kalian berduka cita karena kalian lebih
mulia jika memang kalian beriman” [Ali Imran 3;139].
Dari dalil itu pula difahamkan bahwa sikap lemah termasuk
dalam sifat dan sikap tercela sebagaimana digambarkan dalam ayat lain;”Sesungguhnya orang-orang yang dimatikan oleh
malaikat ketika mereka menganiaya diri mereka sendiri, ditanya malaikat,
”Bagaimana keadaanmu?” mereka mengatakan, ”Kami adalah orang-orang yang lemah
di muka bumi”. Kata malaikat, ”Bukankah bumi Allah itu luas sehingga kalian
boleh berpindah ke mana-mana ?”. Maka tempat
orang-orang itu adalah neraka jahanam dan itulah tempat tinggal yang
amat buruk”.
Orang yang takut hijrah ke Madinah nanti di akherat
disiksa oleh malaikat dalam neraka jahanam sebagaimana surat An Nisa’ 4;97
kecuali orang yang tidak mampu
melakukannya dan tidak tahu jalan yang akan dituju.
Pada umumnya orang merantau meninggalkan kampung halaman
karena ada yang dituju baik teman, saudara atau keluarga yang sudah berhasil
disana, lalu keberaniannya merantau didorong oleh masa depan yang sudah jelas,
entah sebagai pedagang, pegawai atau pelajar, walaupun untuk sementara
menumpang dengan orang lain, tapi sudah jelas ada tempat bersandar.
Tidak demikian dengan hijrah, belum tahu siapa yang harus
dituju, tidak ada keluarga tempat bernaung, entah siapa nanti tempat bersandar.
Begitu datang perintah hijrah bayangan hitam mereka singkirkan demi
melaksanakan perintah Allah dan menjaga aqidah dari kemurkaan kafir Quraisy.
Dr.M. Abdurrahman Baishar menjelaskan bahwa sikap hijrah mengandung suatu
mutiara keberanian yang luar biasa menghadapi penderitaan dalam satu
perpindahan/ penyingkiran yang penuh kegelapan, yang belum jelas dan terang
prosfektif dari depannya. Mereka ridha mengalami penderitaan sebagai akibata
dari sikap menyingkir untuk menegakkan agama Allah.
Untuk merintis
jalan kebenaran, keberhasilan dan kemenangan manusia harus memiliki keberanian
menghadapi tantangan hidup yang begitu keras, jauh dari keramahan sebagaimana
hijrah yang dilakukan ummat dimasa Rasulullah, memang pahit dan menderita tapi
berbuah manis dan kemenangan [Padang, 23032001].
Hampir
selama 13 tahun Nabi Muhammad berjuang di Mekkah untuk meluruskan aqidah ummat
agar meninggalkan berhala-berhala pujaan, menyingkirkan watak-watak jahiliyyah
yang dapat menyeret manusia kepada peradaban buruk. Namun usaha selama 13 tahun
ini tidak banyak membuatkan hasil, hanya beberapa orang saja yang dapat
ditempat, digembleng dengan keimanan yang teguh, disamping itu ada yang telah
beriman tapi disembunyikan dan ada pula mulai tertarik dengan ajaran islam tapi
belum saatnya untuk menyatakan imannya.
Selama gerak da’wah dilakukan Nabi selama itu pula
tekanan, tindasan dan halang rintangan dilancarkan kafir Quraisy dengan maksud
agar pengaruh ajaran yang dibawa Muhammad jangan menyebar dan menyeluruh ke
pelosok penduduk Mekkah sehingga tidak jarang terjadi penyiksaan bahkan
pembunuhan dilakkan dengan kejamnya terhadap orang yang tertarik kepada islam.
Untuk menyelamatkan iman ummat islam yang telah tumbuh inilah maka dilakukan
hijrah yaitu menyingkir dan mundur dari perjuangan untuk menyusun kekuatan
baru.
Hijrah pertama tanpa disertai Nabi Muhammad, berlansung
pada 615 Masehi [tahun kelima sesudah kerasulan]. Hijrah pertama ini terjadi
sesudah Nabi menyaksikan dari hari ke hari intimidasi kaum kafir Quraisy kepada
kaum muslimin yang baru tumbuh makin menjadi-jadi. Beberapa sahabat Rasulullah,
bahkan ada yang disiksa dan dibunuh. Ketika itulah Rasulullah memerintahkan
para sahabatnya untuk berhijrah ke Abesinia [Ethiopia sekarang] yang
diperintah oleh Najasi yang ketika itu
masih beragama Nasrani.
Hijrah kedua terjadi tidak lama sesudah isteri dan paman
nabi, Siti Khadijah dan Abu Thalib meninggal dunia. Merasakan gangguan yang
makin menjadi-jadi, Rasulullah pergi ke Thaif, sekitar 60 kilo meter imur laut
Mekkah. Di Thaif, Rasulullah melancarkan
da’wahnya kepada berbagai kabilah, baik yang hendak berziarah ke Ka’bah maupun
kabilah-kabilah setempat.
Ketika intimidasi dari kafir Quraisy semakin gencar dan
pengintaian gerak da’wah nabi semakin ketat maka dilakukan hijrah ke Madinah
dengan meninggalkan rumah tangga, harta benda dan kehidupan keluarga demi
menyelamatkan aqidah, ada yang berpisah dengan anak dan isteri, ada yang harus
bercerai dengan ayah dan bunda dan saudaranya, ada yang bercerai dengan
kekasih, semua itu bukan penghalang asal iman tetap terpateri dan karena
imanlah kehidupan serta kesenangan dunia
ditinggalkan.
Iman membutuhkan pembuktian, salah satu diantaranya
adalah hijrah, bagi yang kuat melakukannya, tahu jalan ke Madinah, kalau
imannya sudah mantap tidak ada pilihan lain selain berangkat, entah untuk berapa lama di rantau orang yang belum
tahu bagaimana masa depan disana. Bila mengaku beriman tapi tidak siap memasuki
ujian ini maka Allah meletakkan mereka pada derajat yang rendah kecuali mereka
lemah dan tidak tahu jalan ke Madinah maka ampunan bagi mereka. An Nisa’
4;98-99 yang artinya, ”Kecuali mereka
yang teriandas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu
berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan untuk hijrah. Mereka itu mudah-mudahan
Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun”.
Ujian pertama yang dihadapi adalah melepaskan segala
kesenangan dan keterikatan kepada kampung halaman [Mekkah] berupa kesenangan
harta benda, pergaulan dan kecintaan. Bila ini dapat diatasi akan menghadapi
ujian berikutnya yaitu perjalanan panjang yang melelahkan, belum lagi dihadang
oleh kafir Quraisy, begitu diketahui mereka terpaksa digiring kembali ke
Mekkah, disiksa bahkan nyaris dibunuh.
Dalam perjalanan ini tiada tempat berteduh selain padang
pasir tandus, panas menyengat dikala siang hari, dingin mencekam dikala malam,
belum lagi habisnya bekal dalam perjalanan dan penderitaan lainnya yang akan
dialami bahkan nyawapun terancam. Tapi
ini adalah ujian iman untuk membuktikan kesungguhan dalam beragama dan
kecintaan kepada Allah.
Bukti kecintaan ummat kepada Allah yaitu siap menghadapi
ujiannya dan bukti kecintaan Allah kepada hamba-Nya ditaburi ujian hidup sebagaimana
yang difirmankan Allah dalam surat Al Baqarah 2;214 yang artinya, ”Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk
syurga, padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnya orang-orang
terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncang dengan
bermacam-macam cobaan...”
Tatkala Rasulullah
akan meninggal Mekkah, di suatu tempat yang bernama Hazawwarah, di luar kota
Mekkah, nabi berdiri sebentar menatap kota yang akan ditinggalkannya dan
berdo’a kepada Rabbul Jalali, ”Demi
Allah, sesungguhnya engkau, ya Mekkah adalah satu bumi yang palng aku cintai
dan dicintai Allah. Demi Allah, kalau tidaklah karena aku di usir dari bumi Mu
dalam keadaan terpaksa, pastilah aku tidak akan keluar”.
Akhirnya untuk mendapat restu Ilahi menghadap hari depan
Rasulullah dan para sahabat, beliau selanjutnya memohon do’a, ”Ya Ilahi kobarkanlah rasa cinta yang
mendalam dalam hati kami kepada kota Madinah,seperti kecintaan kami kepada
Mekkah, atau lebih lagi. Ya Allah, sehatkanlah udaranya bagi kami, kurniakanlah
berkah segala makanannya untuk kami dan singkirkanlah jauh-jauh segala
penyakitnya, dan jadikanlah serasi untuk diri kamu”.
Sekelumit kisah yang dialami sahabat ketika
mereka ikut hijrah ke Madinah, adalah Abu Dzar Al
Ghifari, sahabat nabi yang mahir berdagang, ketika hijrah ke Madinah, para
Muhajirin disaudarakan oleh Rasul dengan kaum Anshar, persaudaraan itu
diujudkan dengan penyerahan sesuatu untuk membantu mereka, ada Anshar yang
punya sawah dan ladang lebih dari satu maka dia serahkan kepada sahabat
Muhajirin, ada yang punya ternak onta, sapi dan domba juga dibagi untuk
saudaranya, hanya Abu Dzar yang tidak mau menerima pemberian itu walaupun
halal, dia hanya bertanya, tunjukkan kepadaku dimana pasar, setelah tahu pasar,
dia bertindak sebagai makelar untuk menjualkan onta, sapi atau domba orang,
dari hasil itu dia mendapat komisi. Komisi yang diterimapunbukanberupa dinar
dan dirham tapidiahanyamemintataliternak yang dijualitusaja.Hal
ituberlansungsekianbulansehinggamenumpuklahtali-taliitusampaimenggunung.Taliitudijualnyasampaibisamembeliseekorduaekorternaksampaidiajadi
kaya rayadarihasilpenjualanternak yang ditekuninya, itulahaktivitassahabat yang
satuini, diabisapunyaternakdarikeahliannyaberdagang.
Kisah lain
adalahtentangontaRasulullah, sesampaiHijrah di Madinah, parasahabatAnsharmemegangtaliontaitusambilberharap
agar ontaitumauberhenti di rumahmereka,
Rasulmenghentikankeinginansahabatitusambilmenyatakan, biarkandiamemilihtempat
yang disukainya, tanpadisangkaontaituberhenti di depanrumahseoranganakyatim,
tanahitudibebaskandan di bangun masjid disana yang kitakenaldengan masjid
Nabawi.
Hijrahtidaklahsamadenganmerantauwalaupunpadaintinyahijrahituperjalananmerantaukarenahijrahmengembanmisiuntukkepentingan
agama, menyebarkanfikrahislamdanmenyelamatkanimansertamemperteguhkeimanan.
Kalaulahhalitu yang
dibawaolehperantaumakaluarbiasaperannyadalammengembanrisalahda'wahini,
tapisayangmotivasimerantauhanyasemata-matamelepaskandiridarihimpitanekonomisebagaimanakebiasaan
orang Minangkabau yang menjadikanrantausebagaitempatmengadunasib.
Merantau itu sudah menjadi darah daging, tidak saja
sekarang malahan sejak nenek moyang kita dahulu. Kita tidak perlu terlena kalau
ditengok di berbagai kota besar dan kecil di seluruh persada nusantara ini,
bahkan sampai keluar negeri, pokoknya setiap sudut ada orang Minang.
Konon kabarnya, kalau
orang Minang pergi merantau, bodoh atau bingungnya hanya satu minggu. Hal
tersebut dapat kita buktikan, seperti di Kota Jakarta atau lainnya, banyak kita
jumpai orang Minang berdagang di kaki lima, pepatah Minang juga mengatakan,”Bialah tanduak takubang, asalkan sungu ka
makan”[biarlah suara habis bersorak, asalkan perut kenyang], setelah bersorak
di kaki lima agak seminggu sampai
sebulan akhirnya membuka kios, dari kios menjadi toko, bahkan sampai pedagang
besar.
Tidak hanya masalah
pedagang, kendatikan di rantau mereka bekerja di suatu instansi pemerintah,
lama kelamaan akhirnya kembali ke daerah, ilmu yang didapat dirantau mereka
terapkan di ranah minang. Berbagai faktor pendorong yang menjadi urang awak
pergi merantau, disamping menambah ilmu pengetahuan dan keterampilan ada juga
panggilan rohani atau bakatnya untuk melanglang buana. Faktor meningkatkan
nilai diri salah satunya dengan merantau, bahwa orang yang tidak pernah
merantau bagi masyarakat pada umumnya dianggap rendah dan hina, disini faktor
harga diri yang banyak menghanyutkan putra Minang ke rantau.
Pada saat di awal
keberangkatan atau katakanlah pada saat persiapan segala sesuatunya untuk bekal
di negeri orang, maka tidak jarang pula
para orangtua dan mamak di Minang memberikan petuah atau nasehatnya seperti
sebait pantun ini, ”Elok-elok manyubarang, jan sampai titian patah, elok-elok
di rantau urang, jan sampai babuek salah”.
Pantun di atas sarat
dengan nilai adat dan agama sebagai bekal seorang calon perantau melangkahkan
kakinya meninggalkan kampung halaman. Sikap berhati-hati di rantau harus dijaga
jangan sampai melakukan kesalahan. Kesalahan seorang Minang di rantau sama
artinya merusak nama seluruh Minangkabau,sebait pantun lain berbunyi, ”Hiu beli
belanak beli, ikan panjang beli dahulu, kawan cara sanakpun cari, induk semang
cari dahulu”. Artinya sesampai di rantau seorang Minang berprinsip famili bukan
satu tujuan, lebih diutamakan ialah majikan atau pekerjaan. Boleh jadi keluarga
tempat menetap tapi hanya dalam waktu sementara, untuk itulah pemuda
Minangkabau mau dan mampu bekerja apa saja asal jangan membebani keluarga di
rantau.
Bagi seorang pemuda Minang
yang mewarisi sifat perantau nenek moyangnya itu, sangat memperhatikan
petuah-petuah tersebut, sehingga malam dibuat untuk bantal dan siang dibuat
untuk tongkat, maksudnya segala macam nasehat baik itu akan tetap dipegang
teguh pada setiap saat baik siang maupun malam hari. Bekal lain yang diberikan
orangtua atau mamak ketika melepas anak atau kemenakannya merantau adalah
sebuah ungkapan manis yang padat dengan nilai-nilai yang harus dijadikan suluh
dalam perjalanan yaitu,”Laut sati rantau batuah” dari ungkapan ini mengandung
arti yang dalam.
”Laut sati” adalah bahwa
kadangkala daerah atau rantau yang ditempuh itu bukanlah kota bebas, namun ada beberapa aturan atau
pantangan yang harus dihindari atau batasan yang tidak boleh dilanggar.
Sedangkan ”Rantau batuah” itu hampir mirip pengertiannya bahwa rantau/negeri
orang itu selalu mempunyai keistimewaan buat daerahnya. Jadi antara saru
daerah/negeri itu tidaklah sama adat kebiasaannya dengan daerah lainnya,
sehingga kalau memasuki daerah orang, kita harus mempelajari terlebih dahulu
adat kebiasaan masyarakatnya dan tidak berbuat sekehendak hati saja.
Setiap perantau yang
berada jauh di negeri orang, meninggalkan sanak keluarganya dan kampung
halaman,walaupun demikian warnanya sebagai orang Minang tidak akan berubah.
Dimana dan kemanapun putra Minang merantau, berinteraksi dengan suku apapun dan
berbaur dengan berbagai lapisan sosial masyarakat, dalam perputaran zaman dan
pengaruh situasi maka warna Minang tidak pernah luntur. Seorang putra Minang
boleh saja lahir di rantau, dibesarkan dan dididik di lingkungan perantauan,
pun halal saja menemukan kehidupan di negeri lain, tapi orang Minang tetap
Minang. Bilapun ada bangau yang tidak pulang ke kubangan dan lupa dengan
asalnya, ada orang Minang yang luntur ke-Minangannya, itu sungguh suatu
pengecualian, sulit mencarinya, barangkali dalam 10.000 perantau Minang hanya
seorang yang warna Minangnya jadi luntur, mereka boleh dicap sosok Malin
Kundang.
Bagaimanapun hijrah telah berlalu 14 abad yang lalu tapi mutiaranya tetap menggema di hati ummat
sampai kapanpun, bukti kemantapan iman pada ummat sampai kapanpun, bukti
kemantapan iman pada ummat dizaman kita bukan hijrah fisik sebagaimana yang
dilakukan dimasa Rasulullah tapi hijrah hati nurani, iman dituntut pembuktian
dengan melaksanakan hukum Allah melalui aktivitas amaliah ibadah.
Tahunbaruislaminiseharusnyamemberiartiperubahanpadadirisetiapkita.
Sepertihijrah yang mengubahdanmemindahkan.Hidupkitaharusberpindah,
darikubangandosakepadalautantaubat.Berpindahdariarogansikerakusan,
menujukejujuranpenunaianhak-hak orang.Hidupkitaharusberubah, dari yang
burukmenuju yang baik. Dari yang usangmenuju yang segar.
Kesalahanharusditinggalkan.Kesemrawutanharusditertibkan.
Tahunbaruislam yang
diawalidarisemangathijrahharusmemberiartipadadinamikahidupkita. Sepertihijrah
yang penuhwarna, tantangan, suasanadanharapan.
Mekkah yang liatdaripetunjuk, mengantarkan orang-orang yang
berimannyamenujuMadinah yang subur, dinamis,
hangatdansangatbersahabat.MakasepertiMadinah yang lembut, kekerasan di
sekitarkitaharuskitaakhiri.Kekerasan di rumahtangga, saatseorangsuamimemukuliisteri
yang menyiapkanuntuknyamakanan, melayani,
sertamengasuhanakdarahdagingnya.Kekerasanparaperempuan yang
menghinakanhargadirinya, di pentasgayahidup yang palsu.
Kekerasan di jalanan,
saatpremankelasterimenggantungkannyalinya di ujungbelati. Takadajiwakesatria.Takadakeprajuritan.Kekerasan
di pentaspolitik,
saatpemburu-pemburukekuasaanrajinbersilatlidahdanberadusogokan.Kekerasan di
belantarausaha, saatperampok-perampoklarikeluarnegeri.Semuaharusdihentikan.
Mungkininiadalahmimpi, mengharapkekerasanberhentihanyakarena
momentum
tahunbaruini.Mungkinparapelakukekerasanitubahkanseumurhidupnyatakpernahmendengar
kata Muharam.Tapisetidaknyabilakitabukanpelakukekerasanitu, kitabisabelajar,
bagaimanasebuahkekerasanmengakhirikesudahannya.Kita bisabelajar, bahwajalankekerasantakpernahmenyelesaikan.
Tahunbaruiniharusmemberiartipadapertumbuhankita.SepertiMadinah
yang sigapberkembang.Dalampercepatannya yang
mengagumkan.Nyaristakadasaturumahpun, kecualitelahadaanggotakeluarganya yang
masuk Islam.Pertumbuhandalamhidupadalahkebutuhan.Sebabdenganpertumbuhanitukitabertahan,
padasaat yang samakitamengarungitantanganbarudankesulitan yang terusmenerus
dating.
Hidupharusdibangundiataspertumbuhan yang
lebihsehat.Mengharapkankesadaranpertumbuhandari momentum tahunbaruislam,
mungkinterlaluberlebihan..tapi orang-orang yang beriman,
setidaknyamengertibagaimanasebuahpilihandiambil, dengansepenuhkesadaran.
Sepertipilihanhijrah yang diambil orang-orang dimasaitu.
Tahunbarusemestinyamembuatdirikitalebihberarti,
kitamelihat, lalukitatahu, kitamenyaksikan,
lalukitamemahami.Tapihanyaketikakitaberubah, tumbuhdandinamis,
kitaakanmenjadisesuatu, dengan telah
beranjak kita kepada tahun baru Hijriyah berarti kita mengangkat kembali konsep
hijrah yang diajarkan oleh pendahulu kita yaitu shalafusshaleh, mari kita
hijrahkan diri kita;
- Minal jahiliyah ilal islam, dari tatacara
hidup jahiliyah kepada kehidupan yang islami.
- Minal kufur ilal iman, dari kehidupan
kekafiran kepada keimanan.
- Minal syirik ilal tauhid, dari praktek hidup
yang syirik kepada ketauhidan, hanya mengesakan Allah saja.
-
Minalbathililalhaq, darikebathilankepadakebenaran.
- Minal ma’siyat ilal thaat, dari pekerjaan
yang mengandung dosa kepada ketaatan.
- Minal haram ilal halal, dari praktek hidup
yang haram kepada kehidupan yang halal yang penuh berkah, wallahu a'lam
[Cubadak Solok, 16 Ramadhan 1431.H/ 26 Ramadhan 2010.M].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar