Kita
seringmenyamaratakansatuistilah yang berlaku di masyarakat,
sehinggamenganggapantaraistilahsatudenganistilahlainnyatidakadaperbedaan,
baikdarisegipenggunaanmaupunwaktudalammenggunakannya.Hal
inidapatmengaburkanataumenghilangkanmaksud yang terkandungdari kata yang
disebutkanatau yang diungkapkan.
Bila ummat islam menyebutkan sembahyang maka tanpa difikir lagi kata
tersebut adalah shalat. Samakah shalat dengan sembahyang dari maksud makna
keduanya itu ? Terjemahan bahasa satu ke dalam bahasa lain tidak semuanya sama
atau sesuai dengan apa yang dimaksudkan dari kata itu, atau mungkin tidak
ada terjemahannya ke dalam bahasa lain.
Dalam
kehidupan sehari-hari kita selaku makhluk sosial tidak lepas dari
istilah-istilah yang sebenarnya tidak sesuai diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia, mungkin saja istilah tersebut dari bahasa asing atau bahasa daerah.
Selama ini kita mengartikan ”Addin” dengan ”Agama”, ”Allah” dengan ”Tuhan”,
”Shalat” dengan ”Sembahyang”, ”Shiam ”
dengan ”Puasa” dan ”Moral” dengan ”Akhlaq”. Padahal terjemahan tersebut
tidaklah bersinggungan, apalagi untuk tepat benar. Dalam tulisan ini dicoba
membuka ketakserasian istilah ”Moral” yang diterjemahkan dengan ”Akhlaq” dengan
maksud agar kita dapat menempatkan
istilah ini tepat pada tempat yang
sepantasnya atau untuk menggali dan menghidupkan istilah-istilah yang islami.
Moral berasal dari bahasa Latin, yang aratinya ”adat kebiasaan seseorang dalam
hidupnya”. Istilah ini serasi dengan
Etika, yang berasal dari bahaya Yunani. Moral adalah kesanggupan orang untuk
memilih perbuatan baik dari perbuatan yang buruk. Baik dan buruk ini menurut
pandangan manusia, yang dirumuskan oleh manusia berdasarkan kesepakatan.
Moral tidak menghunjam dalam dada pengikutnya, sebab
sifatnya sementara dan lokal, hanya berlaku dalam satu wilayah tertentu, maka
sifatnyapun relatif menurut situasi, kondisi dan tempat saja. Dalam pandangan
moral, yang lebih diutamakan adalah toleransi antara sesama manusia dan saling
tenggang rasa. Seseorang bisa melepaskan moralnya untuk menghargai moral orang
lain dalam pergaulan, takut orang lain tersinggung atas moralnya, sebab ada
pertentangan antara moralnya dengan moral orang lain.
Adapun sumber moral
berasal dari tokoh-tokoh manusia yang tunduk kepada hukum yuridis yang
tidak ada panutan atau teladan yang pantas diikuti sebagai standard dalam
bertindak menjalankan moral tersebut di masyarakat, dan sangsinya adalah
tercela dipandangan manusia.
Istilah lain
juga disebut dengan "Etika". Secara istilah, etika adalah usaha manusia agar kehidupan mereka berada
dalam aturan yang baik, beredar sesuai dengan naluri kemanusiaan. Usaha itu
diwujudkan dengan membentuk suatu tata aturan kehidupan yang baik lalu
dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Persepsi berbagai agama tentang etika bermacam-macam. Budha Gautama yang melihat ketimpangan
dalam etika Hindu [kasta] mencoba mengeluarkan etika baru yang meliputi delapan
perkara; melakukan kebaikan, bersifat kasih sayang, suka menolong, mencintai
orang lain, suka memaafkan orang, ringan tangan dalam kebaikan, mencabut diri
sendiri dari sekalian kepentingan yang penting-penting dan berkorban untuk
orang lain.
Demikian juga halnya dengan Lao Tse dan Kong Fu Tse.
Dua tokoh Tiongkok ini juga berusaha memperbaiki tingkah dan etika manusia pada
zamannya dengan berbagai ajaran kebaikan, demi keselamatan tatanan kehidupan
manusia. Banyak lagi tokoh seperti Socrates,
Antintenus, Plato, Aristoteles dan
lainnya bermunculan mengemukakan konsep dan teorinya, bagaimana agar manusia
bertingkahlaku baik, menjauhkan kerusakan dan kebinasaan pribadi maupun orang
lain.
Aturan yang mereka buat hanya didasarkan kepada pendapat
orang-orang sesuai dengan fikiran dan perasaannya. Tentu saja pendapat yang
satu berbeda dengan yang lain. Bahkan, bisa saja pendapat kemaren dibantah
dengan munculnya pendapat baru. ”Kebenaran” seorang tokoh akan ditolak dengan
ditemukannhya kebenaran orang sesudahnya.
Sekitar abad ketiga sebelum Masehi, muncul aliran dalam
hal etika yang dikenal dengan aliran Naturalisme;
aliran yang diprakarsai Zeno
[340-264 SM] itu berpendapat bahwa ukuran baik dan buruknya perbuatan manusia
adalah manakala manusia itu secara natural mengikuti akalnya dalam mencapai
tujuan-tujuan hidupnya. Jadi menurut pendapat ini hidup manusia harus mengikuti
petunjuk akal, dengan mengikuti petunjuk akal berarti telah memiliki etika
tinggi.
Pada waktu yang hampir bersamaan, Epikuros [341-270 SM] berpendapata bahwa ukuran baik buruk terletak
pada kelezatan sesuatu dan itu merupakan tujuan hidup manusia. Bila perbuatan
manusia menimbulkan suatu kenikmatan dialah orang yang mempunyai moral dan
etika yang tinggi. Pendapat ini dinamakan Hedonisme.
Pada awal-awal abad kedelapanbelas, J.S.
Mill memperkenalkan teori yang baru. Agaknya ada sedikit kemajuan. Teori
ini dikenal dengan Utilitarisme.
Mill mengemukakan bahwa ukuran baik dan buruknya sesuatu didasarkan atas besar
kecilnya manfaat yang ditimbulkan bagi manusia. Dengan pendapat ini ia
menghendaki agar manusia menemukan kebahagiaan di tengah orang banyak dengan
memanfaatkan diri dan pengorbanannya.
Ada lagi aliran Idealisme.
Aliran ini tidak bicara definisi, tapi apa yang ada dibalik etika tersebut.
Tokohnya ImmanuelKant [1725-1804].
Ia berpendapat bahwa seseorang berbuat baik pada prinsipnya bukan karena
dianjurkan oleh orang lain, melainkan
atas dasar kemauan sendiri [atau rasa kewajiban]. Perbuatan baik akan dilakukan
juga walaupun diancam atau dicela orang lain karena terpanggil oleh kewajiban.
Sedangkan aliran etika Vitalisme mengukur baik buruknya perbuatan manusia dengan ada
tidaknya daya hidup maksimum yang mengendalikan perbuatan itu. Maka, yang
dianggap baik ialah orang yang kuat dan dapat memaksakan kehendaknya serta
mampu menjadikan dirinya selalu ditaati. Pencetus aliran ini ialah FreedrichWitzche [1844-1900]. Filsafat
dalam aliran ini adalah Atheistis. Karenanya Witzche juga berjuang menentang
gereja di Eropa.
Itulah beberapa kisah tentang usaha manusia mencari
rumusan etika. Semua konsepnya semu, semua ajarannya tidak ada yang menghunjam
dalam hati nurani. Lebih jauh, tak
sedikit dari konsep etika di atas yang salah. Akibatnya, bukannya terjadi
kehidupan manusia yang beretika. Justru sebaliknya terjadi berbagai kehancuran
di muka bumi.
Etika yang benar adalah etika yang bersandar kepada
kebenaran wahyu. Dalam terminologi
etika, etika ini dikenal dengan aliran Theologis.
Aliran ini berpendapat bahwa baik buruk perbuatan manusia didasarkan atas ajaran
Tuhan yang dibawa para Nabi kepada ummatnya. Etika Theologis inilah yang dalam
Islam disebut dengan Akhlak. Ia bersumber dari sang Khaliq.
Sedangkan akhlaq berasal dari bahasa Arab, yaitu ”Khuluqun” yang berarti ”Budi
pekerti”, yang menentukan batas antara
baik dan buruk, yang terpuji dan tercela, tentang perkataan dan
perbuatan manusia dalam pergaulannya.
Akhlaq adalah sejumlah kumpulan prilaku berdasarkan
teladan Rasulullah Saw dimasa hidupnya, didalam kehidupan sehari-hari yang
dituntun oleh Risalah Nubuwah [Kenabian] dalam Al Ahzab;21 Allah berfirman,”Sungguh di dalam diri Rasulullah itu ada
contoh teladan yang baik”. Dalam sebuah haditspun Rasulullah menyabdakan, ”Aku diutus kemuka bumi ini tiada lain untuk
menyempurnakan akhlak manusia”. Akhlaq menghunjam di dada dan memotivasi
diri untuk melakukan perbuatan yang baik dan benar, dengan mengharapkan
semata-mata ridha dari Allah Swt.
Dalam Islam perhatian terhadap akhlak sangatlah besar.
Selain akan mendampingi ketaqwaan dalam memperbanyak amal di akherat, akhlak
juga menjadi perisai bagi eksistensi suatu bangsa. Selain itu, kebutuhan
seorang muslim akan akhlak juga untuk penopang iman. Sebagaimana diungkapkan
oleh Rasulullah, ”Sesempurna-sempurna iman seseorang mukmin
ialah yang lebih baik akhlaknya”. Dalam Islam, batasan antara akhlak yang baik dan akhlak yang buruk
sangat jelas. Bahkan dengan penggambaran-penggambaran yang vulgar. Lihatlah
bagaimana Al Qur’an mengumpamakan orang-orang yang tak berakhlak seperti
binatang, bahkan lebih sesat dari binatang.
Sebaliknya, Islam memberikan ruang lingkup akhlak yang
baik dengan sangat luas. Tidak saja
terpaku kepada amal-amal yang kelihatannya sepele. Seperti menyingkirkan duri
dari jalanan, menyapa dengan mengucapkan salam ketika bertemu sesama muslim,
mendo’akan saudara, dan amal-amal lain yang sangat luas dalam Islam.
Akhlak Islam juga mengajarkan bagaimana seorang rakyat
harus bersikap, bagaimana seorang pemimpin harus memimpin, bagaimana seorang
ulama harus memberi fatwa. Semua ada aturannya, apakah orang itu pedagang,
pekerja, pengarang dan pengusaha, harus berakhlak sesuai dengan profesinya. BuyaHamka mengucapkan,
”Diribut runduk padi, dicupak Datuk
Tumenggung, Hidup kalau tidak berbudi, duduk tegak kemari canggung, tegak rumah
karena sendr, runtuh budi rumah binasa, sendi bangsa adalah budi, runtuh budi
runtuhlah bangsa”.
Akhlak
memegang peranan penting dalam segi kehidupan maka dapat dijadikan ukuran
sampai dimana tinggi rendahnya pribadi seseorang, sehingga pembinaan akhlak penting bagi kehidupan
manusia, Rasulullah bersabda, ”Aku diutus
untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” [HR. Ahmad].
Bahkan status bangsapun ditentukan oleh akhlak rakyatnya
sebagaimana syair yang digubah oleh Sauqi Bey, “Satu bangsa terkenal lantaran budinya, kalau budinya tidak ada lagi,
nama bangsa itupun hilanglah”. Dalam ajaran Islam bila seseorang berakhlak
tercela bukan saja dibenci dan merugikan orang lain tapi menanggung dosa dan
kesalahan, sebab timbulnya dosa dan kesalahan salah satunya sempitnya lapangan
hidup sehingga dia tidak melihat orang
lain melainkan mementingkan dirinya saja, inilah yang disebut dengan egoistis,
tidak diperhatikan kalau akhlaknya itu [tercela] merugikan orang lain.
Orang-orang yang berakhlak tinggipun kadangkala membuat
kesalahan, bukan kepada orang lain tapi kepada dirinya sendiri, dia berusaha
memperbaiki akhlak masyarakat namun melupakan keselamatan dan kesehatan pribadi
sebagai mana Socrates yang terkenal
itu, terlalu banyak memikirkan dan memperbaiki manusia kearah yang lebih
manusiawi lalu dia mengurus diri sendiri. Sayid
Jamaluddin Al Afghani lantaran hendak memperbaiki ummat Islam seluruh dunia
ini, dia lupa memikirkan kepentingan dirinya sehingga tidak sempat mendirikan
rumah tangganya karena tidak menikah hingga akhir hayatnya.
Akhlak diperlukan oleh semua ummat Islam dalam rangka
hidup bermasyarakat dengan landasan
syariat agama dengan contoh teladan Nabi Muhammad
Saw, dia bukan diperlukn oleh para ulama dan orang terkemuka saja tapi
siapapun, jabatan apapun disandangnya, baik sebagai pemegang dan pengendali
roda pemerintahan. Bilamerekaberakhlakmuliatenturakyattentram,
tidakakanterjadipenyelewengankekuasaan yang merugikanbangsa.
Pengusaha yang
berakhlakakanmemperlakukankaryawannyadenganbaik,
usahanyabergerakbukansekedarmencarikeuntungansajatapiberwawasanlingkungan,
memperhitungkanbaikburuk, untungdanrugi yang
dideritamasyarakatkarenaperusahaannya, udara, bumidanpolusisuara yang
mendatangkanpencemaranpadalingkungan.
Seorang saudagar bila mempunyai akhlak akan mencari laba sesuai dengan
ajaran Islam, tidak akan mempermainkan harga dan tidak akan mengicuh dalam
timbangan, takaran dan sukatan. Dalam profesi apapun, sejak dari guru, dokter,
pengacara dan pengarang harus memiliki akhlak, dia menjalankan profesi bukan
sekedar rutinitas dalam gerak kehidupan untuk memenuhi tuntutan duniawi tapi
mengandung ibadah kepada Allah, karena ibadah secara luas artinya segala
aktivitas hamba demi mencari keridhaan Allah dan jalan banyak untuk menggapai
ridha itu. Sungguh terlalu banyak jenis pekerjaan yang dapat dilakukan manusia,
tidaklah ada pekerjaan yang hina asal halal, tiap-tiap pekerjaan ada gunanya
selama membawa faedah kepada dirinya sendiri, memberi faedah pula kepada
masyarakat lalu berpahala asal didukung oleh akhlak yang luhur dengan landasan
iman.
Akhlak memiliki standard
dan teladan yang dapat dijadikan sebagai ukuran dan contoh dalam kehidupan tapi
moral, etika dan sebangsanya sulit mencari ukuran dan figur yang layak diikuti
karena dibuat oleh manusia, bersifat lokal dan teoritis lebih banyak dari pada
praktis, namun akhlak bagi seorang
muslim mempunyai standard dan figur yang dapat dijadikan teladan dalam
kehidupan yaitu pribadi Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya. Manusia lain
dapat dan boleh ditiru dalam kebaikan tentu saja ada kekurangannya pasa satu
sisi lain tercela tidak ada manusia yang sempurna karena dia memang tempat dosa
dan kesalahan tapi pribadi Nabi Muhammad segala asfek gerak hidupnya terjaga
dari kesalahan dan dosa, inilah pribadi agung yang dikirim Allah untuk manusia
dari pengawasan wahyu yang disampaikan bukan melalui teori dan pendapat
manusia.
DenganTarbiyyahIslamiyyah
[Pendidikan Islam] shahihah [yang benar] danmustamirah[ berkelanjutan]
akanmelahirkanpribadi-pribdi yang memilikiakhlakmulia.
Untukmenumbuhkandanmelatihruh,
akaldanamalseorangmukminhendaknyamelandasipenampilanmerekasehari-haridengantujuhsyiarakhlakyaitu;
1.Ikhlasadalahmabda'
[dasar] hidup
Akhlakseorangmuslimdalammelakukanamalperbuatan
Islam menuntut yang dilakukankarenamengharapkanridha Allah,
biladilakukandenganikhlasmaka Allah akanmenghitungdanmemperhitungkannyadansebaliknya;
[Al Baqarah 2;284].Sifat
riya’ oleh Rasulullah dikatakan syirik kecil, sahabat bertanya, ”Apa itu syirik
kecil ?” maka Nabi menjawab yaitu manusia datang untuk meminta balasan atas
amal perbuatan yang mereka lakukan lalu Allah berkata kepada mereka, ”Pergilah
kamu temui orang-orang yang karena mereka kamu
beramal di dunia, niscaya kamu akan sadar bahwa apakah kamu memperoleh
balasan kebaikan dari mereka”.
Amal yang dikerjakan dengan mengharapkan ridha Allah yang
akan memperoleh balasan yang layak kelak di akherat, baik pengorbanan itu kecil
apalagi besar, tapi bila amal dikerjakan tidak mencari ridha Allah maka amal
besar akan kecil maknanya;[2;207,
98;5]
2.Islamadalahpedomanhidup
Akhlakseorangmuslim, adalah orang yang telah mengakui islam dan memilih sikap hidup beriman
kepada Allah, konsekwen dan konsisten dengan mengamalkan ajaran Islam dan
mengamalkan islam secara utuh [2;208]
Gambaran kehidupan pribadi dan masyarakat muslim jauh
berbeda dengan kehidupan orang kafir
karena pandangan hidup yang tidak sama pula. Dalam masyarakat islam tidak
terdapat pemuda-pemudi yang berbaju minim atau bertelanjang, wanita-wanita yang
suka menggoda orang lain atau digoda yang berkeliaran disetiap tempat,
menyebarkan fitnah dan kekacauan dan semuanya itu untuk keuntungan syaitan.
Bagaimanapun kondisi yang dialami seorang muslim; sakit
atau senang, bahagia atau sengsara bahkan dikala diuji dengan segala yang
melenakan hidupnya agar berpaling dari islam maka semakin kokoh keimanannya
hingga ajal menjemputnya kelak. Kekonsistenannya terhadap islam nampak dalam
kehidupan sehari-hari melalui pribadi, keluarga dan bermasyarakat[6;153]
3.Taqwa merupakan bekal hidup
Bagi orang yang beriman, taqwa merupakan bekal hidupnya,
yang menjadikan kehidupan dunia adalah kehidupan sementara sedangkan kehidupan
akherat adalah tujuan akhir, sehingga dunia dijadikan sebagai pulau
persinggahan. Hidup bagi orang yang bertaqwa bukanlah disini dan ini saja yang
hanya sebentar, tapi hidup yang abadi ada di akherat sehingga perlu bekal dan
persiapan untuk menuju kesana dengan iman yang bersih dari syirik dan ibadah
yang bersih dari riya'.[2;19, 4;77, 28;77 ]
Rasulullahbersabda,;"Bertaqwalahkepada
Allah dimanapun kalian beradadanikutilahperbuatan yang burukitudenganperbuatan
yang baik, nantidiaakanmenghapuskannya. Dan bergaullahdenganmanusiadenganakhlak
yang baik" [HR. Muslim]
4.Taatmerupakancirikhas
Akhlak
seorang muslim adalah mendengar dan mentaati segala tuntutan Allah dan
Rasul-Nya. Orang-orang sebelum islam, dibawah bimbingan wahyu yang dibawa oleh
Nabi Musa dan Nabi-nabi sebelumnya, karakter ummat mereka bila diperintahkan
untuk melaksanakan hukum Allah mereka menjawab,”Sami’na wa ashoina” artinya
kami mendengar tapi kami lalai. Sedangkan jawaban orang-orang yang benar imannya
adalah bagaimana yang tergambar dalam surat An Nur 24;51 ‘’ Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada
Allah dan rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami
patuh". dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung.’’
5.Yakin dan sabar merupakan kekuatan
Akhlak
seorang mukmin dituntut untuk menerapkan
sabar dalam seluruh asfek kehidupannya dengan tidak menghilangkan ketegasan
serta keberanian, keyakinan dan kesabaran merupakan kekuatan baginya untuk
mengarungi kehidupan ini, secara prinsip
kesabaran itu diletakkan pada;
Ash Shabru ’indal musyibah, artinya kesabaran itu ditempatkan
saat menerima musibah. Umumnya kehidupan manusia ini dihiasi oleh dinamika
ujian dan ujian, baik berupa kesenangan maupun kesengsaraan, keberhasilan
ataupun kegagalan,bahkan Allah menjadikan musibah ini sebagai sunnatullah dalam
kehidupan.
Ash Shabru ’anil ma’siyat, artinya
kesabaran itu harus terujud saat berhadapan dengan maksiat. Yang dimaksud adalah
segala maksiat yang ada di hadapan seorang mukmin,dia harus berupaya untuk
menghindarinya sekaligus untuk menyingkirkan maksiyat itu dengan penuh
hati-hati, tidak boleh secara prontal dan emosional, Ibnu Taimiyah berkata,”Jangan menghilangkan maksiat dengan
emosional yang akhirnya akan mendatangkan maksiat yang lebih besar”.
Ash Shabru ilat Tha’ah, artinya
dalam menjalankan ketaatan kepada Allah haruslah mengujudkan kesabaran, karena
terlalu banyak rintangan dan rongrongan yang datang kepada seorang mukmin
ketika dia akan mematuhi segala suruhan-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Rasul melihat Asma binti Abu Bakar mengikatkan
pinggangnya pada sebuah tiang dalam masjid, beliau bertanya,”Kenapa demikian ya
Asma”, anak Abu Bakar itu menjawab bahwa dia akan menunaikan shalat tahajud
sepanjang malam tapi tidak mampu sehingga untuk menjaga rasa kantuknya dia
harus menahan dengan tali ditubuhnya itu, rasul mengatakan,”Kerjakan tajahud itu semampumu, saat mengantuk tidurlah dahulu, lalu
bangun lagi dan kerjakan shalat....”
Ash Shabru ilad Da’wah artinya
untuk menggelar da’wah perlu adanya kesabaran, tidak serampangan dan buru-buru
dengan melupakan manhaj da’wah yang diajarkan oleh Rasululah. Terlalu banyak
halangan dan rintangan sehingga wajar kalau seorang Hasan Al Banna mengatakan
bahwa da’wah itu bukanlah hamparan permadani dan bukan pula kalungan bunga
melati tapi hamparan onak dan duri serta kalung gantungan kematian. Sejak
da’wah ini digelar oleh para nabi dan rasul senantiasa hadir berbagai ujian, tanpa kesabaran dalam berda’wah
terlalu banyak mungkin kerugian yang akan diderita oleh da’wah itu sendiri
sehingga terjadilah perbenturan dengan pihak penguasa, kafir dan zhalim ketika
kekuatan belum ada tentu saja gerakan da’wah ini mudah saja untuk diberangus
oleh musuh-musuh islam [3;146]
6.Tsabat
[keteguhan] merupakansikaphidup
Pribadi
muslim itu adalah pribadi yang menjadikan Tsabat atau keteguhan sebagai sikap
hidupnya, dengan keimanan yang dimiliki menjamin jiwa orang yang beriman
akan stabil dalam kondisi apapun walaupun kondisi itu akan meneteskan air mata
atau akan menggenangkan darah maka semua itu dihadapi dengan jiwa yang stabil,Rasulullah
bersabda,"Sungguh ajaib sikap orang-orang mukmin itu, kalau diberi nikmat
dia bersyukur dan itu lebih baik baginya, dan kalau ditimpa musibah diapun
bersabar dan itu lebih baik baginya"
Ibnu
Taimiyah saat berhadapan dengan pemerintahan yang zhalim yang akan mencelakakan
dirinya maka dia bermunajad kepada Allah yang menggambarkan kestabilan jiwanya
menghadapio segala teror itu, "Ya Allah seandainya mereka mencampakkan
aku maka waktu itu adalah saat yang tepat bagiku untuk bertamasa bersamaMu,
kalau mereka mengurungku maka saat itu adalah waktu yang tepat bagiku untuk
bersunyi diri bersamaMu, walaupun sekiranya mereka menggantungku maka itu
adalah waktu yang tepat agar aku bisa cepat bertemu dengan-Mu".
7.Ukhuwah islamiyyah adalah pengikat hati
Pribadi Muslim adalah pribadi yang menjadikan ukhuwah
islamiyyah sebagai pengikat hati, andaikata terjadi perpecahan dan
perselisihan, maka kewajiban bagi mukmin lainnya untuk mendamaikan, bukan malah
menyiramkan minyak di tengah api yang tengah berkobar. Allah sangat keras
ancamannya kepada orang-orang yang berpecah belah dan bermusuhan [3;10, 49;10].
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah
kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu
dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan
satu sama lain. Adakahseorangdiantarakamu yang sukamemakandagingsaudaranya
yang sudahmati?Makatentulahkamumerasajijikkepadanya.danbertakwalahkepada Allah.
Sesungguhnya Allah MahaPenerimataubatlagiMahaPenyayang”
Dengantujuhsyiarakhlak
yang menjadikankepribadianmuslimakanmengangkatmuslimtadijadiummat yang dicintai
Allah, disayangisesamanyadanditakutiolehmusuh-musuhnya, wallahua'lam
[CubadakSolok, Ramadhan 1431.H/ Agustus 2010.M]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar