Lidah adalah senjata manusia untuk berbicara menyampaikan
maksud dalam bentuk bahasa, dengan kemahiran lisah seseorang dapat terangkat
derajatnya di masyarakat, karena mampu menyalurkan maksud serta jeritan hati
umat, dengan lidah da’wah dapat dilakukan sampai kepada propaganda dan obral
barang di pasar. Efek positif memang
banyak, tetapi banyak pula segi negatifnya, karena lidah ada orang terlempar
jauh dari masyarakat sampai terbenam ke penjara.
Ajaran Islam sangat menekankan pemeliharaan lidah, ucapan
yang keluar tanpa kontrol akan mengakibatkan kerugian dalam melaksanakan
ibadah, seperti halnya dalam berpuasa, bila tidak mampu menahan kata-kata akan
dapat mengurangi nilai ibadah puasa, bahkan ibadah puasa tersebut sia-sia.
Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda,”Orang
yang tidak meninggalkan kata-kata bohong dan senantiasa berdusta, tidak ada
faedahnya ia menahan diri dari makan dan minum”.
TeRmasuk bukti
Rahmat Allah dalam Dinul Islam adalah wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam dalam sunnahnya tentang menjaga lisan.
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam beRsabda,
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam beRsabda,
"BaRangsiapa yang beRiman kepada Allah dan
HaRi AkhiR, maka hendaklah dia beRkata yang baik atau hendaklah diam."
(HR. al-BukhaRi dan Muslim daRi sahabat Abu HuRaiRah).
Wasiat Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam teRsebut menunjukkan betapa pentingnya kedudukan
lisan. Dengan lisan, seORang hamba bisa mencapai deRajat yang teRtinggi, bahkan
mendapat kaRunia yang amat agung di sisi Allah. Namun sebaliknya, dengan lisan
pula seORang hamba jatuh teRsungkuR ke dalam juRang kehinaan yang
sedalam-dalamnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beRsabda,
"Sesungguhnya seseORang mengucapkan kalimat
daRi keRidhaan Allah yang tidak dipeRhatikannya, namun Allah mengangkatnya
disebabkan kalimat itu bebeRapa deRajat, dan sesungguhnya seORang hamba
mengucapkan kalimat daRi kemuRkaan Allah yang tidak di-peRhatikannya, sehingga
Allah melempaRkannya disebabkan kalimat itu ke dalam NeRaka Jahanam."
(HR. al-BukhaRi).
Itulah kekuatan lisan dalam menentukan kedudukan dan keselamatan seORang hamba. Kemudian maRilah kita Renungkan, bagaimana agaR kita secaRa pRibadi-pRibadi sekaligus secaRa maj-muk masyaRakat, mampu mempeRgunakan kekuatan lisan kita untuk mencapai kedudukan yang tinggi, deRajat yang teRhORmat, bahkan pangkat yang paling mulia, bukan hanya di kalangan manusia atau segenap makhluk, akan tetapi kemuliaan di sisi Allah juga, bagaimana caRanya?
Junjungan kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemimpin yang paling mengasihi dan menyayangi umatnya, telah beRpesan seRta beRwasiat demi keselamatan, kemuliaan, seRta ketinggian deRajat kita, umat beliau, dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau meneRangkan,
"Sesungguhnya
seseORang daRi kalian beRkata dengan peRkataan yang diRidhai Allah, dia tidak
menyangka bahwa kalimat itu bisa sampai pada apa yang dicapai (Oleh kalimat
itu), kemudian Allah mencatat baginya disebabkan kalimat itu pada keRidhaanNya
sampai haRi dia beRtemu denganNya." (HR. Ahmad, at-TiRmidzi,
an-Nasa`i, Ibnu Hibban daRi sahabat Bilal bin HaRits y).
Sekali lagi, kita
peRhatikan dalam wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam teRsebut, bahwa
deRajat yang tinggi dapat dicapai dengan kalimat yang diRidhai Oleh Allah.
Kalimat apakah itu?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan bahwa kalimat yang
diRidhai Oleh Allah Ta’ala, dijamin dapat menyelamatkan dan menjadikan kita
bahagia bahkan mencapai deRajat yang setinggi-tingginya di sisi Allah adalah
dzikiR kepada Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beRsabda,
"Maukah aku tunjukkan kepada kalian tentang
sebaik-baik amal kalian, yang paling beRsih di sisi MahaRaja kalian, amalan
yang paling tinggi (yang mengangkat) deRajat kalian, dan lebih baik bagi kalian
daRipada menginfakkan emas maupun peRak, juga lebih baik (bagi kalian) daRipada
kalian beRtemu musuh kalian, kemudian kalian memenggal leheR meReka atau meReka
memenggal leheR kalian?" MeReka (paRa sahabat) menjawab, "Tentu
(wahai Rasulullah)." Beliau beRsabda, "DzikiR kepada Allah Ta’ala."
(HR. Ahmad, at-TiRmidzi, Ibnu Majah, dan al-Hakim). [Waznin Mahfud, BeRkatalah yang Baik, atau Diamlah ,Kumpulan Khutbah
Jum’at Pilihan Setahun Edisi ke-2, DaRul Haq JakaRta].
Lidahmu adalah
harimaumu, begitu kata pepatah. Ini mengandung makna betapa besar dampak dari
setiap ucapan yang terlontar. Tak sedikit orang yang terjerumus ke jurang
masalah karena mengatakan sesuatu yang tidak pada tempatnya. Dalam kaitan ini,
agama Islam telah memberikan rambu-rambu.
Pada dasarnya, ucapan maupun perkataan merupakan cerminan jiwa. Maka itu, Nabi Muhammad SAW berpesan pilihlah kata-kata yang baik. Dalam hal ini, beliau merupakan teladan terbaik. Setiap saat, Rasulullah senantiasa menggunakan kata yang baik dan halus untuk umatnya.
Sebaliknya, beliau menjauhkan kata-kata yang jelek, kasar, dan keji. Bahkan, Rasulullah sangat membenci jika ada kalimat yang digunakan tidak pada tempatnya yang sesuai. Misalnya, ada kalimat yang baik dan bermakna mulia namun diucapkan kepada orang atau sesuatu yang sebenarnya tidak berhak menyandang kalimat itu.
Juga sebaliknya, jika ada kalimat jelek dan berarti hina, diarahkan untuk orang atau sesuatu yang mulia. "Janganlah kalian memanggil orang munafik dengan panggilan tuan karena jika dia memang seorang tuan, maka dengan panggilan itu kalian telah membuat Tuhan kalian murka." Demikian sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud.
Selain itu, umat diminta menjaga ucapan yang mengandung syirik. Seperti ucapan, "Aku meminta pertolongan kepada Allah dan kepadamu." Sesuai tuntutan Rasulullah, mereka yang mengucapkan kalimat-kalimat semacam itu berarti telah menyekutukan atau sepadan bagi Allah SWT.
Dalam buku Berakhlak dan Beradab Mulia, Contoh-contoh dari Rasulullah, Saleh Ahmad asy-Syaami menambahkan, kalimat bernada mencela juga sebaiknya dihindari. Peringatan itu juga disampaikan oleh Rasulullah melalui hadis yang diriwayatkan Bukhari, Muslim, dan Muttafaaq'alaih.
Rasulullah mengatakan, "Allah SWT berfirman, 'Anak keturunan Adam menyakiti-Ku, karena mereka mencela masa, padahal Aku adalah Zat yang menciptakan dan menguasai masa. Aku yang mempergantikan malam dan siang.'' Asy-Syaami menyatakan, perkataan yang mencela melahirkan kesalahan besar.
Menurut dia, celaan yang diucapkan itu sebenarnya akan mengenai diri mereka sendiri. "Mereka telah berkata hal-hal yang tak patut," paparnya.
Asy-Syaami melanjutkan, ucapan-ucapan yang tak baik sama sekali tidak mendatangkan manfaat apa pun. Justru sebaliknya, menjerumuskan seseorang ke jalan kebatilan. Tak hanya itu, ucapan yang buruk itu juga mendatangkan perpecahan dan pertikaian antarsesama.
Termasuk yang perlu dijauhi adalah berkata bohong. Islam tidak memberikan keringanan bagi umatnya yang berbohong. Ibn Qayyim dalam kitab al-Fawa'id mengingatkan umat agar berhati-hati terhadap kebohongan. Sebab, kebohongan akan merusak cara pandang umat terhadap fakta yang sebenarnya.
Menurut pandangan Mahmud al-Mishri melalui bukunya Ensiklopedia Akhlak Muhammad, seorang pembohong akan menyifati sesuatu yang nyata dengan sesuatu yang abstrak dan menyifati yang abstrak dengan yang nyata. Selain itu, mereka menyifati kebenaran dengan kebatilan demikian pula sebaliknya.
Rasulullah melalui hadis yang diriwayatkan
Pada dasarnya, ucapan maupun perkataan merupakan cerminan jiwa. Maka itu, Nabi Muhammad SAW berpesan pilihlah kata-kata yang baik. Dalam hal ini, beliau merupakan teladan terbaik. Setiap saat, Rasulullah senantiasa menggunakan kata yang baik dan halus untuk umatnya.
Sebaliknya, beliau menjauhkan kata-kata yang jelek, kasar, dan keji. Bahkan, Rasulullah sangat membenci jika ada kalimat yang digunakan tidak pada tempatnya yang sesuai. Misalnya, ada kalimat yang baik dan bermakna mulia namun diucapkan kepada orang atau sesuatu yang sebenarnya tidak berhak menyandang kalimat itu.
Juga sebaliknya, jika ada kalimat jelek dan berarti hina, diarahkan untuk orang atau sesuatu yang mulia. "Janganlah kalian memanggil orang munafik dengan panggilan tuan karena jika dia memang seorang tuan, maka dengan panggilan itu kalian telah membuat Tuhan kalian murka." Demikian sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud.
Selain itu, umat diminta menjaga ucapan yang mengandung syirik. Seperti ucapan, "Aku meminta pertolongan kepada Allah dan kepadamu." Sesuai tuntutan Rasulullah, mereka yang mengucapkan kalimat-kalimat semacam itu berarti telah menyekutukan atau sepadan bagi Allah SWT.
Dalam buku Berakhlak dan Beradab Mulia, Contoh-contoh dari Rasulullah, Saleh Ahmad asy-Syaami menambahkan, kalimat bernada mencela juga sebaiknya dihindari. Peringatan itu juga disampaikan oleh Rasulullah melalui hadis yang diriwayatkan Bukhari, Muslim, dan Muttafaaq'alaih.
Rasulullah mengatakan, "Allah SWT berfirman, 'Anak keturunan Adam menyakiti-Ku, karena mereka mencela masa, padahal Aku adalah Zat yang menciptakan dan menguasai masa. Aku yang mempergantikan malam dan siang.'' Asy-Syaami menyatakan, perkataan yang mencela melahirkan kesalahan besar.
Menurut dia, celaan yang diucapkan itu sebenarnya akan mengenai diri mereka sendiri. "Mereka telah berkata hal-hal yang tak patut," paparnya.
Asy-Syaami melanjutkan, ucapan-ucapan yang tak baik sama sekali tidak mendatangkan manfaat apa pun. Justru sebaliknya, menjerumuskan seseorang ke jalan kebatilan. Tak hanya itu, ucapan yang buruk itu juga mendatangkan perpecahan dan pertikaian antarsesama.
Termasuk yang perlu dijauhi adalah berkata bohong. Islam tidak memberikan keringanan bagi umatnya yang berbohong. Ibn Qayyim dalam kitab al-Fawa'id mengingatkan umat agar berhati-hati terhadap kebohongan. Sebab, kebohongan akan merusak cara pandang umat terhadap fakta yang sebenarnya.
Menurut pandangan Mahmud al-Mishri melalui bukunya Ensiklopedia Akhlak Muhammad, seorang pembohong akan menyifati sesuatu yang nyata dengan sesuatu yang abstrak dan menyifati yang abstrak dengan yang nyata. Selain itu, mereka menyifati kebenaran dengan kebatilan demikian pula sebaliknya.
Rasulullah melalui hadis yang diriwayatkan
Bukhari dan Muslim mengatakan,
kebohongan akan menggiring pelakunya pada kejahatan dan kejahatan akan
menjerumuskan ke dalam neraka. Mari kita jauhkan diri kita dari api neraka
dengan menjaga lidah kita.[Yusuf Assidiq
Lisan Terjaga Kebatilan Sirna,Selasa, 08 Februari 2011, 07:16
WIB]
Suatu hari seorang laki-laki datang
kepada Rasulullah SAW seraya berkata, “Ya Rasulullah! Sungguh si fulanah itu terkenal
banyak shalat, puasa, dan sedekahnya. Akan tetapi juga terkenal jahat lidahnya
terhadap tetangga-tetangganya.”. Maka berkatalah Rasulullah SAW kepadanya,
“Sungguh ia termasuk ahli neraka”.
Kemudian laki-laki itu berkata lagi,
“Kalau si fulanah yang satu lagi terkenal sedikit shalat, puasa dan sedekahnya,
akan tetapi ia tidak pernah menyakiti tetangganya.” Maka Rasulullah SAW
berkata, “Sungguh ia termasuk ahli surga.” (HR.Muslim).
Kisah dalam hadis tersebut memberi
pelajaran akan bahaya lidah. Betapa jika tidak dikontrol iman, lidah bisa
menjerumuskan ke dalam neraka. Meskipun seseorang itu ahli ibadah, banyak
shalat, puasa, akan tetapi bila tidak mampu menjaga lidahnya dari memfitnah,
berbohong dan hasud – amalannya tersebut sia-sia.
Oleh sebab itu, lidah bisa menjadi media
taat kepada Allah, dan bisa pula untuk memuaskan hawa nafsu. Lidah bisa
digunakan untuk membaca al-Qur’an, hadis dan menasihati, lidah juga berubah
seperti layaknya penyulut api. Memfitnah,bersaksi palsu, ghibah, namimah, dan
memecah belah umat. Jika seperti ini seberapa banyak pun ibadah kita tak ada
gunanya, semuanya gugur gara-gara lidah yang terselip.
Rasulullah SAW memperingatkan, bahwa
bahaya lidah adalah salah satu perkara yang paling beliau khawatirkan.
Sebabnya, semua amal akan berguguran jika lidah kita jahat. Suatu kali salah
seorang sahabat Sufyan al-Tsaqafi bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai
Rasulullah, katakan kepadaku dengan satu perkara yang aku akan berpegang
dengannya!" Beliau menjawab: "Katakanlah, `Rabbku adalah Allah`, lalu
istiqomahlah". Aku berkata: "Wahai Rasulullah, apakah yang paling
anda khawatirkan atasku?". Beliau memegang lidah beliau sendiri, lalu
bersabda: “Ini." (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Bentuk kejahatan lidah itu ada dua.
Yaitu, lidah yang banyak bicara kebatilan dan lidah yang diam terhadap
kebatilan. Kejahatan lidah memang bisa setajam pedang. Jika kita tidak
hati-hati menggunakannya, maka ketajamannya bisa menumpahkan darah, sebagaimana
pedang menusuk tubuh manusia. Bisa pula lidah itu membiarkan ‘api’ yang
membakar semakin besar.
Maka, ada dua bahaya besar yang bisa
menimpa lidah kita. Bisa karena banyak bicara yang tidak perlu dan menyesatkan
atau diam terhadap kebenaran. Dua-duanya adalah sumber kerusakan.
Imam Abu 'Ali ad-Daqqaq pernah mengatakan:
"Orang yang berbicara dengan kebatilan adalah setan yang berbicara,
sedangkan orang yang diam dari kebenaran adalah setan yang bisu."
Gara-gara lidah, seseorang tergiring
masuk neraka. Menjadi hamba yang merugi, sebab pahala orang yang berdosa karena
kerusakan lidah akan dihadiahkan kepada orang yang didzalimi. Gara-gara lidah
yang jahat kita bisa menjadi hamba yang bangkrut (muflis).
Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang
bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang pada hari kiamat nanti datang membawa
pahala shalat, zakat dan puasa, namun di samping itu ia membawa dosa mencela,
memaki, menuduh zina, memakan harta dengan cara yang tidak benar, menumpahkan
darah, dan memukul orang lain.” (HR.Muslim)
Bahaya pertama adalah tersebarnya
kebatilan agama yang diakibakan oleh lidah mengucapkan kata-kata yang batil
ataupun banyak bicara pada hal-hal yang tidak bermanfaat. Kedua-duanya merusak
masyarakat dan hubungan baik dengan orang lain.
Oleh sebab itu, jika kita tidak tahu
terhadap suatu persoalan sebaiknya diam terlebih dahulu sebelum memperoleh
jawaban dari ahlu dzikri (orang yang ahli). Jika tidak, kata-kita kita yang
tidak berdasarkan ilmu itu bisa menyesatkan.
Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa
yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia berkata yang baik atau
diam.” (HR. Bukhari Muslim).
Lebih baik diam jika dihadapkan terhadap
persoalan yang belum kita ketahui. Akan tetapi, ingat tidak sekedar diam
selamanya. Akan tetapi kita wajib mencari tahu jawaban yang belum kita ketahui.
“Janganlah kamu bersikap terhadap sesuatu yang tidak kamu ketahui.” (QS
al-Isra': 36).
Kita mesti bertanya kepada ahlinya
terhadap suatu persoalan. Allah SWT memberi arahan: “Bertanyalah kepada
orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS an-Nahl:
43). Janganlah memberi fatwa, jika kita tidak tahu ilmunya, jangan pula
menyebarkan informasi yang kita belum paham asal-usulnya. Sebab, ilmu adalah
pondasi. Jika ilmu kita salah, maka akan gugurlah seluruh amal-ibadah kita.[Kerusakan
Akibat Kejahatan Lidah, hidayatullah.com, Rabu, 09 Februari 2011].
Lidah memegang peranan penting dalam berkomunikasi,
kata-kata yang tidak tepat penggunaannya akan mengundang salah faham dan sakit hati
yang mendengarkannya, lidah memang mudah digunakan tapi sulit menyelesaikannya.
Mulanya hanya kata tapi akhirnya bisa membinasakan manusia, dapat mengantarkan
ke rumah sakit juga membawa ke penjara, itulahlidah, bentuknya yang kecil dan
tipis, tersembunyi dalam mulut tapi yang dikeluarkan darinya lebih besar dari
bentuknya.
Pernahkah Anda
mempunyai pengalaman dibawa ke dokter ketika sakit. Lalu Anda langsung merasa
sehat ketika kembali ke rumah, padahal obat belum diminum. Sebabnya, sang
dokter mengatakan, “O, ini penyakit karena capek saja. Istirahat sebentar,
nanti juga sembuh.”
Lalu, bagaimana kalau dokter mengatakan sebaliknya, "Penyakit Anda, berbahaya, menular dan tak bisa disembuhkan?" Seketika itu juga Anda sudah merasa mati, sebelum ajal menjemput.
Kata-kata mempunyai kekuatan yang luar biasa. Lidah lebih tajam daripada pedang. Betapa sering perang berkobar akibat kata. Begitu pula sebaliknya. Perang dapat dihentikan oleh sebuah diplomasi atau secarik kertas perjanjian damai. Oleh sepotong kata.
Seorang penulis wanita dari Jerman, Annemarie Schimmel, mengulas tentang kekuatan kata. “Kata yang baik laksana pohon yang baik. Kata diyakini sebagai suatu kekuatan kreatif oleh sebagian besar agama di dunia. Katalah yang mengantarkan wahyu. Kata diamanahkan kepada umat manusia sebagai titipan yang harus dijaga; jangan sampai ada yang teraniaya, terfitnah, atau terbunuh oleh kata-kata.”
Seorang dai dengan tugas dakwahnya mengajak orang lain kepada Allah agar taat dan beribadah kepada-Nya. Aktivitas dakwahnya sangat didominasi oleh penyampaian kata-kata. Sebab sasaran yang hendak dituju adalah akal manusia itu sendiri. Jika tujuan dakwah adalah melakukan perubahan (taghyir), maka faktor utama yang dapat memengaruhi proses perubahan tak lain adalah akal pikiran. Dengan adanya perubahan pada tataran pemahaman dan pola pikir, maka perubahan persepsi dan tingkah laku bisa terjadi.
Penyampaian kata-kata bahkan menjadi tugas para nabi dan rasul. Allah berfirman, “Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah),” (QS asy-Syura: 48).
Sebagai penerus tugas para nabi dan rasul, seorang dai berdakwah menyampaikan risalah kepada manusia. Hendaknya ia selalu meningkatkan kemampuan dan kreativitasnya dalam memasarkan risalah ini kepada manusia.
Soal berkomunikasi yang baik, al-Qur’an menyebutnya dengan qaulan sadidan (QS an-Nisa: 9). Qaulan sadidan bermakna "pembicaraan yang benar." Karena itu, yang harus ditumbuhkan dalam pergaulan adalah rasa sikap saling percaya, agar terhindar sikap berpikir negatif (su-u zhan).
Dalam surah al-Israa' ayat 17 terdapat kalimat qaulan kariman yang bermakna perkataan yang mulia. Ayat ini sangat memelihara perasaan sehingga tidak menyakiti lawan bicara kita, khususnya mereka yang lebih tua dari kita.
Selanjutnya, dalam surah an-Nisaa ayat 5 terdapat kata qaulan ma’rufan (perkataan yang baik). Kebalikannya, perkataan yang baik harus kita ucapkan ketika kita berinteraksi dengan orang yang lebih rendah dari kita, seperti anak, pembantu dan bawahan.
Qaulan layyinan sebagaimana tersebut dalam surah Thaha ayat 44 adalah komunikasi yang harus dilakukan dengan perkataan yang lemah lembut. Ketika lawan bicara kita emosional dan egois, maka hendaknya kita tidak bersikap bak api melawan api. Tapi, lawanlah api dengan air.
Lalu ada pula qaulan balighan (perkataan yang jelas atau fasih), sebagaimana tercantum dalam surah an-Nisaa ayat 63. Dengan begitu, pesan sampai sebagaimana adanya, bukan sebagaimana kehendak hawa nafsunya. Dengan perkataan yang jelas, maka tertutuplah ruang-ruang fitnah.
Komunikasi dakwah juga harus dilakukan dengan menggunakan qaulan maysuran atau perkataan yang pantas (QS al-Israa: 28). Sebagai manusia, kita pernah berjanji dan mungkin tidak bisa ditunaikan karena segala keterbatasan. Maka berilah perkataan yang pantas untuk menghapus kekecewaan. Jangan justru mencari-cari alasan yang malah akan lebih menyakitkan.
Kata-kata yang kuat mencerminkan pribadi seseorang. Tak ada cara selain bersandar kepada Yang Maha Perkasa, Allah SWT. Ustadz Hasan al-Banna rahimahullah dikenal mempunyai kata-kata yang sangat kuat. “Jika ia berpidato, kata-katanya mengalir seolah-olah turun dari langit,” kata orang yang pernah menghadiri ceramahnya.[ Eman Mulyatman Cyber Sabili,Pada Mulanya Kata, Senin, 03 Agustus 2009].
Lalu, bagaimana kalau dokter mengatakan sebaliknya, "Penyakit Anda, berbahaya, menular dan tak bisa disembuhkan?" Seketika itu juga Anda sudah merasa mati, sebelum ajal menjemput.
Kata-kata mempunyai kekuatan yang luar biasa. Lidah lebih tajam daripada pedang. Betapa sering perang berkobar akibat kata. Begitu pula sebaliknya. Perang dapat dihentikan oleh sebuah diplomasi atau secarik kertas perjanjian damai. Oleh sepotong kata.
Seorang penulis wanita dari Jerman, Annemarie Schimmel, mengulas tentang kekuatan kata. “Kata yang baik laksana pohon yang baik. Kata diyakini sebagai suatu kekuatan kreatif oleh sebagian besar agama di dunia. Katalah yang mengantarkan wahyu. Kata diamanahkan kepada umat manusia sebagai titipan yang harus dijaga; jangan sampai ada yang teraniaya, terfitnah, atau terbunuh oleh kata-kata.”
Seorang dai dengan tugas dakwahnya mengajak orang lain kepada Allah agar taat dan beribadah kepada-Nya. Aktivitas dakwahnya sangat didominasi oleh penyampaian kata-kata. Sebab sasaran yang hendak dituju adalah akal manusia itu sendiri. Jika tujuan dakwah adalah melakukan perubahan (taghyir), maka faktor utama yang dapat memengaruhi proses perubahan tak lain adalah akal pikiran. Dengan adanya perubahan pada tataran pemahaman dan pola pikir, maka perubahan persepsi dan tingkah laku bisa terjadi.
Penyampaian kata-kata bahkan menjadi tugas para nabi dan rasul. Allah berfirman, “Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah),” (QS asy-Syura: 48).
Sebagai penerus tugas para nabi dan rasul, seorang dai berdakwah menyampaikan risalah kepada manusia. Hendaknya ia selalu meningkatkan kemampuan dan kreativitasnya dalam memasarkan risalah ini kepada manusia.
Soal berkomunikasi yang baik, al-Qur’an menyebutnya dengan qaulan sadidan (QS an-Nisa: 9). Qaulan sadidan bermakna "pembicaraan yang benar." Karena itu, yang harus ditumbuhkan dalam pergaulan adalah rasa sikap saling percaya, agar terhindar sikap berpikir negatif (su-u zhan).
Dalam surah al-Israa' ayat 17 terdapat kalimat qaulan kariman yang bermakna perkataan yang mulia. Ayat ini sangat memelihara perasaan sehingga tidak menyakiti lawan bicara kita, khususnya mereka yang lebih tua dari kita.
Selanjutnya, dalam surah an-Nisaa ayat 5 terdapat kata qaulan ma’rufan (perkataan yang baik). Kebalikannya, perkataan yang baik harus kita ucapkan ketika kita berinteraksi dengan orang yang lebih rendah dari kita, seperti anak, pembantu dan bawahan.
Qaulan layyinan sebagaimana tersebut dalam surah Thaha ayat 44 adalah komunikasi yang harus dilakukan dengan perkataan yang lemah lembut. Ketika lawan bicara kita emosional dan egois, maka hendaknya kita tidak bersikap bak api melawan api. Tapi, lawanlah api dengan air.
Lalu ada pula qaulan balighan (perkataan yang jelas atau fasih), sebagaimana tercantum dalam surah an-Nisaa ayat 63. Dengan begitu, pesan sampai sebagaimana adanya, bukan sebagaimana kehendak hawa nafsunya. Dengan perkataan yang jelas, maka tertutuplah ruang-ruang fitnah.
Komunikasi dakwah juga harus dilakukan dengan menggunakan qaulan maysuran atau perkataan yang pantas (QS al-Israa: 28). Sebagai manusia, kita pernah berjanji dan mungkin tidak bisa ditunaikan karena segala keterbatasan. Maka berilah perkataan yang pantas untuk menghapus kekecewaan. Jangan justru mencari-cari alasan yang malah akan lebih menyakitkan.
Kata-kata yang kuat mencerminkan pribadi seseorang. Tak ada cara selain bersandar kepada Yang Maha Perkasa, Allah SWT. Ustadz Hasan al-Banna rahimahullah dikenal mempunyai kata-kata yang sangat kuat. “Jika ia berpidato, kata-katanya mengalir seolah-olah turun dari langit,” kata orang yang pernah menghadiri ceramahnya.[ Eman Mulyatman Cyber Sabili,Pada Mulanya Kata, Senin, 03 Agustus 2009].
Lidah selain
dapat menyakitkan hati yang mendengarnya juga dapat digunakan untuk menipu dan
membohongi rakyat dengan janji-janji yang disebarkan , kampanye yang
menyenangkan dan propaganda untuk membohongi public.
Dusta
dan bohong adalah salah satu sifat tercela yang wajib dihindari oleh setiap
Muslim. Rasul SAW bersabda, "Sungguh kejujuran mengantarkan kepada
kebajikan dan kebaikan akan
mengantarkan kepada surga. Seseorang yang
selalu berkata benar (jujur), ia akan ditulis di sisi Allah sebagai seorang
yang selalu berkata benar. Dan sungguh kebohongan mengantarkan kepada
kedurhakaan dan kedurhakaan akan meng antarkan ke neraka. Seseorang yang selalu
berbohong, ia akan selalu ditulis di sisi Allah sebagai seorang
pembohong." (HR Bukhari-Muslim).
Sedemikian pentingnya berkata benar dan tidak bohong, baik menyangkut urusan personal apalagi publik, Rasul selalu mengaitkannya dengan sikap beragama yang benar. Anas bin Malik berkata, "Rasulullah SAW tidak pernah menyampaikan khutbah kepada kami kecuali beliau selalu bersabda: Tidak sempurna iman seseorang yang tidak jujur dan tidak dapat dipercaya, dan tidak sempurna agama seseorang yang tidak bisa menepati janjinya." (HR Ahmad dan Ibnu Hibban).
Dalam fikih jual-beli, yang ada kontrak antara penjual dan pembeli, dikenal konsep `khiyar', yaitu kebebasan memilih selama keduanya belum berpisah. Rasul pun menjelaskan, "Jika keduanya jujur dan jelas, jual beli mereka diberkahi. Namun, jika keduanya menyembunyikan (sesuatu) dan ber bohong maka dicabut keberkahan dari kontrak mereka." (HR Bukhari). Hemat saya, hadis tersebut juga berimplikasi nyata pada konteks politik dan kemaslahatan publik.[Hikmah: Kebohongan Publik, Republika OnLine » Ensiklopedia Islam » Hikmah,Kamis, 20 Januari 2011, 08:28 WIB].
Sedemikian pentingnya berkata benar dan tidak bohong, baik menyangkut urusan personal apalagi publik, Rasul selalu mengaitkannya dengan sikap beragama yang benar. Anas bin Malik berkata, "Rasulullah SAW tidak pernah menyampaikan khutbah kepada kami kecuali beliau selalu bersabda: Tidak sempurna iman seseorang yang tidak jujur dan tidak dapat dipercaya, dan tidak sempurna agama seseorang yang tidak bisa menepati janjinya." (HR Ahmad dan Ibnu Hibban).
Dalam fikih jual-beli, yang ada kontrak antara penjual dan pembeli, dikenal konsep `khiyar', yaitu kebebasan memilih selama keduanya belum berpisah. Rasul pun menjelaskan, "Jika keduanya jujur dan jelas, jual beli mereka diberkahi. Namun, jika keduanya menyembunyikan (sesuatu) dan ber bohong maka dicabut keberkahan dari kontrak mereka." (HR Bukhari). Hemat saya, hadis tersebut juga berimplikasi nyata pada konteks politik dan kemaslahatan publik.[Hikmah: Kebohongan Publik, Republika OnLine » Ensiklopedia Islam » Hikmah,Kamis, 20 Januari 2011, 08:28 WIB].
Lidah
harus dipelihara agar orang lain selamat dari kejahatannya, lidah harus dijaga
agar diri pemiliknya juga akan selamat dari segala hal yang dapat mencelakakan
pribadi, itulah makanya Rasul memberikan isyarat bahwa orang yang dapat menjaga
lidahnya akan masuk syurga karena orang tersebut telah menyelamatkan orang lain
dari ucapannya, wallahu a’lam,[Cheras
Kuala Lumpur Malaysia, 03 Rajab 1432.H/ 05 Juni 2011.M].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar