Selasa, 01 Desember 2015

100. Andai aku tahu Taubat Berpahala



Rasulullah bersabda,”Seseorang yang bertaubat dari dosanya itu adalah sama dengan orang yang tidak mempunyai dosa lagi”[HR.Ibnu Majah}. Maka taubat yang sebenarnya menurut pengertian bahasanya ialah kembali, menurut istilah syariat maksudnya ialah kembali kengikuti jalan yang benar dari jalan yang sudah ditempuhnya yang tentunya berupa jalan yang sesat. Sebenarnya terlepas diri dari sesuatu dosa itu bagi setiap manusia tidaklah mungkin sama sekali, sebab hal ini memang sudah merupakan kekurangan manusia.

            Hanya saja besar kecilnya kekurangan itu tergantung memang berbeda-beda. Tetapi menurut keasliannya kekurangan demikian itu pasti ada dan tidak dapat dihindari sama sekali, oleh sebab itu Rasulullah bersabda,”Sesungguhnya saja hatiku dapat juga tergoda sehingga saya harus memohon pengampunan kepada Allah dalam sehari semalam itu sebanyak tujuh puluh kali”[HR.Muslim]

            Karena itu Allah sengaja mengaruniakan kemuliaan pada beliau dengan firman-Nya;”Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang Telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus”[Al Fath 48;2]

            Jikalau Rasulullah saja sudah memastikan keadaan dirinya pasti terkena godaan syaitan, konon pula yang lainnya. Jadi tentulah lebih dapat tergoda dan tidak mustahil terkena godaan itu. Taubat itu apabila sudah terkumpul syarat-syaratnya, sudah pasti dan tidak perlu diragukan lagi bahwa taubat yang sedemikian tentu diterima.
           
            Sucikan dosa dengan cucuran air mata untuk membasuh segala kesalahan yang melekat di hati serta panasnya rasa penyesalan batin, maka pastilah hati tadi akan kembali bersih, suci dan mengkilat. Hati yang sudah suci dan bersih dari segala kotoran dan penyakit batin, tentu saja akan diterima, sebagaimana halnya pakaian yang suci dan bersih juga akan digemari oleh siapapun juga, jadi yang penting bagi kita adalah membersihkan dan  mensucikan diri dan hati.

Imam Al Gazali membagi pensucian diri kepada empat hal yaitu;

  1. Mensucikan diri dari hadas dan najis dengan jalan thaharah melalui wudhu, mandi atau tayamum sehingga dengan kesucian ini dapat menunaikan ibadah mahdhoh seperti shalat.

  1. Mensucikan diri dari kegiatan mengandung dosa yang dilakukan oleh indra manusia sehingga tangan tidak mudah untuk mencuri dan memukul, kaki tidak ringan untuk menyepak lawan dan sebagainya.

  1. Mensucikan diri dari akhlak tercela seperti sombong, takabur, hasad, dengki dan lain sebagainya sehingga memiliki akhlakul karimah yang dipuji Allah dan disenangi oleh manusia.

  1. Mensucikan diri dari niat yang tidak baik dalam  seluruh asfek kehidupan, kesucian ini lebih penting dari segalanya dengan tidak melupakan kesucian lainna. Dalam berbuat manusia dihiasi oleh niat-niat yang sengaja men yimpangkannya dari ikhlas kepada Allah sehingga merusak ibadahnya.

            Pada masa dahulupun ummat ini selalu dirongrong oleh segala konspirasi untuk menjauhkan dirinya dari kesucian itu, dalam mesjidpun terjadi  usaha penyimpangan aqidah sebagaimana yang tergambar  dalam  surat At Taubah 9;108 ”Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. sesungguh- nya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. dan Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.”

            Berkaitan dengan ayat diatas, memang demikianlah keadaan sahabat Rasulullah, mereka adalah orang yang siap membersihkan dirinya dari segala bentuk kotoran yang melekat di badan dan di  hatinya. Masjid yang didirikan oleh Abdullah bin Ubay sebagai tandingan terhadap masjid nabi adalah konspirasi untuk menghancurkan islam yang dimotori oleh para munafiq, pada diri mereka penuh dengan kotoran yang melekat sejak kenabian Muhammad Saw. Sebuah ancaman diberikan Allah agar ummat islam tidak menegakkan shalat di masjid itu, lebih layak mereka shalat di masjid yang didalamnya banyak orang-orang yang mensucikan dirinya, itulah dia masjid Quba, yang landasan pendiriannya karena taqwa;

”Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan nabi dan orang-orang mukmin yang bersama Dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah Kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."

            Kata ”nasuha” dalam ayat tersebut diatas maksudnya ialah suatu taubat yang memberi nasehat baik pada diri sendiri serta dilakukan dengan ikhlas yang sesungguh-sungguhnya karena mengharapkan keridhaan Allah dan sunyi dari segala macam tujuan dan godaan yang lain-lain.

            Perihal keutamaan taubat, maka Allah sendiri sudah menjelaskan dalam firman-Nya;

            ’’ Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran". oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. apabila mereka Telah suci, Maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.’’ [Al Baqarah 2;222]
Di antaraayat Al Quran yang berbicaratentangtaubatadalahfirman Allah:"Dan bertaubatlahkamusekaliankepada Allah, hai orang-orang yang berimansupayakamuberuntung" (QS. An-Nur: 31).

Dalamayatini, Allah SWT memerintahkankepadaseluruhkaummu'mininuntukbertaubatkepada Allah SWT, dantidakmengecualikanseorangpundarimereka.Meskipun orang itutelahdemikiantaatmenjalankansyari'ah, dantelahmenanjakdalambarisankaummuttaqin, namuntetapiamemerlukantaubat. Di antarakaummu'mininada yang bertaubatdaridosa-dosabesar, jikaiatelahmelakukandosabesaritu. Karenaiamemangbukan orang yang ma'shum (terjagadaridosa). Di antaramerekaada yang bertaubatdaridosa-dosakecil, dansedikitsekali orang yang selamatdaridosa-dosamacamini.Dari merekaada yang bertaubatdarimelakukan yang syubhat. Dan orang yang menjauhisyubhatmakaiatelahmenyelamatkan agama dannamabaiknya. Dan diantaramerekaada yang bertaubatdaritindakan-tindakan yang dimakruhkan.Dan di antaramerekamalahada orang yang melakukantaubatdarikelalaian yang terjadidalamhatimereka.Dan darimerekaada yang bertaubatkarenamerekaberdiamdiripadamaqam yang rendahdantidakberusahauntukmencapaimaqam yang lebihtinggilagi.

Taubat orang awamtidaksamadengantaubatkalangankhawas, jugatidaksamadengantaubatkalangankhawas yang lebihtinggilagi. Olehkarenaituada yang mengatakan: "Kebaikankalanganabraradalahkesalahan orang-orang kalanganmuqarrabin!" Namun, dalamayatitu, semuamerekadiperintahkanuntukmelakukantaubat, agar merekaselamat.

Pengarangkitab Al Qamusmemberikankomentaratasayatinidalamkitabnya (Al Bashair): Ayatiniterdapatdalamkelompok surah Madaniyyahh .Allah tujukankepadakaum yang berimandankepadamakhluk-makhluk-Nya yang baik, agar merekabertaubatkepada-Nya, setelahmerekaberiman, sabar, hijrahdanberjihad.Kemudianmengaitkankeberuntungandengantaubat "agar kalian beruntung".Yaitumengaitkanantarasebabdengan yang disebabkan.Dan menggunakandengan 'adat' "la'alla" untukmemberikanpengertianpengharapan.Yaitujika kalian bertaubatmaka kalian diharapkanakanmendapatkankeberuntungan, danhanya orang yang bertaubat yang berhakmengharapkankeberuntunganitu.

Sebagianulamasulukberkata: Taubatadalahwajibbagiseluruhmanusia, hinggabagiparanabidanwali-walisekalipun. Dan janganlahengkaudugabahwataubathanyakhususuntuk Adam a.s. saja. Allah SWT befirman:"Dan durhakalah Adam kepadaTuhandansesatlahia, kemudianTuhannyamemilihnyamakaDiamenerimataubatnya dam memberinyapetunjuk" (QS. Thahaa: 121-122).
Namuniaadalahhukum yang azalidantertulisbagiumatmanusiasehinggatidakmungkindapatditerimasebaliknya. Selamasunnah-sunnah (ketentuan) Ilahibelumtergantikan.Makakembali --yaitudenganbertaubat-- kepada Allah SWT bagisetiapmanusiaadalahamaturgen, baikiaseorangNabiatau orang yang berperangaisepertibabi, jugabagiwaliatausipencuri. Abu Tamamberkata:"JanganengkausangkahanyaHindun yang berhianat, ituadalahdoronganperibadidansetiap orang dapatberlakusepertiHindun!

Perkataanitudidukungolehhadits:"Seluruh kalian adalahpembuatsalahdandosa, dan orang yang berdosa yang paling baikadalahmereka yang seringbertaubat". Haditsinidiriwayatkanoleh Ahmad danlainnyadariAnas.Jugataubatituadalahwajibbagiseluruhmanusia.Iawajibdalamseluruhkondisidansecaraterusmenerus. Pengertianitudipetikdaridalil yang umum, Allah SWT berfirman: " danbertaubatlahkamusekaliankepada Allah". Karenamanusiatidakmungkinterbebaskandaridosa yang diperbuatolehanggotatubuhnya.Hinggaparanabidan orang-orang yang salehsekalipun.Dalam Al Quran danhaditsdisebutkantentangdosa-dosamereka, sertataubatdantangisansesalmereka.
 
Jikasuatusaat orang terbebasdarimaksiat yang dilakukanolehtubuhnya, makaiatidakdapatterlepasdarikeinginanberbuatmaksiatdalamhatinya. Dan jikapuntidakadakeinginanitu, dapat pula iamerasakan was-was yang ditiupkanolehsyaitansehinggaialupadaridzikirkepada Allah SWT. Dan jikatidak, dapat pula iamengalamikelalaiandankurangdalammencapaiilmutentang Allah SWT, sifat-sifat-Nyasertaperbuatan-perbuatan-Nya. Semuaituadalahkekurangandanmasing-masingmempunyaisebabnya.Dan membiarkansebab-sebabitudenganmenyibukkandiridenganpekerjaan yang berlawananberartimengembalikandiriketingkatannya yang rendah. Dan manusiaberbeda-bedadalamkadarkekurangannya, bukandalamkondisiasalmereka (Lihat: SyarhAinulIlmiwaZainulHilm, juz 1 hal. 175. Kitabiniadalahmukhtasar (ringkasan) kitabIhyaUlumuddin).[KewajibanBertaubatdanUrgensinya].

Namunkewajibanseorangmukmindikalakesalahandandosameliputinya, apakahbesarataupunkecil, disengajaataupuntidakmakakewajibankitaadalahmengetukpinturahmat-Nyauntukmeraihampunan Allah sebagaimana yang pernahdialamiolehpendahulukitayaituNabi Adam As.

Nabi Adam telah mengukiR keteladanannya dalam hal ini, bukan pada pelanggaRannya teRhadap laRangan Allah, akan tetapi pada apa yang dia lakukan setelah dia melakukan pelanggaRan teRsebut. Sebagaimana telah kita ketahui bahwa Adam beRsama istRinya diizinkan Oleh Allah tinggal di suRga. Allah melaRangnya mendekati satu pOhOn yang ada di sana, tetapi Adam melanggaR-nya kaRena bujuk Rayu setan, akan tetapi setelah itu Adam menye-sali dan menyadaRi kesalahannya seRta memOhOn ampun kepada Allah. Allah mengampuninya dan Adam pun menjadi lebih mulia dan lebih baik daRi sebelumnya. FiRman Allah Ta’ala, "Kemudian Rabbnya memilihnya maka Dia meneRima taubatnya dan membeRinya petunjuk." (Thaha: 122). 

Di sisi lain, manakala Allah menciptakan Bani Adam dengan kesalahan dan dOsanya, Dia pun membuka peluang peRbaikan se-lebaR-lebaRnya. Dia memanggil dan mengajak hamba-hambaNya agaR memanfaatkan peluang teRsebut sebaik-baiknya. Dan peluang ini senantiasa teRbuka siang-malam sepanjang umuR manusia atau umuR dunia ini. Peluang teRsebut adalah taubat untuk meRaih ampunan Allah Ta’ala.
FiRman Allah Ta’ala,"Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan beRseRah diRilah kepa-daNya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditOlOng (lagi)." (Az-ZumaR: 54).

            DaRi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wasallam, Allah Ta’ala beRfiRman,"Wahaihamba-hambaKu, sesungguhnya kalian melakukankesalahansiang-malamdanAkumengampuniseluRuhdOsa, OlehkaRenaitumOhOnlahampunkepadaKu, niscayaAkumengampuni kalian." (HR. Muslim daRi Abu DzaR, MukhtashaRShahih Muslim).

Jika Allah mengajakkepadaampunan, beRjanjimemaafkandanmembukapintunyalebaR-lebaR, sementaRakitamanusiaselalubeRdOsa, makatidaksekedaRlayak, akantetapisangatlayakkalaukitamengetukpintuteRsebutdenganhaRapanDiabeRkenanmelim-pahkanmaafNyakepadakitasemua, sesungguhnyaDiaMahaPengasihlagiPemuRah.

            SekaRang bagaimana caRanya agaR kita dapat menggapai am-punan teRsebut? Banyak caRa dan jalan menggapai ampunan Allah. Lebih daRi itu, caRa-caRa dan jalan-jalan teRsebut adalah sangat mudah, teRgantung kepada kita sendiRi, ingin atau tidak ingin. Di sini khatib memapaRkan empat caRa yang menuRut pandangan khatib meRupakan caRa yang paling penting dan mendasaR. 

Jika Allah menghendaki, tidak ada dOsa yang tidak teRhapus Oleh taubat, sebeRat dan se-besaR apa pun ia, jangankan dOsa-dOsa kecil, dOsa-dOsa besaR pun akan teRhapus Oleh taubat bahkan dOsa teRtinggi dalam Islam, syiRik, juga akan teRhapus Oleh taubat dengan catatan kesyiRikan teRsebut tidak dibawa mati. Lihatlah kepada sebagian sahabat Nabi yang di masa jahiliyah adalah ORang-ORang penyembah beRhala. Begitu meReka beRtaubat daRinya, meReka pun menjadi manusia teRbaik umat ini. TengOklah seORang laki-laki daRi umat teRdahulu -sepeRti yang dikisahkan Oleh Rasulullah- pembunuh seRatus nyawa. Adakah di dunia ini pelaku dOsa yang lebih besaR dan lebih banyak daRinya? DOsanya adalah pembunuhan dan kORbannya adalah seRatus nyawa. Laki-laki teRsebut dengan dOsanya itu tetap meRaih ampunan Allah dengan taubatnya dan usaha keRasnya untuk mempeRbaiki diRi yang dia buktikan dengan beRhijRah ke kOta lain yang bisa mendu-kung usahanya teRsebut. [Izzudin KaRimi, Lc. MeRaih Ampunan, Buku Kumpulan KhutbahJum’atPilihanSetahunEdisi ke-2, DaRulHaqJakaRta).COmpiled by oRiDo™].

Pintu taubat akan selalu terbuka bagi siapa saja yang menghendaki, dan tidak seorangpun mampu menghalangi rahmat Allah darinya, tidak ada hijab [penghalang] apapun antara dia dengan Tuhannya, ”Kecuali bagi siapa saja yang bertaubat, beriman dan beramal shaleh, niscaya mereka itu akan masuk ke dalam syurga dan tidak disesatkan sedikit juapun. Yaitu syurga Adn yang telah dijanjikan oleh Tuhan Yang Maha Pemurah kepada hamba-hamba-Nya sekalipun syurga itu tidak nampak, sesungguhnya janji Allah itu pasti akan ditetapi” [Maryam 60;16]. 

Maka taubatlah yang menumbuhkan iman dan amal shaleh, sehingga  terealisir pengertiannya secara aktif dan jelas. Taubat juga menyelamatkan orang-orang dari neraka, selain itu juga, tidak menjerumuskan mereka ke dalam jurang kesesatan,”Akan tetapi mereka itu akan masuk ke dalam syurga dan tidak disesatkan sedikitpun” [Maryam;60].

Ucapan taubat seorang hamba semata-mata tidak bisa dijadikan bukti kesungguhan dalam bertaubat, kecuali dia membuktikan tanda-tanda kesungguhan taubatnya. Diantaranya tanda-tanda itu adalah;
-Benar-benar berniat untuk  meninggalkan perbuatan dosa dan kembali kepada
  ketaatan.
-Setelah bertaubat, keadaan menjadi lebih baik daripada sebelumnya.
-Tidak pernah merasa aman dari siksa Allah sekejappun sepanjang hidupnya.
-Benar-benar menyesal, sedih dan rugi atas  kelengahannya serta takut akan
  pedihnya siksa di dunia dan di akherat. Seringkali kenikmatan nafsu sekejap
  menjadikan sengsara selamanya.
-Selalu ingat akan kepastian dirinya kembali kepada Allah, juga kematian
  yang selalu menghantuinya.
-Yang paling penting dari tanda-tanda kesungguhan orang bertaubat adalah
   cinta kepada Allah, Rasul serta orang-orang mukmin, dengan berbuat
   sesuatu hang menunjukkan kecintaannya itu.

Dengan taubat yang sesungguhnya seorang mukmin akan mantap memasuki kehidupan baru  untuk meraih prediket tertinggi dalam pengabdian yaitu taqwa, dosa – dosa yang selama ini menaungi hidup telah luntur dan bersih karena mereka telah bertaubat kepada Allah, memasuki kehidupan baru yang suci lagi bersih.

Orang yang bertaubat kepada Allah dari dosa-dosa yang telah diperbuat, niscaya dia akan selalu mendapat rahmat, perlindungan, barakah dan akan dilapangkan rezekinya serta kebahagiaan hidup di dunia dan akherat, ”Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Tuhannya dan syurga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, yang mereka kekal di dalamnya dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal” [Ali Imran;136].Wallahua’lam, [CubadakSolok, 26 Juni 2011.M/ 24 Rajab 1432.H].






Tidak ada komentar:

Posting Komentar