Selasa, 01 Desember 2015

105. Andai Aku Tahu Sabar Berpahala



Rasulullah hijrah dari Mekkah ke Madinah dapatkah dikatakan takut dengan kafir Quraiys yang selama ini mengintimidasi, teror dan tindakan lainnya melecehkan ummat islam. Padahal beliau mampu bertahan di Mekkah selama 13 tahun menyebarkan fikrul islami [pemikiran islam]. Berkat kesabarannyalah sehingga keberhasilan da’wah itu menemukan titik terang di Madinah. Pernah satu ketika saat Amar bin Yasir dianiaya oleh majikannya bahkan bapak dan ibunya telah dibunuh dihadapannya sendiri, waktu itu Rasululah mendekati Amar, menepuk pundaknya sambil berharap,”Sabar wahai Amar, syurga ditanganmu”.

            Kalau saja ketika itu Rasul mengadakan perlawanan terhadap tindakan kafir Quraisy tentu da’wah ini akan hancur sementara kekuatan ummat islam belum tertata, buah dari kesabaran inilah yang mengantarkan Amar bin Yasir memperoleh syurga kelak di akherat, Allah berfirman;”Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. mereka tidak menjadi lemah Karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.’’[Ali Imran 3;146]

            Dalam peperangan sekalipun    seorang mukmin dituntut untuk sabar dengan menyusun strategi perang yang jitu, kekalahan di medan jihad Uhud karena tidak sabarnya pasukan pemanah menanti peperangan usai sementara ghanimah sudah bertebaran di depan mata.
Negeriiniseolahtiadahentinyadideraberagamrupabencanaalam.Mulaibanjirbandang yang menghantamWasior, Papua, gempadan tsunami yang menimpaMentawaihinggaletusangunungMerapi di Yogyakarta.Musibahataubencanaselalumelahirkankorban, baikjiwamaupunharta.Selalumelahirkansimpatidanempatisesama, seberapa pun kecilnya.Itulahkodratmanusiawitiapinsan yang memilikikepekaanhati.
Terlepasapapunkausalitasbencana, entahujianatauazab; selaluadaharapanuntukberbenahdiri.Selaluadakesempatanuntukmerubahperingaidanperilaku.Dan salahsatusikapluhur yang perludilakoniadalahbersikapsabar.Sebagaimanadikatakan Imam Hasan al-Banna, sabaradalahlelakumulia yang dapatmenguatkanjiwahinggamampumenanggungsegalabebanderita.Menjadikannyarelamelawanberbagaikecenderungan, perasaan, danhawanafsu.
Allah SWT berpesan, “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlahkamudankuatkanlahkesabaranmudantetaplahbersiapsiaga (di perbatasannegerimu) danbertakwalahkepada Allah, supayakamuberuntung.” (QS Ali 'Imran: 200).
Berapabanyakmusibah yang menjadikecildanberapabanyakmalapetaka yang menjadiremeh di hadapanjiwa yang agungnanluhur, sertaberapabanyakkondisisulit yang dilapangkanolehjiwa yang jauhdarikeresahan. Orang-orang alimmemandangkesabaransebagaisaranauntukmengangkatderajatdansebagaiujianuntukmengalihkanpelakunyadarisatukedudukankepadakedudukanlain yang lebihtinggidanlebihbesar.
Merekamemandangberbagaimusibahsebagaisaranauntukmendapatkankaruniadananugerah Allah, sertameyakinibahwasemuakesulitanterlalukecildibandingkanpetunjuk-Nya.Seorangdarimerekaberujar, “Pedihnyaujianmenjadiringanbagimulantaranpengetahuanmubahwa yang mengujimuituadalah Allah SWT.Sebab yang membuatketetapan-ketetapanitumengarahpadamuadalahjuga yang menunjukkankepadamuujian yang baik.”
Sabaradalahsalahsatukuncikebaikan yang dengannyaberbagailimpahanpahalatercurahkan, danmerupakansalahsatuguyuranhujanrahmat yang membawakebaikan yang melimpah.[SabarCyber Sabili, Senin, 22 November 2010 20:39 ChairulAkhmad].
            Semua yang teRjadi di alam ini telah ada ketetapannya. Tidak ada satu peRkaRa pun yang beRgeseR dan menyimpang daRi apa yang telah ditetapkan AllOh subhanahu wa ta’ala. Allah telah menetapkan takdiR seluRuh makhluk, semenjak lima puluh Ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Rasulullah shOllallahu ‘alaihi wa sallam beRsabda: Allah telah menetapkan takdiR seluRuh makhluk lima puluh Ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. (HR. Muslim)

Dalam kaitan ini, maka wajib bagi seluRuh manusia untuk beRiman kepada takdiR Allah, yang baik maupun yang buRuk. Allahlah yang telah membagi Rezeki, menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji hamba-Nya, menentukan apakah seORang hamba teRsebut teRmasuk yang bahagia atau sengsaRa ketika di dunia. Allah juga telah menetapkan ajal seseORang, dan memastikan pula tempat tinggalnya di akhiRat kelak, suRga ataukah neRaka. Semua yang teRjadi adalah beRdasaRkan iRadah-Nya, kehendak Allah.
Kemudian, sebagaimana yang kita Rasakan, manusia hidup di dunia ini, tak peRnah lepas daRi kesusahan, kesengsaRaan dan kesedihan. Ini semua meRupakan ujian yang selalu datang silih beRganti. AllOh subhanahu wa ta’ala beRfiRman: “Dan sungguh akan Kami beRikan cObaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelapaRan, kekuRangan haRta, jiwa dan buah-buahan. Dan beRikanlah beRita gembiRa kepada ORang-ORang yang sabaR.” (QS. Al BaqaRah/2: 155).

Hikmah yang bisa diambil dengan adanya beRbagai cObaan ini, ialah untuk membedakan antaRa ORang yang benaR dan ORang yang dusta dalam pengakuannya teRhadap keimanan kepada Allah. Allah beRfiRman: “Apakah manusia itu mengiRa bahwa meReka dibiaRkan (saja) mengatakan: "Kami telah beRiman", sedang meReka tidak diuji lagi?. Dan sesungguhnya kami telah menguji ORang-ORang yang sebelum meReka, maka sesungguhnya Allah mengetahui ORang-ORang yang benaR dan sesungguhnya Dia mengetahui ORang-ORang yang dusta.” (QS. Al Ankabut /29:2-3).

Dengan adanya cObaan, maka seseORang akan mengetahui tentang diRinya dan hakikat keimanannya. SeseORang tidak bisa mengaku telah benaR-benaR beRiman kepada Allah, sebelum datang ujian kepada diRinya dan ia pun mampu untuk beRtahan dengan kesabaRan. Ibnul Jauzi beRkata, “BaRangsiapa yang menginginkan selalu mendapatkan kekekalan dan kesejahteRaan tanpa meRasakan cObaan, maka dia belum memahami hakikat hidup dan penghambaan diRi kepada Allah.”

Begitu pula dengan seORang mukmin. Dia pun mendapatkan ujian, dan tidak lain kecuali sebagai taRbiyah, bukan sebagai siksa. Allah Subhanahu wa Ta’ala membeRikan ujian, baik dalam keadaan suka maupun duka.  Dan Kami cOba meReka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buRuk-buRuk, agaR meReka kembali (kepada kebenaRan).” (QS. Al A’Raf /7: 168).

Sesuatu yang kita benci teRkadang membawa kebaikan, dan sesuatu yang kita sukai teRkadang beRujung dengan kesengsaRaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kita dalam fiRman-Nya. “BOleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bOleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buRuk bagimu;” (QS. Al BaqaRah/2: 216)
Setelah memahami, bahwa dunia ini penuh ujian, maka maRilah kita mempeRsiapkan diRi sebelum cObaan itu benaR-benaR datang. Yaitu dengan mempeRtebal keimanan kepada Allah. Sehingga saat menghadapi cObaan, kita tidak beRkeluh-kesah, dan semua akan teRasa Ringan. Kita haRus yakin, ujian atau musibah itu pasti ada akhiRnya. Jangan sampai musibah teRsebut membuat kita menjadi gelap mata, sehingga mulut mengeluaRkan peRkataan yang dapat membinasakan. Atau jangan sampai peRbuatan kita membuat diRi menjadi binasa. Ringankanlah setiap beban dengan selalu mengingat pahala dan Ridha yang dijanjikan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ingatlah ORang-ORang yang sabaR dalam menghadapi musibah, ia dijanjikan Oleh Allah dengan pahala yang besaR, bahkan akan dilipatgandakan dengan yang lebih besaR lagi.
Jalan keluar dari segala bencana dan ujian hidup itu hanya satu yaitu bersabar menghadapinya, bila tidak sabar mau kemana kita lagi sedangkan musibah itu tidak dapat kita mengelaknya karena segalanya akan datang dengan tiba-tiba. Begitu juga dengan nikmat Allah tidak  dapat memprediksinya kapan akan kita peroleh, untuk bersabar atas bencana dan musibah memang sudah watak manusia tapi hal luar biasa yang terdapat pada pribadi manusia apabila mampu pula bersabar atas nikmat yang diberikan Allah.
Kesabaraninilah yang akanmenjadikanmanusiasempurnadalamkehidupannya. Kesabaraninilah yang akanmengantarkanmanusiamendapatkanridha Allah AzzaWaJalla. Kesabaraninilah yang akanmenyebabkanmanusiamendapatkankemuliaandisisi-Nya.

Bersabaratasnikmatiman yang telahdiberikanoleh Allah AzzaWaJallakepadakita. Bersabaratasnikmat Islam yang telahdiberikanoleh Allah AzzaWaJallakepadakita. Sabardenganiman yang kitamilikiini, kitaakanmenjadikekasih-Nya yang kekal. Takakannistahidupkita. Selamanya.
Dengannikmat Islam, danbersabardengannya, kitaakanmenjadimanusia yang hidupdenganlurus, mendapatkan ‘shirat’ (jalanlurus), takakanpernahtersesatselama-lamanya. MenjadikanpetunjukRabbaniyahitu, bagikehidupankita, makaakanmendapatkankebahagiandankedamaian. Takadacara lain, danmethodelain, yang dapatmengantarkankehidupan yang membawakepadakehidupan yang damaidantenteram, kecuali Islam.

Allah Ta’alaberfirman :“Makabersabarlahsepertipararasul yang memilikiketeguhanitutelahbersabar.”(QS. al-Ahqaf [46] : 35)
Mereka yang memilikikesabarandanketeguhanadalahNuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad ShallahuAlaihiWaSallam.
Merekahamba-hamba-Nya yang memilikikesabarandanketeguhandalammemegangkeimanan, keislamanmereka.Merekasangatteguh.Tidakmudahberubaholehpengaruhlingkungan, kondisi, danfaktor-faktorkeduniawian.

Merekabenar-benarberpegangteguhdenganapa yang telahdiberikanoleh Allah AzzaWaJalla. Tidakada yang dapatmenggoyahkansikapmerekasedikitpun.Termasukbagaimanaketikamerekamenghadapitekanandanbujukan, merekatetapsabar.Merekahanyamemilihjanji-Nyadanridha-Nya.

Pribadi yang benar-benarmenjadiuswah,dankitaharusberitiba’ kepadaRasulullahShallahuAlaihiWaSallam, karenasifat-sifatnya yang memberikanpelajaran yang sangatluarbiasabagikehidupanseluruhumatmanusia.
BagaimanaBeliau yang telahmenggenggamkekuasaan.Beliautelahmemilikisegalanya.Segala yang diinginkanmanusia.Berupakehidupandunia.TetapiRasulullahShallahuAlaihiWaSallam, takpernahtersentuhhatinyadengansemua yang artifisialduniawi. Beliautetapbergemingdengandakwahnya.Inilahteladanmanusia yang sabar di mukabumi.
Abu Sofyanpernahmenawarkanpernik-pernikkehidupan.Kekuasan, harta, danperempuancantik, diantaraperempuanQurays, tetapiRasulullahShallahuAlaihiWaSallam, menolaknya. Tidakadakemuliaandengankehidupan yang artifisialberupadunia.Kekuasaan, harta, danperempuan, semuaitumemilikilimitasi, takpernahkekal.

Semuanyaakanberakhirdenganketentuan-Nya. Rasulullahmemilih yang kekal, yang sempurna, dankenikmatan yang panjang, tanpaakhir, yaitukehidupanakhirat.Janji-Nyadiyakinitakakanpernahselisih, karenabukanjanjimanusia.[Mashadi, BersabarlahAtasNikmatnya, Selasa, eramuslim.com. 23/11/2010 13:02 WIB],

Seorang mukmin dituntut untuk menerapkan sabar ini dalam seluruh asfek kehidupannya dengan tidak menghilangkan ketegasan serta keberanian, secara prinsip kesabaran itu diletakkan pada empat hal;

            Pertama, Ash Shabru ’indal musyibah, artinya kesabaran itu ditempatkan saat menerima musibah. Umumnya kehidupan manusia ini dihiasi oleh dinamika ujian dan ujian, baik berupa kesenangan maupun kesengsaraan, keberhasilan ataupun kegagalan,bahkan Allah menjadikan musibah ini sebagai sunnatullah dalam kehidupan;’’Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"[Al Baqarah 2;155-156].

            Kedua, Ash Shabru ’anil ma’siyat, artinya kesabaran itu harus terujud saat berhadapan dengan maksiat. Yang dimaksud adalah segala maksiat yang ada di hadapan seorang mukmin,dia harus berupaya untuk menghindarinya sekaligus untuk menyingkirkan maksiyat itu dengan penuh hati-hati, tidak boleh secara prontal dan emosional, Ibnu Taimiyah berkata,”Jangan menghilangkan maksiat dengan emosional yang akhirnya akan mendatangkan maksiat yang lebih besar”.

            Ketiga, Ash Shabru ilat Tha’ah, artinya dalam menjalankan ketaatan kepada Allah haruslah mengujudkan kesabaran, karena terlalu banyak rintangan dan rongrongan yang datang kepada seorang mukmin ketika dia akan mematuhi segala suruhan-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Sabar yang keempatadalahsabaratasbebandakwahkepada Allah.Sebabparada’imenuntutmenusia agar membebaskandiridarihawanafsu, lamunan-lamunankosong, adatkebiasaanmereka, memberontakkepadasyahwat, sembahannenekmoyang, tradisikaum, da superioritaskelasatauketurunan, memberikansebagian yang merekamilikikepadasaudaranya, danmematuhiketentuan-ketentuan Allah dalambentukperintahdanlarangan, halal dan haram.
Sementarakebanyakanmanusiamenentangdakwah yang dibawakanolehRasulullahshallahualaihiwasallam, sepertimenghadapiperlawanan yang menggunakansegalabentuksenjata, harta, kekuasaan, kekuatan, wibawa, pengaruhdansebagainya.
Tidakadajalan lain bagiparada’ikecualiharusberpegangteguhdengankeyakinansertabersenjatakankesabarandalammenghadapikekuatandankekuasaantiran.
Sabar di sinisepertidikatakan Imam Ali ra, merupakanpedang yang takpernahtumpuldancahaya yang takbisaredup. Hal inisesuaidengan yang disebutkanhadistshahih,“Sabaradalahcahaya”.
Inilahrahasiadikaitkannyaantaratawashibish-shabridantawashibilhaqqidalamsurat al-Ashr,“Demi masa, sesungguhnyamanusiaitubenar-benarberadadalamkerugian, kecuali orang-orang yang berimandanmengerjakanamalshalihdannasehat-menasehatisupayamenetapikesabaran”. (QS. Al-Ashr [103] : 1-3)
Sebab, kebenarantidakdapatdipertahankankecualidengansabar.Jugamerupakanrahasiadikaitkannyakesabarandenganamarma’rufdannahimunkar di dalamwasiatLukman Hakim kepadaanaknya,“Haianakku, dirikanlahshalatdansuruhlahmanusiamengerjakan yang baikdancegahlahmanusiadariperbuatan yang mungkardanbersabarlahterhadapapa yang menimpakamu. Sesungguhnya yang demikianitutermasukhal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (QS. Lukman [31] : 17)

Seolah-olahdiaberpesan, selamaengkaumenyerukepadamanusiakepadakebaikan, memerintahmerekamelakukan yang ma’rufdanmencegahmerekadari yang mungkar, makapersiapkanlahdirimu yang memerintahkankebaikandanmelarangkemungkaran.[Sheikh Yusuf Qardawi, BersabarlahAtasBebanDakwah, Eramuslim, Senin, 04/04/2011 09:48 WIB].

Dari sekian nabi dan rasul yang memiliki kesabaran yang luar biasa sehingga Allah memuji mereka dengan sebutan ulul azmi, mereka adalah nabi Nuh, nabi Ibrahim, nabi Musa dan nabi Muhammad Saw, yang seharusnya seorang mukmin mencontoh pribadi ini dalam kesabaran, wallahu a’lam [Baloi Indah Batam, 11 Rajab 1432.H/ 13Juni 2011.M].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar