Selasa, 01 Desember 2015

98. Andai aku tahu Memelihari Waktu Berpahala




Begitu banyak karunia dan nikmat yang diberikan Allah kepada manusia sebagai bekal hidupnya di dunia, salah satunya adalah waktu, untuk itu kita harus berupaya agar waktu yang merupakan nikmat ini kita pergunakan dengan sebaik-baiknya;

" Dan dia Telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan Telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan dia Telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)" [Ibrahim 14;33-34]

Sifat yang bijak bagi seorang muslim terhadap nikmat Allah adalah mensyukuri nikmat tersebut dengan tiga hal yaitu senang dengan nikmat yang diberikan Allah, lisan mengucapkan Alhamdulillah sedangkan perbuatan kita menggunakan waktu sesuai dengan yang dikehendaki Allah.

"Dan dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur"[Al Furqan 25;62]

Sejak kejadian manusia yang hanya dengan setetes mani, dari waktu yang ditentukan akhirnya lahirnya sang bayi, hingga sekian puluh tahun kembali lagi kepada asalnya yaitu tanah dengan kematian. Sehingga Rasul pernah bersabda, Ada orang yang pagi tadi beriman kepada Allah tapi setelah sorenya dia kafir, ada juga orang yang tadinya kafir akhirnya menjadi orang yang taat. Semua itu karena perjalanan waktu, itulah makanya dalam islam ada yang disebut dengan khusnul khatimah bagi kehidupan manusiayaitu akhir kehidupan yang baik.

"Allah, dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, Kemudian dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, Kemudian dia menjadikan (kamu) sesudah Kuat itu lemah (kembali) dan beruban. dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan dialah yang Maha mengetahui lagi Maha Kuasa"[Ar Ruum 30;54].
Waktu yang begitu berharganya, sampai setiap orang memiliki persepsi masing-masing terhadap waktu:
Bagi orang barat waktu adalah uang.
Bagi seorang pelukis waktu adalah karya.
Bagi seorang pelajar waktu adalah ilmu
Bagi seorang pekerja kuli bangunan waktu adalah upah dan
Bagi seorang pejabat nakal waktu adalah kesempatan.

Waktu pula bagaikan sebuah pedang, jika kita tidak bisa mengunakanya, maka ia akan menebas leher kita. Waktu pun bagaikan sebuah kendaraan, jika kita tidak bisa mengunakanya, maka kita akan terlindas olehnya.

Dari semua istilah dan persepsi yang digunakan, pada hakekatnya waktu akan kembali pada satu kepastian dan satu kenyataan. Atau mungkin waktu hanya sebuah angin lalu yang memindahkan seseorang dari masa lalu ke masa yang akan datang, tidak ada hasil, tidak ada karya, waktu tercecer begitu saja di berbagai tempat, di warung, di terminal, di jalan ataupun di tempat-tempat lainnya.
 
Dalam waktu tertentu ada orang yang mampu memebuat jembatan layang, pesawat terbang, bangunan megah, segudang karya keilmuan, dan sebagainya. Dan ada pula yang sama sekali yang tidak menghasilkan apa-apa. Ia hanya terdiam bermalas-malasan tanpa ada usaha, tapi ketika kenyataan itu datang, ia selalu menyalahkan kaadaan. Oleh sebab itu allah SWT berfirman dalam sutat Al-'Ashr, yang artinya, "Demi waktu, sesungguhnya mausia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang orang yang beriman dan mengerjalan amal sholeh…"

Jika orang-orang non Muslim bekerja di dunia hanya untuk mengejar kesenangan dan keduniaan, yang mana sifanya hanya sementara, maka bagi orang islam bukan hanya dunia yang dicari, tapi juga akhirat yang menjadi tujaun. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang merugi seperti yang telah Allah SWT firmankan. Mari kita gunakan waktu dengan sebaik mungkin, besusaha dengan sungsuh-sunguh dan tidak pula meningalkan sebuah kewajiban.[Didi Suardi,Hikmah Pagi: Waktu, Kesempatan, dan Satu Kepastian, Republika.co.id. Senin, 03 Januari 2011, 07:05 WIB].

            Waktu akan berjalan sesuai dengan sunnatullah, apapun yang terjadi dan apapun yang dialami oleh manusia, apakah hidup penuh dengan genangan darah atau bergelimang kemewahan , apakah menemukan keberhasilan atau terpuruk pada kegagalan maka waktu pasti bergerak dengan pastinya tanpa ada yang menghalangi,semuanya akan selesai sesuai dengan waktunya.

Demi waktu. Demikian Alquran menegaskan pentingnya waktu. Isyarat tertulis seperti tercantum pada surah al-Ashr (QS 103) ini mengingatkan manusia untuk selalu menghitung dan mempertimbangkan waktu. Bahkan, setelah bersumpah demi waktu, Allah kemudian menyatakan bahwa manusia akan rugi, kecuali orang yang beriman dan beramal saleh. Lebih dari itu, surah ini juga menggarisbawahi posisi orang-orang yang senantiasa saling mengingatkan dalam kebajikan dan kesabaran. Mereka adalah orang-orang yang suka memperhatikan waktu.

Tanpa membuat prioritas atas pilihan amal yang ditempuh, manusia akan merugi. Amal-amal produktif merupakan representasi kecerdasan manusia dalam memanfaatkan waktu. Setiap jengkal langkah manusia adalah wujud pemanfaatan waktu secara produktif dan bermakna. Jika tidak, kerugian yang akan melilit kehidupan manusia.

Agar tidak merugi, perlu difasilitasi. Saat ini banyak orang yang merugi karena fasilitas hidup yang serbaterbatas. Buruknya infrastruktur jalan yang menghambat proses transportasi, merupakan salah satu faktor yang dapat membuat pengguna jalan mengalami kerugian. Rendahnya mutu sarana belajar siswa, dapat membuang waktu pembelajaran. Dan, banyak lagi kerugian yang diderita masyarakat dan bangsa ini, bila tidak memperhatikan dimensi waktu.

Mari kita menghitung kerugian yang kita lalui setiap hari. Contoh sederhana, berapa ribu jam negeri ini dibuat rugi setiap hari. Misalnya, di satu permukiman terdapat 2.000 rumah dengan penghuni produktif rata-rata satu orang setiap rumah. Masing-masing setiap hari menempuh perjalanan 10 menit lebih lama karena jalan yang dilaluinya rusak berat. Kita harus menerima kerugian waktu sebesar 20 ribu menit pada saat berangkat, ditambah 20 ribu menit pada saat kembali, sehingga sekitar 40 ribu menit hilang setiap hari atau sekitar sejuta menit selama 25 hari kerja dalam sebulan.

Kita akan rugi sekitar 17 ribu jam produktif setiap bulan, atau sekitar 204 ribu jam setiap tahun. Ini baru dari satu permukiman dengan penduduk sekitar 2000 KK. Bayangkan di dua, tiga, empat, atau sepuluh permukiman di suatu kota. Kita akan mengalami kerugian yang berlipat ganda hanya karena infrastruktur jalan rusak berat. Jadi, jika jalan-jalan di kota tidak diperbaiki, kita akan terus-menerus menuai kerugian yang besar setiap hari, bulan, dan tahun. Jadi, dalam konteks seperti ini, siapa sesungguhnya yang menjadi sumber penyebab kerugian bangsa dan negara ini?

Untuk menghindari kerugian yang berlipat setiap hari, perbaikan berbagai sarana dan prasarana kerja seharusnya menjadi prioritas. Jika seorang pemimpin amanah, prioritas program untuk memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat akan menjadi misi penting yang diembannya. Dengan demikian, kerugian akan bisa dihindari."Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan orang-orang yang senantiasa saling mengingatkan akan kebajikan dan kesabaran." [Prof Dr Asep S Muhtadi, Demi Waktu, Republika.co.id, Saturday, 23 April 2011 11:04 WIB].

                Kita hidup di dunia hanya menghabiskan waktu yang disediakan Allah, tidak bisa ditambah dan tidak bisa pula untuk dikurangi, waktu yang sedikit itu seharusnya dimanfaatkan untuk berbuat baik sehingga waktu yang berupa usia itu bermanfaat untuk diri sendiri, keluarga dan orang lain, rugilah orang yang menghambur-hamburkan usianya di dunia ini dengan hal-hal negative.

Ustadz Aidh Abdullah al-Qarni memberikan taujihnya kepada kita tentang memanfaatkan usia seefektif mungkin di dunia ini sebagaimana penuturannya dibawah ini;

Tiap-tiap sesuatu dapat dicari penggantinya,kecuali usia. Dan, tiap-tiap sesuatu bila telah lenyap, adakalanya dapat dikembalikan melalui suatu jalan atau lainnya, kecuali usia. Karena apa yang telah berlalu dari usia tidak dapat dikembalikan dan ia pergi untuk selamanya.

Apa yang sudah berlalu dari usia, berarti lenyap yang diharapkan masih belum pasti, dan bagimu hanyalah saat sekarang yang sedang dijalani.Allah Ta'ala berfirman "Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?" (QS. Fathir [35] : 37)

Huruf ma disebutkan dalam penggunaannyadakalanya sebagai huruf maushul yang berarti: "Dalam yang cukup untuk berpikir" atau sebagai huruf mashdar yang berarti: "Untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir" dalam kehidupan ini.Allah Ta'ala berfirman :"Allah bertanya: 'Berapa tahunkah lamanya kamu tinggi di bumi?' Mereka menjawab: 'Kami tinggal di (dibumi) sehari atau setengah hari'." (QS. Al-Mu'muninun [23] : 112-113)

Allah Ta'ala berfirman :"Kamu tidak tinggal (di bumi), melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui. Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Mahatinggi Allah, Raja yang sebenarnya, tidak ada tuhan(yang berhak disembah) selain Dia, Tuhan (yang mempunyai) Arsy yang mulia." (QS. Al-Mu'muninun [23] : 114-116)

Ibnu Abbas ra telah menceritakan bahwa Rasulullah shallahu alaihi was sallam pernah bersabda: "Ada dua nikmat yang keduanya memperdaya kebanyakan manusia,yaitu sehat dan waktu luang." (HR. Muslim)
Hal yang paling menyia-nyiakan usia adalah melakukan kedurhakan. Ulama salaf yang shalih sangat antusias dalam memelihara usia dan menggunakan sebaik-baiknya. Apabila menggunakan usianya untuk maksiat, berarti lenyaplah dunia dan akhiratnya. Semoga Allah melindungi kita dari kedurhakaan.

Sesungguhnya ulama salaf dahulu menjauhi banyak hal yang diperbolehkan karna kawatir terjerumus ke dalam hal yang dimakruhkan. Berbeda dengan kita sekarang, sesungguhnyakit tidak ragu lagi mengerjakan kedurhakaan, bukan lagi sekadar hal-hal yang diperbolehkan.Semoga Allah mengampuni kita semua.

Pernah dikatakan kepada Kanzun Ibnu Wabrah, salah seorang ahli ibadah: "Duduklah bersama kami", maka ia menjawab: "Tahanlah matahari!" Yakni agar tidak datang dan pergi menggerogoti usia.
Kita datang dan pergi untu keperlulan kita,dan keperluan orang hidup iut tiada habisnya,akan berhentilah keperluan seseorang dengan kematiannya,selama seseorang masih hidup,perputaran siang dan malam hari,telah membuat anak kecil beruban dan oran tua mati,bila malam telah membuat tua siang harinya,
datanglah sesudahnya siang hari yang muda.

Orang-orang yang menyia-nyiakan umurnya dalam kehidupan di dunia, dan durhaka kepada Allah Ta'ala, dan tidak mau bertaubat, maka hanya kebinasaan ketika nanti di akhirat, dan tidak ada lagi pintu taubat baginya.[Aidh Abdullah al-Qarni, Jangan Sia-Siakan Usiamu, eramuslim.com, Minggu, 05/06/2011 15:09 WIB].

Dari sekian ibadah yang membutuhkan waktu penting adalah shalat subuh, begitu pentingnya sehingga ibadah ini ditimpali dengan ganjaran yang tidak sedikit yaitu dunia dan segala isinya. Tapi begitu banyak dari ummat islam yang menjadikan subuhnya kehilangan waktu dan jauh dari pahala karena bangun kesiangan, padahal bangun subuh saja mendapat keuntungan yang tidak sedikit.

"Demi fajar/subuh," firman-Nya dalam surah Al-Fajr. Ayat ini mengetuk kita dengan penggunaan wau qasam (sumpah). Ini menunjukkan betapa urgennya waktu subuh, yaitu saat udara masih segar, sejuk, dan pikiran masih jernih. Alam yang tadinya mengantuk, perlahan-lahan bangun dan kembali membentangkan karunianya. Di sinilah pentingnya arti bangun pagi; ia bukan hanya memberikan manfaat dari sisi kesehatan, melainkan juga bisa bermakna finansial dan spiritual.

Konon, Indonesia termasuk lima negara yang paling besar tingkat polusinya di dunia, hingga udara yang cerah dan segar menjadi sulit didapat. Apalagi di banyak wilayah kota besar, seperti Jakarta, yang setiap sudutnya nyaris penuh dengan asap kendaraan bermotor. Karena itu, bagi kita yang ingin menghirup udara segar, bangun pagi bisa menjadi alternatif.

Bangun pagi juga mempunyai nilai ekonomis. Karena orang yang bangun lebih awal akan punya waktu lebih banyak untuk menangani berbagai urusan dan bisnisnya. Lebih-lebih ketika budaya kompetitif sudah menjadi kebiasaan sehari-hari, maka mengejar dan mencari peluang bisnis adalah suatu tuntutan, "Hilangnya berbagai macam peluang mengakibatkan terjadinya kehancuran, karena memang itulah dunia," tulis Maulana Wahiduddin Khan, pemikir dari India. Sedangkan Umar bin Abdul Aziz berujar, "Malam dan siang bekerja untukmu, maka bekerjalah kamu pada keduanya."

Bangun pagi juga tidak hanya menawarkan pulsa yang murah bagi orang yang ingin berbicara via telepon, misalnya. Namun, banyak informasi bisnis penting pun sering dilansir sejak pagi. Lebih-lebih bagi yang bergerak di bidang jasa transportasi, waktu pagi sungguh memberikan banyak berkah.

Bagi mereka yang masih tergeletak di peraduannya, mana mungkin bisa meraih karunia itu. Maka, benarlah kalau Nabi mengatakan bahwa tidur di pagi hari mewariskan kemiskinan.

Sedangkan dari sisi spiritual, dalam banyak hadis, Nabi acap kali memberitakan tentang fadilah shalat Subuh secara berjamaah, juga bershalawat untuknya di kala pagi dan petang.[Jangan Sia-siakan Waktu Subuh Mu, Republika.co.id,Selasa, 12 Oktober 2010, 09:21 WIBRep:Oleh Makmun Nawawi].

Maka bila suatu negeri yang kaya raya ternyata terus terpuruk, jatuh dan tenggelam dalam kesulitan demi kesulitan, itu hanya gambaran betapa penduduknya kebanyakan adalah orang-orang lemah. Terlalu banyak orang yang tidak jujur. Terlalu banyak orang-orang munafik. Negara ditipu. Rakyat dikhianati. Apa kaitannya dengan sholat shubuh? Allah berfirman, "Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk sholat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya'(dengan sholat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekai. (QS. An-Nisa': 1 42). Lalu Rasulullah menegaskan, sholat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah sholat isya' dan sholat shubuh 
.
Tak berlebihan bila di negeri kita yang kaya raya ini, terlalu banyak permasalahan yang terus menerus terjadi. Sebab yang menghadapi masalah kebanyakan adalah orang-orang lemah. Terlalu banyak orang munafik. Terlalu banyak orang yang malas sholat. Terlalu banyak orang yang berlambat-lembat menunaikan sholat shubuh. Bahkan, terlalu banyak orang yang secara sengaja tidak melaksanakan sholat shubuh. Padahal, suatu hari Rasulullah ditanya oleh seorang sahabat, "Amal apa yang paling mulia?" Rasul menjawab pertama kali dengan mengatakan, "Sholat tepat waktunya 
."
Sebuah perjuangan harus kita mulai di sini. Di shubuh ini. Bila lagi dan lagi shubuh kita terlambat, kita hanya akan melengkapi deretan generasi belakangan yang jelek dan menyianyiakan sholat. Negeri ini hanya akan bisa bangkit di tangan orang-orang kuat, yang punya energi shubuh.[Apakah Subuh Kita Terlambat Lagi[.
Begitu banyaknya kita menggunakan waktu sehari semalam untuk kegiatan yang positif seperti diskusi, seminar, dakwah, membaca, menulis dan kegiatan keumatan lainnya, tapi waktu kita untuk mengabdi kepada Allah hanya sisa-sisa waktu dari sekian kesibukan itu. Apalagi yang berbelimang dengan kemaksiatan, waktunya habis untuk mengasuh keinginan sahwatnya saja dan memperturutkan kehendak syaitan, apalagi yang ada untuk kebaikan, sehingga wajar kalau ustadz Aidh Qarni menyatakan bahwa waktu bertaubat bagi orang itu tidak ada kesempatan lagi.

Yang dihitung di dunia ini bukanlah berapa lama hidup seseorang tapi apa yang diperbuat oleh seseorang ketika dia hidup, Buya Hamka mengatakan,"Sehari Harimau di hutan sama dengan setahun bagi seekor kijang". Bahkan dalam beramalpun seseorang tidak dituntut apakah amal itu dapat dia nikmati atau tidak, Rasulullah mengatakan;."Meskipun saat kiamat akan tiba dan di tangan seseorang diantara kamu ada bibit tanaman, kalau dia ada waktu dan sanggup sebelum kiamat datang maka tanamlah bibit itu, dengan demikian dia akan mendapatkan pahala"

Allah mengajak orang-orang beriman untuk punya cita-cita dalam hidup, punya harapan yang akan dituju dan punya program untuk melangkah dalam rangka mengisi restan dan kesempatan hidup  yang ada,  firman Allah dalam surat Al Hasyr 59;18 "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan".

Seorang yang bernama Hariet Martineau berkata,"Berfikirlah dan bertindaklah yang terbaik hari ini untuk persiapan besok dan besok-besoknya lagi". Searah dengan sabda nabi yang diriwayatkan oleh Baihaqi;"Beramallah kamu untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup selamanya dan beramallah untuk akheratmu seolah-olah kamu mati besok".

Rasulullah bersabda, "Jaga lima sebelum datang yang lima, manfaatkan hidupmu sebelum datang matimu, masa sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa sempatmu sebelum datang masa sempitmu, masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu', tanamkan dalam hidup kita agar restan umur akan kita isi dengan ibadah, tiada waktu berlalu tanpa ibadah, tidak beribadah berarti menyia-nyiakan waktu, maka kecelakaan akan dirasakan kelak, Wallahu a’lam, [Cubadak Solok, 29 Juni 2011.M/ 27 Rajab 1432.H].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar