Kata jihad untuk zaman sekarang
menjadi hantu bagi islam phobi, yaitu orang-orang yang takut kepada kejayaan
islam, namun tanpa jihad islam tidak akan jaya sehingga benar apa yang
dikatakan oleh Sayid Qutb bahwa islam akan hancur karena meninggalkan jihad atau
islam akan berwibawa juga karena jihad. Padahal untuk mencapai derajat yang
tinggi di hadapan Allah harus dengan iman, hijrah dan melakukan jihad, Allah
berfirman dalam surat At Taubah 9;20-22; " Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah
dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih Tinggi derajatnya di sisi
Allah; dan Itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Tuhan mereka
menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari padanya, keridhaan dan
surga, mereka memperoleh didalamnya kesenangan yang kekal, Mereka kekal di
dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar"
Rasulullah
bersabda: "Manusia paling utama yaitu seorang mukmin yang berjuang di
jalan Allah dengan jiwanya dan hartanya, Kemudian seorang mukmin yang berada di
daerah terpencil untuk taqwa kepada Allah, dan untuk menghindarkan diri dari
perbuatan jahat manusia" [HR. Bukhari]
Jihad juga tuntutan dari
keimanan dalam rangka mempertaruhkan kalimat tauhid yang diucapkan seseorang
ketika mengaku sebagai muslim dengan klasifikasi yang beragam, baik melalui
ilmu, harta, tenaga, politik, ekonomi hingga menyerahkan jiwa raga demi
tegaknya syariat Allah di bumi ini;
’’Sesungguhnya
Allah Telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan
memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka
membunuh atau terbunuh. (Itu Telah menjadi) janji yang benar dari Allah di
dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya
(selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang Telah kamu
lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar” [At Taubah 9;111]
Berjihad fisabilillah itu termasuk amal yang
utama,disamping mengerjakan shalat tepat pada waktunya, dan berbakti kepada
kedua orangtua, demikian inti sari hadits dibawah ini;
”Dari Abu
Aburrahman Abdullah bin Mas’ud ra, berkata,”Saya bertanya kepada nabi Saw,”Amal
apakah yang lebih disenangi Allah?” beliau menjawab,”Mengerjakan shalat tepat
pada waktunya” kataku ”Kemudian apa lagi?” sabda nabi,”berbakti kepada kedua
orangtua”, aku bertanya lagi,”Kemudian apa?” sabda nabi,”Berjihad di jalan
Allah”[HR.Bukhari dan Muslim]
Adapun hadits-hadits lain tentang berjihad dan
keutamaannya antara lain adalah,”Berpagi-pagi
di dalam berjuang di jalan Allah atau senja hari adalah lebih baik daripada
mendapatkan keuntungan dunia dan seisinya”[HR.Bukhari dan Muslim]
Keuntungan dunia dengan segala isinya yang diraih manusia
tidaklah seberapa dibandingkan balasan yang akan diterima bagi mujahid di
akherat nanti, dunia hanya sementara, kesenangan yang dirasakanpun semua tiada
abadi, bila kita mampu meraih segala kesenangan dan kenikmatan dunia, paling
lama hanya enampuluh tahun demikian pula halnya kesengsaraan di dunia dirasakan
hanya sebatas usia manusia.
”Menjaga garis
depan dalam berjihad di jalan Allah sehari semalam, adalah lebih baik daripada
puasa dan bangun malam sebulan penuh, dan jika mati ketika itu, amal yang biasa
dilakukan itu dilanjutkan dan diberi pahala dan rezeki serta aman dari fitnah
kubur” [HR.Muslim].
Garis depan
adalah posisi strategis untuk menghantam musuh dengan segala kemampuan yang
ada, tidak semua orang siap untuk berada pada garda ini kecuali mukmin sejati
yang telah ditempa dengan iman dan
tauhid melalui tarbiyah jihadiyah. Karena keberanian merekalah sehingga
rasul memberikan kabar gembira sebagaimana yang tercantum pada arti hadits
diatas.Mukmin sejati adalah orang-orang yang siap berjihad di jalan Allah
mencari kematian dan syurga. Sedangkan orang-orang lain berperang selain
dipimpin oleh thaghut mereka juga mengincar materi dunia dan fasilitasnya.
Begitu besarnya pahala yang diraih bagi mujahid yang menunaikan tugas jihadnya
sehingga wajar tidak sedikit para sahabat yang menangis dan menyesal sepulang perang
dengan selamat karena mereka tidak
syahid saja dalam peperangan ini.
Dimasa rezim
orde baru dan lama, kata jihad adalah kata yang sangat ditakuti oleh islam
phobi sehingga mereka menghapusnya dalam kamus islam di negara ini, mengalihkan
jihad hanya sebatas perang melawan hawa
nafsu tidak lebih dari itu, mereka takut bila ummat ini memakai kata tersebut
apalagi menindak lanjuti melalui eksen
tentu habislah kezhaliman yang susah payah dipertahankan oleh antek-antek rezim
tersebut.
Namun di era
reformasi dan demokrasi ini, kata jihad muncul kembali bukan sebatas untuk
membela kebenaran dan keadilan, tapi untuk mempertahankan rezim baru yang telah
memurukkan bangsa ini ke lubang krisis kedua kalinya yang tidak jelas kapan
akan selesai. Tepatkah kata ”jihad” dipakai untuk membela sebuah kesombongan,
keangkuhan, kerusakan dan rezim apapun yang sedikitpun tidak menampakkan
memihak kepada kepentingan islam selain membela kepentingan Yahudi dan pribadi
serta kroni-kroninya.
Dapat
dipastikan bahwa orang yang membela kebenaran, berjihad di jalan Allah maka
kematian bagi mereka adalah syahid, yaitu kualitas akhir kehidupan yang tidak
ada balasannya kecuali syurga, niatnya ikhlas, caranya sesuai dengan apa yang
diteladankan oleh Rasulullah, dan tujuannyapun mencari ridha Allah semata.
Selain ini berarti bukan jihad namanya tapi jahid, kematianpun bukan mati
syahid tapi mati sangit yang mengantarkan pelakunya cepat masuk neraka. Untuk
itu hati-hatilah menempatkan kata ”jihad” dan ”mujahid’ secara proporsional sesuai
dengan syari’at Allah. Rasulullah bersabda,”Tiada
kaki seorang hamba yang telah berdebu karena perjuangan di jalan Allah
tersentuh api neraka” [HR.Bukhari]
Pada hadits
lainpun beliau telah menyampaikan sabdanya,”Dua mata yang tidak akan tersentuh
api neraka adalah; mata yang telah menangis karena takut kepada Allah dan mata
yang pernah berjaga dalam fisabilillah”[HR.Turmizi].
Dalam
Islam kitamengenalbeberapamacam jihad yaitu;
1.Jihadmelawanhawanafsu
Melawanmusuhdenganberjihad di
medanperangsangatberattapilebihberatlagidikalakitadituntutuntukmelawanhawanafsukarenanafsuituadapadadirikitamasing-masing;
"Jihad yang utamaitu, yaitu jihad seseorangmenentanghawanafsunya"
[HR. IbnuNajjardariAbi Dar]
2.Jihadmelawansyaitan
Syaitantelahberjanjidengan Allah bahwadiaakanmenyesatkanmanusiaseluruhnyasampaikapanpun,
permusuhaniniseharusnyadilawandengan jihad; "Dan
Katakanlahkepadahamha-hamba-Ku: "Hendaklahmerekamengucapkanperkataan yang
lebihbaik (benar). Sesungguhnyasyaitanitumenimbulkanperselisihan di antaramereka.Sesungguhnyasyaitanituadalahmusuh
yang nyatabagimanusia" [Al Isra' 17;53]
"Iblisberkata: "YaTuhanku,
olehsebabEngkauTelahmemutuskanbahwaAkusesat,
pastiAkuakanmenjadikanmerekamemandangbaik (perbuatanma'siat) di mukabumi,
danpastiAkuakanmenyesatkanmerekasemuanya, Kecualihamba-hambaEngkau yang mukhlis
di antaramereka".[Al
Hijr 15;39-40]
3.Jihadmelawankezhaliman/
kejahatan
Kezhalimanataukejahatantidakbisadibiarkanhadir
di duniainikarenaakanmenyengsarakankehidupanmanusialainnya, untukitulah jihad
perludikerahkanuntukmelawannya,Rasulullahbersabda"Barangsiapa yang
melihatkemungkaran, makarubahlahdengantangannya [Kekuasaan],
bilatidakmampumakarubahlahdenganlisannya,
bilatidakmampumakarubahlahdenganhatinya, tapi yang
demikianituserendah-rendahnyaiman".
Rasulullahbersabda; "Semulia-mulianya
jihad ituialahberanimengatakan yang benar di mukapenguasa yang zhalim"
[HR. IbnuMajah].
4.Jihadmelawankaummunafiqdansyirik
Kekafiranmunafiqsulituntukdideteksikarenadiaibaratmusangberbuluayam,
mengguntingdalamlipatandanmenohokkawanseiring, demikian pula orang-orang
musyrik yang merusakketauhidankitadenganmenserikatkan Allah,
Rasulullahbersabda; "Berjihadlahmelawan orang-orang
musyrikitudenganhartamu, dengantanganmudandenganlidahmu" [HR. Abu
Daud].
Jihad juga
tuntutan dari keimanan dalam rangka mempertaruhkan kalimat tauhid yang
diucapkan seseorang ketika mengaku sebagai muslim dengan klasifikasi yang
beragam, baik melalui ilmu, harta, tenaga, politik, ekonomi hingga menyerahkan
jiwa raga demi tegaknya syariat Allah di bumi ini; ’’Sesungguhnya Allah Telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan
harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan
Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu Telah menjadi) janji yang benar
dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih
menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli
yang Telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar” [At Taubah
9;111]
Berjihad fisabilillah itu termasuk amal yang
utama,disamping mengerjakan shalat tepat pada waktunya, dan berbakti kepada
kedua orangtua, demikian inti sari hadits dibawah ini;
”Dari Abu
Aburrahman Abdullah bin Mas’ud ra, berkata,”Saya bertanya kepada nabi Saw,”Amal
apakah yang lebih disenangi Allah?” beliau menjawab,”Mengerjakan shalat tepat
pada waktunya” kataku ”Kemudian apa lagi?” sabda nabi,”berbakti kepada kedua
orangtua”, aku bertanya lagi,”Kemudian apa?” sabda nabi,”Berjihad di jalan
Allah”[HR.Bukhari dan Muslim]
Adapun hadits-hadits lain tentang berjihad dan
keutamaannya antara lain adalah,”Berpagi-pagi
di dalam berjuang di jalan Allah atau senja hari adalah lebih baik daripada
mendapatkan keuntungan dunia dan seisinya”[HR.Bukhari dan Muslim]
Rasulullah bersabda;"Tiga golongan manusia yang dicintai Allah,
serta disambut dengan tertawa dan gembira.....
1.Seseorang yang dalam
peperangan dan ketika barisan di depannya telah kucar kacir, ia terus maju
mempertaruhkan jiwanya semata-mata karena Allah
2.Seseorang yang mempunyai
isteri yang cantik serta tempat tidur yang empuk, lalu ia bangun menegakkan
shalat malam
3.Seseorang dalam bepergian bersama orang banyak, disaat malam tiba dan
orang-orang berjaga kemudian tidur semuanya, iapun bangun di akhir malam dalam
keadaan sempit atau lapang".
Seseorang yang dalam peperangan
dan ketika barisan di depannya telah kucar kacir, ia terus maju mempertaruhkan
jiwanya semata-mata karena Allah Baik ia terbunuh atau dimenangkan Allah, lalu
Allah berfirman "Lihatlah hamba-Ku ini, betapa ia bersabar mempertahankan
jiwanya untuk-Ku".
Saat perang Badar akan dihadapi, Rasulullah melihat pasukan Quraisy dengan
1000 orang sedangkan ummat islam hanya
300 orang dengan peralatan yang sangat sederhana, waktu itulah beliau berdo’a
dengan sebuah harapan kepada Allah,”Ya Allah, seandainya pasukan kecil ini
kalah dalam perang ini maka sungguh ya Allah, tidak ada lagi orang yang akan
menyembahmu di bumi ini”.
Ketika
Jibril turun mengabarkan kalau mereka pasukan malaikatpun siap untuk membantu
Rasulullah;“(ingatlah), ketika kamu
memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu:
"Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu
malaikat yang datang berturut-turut" [Al Anfal 8;9]
Ada tokoh-tokohheroikdengankejadian-kejadian yang
spektakulardalammenjalankan jihad dalamperangMu'tah. Zaid bin
Haritsahbertempurdengangagahberani, mengangkattinggi-tinggipanji-panji,
sekianbanyaktombak yang menancapditubuhnya. Diaterusmajumemimpin,
meskitombakdanpanahmengucurkandarahnya.Akhirnya, panglimakaumMusliminZaid bin
Haritsahjatuhjugaketanah.
Panji-panjiRasulullahsegeradiambilolehpanglimakedua,
Ja’far bin AbiThalib. Diabertempurdengansangatberani.Memimpinpasukan yang
hanyaberjumlahribuan, melawantentaraRomawi yang berhimpunlebihdari 200.000
orang.TangankananJa’farbinAbiThalib, tertebaspedang. Kinitangankirinya yang
memegangpanji-panjisambilterusmemimpinpasukan.Lalutangankirinya pun,
terpotongolehlawan.DenganpangkallengannyakiniJa’farmempertahankanbendera.Akhirnya,
Ja’farmenemuisyahidnyadengancaramendekappanjidenganpangkallengkap yang
sudahtakbertangan.
Abdullah
ibnRawahahkinimengambilalihkepemimpinanpasukan.Memangsempatterbetikgalaudanragudalamhatinya.Tapisegerasemuaituditepisnyatakbersisa.Sudahsejaksemalam,
sesungguhnya Abdullah ibnuRawahahtakmakan. Di
diberisepotongdagingolehsaudaranya, di tengah-tengahlaga, ”Agar
tegaktulangpunggungmumenghadapilawan. Tapiketikadipegangnyadaging yang
hanyasekeratitu, Abdullah ibnuRawahahmerasaterlalu
lama.”Apakahkaumasihsibukdengandunia?” pertanyaanitumemburunya.Kemudiandia pun
majumengangkatpedang, danterbunuh di tengahpertempuran.
Rasulullahhanyaberpesan,
”AngkatlahZaid bin Haritsahsebagaipanglima. Jikadiaterkenamusibah, Ja’far bin
AbiThalib yang akanmenggantikannya. Dan kalauJa’far bin AbiThalibjugaterkenamusibah,
Abdullah ibnuRawahah yang akanmenjadipanglima.” ItusajapersanRasulullah,
takadapenggantisetelah Abdullah
ibnuRawahah.Padahalkiniketiganyasudahmeninggalduniasetelahbertempurdengangagah.
Terjadikekosonganpemimpin,
dantentusajamembuatsituasiricuhdangenting. Di tengah-tengankeadaan yang
demikianrupa, Tsabit bin Arqammenangkanpanji-panjiRasulullah yang
tadidipegangoleh Abdullah ibnuRawahah. ”WahaikaumMuslimin,
inilahpanji-panjiRasulullah! Pilihlahseorangpemimpin di antara kalian!,Waktuterusberpacu,
musuhterusmenyerang. Sementarapasukantakadakomandan.MendengarteriakanTsabit bin
Arqan, pasukankaumMusliminjustrumenunjuknyasebagaipanglima.
”Andalahorangnya!””Bukanaku.Akutakbisa!” jawabTsabit bin Arqam yang
tahubenarmenjadipanglima di tengahperangsamasekalibukanurusangampang.
KemudianpasukankaumMusliminmenunjuk
Khalid bin Walidsebagaipanglimaperang. Khalid
segeramengambilpanji-panjiRasulullah,
danbertempurdengangigihnya.Dalamsatukesempatan, Khalid bin
Walidpernahmengisahkanbetapadahsyatnyapeperangankalaitu.
”PadawaktuPerangMu’tah, adasembilanpedang yang hancur di tanganku.Sampai-sampai
yang tersisanya di tangankuhanyalahsepotongbesidariYaman yang
akugunakanuntukberperang,” tuturnya.
Bayangkan,
sembilanpedangiagunakan. Satu per satupedanghancur, karenalawan yang
harusdihadapimemangbukankepalang.Satuhancur, diambilnyapedang lain.
Satupedanglagihancur, diambilnyapedang lain. Sampai-sampai yang
tersisahanyasepotongbesiYaman yang iagunakanuntukberperang.
Duapasukanbertempurdenganhebatnyasampaimenjelangmalam.Dan
ketikamalam, keduanyaberhentiuntukmengambiljeda.Panglima Khalid bin
Walidmenarikpasukanuntukistirahatmenjauhdaripasukanmusuh. PasukanRomawi pun
takmengejar, karenahariitumerekamengalamipengalaman yang
belumpernahdirasakan.Pertempurangigihdaripasukan yang
jumlahnyajauhlebihkecildarikekuatanmereka yang besar.
Panglima
Khalid bin Walidsegeramengaturstrategi yang diterapkannyaesokhari. Semalam,
sang panglimamemerintahkan, agar pasukan yang berada di
sayapkiriberpindahkesayapkanan. Pasukan yang ada di garisbelakang,
kinimajumenggantikanpasukan yang ada di garisdepan. Dan ketikamataharipecah,
danduapasukankembaliberhadap-hadapan, tentaraRomawimelihatpanji-panjibaru di
depanmereka. TentaraRomawimelihatwajah-wajahbaru yang akanmerekahadapihariini.
Merekamenyangka, kaumMusliminmendapatkanbantuantentarabarusemalam.Dan secara
mental, halinitelahmenjatuhkansemangatperangmereka yang memangsudahkelelahan.
Ketikapeperanganiniberakhir,
danpasukan Muslim kembalikeMadinah, danpasukanRomawitidakmengejarnya, [CiberSabili,
Selasa, 18 Mei 2010 03:00 Herrynurdi]
Keuntungan dunia dengan segala isinya yang diraih manusia
tidaklah seberapa dibandingkan balasan yang akan diterima bagi mujahid di
akherat nanti, dunia hanya sementara, kesenangan yang dirasakanpun semua tiada
abadi, bila kita mampu meraih segala kesenangan dan kenikmatan dunia, paling
lama hanya enampuluh tahun demikian pula halnya kesengsaraan di dunia dirasakan
hanya sebatas usia manusia.”Menjaga garis
depan dalam berjihad di jalan Allah sehari semalam, adalah lebih baik daripada
puasa dan bangun malam sebulan penuh, dan jika mati ketika itu, amal yang biasa
dilakukan itu dilanjutkan dan diberi pahala dan rezeki serta aman dari fitnah
kubur” [HR.Muslim].
Namun di era
reformasi dan demokrasi ini, kata jihad muncul kembali bukan sebatas untuk
membela kebenaran dan keadilan, tapi untuk mempertahankan rezim baru yang telah
memurukkan bangsa ini ke lubang krisis kedua kalinya yang tidak jelas kapan
akan selesai. Tepatkah kata ”jihad” dipakai untuk membela sebuah kesombongan,
keangkuhan, kerusakan dan rezim apapun yang sedikitpun tidak menampakkan
memihak kepada kepentingan islam selain membela kepentingan Yahudi dan pribadi
serta kroni-kroninya.
Dapat
dipastikan bahwa orang yang membela kebenaran, berjihad di jalan Allah maka
kematian bagi mereka adalah syahid, yaitu kualitas akhir kehidupan yang tidak
ada balasannya kecuali syurga, niatnya ikhlas, caranya sesuai dengan apa yang
diteladankan oleh Rasulullah, dan tujuannyapun mencari ridha Allah semata.
Selain ini
berarti bukan jihad namanya tapi jahid, kematianpun bukan mati syahid tapi mati
sangit yang mengantarkan pelakunya cepat masuk neraka. Untuk itu hati-hatilah
menempatkan kata ”jihad” dan ”mujahid’ secara proporsional sesuai dengan
syari’at Allah. Rasulullah bersabda,”Tiada
kaki seorang hamba yang telah berdebu karena perjuangan di jalan Allah
tersentuh api neraka” [HR.Bukhari]
Pada hadits
lainpun beliau telah menyampaikan sabdanya,”Dua
mata yang tidak akan tersentuh api neraka adalah; mata yang telah menangis
karena takut kepada Allah dan mata yang pernah berjaga dalam fisabilillah”[HR.Turmizi].
Allahpun
sejak risalah ini diturunkan telah menyampaikan agar ummat ini siap siaga menghadapi segala kemungkinan yang
merongrong kewibawaan islam; ”Dan siapkanlah
untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda
yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan
musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak
mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada
jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan
dianiaya (dirugikan).”[Al Anfal 8;60]
Doktor Abdullah Azzam seorang motor jihad di Afghanistan yang syahid
bersama dua orang anak lelakinya, pernah menyatakan
kepada keluarga muslim,”Jadikanlah keluargamu seperti sarang harimau sehingga
ditakuti oleh musuh-musuhmu, jangan kau jadikan sebagai sarang domba niscaya
dia akan diterkam srigala”, artinya rumah tangga muslim sejak awal sudah
mempersiapkan kandidat mujahid dalam keluarganya yang siap dikirim ke medan
jihad kapan dibutuhkan.
Setiap
mukmin dituntut jadi seorang mujahid
dengan cita-cita sebagai syuhada’, yaitu mati syahid, Imam Hasan Al Banna
berkata,”Barangsiapa yang bercita-cita
untuk mati syahid maka dia akan mendapatkannya walaupun wafat di tempat tidur, dan sebaliknya orang
yang tidak punya cita-cita untuk syahid, dia tidak akan dapat syahadah walaupun
mati dalam peperangan”.
Hai pemuda
islam bekali dirimu dengan iman dan amal,siapkan dirimu sebagai mujahid untuk
membela kepentingan islam dan ummatnya hingga tetesan darah penghabisan niscaya
syurga menunggumu beserta 70 bidadari menyongsong kematianmu, wallahu a’lam
[Cubadak Solok, 19 Ramadhan 1431.H/ 29 Agustus 2010]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar