Selasa, 01 Desember 2015

95. Andai aku tahu Muhasabah Berpahala



Level iman tertinggi dalam islam adalah Taqwa setelah melalui perjalanan panjang sebagai muslim, mukmin dan muhsin.Taqwa tidak bisa dibiarkan saja karena dia merupakan level iman yang mengalami fluktuasi yaitu ibarat gelombang, kadangkala naik dan kadangkala turun, taqwa harus dijaga dengan sebaik-baiknya hingga pada akhir kehidupan kita tetap dalam posisi masih bertaqwa;”Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sungguh-sungguh bertaqwa dan janganlah mati kecuali dalam tetap beriman  [Ali Imran 3;102   ].

Agar taqwa itu tetap bertahan di dada kita bahkan akan mengalami kondisi yang baik  terus ada lima  sikap yang harus kita tanamkan dalam diri kita sebagaimana yang dikupas oleh Dr. Muhammad Nasih Ulwan dalam bukunya, Tarbiyyah Ruhiyyah/  Pendidikan Ruhani, salah satunya yaitu Muhasabah.

Mengoreksi kesalahan diri sendiri tidaklah semudah bila kita mengoreksi kesalahan orang lain, padahal sikap ini mendatangkan keuntungan bagi kesucian jiwa. Kalau kita bisa melihat kesalahan dan dosa orang lain sebenarnya kesalahan dan dosa kitapun terlalu banyak untuk dinilai. Taubatpun mengajak kita untuk mengakui kesalahan kita kepada Allah agar taubat itu betul-betul dikabulkan  yaitu penyesalan atas semua kejahatan yang telah dikerjakan dimasa lampau, dan berusaha meninggalkannya, kemudian berjanji untuk tidak mengulanginya dihari yang akan datang. Tidaklah taubat seseorang dikatakan benar sehingga dia merasa sedih dan menyesali semua kejahatan yang telah dikerjakannya, yaitu penyesalan yang disertai dengan perasaan sedih di hadapan Allah SWT.

Umar bin Khattab menyatakan,"Hasibu Anfusakum Qabla an Tuhasabu" hisablah dirimu sebelum kamu dihisab artinya seorang muslim itu harus selalu memeriksa dirinya sebelum kelak diperiksa oleh Allah. Manfaat dari introsfeksi adalah untuk memperbaiki kekhilafan masa lalu, untuk menyempurnakan kekurangan, menjauhkan sifat angkuh dan menatap masa depan yang lebih baik. Dalam surat Al Qiyamah 75; 2-3 Allah berfirman;"Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). Apakah manusia mengira, bahwa kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya"

Orang yang selalu melakukan muhasabah juga menyesal: bila ia berbuat kebaikan ia menyesal Kenapa ia tidak berbuat lebih banyak, apalagi kalau ia berbuat kejahatan tentu penyesalannya membuat dia sangat takut dengan balasan dari Allah yang tidak bisa dikompromikan."Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan" [Al Hasr 59;18].

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, suatu siang para sahabat sedang bersama Rasulullah SAW. Lalu, datanglah suatu kaum yang keadaannya sangat memprihatinkan. Wajah Rasulullah berubah ketika melihat mereka. Rasul masuk, kemudian keluar, dan lalu menyuruh Bilal mengumandangkan adzan dan iqamah.

Rasul pun shalat dan kemudian berkhutbah: “Wahai sekalian manusia, bertaqwalah kalian semua kepada Tuhan mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu …” (QS. An-Nisaa’ [4]: 1). Dan, beliau membaca ayat: “… dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat),…” (QS. Al-Hasyr [59] : 18).

Seketika itu, seorang sahabat langsung menyedekahkan dinar, dirham, baju, dan kurmanya. Kemudian, secara berturut-turut diikuti oleh para sahabat yang lain, hingga sedekah berupa makanan dan baju itu menumpuk seperti dua anak bukit.

Melihat pemandangan yang menyenangkan itu, wajah Rasulullah berbinar-binar. Lalu, beliau bersabda bahwa siapa yang berbuat baik dia akan mendapat pahala dari perbuatannya dan juga pahala dari orang yang mengikuti kebaikannya itu tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang mengikuti jejak kebaikannya itu. Demikian sebaliknya ketika seseorang berbuat jelek (HR. Muslim).

Dari riwayat yang amat inspiratif tersebut, Ibnu Katsir lalu menafsirkan, ayat "… dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat),…” tersebut mengandung pengertian: “perhitungkanlah diri kalian sebelum kalian diperhitungkan oleh Allah SWT di hari kiamat kelak, dan perhatikanlah amal shalih apa yang sudah kalian simpan untuk akhirat dan untuk menghadap Tuhan”.

Jadi, muhasabah adalah menghitung diri atau bertanya kepada diri sendiri tentang amal shalih yang akan menjadi bekal dalam perhitungan (hisab) Allah SWT di hari kiamat nanti.

Sebagaimana dialami para sahabat dalam kisah inspiratif di atas, muhasabah akan langsung menggerakkan kita untuk bersegera mengukir amal shalih ataupun prestasi. Sebab, dengan muhasabah, kita akan menyadari kebutuhan kita terhadap amal shalih. Bahwa kita sangat membutuhkan amal shalih untuk bekal kita di akhirat kelak.[ Achmad Sjamsudin, Muhasabah, Republika.co.id. Rabu, 22 Desember 2010, 05:00 WIB].

Kita introsfeksi diri ini, selama Allah memberikan kehidupan dan kewajiban untuk beribadah kepadanya, ketika kita menyandang pribadi muslim apakah kita betul-betul sudah menjadi mukmin sejati, yaitu mukmin yang tidak diragukan lagi komitmennya terhadap Allah dan agama-Nya.

Mukmin ialah orang yang benar-benar beriman kepada Allah SWT. Mematuhi segala perintah dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Itulah mukmin sejati. Mukmin sejati kelak akan mendapatkan surga dan keridaan Allah SWT.

Tentu kita ingin menjadi mukmin sejati yang nantinya mendapat rida Allah SWT dan kekal dalam kebahagiaan. "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya." (QS al-Mu'minun [23]: 1-5).

Ayat tersebut menghendaki kita untuk khusyuk dalam shalat, menjauhi perkataan dan perbuatan yang sia-sia, menunaikan zakat dan tidak mendekati zina. Pertanyaannya kemudian, bagaimana caranya kita bisa khusyuk dalam shalat? Mengapa harus menjauhi hal-hal yang tak berguna, wajib zakat, dan dilarang zina?

Untuk shalat khusyuk ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Pertama, memahami bacaan-bacaan shalat. Kedua, berusaha untuk bisa konsentrasi dan tulus ikhlas dalam mengerjakannya (QS al-A'raf [7]: 29). Ketiga, mengerjakannya dengan thuma'ninah, tenang, dan tidak terburu-buru. Bahkan, kalau ingin sempurna lagi lakukanlah shalat secara berjamaah di masjid.

Berikutnya kita mesti menjauhi perkataan dan perbuatan yang sia-sia. Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam." (Muttafaqun Alaih).

Selanjutnya menunaikan zakat. Zakat hakikatnya menyucikan diri dan menjaga diri dari sifat kikir (bakhil) (QS at-Taubah [9]: 103). Dengan demikian, solidaritas sesama Muslim dapat dipelihara dan terus-menerus ditingkatkan. Mengapa kita perlu menjaga diri dari sifat kikir yang dalam Alquran disebut bakhil?

Allah membenci orang kikir (bakhil). “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka.

Sebenarnya, kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan, kepunyaan Allahlah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan, Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Ali Imran [3]: 180).

Selanjutnya, tidak mendekati zina. Allah SWT sangat membenci perbuatan zina. Oleh karena itu, pelakunya diberi hukuman dan tercatat sebagai pelaku dosa besar. (QS al-Isra’ [17]: 32).

Dari sini jelas bahwa kalau kita ingin bahagia selamanya baik di dunia maupun di akhirat kita mesti menjadi mukmin sejati. Sebagaimana yang terkandung dalam surah al-Mu’minun.

Tetapi hari ini, bagi sebagian umat Islam, iman tidak lagi penting. Tidak shalat sudah biasa, demikian juga dusta dan kesiasiaan. Kikir menjadi budaya dan zina jadi gaya hidup.[Dr Abdul Mannan, Ciri Mukmin Sejati, Republika.co.id. Senin, 13 Juni 2011 08:11 WIB].

Muhasabah akan bermanfaat bagi pribadi muslim dalam rangka menjaga taqwa yang sudah diraih melalui pengkajian dan pengamalan agama selama ini dengan zikir dan fikir, melalui tafakkur dan tazakkur, melalui perenungan secara mendalam sehingga takwa itu tetap dapat dipertahankan hingga akhir hayatnya, sebagaimana Rasulullah pernah menyatakan bahwa iman itu mengalami fluktuasi, ada keadaan naik dan kondisi turun, maka jagalah iman dengan muhasabah dan perenungan dalam kehidupan ini.

Allah SWT memerintahkan kepada hamba-hambanya baik melalui kalimat secara langsung maupun tidak langsung, agar memperbanyak tafakkur/merenung. Termasuklah salah satu bahan renungan adalah tentang makna sebuah kehidupan; darimana asal kejadian, bagaimana proses penciptaan manusia, mengapa dan untuk apa diciptakan, kemudian kemana akhir kehidupan, serta apa kejadian sesudah dimatikan. Demikian isi kandungan dari ayat di atas.

Yang dapat diketahui bahwa manusia diciptakan dari saripati tanah, menjadi mani, menjadi segumpal darah, segumpal darah kemudian menjadi segumpal daging, daging dikuatkan dengan tulang jadilah manusia seperti kita yang kemudian berproses dalam kehidupan dari masa anak-anak, remaja, tua, hingga mengakhirinya dengan kematian, kemudian dibangkitkan untuk mempertanggung-jawabkan masa kehidupan di dunia. Ini adalah proses alamiah yang tidak hanya manusia yang akan melewatinya, tetapi seluruh makhluk yang bernyawa."Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang Telah ditentukan waktunya." (QS Ali Imran :145

Apabila disadari betul-betul hidup di dunia sungguh-sungguh singkat, sangat-sangat sebentar/sesa’at, menurut WHO salah satu badan kesehatan dunia, rata-rata harapan manusia untuk hidup maksimal adalah antara 50-79 tahun. Hal ini apabila dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang kekal abadi. Allah SWT menggambarkannya: "Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi." (QS 79: 46)

Dari pemahaman yang mendalam inilah, diharapkan timbul kesadaran, dan dari kesadaran diharapkan muncul akhlak yang mulia selama menjalani hidup di dunia. Dengan prinsip untuk apa melalaikan perintah Allah dalam kehidupan yang singkat dan terbatas, dan untuk apa berbuat jahat kepada sesama manusia, semua itu akan sia-sia dan menjadikan rugi bahkan menyesal ketika di hari pertanggungjawaban.

Sebaliknya, hidup yang serba singkat ini hendaknya banyak berbekal dengan keshalehan, ketakwaan, mengisi waktu tersisa dengan hal-hal yang bermanfaat dan banyak membahagiakan orang lain tentunya dapat mengantarkan manusia kepada ketenangan menjalani kehidupan dunia dan akhirat.[Madri SPdI’,Renungan Hidup, Republika.co.id.Selasa, 19 April 2011 07:17 WIB].

Banyak hal yang dapat kita renungi dalam muhasabah sebagai koreksi diri agar dimasa-masa yang akan datang kita berhati-hati menjalani kehidupan ini , sebab segala musibah, bencana dan ujian yang datang adakalanya karena kesalahan, dosa dan maksiat yang kita lakukan.

Sungguh, musibah demi musibah di negeri ini sudah sering terjadi; mulai dari tsunami, gunung meletus, banjir bandang, kebakaran hutan hingga gempa bumi yang beruntun terjadi. Namun, sepertinya musibah demi musibah itu datang sekadar menimbulkan duka-lara seketika, kemudian setelah itu tak berbekas apa-apa. Banyak orang kemudian bermaksiat seper-ti biasa, melakukan banyak dosa seperti sedia kala. Penguasa dan wakil rakyat tetap menerapkan hukum-hukum kufur. Para ulama pun seolah tetap merasa 'nyaman' dengan tidak diberlakukannya hukum-hukum Allah. Kaum Muslim secara umum juga sepertinya tetap merasa 'enjoy' dengan berbagai kemaksiatan dan kezaliman yang ada. Padahal Allah SWT berfirman (yang artinya): “Apakah kalian merasa aman terhadap Allah yang (ber-kuasa) di langit bahwa Dia akan menjung-kirbalikkan bumi bersama kalian sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang? Ataukah kalian merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu? Kelak kalian akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku? Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasul-Nya). Alangkah hebatnya kemurkaan-Ku (QS al-Mulk [67]: 16-18).

Allah SWT juga berfirman (yang artinya): Apakah mereka tidak melihat bahwa sesunguhnya Kami mendatangi bumi, lalu Kami mengurangi bumi itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya); tidak ada yang dapat menolak kete-tapan-Nya (QS ar-Ra'd [13]: 41).

Sebagian ahli tafsir menerangkan bahwa maksud dari "Kami mengurangi bumi itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya" adalah dengan tenggelamnya sebagian bumi, gempa dan berbagai macam bencana. Semua ini, sebagaimana terungkap dalam ayat di atas, adalah semata-mata atas kehendak Allah SWT (Lihat: QS at-Taubah [9]: 51).

Harus disadari, segala bentuk ben-cana alam merupakan bukti kemahakua-saan Allah. Dengan itulah, kita seharusnya menyadari betapa manusia ini sangat lemah dan tidak berdaya di hadapan kemahakuasaan Allah (Lihat: QS ar-Ra'd [13]: 41 di atas). Harus disadari pula, dengan bencana alam itu Allah sebetulnya hendak menguji kesabaran manusia (QS al-Baqarah [2]: 155-157).

Lebih dari itu, harus disadari bahwa berbagai bencana dan musibah yang terjadi merupakan teguran sekaligus peringatan agar kita terdorong untuk rajin melakukan muhâsabah (introspeksi diri). Muhâsabah tentu sangat penting. Dengan itu, setiap Muslim bisa mengukur sejauh mana ia telah betul-betul menaati seluruh perintah Allah SWT, dan sejauh mana ia benar-benar telah menjauhi larangan-larangan-Nya. Dengan itu pula, setiap saat ia akan terdorong untuk terus berupaya menjadi orang yang selalu taat kepada Allah SWT serta menjauhi maksiat dan dosa kepada-Nya. Tentu, muhâsabah wajib dilakukan setiap saat, bukan sekadar saat-saat terjadi musibah, seperti gempa yang terjadi saat ini.[Musibah dan Muhâsabah, Media Ummat; Thursday, 12 November 2009 07:50].

Apalagi di akhir tahun, apakah tahun miladiyah atau tahun hijriyah sangat perlu untuk melakukan muhasabah, perenungan dan introsfeksi diri dalam rangka evaluasi kerja-kerja selama ini, selama sebelas bulan yang lalu hidup ini kita lalui, segala suka dan duka dijadikan sebagai cermin untuk mengaca diri, selama lebih kurang 365 hari dilalui apa yang sudah dilakukan untuk perbaikan diri, amal-amal shaleh apa saja yang sudah dilakukan agar semakin giat untuk masa-masa yang akan datang, sedangkan segala kesalahan dan dosa yang terukir dalam sebelas bulan yang lalu diupayakan untuk bertaubat kepada Allah dengan tidak mengulanginya lagi ketika menapaki tahun baru.wallahu a’lam [Cubadak Solok, 24 Juli 2011.M/22 Sya’ban 1432.H].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar