Rasulullah bersabda,”Seseorang yang bertaubat dari dosanya itu
adalah sama dengan orang yang tidak mempunyai dosa lagi”[HR.Ibnu Majah}.
Maka taubat yang sebenarnya menurut pengertian bahasanya ialah kembali, menurut
istilah syariat maksudnya ialah kembali kengikuti jalan yang benar dari jalan
yang sudah ditempuhnya yang tentunya berupa jalan yang sesat. Sebenarnya
terlepas diri dari sesuatu dosa itu bagi setiap manusia tidaklah mungkin sama
sekali, sebab hal ini memang sudah merupakan kekurangan manusia.
Hanya saja besar kecilnya kekurangan itu tergantung
memang berbeda-beda. Tetapi menurut keasliannya kekurangan demikian itu pasti
ada dan tidak dapat dihindari sama sekali, oleh sebab itu Rasulullah
bersabda,”Sesungguhnya saja hatiku dapat juga tergoda sehingga saya harus
memohon pengampunan kepada Allah dalam sehari semalam itu sebanyak tujuh puluh
kali”[HR.Muslim]
Karena itu Allah sengaja mengaruniakan kemuliaan pada
beliau dengan firman-Nya;”Supaya Allah
memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang Telah lalu dan yang akan datang
serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang
lurus”[Al Fath 48;2]
Jikalau Rasulullah saja sudah memastikan keadaan dirinya
pasti terkena godaan syaitan, konon pula yang lainnya. Jadi tentulah lebih
dapat tergoda dan tidak mustahil terkena godaan itu. Taubat itu apabila sudah
terkumpul syarat-syaratnya, sudah pasti dan tidak perlu diragukan lagi bahwa
taubat yang sedemikian tentu diterima.
Sucikan dosa dengan cucuran air mata untuk membasuh
segala kesalahan yang melekat di hati serta panasnya rasa penyesalan batin,
maka pastilah hati tadi akan kembali bersih, suci dan mengkilat. Hati yang
sudah suci dan bersih dari segala kotoran dan penyakit batin, tentu saja akan
diterima, sebagaimana halnya pakaian yang suci dan bersih juga akan digemari
oleh siapapun juga, jadi yang penting bagi kita adalah membersihkan dan mensucikan diri dan hati.
Imam Al
Gazali membagi pensucian diri kepada empat hal yaitu;
- Mensucikan diri dari hadas dan najis dengan jalan thaharah melalui wudhu, mandi atau tayamum sehingga dengan kesucian ini dapat menunaikan ibadah mahdhoh seperti shalat.
- Mensucikan diri dari kegiatan mengandung dosa yang dilakukan oleh indra manusia sehingga tangan tidak mudah untuk mencuri dan memukul, kaki tidak ringan untuk menyepak lawan dan sebagainya.
- Mensucikan diri dari akhlak tercela seperti sombong, takabur, hasad, dengki dan lain sebagainya sehingga memiliki akhlakul karimah yang dipuji Allah dan disenangi oleh manusia.
- Mensucikan diri dari niat yang tidak baik dalam seluruh asfek kehidupan, kesucian ini lebih penting dari segalanya dengan tidak melupakan kesucian lainna. Dalam berbuat manusia dihiasi oleh niat-niat yang sengaja men yimpangkannya dari ikhlas kepada Allah sehingga merusak ibadahnya.
Pada masa dahulupun ummat ini selalu dirongrong oleh
segala konspirasi untuk menjauhkan dirinya dari kesucian itu, dalam mesjidpun
terjadi usaha penyimpangan aqidah
sebagaimana yang tergambar dalam surat At Taubah 9;108 ”Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya.
sesungguh- nya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari
pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. di dalamnya mesjid itu ada
orang-orang yang ingin membersihkan diri. dan Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang bersih.”
Berkaitan dengan ayat diatas, memang demikianlah keadaan
sahabat Rasulullah, mereka adalah orang yang siap membersihkan dirinya dari
segala bentuk kotoran yang melekat di badan dan di hatinya. Masjid yang didirikan oleh Abdullah
bin Ubay sebagai tandingan terhadap masjid nabi adalah konspirasi untuk
menghancurkan islam yang dimotori oleh para munafiq, pada diri mereka penuh
dengan kotoran yang melekat sejak kenabian Muhammad Saw. Sebuah ancaman
diberikan Allah agar ummat islam tidak menegakkan shalat di masjid itu, lebih
layak mereka shalat di masjid yang didalamnya banyak orang-orang yang
mensucikan dirinya, itulah dia masjid Quba, yang landasan pendiriannya karena
taqwa;
”Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah
dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu
akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang
mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan
nabi dan orang-orang mukmin yang bersama Dia; sedang cahaya mereka memancar di
hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb
kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah Kami; Sesungguhnya
Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."
Kata ”nasuha” dalam ayat tersebut diatas maksudnya ialah
suatu taubat yang memberi nasehat baik pada diri sendiri serta dilakukan dengan
ikhlas yang sesungguh-sungguhnya karena mengharapkan keridhaan Allah dan sunyi
dari segala macam tujuan dan godaan yang lain-lain.
Perihal keutamaan taubat, maka Allah sendiri sudah
menjelaskan dalam firman-Nya;
’’ Mereka bertanya
kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran".
oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan
janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. apabila mereka Telah
suci, Maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang
yang mensucikan diri.’’ [Al Baqarah 2;222]
Di antaraayat Al Quran yang
berbicaratentangtaubatadalahfirman Allah:"Dan
bertaubatlahkamusekaliankepada Allah, hai orang-orang yang
berimansupayakamuberuntung" (QS. An-Nur:
31).
Dalamayatini, Allah SWT
memerintahkankepadaseluruhkaummu'mininuntukbertaubatkepada Allah SWT,
dantidakmengecualikanseorangpundarimereka.Meskipun orang
itutelahdemikiantaatmenjalankansyari'ah,
dantelahmenanjakdalambarisankaummuttaqin, namuntetapiamemerlukantaubat. Di
antarakaummu'mininada yang bertaubatdaridosa-dosabesar,
jikaiatelahmelakukandosabesaritu. Karenaiamemangbukan orang yang ma'shum
(terjagadaridosa). Di antaramerekaada yang bertaubatdaridosa-dosakecil,
dansedikitsekali orang yang selamatdaridosa-dosamacamini.Dari merekaada yang
bertaubatdarimelakukan yang syubhat. Dan orang yang
menjauhisyubhatmakaiatelahmenyelamatkan agama dannamabaiknya. Dan
diantaramerekaada yang bertaubatdaritindakan-tindakan yang dimakruhkan.Dan di antaramerekamalahada
orang yang melakukantaubatdarikelalaian yang terjadidalamhatimereka.Dan
darimerekaada yang bertaubatkarenamerekaberdiamdiripadamaqam yang
rendahdantidakberusahauntukmencapaimaqam yang lebihtinggilagi.
Taubat orang
awamtidaksamadengantaubatkalangankhawas,
jugatidaksamadengantaubatkalangankhawas yang lebihtinggilagi. Olehkarenaituada
yang mengatakan: "Kebaikankalanganabraradalahkesalahan orang-orang
kalanganmuqarrabin!" Namun, dalamayatitu,
semuamerekadiperintahkanuntukmelakukantaubat, agar merekaselamat.
Pengarangkitab Al
Qamusmemberikankomentaratasayatinidalamkitabnya (Al Bashair):
Ayatiniterdapatdalamkelompok surah Madaniyyahh .Allah tujukankepadakaum yang
berimandankepadamakhluk-makhluk-Nya yang baik, agar merekabertaubatkepada-Nya,
setelahmerekaberiman, sabar,
hijrahdanberjihad.Kemudianmengaitkankeberuntungandengantaubat "agar kalian
beruntung".Yaitumengaitkanantarasebabdengan yang disebabkan.Dan
menggunakandengan 'adat' "la'alla"
untukmemberikanpengertianpengharapan.Yaitujika kalian bertaubatmaka kalian
diharapkanakanmendapatkankeberuntungan, danhanya orang yang bertaubat yang
berhakmengharapkankeberuntunganitu.
Sebagianulamasulukberkata:
Taubatadalahwajibbagiseluruhmanusia, hinggabagiparanabidanwali-walisekalipun.
Dan janganlahengkaudugabahwataubathanyakhususuntuk Adam a.s. saja. Allah SWT
befirman:"Dan durhakalah Adam kepadaTuhandansesatlahia,
kemudianTuhannyamemilihnyamakaDiamenerimataubatnya dam memberinyapetunjuk"
(QS. Thahaa: 121-122).
Namuniaadalahhukum yang
azalidantertulisbagiumatmanusiasehinggatidakmungkindapatditerimasebaliknya.
Selamasunnah-sunnah (ketentuan) Ilahibelumtergantikan.Makakembali
--yaitudenganbertaubat-- kepada Allah SWT bagisetiapmanusiaadalahamaturgen,
baikiaseorangNabiatau orang yang berperangaisepertibabi, jugabagiwaliatausipencuri.
Abu Tamamberkata:"JanganengkausangkahanyaHindun yang berhianat,
ituadalahdoronganperibadidansetiap orang dapatberlakusepertiHindun!
Perkataanitudidukungolehhadits:"Seluruh
kalian adalahpembuatsalahdandosa, dan orang yang berdosa yang paling
baikadalahmereka yang seringbertaubat". Haditsinidiriwayatkanoleh Ahmad
danlainnyadariAnas.Jugataubatituadalahwajibbagiseluruhmanusia.Iawajibdalamseluruhkondisidansecaraterusmenerus.
Pengertianitudipetikdaridalil yang umum, Allah SWT berfirman: " danbertaubatlahkamusekaliankepada
Allah". Karenamanusiatidakmungkinterbebaskandaridosa yang
diperbuatolehanggotatubuhnya.Hinggaparanabidan orang-orang yang
salehsekalipun.Dalam Al Quran danhaditsdisebutkantentangdosa-dosamereka,
sertataubatdantangisansesalmereka.
Jikasuatusaat orang
terbebasdarimaksiat yang dilakukanolehtubuhnya,
makaiatidakdapatterlepasdarikeinginanberbuatmaksiatdalamhatinya. Dan
jikapuntidakadakeinginanitu, dapat pula iamerasakan was-was yang
ditiupkanolehsyaitansehinggaialupadaridzikirkepada Allah SWT. Dan jikatidak,
dapat pula iamengalamikelalaiandankurangdalammencapaiilmutentang Allah SWT,
sifat-sifat-Nyasertaperbuatan-perbuatan-Nya.
Semuaituadalahkekurangandanmasing-masingmempunyaisebabnya.Dan
membiarkansebab-sebabitudenganmenyibukkandiridenganpekerjaan yang
berlawananberartimengembalikandiriketingkatannya yang rendah. Dan
manusiaberbeda-bedadalamkadarkekurangannya, bukandalamkondisiasalmereka (Lihat:
SyarhAinulIlmiwaZainulHilm, juz 1 hal. 175. Kitabiniadalahmukhtasar (ringkasan)
kitabIhyaUlumuddin).[KewajibanBertaubatdanUrgensinya].
Namunkewajibanseorangmukmindikalakesalahandandosameliputinya,
apakahbesarataupunkecil,
disengajaataupuntidakmakakewajibankitaadalahmengetukpinturahmat-Nyauntukmeraihampunan
Allah sebagaimana yang pernahdialamiolehpendahulukitayaituNabi Adam As.
Nabi Adam telah mengukiR keteladanannya dalam hal ini,
bukan pada pelanggaRannya teRhadap laRangan Allah, akan tetapi pada apa yang
dia lakukan setelah dia melakukan pelanggaRan teRsebut. Sebagaimana telah kita
ketahui bahwa Adam beRsama istRinya diizinkan Oleh Allah tinggal di suRga.
Allah melaRangnya mendekati satu pOhOn yang ada di sana, tetapi Adam
melanggaR-nya kaRena bujuk Rayu setan, akan tetapi setelah itu Adam menye-sali
dan menyadaRi kesalahannya seRta memOhOn ampun kepada Allah. Allah
mengampuninya dan Adam pun menjadi lebih mulia dan lebih baik daRi sebelumnya.
FiRman Allah Ta’ala, "Kemudian
Rabbnya memilihnya maka Dia meneRima taubatnya dan membeRinya petunjuk."
(Thaha: 122).
Di sisi
lain, manakala Allah menciptakan Bani Adam dengan kesalahan dan dOsanya, Dia
pun membuka peluang peRbaikan se-lebaR-lebaRnya. Dia memanggil dan mengajak
hamba-hambaNya agaR memanfaatkan peluang teRsebut sebaik-baiknya. Dan peluang
ini senantiasa teRbuka siang-malam sepanjang umuR manusia atau umuR dunia ini.
Peluang teRsebut adalah taubat untuk meRaih ampunan Allah Ta’ala.
FiRman Allah Ta’ala,"Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan beRseRah diRilah kepa-daNya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditOlOng (lagi)." (Az-ZumaR: 54).
FiRman Allah Ta’ala,"Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan beRseRah diRilah kepa-daNya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditOlOng (lagi)." (Az-ZumaR: 54).
DaRi Nabi Shallallahu ‘Alaihi
wasallam, Allah Ta’ala beRfiRman,"Wahaihamba-hambaKu, sesungguhnya kalian
melakukankesalahansiang-malamdanAkumengampuniseluRuhdOsa,
OlehkaRenaitumOhOnlahampunkepadaKu, niscayaAkumengampuni kalian." (HR.
Muslim daRi Abu DzaR, MukhtashaRShahih Muslim).
Jika Allah
mengajakkepadaampunan, beRjanjimemaafkandanmembukapintunyalebaR-lebaR,
sementaRakitamanusiaselalubeRdOsa, makatidaksekedaRlayak,
akantetapisangatlayakkalaukitamengetukpintuteRsebutdenganhaRapanDiabeRkenanmelim-pahkanmaafNyakepadakitasemua,
sesungguhnyaDiaMahaPengasihlagiPemuRah.
SekaRang bagaimana caRanya agaR kita dapat menggapai
am-punan teRsebut? Banyak caRa dan jalan menggapai ampunan Allah. Lebih daRi
itu, caRa-caRa dan jalan-jalan teRsebut adalah sangat mudah, teRgantung kepada
kita sendiRi, ingin atau tidak ingin. Di sini khatib memapaRkan empat caRa yang
menuRut pandangan khatib meRupakan caRa yang paling penting dan mendasaR.
Jika Allah
menghendaki, tidak ada dOsa yang tidak teRhapus Oleh taubat, sebeRat dan
se-besaR apa pun ia, jangankan dOsa-dOsa kecil, dOsa-dOsa besaR pun akan
teRhapus Oleh taubat bahkan dOsa teRtinggi dalam Islam, syiRik, juga akan
teRhapus Oleh taubat dengan catatan kesyiRikan teRsebut tidak dibawa mati.
Lihatlah kepada sebagian sahabat Nabi yang di masa jahiliyah adalah ORang-ORang
penyembah beRhala. Begitu meReka beRtaubat daRinya, meReka pun menjadi manusia
teRbaik umat ini. TengOklah seORang laki-laki daRi umat teRdahulu -sepeRti yang
dikisahkan Oleh Rasulullah- pembunuh seRatus nyawa. Adakah di dunia ini pelaku
dOsa yang lebih besaR dan lebih banyak daRinya? DOsanya adalah pembunuhan dan
kORbannya adalah seRatus nyawa. Laki-laki teRsebut dengan dOsanya itu tetap
meRaih ampunan Allah dengan taubatnya dan usaha keRasnya untuk mempeRbaiki diRi
yang dia buktikan dengan beRhijRah ke kOta lain yang bisa mendu-kung usahanya
teRsebut. [Izzudin KaRimi, Lc. MeRaih
Ampunan, Buku Kumpulan KhutbahJum’atPilihanSetahunEdisi
ke-2, DaRulHaqJakaRta).COmpiled
by oRiDo™].
Pintu taubat akan selalu terbuka bagi siapa saja yang
menghendaki, dan tidak seorangpun mampu menghalangi rahmat Allah darinya, tidak
ada hijab [penghalang] apapun antara dia dengan Tuhannya, ”Kecuali bagi siapa
saja yang bertaubat, beriman dan beramal shaleh, niscaya mereka itu akan masuk
ke dalam syurga dan tidak disesatkan sedikit juapun. Yaitu syurga Adn yang
telah dijanjikan oleh Tuhan Yang Maha Pemurah kepada hamba-hamba-Nya sekalipun
syurga itu tidak nampak, sesungguhnya janji Allah itu pasti akan ditetapi”
[Maryam 60;16].
Maka taubatlah yang menumbuhkan iman dan amal shaleh,
sehingga terealisir pengertiannya secara
aktif dan jelas. Taubat juga menyelamatkan orang-orang dari neraka, selain itu
juga, tidak menjerumuskan mereka ke dalam jurang kesesatan,”Akan tetapi mereka
itu akan masuk ke dalam syurga dan tidak disesatkan sedikitpun” [Maryam;60].
Ucapan
taubat seorang hamba semata-mata tidak bisa dijadikan bukti kesungguhan dalam
bertaubat, kecuali dia membuktikan tanda-tanda kesungguhan taubatnya.
Diantaranya tanda-tanda itu adalah;
-Benar-benar
berniat untuk meninggalkan perbuatan
dosa dan kembali kepada
ketaatan.
-Setelah
bertaubat, keadaan menjadi lebih baik daripada sebelumnya.
-Tidak
pernah merasa aman dari siksa Allah sekejappun sepanjang hidupnya.
-Benar-benar
menyesal, sedih dan rugi atas
kelengahannya serta takut akan
pedihnya siksa di dunia dan di akherat.
Seringkali kenikmatan nafsu sekejap
menjadikan sengsara selamanya.
-Selalu
ingat akan kepastian dirinya kembali kepada Allah, juga kematian
yang selalu menghantuinya.
-Yang paling
penting dari tanda-tanda kesungguhan orang bertaubat adalah
cinta kepada Allah, Rasul serta orang-orang
mukmin, dengan berbuat
sesuatu hang menunjukkan kecintaannya itu.
Dengan taubat yang sesungguhnya seorang mukmin akan
mantap memasuki kehidupan baru untuk
meraih prediket tertinggi dalam pengabdian yaitu taqwa, dosa – dosa yang selama
ini menaungi hidup telah luntur dan bersih karena mereka telah bertaubat kepada
Allah, memasuki kehidupan baru yang suci lagi bersih.
Orang yang bertaubat kepada
Allah dari dosa-dosa yang telah diperbuat, niscaya dia akan selalu mendapat
rahmat, perlindungan, barakah dan akan dilapangkan rezekinya serta kebahagiaan
hidup di dunia dan akherat, ”Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Tuhannya
dan syurga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, yang mereka kekal di
dalamnya dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal” [Ali
Imran;136].Wallahua’lam,
[CubadakSolok, 26 Juni 2011.M/ 24 Rajab 1432.H].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar