Kata maaf
tidaklah semudah mengucapkannya walaupun orang yang mampu memaafkan disebutkan
sebagai orang yang mulia dan memang orang yang mulia mudah untuk memaafkan.
Seringkali dalam kehidupan sehari-hari kata maaf diawali dengan ucapan “tiada
maaf bagimu”, bila masalah yang dihadapi dianggap tidak bisa diselesaikan,
sikap memaafkan biasanya juga diiringi dengan sikap lemah lembut dalam
bersikap.
Sikap lemah
lembut dan suka memaafkan hanya akan
timbul dikalangan ummat Islam yang faham dengan ajaran Islam dengan baik karena
sejak awalnya Islam memang tersebar dan diterima ummat karena sikap yang satu
ini, yang tidak dimiliki oleh ummat lain, walaupun ada pendapat dari satu agama
yang mengatakan, ”Bila ditampar pipi kiri
maka serahkanlah pipi kananmu”, nyatanya dalam kehidupan sehari-hari
ungkapan ini tidak dilaksanakan oleh ummat Nasrani, malah justru mereka sendiri
yang menampar, mengusir, memerangi, membunuh ummat Islam, baik dikala ummat
Islam mayoritas dalam satu negara, apalagi bila ummat Islam minoritas.
Sikap lemah lembut bukan berarti pasrah atas perlakuan
orang yang tidak adil pada kita, tidak pernah marah atau tidak pernah protes,
hal itupun dilakukan sesuai dengan proporsinya. Marah pada tempat yang memang
harus marah tidak dilarang dalam Islam selama rasa marah tadi sandarannya
kebenaran, memprotes atas ketidakadilan wajib dilakukan tanpa lepas dari
kontrol iman dan ishlah.
Suka memaafkan bukan berarti pengecut, justru memaafkan
adalah sikap kesatria, pada umumnya dalam masyarakat yang minta maaf terlebih
dahulu adalah orang yang lebih rendah derajatnya dan posisinya seperti anak
kecil kepada orngtuanya, kemanakan kepada paman, anak buah kepada majikan hal
ini biasa, tapi sangat luar biasa dan merupakan akhlak terpuji lagi jiwa
kesatria bila orangtua minta maaf kepada anak, paman minta maaf kepada
kemenakannya, dan majikan menyodorkan tangan terlebih dahulu untuk mengucapkan
maaf, sebab kadangkala kesalahan anak, kemenakan dan bawahan pada umumnya
diawali dari kesalahan bapak, paman dan majikan sendiri yang tanpa disadari.
Bersabda Rasulullah kepada Uqbah bin Amir, ”Wahai Uqbah, maukah engkau kuberitahukan
budi pekerti ahli dunia dan akherat yang paling utama? Yaitu; melakukan
silaturahim, memberi kepada orang yang tak pernah memberimu dan memaafkan orang
yang pernah menganiayamu”
Pemaaf adalah sikap yang suka memberi
maaf terhadap kesalahan orang lain tanpa ada sedikitpun rasa benci dan dendam
di hati. Sifat pemaaf adalah salah satu manifestasi dari ketaqwaan kepada
Allah.Sebagaimana firman-Nya, “Dan
bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya
seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.Yaitu
orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun di waktu
sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan)
orang.Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuata kebajikan.” (Q.S.
Ali Imran: 133-134)
Islam
mengajarkan untuk bersikap pemaaf dan suka memaafkan kesalahan orang lain tanpa
menunggu permohonan maaf dari orang yang berbuat salah kepada kita. Karenanya,
tidak ditemukan satu ayat yang menganjurkan untuk meminta maaf, tetapi yang ada
ialah perintah untuk memberi maaf.
Adakalanya seseorang berbuat salah dan menyadari kesalahannya serta berniat untuk meminta maaf, namun ia terhalang oleh hambatan psikologis untuk menyampaikan permintaan maaf. Apalagi jika orang itu merasa status sosialnya lebih tinggi dari orang yang akan dimintainya maaf. Misalnya, seorang pemimpin kepada orang yang ia pimpin, orang tua kepada anaknya, atau yang lebih tua kepada yang lebih muda. Barangkali, itulah salah satu hikmah kenapa Allah memerintahkan kita untuk memberi maaf sebelum dimintai maaf.
Memberi maaf haruslah disertai dengan ketulusan hati dan berlapang dada.Sehingga tak ada tersisa rasa dendam atau keinginan untuk membalasnya. Allah berfirman dalam surat An Nuur ayat 22.
Berlapang dada dalam bahasa Arab disebut ash shafhu secara etimologis berarti lapang.Halaman pada buku dinamai shafhah karena kelapangan dan keluasannya.Dari sini ash shafhu dapat diartikan kelapangan dada.Berjabat tangan dinamai mushafahah, karena melakukannya berarti perlambang kelapangan dada.
Diibaratkan kita adalah dalam menulis di sebuah lembaran kertas, dan kesalahan itu kita hapus dengan alat penghapus. Serapi apapun kita menghapusnya, tentu akan meninggalkan bekas, bahkan barangkali kertas tersebut menjadi kusut. Karena itu, supaya lebih bersih dan lebih rapi, maka kertas yang terdapat kesalahan tulis padanya diganti saja dengan kertas lembaran yang baru.Memaafkan diibaratkan menghapus kesalahan pada kertas, sedangkan berlapang dada diibaratkan mengganti lembaran kertas yang salah dengan lembaran yang baru.
Rasulullah SAW pemilik akhlak yang paling mulia, dengan keagungan akhlaknya telah memberikan suri tauladan kepada umatnya.Diantaranya sikap pemaaf.Diantara sikap pemaafnya dapat kita simak dalam kisah berkut ini.
Dalam peperangan Khaibar, Zainab binti Al Haris istri Salam bin Miskan, salah seorang pemuka Yahudi, memberikan hadiah kambing bakar yang telah matang kepada Rasulullah SAW. Zainab bertanya kepada Rasulullah tentang anggota badan kambing yang disukai beliau, lalu ada yang menjelaskan kepadanya bahwa yang disenangi Rasulullah adalah paha kambing.Kemudian Zainab memberi racun sebanyak-banyaknya pada paha kambing dan menghidangkannya kepada Rasulullah.Kemudian Rasulullah mengambil sedikit daging paha kambing tersebut dan mengunyahnya, tetapi tidak menyukai rasanya. Bisyar Al Barra’ bin Ma’ruf yang saat itu bersama Rasulullah ikut menyantap daging paha kambing tersebut. Rasulullah SAW memuntahkan kembali daging kambing yang beliau kunyah, kemudian berkata: “Sesungguhnya tulang ini memberi tahu kepadaku bahwa dia diberi racun.” Lalu Zainab dipanggil dan ditanya tentang hal tersebut, dan diapun mengakuti perbuatannya.Rasulullah SAW bertanya kepada Zainab tentang perbuatannya itu. Zainab menjawab, “ Karena engkau telah menaklukkan kaumku, sebagaimana engkau ketahui, lantas terlintas di hatiku untuk mengujimu dengan racun itu. Jikalau Muhammad seorang raja, maka aku akan aman dari tindakannya (mati lantaran memakan daging paha kambing yang telah diberi racun), dan jikalau dia memang seorang nabi, tentu ia akan diberitahu (tentang daging yang beracun itu). ” Lalu Zainab dimaafkan oleh Rasulullah, sedangkan Basyar al Barra’ yang telah memakannya, meninggal seketika.Sebenarnya pengakuan Zainab hanya dusta belaka. Sesungguhnya ia benar-benar berniat untuk berbuat jahat terhadap Rasulullah SAW. Walaupun demikian, niat jahatnya itu telah diampuni oleh Rasulullah berka tsifat pemaafnya dan kelapangan dadanya.
Kisah di atas satu dari sekian banyak kisah tentang keluhuran budi pekerti dan akhlakul karimah yang dimiliki oleh Rasulullah SAW.Betapapun besarnya kezaliman yang dilakukan atas diri beliau, tiada sedikitpun beliau menaruh benci apalagi dendam untuk membalasnya.Bahkan pintu maaf selalu beliau buka dengan lebar bagi siapa saja yang bermaksud atau berlaku jahat dan menganiaya beliau.
Perlu disadari, bahwa di dunia ini tidak seorang pun yang tidak pernah berbuat kesalahan. Maka hal yang terbaik bagi setiap diri adalah menyadari akan kesalahan yang pernah diperbuat, kemudian bersegera untuk memohon maaf atas kesalahannya.
Jika kesalahan itu terhadap Allah SWT, maka bersegeralah minta ampun-Nya. Dan jika kesalahan itu terhadap sesama manusia, maka bersegeralah memintakan maaf kepadanya.[Buya H. Masoed Abidin ,Mulianya Pemaaf, korandigital, Friday, 10 October 2008].
Adakalanya seseorang berbuat salah dan menyadari kesalahannya serta berniat untuk meminta maaf, namun ia terhalang oleh hambatan psikologis untuk menyampaikan permintaan maaf. Apalagi jika orang itu merasa status sosialnya lebih tinggi dari orang yang akan dimintainya maaf. Misalnya, seorang pemimpin kepada orang yang ia pimpin, orang tua kepada anaknya, atau yang lebih tua kepada yang lebih muda. Barangkali, itulah salah satu hikmah kenapa Allah memerintahkan kita untuk memberi maaf sebelum dimintai maaf.
Memberi maaf haruslah disertai dengan ketulusan hati dan berlapang dada.Sehingga tak ada tersisa rasa dendam atau keinginan untuk membalasnya. Allah berfirman dalam surat An Nuur ayat 22.
Berlapang dada dalam bahasa Arab disebut ash shafhu secara etimologis berarti lapang.Halaman pada buku dinamai shafhah karena kelapangan dan keluasannya.Dari sini ash shafhu dapat diartikan kelapangan dada.Berjabat tangan dinamai mushafahah, karena melakukannya berarti perlambang kelapangan dada.
Diibaratkan kita adalah dalam menulis di sebuah lembaran kertas, dan kesalahan itu kita hapus dengan alat penghapus. Serapi apapun kita menghapusnya, tentu akan meninggalkan bekas, bahkan barangkali kertas tersebut menjadi kusut. Karena itu, supaya lebih bersih dan lebih rapi, maka kertas yang terdapat kesalahan tulis padanya diganti saja dengan kertas lembaran yang baru.Memaafkan diibaratkan menghapus kesalahan pada kertas, sedangkan berlapang dada diibaratkan mengganti lembaran kertas yang salah dengan lembaran yang baru.
Rasulullah SAW pemilik akhlak yang paling mulia, dengan keagungan akhlaknya telah memberikan suri tauladan kepada umatnya.Diantaranya sikap pemaaf.Diantara sikap pemaafnya dapat kita simak dalam kisah berkut ini.
Dalam peperangan Khaibar, Zainab binti Al Haris istri Salam bin Miskan, salah seorang pemuka Yahudi, memberikan hadiah kambing bakar yang telah matang kepada Rasulullah SAW. Zainab bertanya kepada Rasulullah tentang anggota badan kambing yang disukai beliau, lalu ada yang menjelaskan kepadanya bahwa yang disenangi Rasulullah adalah paha kambing.Kemudian Zainab memberi racun sebanyak-banyaknya pada paha kambing dan menghidangkannya kepada Rasulullah.Kemudian Rasulullah mengambil sedikit daging paha kambing tersebut dan mengunyahnya, tetapi tidak menyukai rasanya. Bisyar Al Barra’ bin Ma’ruf yang saat itu bersama Rasulullah ikut menyantap daging paha kambing tersebut. Rasulullah SAW memuntahkan kembali daging kambing yang beliau kunyah, kemudian berkata: “Sesungguhnya tulang ini memberi tahu kepadaku bahwa dia diberi racun.” Lalu Zainab dipanggil dan ditanya tentang hal tersebut, dan diapun mengakuti perbuatannya.Rasulullah SAW bertanya kepada Zainab tentang perbuatannya itu. Zainab menjawab, “ Karena engkau telah menaklukkan kaumku, sebagaimana engkau ketahui, lantas terlintas di hatiku untuk mengujimu dengan racun itu. Jikalau Muhammad seorang raja, maka aku akan aman dari tindakannya (mati lantaran memakan daging paha kambing yang telah diberi racun), dan jikalau dia memang seorang nabi, tentu ia akan diberitahu (tentang daging yang beracun itu). ” Lalu Zainab dimaafkan oleh Rasulullah, sedangkan Basyar al Barra’ yang telah memakannya, meninggal seketika.Sebenarnya pengakuan Zainab hanya dusta belaka. Sesungguhnya ia benar-benar berniat untuk berbuat jahat terhadap Rasulullah SAW. Walaupun demikian, niat jahatnya itu telah diampuni oleh Rasulullah berka tsifat pemaafnya dan kelapangan dadanya.
Kisah di atas satu dari sekian banyak kisah tentang keluhuran budi pekerti dan akhlakul karimah yang dimiliki oleh Rasulullah SAW.Betapapun besarnya kezaliman yang dilakukan atas diri beliau, tiada sedikitpun beliau menaruh benci apalagi dendam untuk membalasnya.Bahkan pintu maaf selalu beliau buka dengan lebar bagi siapa saja yang bermaksud atau berlaku jahat dan menganiaya beliau.
Perlu disadari, bahwa di dunia ini tidak seorang pun yang tidak pernah berbuat kesalahan. Maka hal yang terbaik bagi setiap diri adalah menyadari akan kesalahan yang pernah diperbuat, kemudian bersegera untuk memohon maaf atas kesalahannya.
Jika kesalahan itu terhadap Allah SWT, maka bersegeralah minta ampun-Nya. Dan jika kesalahan itu terhadap sesama manusia, maka bersegeralah memintakan maaf kepadanya.[Buya H. Masoed Abidin ,Mulianya Pemaaf, korandigital, Friday, 10 October 2008].
Adapun mengani firman Allah
yang menyebutkan :
“.. dan orang-orang yang
menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang, Allah menyukai orang-orang
yang berbuat kebajikan”.(QS : Ali Imran : 134)
Hal ini merupakan tingkatan
kekasih-kekasih Allah:
Pertama, kedudukan menahan
amarah terhadap oarng lain, artinay anda tidak marah, meskipun dalam dada anda
ada ganjalan terhadap mereka,karena sikap mereka yang buruk terhadap diri anda.
Kedua, kedudukan memaafkan
mereka artinya anda tidakmenegur mereka dan tidak membalas sikap mereka yang
buruk dengan perbuatan yang sama (semisal).
Ketiga, kedudukan berbuat kebaikan artinya anda memaafkan mereka, tidak memarahi mereka dan mendo’akankebiakn bagi mereka.
Seorang pelayan berdiri
diatas kepala Khalifah Harun Ar-Rasyid, sedang di tangan pelayan itu ada teko
berisikan air panas yang akan dituangkannya. Ternyata sebagian dari air itu
tumpah mengenai pakaian Khalifah, maka Harun marah karena di sekitar Khalifah
Harun terdapat banyak amir, para menteri, dan komandan pasukan.
Si pelayan yang berotak
cerdas itupun berkata, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah telah
berfirman : “.. dan orang-orang yang menahan amarah”, (QS : Ali Imran : 134).
Kemudian Harun Al-Rasyid menjawab, “Sesungguhnya aku telah menahan amarahku”.
Si pelayan melanjutkan
ucapannya menyitir firman-Nya : “Memaafkanlah kesalahan orang lain”. (QS : Al
Imran : 134). Harun Ar-Rasyid menjawab : Allah menyukai orang-orang yang
berbuat kebaikan”. (QS : Ali Imran : 134). Harun Ar Rasyid menjawab :
“Sesunguhnya sekarang aku memerdekanmu karena Allah”.
Kisah ini disebutkan oleh
penulis dalam buku Al-Bidayah dan penulis buku Al ‘Iqdul Fariid (Ibnu Abdu
Rabbihdari Andalusia).
Adapun mengenai firman Allah
Ta’ala kepada Rasul-Nya yang menyebutkan:
“Semoga Allah memaafkanmu. Mengapa kamu member izin kepada mereka (untuk tidakpergi berperang)?”. (QS : At-Taubah : 43).
“Semoga Allah memaafkanmu. Mengapa kamu member izin kepada mereka (untuk tidakpergi berperang)?”. (QS : At-Taubah : 43).
Sebenarnya bukan teguran
terhadap Rasulullah shallahu alaihi wa sallam. Hal ini terjadi ketika beliau
mempercayai alasan orang-orang munafiq ketika mereka meminta maaf kepadanya,
karena tidak ikut berperang bersamanya.Allah berfirman“Semoga Allah
memaafkanmu”. (QS : At-Taubah : 43)
Ungkapan ini bukan berarti
teguran terhadap Rasul, ketika beliau mempercayai orang-orang munafiq yang
beralasan kepadanya untuk tiak ikut berperang bersamanya. Yakni “kami tidak
menegur kamu”, semakna dengan perkataan penyair :
“Manakala terjadi antara
kami dan kamu teguran,
Dan baik kami mapun kamu,
Berada jauh dari tempat tinggal kita,
Maka hati kita sebagaimana yang telah engkau kenal,
Adalah penuh kasih saying dan mata hati yang telah engkau kenal ini
Banjir dengan air mata”.
Dan baik kami mapun kamu,
Berada jauh dari tempat tinggal kita,
Maka hati kita sebagaimana yang telah engkau kenal,
Adalah penuh kasih saying dan mata hati yang telah engkau kenal ini
Banjir dengan air mata”.
Adapun bila
diinterpretasikan, sebagai hukuman, maka Rasulullah shallahu alaihi wa sallam
jauh dari hal itu, karena Allah Ta’ala telah berfirman :
“Supaya Allah member ampunan
kepadamu terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan datang seta menyempurnakan
nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus”. (QS : Fathir : 2)
Tiada lain makna yang
dimaksud ialah, “Kami tidak menegurmu”, karena sesungguhnya bahasa teguran itu
hanya seperti yang terdapat dalam firman-Nya :
“Dia (Muhammad) bermuka masam dan
berpaling”. (QS : Abasa : 1)
Akan tetapi, di sini disebutkan :
“Semoga Allah memaafkanmu”.(QS :
At-Taubah : 43)
Allah Ta’ala mendahulukan
pemaafan agar Rasulullah shallahu alaihi wa sallam terhibur dan tidak merasa
takutkepada-Nya.[Eramuslim, Aidh
Al-Qarni,Maka Berlaku Maaflah Akan Bahagia,Thursday, 31/03/2011 10:51
WIB].
Dalam kehidupan sehari-hari sering
terjadi kesalahfahaman, perselisihan pendapat hingga mengundang sakit hati
antara satu dengan lainnya, tapi seharusnya sebagai muslim hal itu tidak
menyebabkan putusnya silaturahim dan hilangnya ukhuwah islamiyyah, sebagaimana
juga dialami oleh para sahabat pada zamannya.
Kita tentu masih
mengingat, siapa sosok Bilal bin Rabbah ra. Salah satu tokoh dalam sejarah
Islam yang mengukirkan namanya dengan tinta emas, meski awal sejarah hidupnya
adalah orang yang papah, tak dihargai, budak yang diperjualbeli dan mungkin tak
dipandang sebelah mata. Lalu dengan Islam, nama Bilal bin Rabbah ra menjadi
mulia, bahkan menjadi rujukan amal-amal shalih yang kita lakukan saat ini.
Kita juga ingat
sosok Abu Dzar al Ghiffary ra, seorang manusia yang mencari kebenaran dengan
seluruh hidupnya.Menebus kebenaran dengan nyawa.Membela kebenaran dengan
seluruh keberanian jiwanya. Dua manusia mulia yang pernah dilahirkan oleh
sejarah Islam, hasil dari tarbiyah Rasulullah saw.
Suatu ketika,
keduanya pernah berselisih pendapat. Entah karena didorong rasa apa, Abu Dzar
ra sampai mengucapkan kata-kata yang sangat menyinggung Bilal bin Rabbah ra.
“Hai, anak orang hitam!” kata Abu Dzar ra pada Bilal bin Rabbah ra.
Sahabat Bilal
sangat sedih, dan mengadukan hal ini pada Rasulullah saw, sang pemimpin yang
adil dan penuh kasih sayang. Setelah mendengar pengaduan sahabatnya Bilal,
Rasulullah memanggil dan mengajak Abu Dzar berbicara.
Singkat cerita,
setelah obrolan bersama Rasulullah tersebut, Abu Dzar menyadari betul ada sifat
dan perilaku jahiliyah yang masih tertinggal dan dilakukannya.Abu Dzar merasa,
seharusnya tak terjadi hal yang demikian, apalagi pada sahabat sendiri yang
telah dimuliakan oleh Islam dan memuliakan Islam.
Dengan
sungguh-sungguh, kemudian Abu Dzar mencari Bilal bin Rabbah. Ketika menemui
Bilal bin Rabbah, Abu Dzar duduk dengan penuh takzim di depannya. Kemudian Abu
Dzar meminta maaf, ia tempelkan sebelah pipinya ke tanah dan berkata, ”Wahai
Bilal, injaklah pipiku dengan kakimu.”
Subhanallah, ini
adalah catatan sejarah tentang keseriusan permintaan maaf. Betapa banyak hari
ini kita melakukan kesalahan, lalu sebesar apa perasaan bersalah itu muncul ke
permukaan. Semendalam apa penyesalan kita atas kesalahan yang telah kita
lakukan. Sekuat apa kita memperbaikinya, atau jika menyangkut orang lain,
sedahsyat apa usaha permintaan maaf yang sudah kita lakukan?
Secara bahasa,
kita sering mengganti perkataan ”maaf” dengan kata ”sorry” yang sering
diucapkan dengan hambar dan nyaris tak berarti. Secara bahasa kita sering
mengganti kata ”maaf” dengan mengucakan ”afwan” yang kita keluarkan dengan
sangat ringan. Tapi kita lupa menitipkan kesungguhan di sana. Kita alpa
meletakkan ruh pada kata maaf, sorry dan afwan. Karena, kita tidak benar-benar
merasa bersalah atas sebuah perbuatan, pada seorang teman, pada banyak orang,
pada orangtua, pada saudara, pada bawahan, pada pemimpin, pada rakyat yang
dipimpin, pada jamaah, pada qiyadah, pada orang-orang yang tanpa sepengetahuan
kita menganggap sangat besar kesalahan yang kita lakukan.[ Herry nurdi,Meminta Maaf dengan Sangat Serius, Cyber
Sabili, Rabu, 07 April 2010].
Jika kita menerima
perlakuan yang tidak baik dari saudara kita, bukan tidak boleh membalas, boleh
kita balas perlakuan itu tapi yang setimpal, tidak boleh melebihi dari
perlakuan yang kita terima, bahkan lebih baik adalah memberi maaf kepada
pelakunya.
Apakah membalas dengan perlakuan yang sama lantas perasaan dendam itu akan hilang? Tidak. Perasaan negatif itu akan terus muncul tanpa bisa dibendung, kecuali dengan memaafkan. Lalu, setelah membalas perlakuan buruk dengan yang lebih buruk, apakah perasaan dendam itu hilang, karena puas dengan balasan yang lebih?Sekali lagi tidak. Perasaan dendam tidak akan hilang, walau perlakuan buruk telah dibalas dengan yang lebih buruk.
Sangat mungkin orang yang dibalas dengan yang lebih buruk, akan membalasnya kembali dengan yang lebih buruk lagi. Akhirnya, puncaknya adalah salah seorang dari keduanya mati terbunuh.Lalu, keluarga korban membalasnya dengan membunuh pula. Lebih jauh dan sangat mungkin akan terjadi perang: perang antarkeluarga, menyebar menjadi perang antarkelompok, dan seterusnya. Sekarang bayangkan, apa jadinya jika semua orang di negeri ini pendendam? Tentu tidak akan ada kehidupan damai.
Nah, apa langkah yang tepat ketika mendapat perlakuan buruk dari orang lain? Yaitu, dengan memaafkan.Ada rahasia yang tidak kasat mata dalam memaafkan. Jika kita memaafkan orang yang melakukan hal buruk, ada kemungkinan ia pun akan meminta maaf kepada kita. Jika pun tidak, orang yang memaafkan akan terhindar dari perasaan dendam yang akan terus menyiksa batinnya. Langkah selanjutnya adalah bersabar atas apa yang menimpa kita. Dan, kebahagiaan akan muncul mewarnai jiwanya. Sebab, memaafkan dan sabar hanya lahir dari hati yang bahagia.
Allah telah memberikan bimbingan kepada Rasulullah SAW dan umatnya melalui firman-Nya."Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu.Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang bersabar." (QS an-Nahl [16]: 126).
Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa ayat ini turun ketika Rasulullah SAW melihat jenazah Hamzah yang gugur sebagai syahid dalam Perang Uhud dengan keadaan tubuhnya yang mengenaskan.Seketika itu, Rasulullah berucap, "Sungguh aku akan membalas dendam kepada orang-orang kafir.Aku benar-benar akan membantai tujuh puluh orang di antara mereka."Dan, turunlah ayat ini.Allah memberikan nasihat kepada Rasulullah agar bersabar.Karena itulah yang terbaik.Dan, akhirnya Rasulullah mengurungkan niatnya untuk membalas dendam. Maka, memaafkan dan sabar adalah alasan yang paling tepat bagi siapa saja yang menginginkan kebahagiaan.[Dede Sulaeman, Rahasia Maaf, Republika Online, Wednesday, 20 April 2011 15:55 WIB].
Orang
yang mampu memberi maaf atas kesalahan orang lain adalah orang mempunyai sikap
dan kepribadian sabar, mampu mengendalikan emosi dan amarahnya dan memandang
sesuatu itu dengan positif, kemarahan dan ketidakmampuan memaafkan akan
menyulitkan pergaulan dan menyesakkan perasaan sehingga mudah sekali sakit
hati, hanya orang-orang yang mau sehatlah yang dapat memaafkan orang lain,
Wallahu a’lam [Batu Berendam Malaka Malaysia, 04 Rajab 1432.H/ 06 Juni 2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar